Khotbah Minggu 13 Agustus 2017

Bulan Pembangunan GKJW
Stola Putih

 

Bacaan 1         : 1 Raja-raja 19:9-18
Bacaan 2         : Roma 10:5-15
Bacaan 3          : Matius 14:22-33

Tema Liturgis  : Kekuatan  Iman, Menguatkan Kita  Membangun GKJW
Tema Kotbah   : Tetap Memandang Yesus

 

KETERANGAN BACAAN
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

1 Raja-raja 19:9-18: Panggilan di tengah titik nadir kehidupan

Pertandingan Nabi Elia melawan para imam Baal untuk membakar korban dengan api Tuhan berakhir dengan pembantaian para imam Dewa Baal dan Asyera. Mendengar berita itu Izebel isteri Raja Achab sangat marah, sehingga ia mengancam akan membunuh Nabi Elia. Elia sangat takut dan lari menjauhinya melewati Betsyeba dan memasuki wilayah Yehuda. Bahkan ia terus berlari sepanjang hari di padang pasir. Ia duduk di bawah pohon Arar, ingin mati rasanya. “Cukuplah itu, Tuhan sekarang ambil nyawaku, sebab aku tidak lebih baik dari nenek moyangku”,  serunya. “Bangunlah, makanlah!” Dua kali seorang malaekat Tuhan memerintahkan Elia, dan di samping kepalanya telah tersedia roti dan kendi berisi air. Ketika kuat kembali, 40 hari 40 malam ia berjalan ke Gunung Horeb. Ia masuk ke goa, dan firmanNya: apa kerjamu di sini Elia?  “Aku bekerja segiat-giatnya bagi Tuhan…” “Keluarlah dan berdirilah di atas gunung itu di hadapan Tuhan!”  Tuhan lalu, setelah angin besar, gempa dahsyat dan api bernyala-nyala, dalam angin sepoi-sepoi basa Tuhan datang dan bertanya lagi: “apa kerjamu di sini Elia”, dan Eliapun menjawab dengan jawaban yang sama seperti sebelumnya. Kemudian Tuhan memberikan tugas baru untuk mengurapi Hazael menjadi Raja Aram, Yehu cucu Nimsi untuk menjadi Raja Israel Utara dan Elisa menggantikan dia.

 

Roma 10:5-15: Tetap berdiri dan bermegah dalam kasih karunia

Paulus menandaskan bahwa dalam Kristus kita telah mendapatkan damai sejahtera Allah dan hidup dalam kasih karunia. Oleh karena itu dalam kasih karunia itu hendaknya kita berdiri dan bermegah dalam pengharapan akan kemuliaan Allah, bahkan dalam sengsara. Ketika dalam dosa saja Kristus telah mati untuk kita, lebih-lebih sekarang dalam kasih karuniaNya, tentu kita akan diselamatkanNya.

 

Matius 14:22-33: Yesus berjalan di atas air

Tuhan Yesus memerintahkan para muridnya mendahului ke seberang Danau Galilea dengan naik perahu. Orang banyak disuruh pulang dan Dia sendiri menyepi untuk berdoa. Hari sudah malam, beberapa mil di tengah danau, tiba-tiba perahu para murid dihantam angin sakal. Angin Sakal atau angin haluan, artinya angin yang melawan perjalanan perahu itu. Angin sakal itu demikian kerasnya, sehingga para murid yang berasal dari nelayan-nelayan berpengalaman itupun kesulitan untuk mendayung, bahkan terombang-ambing, perahunya hampir tenggelam. Hingga jam 3 pagi datanglah Yesus berjalan di atas air. “Itu hantu” pekik mereka dan mereka tambah ketakutan. Tetapi sabdaNya kepada mereka, “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” Ketika Petrus meminta Tuhan Yesus  menyuruh dia datang kepadaNya dengan berjalan di atas air juga, “ya datanglah!” sabdaNya. Mula-mula Petruspun berjalan di atas air, tetapi ketika terasa tiupan angin yang kuat, Petrus mulai tenggelam dan berseru: “Tuhan, tolonglah Aku!” Yesuspun mengulurkan tanganNya menolong Petrus sambil bersabda: “Hai orang yang kurang percaya, mengapakah engkau bimbang?“ Merekapun naik perahu dan anginpun redalah. Merekapun menyembahNya dan berseru: “Sesungguhnya Engkau adalah Anak Allah!”

 

Benang Merah Tiga Bacaan

Hidup adalah naik-turun penuh gejolak, termasuk yang dialami oleh seorang nabi besar dan gagah berani sekaliber Nabi Elia. Hanya dengan memandang Kristus terus-menerus, kita mampu berjalan mengatasi padang kehidupan yang penuh gelombang dan mengerti panggilanNya.

 

RANCANGAN KOTBAH: Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan. . . bisa dikembangkan sendiri sesuai konteks jemaat)

Pendahuluan

Orang Jawa mengatakan bahwa hidup manusia seperti roda pedati. Ada kalanya di atas, ada kalanya di bawah. Ketika di atas berhati-hatilah, dan ketika di bawah jangan berputus asa, karena tentu akan naik ke atas lagi. Tetapi dalam kenyataan naik-turunnya atau up and downNya sering sangat cepat dan drastis sekali. Tidak seperti roda pedati yang pelan-pelan naik dan pelan-pelan turun. Begitulah dinamika hidup penuh naik-turun!

Sering ketika di atas, hati, pikiran, perasaan penuh semangat, optimisme, seolah tidak ada yang menggelisahkan. Tetapi ketika di bawah, lebih-lebih di titik nadir yang begitu dalam, semuanya menjadi menakutkan, frustrasi dan putus asa. Itulah yang dialami oleh Nabi Elia dan para murid.

 

Isi: Pergumulan Elia

Dalam Perjanjian Lama Elia adalah tokoh besar, dia disejajarkan dengan Musa dalam kesetiaannya mengemban Firman Allah dan gagah beraninya memimpin Israel. Jikalau Musa memimpin Israel keluar dari Tanah Mesir, mengarungi padang gurun hingga perbatasan Tanah Kenaan, Elia melawan Baalisme di Israel Utara pada zaman Raja Akhab dengan isterinya Izebel. Dengan gagah berani Elia menantang para imam Baal dan Asyera membakar korban tanpa menyalakan api. Ketika para imam itu gagal dan Elia berhasil menyalakannya dengan api dari Tuhan. Elia memimpin orang-orang Israel untuk membunuh 850 imam Baal dan Asyera itu.

Namun ketika Elia mendengar kemarahan dan ancaman Izebel yang akan membunuh Elia, seketika semangatnya redup, hatinya kecut dan ia berlari sejauh-jauhnya menjauhi laskar Izebel. Seharian ia mengarungi padang pasir, melewati Betsyeba memasuki tanah Kerajaan Yehuda, wilayah di luar kekuasaan Akhab dan Izebel. Di bawah pohon Arar dengan letih, kelaparan dan tanpa daya ia terduduk: “Cukuplah itu Tuhan, sekarang ambil nyawaku, sebab aku tidak lebih baik dari nenek moyangku”. Ia merasa berjuang sendiri, gagal dan putus asa. Namun tiba-tiba malaekat bereru. “Bangunlah, makanlah!”, diulangi lagi memerintahkan Elia, dan di samping kepalanya telah tersedia roti dan kendi berisi air. Ketika kuat kembali, 40 hari 40 malam ia berjalan ke Gunung Horeb. Ia masuk ke goa, dan firmanNya: “apa kerjamu di sini Elia?”  “Aku bekerja segiat-giatnya bagi Tuhan…” “Keluarlah dan berdirilah di atas gunung itu di hadapan Tuhan!” Di atas gunung,  pertanyaan Tuhan itu diulangi lagi dan jawaban Elia sama “Aku bekerja segiat-giatnya bagi Tuhan.” “Semua orang Israel telah meninggalkan perjanjianMu, meruntuhkan mezbah-mezbahMu dan membunuh nabi-nabiMu, hanya akulah yang masih hidup dan mereka ingin mencabut nyawaku.” Elia merasa berjuang sendiri, tidak ada orang lain yang mendukung. Tuhan menyadarkan Elia bahwa tugasnya belum selesai, ia harus kembali kejalannya karena tugasnya belum selesai. Elia diperintahkan mengurapi Hazael untuk menjadi Raja atas Aram, Yehu cucu Nimsi untuk menjadi raja atas Israel dan Elisa untuk menggantikan dan meneruskan tugas Elia. Elia tidak berjuang sendiri, selain Tuhan senantiasa menyertainya, di sana masih ada 7000 orang Israel yang masih setia kepada Tuhan dan dalam pemeliharaan Tuhan.

Pengalaman Elia bukanlah pengalaman yang asing bagi kita. Betapa kehidupan penuh dinamika naik-turun seperti perahu di lautan yang naik turun dihantam gelombang, dilanda badai, termasuk pelayanan kita kepada Tuhan. Kita bisa kehilangan semangat, kekuatan dan harapan. Kita merasa berjuang sendiri, menderita sendiri dan sia-sia semuanya. Demikianlah jikalau kita mengandalkan kekuatan kita, hanya didorong dan melihat kepentingan kita sendiri. Tuhan memanggil: “Bangunlah! Tugas belum selesai!  Kembali ke jalanmu, berfokuslah!” Selama kita masih hidup kita masih mengemban tugas!

 

Berfokus dan hanya memandang Yesus

Begitu jugalah yang dialami oleh para murid dalam kisah Matius 14:22-33 ini. Mereka berlayar mendahului Yesus menuju ke seberang. Namun di tengah danau, tiba-tiba angin Sakal atau angin haluan, artinya angin yang berembus dari depan melawan laju perahu datang, menjadi badai yang cepat dan keras sekali menimbulkan gelombang tinggi menghantam perahu murid-murid. Mereka adalah nelayan-nelayan yang berpengalaman, mereka mendayung kuat-kuat, air yang masuk dikeluarkan cepat-cepat, namun sepertinya semua sia-sia. Mereka kalang kabut dan ketakutan.

Di tengah situasi itulah mereka melihat orang berjalan di atas air, di atas gelombang dan menerobos badai. Mereka tambah ketakutan dan panik. “Itu hantu!“ seru mereka dan berteriak-teriak karena takut. Karena pikirnya siapakah yang dapat melakukan itu semua?  Tetapi kemudian orang itu -yang tidak lain Yesus- berkata: “Tenanglah, Aku ini, jangan takut!” Segera mereka sadar, lalu Petrus ingin meyakinkan: “Tuhan apabila itu Engkau, suruhlah aku datang kepadaMu berjalan di atas air!” “Datanglah!”  Petruspun turun dari perahu dan berjalan di atas air. Tetapi ketika melihat tiupan angin, amukan gelombang, ia takut dan hampir tenggelam, “Tuhan tolonglah aku!” serunya. Yesuspun mengulurkan tanganNya memegang dia sambal kataNya “Hai orang yang kurang percaya, mengapakah engkau bimbang?” Mereka naik perahu dan anginpun redalah. Murid-murid menyembah Dia: “Sesungguhnya Engakau Anak Allah”.

Bukankah kehidupan ini sering digambarkan seperti samodra?  Kita berlayar seperti perahu-perahu kecil di tengah samodra? Betapa sering air yang tenang berubah menjadi gelombang ganas karena badai yang menderu?  Seperti datangnya bencana, sakit serius, malapetaka yang tidak pernah terbayangkan, badai rumah tangga yang tidak pernah terpikirkan. Tidak beda dengan murid-murid, kita sering ketakutan, bahkan panik. Dalam kepanikan itulah kita salah melihat realitas, kehilangan arah. Betapa mudahnya, Tuhan disangka hantu, hantu disangka Tuhan.

 

Penutup

Tuhan Yesus menguasai alam dan kehidupan. Dia mengatasi badai, gelombang, bahkan kuasa apapun yang ingin merusak kehidupan. Bahkan kuasa yang paling dahsyat dalam kehidupan, yaitu maut, kematianpun telah dikalahkan. Tandas Paulus (Rm 5:5-15), jika kita percaya Yesus itu Tuhan, artinya yang menguasai hidup mati kita ini, kita akan diselamatkan. Dia itu tidak jauh, juga berada di tengah kita dan di dalam hidup kita. Oleh karena itu kepadaNyalah kita minta tolong. Berbahagialah yang beriman kepadaNya. Iman adalah selalu berserah kepadaNya, selalu memandangNya dalam semua aspek kehidupan ini. Lihatlah Petrus, ketika melihat badai dan gelombang justru dia tenggelam. Bukan gelombang, kadang kita melihat dan terlalu berbangga dengan diri sendiri, status diri, kehebatan pelayanan diri, sehingga kita kehilangan focus, itupun akan membuat kita tenggelam. Hanya yang selalu memandang Dia, menjadikan Dia dasar dan tujuan kehidupan, maka kita akan dapat berjalan di atas samodra kehidupan, bahkan mengatasi gelombang dan badai. Gelombang dan badai itupun menjadi berharga untuk menguatkan, mendewasakan dan menjadikan kehidupan kita makin berbuah melimpah. Amin.  (BRU)

 

Nyanyian: KJ 440:1,2,3; 439:1-

RANCANGAN KOTBAH: Basa Jawi

Pambuka

Tiyang Jawi nyatakaken bilih gesanging manungsa punika kadosdene rodhaning cikar. Wonten wekdalipun ing nginggil, wonten wekdalipun ing ngandhap. Nalika ing nginggil supados angatos-atos, sampun ngantos gumunggung lan nalika wonten ngandhap sampun ngantos semplah, tetepa nggadhahi pangajeng-ajeng, tamtu badhe wonten nginggil malih. Nanging wonten ing kanyatan gesang asring sanget manginggil lan mangandhapipun punika sarwa cepet sanget lan drastis sanget, benten sanget kaliyan lampahing rodha cikar ingkang alon-alon minggah lan alon-alon mandhap. Mila kathah tiyang ingkang mboten siaga.

Nalika ing nginggil manahipun, pikiranipun, perasaanipun kebak semangat, optimisme, mboten wonten ingkang nguwatosaken. Ananging nalika wonten ngandhap, langkung-langkung ing titik nadir ingkang paling ngandhap, sadaya dados peteng ndhedhet lelimengan, sarwi nggegirisi, semplah lan frustrasi. Mekaten saestunipun ingkang dipun alami dening Nabi Elia lan para murid.

 

Isi: Pergumulanipun Nabi Elia

Nabi Elia punika tokoh ageng Prajanjian Lami. Piyambakipun asring kajejeraken kaliyan Nabi Musa ing kasetyanipun ngemban pangandikanipun Gusti Allah miwah kendel prakosanipun mimpin bangsa Israel. Menawi Musa mimpin Israel medal saking Tanah Mesir, njelajahi pasamunan ngantos dumugi tepis wiringing Tanah Kanaan, Elia nglawan Baalisme ing Israel Ler kala jamanipun Sang Prabu Akhab lan prameswarinipun Izebel. Kanthi kendel Nabi Elia nantang para imaming Baal lan Asyera ingkang cacahipun 850 ngobong korban obaran tanpa  nguripaken latu. Nalika para imam punika gagal, Elia kasil nguripaken latu ingkang tedhak saking Gusti Allah piyambak ngobong korban punika ngantos telas, kalajengaken Elia mimpin tiyang-tiyang Israel mejahi 850 imam-imam Baal lan Asyera punika.

Ananging nalika mireng dukanipun Izebel lan pangancamipun ingkang badhe mejahi Elia, sakala manahipun dados alit, gregetipun ical lan piyambakipun mlajeng saking prajuritipun Izebel. Sedinten muput nglangkungi ara-ara samun, nglangkungi Betsyeba lumebet ing tlatah Kraton Yehuda, tlatah sajawining panguwaosipun Sang Prabu Akhab. Ing sangandhaping wit Rotem piyambakipun sayah sanget, luwe, tanpa daya, ndhoprok, unjukipun: “Sampun semanten kemawon! Sapunika dhuh Yehuwah, Paduka mugi kersaa mulung nyawa kawula sabab kawula punika mboten langkung sae katimbang para leluhur kawula!” Elia rumaos sampun berjuang piyambak, gagal lan semplah. Piyambakipun lajeng ngglethak wonten ing sangandhaping wit rotem punika. Dumadakan wonten malaekating Allah njawil piyambakipun kanthi ngendika: “Tangia, mangana!” Dipun ambali malih: “Tangia, mangana! Lakunira isih adoh.” Wonten ngriku sampun cumawis roti panggang lan kendhi isi toya. Elia lajeng dhahar tuwin ngunjuk ngantos tuwuk. Kekiyatanipun pulih malih, Elia lajeng tindak malih 40 dinten 40 dalu tumuju Redi Horeb, lumebet ing guwa. Pangandikanipun Yehuwah: “Ana apa sira ana ing kene iki Elia?”  Wangsulanipun Elia: “Sanget-sanget anggen kawula ngudi tumindak ing damel kagem Pangeran Yehuwah…, amargi tiyang Israel sami nilar prajanjian Paduka, sami mbibrahi misbyah-misbyah Paduka saha sami mejahi nabi-nabi Paduka, namung kawula piyambak ingkang taksih gesang, lan tiyang-tiyang wau inggih kepengin nyabut nyawa kawula.” Wonten ngriku Gusti Allah lajeng tumindak langkung nedahaken panguwaosipun lumantar angin, lindhu lan geni ingkang nggegirisi, lajeng sasampunipun angin sumilir, ndangu Elia malih kanthi pitakenan ingkang sami:  “Ana apa sira ana ing kene iki Elia…?, lan wangsulanipun Elia ugi sami kaliyan saderengipun.

Nyata, wonten ngriki Gusti mirsani kawontenanipun abdinipun, mila Gusti maringi kekiyatan malih, nangekaken semangat ingkang musna, manah ingkang semplah miwah pangajeng-ajeng ingkang pupus. Gusti nyadharaken bilih lampahing abdinipun taksih tebih, jejibahanipun dereng rampung. Elia taksih kedah njebati Hazael jumeneng ratu ing Aram, Yehu putunipun Nimsi dados ratu Ing Israel tuwin Elisa anakipun Safat nggantos Elia minangka nabining Allah. Elia mboten berjuang piyambak. Taksih wonten 7000 tiyang ingkang setya tuhu dhumateng Yehuwah. Gusti nganthi para kagunganipun punika.

Pengalamanipun Elia punika saestu mboten tebih saking pengalamanipun tiyang pitados, kalebet kita. Iba gesang punika kebak dinamika, kalebet ing pengalaman pakaryan, pandamelan lan peladosan kita. Kaumbulaken muluk, kabanting dhawah ing ngandhap kadosdene prahu ingkang kaumbulaken, kaombang-ambingaken lan kakeplekaken denging ombaking samodra. Kita rumaos berjuang piyambak, nandhang sangsara lan rumaos sadaya nglaha, matemah lajeng semplah. Mekaten menawi kita namung ningali bilih sadaya pendamelan punika namung pakaryan kita piyambak, ngendelaken dhiri kita piyambak langkung-langkung namung kabereg lan ningali kabetahan kita tuwin kepentingan kita piyambak. Gusti ngendika: tangia, mangana!  Lampah kita taksih tebih, jejibahan kita dereng rampung, wangsula ing margi nindakaken timbalanipun Gusti. Salaminipun kita taksih gesang, kita taksih ngembam timbalanipun. Gusti kanthi panguwaosipun ingkang nganthi.

 

Ngeneraken dhiri namung mandeng Gusti Yesus

Mekaten ugi ingkang dipun alami dening para muridipun Gusti Yesus rikala lelayaran ngrumiyini Gusti nyabrang seganten Genesaret ing Mateus 14:22-33. Ing tengahing seganten dumadakan katempuah Angin Sakal, inggih angin ingkang nempuh saking ngajeng nglawan lajuning baita. Sangsaya dangu angin punika sangsaya santer ngombang-ngambingaken baita ngantos meh kerem. Sanajan para murid saestunipun para nelayan ingkang peng-pengan ingkang kathah pengalamanipun, nanging tetep ajrih sanget. Ing satengahing kepanikan punika dumadakan ketingal tiyang ingkang lumampah nrobos angin lan nrajang ombak gumuruh. Mesthi kemawon para murid sangsaya kalang kabut pating jlerit. “Ana memedi!” Ananging tiyang punika lajeng ngendika: “padha dienak atimu, iki Aku! Aja wedi!” Petrus lajeng mbengok: “Gusti, menawi saestu Paduka kawula kadhawuhana murugi Paduka kaliyan lumampah ing nginggil toya!” “Mrenea!” dhawuhipun Gusti Yesus. Petrus lajeng mandhap saking baita lan lumampah tumapak ing sanginggiling toya, nanging sareng angin ageng nempuh, piyambakipun ajrih, lajeng ambles, “Gusti nyuwun tulung!” Gusti enggal mulungaken astanipun sarta nyepeng Petrus, pangandikanipun “Heh wong kang cupet ing pangandel yagene kok mangu-mangu?”

Mekaten ing satengahing  samodraning gesang, saged marupi-rupi angin sakal ingkang nampek baitaning gesang kita, ndadosaken prahara ngrabasa, ombak molak-malik nggegirisi lan kita ajrih sanget lan panik. Kadosdene musibah ingkang dhateng, pisakit, masalah anak, semah, brayat, pendamelan, karier ingkang mboten nate kabayangaken. Ing kawontenan punika mboten aneh menawi sadaya ingkang ketingal dados sarwi nggegirisi. Asring kita lepat ningali kanyatan, saged ugi Gusti kaanggep memedi, memedi lan roh awon kaanggep Gusti.

 

Panutup

Ing kawontenan kados mekaten saestunipun Gusti Yesus mboten nate tebih saking kita, tansah migatosaken kita. Gusti Yesus nguwaosi alam, kuwaos tindak napaki molak-maliking kawontenan. Gusti Yesus nguwaosi alam lan panguwaos ingkang kados menapa kemawon, malahan pepejah pisan dipun kawonaken. Pangandikaning Rasul Paulus, menawi kita pitados Yesus punika Gusti, artosipun ingkang nguwaosi pejah gesang kita lan ingkang murbeng dumadi sarta pasrah dhumateng Panjenenganipun tamtu kawilujengaken (Rum 5:5-15). Mila kadosdene Petrus, namung dhumateng Panjenenganipun kita nyuwun tulung. Saestu rahajeng ingkang pitados. Pitados ateges masrahaken gesang dhumateng Panjenenganipun kemawon, namung mandeng, manther dhumateng Panjenenganipun. Nalika Petrus namung mandeng dhumateng Gusti Yesus, piyambakipun ugi saged napak toyaning seganten. Mekaten ugi kita. Ananging rikala nginggati Gusti lajeng ningali molak-maliking ombak seganten gesang, tuwuh raos ajrih, kita lajeng ambles. Utawi nginggati mandeng Gusti lajeng ningali dhiri kita piyambak, langkung-langkung nyombongaken dhiri, malah kepengin pamer dhumateng tiyang sanes, tamtu kita badhe ambles. Namung kanthi mandeng dhumateng Gusti, ndadosaken Panjenenganipun dhasar miwah tujuaning gesang, kita badhe saged napak ing toya segantening gesang tuwin ngatasi ombak prahara ingkang nampek. Malahan ombak lan prahara dados prekawis ingkang aji kangge ngiyataken, ndewasakaken miwah ndadosaken gesang kita sangsaya ngwedalaken who kathah. Amin.   (BRU)

 

Pamuji: KPK 264:1,2.

 

Bagikan Entri Ini: