Pemeliharaan Allah Tak Terbatas Khotbah Minggu 5 Mei 2019

22 April 2019

Doa Syukur YBPK / Masa Raya Undhuh-undhuh / Minggu Paskah III
Stola Putih

Bacaan 1 : Kisah Para Rasul 9: 1-9 (10-19a)
Bacaan 2  : Wahyu 5: 11-14
Bacaan 3  : Yohanes 21: 1-19

Tema Liturgis : Pemeliharaan Allah bagi orang percaya tiada habisnya
Tema Khotbah : Pemeliharaan Allah Tak Terbatas

KETERANGAN BACAAN
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Kisah Para Rasul 9: 1-9 (10-19a)

Semangat Saulus untuk mengancam dan membunuh pengikut Yesus semakin memiliki kekuatan legalitas setelah menghadap imam besar dan mendapat rekomendasi dari para majelis majelis Yahudi. Tindakan brutal Saulus tersebut bisa semakin ganas karena kekuatan melawan Kristus, tidak hanya dilakukan seorang diri Saulus tetapi bentuk dan wujud kekuatan yang tidak nampak justru memiliki pengaruh yang luas dalam diri imam besar dan kaum majelis Yahudi. Saulus lebih dikuasai oleh kesombongan untuk memporak-porandakan kehidupan pengikut Kristus, sehingga tidak pandang jauh dekatnya banyak pengikut Yesus menjadi incaran keganasannya. Cara terbaik Tuhan diperlihatkan kepada Saulus, dimana perjumpaan pribadi sebagai “cara-pendekatan” Tuhan kepada Saulus, dalam rangka melumpuhkan niat jahatnya. Perubahan drastis terjadi dimana sebuah kekuatan kekerasan hati menjadi penyataan pertobatan, yang secara nalar manusia sulit diterima. Bahkan seorang Ananias pun memiliki kegamangan ketika diminta Tuhan untuk menyembuhkan penglihatan Saulus. Kemungkinan sempat ada pemikiran untuk membiarkan Saulus tetap tidak bisa melihat, sebab sangat membahayakan jika sudah melihat nanti bisa jadi Saulus akan menganiaya pengikut Kristus lagi.

Wahyu 5: 11-14

Kitab Wahyu secara khusus memberikan penguatan kepada orang-orang percaya atas penderitaan yang dialami. Bacaan yang kedua ini memperlihatkan bagaimana malaikat dan seluruh makhluk memperdengarkan suara nyaring untuk memberikan pujian kepada Yesus Kristus, “Anak Domba yang disembelih itu layak untuk menerima kuasa, dan kekayaan, dan hikmat, dan kekuatan, dan hormat, dan kemuliaan, dan puji-pujian!”. Suara nyaring itu dibalas dengan pujian sehingga seluruh makhluk yang di sorga dan yang di bumi dan yang di bawah bumi dan yang di laut dan semua yang ada di dalamnya “Bagi Dia yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba, adalah puji-pujian dan hormat dan kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya!” Ini merupakan pengakuan orang-orang percaya pada Kristus. Suara yang bersahutan itu diakhiri dengan kata ‘Amin’ oleh segenap makhluk. Pada akhir bacaan kedua ini dikisahkan tentang tua-tua yang jatuh tersungkur dan menyembah. Penulis kitab ini hendak menggambarkan bahwa seluruh kuasa-kuasa dunia ini menjadi tak berarti di hadapan Sang Anak Domba yaitu Yesus Kristus. Pengorbanan Kristus  merupakan karya terbesar karena memberikan perdamaian, pengampunan dan keselamatan. Sekalipun banyak umat percaya mengalami penganiayaan, penderitaan namun Tuhan Yesus senantiasa menyertai dan memberikan keselamatan.

Yohanes 21: 1-19

Tuhan Yesus untuk yang kali ketiga setelah kebangkitan-Nya menampakkan diri kepada para murid-murid. Pekerjaan lama yang dilakukan para murid yaitu mencari ikan tidak membuahkan hasil tangkapannya. Tidak diketahui pasti mengapa mereka terjun mencari ikan lagi, apa ada rasa yang tidak menentu dalam diri mereka setelah tidak bersama Yesus secara fisik manusia atau yang lainnya. Kebimbangan dalam diri para murid akibat dari kondisi yang tidak menentu tersebut membuat mereka semakin memiliki perasaan hidup tanpa harapan. Tidak mendapat seekor ikanpun setelah beberapa waktu diluar kebiasaan sebagai mantan nelayan. Pada saat kondisi yang tidak menguntungkan bagi para murid tersebut, kembali Tuhan Yesus hadir dan menyatakan bahwa Dia tetap peduli dan mengasihi para murid-Nya. Kuasa ilahi terjadi dengan mengisi jala mereka penuh dengan ikan, sebagai bentuk dan realisasi ketaatan “mendengar suara Yesus” ditengah situasi penuh dengan keputus-asaan. Peristiwa tersebut dilanjutkan dengan percakapan khusus Tuhan Yesus dengan Petrus. Percakapan yang menyentuh hati nurani Petrus setelah tiga pertanyaan yang sama diajukan Yesus kepadanya, mengingatkan Petrus atas penyangkalan dirinya yang juga tiga kali terhadap Yesus. Apa yang dilakukan Yesus terhadap Petrus sebenarnya adalah sebuah tindakan pemulihan yang tidak hanya sekedar mengampuni tetapi membongkar akar kesalahan untuk masuk dalam restorasi diri terlibat dalam rencana agung Tuhan.

Benang merah ketiga bacaan.

Kehidupan manusia di dunia ini selalu diperhadapkan dengan beragam gelombang masalah, suasana permusuhan seperti pada zamannya Saulus dan ketidakpastian harapan seperti kondisi para murid Yesus sebelum kuasa ilahi Yesus dinyatakan. Kedalaman iman percaya kepada Tuhan dalam diri kita teruji, bagaimana Allah hadir dalam saat kegentingan terjadi. Penyadaran dalam diri Saulus dan kehadiran Yesus atas berkah banyaknya tangkapan ikan dalam diri para murid-murid, menunjukkan janji Allah begitu indahnya, melampaui segala sesuatu yang ada dalam diri umatNya. Itulah sebabnya anak-anak Allah senantiasa menjadikan perjalanan hidupnya penuh dengan sukacita dilambangkan dengan selalu bersyukur kepada Tuhan.


 

RANCANGAN KHOTBAH: Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan. Sila dikembangkan sendiri sesuai konteks jemaat)

Pendahuluan

Sebuah lagu yang sempat hit pada masanya berjudul “tak bisa ke lain hati” yang didalam lirik lagu tersebut terdapat ungkapan “aku tak bisa pindah, pindah ke lain hati” serasa ungkapan anak-anak Allah yang setia mempertahankan iman percayanya. Dengan banyak terpaan pergumulan hidup akan banyaknya serangan kebencian dan juga godaan untuk lekas putus harapan, namun hal itu tidak akan mengalihkan sujud syukurnya kepada Tuhan Yesus. Sepertinya penggalan lirik tersebut juga berlaku dalam wujud karya Tuhan Yesus, dimana Tuhan juga tidak akan melepaskan janjiNya kepada yang lain, yang tidak mau menerimaNya.

Rancangan baik Allah tetap dan selalu dinyatakan kepada umat yang selalu setia kepadaNya. Bahkan bagi mereka yang terlihat keras hatinya sekalipun, seperti yang berlaku dalam diri Saulus, yang akhirnya sikap tindakan jahatnya berubah bahkan akhirnya menjadi “piranti” Allah untuk menyuarakan cinta-kasih Tuhan. Tuhan juga meremukkan kegamangan Petrus, yang pernah ingkar akan pengakuan terhadap Yesus, justru kemudian Petrus dengan tetap lantang membagi keselamatan Allah berlaku dalam kehidupan banyak orang. Sekalipun pada perjalanannya seorang Paulus dan Petrus mengunyah pahit getir pelayanan, namun tekad keselamatan harus diterima banyak orang tidak pernah membelokkannya. Dengan demikian “tak bisa ke lain hati” berlaku baik bagi umat, demikian juga pastilah berlaku dalam karya Allah.

Isi

Pemeliharaan Allah kepada umatNya tidak bisa dihentikan oleh kekuatan terhebat dunia sekalipun, bahkan terungkap dalam bacaan kedua dalam kitab Wahyu, mereka tersungkur dan menyembah. Tindakan Allah untuk melindungi umatNya, salah satunya terungkap dalam peristiwa bagaimana seorang Saulus menjadi Paulus. Sebuah pembaharuan diri dan sikap hidup yang semula membabi-buta menghabiskan umat pengikut Kristus menjadi “tersungkur dan menyembah”. Sebuah gambaran bahwa Allah tidak hanya menyelamatkan mereka yang dari semula sudah mengikut Yesus, tetapi juga berlaku bagi mereka yang sudah dirancang untuk terpilih seperti sosok Saulus. Bahkan dalam diri Saulus sendiri menerima “dua berkat” sekaligus dalam peristiwa itu, selain terselamatkan dia dari perilaku jahat yang ditopang kekuatan kebencian dari para majelis Yahudi, juga Tuhan Yesus justru memakainya sebagai rasulNya. Melalui kehidupannyalah banyak jiwa yang pada akhirnya akan berujar “Bagi Dia yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba, adalah puji-pujian dan hormat dan kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya!“.

Menjadi menarik untuk terus digumulkan dalam kehidupan kita sebagai anak-anak Tuhan saat ini. Berhentikah kita sebagai penerus Paulus, sebagi teman kerja Allah yang menerima mandat terhormat ini, ataukah kita ingkar seperti yang teralami oleh Petrus yang berpura-pura tidak mengenal Kristus sebelum proses penyaliban terjadi?, sebuah pertanyaan yang memerlukan jawaban mandiri.

Menjadi tantangan berikutnya bagi kita sebagai anak-anak pilihan Tuhan untuk memelihara kesetiaan mendengar suaraNya. Beragam kegundahan dalam pergumulan kehidupan tidak mudah untuk mengenali suaraNya. Kondisi kehidupan yang memaksa kita berjalan tanpa arah juga menjadikan kita melupakan penopang kehidupan yang sejati. Namun Allah tidak akan pernah melupakan kita dalam kondisi apapun, sehingga tidak akan pernah umat pilihanNya terpuruk hidupnya.

Demikianlah yang teralami oleh para murid, ketika di tengah-tengah kegalauannya setelah terpisah fisik dengan Yesus. Mereka melakukan pekerjaan lamanya, namun tidak pernah teringat ketika kehampaan mendekatinya, mereka lupa dengan Sang Penopang bahkan mendengar suaraNya pun hampir terabaikan. Namun ketika terdengar suara ilahi dan diikutinya perintah itu, maka mereka menikmati anugerah itu. Kehidupan yang berat seringkali datang tak terundang, disaat itulah kekuatan melupakan Tuhan sering terjadi. Maka tidak ada formulasi yang sempurna lainnya kecuali menyerahkan hidup kepada Tuhan secara total seperti Paulus dan mengingat Tuhan serta peka terhadap suaraNya seperti yang dialami para murid dengan berkat tangkapan ikan yang luar biasa saat itu.

Masa raya undhuh-undhuh (hari raya persembahan), dipahami sebagai rasa syukur atas beragam berkat sebagai wujud pemeliharaan Tuhan. Disamping itu, nampaknya formulasi menyerahkan diri secara total sebagai persembahan yang hidup dan ibadah yang sejati, juga berarti memperkenankan Tuhan memelihara kehidupan secara utuh. Jadi jika kita menyerahkan hidup secara total kepada Tuhan, sebenarnya juga semakin sejahteralah kita karena pemeliharaan kita secara total dilakukan oleh Tuhan.

Demikianlah juga terhadap perjalanan kehidupan pelayanan YBPK GKJW, dengan beragam pergumulannya yang tidak hanya dimiliki oleh lembaga pendidikan milik kita ini saja. Tidak ada kata putus harapan dalam melanjutkan misi Allah dalam dunia pendidikan ini. Kita bisa bercermin dari peristiwa bagaimana para murid yang sulit memperoleh ikan pada waktu itu, namun ketika mereka “peka” akan suara Tuhan, tangkapan ikan itu diluar nalar manusia. Biarlah karya Allah tetap berlaku dalam kehidupan kita umat pilihanNya.

Penutup

Pemeliharaan Allah tidak akan pernah berhenti jika firmanNya senantiasa hadir dalam keluarga Allah. Hidup sebagai keluarga Allah haruslah diwarnai dengan sukacita, karena kita memiliki pengharapan akan hidup kekal. Firman Tuhan membawa kita pada sebuah gambaran hidup yang indah dan menjadikannya hidup sebagai anugerah Allah. Oleh sebab itu, kita layak mensyukuri segala pemberian Allah. Tuhan memberikan waktu bagi kita menikmati kehidupan ini. Kita harus menggunakan kesempatan hidup yang Tuhan berikan untuk hidup penuh ucapan syukur, memuji Tuhan, berdoa dan mendengar firmanNya. Hidup seperti itu akan membuat keluarga Allah semakin  merasakan betapa besar kemurahan Tuhan memelihara dan memberkati kita. Amin

Nyanyian: KJ. 240a, KJ 309, KJ 355.

 


 

RANCANGAN KHOTBAH:  Basa Jawi

Pambuka

Wonten tembang ingkang nate misuwur kanthi irah-irahan “tak bisa ke lain hati” lan ing lebete tembang kalawau kaserat ukara “aku tak bisa pindah, pindah ke lain hati”, kadosdene pangucape putranipun Allah kang setya ngugemi iman kapitadosanipun. Sanadyan kathah reribet ing lampah gesangipun kang arupi serik ing manah lan panggoda supados pupus ing pangajeng-ajeng, ananging perkawis punika boten bade ngewahi raos sokur dumateng Gusti Yesus. Kadose ukara ing tembang kalawau ugi kaetrapaken ing pakaryane Gusti Yesus, pramila Gusti boten bade maringaken pranjanjinipun dumateng tetiyang ingkang dereng saged nampi Piyambakipun.

Sedaya rancangan sae Allah tansah kaparingaken dumateng umat kang setya tuhu dumateng Gusti. Malah kangge tetiyang ingkang wangkot ing manah, kadosdene Saulus, ingkang pungkasane tumindak awonipun kagantos dados pirantine Allah kangge ngabaraken katresnanipun Allah. Gusti ugi ngremukaken raos ajrihe Petrus, ingkang nate selak dados sakabate Yesus, malah salajengipun dados tiyang ingkang tansah peparing kaslametanipun Allah dumateng kathah tiyang. Sanadyan wonten ing lampah peladosanipun Paulus lan Petrus asring nemahi perkawis awrat, nanging tekad supados kaslametan Allah kedah katampi kathah tiyang, boten bade kalirwakaken. Satemah “tak bisa ke lain hati” kalampahan inggih kangge para umat, semanten ugi wonten ing lelampahane pakaryanipun Gusti.

Isi

Pangrimatanipun Gusti dumateng umatipun, boten saged kakendelaken dening kekiatan rosa sanadyan ingkang paling unggul ing donya punika, kados kaserat wonten ing waosan kita sapunika ing kitab wahyu, malah kekiatan awon kalawau sami sujud lan manembah wusananipun. Salah satunggile pratanda bilih Allah boten namung paring kaslametan dumateng tetiyang ingkang saking wiwitan ndherek Gusti Yesus, ananging ugi kangge tetiyang ingkang sampun karancang lan kapething sakderengipun kadosdene Saulus. Malah tumrap Saulus piyambak nampi kalih berkah wonten ing prastawa punika, kejawi kaslametaken dening Gusti saking tumindak awon kang kasengkuyung dening kekiyatan para majelis yahudi, ugi dipun utus dening Gusti Yesus dados rasulipun. Lumantar gesangipun Paulus, kathah jiwa ing pungkasane ngucap “Pangalembana lan kaurmatan, tuwin kamulyan sarta pangwaos kagem Panjenenganipun ingkang lenggah ing dhampar saha Sang Cempe, ngantos salami-laminipun!”.

Langkung sae menawi kita tansah nggegilut wonten ing lampah gesang dados putranipun Allah ing wekdal sapunika. Punapa kita bade lereh dados tiyang ingkang nglajengaken ayahanipun Paulus, dados rencang damelipun Gusti ingkang kinormatan punika, utawi punapa kita bade selak kadosdene Petrus saderengenipun prastawa Gusti sinalib?, satunggal pitakenan ingkang mbetahaken wangsulan saking kita piyambak-piyambak.

Wonten perkawis ingkang kedah dipun upadi dening putranipun Allah gegayudan kaliyan nglestantunaken kasetyan kangge mirengaken swantenipun Gusti. Mawarni-warni ruweting manah ing lampah gesang kita ingkang dados pepalang, satemah boten gampil “tengen” dumateng swantenipun Gusti. Kahanan gesang ingkang ndadosaken kita gampil nglirwakaken Panyengkuyung sejati. Nanging Allah boten nate nilar wonten ing sadengah perkawis punapa kemawon ing kahanan gesang kita, satemah kita boten bade dumawah ing kacingkrangan. Inggih mekaten ingkang kalampahan ing gesange para sakabat, saweg wonten ing ruwete pamikiran sesampunipun tinilar dening Gusti Yesus. Para sakabat sami lumebet ing pakaryan laminipun, ananging boten ngrumaosi saweg lungkrah lan sepenipun manah nyelaki gesangipun. Para sakabat boten emut dumateng ingkang tansah paring panyengkuyung ing gesangipun, malah mirengaken Swantenipun kemawon kalirwakaken. Lajeng saweg mirengaken swantenipun Gusti lan ngecakaken kang kadawuhaken, wusananipun nampeni lan ngraosaken berkah kathah. Lampah gesang ingkang awrat punika sanes perkawis ingkang kanyana, inggih ing wekdal kalawau kadose wonten kekiyatan kangge nilar Gusti.

Pramila boten wonten paugeran kang sampurna kejawi nyawisaken sawetahipun gesang dumateng Gusti, kadosdene Paulus kang tansah emut Gusti sarta “tengen” dumateng swantenipun Gusti. Kadosdene ingkang kalampahan ing gesanging para sakabat kanthi anampi berkah arupi ulam ingkang kathah kala semanten.

Riyadin undhuh-undhuh, wujude raos sokur krana mawarni-warni berkah awit pangrimatanipun Gusti. Kejawi punika, kadose tumindak masrahaken sawetah wujude pisungsung lan ibadah kang sejati punika ugi ateges bilih kita mrasahaken gesang kita karawat sawetah ugi kaliyan Gusti. Pramila, menawi kita masrahaken gesang sawetah dumateng Gusti, tamtu samsaya ayem gesang kita krana pangrimatan sawetah lan kabetahan kacawisaken ugi dening Gusti tansah kalampahan.

Semanten ugi tumrap lampahing gesang peladosan YBPK GKJW, sanadyan kinantenan kaliyan mawarni karibetan ingkang tansah dipun gadhahi, boten namung katampi dening YBPK GKJW kemawon, ning ugi katampi dening lembaga pendidikan lintunipun. Boten wonten manah ingkang “nglokro” nglajengaken pakaryaning Allah ing babagan pendidikan. Kita saged sinau saking prastawa kadospundi para sakabat saweg kawratan njala ulam kala semanten, nanging saweg “tengen” dumateng swantenipun Gusti, saged njaring ulam kathah sanget lan boten limrah. Mugi namung karsanipun Allah ingkang kalampahan wonten ing gesangipun umat kagungane Gusti.

Panutup

Pangrimatanipun Allah boten bade kendel, menawi dawuh Pangadikanipun tansah dedampar wonten ing brayatipun Allah. Dados brayatipun Allah kedah karias dening raos kebak kabingahan, krana kita nggadahi pangajeng-ajeng gesang langgeng. Pangadikanipun Allah mbekta kita dumateng pangertosan bilih lampah gesang punika wujude kanugrahan saking Allah. Pramila kita kedah tansah saos sokur saking sedaya peparinge Gusti, ingkang ugi paring wekdal dumateng kita nampeni lan ngraosaken gesang punika.  Kita kedah migunakaken gesang peparinge Gusti punika kebak ing pangucap sokur, memuji Gusti, dedonga lan mirengaken Pangadikanipun. Gesang ingkang kados mekaten ingkang damel brayatipun Allah samsaya ngraosaken kadospundi agenging kamirahanipun Gusti anggenipun ngrimat lan paring berkat dumateng kita.Amin

Pamuji: KPJ 124, KPJ 155, KPJ 417.

 

Renungan Harian

Renungan Harian Anak