Minggu Adven 2
Stola Ungu
Bacaan 1: Yesaya 11 : 1 – 10
Mazmur: Mazmur 72 : 1 – 7, 18 – 19
Bacaan 2: Roma 15 : 4 – 13
Bacaan 3: Matius 3 : 1 – 12
Tema Liturgis: Menanti Sang Jati dalam Bakti
Tema Khotbah: Tumbuh dan Berbuah
Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
Yesaya 11 : 1 – 10
Teks hari ini merupakan bagian dari Proto Yesaya atau Kitab Yesaya pertama (Psl. 1-39). Asal usul tradisi ini ada Yesaya dari Yerusalem. Berdasar Yesaya 1:1, bahwa ia bernubuat dalam zaman Uzia, Yotam, Ahas, dan Hizkia, raja-raja Yehuda. Tema besar dalam kitab Yesaya antara lain: kedudukan pusat gunung suci, Sion. Kemiripan dengan lambang mitologis untuk mengungkapkan pengharapan terhadap masa depan dan dambaan akan kedamaian universal yang tidak hanya bagi Israel tetapi berkaitan dengan tatanan semua bangsa. Pasal 11 merupakan nubuatan Mesias yang merujuk pada waktu yang akan datang. Tidaklah jelas bahwa raja yang dipermasalahkan sudah lahir. Ia digambarkan sebagai suatu tunas akan keluar dari tunggul Isai, yaitu dari wangsa Daud (bdk. Mik. 5:1), artinya garisnya tidak terputus, “tunas” secara kasar sama dengan “akar”.
Nubuat dalam pasal 11 ini dapat dibagi menjadi dua bagian besar: (1) Ayat 2-5, menggambarkan sebutan-sebutan raja. Roh Tuhan akan berada di atasnya dan ia akan melakukan apa yang dilakukan oleh seorang raja yang adil. (2) Ayat 6-9, melukiskan sebuah transformasi dari dalam kerajaannya. Gambaran ini sangat hebat, karena itu mengenai transformasi dari dunia binatang yang tak dapat dilakukan seorang raja. Ini seperti kembali ke taman Eden. Ungkapan Seluruh gunungKu yang kudus dalam ayat 9 menyarankan bahwa seluruh dunia akan mengambil bagian dalam kesucian gunung Sion. Hal ini jelas menunjukkan ucapan puitis, fantasi mengenai seorang raja yang ideal dan bukannya suatu ramalan mengenai masa depan. Persahabatan antara serigala dan domba tidak pernah terjadi, dan tidak ada alasan untuk berpendapat bahwa Yesaya mengharapkan demikian. Maksud dari bagian ini, ada dua, yaitu pertama, ini merupakan gambaran bagus yang menghibur pembaca di tengah tekanan dan kekacauan krisis Asyur. Kedua, hal ini melukiskan tentang gambaran dunia ideal. Dengan demikian, hal ini menantang setiap raja. Yesaya menyadari bahwa Hizkia bukanlah raja yang ideal, walau pengharapan-pengharapan itu terungkap dalam Yesaya 9. Tujuan dalam teks hari ini adalah harapan akan kedamaian sempurna, tanpa “penderitaan dan kehancuran” (Ay. 9).
(Tafsir Alkitab Perjanjian Lama, Dianne Bergant, CSA, Robert J. Karris, OFM (Editor), Lembaga Biblika Indonesia, Kanisius, Yogyakarta, 2002, hal. 523)
Roma 15 : 4 – 13
Surat pastoral rasul Paulus kepada jemaat di Roma ditulis saat ia di Korintus, dengan tujuan memberi semangat, motivasi, dan penguatan jemaat Roma dalam menghadapi tekanan dan pergumulan. Hal ini menunjukkan wujud kasih rasul Paulus kepada jemaat-jemaat, salah satunya jemaat Roma. Rasul Paulus tidak hanya berkunjung, tetapi juga bersurat kepada Jemaat-jemaat. Dalam teks hari ini, jika dibaca mulai ayat pertama, rasul Paulus mengajak pembaca untuk mengikuti teladan Kristus. Bagian ini cukup istimewa karena Paulus untuk pertama kalinya memasukkan dirinya dalam kelompok orang yang kuat imannya. Lalu, Paulus memberikan nasihat supaya mereka tetap bertahan dan menanggung kelemahan orang yang tidak kuat. Dengan kata lain, seruan bagi yang kuat untuk mau berkorban bagi yang lemah. Tantangan kepada yang kuat dalam iman ialah supaya mereka membangun jemaat dan anggota dengan baik daripada merusaknya. Lihatlah teladan Mesias, kurban Kristus didorong oleh kasih dan ini akan menjadi dorongan yang berdaya guna bagi kaum beriman.
Paulus juga berseru untuk persatuan jemaat, dengan saling menerima. Penerimaan ini dimaksudkan kepada orang Kristen non Yahudi yang mayoritas, terhadap orang Kristen Yahudi yang minoritas. Yesus Mesias menjadi teladan kelompok minoritas, karena Yesus menjadi hamba bagi orang-orang Yahudi untuk menunjukkan kepada mereka bahwa Allah setia dengan janji-janji yang telah Ia buat dengan para bapa bangsa. Jika kelompok minoritas ini mengikuti teladan Yesus, mereka akan memuliakan Allah. Orang-orang non Yahudi memuliakan Allah karena belas kasih yang telah ditunjukkan kepada mereka, bangsa yang tidak layak menerima belas kasih. Paulus menunjukkan keterampilannya dalam merangkai kutipan Taurat (Ul. 32:43), Nabi-nabi (Yes. 11:10), tulisan (Maz. 18:50 atau 1 Sam. 22:5 atau Maz. 117:1). Kutipan-kutipan tersebut, untuk menunjukkan penekanan bahwa seluruh Alkitab Yahudi menubuatkan bahwa bangsa-bangsa bukan Yahudi akan menjadi bagian rencana Allah dan bergabung dengan umat pilihan. Doa penutup mengulangi pengharapan akan kegembiraan dan damai bagi semua orang (baik yang lemah dan kuat imannya).
(Tafsir Alkitab Perjanjian Baru, Dianne Bergant, CSA, Robert J. Karris, OFM (Editor), Lembaga Biblika Indonesia, Kanisius, Yogyakarta, 2002, hal. 268-269)
Matius 3 : 1 – 12
Kisah Yohanes Pembaptis dalam teks Injil Matius ini sangat penting, karena terlihat pada bagian awal di ayat 2. Tentang khotbah Yohanes Pembaptis yang diringkas dengan kata-kata dengan Khotbah Yesus yang diringkas dalam 4:17, ”Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat”. Kedua pengkhotbah menuntut pertobatan yang radikal (mendasar) seluruh pribadi kepada Allah. Teks hari ini ada beberapa penekanan, bagian pertama bahan mengenai Yohanes Pembaptis (Ay. 1-4), membuat kegiatan Yohanes sebagai bagian yang layak dikenang dan sangat penting dari Yesus dan menempatkannya di padang gurun Yudea, suatu daerah dekat laut mati yang menyimpan begitu banyak informasi. Hubungan Yohanes Pembaptis dan Yesus dijelaskan oleh kutipan dari Yesaya 40:3, khotbah Yohanes di padang gurun mempersiapan jalan bagi Yesus.
Gambaran mengenai baju dan ikat pinggang Yohanes di ayat 4, mengingatkan pembaca kepada pakaian Elia seperti digambarkan dalam 2 Raja-raja 1:8. Yohanes meneruskan gaya hidup nabi dan dengan tepat digambarkan sebagai Elia baru (lih. Mat. 11:14, 17:11-13). Penulis melukiskan upacara baptis Yohanes sebagai tindakan simbolis yang menandakan telah terjadi pertobatan hati. Dalam ayat 7-10, khotbah Yohanes ditujukan kepada anggota dari dua kelompok Yahudi (Farisi dan Saduki) yang akan melengkapi pertentangan mengenai ketidakpercayaan kepada Yesus sepanjang Injil. Mereka diingatkan untuk memperbaharui hidup mereka sebagai persiapan campur tangan Allah yang menentukan (murka yang akan datang). Mereka diingatkan, supaya tidak mengandalkan diri sebagai keturunan Yahudi (Abraham adalah Bapa Kami) untuk melindungi mereka. Mereka diingatkan bahwa waktunya singkat (kapak telah diletakkan pada pohon). Dalam waktu pengadilan yang akan datang sebelum pemenuhan Kerajaan Allah, buah hasil pekerjaan baiklah yang akan diperhitungkan. Penekanan Yohanes kepada tindakan dan menghasilkan buah dalam tindakan baik merupakan antisipasi terhadap pengajaran Yesus kepada para murid-Nya. Khotbah Yohanes (Ay. 11-12), menempatkan Yohanes di bawah Yesus. Dalam konteks ini, yang ditunjuk dengan pernyataan Ia yang datang kemudian daripadaku, pastilah Yesus. Ayat 11, Yohanes menyatakan bahwa ia bahkan tidak layak untuk bertindak sebagai budak (doulos) Yesus dengan membuka sandal-Nya, dan ia mempertentangkan baptisanya dengan air simbolis dengan penenggelaman dalam Roh Kudus dan pembersihan api penghakiman yang melengkapi pewartaan Yesus tentang Kerajaan Allah. Gambaran tradisional mengenai penghakiman akhir sebagai panenan jelas di ayat 12. Penghakiman yang akan memisahkan orang baik (gandum) dari orang jahat (rumput) sudah di ambang pintu.
(Tafsir Alkitab Perjanjian Baru, Dianne Bergant, CSA, Robert J. Karris, OFM (Editor), Lembaga Biblika Indonesia, Kanisius, Yogyakarta, 2002, hal.37-38)
Benang Merah Tiga Bacaan:
Bacaan hari ini, memiliki semangat yang sama, yaitu seruan untuk hidup dalam pertobatan seperti yang disampaikan oleh Yohanes Pembaptis. Dalam bahasa sekarang, merupakan ajakan untuk memahami apa yang sedang terjadi dalam diri kita dan dunia sekitar. Nada penuh pengharapan dalam kitab Nabi Yesaya dapat membantu memahami warta tentang nubuatan kedatangan Raja Damai keturunan Isai (Raja Daud, leluhur Yesus juga). Raja itu akan memperoleh kebijaksanaan, untuk menegakkan keadilan dan merukunkan mereka yang biasanya saling bermusuhan. Dengan demikian, ia menjadi pangkal harapan orang banyak seperti surat Paulus ke Jemaat Roma, pengharapan akan kegembiraan dan damai bagi semua orang (baik yang lemah dan kuat imannya).
Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)
Pendahuluan
Dalam ibadah Minggu, ibadah Keluarga, perayaan-perayaan keagamaan, sampai acara KKR sering kita mendengar ucapan salam: “Syalom” atau Salam Damai Sejahtera. Dengan serentak dan semangat, biasanya akan dijawab dengan respons yang sama. Pertanyaan yang mendasar, apakah salam itu terkorelasi dalam hidup atau hanya sebagai pemanis saja? Lalu, apakah itu hidup dalam damai sejahtera? Hidup dalam damai sejahtera adalah hidup damai, selaras, harmoni, dls. Itulah yang menjadi seruan dalam teks hari ini.
Isi
Bacaan hari ini, mengingatkan kita akan seruan Yohanes Pembaptis yang masih sangat relevan sampai hari ini. Melalui ungkapan di ayat 7 – 9, tentang kata “ular beludak” dan “Keturunan Abraham”, menunjukkan rasa bangga sebagai keturunan dari Abraham. Rasa bangga, tidaklah cukup untuk menyongsong kehadiran Kristus yang kedua. Contoh : kita merasa bangga karena berasal dari desa Kristen, sudah menjadi Kristen sejak kecil, tetapi hidup jauh dari nilai-nilai Kristen, misalnya: berjudi, mabuk-mabukan, bertengkar, tidak bertegur sapa, berselingkuh dengan memiliki PIL atau WIL sesama warga gereja. Sampai hari Minggu, waktu untuk beribadah dengan mudahnya mengabaikanibadah minggu untuk pergi berwisata, bekerja ke ladang, atau pergi ke pasar. Atau bahkan, kasus pembunuhan dan korupsi, juga dilakukan oleh beberapa orang Kristen. Hal ini menunjukkan bahwa tidak cukup merasa bangga menjadi orang Kristen, tetapi bagaimana hidup dalam iman Kristen? Hidup dalam Iman Kristen, berbeda dengan agama Kristen (sifatnya hanya rutinitas). Tetapi, hendaknya hidup kita semakin bertumbuh seperti Kristus. Artinya, diperlukan penyerahan hidup kepada-Nya dan Allah yang hidup ada di dalam diri kita.
Ungkapan “ular beludak” merupakan teguran yang keras kepada para pembuat dosa. Bentuk perbuatan pembuat dosa antara lain: perseteruan, perselisihan, iri hati, kemarahan, kepentingan diri sendiri, percekcokan, perpecahan, kedengkian, dls. Oleh karena itu, seruan pertobatan merupakan langkah awal supaya orang mau berbalik arah kepada Allah dan berjalan dalam kebenaran-Nya. Apakah pertobatan cukup? Tentu tidak cukup! Berangkat dari pertobatan, diperlukan sikap hidup yang mewujudkan nilai-nilai pertobatan itu sehingga kehidupan kita terus bertumbuh menjadi pohon yang berbunga, mekar, dan berbuah manis di hadapan Tuhan.
Perubahan yang dikerjakan Allah di dalam hidup akan terlihat dari buah yang dihasilkan. Buah adalah produk dari suasana hidup yang bukan mengandalkan kesalehan atau kemurnian beragama, melainkan suasana hidup yang mengandalkan diri pada anugrah Kristus. Contohnya: orang yang menanam, pasti berharap ada buah yang baik! Begitu juga dalam iman Kristen, Allah telah memberikan kebenaran firman-Nya dalam hidup kita, supaya muncul buah-buah pertobatan. Artinya hidup kerohanian kita tidak mandeg, tidak mandul, tidak kopong atau kering. Hal itu kita wujudkan dengan cara memperhatikan kepentingan orang lain, berlaku adil, jujur, arif, mempergunakan waktu yang ada dengan baik, saling mengampuni, mau merendahkan diri, dls. Hal ini nyata seperti yang dilakukan Yohanes Pembaptis pada ayat 11, ia merasa tidak layak untuk bertindak sebagai budak (doulos) Yesus dengan membuka sandal-Nya. Artinya, jika ada orang yang berani mengklaim dirinya bisa membaptis dengan Roh, maka hal itu pasti suatu kebohongan dan kesombongan. Karena baptisan dalam Roh hanya dilakukan oleh Yesus, dan Yohanes Pembaptis saja merasa dirinya tidak layak. Ini menunjukkan kerendahan hati Yohanes Pembaptis sebagai hamba.
Hidup dalam pertobatan, membuat kita hidup dalam damai sejahtera seperti dalam Yesaya 11:6-8. Dalam teks Injil Matius 3:10, bila pohon tidak menghasilkan buah, pohonnya akan dipotong. Ingat : kisah pohon. Saat pohon yang lama tidak pernah berbuah, maka pemiliknya berkata jika sampai tahun depan pohon ini tidak berbuah, dipotong saja. Ternyata, setelah itu tahun depannya pohon itu menghasilkan buah yang manis. Hal ini seperti manusia yang bertobat, dengan buah pertobatan yang nyata dalam hidup.
Penutup
Mari kita jalani hidup kita dalam minggu-minggu penantian dengan hidup yang semakin selaras dengan kehendak Kristus, agar buah hidup kita dapat dinikmati oleh orang lain. Contohnya, Roma 15:7, 15 supaya kita hidup berdamai dengan semua orang. Pemisahan akan terjadi, seperti dalam Matius 3:12. Jadi, apakah kita memilih menjadi jerami atau gandum? Mari kita hidup selaras dengan Kristus, hidup dengan harmoni sebagai wujud pertobatan. Amin. [KI].
Pujian: KJ. 309 Biar Ku Tumbuh di Batang-Mu
Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)
Pambuka
Salebeting kita nindakaken pangabekti Minggu, patuwen brayat, panghargyan dinten riyadin Kristen ngantos KKR, asring kita mireng salam “Syalom” utawi “Salam Tentrem Rahayu.” Kanthi semangat, umat badhe mangsuli salam punika kanthi salam ingkang sami. Pitakenanipun, punapa salam punika wonten hubunganipun kaliyan gesang kita sadinten-dinten? Punapa namung tembung kemawon? Lajeng, punapa gesang ing kahanan tentrem rahayu punika? Inggih gesang tentrem rahayu punika, gesang ingkang rukun, laras lan harmonis, kados ingkang dados isining waosan kita dinten punika.
Isi
Waosan ing dinten punika ngengetaken kita bab pepengetipun Yokanan Pambaptis ingkang taksih cocok ngantos sapunika. Ing ayat 7-9 kasebataken ukara “ula bedhudhak” lan “trahe Abraham”, ukara punika nedahaken kawontenanipun tiyang Yahudi ingkang bangga dados trahipun rama Abraham. Raos bangga punika tamtu mboten cekap kangge nyambeti rawuhipun Sang Kristus ingkang kaping kalih. Conto: Kita rumaos bangga awit kita asalipun saking desa Kristen, dados Kristen wiwit alit, nanging gesang kita tebih saking nilai-nilai Kristiani (Judi, mabuk, padu, mboten nate nyapa, selingkuh). Ngantos ing dinten Minggu, wekdalipun ngabekti dhumateng Gusti, kanthi enteng kita nilar pangabekti Minggu punika, kita langkung milih rekreasi, nyambut damel dhateng tegil utawi belanja ing pasar. Mboten namung punika, asring ugi wonten tiyang Kristen ingkang nindakaken raja pati lan korupsi. Prastawa ing inggil punika nedahaken bilih mboten cekap kangge kita rumaos bangga dados tiyang Kristen. Lajeng kados pundi anggen kita gesang salebeting iman Kristen? Gesang salebeting iman Kristen punika benten kaliyan agami Kristen ingkang sifatipun namung rutinitas. Gesang salebeting iman Kristen punika tegesipun gesang kita tuwuh kados Sang Kristus. Kita kedah masrahaken gesang kita sawetahipun dhumateng Gusti lan Gusti kedah nunggil ing gesang kita.
Prekawis ukara “ula bedhudhak” punika dados pepenget kanggenipun tiyang ingkang remen tumindak dosa. Wujuding tumindak dosa punika antawisipun: tukaran, meri, nesu, mentingaken dhiri, pasulayan, dengki, lsp. Awit saking punika, Yokanan nyeruaken pamratobat ingkang dados wiwitaning tumindak tiyang dosa balik arah, tumuju dhumateng Gusti Allah, lumampah ing marginipun Gusti lan kayekten. Punapa pamratobat punika cekap? Tamtunipun mboten cekap! Saking pamratobat punika kedah dipun lajengaken sarana mujudaken wohing pamratobat punika saengga gesang kita sansaya tuwuh, kados wit ingkang mekar ngedalaken sekar, lan ngedalaken woh ingkang legi wonten ngarsanipun Gusti.
Ewah-ewahaning gesang punika ketingal saking woh ingkang kaasilaken. Woh punika sanes awit saking tumindak saleh lan temen anggenipun ngabekti, nanging awit saking sih rahmatipun Sang Kristus. Kados tiyang ingkang nanem, piyambakipun tamtu ngajeng-ajeng tanemanipun punika ngedalaken woh ingkang sae, mekaten ugi iman Kristen, Gusti Allah sampun medharaken Sabdanipun ing gesang kita supados tuwuh wohing pamratobat kita. Punika tegesipun, gesang karohanen kita mboten mandeg, mandul, kopong, lan garing. Contonipun: Kita tansah ngatosaken kabetahanipun tiyang sanes, tumindak adil lan jujur, sarta wicaksana. Bab punika nyata kados ingkang dipun tindakaken dening Yokanan Pambaptis, ingkang kaserat ing ayat 11. Yokanan rumaos bilih piyambakipun mboten layak kangge mbikak trumpahipun Gusti Yesus. Punika negesaken bilih wonten tiyang ingkang wantun ngakeni piyambakipun saged mbaptis srana Roh, punika ngapusi lan gumunggung. Awit Baptisan ing Roh punika namung saged katindakaken dening Gusti Yesus. Ing ngriki Yokanan Pambaptis rumaos mboten layak, punika nedahaken asoring manah Yokanan Pambaptis minangka abdi.
Gesang ing pamratobat punika ndadosaken gesang kita tentrem rahayu kados ingkang kaserat ing Yesaya 11:6-8. Ing waosan Injil ayat 10 kasebataken bilih wit punika mboten ngedalaken woh, wit punika badhe dipun tugel. Swawi enget bilih wit lami, ingkang mboten nate uwoh taksih dipun paringi kesempatan ngantos taun ngajeng kaliyan ingkang kagungan, bilih taksih dereng woh, wit punika badhe dipun tugel. Nyatanipun saksampunipun setunggal taun, wit punika ngedalaken woh ingkang legi. Punika kados gesangipun manungsa ingkang mratobat lan gesangipun ngedalaken woh-wohing pamratobat.
Panutup
Mangga kita lampahi gesang kita ing mangsa Adven punika kanthi gesang ingkang selaras kaliyan karsanipun Sang Kristus, supados gesang kita ngedalaken wohing gesang ingkang saged dipun raosaken dening tiyang sanes. Mangga kita sami gesang rukun kaliyan sedaya tiyang (Rom 15:7, 15). Badhe wonten pamisah bilih kita mboten gesang rukun (Mat. 3:12). Dados, punapa ingkang badhe kita piji, dados suket punapa gandum? Mangga kita tansah gesang selaras kaliyan Sang Kristus, gesang kanthi harmoni minangka wohing pamratobat kita. Amin. [Terj. AR]
Pamuji: KPJ. 161 Jiwa Raga Kawula