Relasi Menembus Batas Khotbah Minggu 13 Oktober 2019

Minggu Biasa XVII
Stola  Hijau

 

Bacaan 1 :  2 Raja-raja 5 : 1 – 3 , 7 – 15c 
Bacaan 2 :  2 Timotius 2 : 8 – 13
Bacaan 3 :  Lukas 17 : 11 – 19

Tema Liturgis  :  Merawat Hubungan Antar Umat Beriman untuk Mewujudkan Kesejahteraan Bersama
Tema Khotbah :  Relasi Menembus Batas

 

KETERANGAN BACAAN :
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

2 Raja-raja 5 : 1 – 3, 7 – 15c

Dalam teks bacaan perikop ini, konteks yang mewarnai narasi tentang kisah penyembuhan Naaman, panglima raja Aram yaitu kental dengan nuansa interaksi hubungan dengan bangsa lain. Letak Aram sendiri berada di daerah utaranya Israel dan di sebelah baratnya Israel. Hal ini menunjukkan bahwa relasi Aram dan Israel menembus batas kewilayahan. Raja Aram ini sangat terpandang sehingga memiliki strata sosial yang cukup tinggi. Kedudukan ini dipakai penulis kitab Raja-raja untuk menggambarkan posisi Naaman. Di satu sisi, memiliki kedudukan yang tinggi namun pada sisi yang lain sedang mengalami sakit kusta. Dalam pandangan masyarakat saat itu, orang yang menderita sakit kusta dianggap sebagai orang yang sangat hina – terkutuk. Di sinilah penulis kitab Raja-raja mau menegaskan bahwa ketika seseorang memiliki strata yang tinggi, kedudukan itu tiada artinya ketika menderita sakit kusta.

Dalam relasinya, raja Aram memohon raja Israel untuk menyembuhkan dari penyakitnya. Akan tetapi yang tejadi yaitu raja Israel tidak berdaya dan tidak mampu menyembuhkan. Adapun sosok yang mampu menyembuhkan adalah Elisa seorang nabi yang ada di Israel yang berasal dari Samaria. Di sini dapat kita lihat bagaimana relasi antara Aram, Israel dan Samaria. Artinya penulis kitab Raja-raja sepertinya ingin menegaskan bahwa dalam proses penyembuhan tersebut melibatkan pihak-pihak di luar bangsanya sendiri. Bahwa hubungan dengan pihak lain bisa mendatangkan sebuah hasil yang positif. Kesembuhan dari sakit kusta dapat terjadi ketika melibatkan pihak lain, yang bisa jadi sarana penyembuh itu tidak memiliki kedudukan / strata yang tinggi.

Elisa nabi Allah yang dipakai untuk menyembuhkan, memberikan tahapan penyembuhan melalui mandi di sebuah sungai Yordan, sungai terpanjang di Palestina dengan kualitas air berlumpur. Sementara ada sungai-sungai lain yang kualitas airnya lebih jernih. Air sungai Abana yang sumber airnya dari pegununungan Libanon menuju Damsyik sehingga airnya cukup jernih. Begitu pula sungai Papar yang mengalir dari sisi timur gunung Hermon menuju sebelah selatan Damsyik dengan kualitas air yang baik terbukti memberikan kesuburan pada kebun buah-buahan dan tanaman. Namun justru yang dipilih Elisa sebagai sarana penyembuhan adalah sungai Yordan yang berlumpur. Narasi pemilihan Yordan sebagai sarana penyembuhan ini dapat dipahami bahwa Allah dapat berkarya melalui sesuatu yang tidak populer. Allah hadir melalui relasi dengan bangsa lain, melalui orang biasa bahkan bisa melalui sungai yang berkualitas air berlumpur. Sehingga karya Allah bisa menembus batas-batas relasi dan pemikiran manusia.

2 Timotius 2:8-13

Meskipun surat 2 Timotius lebih ditujukan kepada pribadi Timotius, namun isi surat ini sebenarnya juga ditujukan kepada semua orang Kristen perdana. Karena konteks sosial jemaat Kristen perdana sepanjang abad pertama mengalami perubahan-perubahan akibat relasi dengan keadaan sekitar. Para pemimpin jemaat mengalami ancaman dipenjara, dihukum oleh pemerintahan Romawi. Sehingga Paulus dalam suratnya kepada Timotius ini ingin memberikan penegasan bahwa dalam interaksi dengan pihak lain, Timoitus dan jemaatnya harus kuat. Ayat 8 memberikan penegasan bahwa pengajaran yang menguatkan Timotius dan jemaatnya itu didasarkan pada Yesus Kristus yang telah bangkit dan mampu mengalahkan keadaan di sekitar yang menghukumnya dengan kematian. Hubungan dan interaksi dengan konteks yang menekan mendorong untuk semakin kuat dalam menghadapinya.

Penulis surat Timotius menyebut Daud sebagai leluhur Yesus Kristus. Raja Daud dipahami orang Kristen perdana sebagai raja Israel terbesar. Kebesaran Daud meliputi perjuangannya, kemampuan sebagai musisi dan penyair, dinasti yang panjang dalam memerintah dan gelar yang tinggi. Daud mendapat gelar ‘yang diurapi’ dan gelar ‘Anak Allah’. Ketika penulis surat Timotius menyebut Daud tersebut sebagai leluhur Yesus Kristus, disinilah Yesus Kristus juga mendapatkan gelar yang sama. Gelar tersebut mengandung wewenang untuk mewujudkan damai sejahtera, keadilan, membela orang miskin, hadir bagi mereka yang terpinggirkan. Sehingga konteks jemaat perdana yang menghadapi tantangan yang menekan itu, kemudian mereka dikuatkan dengan adanya Yesus Kristus yang mampu hadir mewujudkan pembelaan bagi mereka yang sedang tertekan.

Menghadapi hubungan sosial yang dihadapi, dimana munculnya berbagai ajaran dan tekanan baik dari dalam jemaat maupun dari luar, maka jemaat perdana diminta untuk sabar. Sama seperti Paulus yang mampu memberikan teladan satu sikap hidup menerima dengan tulus. Sabar juga memiliki konsekuensi yaitu menanggung realitas kehidupan yang dialami. Dalam keadaan tersebut penulis surat 2 Timotius juga mengutip Injil mengenai ‘kesetiaan’. Hal ini menunjukkan bahwa dalam kesabaran itu, Timotius dan jemaat perdana diharapkan untuk setia dan seraya mengarahkan hidup pada Kristus yang mampu membawa damai dan pembelaan.

Lukas 17:11-19

Kisah penyembuhan orang Kusta dalam Injil Lukas ini melibatkan pihak-pihak yang memiliki latar belakang yang berbeda. Orang kusta yang bergerombol tersebut berasal dari orang Yahudi baik dari Galilea maupun Samaria. Pada dasarnya antara masyarakat Galilea dan masyarakat Samaria seringkali bertentangan. Namun gerombolan orang kusta dari latar belakang berbeda ini bisa hidup bersama dalam kerukunan. Adapun yang menjadikan orang Kusta ini bisa hidup bersama yaitu lebih karena ‘keadaan’ – kondisi menderita sakit. Kelompok orang Kusta ini mengalami penderitaan yang sama yaitu: terpinggirkan dari masyarakat. Mereka juga hidup ‘saling bergantung’ antara penderita kusta yang satu dengan penderita yang lain. Kehidupan yang saling membutuhkan, saling menopang dan saling ketergantungan inilah yang menjadi kunci pengikatnya antara orang yang berbeda latarbelakang.

Yesus yang dalam perjalanan ke Yerusalem, mendengar teriakan orang kusta yang berteriak memohon belas kasihan. Orang kusta dalam relasi dengan masyarakat mengalami pengucilan. Nyaris tidak ada orang yang sehat berani berinteraksi dan mendengarkan mereka yang kusta. Namun Yesus dalam konteks ini, menunjukkan justru relasi antara orang sehat dengan orang sakit kusta tidak ada pembatas. Justru Yesus menembus batas-batas relasi antara orang kusta yang najis itu. Yesus berinteraksi dengan mereka yang kusta. Ada keterbukaan dari Yesus untuk mendengar apa yang menjadi jeritan masyarakat yang terpinggirkan itu. Bahkan Yesus memberikan jalan kesembuhan bagi penderita kusta yang sudah pupus harapan. Yesus memiliki kesediaan mendengar dan memberikan jawaban atas kebutuhan yang dirindukan.

Gerombolan orang kusta dari Galilea dan Samaria akhirnya mengalami kesembuhan. Penulis kitab Injil Lukas memberikan penekanan pada kisah penyembuhan tersebut bukan pada proses tahirnya, namun klimaks kisah itu pada ungkapan terimakasih dari penderita kusta pasca kesembuhannya. Semua gerombolan penderita kusta telah mengalami kesembuhan. Akan tetapi pasca penyembuhan itu, hanya satu orang saja yang mengungkapkan terimakasih dan kembali menjalin relasi dengan Yesus. Lebih lagi orang yang berterima kasih itu berlatarbelakang Samaria. Hal ini sangat mengejutkan pada saat itu, karena Samaria merupakan orang yang tidak dianggap bahkan dimusuhi oleh orang Yahudi. Mereka yang justru orang asing mampu berterimakasih, sementara orang Galilea justru tidak berterimakasih. Sehingga dari kisah penyembuhan kusta ini, penulis Injil Lukas hendak menegaskan bahwa orang asing pun yang selama ini dianggap tidak baik namun justru memiliki sikap hidup yang baik.

Bagi orang bukan Yahudi seperti Samaria, penyembuhan dari penyakit kusta bukan hanya sekedar perubahan dari sakit menuju sehat. Namun lebih dari pada itu penyembuhan itu mendatangkan keselamatan. Penyembuhan yang holistik, pemulihan hubungan – relasi dari orang yang terhina dan terpinggirkan. Relasi antara Yesus yang menembus batas-batas pemikiran manusia, status sosial dan juga relasi antara Allah dengan umat-Nya yang tidak berjarak.

Benang Merah Tiga Bacaan

            Kehidupan manusia selalu berinteraksi dengan orang lain. Manusia harus menjalin relasi yang baik dengan orang lain, bangsa lain, orang yang berlatar belakang berbeda. Dalam berelasi dengan orang lain, manusia harus terbuka – inklusif. Memandang orang lain dengan positif sekalipun dalam relasi itu didapati situasi yang menekan. Namun manusia dipanggil untuk mampu menjalin hubungan yang baik dengan orang lain, karena Allah mampu berkarya bagi bangsa lain dan dalam diri bangsa lain tentu ada hal positif yang dapat dipetik. Seperti Yesus yang justru berelasi dengan bangsa lain dan bahkan memberikan apresiasi positif bagi bangsa lain.

 

RANCANGAN KHOTBAH:  Bahasa Indonesia

Pendahuluan

Saudara-saudara yang dikasihi dan mengasihi Tuhan,

Di Indonesia hewan anjing seringkali dibenci oleh masyarakat. Hewan ini dikonotasikan sebagai hewan yang membawa penyakit rabies. Padahal rabies hanya akan menular jika hewan tersebut positif terinfeksi rabies dan akan menularkan rabies jika melakukan gigitan kepada korban. Jadi penularan rabies tidak serta merta ketika berinteraksi dengan anjing. Ada juga yang menganggapnya najis. Hal itu dipengaruhi oleh pandangan dan budaya tertentu. Dengan konotasi yang negatif tersebut, sehingga seringkali hewan ini mendapatkan perlakuan yang tidak baik dari masyarakat. Akan tetapi hewan anjing sebenarnya memiliki banyak sisi positif. Hewan anjing mampu berlaku setia pada tuannya atau pemiliknya. Hewan anjing juga dapat mendeteksi sebuah perilaku kejahatan. Oleh karena konotasi yang negatif lebih dominan terhadap hewan tersebut, maka sisi positifnya menjadi kabur dan bahkan seringkali diabaikan. Mengapa demikian?

Isi

Saudara yang terkasih,

Orang Samaria dalam bacaan Injil kali ini, juga tidak mendapatkan perhatian yang cukup di kalangan masyarakat Yahudi. Terlebih lagi orang Samaria tersebut mengalami sakit kusta. Pada pandangan masyarakat saat itu, orang yang sedang menderita sakit kusta dianggap sebagai orang yang najis. Sehingga orang kusta menjadi bagian masyarakat kelas bawah dan termarginalkan/terpinggirkan. Dalam kondisi yang demikian sebagai penderita kusta, mereka pasti akan merasakan betapa menyedihkan dan kehilangan harapan untuk hidup normal seperti layaknya orang pada umumnya yang terjadi di masyarakat. Sehingga dapat dipahami bahwa orang kusta yang berasal dari Samaria itu tentu juga mengalami konotasi yang negatif dari masyarakat. Apakah kita juga seringkali ikut terjebak pada pandangan negatif masyarakat dalam memandang sesuatu – negatif dalam berelasi dengan orang yang berbeda dengan kita?

Dalam membangun relasi dengan orang lain, mari kita belajar dari mereka yang menderita kusta. Para penyandang sakit kusta ternyata mampu berelasi dengan orang lain. Para orang kusta yang berkelompok memiliki latarbelakang yang berbeda. Mereka berasal dari orang Yahudi baik dari Galilea maupun Samaria. Sejatinya antara masyarakat Galilea dan masyarakat Samaria seringkali berseberangan dan sulit berelasi. Namun kumpulan orang kusta dari latar belakang berbeda ini ternyata bisa hidup bersama. Kebersamaan itu didorongan perasaan senasib, keadaan yang menjadikan mereka terpinggirkan dan dikonotasikan najis. Mereka juga hidup ‘saling bergantung’ antara penderita kusta yang satu dengan penderita kusta yang lainnya. Kehidupan yang saling membutuhkan, saling menopang dan saling ketergantungan inilah yang menjadi kunci pengikatnya antara orang yang berbeda latarbelakang. Bukankah, kita pun juga seharusnya demikian? Ketika berelasi dengan orang lain hendaknya ‘menyadari’ bahwa kita membutuhkan dan bergantung satu dengan yang lain?

Ajaran berelasi juga diteladankan oleh Tuhan Yesus. Ketika Tuhan Yesus dalam perjalanan ke Yerusalem, Dia mendengar teriakan orang kusta yang berteriak memohon belas kasihan. Yesus memperagakan kepedulian terhadap mereka yang terkonotasikan negatif, termarginalkan, dan najis. Yesus menembus batas-batas relasi antara orang kusta yang najis itu. Yesus berinteraksi dengan mereka yang kusta. Ada keterbukaan dari Yesus untuk mendengar apa yang menjadi jeritan masyarakat yang terpinggirkan itu. Bahkan Yesus memberikan jalan kesembuhan bagi penderita kusta yang sudah pupus harapan. Yesus memiliki kesediaan mendengar dan memberikan jawaban atas kebutuhan yang dirindukan. Keteladanan inilah yang perlu kita kembangkan dalam laku kehidupan kita. Dengan keberanian untuk menembus batas-batas relasi, kesediaan mendengar akan menjadikan kita mampu merawat hubungan dengan sesama yang berbeda latarbelakang.

Dalam membangun hubungan dengan sesama, pada realitanya kita harus menghadapi hal-hal yang kurang menggembirakan. Bisa saja kita seperti Naaman yang harus merelakan diri untuk mandi di Sungai Yordan yang kualitas airnya berlumpur. (2 Raja-raja 5:10-12). Naaman harus merendahkan diri dan percaya pada Elisa nabi Allah di Israel. Begitu pula, pengalaman yang menyedihkan bisa saja terjadi seperti yang dialami Paulus dan jemaat yang digembalakan oleh Timotius (2 Timotius 2:8-13). Ketika memberitakan Injil justru Paulus harus merasakan tekanan dan dipenjara. Semua tantangan itu, menjadi bagian yang tidak dapat dielakkan begitu saja. Kita harus bisa menerima kenyataan dengan sabar seraya menyerahkan hidup pada penyertaan Tuhan.

Bagian penting dalam berelasi, juga dapat pula kita jumpai pada kisah pasca penyembuhan orang kusta itu. Ketika sepuluh penderita kusta telah mengalami kesembuhan, namun yang berterima kasih hanyalah seorang yang berlatar belakang Samaria. Hal ini sangat mengejutkan, karena Samaria merupakan orang yang tidak dianggap bahkan dimusuhi oleh orang Yahudi. Tetapi dialah yang justru orang asing mampu berterimakasih, sementara orang Galilea justru tidak berterimakasih. Hal ini memiliki makna bahwa orang asing pun yang selama ini dianggap tidak baik namun justru memiliki sikap hidup yang baik dan patut untuk diteladani.

Penutup

Demikianlah memang realitas kehidupan ini diwarnai dengan relasi yang dibayang-bayangi dengan sesuatu konotasi negatif. Realitas kehidupan yang juga penuh tekanan. Tetapi sebagai pengikut Yesus Kristus yang terpanggil untuk berelasi dengan umat beriman, hendaknya mengembangkan kesadaran bahwa setiap manusia membutuhkan dan bergantung satu sama lain. Kesadaran akan kesamaan dalam perbedaan itu juga harus senantiasa dihayati dalam kehidupan ini. Kita dipanggil untuk berani menembus batasan-batasan relasi yang memisahkan seperti teladan Yesus. Serta terus berjuang untuk berfikir positif bagi orang lain, karena Allah juga pasti berkarya bagi seluruh ciptaan.  (MM)

 

Pujian : KJ.  424

RANCANGAN KHOTBAH: Basa Jawi

Pambuka

Para sadherek ingkang dipuntresnani dening Gusti,

Ing Indonesia kewan asu utawi segawon asring dipunsengiti dening masyarakat. Kewan menika dipunanggep utawi dikonotasikan dados kewan ingkang mbekta rabies. Kamangka rabies menika saged nulari menawi sampun terinfeksi kanthi positif virus rabies lan namung saged nulari lumantar nyathek. Dados rabies saking segawon mboten lajeng nulari menawi kita namung srawung kemawon. Kewan menika ugi dipun anggep negatif amargi wonten pemanggih najis. Kahanan najis menika jalaran karana wonten pemanggih lan pengaruh saking budaya tartamtu. Kanthi konotasi ingkang negatif menika, saengga kewan segawon asring ngalami tindak tanduk manungsa ingkang mboten sae saking masyarakat. Ananging sejatosipun segawon menika nggadahi babagan ingkang positif. Segawon saged setya dhateng tuan utawi ingkang kagungan. Segawon ugi saged ngambus tindak tanduk manungsa ingkang mboten sae utawi kriminal. Amargi pamanggih ingkang negatif langkung dominan, pramila bab ingkang positif dados mboten katingal lan asring mboten dipunanggep kanthi sae. Kenging menapa kados mekaten?

Isi

Para sadherek ingkang kinasih,

Tiyang Samaria kados ing waosan Injil menika, ugi mboten dipunanggep dening masyarakat Yahudi. Langkung-langkung tiyang Samaria saweg nandhang sakit kusta. Rikala semanten, masyarakat anggenipun ngadepi tiyang ingkang saweg sakit kusta, lajeng tiyang kusta dipunanggep najis. Saengga tiyang ingkang kusta dados golongan masyarakat kelas andhapan lan termarginalkan. Ing kahanan mekaten tiyang kusta tamtu ngraosaken manah ingkang sedih lan sampun mboten wonten malih pangajeng-ajeng gesang ingkang lumrah kados tata gesangipun masyarakat. Pramila saged dipunmangertosi bilih tiyang kusta saking Samaria ugi dipunanggep negatif dening masyarakat. Lajeng pitakenanipun, menapa kita ugi asring nggadahi pamanggih negatif anggenipun mbangun paseduluran dhateng tiyang ingkang benten kaliyan kita?

Anggenipun mbangun paseduluruan dhateng tiyang sanes, sumangga kita nyinau saking tiyang ingkang nandhang sakit kusta. Para tiyang ingkang sakit menika saged nyedulur kaliyan tiyang sanes. Para kusta ingkang sakit menika saged makempal kaliyan tiyang ingkang benten. Para kusta menika tiyang Yahudi saking Galilea lan Samaria. Sejatosipun antawis masyarakat Galilea lan masyarakat Samaria asring padu lan mboten saged sesrawungan kanthi sae. Ananging tiyang kusta menika malah saged makempal, srawung lan nyedulur gesang sesarengan. Para tiyang kusta menika saged makempal amargi nggadahi pamanggih bilih kahanananipun sami-sami mrihatosaken. Antawis tiyang kusta satunggal lan satunggalipun sami mbetahaken, sami njurung semangat lan sami ngraosaken ‘ketergantungan’. Babagan raos sami mbetahaken menika dados kunci ingkang ndadosaken para kusta menika saged nyedulur sanadyan para kusta menika benten asalipun. Menawi tiyang  kusta saged srawung lan nyedulur, lajeng kados pundi gesang kita? Sejotisipun kita ugi kedah saged srawung lan nyedulur kaliyan tiyang sanes. Kita ugi perlu nyadari bilih ing gesang menika mbetahaken tiyang sanes.

Tuladha paseduluran dipun pratelakaken dening Gusti Yesus. Nalika Gusti Yesus saweg tindhak dhateng Yerusalem, Gusti midhangetaken para tiyang ingkang nandhang kusta lan nyuwun pitulungan. Gusti Yesus paring tuladha perduli dhumateng tiyang kusta ingkang dipunanggep dening masyarakat bilih gesangipun kusta menika negatif. Gusti malah saged srawung lan nyedulur kaliyan para tiyang kusta. Gusti paring tuladha bilih sumadya nampi kahanipun tiyang kusta lan midhangetaken menapa ingkang dados panyuwunanipun. Langkung-langkung Gusti paring margi kasarasan dateng tiyang kusta ingkang sampun rikala dangu ngraosaken semplah ing manah. Tuladha saking Gusti Yesus menika ingkang selajengipun perlu kita tindhakaken wonten ing gesang kita. Kita kedah wantun nyedulur dhumateng tiyang sanes, midhangetaken menapa ingkang dados kabetahan sadherek kita ingkang benten kaliyan kita.

Anggen kita mbangun paseduluran dhateng sesami, kasunyatanipun kita ugi ngadhepi perkawis-perkawis ingkang mboten ngremenaken. Saged kemawon kita nemahi perkawis kados Naaman ingkang kedhah sumadya siram dhateng lepen Yordan, kasunyatanipun toyanipun buthek kathah endutipun (2 Para Raja 5:10-12). Naaman kedah sumadya andhap asor lan pitados dhateng Elisa nabi saking bangsa Israel. Mekaten ugi kados gesangipun Paulus lan Timotius ingkang nemahi tantangan. Rikala martosaken Injil, Paulus nemahi kahanan ingkang awrat, kathah tekanan lan malah Paulus dipunkunjara (Timotius 2:8-13). Sadaya kahanan ingkang mboten sae menika dados pangatak supados anggen kita ngadepi kasunyatan ingkang awrat, kita saged nampi sadaya samukawis kanthi sabar lan masrahaken gesang menika wonten ing pangayunipun Gusti.

Babagan wigati anggen mbangun paseduluran, ugi saged kita pirsani saking cariyos tiyang kusta ingkang saras. Nalika tiyang sedasa kusta sampun kasarasaken, ananging ingkang saged saos syukur namun tiyang satunggal saking Samaria. Cariyos menika saestu ngedhap-edhapi, awit tiyang kusta Samaria ingkang dipuanggep mboten sae lan asring dipunmangsahi dening tiyang Yahudi kasunyatanipun malah saged saos syukur ngaturaken pamaturnuwun dhumateng Gusti Yesus. Dene tiyang ingkang saking Galilea malah mboten wangsul malih lan mboten ngaturaken matur nuwun dhumateng  Gusti Yesus. Cariyos menika ngemu ateges bilih sejatosipun tiyang ingkang dipunanggep mboten sae, malah nggadhahi tindhak-tandhuk ingkang sae lan saged kita dadosaken tuladha.

Panutup

Mekaten kasunyatan gesang ingkang dipunwerneni dening paseduluran kanthi pamanggih-pamanggih negatif. Gesang menika ugi kathah perkawis ingkang awrat lan kathah tekanan. Ananging kita minangka pandherekipun Gusti Yesus Kristus, kita dipuntimbali supados nyedulur kaliyan tiyang ingkang benten iman. Kita kedhah mbangun kesadaran bilih manungsa menika mbetahaken lan gumantung kaliyan tiyang sanes. Pandherekipun Gusti kedhah ngrumaosi bilih kita menika kaliyan tiyang sanes ugi nggadahi bab-bab ingkang sami. Pramila kita dipuntimbali supados saged mbangun paseduluran kanthi semangat, nggadahi pemanggih ingkang positif lan kita pitados bilih Gusti Allah tamtu makarya ing sadaya tumitah. (MM)

Pamuji :  KPK. 319

 

Bagikan Entri Ini:

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •