Khotbah Minggu 30 Juli 2017

MINGGU BIASA
STOLA PUTIH

 

Bacaan 1         : 1 Raja-raja 3:5-12
Bacaan 2         : Roma 8:26-39
Bacaan 3         : Matius 13:44-52

Tema Liturgis  : Tuhan Meneguhkan Orang Yang Berpengharapan
Tema Khotbah: Dipilih dan Diperlengkapi

 

KETERANGAN BACAAN
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

1 Raja-raja 3:5 – 12

Nama besar Raja Daud menjadi bayang-bayang yang membebani diri Raja Salomo. Kekuatiran diri tidak sehebat dan sebijaksana ayahnya tersebut sampai terbawa dalam mimpinya. Oleh sebab pergumulan yang berat itulah dalam tidurnya Raja Salomo mengalami mimpi berjumpa langsung dengan Tuhan. Jadi Raja Salomo tidak berhadapan muka secara langsung sebagaimana Musa tetapi hanya melihat Tuhan dalam mimpi. Dalam mimpi itu Raja Salomo mendapatkan tawaran dari Tuhan: ”Mintalah apa yang hendak Kuberikan kepadamu.” (ayat 5)

Patut dicatat di sini bahwa tawaran Tuhan itu tidak sebebas yang dikehendaki oleh Raja Salomo tetapi juga dibatasi oleh “apa yang hendak Kuberikan kepadamu.” Andaikan Raja Salomo meminta sesuatu yang tidak sekehendak Tuhan apakah Tuhan akan menurutinya? Memang bacaan kita ini tidak memberikan informasi tentang hal itu. Dan apa yang diminta oleh Raja Salomo adalah sesuatu yang dipandang baik oleh Tuhan (ayat 10) sehingga Tuhan mengabulkan permintaan Raja Salomo itu (ayat 12).

Adapun isi permintaan Raja Salomo adalah hati yang faham menimbang perkara yang baik dan yang jahat (ayat 9). Permintaan ini penting bagi seorang Raja Salomo karena dia memerintah bangsa yang besar. Apalagi ditambah raja yang digantikannya memiliki kesan yang baik bagi rakyatnya. Permintaan tersebut selain penting untuk kelangsungan bangsanya juga sangat penting bagi keberlangsungan kepemimpinan Raja Salomo. Jadi dari sisi permintaan kepada Tuhan, Salomo sangat cerdik karena permintaan tersebut tidak hanya ditujukan bagi dirinya sendiri tetapi juga bagi kepentingan bangsanya. Pengabulan permohonan Raja Salomo ini juga menjadi penegasan bahwa sebagai Raja, Salomo benar-benar dipilih oleh Tuhan karena itu disertai oleh Tuhan.

 

Roma 8:26-39

Keberpihakan Tuhan kepada umat pilihan kembali disuarakan oleh kitab Roma. Khusus dalam Roma 8:26-30 Paulus menegaskan kembali keterpihakan Allah kepada umatNya. Tentu bukan karena kehebatan dan kepandaian umatNya tetapi dasar keberpihakan Allah adalah karena kasih karuniaNya yang besar tanpa memandang bulu. Sejatinya, pada dirinya sendiri manusia tidak berdaya. Bahkan berdoapun manusia sejatinya tidak mampu. Namun karena kasih karunia Tuhan maka Roh Tuhan yang memimpin umatNya dan bahkan membantu umatnya dalam kelemahannya (ayat 26). Tersirat dalam perikop ini bahwa syarat mendapat kasih karunia Tuhan adalah kemurnian hati dan membuka diri supaya Roh Tuhan sendiri yang memimpin kehidupannya (ay 27). Dalam pimpinan Allah itulah maka segala kelemahan manusia, kekuatan Tuhan yang bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi umat pilihanNya (ayat 28).

Keterpilihan manusia juga menjadi otoritas Tuhan sendiri. Dan setiap orang yang dipilih Tuhan akan dibenarkan dan bahkan menjadi serupa dengan gambaran anakNya (ayat 29). Secara  jelas keberpihakan Tuhan kepada manusia adalah dimulai dari kehendak Tuhan untuk menentukan pilihanNya, keterpanggilan manusia, pembenaran manusia atas segala dosa dan kemudian dimuliakan oleh Tuhan (ayat 29-30).

Karena keberpihakan Tuhan kepada umat pilihan inilah maka manusia memiliki kelengkapan diri yang penuh (ayat 31-39). Segala yang dibutuhkan untuk memenuhi panggilan Tuhan diberikan bahkan tidak ada satu kuasapun yang dapat mengganggu dan merebut manusia dari Tuhan. Sebab Tuhan memilih umatNya dengan harga mahal yaitu melalui pengorbanan anakNya yang Tunggal yaitu Tuhan Yesus Kristus. Karenanya karunia yang besar jika manusia dipilih oleh Tuhan serta tidak ada satu karuniapun yang sebanding dengan keterpilihan tersebut.

 

Matius 13:44-52

Kembali perumpamaan dalam perikop ini ditujukan untuk menggambarkan tentang Kerajaan Sorga. Ada tiga gambaran yang dipaparkan oleh Matius tentang Kerajaan Sorga yaitu:

  • Kerajaan Sorga seperti harta karun di sebuah areal ladang (ayat 44).
  • Kerajaan Sorga seperti mutiara yang indah (ayat 45).
  • Kerajaan Sorga seperti pukat yang dilabuhkan di laut (ayat 47)

Dari ketiga gambaran tersebut gambaran pertama dan kedua memiliki pesan yang sama yaitu bahwa Kerajaan Sorga itu sangat berharga dan tidak terbandingi dengan segala harta benda. Oleh sebab itulah orang rela menjual semua harta demi mendapatkan Kerajaan Sorga.

Gambaran Kerajaan Sorga seperti pukat memiliki perbedaan dengan kedua gambaran sebelumnya. Dalam gambaran Kerajaan Sorga sebagai pukat nampak pemilahan dan pemilihan mana yang layak masuk ke dalam Kerajaan Sorga dan mana yang disortir dari Kerajaan Sorga (ayat 48). Digambarkan kelayakan tersebut seperti ikan yang baik dan ikan yang tidak baik. Tentu kembali lagi nampak di sini standardnya adalah kualitas bukan lagi bicara kwantitas (jumlah). Agak sulit dipahami memang jikalau kita kaitkan dengan ayat 52, sebab tiba-tiba saja Tuhan Yesus menyinggung ahli Taurat setelah para murid meyakinkanNya jikalau mereka mengerti arti perumpamaan tersebut. Apa maksud ayat 52 tersebut?

Rupanya dalam pengajaran tentang Kerajaan Sorga tersebut ahli Taurat juga turut mendengarkannya. Dan apa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus sebagai pengetahuan yang baru juga walaupun para ahli Taurat juga sudah memiliki pegetahuan sebelumnya tentang Kerajaan Sorga. Dengan tambahan pengetahuan baru maka ahli Taurat sesungguhnya memiliki pengetahuan yang lebih lengkap. Dari semua pengetahuan itu ahli Taurat berupaya untuk mendapatkan Kerajaan Sorga tersebut. Jadi harta yang baru dan harta yang lama dikerahkan untuk mendapatkan Kerajaan Sorga. Jadi ayat 52 memberikan sinyal kuat bahwa ada sebagian manusia yang sedang berupaya mendapatkan Kerajaan Sorga dengan usaha dan kemampuannya. Berhasilkah usaha itu?

 

BENANG MERAH BACAAN

Keterpilihan dan keberpihakan Tuhan kepada umatNya ditentukan Tuhan Allah dari semula. Keterpilihan tersebut membutuhkan jawaban manusia. Dan jawaban terhadap keterpilihan tersebut sepenuhnya juga bergantung pada kesadaran manusia dalam memandang dirinya. Jika merasa tidak berdaya dan lemah maka jawabannya adalah penyerahan diri dalam pengharapan. Namun sikap sebaliknya jikalau manusia memandang dirinya berkemampuan dan berkekuatan. Jika kita menyadari ketidakberdayaan diri maka di sanalah Tuhan berkarya supaya kita semakin dimampukan menikmati berkat dan kasih karuniaNya yang besar.

 

RANCANGAN KHOTBAH: Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan. . . bisa dikembangkan sendiri sesuai konteks jemaat)

Pendahuluan

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering diperhadapkan pada banyaknya pilihan. Saat hari Minggu seperti hari ini, begitu mata terbuka, otak segera bekerja kita sudah harus memilih. Memilih tetap melanjutkan tidur ataukah beranjak dari tempat tidur dan pergi ke gereja? Selesai mandi kita pun diminta untuk memilih lagi, pakaian mana yang hendak kita kenakan saat pergi ke gereja. Pilihan terus berlanjut, naik kendaraan pribadi, jalan kaki atau naik kendaraan umum? Sampai di gerejapun juga masih tetap memilih, duduk di sebelah kiri atau kanan, depan atau belakang? Memilih…memilih dan memilih itulah yang mewarnai seluruh kehidupan kita. Setiap pilihan pasti mengandung resiko yang harus kita tanggung setelah menentukannya.

 

Isi

Sebagai orang Kristen kita adalah pilihan Tuhan. Ya, kita ini adalah pilihan Tuhan. Betapa berharganya diri kita sebab tidak semua mendapatkan kesempatan seperti kita. Tentu kita ingat firman Tuhan dalam Matius 22:14: Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.” Kita ini terkelompokkan dalam kelompok yang sedikit itu karena kita adalah pilihanNya. Lebih lagi jikalau kita menyadari kekhususan diri kita sebagai umat pilihan seperti yang tertulis demikian: “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu.” (Yohanes 15:16). Wow….hebat bukan diri kita ini. Kita ini dipilih langsung oleh Tuhan sendiri.

Keterpilihan kita itu diberi keistimewaan untuk dapat segambar dengan anakNya yaitu Tuhan Yesus Kristus (Roma 8:29). Apa artinya? Segambar dengan Tuhan Yesus berarti meneladani Tuhan Yesus baik dalam suka maupun dukanya. Di sinilah keterpilihan kita memiliki resiko yang besar. Bagaimana tidak, karena nama Tuhan Yesus Kristus dan keteladanNya sudah sangat dikenal bukan hanya oleh orang Kristen tetapi juga umat beragama lain. Jika Tuhan Yesus Kristus penuh dengan pengampunan lalu kita sebagai umat pilihan lebih banyak menyimpan dendam, pasti kita tidak bisa disebut segambar dengan Tuhan Yesus Kristus. Jika Tuhan Yesus Kristus begitu gigih berjuang bahkan saat aniaya dan derita harus ditanggungNya, lalu kita sebagai umat pilihan gampang menyerah dan berputus asa tentu kita tidak bisa disebut segambar dengan Tuhan Yesus. Keterpilihan kita selain istimewa juga memiliki resiko dan tanggungjawab besar karena keterpilihan kita harus menampakkan nilai dan sikap dari Tuhan yang memilih kita.

Lalu apa yang harus kita lakukan dalam keterpilihan kita ini?

  1. Belajar dari Salomo dalam bacaan pertama, maka yang perlu kita lakukan adalah memohon hikmat Tuhan supaya memimpin kehidupan kita. Hikmat dalam bacaan pertama tadi adalah berkaitan dengan hati yang faham membedakan yang baik dan yang jahat. Jikalau diri kita dipenuhi dengan pengertian akan hal baik dan jahat pasti kita tidak mudah berbuat jahat apalagi berbuat dosa. Kita selalu diingatkan oleh hati kita sendiri setiap kali bertindak dan mengambil keputusan dalam hidup ini.
  2. Memandang keterpilihan kita sebagai sesuatu yang berharga sehingga kita dengan penuh perjuangan tetap menjaga keistimewaan diri kita karena keterpilihan kita menjadikan kita tahu dan mengerti akan Kerajaan Sorga. Jikalau kita memahami bahwa Kerajaan Sorga adalah sesuatu yang berharga, maka sebagaimana bacaan Injil Matius hari ini kita akan mempertaruhkan apapun termasuk harta benda kita untuk tetap memiliki Kerajaan Sorga itu.
  3. Tetap rendah hati sebab segala apapun yang kita bisa dan dapat kita kerjakan ada Tuhan yang campur tangan. Kerendahan hati ini sangat penting supaya kita mampu menghayati penyerahan diri kita kepada Tuhan. Dalam penyerahan diri kepada Tuhan di sanalah Roh Tuhan yang menuntun dan memperlengkapi kita sebab Tuhan ada di pihak kita.

 

Penutup

Akhirnya, sebagai umat pilihan Tuhan kita diajari untuk terus menaruh pengharapan pada Tuhan akan segala yang terjadi dan kita alami. Jika kita mampu memelihara pengharapan kita itu, yakinlah bahwa Tuhan turut bekerja dalam segala sesuatu yang sedang kita alami. Hingga akhirnya kita tidak mudah bergesa melewatkan segala yang menimpa tetapi selalu bersekutu dengan Tuhan dalam berbagai kondisi kehidupan yang kita alami. Hingga akhirnya kita bukan hanya disebut sebagai orang yang menang tetapi kita akan dapat disebut lebih dari pemenang karena kasih Allah yang selalu menyertai kehidupan kita. Amin.(to2k)

 

Nyanyian: KJ 413:1,2,3

RANCANGAN KHOTBAH: Basa Jawi

Pambuka

Ing pigesangan sadinten-dinten kita asring ngadhepi kathah pilihan. Menawi dinten Minggu kados dinten punika, sareng kita melek kita tumunten mikir lan kedah milih. Milih nglajengaken tilem utawi enggal tangi lan tindak greja. Sareng sampun adus kita ugi kedah milih malih, rasukan pundi ingkang badhe kita agem dhateng greja. Pilihan taksih dhateng malih, tindak greja nitih kendaraan pribadi, punapa mlampah utawi nitih kendaraan umum. Sareng dumugi greja taksih tetep milih, lenggah ing sisih kiwa punapa tengen, ngajeng utawi wingking. Milih….milih lan milih punika ngebaki pigesangan kita. saben pilihan tamtu ngandhut risiko ingkang kedah kita tanggel sasampunipun namtokaken.

 

Isi

Minangka tiyang Kristen kita punika dados pilihanipun Gusti. Saestu, kita punika pilihanipun Gusti. Saiba ajinipun dhiri kita, awit boten sedaya tiyang pikantuk wewengan kados kita. Tamtu kita enget dhateng dhawuhipun Gusti ing Mat. 22:14: “Marga akeh kang katimbalan, nanging sethithik kang pinilih.” Kita kagolongaken dhateng ingkang sekedhik punika, karana kita punika pilihanipun Gusti. Punapa malih menawi kita ngengeti mirungganing dhiri kita minangka umat pilihanipun Gusti kados dhawuhipun: “Dudu kowe kang milih Aku, nanging Aku kang milih kowe.” (Yok. 15:16). Saestu aji dhiri kita punika, dipun pilih piyambak dening Gusti.

Langkung istimewa malih dene kita pinilih supados kita saged sagambar kaliyan putranipun, nenggih Gusti Yesus Kristus (Rm. 8: 29). Punapa tegesipun? Sagambar kaliyan Gusti Yesus ateges nuladhani Gusti Yesus dadosa ing bingah utawi ing sisah. Ing ngriki anggen kita pinilih ngandhut risiko ingkang ageng. Amargi asmanipun Gusti Yesus Kristus lan patuladhanipun sampun kondhang lan kasumurupan boten namung dening tiyang Kristen, nanging dening umat agami sanes. Menawi Gusti Yesus kebak sih pangapunten lajeng kita minangka umat pilihanipun remen nyimpen kalepatanipun tiyang sanes lan manah kita ngigit-igit, mesthi kita boten patut sinebut sagambar kaliyan Gusti Yesus. Menawi Gusti Yesus kanthi tatag berjuang ing salebeting panganiaya lan kasangsaran, lajeng kita minangka umat pilihan gampil semplah lan nyerah tamtu kita boten patut sinebut sagambar kaliyan Gusti Yesus. Anggen kita pinilih kejawi istimewa lan ngandhut risiko sarta tanggel jawab ageng, karana kedah nedahaken kamulyan lan kautamanipun Gusti Yesus ingkang milih kita.

Lajeng punapa ingkang kedah kita lampahi minangka umat pilihan?

  1. Sinau saking Prabu Suleman ing waosan sepisan, ingkang prelu kita tindakaken nggih punika nyuwun kawicaksanan Gusti supados nuntun pigesangan kita. Kawicaksanan punika gegayutan kaliyan manah ingkang paham mbentenaken pundi ingkang sae lan ingkang awon (jahat). Menawi dhiri kita kapenuhan kawruh bab ingkang sae lan ingkang awon, kita mesthi boten gampil tumindak awon utawi dosa. Kita tansah dipun engetaken dening manah kita piyambak saben kita tumindak lan netepaken putusan ing gesang kita.
  2. Ngakeni anggen kita pinilih punika satunggaling prekawis ingkang saestu aji, temah kita kanthi pambudidaya (perjuangan) tetep njagi keistimewaan dhiri kita, karana anggen kita pinilih punika murugaken kita mangertos bab Kratoning Swarga. Menawi pangertosan kita bab Kratoning Swarga dados satunggaling prekawis aji, tamtu kita badhe ngetohaken utawi ngurbanaken punapa kemawon kalebet raja brana kita supados tetep nggadhahi Kratoning Swarga punika.
  3. Tetep andhap asor, awit samukawis ingkang kita saged lan kita tindakaken punika karana Gusti cawe-cawe. Andhap asoring manah punika saestu wigatos supados kita saged ngayati maknaning pasrah dhiri dhumateng Gusti. Ing salebeting pasrah dhumateng Gusti punika Rohipun Gusti nenuntun lan njangkepi gesang kita.

 

Penutup

Pungkasanipun, minangka umat pilihanipun Gusti kita dipun wulang supados tansah mapanaken pangajeng-ajeng kita dhumateng Gusti tumrap samukawis ingkang dumados lan kita alami. Menawi kita saged ngugemi pangajeng-ajeng kita punika, pitadosa Gusti mesthi ndherek makarya ing sadhengah prekawis ingkang kita alami. Ngantos wusananipun kita boten gampil nglangkungi punapa ingkang kelampahan, nanging tansah tetunggilan kaliyan Gusti ing sadhengah kawontenaning pigesangan ingkang kita alami. Ngantos wusananipun kita boten namung sinebut tiyang ingkang mimpang, nanging linangkung, karana sih katresnanipun Allah tansah lestantun nyarengi pigesangan kita. Amin. [terj. st]

 

Pamuji: KPK 69:1,3.

 

Bagikan Entri Ini: