Minggu Adven 1 | PK Masa Natal
Stola Putih
Bacaan 1: Yesaya 2 : 1 – 5
Mazmur: Mazmur 122
Bacaan 2: Roma 13 : 11 – 14
Bacaan 3: Matius 24 : 36 – 44
Tema Liturgis: Menanti Sang Jati dalam Bakti
Tema Khotbah: Peringatan dan Berjaga-jaga
Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
Yesaya 2 : 1 – 5
Yesaya hidup pada masa pemerintahan empat raja Yehuda: Uzia, Yotam, Ahas, dan Hizkia (Yes. 1:1). Tugas utama Yesaya sebagai nabi Allah ialah memperingatkan raja-raja Yehuda. Kepada Ahas, Yesaya memperingatkannya untuk tidak bekerjasama dan mengharapkan dukungan dari Asyur untuk melawan Israel dan Aram. Ia juga memperingatkan Hizkia, setelah kejatuhan Israel tahun 722 SM, supaya tidak bersekutu dengan bangsa asing untuk melawan Asyur. Yesaya memperingatkan kedua raja Yehuda tersebut agar mereka selalu percaya kepada TUHAN yang akan melindungi dan menolong Yehuda. Di samping memperingatkan para raja Yehuda, Yesaya juga menyampaikan nubuatan tentang keruntuhan Yehuda dan penghukuman Allah atas Yehuda yang tidak setia kepada Allah. Yesaya juga menegur tentang kemerosotan iman dan moral yang terjadi di Yehuda.
Pada bagian bacaan kita, Yesaya 2:1-5 merupakan bagian nubuat Yesaya mula-mula yang berisikan tentang Hari Tuhan (Yes. 2:1-22), Hukuman terhadap Yehuda dan Yerusalem (Yes. 3:1-4:1), Nubuat-nubuat penghukuman dan kemuliaan (Yes. 4:2-6) dan perumpamaan tentang hukuman dan pembuangan Yehuda (Yes. 5:1-30). Pada perikop kita, Yesaya menuliskan bahwa TUHAN akan membangun rumah-Nya pada hari-hari terakhir. Rumah Allah atau sering disebut Bait Allah adalah sebutan yang menunjukkan tempat kediaman TUHAN di bumi. Keberadaan Bait Allah di Yerusalem bagi bangsa Yehuda sangatlah penting, sebab disanalah umat merayakan berbagai ibadah dan perayaan. Bait Allah itu akan berdiri tegak, menjulang tinggi di atas bukit (Ay. 2). Itu berarti TUHAN akan memerintah secara langsung atas umat-Nya. Keberadaan Bait Allah ini akan menarik perhatian bangsa-bangsa untuk datang ke sana (Ay. 3). Bangsa-bangsa yang datang itu mengetahui bahwa di dalam Bait Allah, ada pengajaran Tuhan tentang jalan kebenaran (Ay. 3). Yesaya juga mengingatkan bangsa Yehuda bahwa TUHAN adalah hakim yang adil di antara bangsa-bangsa (Ay. 4). Dialah yang akan mengadili suku-suku bangsa. Dia juga yang menjanjikan kedamaian, tidak akan ada lagi peperangan di antara bangsa-bangsa. Hal itu ditandai dengan pedang menjadi mata bajak, tombak menjadi pisau pemangkas (Ay. 4). Dan pada akhirnya Yesaya memperingatkan bangsa Yehuda untuk bertobat dari kesesatan dan kedurhakaan mereka, datang kepada TUHAN, untuk berjalan di dalam terang TUHAN (Ay. 5).
Secara ringkas, ayat 1 – 4 memberi gambaran tentang “hari-hari akhir”. Yerusalem akan dihancurkan, namun suatu saat Yerusalem akan kembali menjadi titik acuan bagi banyak bangsa. Yerusalem akan menjadi tempat dimana kesetiaan, keadilan, dan kebenaran terpancar. Sebuah kota yang tidak lagi penuh dengan para pemberontak. Sebab di sana akan tercipta suasana penuh kedamaian. Karena itulah, bangsa Yehuda diminta oleh Tuhan untuk berjalan dalam terang Ilahi (Ay. 5), artinya mereka mengakui bahwa hidup ini adalah anugerah Tuhan semata.
Roma 13 : 11 – 14
Surat Roma merupakan surat Paulus yang paling panjang, teologis, dan berpengaruh. Mungkin karena alasan itu, surat Roma ini diletakkan di awal surat-surat Paulus yang lain. Paulus menuliskan surat kepada jemaat Roma dengan maksud untuk meyakinkan umat percaya di Roma bahwa dia sudah beberapa kali merencanakan kunjungannya ke Roma untuk mewartakan Injil Kristus, namun hingga saat itu masih ada halangan (Roma 1:13-15; 15:22). Paulus mengungkapkan kerinduannya dan menyatakan rencana kunjungannya dengan segera (Roma 15:23-32). Tujuan Paulus menulis surat kepada Jemaat Roma untuk mempersiapkan jalan bagi pelayanannya di Roma serta rencana pelayanannya ke Spanyol. Paulus mendengar kabar bahwa berita dan ajarannya telah diputarbalikkan, karena itu melalui suratnya ini, ia menjelaskan dan memperbaiki beberapa persoalan yang terjadi di dalam jemaat. Ia ingin meluruskan sikap dan pandangan yang salah dari orang Yahudi terhadap mereka yang non Yahudi (Roma 2:1-29; 3:1,9) dan orang non Yahudi terhadap orang Yahudi (Roma 11:11-36).
Pada bagian perikop kita saat ini, Paulus menuliskan tentang penerapan praktis dari kebenaran oleh iman, secara khusus ia menuliskan tentang orang percaya dan hukum kasih (Rom 13:8 – 15:13). Hukum Taurat diberikan bukan untuk membatasi kebebasan manusia sebab hakikat hukum Taurat adalah kasih. Kasih adalah kegenapan hukum Taurat (Ay. 10). Hukum Taurat menentang segala kejahatan yang mencederai hubungan manusia dengan Tuhan dan sesamanya. Mengasihi berarti tidak mencelakai sesamanya. Setiap orang Kristen harus menunjukkan kasihnya kepada saudara-saudaranya, mengasihi orang lain seperti mengasihi diri sendiri (Ay. 9). Kasih itu tidak mementingkan diri sendiri, melainkan peduli dengan orang lain. Pada pasal sebelumnya, Roma 6:14-15, Paulus menjelaskan bahwa umat percaya tidak lagi hidup di bawah hukum Taurat, namun hidup taat pada Kristus, yaitu mengasihi sesama sebagai penggenapan Hukum Taurat. Taurat dalam konotasi negatif (kata larangan/ jangan), hukum kasih dalan konotasi positif (berbuat baik).
Paulus menegaskan ada dua kemungkinan hidup manusia: siang dan malam, terang dan gelap. Sebagai umat Tuhan, Paulus menghendaki agar mereka menanggalkan perilaku hidup malam (gelap), yaitu kemabukan, pesta pora, dosa seksual, perselisihan, iri hati dan kedagingan. Kata menanggalkan menunjukkan umat tidak hidup di daerah abu-abu. Umat harus mengenakan Kristus (hidup dalam terang), yaitu hidup penuh kasih, sopan, dan kudus. (Ay. 12-13). Kasih kepada Kristus membuat umat tidak lagi berkompromi dengan dosa melainkan hidup dalam kekudusan. Paulus mengingatkan agar umat percaya memiliki cara hidup baru yang berpadanan dengan Kristus (Ay. 11 – 14). Hidup baru dimana Kristus yang berkuasa atas hidup mereka dan mereka mau menanggalkan cara hidup mereka yang lama. Mengenakan Kristus berarti menolak semua keinginan daging dari kehidupan yang lama (Ay. 14b).
Matius 24 : 36 – 44
Walaupun tidak disebutkan secara langsung dalam Alkitab, kesaksian para Bapa Gereja menyebutkan bahwa Injil Matius ditulis oleh Matius, salah seorang murid Yesus. Injil Matius ditulis untuk orang percaya Yahudi, karena itu latar belakang Yahudi di Injil Matius ini tampak dalam banyak hal. Antara lain: 1. Adanya penyataan, janji, dan nubuat PL untuk membuktikan bahwa Yesus adalah Mesias yang lama dinantikan. 2. Penulisan garis silsilah Yesus bertolak dari Abraham (Mat. 1:1-17). 3. Adanya pernyataan yang berulang-ulang bahwa Yesus adalah “Anak Daud” (Mat. 1:1; 9:27; 12:23; 15:22; 20:30-31; 21:9,15; 22:41-45). 4. Penggunaan istilah khas Yahudi “Kerajaan Sorga” (sama dengan Kerajaan Allah) sebagai ungkapan rasa hormat orang Yahudi sehingga segan menyebut nama Allah secara langsung. Meskipun Injil Matius ditulis untuk orang percaya Yahudi, namun bukan berarti hanya untuk mereka saja. Injil Matius ini juga ditujukan bagi semua gereja dan umat percaya di dunia dalam lingkup yang universal sebagaimana Amanat Agung Yesus sendiri (Mat. 28:16-20).
Kisah dalam Matius 24:36-44 ini merupakan bagian dari kisah minggu terakhir Yesus saat berada di Yerusalem sebelum kematian-Nya (Mat. 21:1-26:46). Dimana Yesus mengajar di bukit Zaitun tentang Kedatangan Anak Manusia. Kedatangan Anak Manusia adalah hal yang pasti, akan tetapi kapan waktunya tidak ada seorang pun yang tahu, malaikat-malaikat di surga pun tidak tahu, hanya Allah Bapa sendirilah yang tahu kapan waktunya (Ay. 36). Untuk menjelaskan kedatangan Anak Manusia yang kedua kalinya itu Yesus menggunakan analogi orang-orang pada zaman Nuh (Ay. 37). Nuh memang tidak tahu kapan air bah akan datang memenuhi bumi, tetapi ia terus mempersiapkan diri dan keluarganya. Ia tetap setia dengan perintah Allah untuk membuat sebuah bahtera (Ay. 38). Nuh juga memperingatkan orang-orang pada masanya akan hukuman Allah jika mereka tidak bertobat. Nyatanya manusia yang hidup pada zaman Nuh penuh dengan perbuatan dosa. Mereka tidak peduli lagi dengan peringatan Tuhan Allah kepada mereka. Mereka lebih senang menikmati hal-hal duniawi dan kesenangan jasmani (Ay. 37-39). Mereka baru tersadarkan pada saat air Bah itu datang, dan mereka sudah terlambat. Alkitab mencatat bahwa Allah memusnakan seluruh manusia, kecuali keluarga Nuh. Itu pula yang akan terjadi pada saat kedatangan Anak Manusia (Ay. 39).
Kemudian Yesus menjelaskan tentang kisah pengangkatan umat Tuhan (Ay. 40-41). Matius menggambarkan saat semua orang bekerja dan sibuk dengan kesehariannya (bekerja di ladang, memutar batu kilangan), mereka yang siap akan dibawa, dan yang tidak siap akan ditinggalkan. Mereka yang siap adalah mereka yang menjalani hidup sehari-hari dengan penuh pengharapan akan kedatangan Tuhan yang kedua kalinya. Mereka senantiasa menjaga hati dan pikiran mereka tetap terarah kepada Tuhan. Mereka senantiasa setia di tengah komunitas dan keberadaaan dunia yang penuh dosa.
Yesus juga mengajarkan agar umat percaya selalu waspada dan berjaga-jaga sebab hari kedatangan Tuhan seperti datangnya seorang pencuri. Pemilik rumah tidak tahu kapan datangnya pencuri, karena itu Yesus menasihatkan agar setiap umat percaya selalu waspada dan berjaga-jaga dalam hidup mereka (Ay. 43). Hendaknya mereka selalu mawas diri dan bersiap sedia menanti kedatangan Anak Manusia yang kedua kalinya (Ay. 42, 44). Waktu kedatangan Anak Manusia mamang tidak diberitakan kapan, tujuannya agar setiap umat percaya senantiasa menjaga iman mereka, setia dalam masa penantian, dan selalu berjaga-jaga menanti kedatangan Tuhan. Berjaga-jaga juga mengandung maksud agar umat percaya senantiasa menjaga hidup mereka berkenan di hadapan Tuhan Allah dan selama mereka masih di dunia, mereka melakukan apa yang benar di hadapan Tuhan Allah.
Benang Merah Tiga Bacaan:
Benang merah yang dapat kita petik dari ketiga bacaan adalah tentang peringatan dan sikap berjaga-jaga dalam menanti hari kedatangan Tuhan. Bacaan pertama berisi peringatan Tuhan Allah yang disampaikan nabi Yesaya kepada bangsa Yehuda agar mereka percaya kepada Tuhan, mengandalkan Tuhan dalam kehidupan mereka. Tuhan mengingatkan agar bangsa Yehuda tidak mengandalkan kekuatan mereka sendiri atau bangsa-bangsa lain, agar mereka meninggalkan kehidupan mereka yang penuh dosa. Pada bacaan kedua, Rasul Paulus memperingatkan Jemaat di Roma untuk hidup dalam terang, hidup kudus dan berkenan di hadapan Tuhan. Hendaknya mereka tidak lagi berkompromi dengan dosa dan nafsu kedagingan, hendaknya mereka menanggalkan cara hidup yang lama dan kembali kepada Tuhan. Sedangkan bacaan ketiga, Yesus sendiri yang memberikan peringatan kepada para murid dan orang-orang Yahudi saat itu agar mereka berjaga-jaga. Yesus memberitahukan hari kedatangan Anak Manusia yang waktunya tidak diketahui, namun pasti. Yesus mengingatkan agar umat percaya selalu setia, berpengharapan, siap sedia, dan berjaga-jaga menanti kedatangan Anak Manusia yang kedua kalinya.
Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)
Pendahuluan
Setiap manusia membutuhkan rasa aman dalam hidupnya. Karena itu ada berbagai macam cara agar manusia mendapatkan keamanan atas dirinya. Misalnya: Memilih tempat huni atau rumah di kawasan perumahan yang memiliki sistem keamanan yang baik (ada satpan, CCTV). Kita menyimpan uang kita di bank yang terpercaya, dimana kita tidak khawatir uang kita akan hilang. Atau ada sebagian orang yang memiliki asuransi, seperti asuransi kesehatan, asuransi pendidikan, asuransi hari tua, dll. Semua hal di atas menunjukkan upaya kita untuk selalu waspada dan berjaga-jaga terhadap segala risiko yang akan terjadi di masa yang akan datang. (Pelayan Firman dapat menambahkan contoh pentingnya sikap waspada dan berjaga-jaga yang lain).
Isi
Ketiga bacaan kita pada Minggu Adven 1 saat ini menekankan tentang peringatan dan sikap berjaga-jaga dalam menanti hari kedatangan Tuhan. Bacaan pertama berisi peringatan Tuhan Allah yang disampaikan nabi Yesaya kepada bangsa Yehuda agar mereka tidak mengandalkan kekuatan mereka sendiri atau bangsa-bangsa lain, tetapi agar mereka percaya kepada Tuhan, mengandalkan Tuhan dalam kehidupan mereka dan meninggalkan kehidupan mereka yang penuh dosa. Yesaya diutus Tuhan untuk memperingatkan raja Ahas agar tidak bekerjasama dan mengharapkan dukungan dari Asyur untuk melawan Israel dan Aram. Dia juga memperingatkan raja Hizkia supaya tidak bersekutu dengan bangsa asing untuk melawan Asyur. Dia juga menubuatkan tentang keruntuhan Yehuda dan penghukuman Allah atas Yehuda yang tidak setia kepada Allah dan menegur tentang kemerosotan iman dan moral yang terjadi di Yehuda. Dan pada akhirnya Yesaya memperingatkan bangsa Yehuda untuk bertobat dari kesesatan dan kedurhakaan mereka, datang kepada TUHAN, berjalan di dalam terang TUHAN.
Pada bacaan kedua, Rasul Paulus memperingatkan Jemaat di Roma untuk hidup dalam terang, hidup kudus, dan berkenan di hadapan Tuhan. Hendaknya mereka tidak lagi berkompromi dengan dosa dan nafsu kedagingan mereka, yaitu kemabukan, pesta pora, dosa seksual, perselisihan, iri hati dan kedagingan. Hendaknya mereka menanggalkan cara hidup yang lama itu. Paulus mengingatkan agar mereka memiliki cara hidup baru yang berpadanan dengan Kristus, yaitu hidup penuh kasih, sopan dan kudus. Hidup baru dimana Kristus berkuasa atas hidup mereka. Paulus juga memperingatkan jemaat di Roma bahwa Hukum Taurat diberikan bukan untuk membatasi kebebasan manusia sebab hakikat hukum Taurat adalah kasih. Setiap orang Kristen harus menunjukkan kasihnya kepada saudara-saudaranya, mengasihi orang lain seperti mengasihi diri sendiri. Kasih itu tidak mementingkan diri sendiri, melainkan peduli dengan orang lain.
Sedangkan bacaan ketiga, Yesus sendiri yang memberikan peringatan kepada para murid dan orang-orang Yahudi saat itu agar waspada dan berjaga-jaga menjelang kedatangan Anak Manusia. Yesus memberitahukan kedatangan Anak Manusia, kapan waktunya tidak di ketahui, namun pasti. Dia mengingatkan agar umat percaya selalu setia, berpengharapan, siap sedia dan berjaga-jaga menanti kedatangan Anak Manusia yang kedua kalinya. Ia menjelaskan kedatangan Anak Manusia menggunakan analogi orang-orang pada zaman Nuh. Nuh memang tidak tahu kapan air bah akan datang memenuhi bumi, tetapi ia terus mempersiapkan diri dan keluarganya. Ia tetap setia dengan perintah Allah untuk membuat sebuah bahtera. Nuh juga memperingatkan orang-orang pada masanya akan hukuman Allah jika mereka tidak bertobat. Nyatanya manusia yang hidup pada zaman Nuh penuh dengan perbuatan dosa. Mereka tidak peduli lagi dengan peringatan Tuhan Allah kepada mereka. Mereka lebih senang menikmati hal-hal duniawi dan kesenangan jasmani. Mereka baru tersadarkan pada saat air Bah itu datang, dan mereka sudah terlambat. Alkitab mencatat bahwa Allah memusnahkan seluruh manusia kecuali keluarga Nuh. Itu pula yang akan terjadi pada saat kedatangan Anak Manusia.
Penutup
Berefleksi dari ketiga bacaan firman Tuhan di Minggu Adven 1 ini, hal apakah yang dapat kita maknai sebagai umat Tuhan? Setidaknya ada dua hal yang kita dapatkan:
- Tuhan Selalu Memperingatkan Kita
Dalam segala hal dan keadaan yang terjadi atas hidup kita, Tuhan menyatakan kasih-Nya dengan cara memperingatkan kita. Ada peringatan yang Tuhan sampaikan melalui nasihat orang tua, saudara, teman, majelis jemaat yang mungkin menyakitkan hati kita. Namun kita mesti menyadari bahwa orang-orang di sekitar kita dapat dipakai Tuhan untuk memperingatkan kita akan perbuatan salah yang kita lakukan, mereka memperingatkan kita akan perkataan kita yang melukai orang lain, atau memperingatkan akan sikap kita yang jahat. Tuhan juga memperingatkan kita melalui peristiwa sulit yang kita alami, seperti keadaan sakit, mengalami kecelakaan, mengalami kekurangan, dll. Di saat sulit itulah kita diajarkan untuk percaya dan memercayakan hidup kita sepenuhnya kepada Tuhan. Kita menyadari keterbatasan dan kelemahan kita, dan kita mulai hidup mengandalkan pertolongan dan kekuatan dari Tuhan. Di sini hendaknya kita mengingat bahwa dibalik peringatan-peringatan yang Tuhan berikan kepada kita, ada maksud baik Tuhan pada kita, yaitu kita semakin lekat erat kepada-Nya dan kita semakin dewasa, kuat dalam menghadapi segala hal bersama Tuhan. - Tuhan Menghendaki agar Kita selalu Berjaga-jaga
Kita tidak pernah tahu kapan Tuhan akan datang kedua kalinya. Kita juga tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di depan kita. Namun demikian kita tahu ada penyertaan dan keselamatan bagi kita yang setia di dalam Kristus. Untuk itu, Tuhan menghendaki agar kita selalu hidup dalam pengharapan, bertahan dalam kesesakan, dan berjaga-jaga dalam segala hal. Berpengharapan artinya kita tidak menyerah dan putus asa dalam menjalani hidup. Seberat apapun masalah dan pergumulan yang sedang kita hadapi, seberat apapun keadaan persekutuan di gereja kita, tetaplah menaruh harapan dan keyakinan bahwa kita dapat melewati itu semua bersama Kristus. Bertahan dalam kesesakan artinya kita berani menghadapi masalah dan pergumulan hidup kita sekalipun itu menyesakkan. Kita mampu dan kuat selama kita hidup benar dan berjalan di dalam terang Sang Kristus. Berjaga-jaga artinya kita siap sedia mempertanggungjawabkan segala sesuatunya, menanti kedatangan Tuhan dengan menjaga hidup yang berkenan di hadapan Tuhan.
Mari mengawali masa Adven yang kita tandai dengan Perjamuan Kudus saat ini, kita sungguh-sungguh memperhatikan setiap peringatan dari Tuhan dan senantiasa berjaga-jaga menjelang hari Tuhan yang semakin mendekat. Tetaplah setia mengikut Tuhan, jangan meremehkan peringatan-peringatan-Nya dan teruslah berjaga-jaga. Amin. [AR].
Pujian: KJ. 85 Kusongsong Bagaimana
Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)
Pambuka
Saben manungsa punika mbetahaken raos aman salebeting gesangipun. Karana punika maneka cara dipun upaya dening manungsa supados piyambakipun ngraosaken aman. Contonipun: pados griya ing perumahan ingkang sistem kaamananipun sae (wonten satpan lan CCTV nipun). Kita saged nyimpen arta kita wonten bank ingkang kita pitados aman, ing pundi kita mboten rumaos kuwatos bilih arta kita punika badhe ical. Utawi wonten sawetawis tiyang ingkang kagungan asuransi, kados asuransi kesehatan, asuransi pendidikan, asuransi kangge mangsa sampun sepuh, lsp. Sedaya punika nedahaken pangupaya kita tansah waspada lan ngati-ati tumrap risiko ingkang badhe kelampahan ing mangsa ngajeng. (Palados sabda saged nambahaken conto sanesipun bab pentingipun sikep waspada lan ngati-ngati sanesipun)
Isi
Tiga waosan kita ing Minggu Adven 1 punika negesaken bab pepenget lan sikep jumaga sajroning nganti-anti dinten rawuhipun Gusti. Waosan sepisan isinipun pepengetipun Gusti Allah dhateng bangsa Yehuda lumantar nabi Yesaya. Gusti ngegetaken supados bangsa Yehuda mboten namung ngandelaken kakiyatanipun piyambak utawi kakiyatanipun bangsa-bangsa sanesipun. Bangsa Yehuda kedah pitados dhumateng Gusti dan ngandelaken Gusti ing satengah-tengahing gesangipun. Mekatena ugi bangsa Yehuda kedah nilar cara gesangipun ingkang kebak dosa. Ing ngriki nabi Yesaya dipun utus Gusti Allah kangge ngengetaken prabu Ahas supados mboten ngajeng-ngajeng bantuan saking Asyur kangge nglawan Israel lan Aram. Yesaya ugi ngegetaken prabu Hizkia supados mboten kekancan kaliyan bangsa sanes kangge nglawan Asyur. Yesaya medar sabda bab karisakaning Yehuda lan paukumaning Gusti Allah tumrap Yehuda ingkang sampun mboten setya malih dhumateng Gusti. Yesaya ugi ngengetaken bangsa Yehuda tumrap tumindak dosanipun lan puruna mratobat saking dosa lan durakanipun, wangsul malih dhumateng Gusti, lumampah ing margi ingkang padhang.
Ing waosan kaping kalih, Rasul Paulus ngengetaken pasamuwan ing Rum supados gesang ing pepadhang, gesang suci, lan gesang miturut karsanipun Gusti. Pasamuwan ing Rum dipun suwun supados mboten tumindak dosa lan duraka malih. Pasamuwan ing Rum kedah nilar cara gesang lami ingkang kebak dosa. Pasamuwan kedah gesang enggal, inggih punika gesang selaras kaliyan Gusti Yesus Kristus, gesang ingkang kebak katresnan, sopan, lan suci. Gesang enggal ing pundi Gusti Yesus jumeneng ratu ing gesangipun pasamuwan. Mekaten ugi rasul Paulus ngengetaken pasamuwan ing Rum bilih angger-angger Torah punika dipun paringaken Gusti, sanes kangge mbatesi kabebasanipun manungsa awit punjering angger-angger Toret punika katresnan. Ing pundi saben tiyang Kristen kedah ngatingalaken katresnanipun dhateng para sanak sedherekipun, nresnani tiyang sanes kados nresnani dhirinipun piyambak. Awit katresnan punika mboten namung mikiraken dhirinipun piyambak, nanging peduli tumrap tiyang sanes.
Ing waosan kaping tiga, Gusti Yesus piyambak ingkang ngengetaken para sakabat lan para tiyang Yahudi nalika semanten, supados waspada lan jumaga nganti-anti rawuhing Anak Manungsa. Gusti Yesus ngaturi pirsa bilih rawuhing Anak Manungsa punika mboten wonten ingkang sumerep wekdalipun, nanging punika bakal kalaksanan. Gusti Yesus ngengetaken supados para umat tansah setya, kebak pangajeng-ajeng, siap sedya lan jumaga anggenipun nganti-anti rawuhing Anak Manungsa ingkang kaping kalih. Ing ngriki, Gusti Yesus paring gegambaran para tiyang ing jamanipun Nuh. Nuh pancen mboten mangertos kapan wancinipun toyo bah punika dugi ngebaki bumi, nanging Nuh tetap nyawisaken dhiri lan brayatipun. Nuh tetap setya kaliyan printahipun Gusti Allah damel prau Bahtera. Nalika semanten Nuh ugi ngengetaken tiyang-tiyang ing mangsanipun supados mratobat. Awit bilih mboten mratobat, para tiyang punika badhe nampi paukuman saking Gusti. Sanyatanipun para tiyang punika tetep tumindak dosa, para tiyang punika mboten peduli kaliyan pepengetipun Gusti Allah. Para tiyang punika langkung remen bab-bab kadonyan lan kasenengan kajasmanen. Para tiyang punika nembe sadar nalika toya bah punika dugi lan sampun telat kangge mratobat. Kitab Suci nyerat bilih Gusti Allah musnahaken sedaya manungsa ing bumi kejawi Nuh sabrayat. Kedadosan punika ingkang badhe kelampahan nalika Anak Manungsa rawuh.
Panutup
Ngaca saking tiga waosan ingkang Minggu Adven 1 punika, kita saged sinau kalih prekawis kangge gesang kita minangka umat-Ipun Gusti.
- Gusti Tansah Ngegetaken Kita
Ing sadengah kahanan ingkang kedadosan ing gesang kita, Gusti Allah nedahaken sih katresnan-Ipun srana ngengetaken kita. Pepengetipun Gusti tumrap kita saged lumantar pepenget saking tiyang sepuh, sanak sedherek, kanca, majelis pasamuwan. Pepenget punika mbok menawi nglarani manah kita, nanging ing ngriki kita kedah sadar bilih tiyang-tiyang ing sakiwa tengen kita punika saged dipun agem Gusti kangge ngengetaken tumrap kalepatan lan tumindak kita ingkang awon. Para tiyang punika ugi diagem Gusti kangge ngengetaken kita tumrap pangucap lan pitutur kita ingkang nglarani tiyang sanes, ugi ngegetaken kita tumrap sikep gesang kita ingkang jahat dhateng sesami. Gusti Allah ugi ngengetaken kita lumantar prastawa ingkang ewet ingkang kita alami, kados nandhang sakit, ngalami kacilakan, kekirangan, lsp. Ing kahanan ingkang ewet punika, kita dipun ajar supados pracaya lan masrahaken sawetah gesang kita wonten ing astan-Ipun Gusti. Saking ngriki, kita kedah sadar bilih kita punika pancen manungsa ingkang winates lan kebak karingkihan. Awit punika kita kedah ngandelaken pitulungan lan kakiyatan saking Gusti. Saking ngriki, mangga kita sami enget bilih ing salebeting pepenget-pepengetipun Gusti punika wonten tujuan ingkang sae kangge kita, inggih punika supados kita langkung celak lan raket kaliyan Panjenenganipun. Kita sansaya diwasa lan kiyat anggen kita ngadepin manaka warni prekawis lan kahanan sinarengan kaliyan Gusti. - Gusti Ngersakaken supados Kita Tansah Jumaga
Kita mboten nate mangertos kapan wancinipun Gusti rawuh kaping kalih. Kita ugi mboten mangertos kedadosan punapa ing ngajeng kita. Nanging kita mangertos Gusti Yesus tansah nganthi lan mitulungi kita ingkang setya dhumateng Panjenenganipun. Karana punika, Gusti Allah ngersakaken supados kita gesang ing pangajeng-ajeng, tahan ing pacoban, lan jumaga ing sadengah kahanan. Pangajeng-ajeng tegesipun kita mboten badhe nyerah utawi nglokro anggen kita nglampahi gesang punika. Sepinten abot lan awratipun masalah lan pacoben ingkang kita adhepi, sepinten abot lan awratipun kawontenan patunggilan kita ing greja, mangga kita kagungan pangajeng-ajeng lan pitados bilih kita saged nglangkungi sedaya punika ing Gusti Yesus. Tahan ing pacoban tegesipun kita wantun ngadhepi maneka warni masalah lan pacoben ing gesang kita. Kita saged kiyat ngadhepi masalah lan pacoben anggen kita tumindak bener lan lumampah ing pepedhang sinarengan Sang Kristus. Jumaga tegesipun kita siyap lan sedya tanggel jawab tumrap sedaya kahanan, mekatena ugi kita nganti-anti rawuhipun Gusti kanthi njagi gesang kita sembada kaliyan karsanipun Gusti.
Mangga kita wiwiti mangsa Adven ingkang dipun tandhani kaliyan Bujana Suci punika kanthi tekad: Kita sedya kanthi teman nggatosaken saben pepengetipun Gusti. Mekatena ugi kita tansah jumaga nganti-anti rawuhipun Gusti ingkang sansaya cedhak. Mangga kita tansah setya ndherek Gusti, sampun ngantos kita ngremehaken pepenget-pengetipun Gusti lan mangga kita tansah jumaga. Amin. [AR].
Pamuji: KPJ. 231 Kadospundi, Dhuh Gusti