Iman Bertumbuh Ketika Menghadapi Tantangan Khotbah Minggu 6 Oktober 2019

Perjamuan Kudus Ekumene
Stola Putih

Bacaan 1         :  Habakuk 1 : 1 – 4; 2 : 1 – 4
Bacaan 2
         :  2 Timotius 1 : 1 – 14
Bacaan 3
         :  Lukas 17 : 5 – 10

Tema Liturgis  :  Merawat Hubungan Antar Umat Beriman Untuk Mewujudkan Kesejahteraan Bersama
Tema Khotbah
:  Iman Bertumbuh Ketika Menghadapi Tantangan

 

KETERANGAN BACAAN :
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Habakuk 1 : 1 – 4; 2 : 1 – 4

Habakuk pasal 1 dan 2, ditulis ± 605-597 SM dimana saat itu Yehuda tinggal menunggu giliran kekalahan karena pasukan Asyur di Niniwe sudah dikalahkan dan Pasukan dari Babel sudah mulai menyerbu Yerusalem. Pada Habakuk 1:1-4, Nabi Habakuk mendapatkan penglihatan dan dalam penglihatannya tersebut Habakuk bernubuat tentang Allah yang merespon kejahatan Yehuda justru dengan mengutus orang Babel untuk menghukum Yehuda. Tindakan Allah ini membuat Habakuk pada ayat 2-3 mengajukan pertanyaan-pertanyaan Theodise (Theodise adalah sebuah pandangan yang menempatkan TUHAN sebagai yang ‘benar’, di tengah kemalangan yang menimpa manusia. Tujuannya adalah supaya TUHAN tetap benar dan tidak disalahkan). Peristiwa di Yehuda membingungkan Habakuk dan dia ingin sekali mendapatkan jawaban yang benar-benar adil untuk disampaikan bagi sisa umat yang masih setia kepada Allah (ay.4).

Sedangkan pada Habakuk 2:1-4, Habakuk meyakinkan umat Allah bahwa mereka akan menyaksikan bahwa Allah menjawab pertanyaan tentang keadilan mengenai kejahatan di dunia dan kemungkinan kemusnahan orang benar. Umat Allah akan dapat menyaksikan tindakan Allah itu pada tulisan dan loh-loh Batu (ay.2). Allah akan menyatakan bahwa akan tiba saatnya semua orang jahat akan dibinasakan dan orang yang tidak ikut digoncang hanyalah orang yang benar dan mereka yang setia dalam iman mereka kepada Allah. Kesetiaan dan iman umat Allah harus diuji karena “keadilan Allah” atas umatnya yang setia itu sepenuhnya kehendak Allah yang tampaknya berbeda dengan keinginan/harapan manusia.

2 Timotius 1: 1 – 14

Rasul Paulus ingin melihat rekan sepelayanannya Timotius, untuk terakhir kalinya. Mengapa? Karena Paulus kondisinya sekarang ini adalah sebagai seorang hukuman (tahanan) di Roma yang menantikan kematiannya (ay.8). Kondisi Paulus sangat mengenaskan karena ia ditinggalkan oleh banyak sahabatnya (2 Tim 1:15; bdk. 2 Tim 4:14, 16), dan pada bagian ini Paulus rindu untuk melihat Timotius. Kerinduan Paulus bertemu dengan Timotius adalah untuk mengobarkan semangatnya dalam memberitakan Injil. Paulus tidak hanya merindukan Timotius, tetapi juga menguatkan melalui ajarannya.  Pada 2 Tim 1:6 “Karunia Allah” (Yun: charisma) yang diberikan kepada Timotius diumpamakan seperti api (bnd. 1 Tes 5:19) yang harus dikobarkan olehnya. Karunia itu merupakan karunia khusus dari Roh Kudus yang membangkitkan kekuatan, kasih, dan ketertiban dalam pelayanan Timotius. Karunia dan kuasa yang dicurahkan oleh Roh Kudus tidak dengan otomatis tetap kuat; karunia dan kuasa dari Roh Kudus tersebut, datang membawa keselamatan dan memanggil setiap orang (khusus) melalui panggilan kudus (khusus) untuk menyatakan kehendak Allah dengan pemberitaan injil/kabar keselamatan (khusus) bagi semua orang. Paulus mengajarkan kepada Timotius untuk seperti dirinya, tidak takut menderita apalagi malu dalam mewartakan kabar keselamatan itu, sebab kabar keselamatan yang sudah dinyatakan, oleh kedatangan Yesus Kristus sebagai juru selamat. Itulah yang mematahkan maut/dosa dan membawa kepada kehidupan yang tidak dapat binasa (ay.10-12). Hendaklah Timotius mengingat ajaran Paulus ini, dan menyimpan karunia Allah tersebut sebagai harta yang sangat berharga sepanjang hidupnya.

Lukas 17 : 5 – 10

Permohonan para rasul kepada Tuhan Yesus untuk “menambahkan iman“ (ay.5) mereka sangat beralasan, bila kita memperhatikan ayat 1-4 dalam perikop ini. Ada dua hal besar yang melatarbelakangi permohonan tersebut: 1) realita penyesatan yang pasti akan terjadi, dimana siapapun bisa menjadi penyesat dan menjadi orang yang disesatkan. 2) tugas untuk memberikan pengampunan tanpa batas. Keduanya bukan perkara yang mudah bagi para rasul yang notabene manusia biasa, sehingga dibutuhkan modal iman yang lebih. Apa jawaban Yesus atas permintaan para rasul tersebut? Yesus justru mengatakan “iman sebesar biji sesawi”. Artinya, jikalau para sakabat menekankan ‘kuantitas’ iman untuk menghadapi tantangan yang besar, Yesus justru menekankan ‘Kualitas’ iman dalam menghadapi tantangan. Kualitas iman akan terlihat dari cara kerjanya. Biji sesawi adalah jenis biji yang kecil, tetapi manakala biji sesawi ini tumbuh, maka ia akan menjadi pohon besar yang berguna bagi kehidupan yang lain (lih. Mat 13:31-32).

Iman yang berkualitas tersebut akan nampak pada dua hal: pertama, iman yang berkualitas mampu mengerjakan hal-hal yang secara nalar/rasionalitas manusia dipandang tidak mungkin; memindahkan pohon Ara ke Laut (ayat.6). Kedua, Iman yang berkualitas akan mengantarkan seseorang pada kesadaran bahwa dirinya yang sejati adalah pelayan (baca: hamba) bagi TUHAN, dimana pelayan bagi TUHAN didasari rasa ‘tulus-ikhlas’ untuk kepentingan TUHAN dan tidak pernah ada motivasi untuk mendapat penghargaan apalagi imbalan (ayat 7-10).

Benang Merah Tiga Bacaan:

Setiap peristiwa dalam kehidupan senantiasa menguji kesetiaan dan iman seseorang kepada Tuhan. Terlebih lagi jikalau ada tantangan, maka orang benar akan hidup hanya oleh percayanya (Hab. 2:4), ia akan memegang teguh ajaran tentang beriman kepada Yesus Kristus  (2 Tim. 1:13), serta memohon kepada Allah agar terus diberikan kekuatan iman (Luk. 17:5). Dengan demikian, orang yang beriman tidak akan bersikap pasif, akan tetapi ia akan terpanggil untuk melibatkan diri (proaktif) secara tulus melayani TUHAN melalui pelayanan terhadap sesama.

 

RANCANGAN KHOTBAH :  Bahasa Indonesia.

Iman Bertumbuh Ketika Menghadapi Tantangan!
(Nats : Luk. 17: 5)

Pendahuluan

Tantangan hidup tentu relevan dengan zaman yang mengikutinya. Tantangan pada masa kini, tidak bisa lepas dari perkembangan dan perubahan zaman masa kini yang membawa dampak dan pengaruhnya tersendiri. Misalnya, sekarang ini untuk membangun relasi/jejaring komunikasi dengan seseorang atau kelompok seiman/lintas iman, kita dimudahkan adanya media sosial digital di smartphone (telepon pintar) kita: Whatsapp, Tweeter, Instagram, facebook, dll… Media sosial tersebut merupakan produk perkembangan teknologi komunikasi digital masa kini yang mampu menembus tidak hanya batas-batas ruang, waktu dan jarak antar negara, tetapi juga semakin egaliter (berkedudukan setara) dalam arti mampu menembus kekakuan relasi feodalistik dalam budaya, birokrasi dan sekat-sekat status sosial di masyarakat. Tidak berhenti di situ saja, kemudahan-kemudahan mempererat relasi/jejaring pribadi maupun kelompok melalui media komunikasi digital juga semakin meningkatkan efektifitas dan efisiensi mulai dari sisi Administrasi dan waktu: model pengiriman dokumen, gambar dan video yang real time; Sisi ekonomi: kemudahan memperoleh barang melalui jual-beli online dan terbukanya lapangan kerja baru melaui jasa pengiriman barang.

Namun di sisi lain, media sosial digital bukan sama sekali tidak memiliki tantangan dan permasalahan. Relasi seseorang atau kelompokpun juga rentan dan dapat dengan mudah rusak melalui media sosial dengan adanya berita, video yang sengaja diciptakan untuk tujuan pemberitaan bohong/ hoax, mengadu domba, menciptakan kebencian, penipuan, fitnah, dan pemutarbalikan fakta. Bahkan, pada masa pemilu buzzer dan influencer merupakan lapangan pekerjaan yang dibutuhkan para kontestan untuk menarik/memikat simpati dan dukungan para pemakai media sosial sebanyak mungkin. Tidak jarang, perkembangan zaman ini membuat seseorang yang awam dengan ‘kepentingan’ dibalik media komunikasi sosial digital tersebut terbelah menjadi dua pihak, yatu pihak optimis dan apatis. Pihak yang optimis, karena mereka paham dan mampu menggunakan media sosial tersebut menjadi hal yang sangat bermanfaat membangun kehidupannya. Pihak yang apatis, mereka tidak mengerti lalu merasa biasa saja, cuek/acuh-tak acuh dengan perkembangan teknologi karena tidak memahami cara memanfaatkannya, lalu memilih jalan aman karena kuatir tertipu atau akunnya sosialnya disadap atau di bobol hacker.  Hal tersebut di atas hanya salah satu saja tantangan kita sebagai umat beriman pada zaman sekarang.

Isi

Pada ketiga bacaan kita, para utusan Allah juga memiliki tantangannya pada masa mereka masing-masing. Apakah mereka berhasil melalui tantangan tersebut dengan tetap setia kepada Tuhan Allah?

  • Ada yang berhasil artinya tetap teguh setia beriman sampai mati, kita bisa melihat pada kisah Paulus yang setia meskipun menderita dan sampai mati.
  • Ada yang kurang berhasil artinya meski beriman tetapi dalam perjalanan menghadapi tantangan, imannya sempat mengkerut dan mengalami keraguan (seperti pada kisah nabi Habakuk 1:1-4 dan para Sakabat Yesus dalam Lukas 17: 5)
  • Ada (bahkan banyak) yang tidak berhasil, artinya ketika menghadapi penderitaan memilih meninggalkan Tuhan Yesus (kisah Paulus yang ditinggalkan sahabat-sahabatnya (2 Tim 1:15; 2 Tim 4:14, 16).

Mengapa ketiga jawaban tersebut bisa terjadi? Karena Allah tidak memberi bekal berupa trik atau cara memahami dalam melihat fenomena/peristiwa/masalah yang ada pada saat itu, maupun petunjuk teknis-praktis dalam menghadapi tantangan pada saat itu. Mengapa Allah demikian tega, padahal jelas sekali bahwa para Nabi dan para sakabat pasti akan menghadapi situasi yang sangat tidak mudah, dalam memberitakan Kasih dan keselamatan dari Allah?

Allah menginginkan agar dalam menghadapi tantangan maupun dalam melaksanakan tugasnya para sakabat tidak bergantung pada kekuatan dari dirinya sendiri, seberapapun kepandaian/potensi unggul yang dimiliki orang itu. Para Nabi serta para Sakabat tidak diperkenankan mengandalkan “kemampuannya” sendiri, akan tetapi mereka harus benar-benar hanya mengandalkan dan bergantung sepenuhnya pada pemeliharaan Allah. Ketika kepandaian mereka tidak berarti apa-apa dalam menghadapi situasi yang sulit, tentu pilihan (terakhir) bagi mereka hanya mengandalkan pertolongan dan kekuatan dari Allah.

Hal tersebut nampak pada Habakuk 1:1-4 (bacaan pertama). Nabi Habakuk merasa seakan-akan Allah diam, karena membiarkan kejahatan, kekerasan menang atas umat Israel, dan Yehuda hanya menunggu waktu saja untuk dikalahkan oleh Babel. Orang-orang benar dan hukum dikalahkan oleh orang fasik. Disitulah saat dimana Habakuk tidak bisa berbuat apapun, Ia hanya bisa berteriak (ay.2) kepada Allah meminta pertolongan Allah dan keadilan Allah.

Hal yang sama juga terjadi pada Paulus manakala ia ditahan di dalam penjara. Dalam kondisi menderita Paulus merasa perlu mengingatkan kepada sahabatnya, Timotius untuk mengingat ajaran yang sudah diberikan Paulus dan meminta Timotius untuk tetap setia dan semangat dalam ‘panggilan kudus’ memberitakan injil (2 Tim 2:5-10). Paulus perlu menguatkan Timotius agar setia dan berani dalam mengabarkan Injil. Mereka tidak perlu malu memiliki sahabat seperti Paulus karena kondisi Paulus yang ada dalam tahanan (ay.6-7). Hal ini berbanding terbalik dengan sahabat Paulus lain dari Asia Kecil,  Figelius dan Hermogenes, yang meninggalkan Paulus dan berpaling dari memberitakan Injil (ay.15).

Bagaimana dengan para sakabat pengikut Yesus? Merekapun meminta pertolongan kepada Yesus untuk menambahkan iman mereka (Luk 17:5). Mengapa? Karena mereka menghadapi penyesatan, dimana mereka tidak hanya disesatkan, tetapi merekapun bisa menyesatkan orang lain. Sedangkan disisi lain mereka sebagai sakabat Yesus harus tetap mengampuni atas penyesatan tersebut dan mereka harus tetap melakukan tugas pelayanan (ay.1-4, 8-10). Situasi tersebut tidak gampang bagi manusia biasa seperti para sakabat. Oleh sebab itu mereka meminta supaya ditambahkan Iman mereka, dengan harapan mereka tetap setia dan teguh dalam menjalankan tugas pelayanan mereka. Akan tetapi Yesus justru menjawab kuantitas iman yang diminta para sakabat tersebut, dengan Iman yang berkualitas yaitu iman sebesar biji sesawi. Nah, iman yang berkualitas tersebut akan mampu memindahkan Pohon Ara ke Laut dan dalam pelayanan akan nampak seperti seorang hamba yang melaksanakan tugas dengan setia dan tulus ikhlas mengikuti kehendak tuannya.

Sebagai orang percaya, apa yang bisa kita pelajari bacaan tersebut?

  1. Allah menghendaki setiap orang, banyak orang, sebagai mitra Allah untuk ambil bagian dalam tugas mewartakan kabar keselamatan. Siapapun dia yang dipilih Allah dalam panggilan kudus (lih. 2 Tim 1:9), dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Seseorang yang bersedia Tuhan pakai, maka Tuhan akan menyertai dan memperlengkapi dengan caraNya. Meski dianiaya dan mengalami penderitaan mereka wajib setia dalam iman dan panggilan tugas yang diembannya, dan hanya mengandalkan Allah saja mereka memiliki kekuatan.
  2. Siapapun yang di ‘pakai’ Allah untuk bekerja mewartakan Injil kerajaan Allah, untuk mewartakan damai sejahtera, mereka semua adalah “pelayan” (hamba). Mereka akan menghadapi kenyataan, tantangan permasalahan dalam pelayanannya (bnd. kedudukan Paulus sebagai hamba; Luk 17:8-10). Sebagai pelayan mereka tidak bisa bertindak semaunya, karena seorang pelayan hanya melakukan pekerjaannya dengan setia, dan taat pada kehendak Sang Tuan, yaitu Tuhan Yesus sendiri.
  3. Pada saat ini kita semua adalah gereja, GKJW merupakan tubuh Kristus, dimana Kristus adalah kepalanya. Gereja memiliki panggilan yaitu melanjutkan tugas pelayanan Yesus Kristus di dunia dalam mewartakan damai sejahtera Allah kepada semua orang, semua ciptaan. Semua orang dan semua ciptaan artinya, tidak hanya untuk internal kekristenan, tetapi juga lintas identitas, apakah itu lintas iman, suku, budaya dan semua yang hidup. Apapun tantangan-masalahnya, meskipun harus menderita seperti Yesus, gereja harus tetap setia melayani dan tidak mundur.
  4. Gereja mewartakan keselamatan dan damai sejahtera Allah di dunia dengan cara yang tepat, bijak sesuai dengan konteks zaman. Kesadaran kontekstual diperlukan oleh gereja dalam melaksanakan tugas pewartaan ini. Artinya, zaman yang terus berubah, perkembangan teknologi yang sangat cepat, mau tidak mau membawa pengaruh dan dampak dalam kehidupan umat, sehingga gereja mau tidak mau beradaptasi menyesuaikan dan cara pelayanan di gereja. Kesadaran Gereja atau GKJW untuk terus melayani dan hadir menjawab tantangan perubahan zaman seperti ini, seyogyanya tidak dimaknai sempit bahwa “greja uwes owah”. Gereja sadar akan konteks kehidupan di sekitarnya, kemudian mereformasi diri dan pelayanannya. Gereja yang seperti ini sesuai dengan semangat dan mantra ‘Ecclesia Reformata Semper Reformanda Est Secundum Verbum Dei’ (Gereja Reformasi Harus Terus Menerus Mereformasi Dirinya Sesuai Firman Allah). Hal nyata yang dapat kita lihat dalam pelayanan meng’gereja’ adalah secara selektif gereja memilih menggunakan teknologi media digital maupun media sosial untuk efektifitas dan efisiensi, misalnya: Warta Jemaat format Pdf, komunikasi/undangan digital via grup Whatsapp, renungan via website gereja, dll.

Penutup

Pada zaman sekarang, saat ini, situasi/tantangan pelayanan gereja di dunia akan terus ada, bahkan bisa dikatakan semakin banyak dan semakin kompleks. Gereja tidak memiliki pilihan selain menghadapi dan menyelesaikan masalah-masalah tersebut dengan tetap percaya akan pertolongan Yesus Kristus. Pertolongan Tuhan Yesus kepada gereja yang setia mewartakan damai sejahtera Allah adalah gereja akan menemukan berbagai variasi dan cara menghadapi permasalahannya. Ketika gereja mau, maka TUHAN akan memampukan. Sehingga, dengan demikian masalahnya tidak melulu ada di luar gereja, tetapi juga dari dalam gereja; karena terkadang di dalam gereja sendiri enggan menyelesaikan masalah dan tantangannya. Istilahnya, masalah/tantangan itu di ‘tunda’ dulu penyelesaiannya. Kemudian, Gereja menghabiskan energinya untuk urusan yang sepele dan remeh remeh. Tidak jarang terjadi perselisihan, bahkan konflik internal yang mengakibatkan damai sejahtera hilang di gereja.

Marilah sebagai gereja kita belajar untuk tetap setia akan tugas panggilan kita untuk mewartakan damai sejahtera Allah. Ketika kita berusaha, mengimani akan campur tangan Tuhan, niscaya kita akan diberikan jalan keluar dan berkat. Amin. (BK)

 

Pujian : KJ 369 : 1, 2, 3 dan PKJ. 182 : 1 – 5

RANCANGAN KHOTBAH :  Basa Jawi

Iman Tuwuh Nalika Ngadhepi Tantangan!
(Nats : Lukas 17: 5)

Pambuka

Tantangan gesang sejatosipun gegayutan kaliyan situasi zaman. Tantangan ing wanci punika, mboten saged uwal saking perkembangan lan sedaya owah-owahanipun zaman ingkang  gadhahi dampak lan pengaruh piyambak. Contonipun: sakmenika menawi nggadahi pikajeng mangun hubungan/jejaring komunikasi kaliyan sedherek utawi rencang satunggal utawi benten kapitadosan, kita saged ngginaaken media sosial wonten HP pinter kita: Whatsapp, Tweeter, Instagram, facebook, lsp. Media sosial punika asilipun perkembangan teknologi komunikasi digital ing wanci punika ingkang saged nembus mboten namung watesan panggenan, wekdal, lan jarak negari setunggal lan sanesipun, ananging ugi langkung egaliter artosipun saged nembus hubungan ingkang kaku wontening budaya, birokrasi lan status sosial ing masyarakat ingkang winates. Mboten cekap semanten, nuwuhaken lan ngraketaken hubungan pribadi utawi sakperangan tiyang lumantar media komunikasi digital punika ugi sangsaya ningkataken efektifitas lan efisiensi mulai administrasi lan wekdal: ngirim dokumen, gambar lan video ingkang langsung saged dipun tampi; sisi ekonomi: langkung gampil menawi pados barang ingkang dipun sade online,  lan saged mbikak papan pakaryan enggal lumantar jasa pengiriman barang.

Sanajan mekaten, media sosial digital ugi nggadahi tantangan lan permasalahan. Hubungan pribadi lan sakperangan tiyang wonten media sosial ugi gampil risak amargi wonten video, berita ingkang sangaja dipun damel kangge ngrisak/Hoax, supados mangsahan, nyiptaaken benci, nipu, fitnah lan kasunyatan ingkang dipun damel dolanan. Malahan, ing wanci pemilu buzzer lan influencer punika saestu pedamelan ingkang dipun betahaken para kontestan kagem narik/mikat simpati lan dukungan saking tiyang ingkang ndamel media sosial sak kathah-kathahipun. Kangge tiyang ingkang mboten mangertosi kaliyan sedaya ‘kepentingan’ sakwingkinge media sosil digital punika, saged pecah dados kalih pamanggih, inggih punika ingkang gadhahi pamanggih optimis lan apatis. Pihak ingkang optimis, amargi mangertosi lan saged ngginaaken media sosial punika kangge sedaya prekawis ingkang migunani tumrap gesang. Pihak ingkang apatis, amargi mboten mangertosi lajeng ngrumaosi biasa, cuek lan mboten perduli kaliyan perkembangan teknologi amargi kuwatos kabujuk, utawi sedaya tumindakipun ing media sosial dipun sadhap kaliyan hacker. Prekawis punika namung salah satunggaling tantangan ingkang dipun adhepi kaliyan umat pitados ing zaman sakmangke.

Isi
Waosan kita, para utusanipun Gusti Allah ugi nggadahi tantangan piyambak-piyambak ing zamanipun. Punapa sedaya utusan kalawau saged ngadepi tantangan kanthi tetep setya dhumateng Gusti Allah?

  • Wonten ingkang berhasil, tegesipun tetep kiyat lan setya pitados dhumateng Gusti ngantos ngajalipun, kita saged sumerep wonteng gesangipun rasul Paulus ingkang setya, sangsara ngantos ngajalipun.
  • Wonten ingkang kirang berhasil, tegesipun sanajan pitados ananging wonten lampahing gesang ngadhepi tantangan, kapitadosanipun mungkret lan anggadahi raos kuwatos ing manahipun (kadosdene cariyosipun nabi Habakuk 1:1-4 lan para sakabat Yesus ing Lukas 17:5)
  • Wonten (kathah) ingkang mboten berhasil, tegesipun nalika ngadhepi kasangsaran malahan nilar dan mboten pitados dhumateng Gusti Yesus malih (kadosdene cariyosipun Paulus ingkang dipun tilar para rencang peladosanipun. (2 Tim 1:15; 2 Tim 4:14, 16).

Wontenapa tigang jawaban kalawau saged kalampahan? Amargi Gusti Allah mboten maringi sangu kadosdene trik utawi cara, kagem mangertosi sedaya fenomena/prekawes/masalah ingkang kalampahan nalika semanten, mekaten ugi ‘petunjuk teknis ingkang praktis’ kagem ngadhepi sedaya tantangan kalawau. Kenging punapa, Gusti Allah punika ‘kamitegan’, padahal para sakabat lan para Nabi punika mesthi ngadhepi situasi ingkang mboten gampil nalika martosaken katresnan lan kawilujengan saking Gusti Allah?

Gusti Allah ngersaaken supados para sakabat anggenipun ngadhepi tantangan mboten gumantung dhateng kekiyatanipun piyambak, sanajan nggadahi kapinteran utawi kabisan ingkang sae wonten gesangipun. Para Nabi sarta para sakabat mboten kaparengaken ngandalaken kekiyatanipun piyambak, ananging kedah gumantung lan sumendhe saestu ing parimatanipun Gusti Allah. Nalika, kapinteran/kabisan punika mboten gadhahi pengaruh, mila para utusanipun Gusti punika namung ngandalaken pitulungan lan kekiyatan saking Gusti.

Prekawis punika saged kita kita tingali saking Habakuk 1: 1-4 (waosan sepisan). Nabi Habakuk rumaos bilih Gusti Allah punika mendel, amargi mboten mbelani bangsa Israel lan Yehuda nalika wonten kejahatan dipun perangi kaliyan Bangsa Babel. Tiyang leres lan hukum dipun kalahaken dening tiyang fasik. Prekawis punika ingkang ndadosaken Nabi Habakuk nyuwun pitulungan lan keadilan dhumateng Gusti.

Mekaten ugi Rasul Paulus nalika wonten papan pakunjaran. Ing kasangsaranipun, Paulus ngengetaken sadherekipun Timotius, supados tetap enget bab ‘pengajaran’ipun Paulus lan tansah semangat ing ‘timbalan suci’ martosaken Injil (2 Tim. 2:5-10). Paulus perlu ngiyataken Timotius supados wantun lan setya  martosaken Injil. Timotius mboten prelu rumaos isin amargi gadhahi rencang kadosdene Paulus (ay.6-7). Punika mboten sami kaliyan rencangipun Paulus saking Asia Kecil: Figelius lan Hermogenes, ingkang nilar Paulus lan mboten purun martosaken Injil (ay.15) amargi Paulus wonten pakunjaran.

Lajeng, kadospundi kaliyan para sakabat ingkang ndherek Gusti Yesus? Para sakabat nyuwun pitulungan dhumateng Gusti Yesus supados nambah kapitadosanipun (luk 17:5). Wonten napa? Amargi piyambakipun ngadhepi penyesatan, para sakabatipun Gusti mboten namung dipun sesataken ananging piyambakipun ugi saged nyesataken tiyang sanes sesaminipun. Ewadene, para sakabatipun Gusti Yesus kedah saged paring pangapura tumrap sedaya penyesatan kalawau lan kedah tetep nindakaken tugas peladosan (ay.1-4, 8-10). Situasi punika mboten gampil kangge para sakabat ingkang manungsa limrahipun. Pramila piyambakipun nyuwun supados dipun tambahaken kapitadosanipun, kanthi pengajeng-ajeng para sakabat tetep setya lan jejeg anggenipun nindakaken tugas peladosan. Ananging, Gusti Yesus paring jawaban bab kuantitas kapitadosan ingkang dipun suwun para sakabat kalawau, kaliyan kapitadosan ingkang langkung berkualitas inggih punika kapitadosan ingkang agengipun kados wijinipun sesawi. Nah, kapitadosan ingkang ‘berkualitas’ kalawau saged mindahaken wit Ara dateng Seganten lan wonten peladosan badhe ketingal kadosdene abdi ingkang nindakaken tugas kanthi setya lan tulus ikhlas ndherek ingkang dipun kersakaaken sang Tuwan.

Dhateng kita tiyang pitados, punapa ingkang saged kita sinauni saking waosan kalawau?

  1. Gusti Allah ngersaaken saben tiyang, mekaten ugi tiyang kathah, dados mitranipun Allah nindaaken tugas martosaken kabar kawilujengan. Sinten kemawon, kapiji dening Allah wonten timbalan suci (2 Tim 1:9), kanthi sedaya kasagedan lan kekiranganipun. Ingkang purun diagem Gusti, Gusti mesthi nganthi lan ngrimati. Sanajan, ngalami aniaya lan kasangsaran, ingkang kapiji kalawau kedhah tetap setya ing kapitadosanipun lan sedaya tugas ingkang kedhah ditindakaken, lan namung sumendhe dhumateng Gusti kemawon kita nggadahi kekiyatan.
  2. Sinten mawon ingkang diagem Gusti Allah nindakaken pakaryan martosaken Injil kratoning Allah, martosaken tentrem rahayu, sedaya kalawau namung ‘abdi’. Abdi punika mesthi ngadhepi kasunyatan, tantangan lan masalah wonten peladosanipun (bnd. Paulus ing namung abdi;Luk 17:8-10). Abdi punika mboten saged tumindak sakpenakipun piyambak, amargi abdi punika namung nindakaken tugas kanthi setya lan manut punapa ingkang dipun kersakaken tuwanipun, inggih punika Gusti Yesus Kristus.
  3. Kita sakmangke warga pasamuwan/Greja, GKJW, inggih punika badanipun Kristus, lan Kristus ingkang dados sesirahing Pasamuwan. Greja nggadahi timbalan nglajengaken pakaryanipun Gusti Yesus ing jagad punika martosaken tentrem rahayunipun Allah dhateng sedaya tiyang lan sedaya titah. Tegesipun, mboten namung dhateng tiyang Kristen, ananging ugi lintas identitas: suku, budaya, lan sedaya ingkang gesang. Punapa tantangan-masalahipun, sanadyan sangsara kadosdene Gusti Yesus, Greja kedhah tetep setya lelados timbalanipun lan mboten badhe mundur.
  4. Greja martosaken kawilujengan lan tentrem rahayunipun Gusti Allah ing jagad punika kanthi cara ingkang pas lan wicaksana sesuai situasi zaman. Pramila kesadaran Kontekstual dibetahaken greja anggenipun nindakaken ayahanipun punika. Tegesipun, zaman mesthi terus obah, perkembangan teknologi sangsaya mindak cepet, prekawis punika mesthi mbekta pengaruh lan dampak wontening gesangipun umat. Pramila, greja kedah beradaptasi nyesueaken perkembangan punika lajeng mranata peladosanipun wontening Greja. Kesadaran kados mekaten kedhahipun mboten dipun maknai sacara cethek bilih ‘grejanipun sampun owah”. Greja sadhar kaliyan pigesangan ing sakiwa tengenipun, lan greja ‘mereformasi’ dhirinipun lan peladosanipun. Situasi greja mekaten kadosdene semangat ‘Ecclesia Reformata Semper Reformanda Est Secundum Verbum Dei’ (Greja Reformasi kedhah terus mereformasi dhirinipun piyambak cunduk kaliyan Dhawuhipun Gusti Allah). Kasunyatan ingkang saged dipun tindakaken wonten peladosan ing Greja inggih punika, Greja sacara selektif ngginaaken teknologi media sosial ingkang langkung efektif lan efisien, contonipun: Pawartos Pasamuwan pdf, jejagongan/undangan digital lumantar grup Whatsapp, renungan via website greja, lsp.

Panutup
Ing wanci sakmangke, tantangan peladosan greja ing jagad punika mesthi wonten, malah sangsaya kathah lan rumit. Greja mboten gadhah pilihan saklintune ngadhepi lan nuntasaken sedaya masalah lan prekawes kalawau kanthi pitados pitulunganipun Yesus Kristus. Pitulunganipun Gusti Yesus dhateng greja ingkang tansah setya martosaken tentrem rahayunipun Allah ing punika greja badhe manggihaken mawarni-warni cara anggenipun ngadhepi masalahipun. Nalika Greja kersa, Gusti Allah mesthi ngiyataken. Saengga, sedaya masalah kalawau asal muasalipun mboten saking njawinipun Greja ananging ugi saking salebeting Greja; amargi kadangkala Greja piyambak mboten purun ngadhepi masalah lan tantanganipun piyambak. Istilahipun, masalah/tantangan punika di sumenekaken (tunda) langkung rumiyin. Lajeng, Greja telas energinipun kangge urusan ingkang langkung sepele lan remeh temeh. Mboten jarang ngantos tukaran lan konflik wonten salebeting greja ingkang ngakibataken icaling tentrem rahayu ing Greja.

Sumangga, dados Greja kita sinau setya tumrap sedaya tugas timbalan kita martosaken tentren rahayunipun Allah. Nalika kita mbudidaya usaha lan pitados tumrap campur astanipun Gusti, Gusti tansah paring solusi lan berkah. Amin. (BK)

 

Pamuji : KPK  63 : 1 – 3  lan KPJ 357 : 1, 2.

 

Bagikan Entri Ini:

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •