Peduli Terhadap Sesama Melalui Segala Sesuatu yang Kita Miliki Khotbah Minggu 29 September 2019

Minggu Biasa XV
Stola Hijau 

 

Bacaan 1         :   Amos  6 : 1a, 4 – 7
Bacaan 2         :   1 Timotius 6 : 6 – 19
Bacaan 3         :   Lukas 16 : 19 – 31

Tema Liturgis  :   Merawat Hubungan Antar Umat Beriman Untuk Mewujudkan Kesejahteraan Bersama
Tema Khotbah : Peduli Terhadap Sesama melalui Segala Sesuatu yang Kita Miliki

 

KETERANGAN BACAAN :
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan kotbah)

Amos 6 : 1a, 4 – 7

Umat Allah baik di Israel (Samaria) maupun Yehuda (Sion) ditegur disini:

  • Mereka mempunyai kuasa dan kemakmuran, tetapi sudah menjadi puas dengan dosa mereka. Mereka percaya bahwa dengan keberhasilan material telah membuktikan bahwa mereka hidup di bawah berkat Allah.
  • Kemakmuran dan gaya hidup yang menyenangkan dapat membuat manusia hanyut dalam gaya hidup duniawi dimana kerinduan yang mendalam dan tetap akan Allah tidak ada lagi.

 

1 Timotius 6 : 6 – 19

Pola hidup dan perilaku yang mencerminkan ibadah yang benar juga terlihat melalui sikap terhadap materi. Ajaran yang sesat di Efesus bukan hanya menyimpang dari ajaran Kristus serta ibadah yang benar, tetapi juga memecah-belah jemaat dan dimotivasi untuk memperoleh keuntungan secara materi. Paulus menegaskan bahwa ia tidak pernah mencari keuntungan dari firman Allah (1 Tim. 6:2) atau mempunyai maksud loba yang tersembunyi  (1 Tim. 6:1).

Ibadah memang memberi keuntungan besar yakni keuntungan rohani, jika disertai rasa cukup. Paulus menganjurkan bukan hidup melarat, melainkan rasa puas karena terpenuhinya kebutuhan pokok kita. Adapun hal yang harus diwaspadai adalah keserakahan karena “cinta uang” itu seperti minum air laut makin banyak makin haus. Sebab akar segala kejahatan adalah cinta uang. Sebab memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman. Cinta uang sama dengan berhala dan menuntun orang menjauh dari pengharapan sejati orang Kristen. Paulus mengingatkan untuk menjauhi cinta uang dengan mengejar keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan. Ia lebih menitikberatkan pada pertandingan iman yang benar demi hidup yang kekal bukan hal yang duniawi.

 

  1. Lukas 16 : 19 – 31

Orang Farisi selalu merasa diri lebih baik dibandingkan sesamanya. Mereka adalah pemimpin agama sehingga selalu ada di rumah ibadah. Mereka mempelajari hukum Taurat dan kitab nabi-nabi. Mereka mengira bahwa mereka akan masuk surga karena hal-hal itu. Maka Yesus membuka mata mereka melalui perumpamaan orang kaya dan Lazarus.

Si orang kaya menikmati hal-hal terbaik dalam hidupnya. Ia memiliki pakaian mahal dan bersukaria dalam kemewahan, berbeda dengan Lazarus pengemis yang badannya penuh borok, yang berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu. Namun keadaan menjadi terbalik ketika keduanya meninggal dunia. Lazarus duduk di pangkuan Abraham, sementara si orang kaya justru menderita sengsara di alam maut. Kalau kita perhatikan tidak ada keterangan mengenai dosa atau kejahatan si orang kaya. Lalu mengapa ia menderita di alam maut? Apakah ia salah karena kekayaannya? Jelas tidak. Abraham pun kaya. Namun masalahnya, si orang kaya hidup hanya bagi kesenangannya sendiri dan di dalam kesementaraan waktu. Ia tampaknya hidup tanpa memiliki prespektif kekekalan, mengenai adanya kehidupan setelah kematian. Seharusnya, ia bisa memanfaatkan mamon yaitu uang untuk peduli terhadap sesama. Padahal kesempatan itu  ada setiap hari karena ia melewati Lazarus saat keluar masuk rumahnya. Sayang si orang kaya tidak memanfaatkan hartanya untuk melayani orang yang membutuhkan. Ini adalah bukti nyata bahwa imannya hanya sebatas pengakuan di bibir saja. Seperti yang Tuhan Yesus katakan bahwa manusia tidak dapat mengabdi pada dua tuan. Ketika Allah menjadi tuan kita, maka kita juga akan menggunakan harta kita untuk melayani Dia.

Benang Merah Tiga Bacaan :

Sebagai manusia kita telah diberikan banyak berkat oleh Tuhan oleh karena itu kita diajarkan untuk bisa peduli terhadap sesama kita melalui segala sesuatu yang kita miliki termasuk uang sehingga kita tidak jatuh pada akar segala kejahatan yaitu cinta uang.

 

RANCANGAN KOTBAH:  Bahasa Indonesia
(Ini  hanya sebuah rancangan, silahkan dikembangkan sesuai konteks Jemaat)

Pendahuluan

Jemaat yang terkasih, ada sebuah lagu dari Opie Andaresta yang berjudul “Cuma Khayalan” (lebih baik jika pelayan bisa menyanyikan lagu ini) yang liriknya demikian:

Andai a…a…a….a….. aku jadi orang kaya
Andai a….a…a….a…. nggak usah pake kerja
Andai a…a…a….a….. aku jadi orang kaya
Andai a….a…a….a…. nggak usah pake kerja 

Penggalan lagu ini mengajak kita berkhayal terutama bagi yang merasa belum kaya ya he….he…. Seandainya jadi orang kaya, seandainya punya banyak uang tanpa harus bekerja. Kira-kira nich, apa yang akan saudara-saudara lakukan jika jadi orang kaya? (berikan kesempatan kepada warga jemaat untuk menjawab)

Adakah yang ingat untuk persembahan? Atau adakah yang ingin menyisihkan uangnya untuk peduli terhadap sesama terutama yang membutuhkan misalnya fakir miskin, yatim piatu dan janda terlantar?

Isi

Sadaudara-saudara yang terkasih,

Berbicara mengenai orang kaya dan kepedulian maka kita sampai pada perumpamaan mengenai orang kaya dan Lazarus yang miskin. Perumpamaan ini dilatarbelakangi oleh sikap orang Farisi yang selalu merasa diri lebih baik dibandingkan sesamanya.

Tuhan Yesus menyampaikan bahwa si orang kaya menikmati hal-hal terbaik dalam hidupnya. Ia memiliki pakaian mahal dan bersukaria dalam kemewahan, berbeda dengan Lazarus pengemis yang badannya penuh borok, yang berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu. Namun keadaan menjadi terbalik ketika keduanya meninggal dunia. Lazarus duduk di pangkuan Abraham, sementara si orang kaya justru menderita sengsara di alam maut.

Kalau kita perhatikan tidak ada keterangan mengenai dosa atau kejahatan si orang kaya. Lalu mengapa ia menderita di alam maut? Apakah ia salah karena kekayaannya? Jelas tidak. Abraham pun kaya. Namun masalahnya, si orang kaya hidup hanya bagi kesenangannya sendiri dan di dalam kesementaraan waktu. Ia tampaknya hidup tanpa memiliki prespektif kekekalan, mengenai adanya kehidupan setelah kematian. Seharusnya, ia bisa memanfaatkan mamon yaitu uang untuk peduli terhadap sesama. Padahal kesempatan itu  ada setiap hari karena ia melewati Lazarus saat keluar masuk rumahnya. Sayang si orang kaya tidak memanfaatkan hartanya untuk melayani orang yang membutuhkan. Ini adalah bukti nyata bahwa imannya hanya sebatas pengakuan di bibir saja. Seperti yang Tuhan Yesus katakan bahwa manusia tidak dapat mengabdi pada dua tuan. Ketika Allah menjadi tuan kita, maka kita juga akan menggunakan harta kita untuk melayani Dia melalui sesama.

Dalam hal ini Rasul Paulus juga berpesan bahwa cinta uang sebagai akar dari segala kejahatan karena orang hanya memburu uang dan tidak lagi peduli dengan yang lain bahkan menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka. Begitu halnya dengan Amos yang juga mengingatkan bahwa kemakmuran dan gaya hidup yang menyenangkan dapat membuat manusia hanyut dalam gaya hidup duniawi.

Penutup

Saudara-saudara yang terkasih,

Tuhan telah memberikan kekayaan kepada kita masing-masing baik berupa materi, tenaga, pikiran, keluarga maupun kesehatan. Dengan kekayaan yang kita miliki mari kita pergunakan semua itu tidak hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk sesama kita sebagai wujud kepedulian kita terhadap sesama. Mari kita mengawalinya dari diri kita masing-masing, tidak perlu berpikir yang muluk-muluk. Mari memulai dengan hal yang kecil seperti bertanya kabar, memberikan senyuman, mengambil bungkus permen di dalam gereja dan membuangnya pada tempat sampah dan masih banyak lagi. Mari kita tidak hanya berpikir tetapi mulai untuk melakukan. Amin.  (DES)

 

Pujian :  KJ. 357 : 1 – 4  “Dengar Panggilan Tuhan”


RANCANGAN KHOTBAH :   BASA JAWI

Pambuka

Para sedherek ingkang ditresnani lan nresnani Gusti,

Wonten lagu saking Opie Andaresta ingkang ngadahi irah-irahan “Cuma Khayalan” (langkung sae menawi pelados saged menyanyi lagu punika) ingkang lirikipun kados mekaten:

Andai a…a…a….a….. aku jadi orang kaya
Andai a….a…a….a…. nggak usah pake kerja
Andai a…a…a….a….. aku jadi orang kaya
Andai a….a…a….a…. nggak usah pake kerja 

Perangan lagu punika ngajak kita sami ngayal utaminipun kagem sok sintena ingkang rumaos dereng sugih he…he…. Saumpami dados tiyang sugih. Saumpami kagungan arto katah lan mboten sisah nyambut damel. Kinten-kinten, punapa ingkang badhe panjengan lampahi? (dipun paringi wekdal kagem warga pasamuan supados saged paring wangsulan)

Punapa wonten ingkang kemutan badhe pisungsung? Utawi wonten ingkang badhe paring pambiyantu tumraping sesami langkung-langkung tiyang ingkang saestu mbetahaken kados dene fakir miskin, yatim piatu lan mbok rondo?

Isi

Para sedherek ingkang ditresnani lan nresnani Gusti,

Ngrembag bab kasugihan lan kepedulian tumraping tiyang sanes ndadosaken kita dumugi pasemon bab wong sugih kalian Lazarus ingkang mlarat. Pasemon punika dipun paringaken Gusti Yesus gegayutan kalian sikapipun para tiyang Farisi ingkang ngrumaosi bilih dirinipun langkung sae menawi kabandingaken dening tiyang sanes.

Gusti Yesus paring pasemon bilih tiyang ingkang sugih kalawau sampun ngraosaken sedaya ingkang sekeca wonten gesangipun. Piyambakipun kagungan ageman ingkang awis lan bingah sanget ing salebeting kemewahan, benten sanget kalian Lazarus tiyang ingkang ngemis wonten ing korinipun tiyang sugih kalawau. Badanipun kebak kalian borok. Nanging, kosok wangsulipun nalika tiyang sugih lan Lazarus kalawau sami-sami tilar ndonya. Lazarus lenggah wonten ing pangkonipun Rama Abraham nanging tiyang sugih punika malah sangsara ing alam maut.

Menawi kita gatosaken, sejatosipun mboten wonten katrangan bab dosa utawi kejahatan ingkang sampun dipunlampahi dening tiyang sugih kalawau. Lajeng, kenging punapa tiyang sugih kalawau kok sangsara wonten ing alam maut? Punapa piyambake salah amargi sugih? Jelas mboten. Abraham ugi dados tiyang sugih. Ananging, ingkang dados perkawis nggih menika tiyang sugih kalawau namung gesang kagem kasenenganipun piyambak ing sawetawis wekdal. Piyambakipun gesang tanpa nggadhahi perspektif kelanggengan, bab wontenipun gesang saksampunipun tilar ndonya.

Sejatosipun, piyambakipun saged ngginakaken mamon nggih punika arto kagem peduli dumateng tiyang sanes. Kamangka saben dinten piyambakipun wonten kesempatan awit nglangkungi Lazarus nalika mlebet utawi medal saking griyanipun. Sayang, piyambakipun mboten ngginakaken kasugihanipun kagem ngladosi tiyang sanes ingkang mbetahaken. Kasunyatan punika dados bukti iman ingkang namung kababar wonten ing tutuk kemawon. Kados dene ingkang dipun dawuhaken Gusti Yesus bilih manungsa mboten saged ngabdi dumateng kalih tuan. Awit nalika Gusti ingkang dados tuan kita, kamangka kita ugi badhe ngginakaken kasugihan kita kagem ngladosi Gusti lumantar sesami.

Wonten ing ngriki Rasul Paulus ugi ngemutaken bab cinta uang ingkang ndadosaken sumbering kejahatan awit tiyang ingkang namung mburu arto saged mboten peduli dumateng sesami langkung-langkung nyimpang saking iman dan nyiksa dirinipun kalian mawarni-warni perkawis. Mekaten ugi Amos ngemutaken bilih kemakmuran lan gaya hidup ingkang ngremenaken ndadosaken manungsa keli wonten ing perkawis duniawi.

Panutup

Para sedherek ingkang ditresnani lan nresnani Gusti,

Gusti sampun maringaken kasugihan kagem kita piyambak-piyambak sae arupi materi, tenaga, pikiran, brayat lan kesarasan. Lumantar kasugihan ingkang sampun kita gadahi punika sumangga kita ginakaken mboten namung kagem diri kita piyambak nanging ugi kagem tiyang sanes minangka wujud kepedulian kita dumateng tiyang sanes. Sumangga kita miwiti saking diri kita piyambak-piyambak, mboten perlu mikir ingkang nginggil. Sumangga miwiti lumantar perkawis-perkawis alit umpaminipun tanglet kabar, mesem dumateng tiyang sanes, mundut bungkus permen ing gedung greja lan dipun bucal wonten ing tempat sampah lan taksih kathah malih. Sumangga kita mboten namung mikir kemawon nanging kita lairaken lumantar tindakan. Amin. (DES)

 

Pamuji  :  KPJ. 390 : 1 – 3  Gunakna Wektumu Paringe Gusti.

 

 

Bagikan Entri Ini:

  • 1
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •