Khotbah Minggu 6 Agustus 2017

Perjamuan Kudus Pembangunan GKJW
Stola Merah

 

Bacaan 1         : Kejadian 32:22-31:
Bacaan 2         : Roma 9:1-5
Bacaan 3         : Matius 14:13-21.

Tema Liturgis  : Tuhan meneguhkan orang yang berpengharapan
Tema Kotbah : Menyerahkan apa yang ada untuk diberkati dan dibagi.

 

KETERANGAN BACAAN
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Kejadian 32:22-31

Setelah semua yang mengkhawatirkan Yakub diseberangkan ke seberang sungai Yakbok, tinggallah Yakub sendiri. Datanglah seperti seorang laki-laki yang menggulat Yakub dan terjadilah pegulatan habis-habisan hingga menjelang fajar menyingsing. Orang itu akan pergi, tetapi Yakub tidak membiarkan Dia pergi sebelum Ia memberi berkat kepada Yakub. Akhirnya orang itu mengubah nama Yakub menjadi Israel, artinya dari “penipu” menjadi “pejuang Allah”, dan kemudian Ia memberkati Yakub. Tempat itu kemudian dinamakan Pniel, artinya bertemu muka dengan muka dengan Allah. Sehingga sebenarnya kisah ini menggambarkan pergumulan hati Yakub di tengah ketakutannya menjelang bertemu Esau kakaknya. Dengan jaminan berkat Allah itu Yakub lega dan tenang untuk menghadapi esok hari bertemu Esau.

 

Roma 9:1-5

Bangsa Israel sebenarnya telah banyak sekali mendapatkan berbagai keistimewaan dan berkat dari Allah, seperti mereka diangkat menjadi anak, menerima kemuliaan Allah, perjanjian-perjanjian, Hukum Taurat, janji-janji yang akan menurunkan Mesias. Namun dalam suratnya ini Paulus prihatin bahwa mereka tidak hidup setia kepada Allah, tidak dapat membagikan berkat sebagaimana dikehendaki Allah. Oleh karena itu Paulus menyatakan bahwa tidak semua yang berasal dari Israel adalah orang Israel (pejuang Allah). Tidak semua keturunan Abraham adalah anak Abraham (bapa bangsa-bangsa, bapa orang beriman).

 

Matius 14:13-21

Karena berita tentang pembunuhan Yohanes Pembabtis yang dibawa murid-murid Yohanes Pembabtis kepadaNya, Yesus hendak menghindar dan mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi. Tetapi ternyata di sana sudah banyak sekali orang berkumpul untuk mengikutiNya. Yesus tegerak hatiNya oleh belas kasihan dan menyembuhkan mereka yang sakit. Haripun makin remang memasuki rembang petang. Orang-orang itu nampak lesu, lapar dan lelah. Sehingga para murid meminta Yesus supaya menyuruh mereka pulang. Tetapi Yesus malah bersabda kepada mereka: “tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan”. “Yang ada pada kami hanya 5 ketul roti dan 2 ekor ikan” kata muridNya. “Bawalah kemari”. Orang banyak itu diatur duduk di rumput dengan tertib, roti dan ikan itu didoakan Yesus, diberkati lalu dipecah-pecahkan, dibagi-bagikan kepada orang banyak, sehingga lebih dari 5000 orang itu kenyang, malahan sisa 12 bakul.

 

Benang Merah Tiga Bacaan

Orang Israel diberi berbagai berkat dan karunia tetapi tidak dapat melakukan panggilanNya kepada bangsa-bangsa. Para murid Yesus tidak bisa lepas tangan dan masa bodoh terhadap permasalahan dan kebutuhan sesama. Dengan segala keterbatasan kita dipanggil membawa apa yang ada kepada Tuhan dan mohon berkatNya lalu membagikannya kepada sesama.

 

RANCANGAN KOTBAH Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan. . . bisa dikembangkan sendiri sesuai konteks jemaat)

Pendahuluan

Saudaraku yang dikasihi dan mengasihi Tuhan, dalam kehidupan suku-suku, bangsa-bangsa dan masyarakat betapa pentingnya berkat. Oleh karena itu ketika orang akan melakukan sesuatu, memohon berkat itu sangat penting: apakah berkat dari Tuhan, yang dipandang yang ilahi, leluhur ataupun orang tua, sehingga mereka dapat melakukan kegiatannya dengan tenang dan berhasil dengan baik.

Tetapi masalahnya: selanjutnya untuk apa berkat itu, hanya untuk diri sendiri atau juga untuk dibagi dengan orang lain atau untuk kebaikan bersama? Hal itu akan ikut menentukan tindakan selanjutnya. Berkat dapat menjadi laknat ketika diri sendiri menjadi pusat dan orang lain dijadikan korban. Berkat akan berlipat ganda melimpah ketika juga menjadi berkat bagi lingkungannya. Itulah yang menjadi kehendak Tuhan dengan memberkati Abraham, Yakub dan para leluhur Israel, supaya mereka menjadi berkat bagi bangsa-bangsa.

 

Isi:

Pergumulan Yakub dalam mendapatkan berkat Tuhan

Yakub telah menipu kakaknya Esau untuk mendapatkan berkat kesulungan dari Ishak bapaknya. Peristiwa itu menjadikan ia lari dari rumahnya dan bekerja pada Laban 14 tahun lamanya. Kerinduan untuk pulang membawanya lari dari Laban. Ada dua masalah besar yang harus dipertanggung jawabkan dan diselesaikan oleh Yakub. Ia tidak bisa terus-menerus melarikan diri. Ketika masalahnya dengan Laban telah dapat diselesaikan, masih ada permasalahan yang jauh lebih besar lagi, yakni masalah penipuannya tentang hak kesulungan terhadap Ishak ayahnya dan Esau kakaknya. Esau masih menyimpan dendam membara. Yakub takut membayangkan apa yang akan terjadi.

Bacaan kita menggambarkan pergumulan Yakub itu. Ia menyusun strategi: pertama, diutusnya orang untuk menemui Esau lebih dahulu. Kedua, dibaginya orang-orangnya menjadi dua pasukan, sehingga jikalau pasukan yang satu dipukul kalah, pasukan yang lain dapat luput. Ketiga, disiapkan persembahan untuk melunakkan hati Esau: 200 kambing betina, 20 kambing jantan, 200 domba betina dan 20 domba jantan, 30 unta yang sedang menyusui bersama anaknya, 40 lembu betina dan 10 lembu jantan serta 10 keledai untuk dibawa budak-budaknya mendahuluinya. Namun hatinya belum tenteram.

Ketika semua isteri dan anak-anaknya telah diseberangkan ke seberang  Sungai Yabok, Yakub tinggal sendiri, datanglah laki-laki yang menggulat dia, mereka bergulat habis-habisan hingga fajar menjelang menyingsing. Yakub tidak mau melepaskan laki-laki yang tidak lain Malaekat Tuhan tersebut sebelum dia memberikan berkat. Kemudian Malaekat Tuhan itu mengganti nama Yakub menjadi Israel, artinya dari “penipu” menjadi “pejuang Allah”, kemudian dia memberkati Yakub. Tempat itu dinamai Pniel, artinya bertemu muka dengan muka dengan Allah. Yakub kini lega, seperti samudra yang bergolak kini tenang, tidak ada ketakutan akan apapun, termasuk bertemu dengan Esau, karena yakin Tuhan dan berkatNya benar-benar menyertai dia dan rombongannya. Ia telah menang melawan diri sendiri, ketakutannya dan sikap ingin melarikan diri terus.

 

Keprihatinan Paulus terhadap orang-orang Israel

Karena pemilihan Abraham, keturunannya diberkati akan menjadi bangsa-bangsa besar dan memasuki Tanah Perjanjian. Karena Yakub yang menjadi Israel, orang-orang Israel diberkati. Begitu gigih Yakub berjuang untuk mendapatkan berkat. Namun dalam suratnya ini Paulus sungguh prihatin terhadap orang-orang Israel. Karena leluhur mereka, orang-orang Israel ini telah mendapatkan banyak berkat dan berbagai keistimewaan, seperti: diangkat menjadi anak, menerima kemuliaan Allah, perjanjian-perjanjian, Hukum Taurat, janji-janji Allah, sehingga beribadah dalam persekutuan dengan Allah, bahkan akan menurunkan Mesias. Namun mereka tidak setia dalam melakukan Firman dan kehendak Allah. Semua keistimewaannya yang mestinya menjadi misi dan penugasannya di tengah bangsa-bangsa ternyata hanya menjadikan kesombongan diri yang malah menjauhkan dari bangsa-bangsa. Mereka ingin menikmati status istimewanya sebagai umat pilihan, tetapi melepaskan tanggung jawabnya dan misinya sebagai umat pilihan.

Hal itulah yang menjadikan penilaian Paulus: tidak semua keturunan Abraham adalah anak Abraham, tidak semua keturunan Israel adalah orang Israel. Keturunan Abraham dan Israel yang sejati adalah mereka yang melakukan misinya dan tugasnya untuk menjadi berkat bagi bangsa-bangsa.

Menikmati status istimewa tetapi melepaskan tanggung jawabnya, bukankah banyak kita lihat?  Banyak orang berburu menjadi pemimpin, pejabat, anggota DPR dan penguasa hanya ingin status dan berkatnya saja. Akibatnya korupsi dan berbagai kehidupan bobrok yang menyalahgunakan kekuasaan dan memeras rakyat terjadi.

 

Menerima berkat dan membagi berkat

Para murid dipanggil oleh Tuhan Yesus supaya menjadi terang dan berkat bagi bangsa-bangsa. Mereka disebut bangsa yang terpilih, imamat yang rajani atau persekutuan para pelayan supaya memberitakan perbuatan-perbuatan Allah yang besar (1 Petrus 2:9).

Maka ketika hari rembang petang, lebih dari 5000 orang yang mengikuti Yesus itu kelihatan letih, kelaparan dan para muridNya meminta Dia untuk mempersilahkan orang-orang tersebut membeli makanan di desa-desa yang tidak dekat, Tuhan Yesus bersabda: “tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan”. “Kami hanya mempunyai 5 ketul roti dan 2 ekor ikan”, bagaimana mungkin dapat mencukupi mereka semua. “Bawalah kemari kepadaKu!” Lalu orang banyak itu duduk di rumput secara teratur. Yesus mengambil roti dan ikan itu, menengadah ke langit, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada para murid. Selanjutnya murid-murid itu membagikannya kepada orang banyak itu hingga kenyang semua dan masih tersisa 12 bakul.

 

Penutup

Inilah seharusnya menjadi prinsip hidup kristiani dalam kehidupan pribadi, berkeluarga, berjemaat dan bermasyarakat. Banyak sekali berkat yang kita terima: menjadi anak Allah, bangsa terpilih, menerima keselamatan dari Tuhan Yesus, menjadi umat perjanjian, menerima janji-janji Allah yang pasti dan seterusnya. Semua itu karena misi dan tugas kita untuk menjadi terang dan berkat bagi bangsa-bangsa. Oleh karena itu harus kita bagi. Tidak menunggu sampai kita mempunyai segalanya. Kita tata kehidupan ini, apa yang ada pada kita kita serahkan kepada Tuhan Yesus dalam doa untuk diberkati, dibagi-bagi untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri dan sesama. Lebih-lebih bagi sesama yang lapar, haus, lelah dan putus asa. Masih adakah rasa terharu melihat penderitaan sesama? Amin. (BRU)

 

Nyanyian: KJ 424:1,2; 433:1-

RANCANGAN KOTBAH Basa Jawi

Pambuka

Sadherek kinasih, ing gesanging suku-suku lan bebrayan iba pentingipun berkah. Mila saderengipun tiyang nindakaken jejibahan lan pendamelan ageng  piyambakipun nyuwun berkah dhumateng Allah, tiyang sepuh miwah para sepuh, malahan leluhur ingkang sampun pejah. Tujuanipun tiyang punika saged nindakaken jejibahan lan pendamelanipun kanthi tentrem lan kasil kanthi sae.

Nanging pitakenanipun, kangge punapa saestunipun berkah punika?  Namung tumuju kangge kepentinganipun diri pribadi, punapa ugi sumrambah kangge kepentingan lan kasaenanipun tiyang kathah?  Punika badhe namtokaken tumindak salajengipun. Asring berkah malah dados laknat karana namung mbujeng kepentinganipun diri pribadi kanthi ngorbanaken tiyang sanes. Suwalikipun, berkah sumrambah dados kathah, nalika berkah punika ugi dados berkahing kiwa tengen lan sesami. Inggih berkah ingkang mekaten punika saestunipun ingkang dados kersanipun Allah mberkahi Bapa Abraham, Yakub miwah para leluhuring Israel, supados tiyang-tiyang punika dados berkah tumrap bangsa-bangsa.

 

Isi:

Pergumulanipun Yakub ing salebeting ngalap berkahing Allah

Karana ngalap berkahing Rama Iskak minangka putra pambayun, Yakub ngapusi Esap kangmasipun kanthi sup kacang abrit lan Iskak ramanipun kanthi memba-memba Esap. Temahanipun, Yakub kesah nilaraken griyanipun kanthi raos ajrih, suwita dhateng Laban 14 taun laminipun. Karana raos kapangipun, Yakub mlajar saing Paman Laban, kepengin wangsul dhateng tanah leluhuripun. Laban duka sanget, mila mbujeng Yakub. Masalahipun kaliyan Paman laban saged kaatasi, ananging piayambakipun kedah ngadhepi masalah ingkang langkung ageng malih, ingih punika piyambakipun taksih kedah ngadhepi Esap ingkang tamtu taksih tatu manahipun. Yakub mboten saged mbayangaken punapa ingkang badhe kedadosan.

Waosan kita nggambaraken kanthi gamblang pergumulanipun Yakub punika. Yakub sampun ngrancang cara kangge ngadhepi Esap. Sepisan, abdinipun kautus sowan Esap langkung rumiyin. Kaping kalih, Yakub mantha wadya balanipun dados kalih panthan supados menawi ingkang sapantha dipun gebag, panthan sanesipun saged oncat, luput saking panggebagipun Esap. Kaping tiga, Yakub nyawisaken pisungsung kagem Esap awujud wedhus wadon 200, wedhus berok lanang 20, wedhus gembel wadon 200, wedhus gembel lanang 20, unta wadon 30, sapi wadon 40, lanang 10, kuldi wadon 20, kang lanang 10 kagiring dening abdi-abdinipun kaaturaken Esap. Ewasemanten manahipun taksih dereng tentrem.

Nalika sadaya semah miwah anakipun sampun kasabrangaken Lepen Yabok, Yakub kantun piyambakan, manahipun sangsaya goreh….  Dumadakan wonten priya nggelut Yakub. Tiyang kalih gelut geget silih ungkih ngantos gagat raina. Lajeng priya punika celathu: “wis eculna aku, awit wis bangun raina”. Ananging Yakub tetep mboten purun ngeculaken saderengipun priya punika paring berkah. Priya ingkang mboten sanes Malaekating Allah punika lajeng nggantos asmanipun Yakub dados Israel, awit Yakub sampun gelut kaliyan Allah lan mimpang, mila papan punika kasebut Pniel, awit Yakub sampun aben ajeng kaliyan Allah lan nyawanipun kapitulungan. Yakub sapunika lega, kadosdene samodra ingkang suwaunipun molak-malik sapunika dados lerem. Mboten wonten raos ajrih malih, sanajanta badhe kepanggih Esap. Karana piyambakipun yakin bilih Gusti Allah miwah berkahipun nunggil lan nyarengi piyambakipun kaliyan rombonganipun. Piyambakipun sampun mimpang ngatasi dhirinipun, ngatasi raos ajrihipun miwah raos kepengin mlajar terus.

 

Kaprihatosanipun Paulus dhumateng tiyang-tiyang Israel.

Karana Bapa Abraham, tedhak turunipun binerkahan dening Allah badhe dados bangsa ageng lan lumebet Tanah Perjanjian. Karana Yakub tiyang-tiyang Israel binerkahan. Karana leluhuripun tiyang-tiyang Israel nampi mawarni-warni berkah, kadosta: kaangkat anak, nampi kamulyaning Allah, prajanjian-prajanjianipun, Hukum Toret, janji-janjinipun Allah matemah saged ngibadah ing patunggilan kaliyan Allah, malahan nedhakaken Sang Mesih. Paulus prihatos bilih sadaya berkah punika mboten ndadosaen tiyang-tiyang Israel punika mbangun turut lan setya tuhu, ananging malah nyombongake dhiri ingkang nebihaken kaliyan bangsa-bangsa sanes. Tiyang-tiyang Israel kepengin ngregem keistimewaanipun minangka umat pilihan, nanging mboten tanggel jawab nindakaken misi lan jejibahanipun dados berkah kangge para bangsa.

Karana punika Paulus ngendika: mboten sadaya tedhak turunipun Bapa Abraham minangka anakipun Abraham, mboten sadaya tedhak turunipun Israel punika tiyang Israel. Tedhak turunipun Bapa Abraham lan Israel ingkang sejatos inggih ingkang nindakaken misi lan jejibahanipun dados berkah tumrap bangsa-bangsa.

Sipat kadosdene tiyang Israel punika pranyata kathah sanget kedadosan ing jaman samangke. Tiyang kepengin nggayuh status lan pangkatipun, ananging mboten purun nindakaken tanggel jawabipun. Kathah tiyang kepengin dados pemimpin, panguwasa, pejabat, wakil rakyat namung kepengin status lan berkah kangge dhirinipun piyambak, nilaraken tanggel jawabipun. Temahanipun korupsi, nindhes lan nindakaken tumindak ingkang bobrok, mitunani negari lan bangsa.

 

Nampi berkah lan dados berkah

Para muridipun Gusti Yesus ugi katimbalan dados pepadhang miwah berkah tumrap bangsa-bangsa. Murid-muridipun Gusti kasebat bangsa kang pinilih, kaimaman keprabon utawi patunggilanipun para pelados supados martosaen kautamenipun Gusti (1Pt 2:9).

Mila nalika candikala langkung saking 5000 tiyang ingkang sami ngetutaken Gusti Yesus ketingal sayah lan luwe, para murid nyuwun dhumateng Gusti supados Gusti ngutus tiyang-tiyang wau kesah tumbas tetedhan ing dhusun-dhusun ingkang tebih, Gusti Yesus ngendika: “ora susah padha lunga, kowe bae menehana mangan!” “Punika namung wonten roti gangsal kaliyan ulam loh kalih”, unjukipun para murid. Kadospundi saged nyekapi tiyang semanten kathahipun? “Gawanen mrene, wenehna Aku!” Tiyang kathah kalawau lajeng katata kadhawuhan lenggah ing pasuketan kanthi tata. Gusti lajeng tumenga dhateng langit, ndedonga nyuwun berkah, lajeng rotinipun kacuwil-cuwil ngantos nyekapi tiyang-tiyang kathah punika. Sadaya sami nedha kanthi tuwuk, malah taksih tirah 12 wakul.

 

Panutup

Cariyos punika saged dados wewaton (prinsip) gesang Kristen wiwit saking pribadi mbaka pribadi, ing tengahing brayat, pasamuan lan bebrayan. Kathah sanget berkahipun Gusti ingkang sampun kaparingaken dhateng kita: Ing Sang Kristus kita kaangkat minangka putranipun Allah, bangsa pinilih, kaimaman kaprabon, nampi kawilujengan saking Sang Mesih, dados umat prajanjian ingkang nampi kathah sanget janji-janjinipun Allah lan salajengipun. Sadaya punika karana misi lan jejibahan ingkang kita emban, inggih punika dados pepadhang miwah berkah tumrap bangsa-bangsa. Mila gesang punika ugi kedah kita edum, mboten sisah nengga ngantos kita gadhah sadayanipun. Kita tata gesang kita, kita andum berkah ingkang kita tampi lan kita aturaken dhumateng Gusti Yesus supados dipun berkahi, lajeng kita edum-dum kangge kabetahan kita, kabetahan rohani-jasmani anak-putu kita, miwah kiwa tengen kita. Langkung-langkung ing satengahing sesami ingkang keluwen, ngelak ngorong, semplah miwah sangsara. Punapa taksih wonten raos trenyuh ningali kasangsaraning sesami?  Amin.  (BRU)

 

Pamuji: KPK 106: 1,4,5.

 

Bagikan Entri Ini: