Minggu Paskah II
Stola Putih
Bacaan 1 : Kisah Para Rasul 5:26-33
Bacaan 2 : Wahyu 1:4-8
Bacaan 3 : Yohanes 20:19-31
Tema Liturgis : Ia yang Bangkit Memberi Daya Untuk Bersaksi
Tema Khotbah : Percaya dan Bersaksi
KETERANGAN BACAAN
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
Kisah Para Rasul 5:26-33
Dalam bagian ditunjukkan secara implisit kokohnya iman para rasul kepada Yesus sebagai Pemimpin dan Juruselamat. Dari kokohnya iman itu mereka menunjukkan ketaatan dan keberanian mereka sebagai saksi kebangkitan Kristus. Mereka berani berbicara kepada Imam Besar Mahkamah Agama Yahudi. Bahkan mereka berani menegur Mahkamah Agama itu dari dosa mereka yang telah menyalibkan dan membunuh Yesus. Mereka mengatakan dengan lantang bahwa para anggota Mahkamah Agama dan semua orang berdosa supaya bertobat untuk dapat menerima pengampunan dosa dari Allah dalam Yesus Kristus.
Wahyu 1:4-8
Di sini Yohanes menyebut Yesus Kristus sebagai Saksi yang setia. Dengan kebangkitanNya dari antara orang mati, Yesus Kristus menjadi Saksi karya penyelamatan Allah bagi dunia. Sebagai Saksi, Dia mengasihi kita manusia dan mengorbankan darahNya untuk melepaskan kita dari dosa. Dia mendirikan gereja sebagai suatu kerajaan untuk menjadi pelayan-pelayan (imam-imam) bagi Allah. Sebagai Saksi, Yesus Kristus memberikan kasih karunia dan damai sejahteraNya menyertai kita manusia. Dia menunjukkan kemuliaanNya kepada semua orang, termasuk kepada yang membenci dan menyiksaNya.
Yohanes 20:19-31
Kematian Yesus mendatangkan ketakutan yang mencekam dalam diri para muridNya. Sehingga, mereka mengunci diri di dalam ruangan mereka. Namun ketika melihat Yesus secara fisik dan langsung, ketakutan mereka berubah menjadi sukacita besar. Dengan melihatNya, mereka percaya bahwa memang Yesus benar-benar bangkit seperti yang diberitahukan oleh Maria. Mereka menyaksikan sendiri bukti Yesus yang bangkit dengan penampakan diriNya di hadapan mereka. Yang menjadi percaya karena melihat bukanlah hanya Thomas saja, melainkan mereka semua.
Setelah menjadi percaya karena melihatNya, Yesus mengutus mereka melakukan karya seperti yang Yesus lakukan dalam pengutusan Bapa. Seperti yang Yesus lakukan, mereka diutus untuk memberitakan Kerjaan Allah: memberitakan pertobatan dan pengampunan, memberitakan dan mewujudkan tahun rahmat Tuhan kepada semua orang. Pengutusan mereka dibekali dengan damai sejahtera seperti yang Yesus ucapkan sampai tiga kali. Mereka diberi semangat dan kekuatan Roh Kudus. Dengan pengutusan mereka diharapkan orang-orang yang mendengarnya –sekalipun tidak melihat Dia secara langsung– menjadi percaya bahwa Yesuslah Mesias.
Benang merah ketiga bacaan.
Dengan melihat dan menjadi percaya (bacaan 3), mereka berani bersaksi tentang Yesus Kristus beserta kehendak, karya dan anugerahNya (bacaan 1 dan 2).
RANCANGAN KHOTBAH: Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan… bisa dikembangkan sendiri sesuai konteks jemaat)
Pendahuluan
Saksi dibutuhkan dalam proses pengadilan. Dalam satu pengadilan kadang-kadang dibutuhkan cukup banyak saksi. Salah satu syarat seseorang diminta menjadi saksi dalam suatu pengadilan adalah bahwa dia melihat sendiri dan langsung atau bahkan ikut mengalami suatu kasus yang sedang diadili. Dalam pelaksanaan pengadilan, saksi diminta menjawab pertanyaan-pertanyaan. Namun, jika dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan, saksi berbelit-belit, tidak yakin, banyak tidak tahu, maka sikapnya akan cukup menjengkelkan semua pihak baik hakim, penuntut, pembela, terdakwa maupun hadirin. Karena itu, seorang saksi juga harus meyakini atau mempercayai kebenaran dari apa yang dilihatnya sendiri, tidak ragu-ragu.
Isi
Para murid Tuhan Yesus ditetapkan menjadi saksi Kristus di dunia. Mereka sendiri mengatakan “kami adalah saksi dari segala sesuatu itu…” (Kis. 5:32). Dalam suatu sidang Mahkamah Agama Yahudi, para rasul menjadi terdakwa sekaligus saksi. Mereka dituntut untuk tidak mengajarkan nama Yesus Kristus kepada siapapun. Sebagai saksi kebangkitan Kristus, mereka kemudian malah memberitakan Tuhan Yesus kepada Mahkamah Agama itu. Bahkan mereka mengajari para anggota Mahkamah Agama itu dan semua orang berdosa untuk bertobat supaya memperoleh pengampunan dari Allah dalam Tuhan Yesus Kristus. Mereka berani menegur Mahkamah Agama itu dari dosa mereka yang telah menyalibkan dan membunuh Yesus.
Para rasul berani bersaksi sedemikian itu di hadapan Mahkamah Agama pasti karena kokohnya iman percaya dan keyakinan mereka kepada Tuhan Yesus. Mereka sangat yakin bahwa Tuhan Yesus benar-benar bangkit hidup kembali dari antara orang mati. Mereka mempercayai dengan teguh bahwa Tuhan Yesus adalah Pemimpin dan Juruselamat dunia. Kokohnya iman percaya mereka mendorong dan memampukan mereka mentaati perintah Tuhan untuk memberitakan Firman Hidup, dalam konteks ini adalah untuk memberitakan nama Tuhan Yesus kepada semua orang.
Para rasul itu memiliki keyakinan yang kokoh kepada Tuhan Yesus bukan sekedar karena mereka melihat langsung Tuhan Yesus yang bangkit dalam penampakan diriNya kepada mereka, melainkan mereka mengalami perjumpaan denganNya. Di antara mereka, yakni Thomas, awalnya tidak percaya kepada kesaksian murid-murid yang lain bahwa Tuhan Yesus telah bangkit, karena dia tidak/ belum mengalami perjumpaan dengan Tuhan Yesus. Tetapi kemudian ketidakpercayaan Thomas terhapus oleh kebenaran berita kebangkitan Tuhan Yesus dengan Dia sendiri menjumpainya. Dari kesaksian dan pengalaman nyata semua rasul itu mestinya tidak ada lagi alasan bagi siapapun yang ragu-ragu untuk kemudian percaya kepada Tuhan Yesus sebagai yang bangkit dari antara orang mati.
Mereka yang percaya itu kemudian diutus oleh Tuhan Yesus sebagaimana Dia sendiri diutus ke dunia oleh Allah Bapa. Mereka diutus untuk melakukan apa yang sudah dilakukan Tuhan Yesus sendiri, yaitu memberitakan dan mewujudkan Kerajaan Allah dan tahun rahmat Tuhan. Untuk melakukan pengutusan Tuhan sebagai saksiNya itu, mereka dibekali dengan damai sejahtera. “Damai sejahtera” yang diucapkan Tuhan Yesus sebanyak 3 kali (dalam bacaan 3) dan yang ditulis oleh Yohanes dalam Wahyu 1:4 itu bukan sekedar salam. “Damai sejahtera” itu adalah rasa dan suasana hati yang kosong dari kekuatiran, ketakutan dan kekurangan. Damai sejahtera kebangkitan Kristus itu nyata dialami oleh para rasul. Sekalipun disesah, mereka bergembira ketika dilepaskan dari sidang Mahkamah Agama (Kis. 5:41 lanjutan bacaan 2).
Jadi saksi-saksi Kristus itu:
- Percaya dengan yakin akan kebangkitan Tuhan Yesus.
- Mengalami perjumpaan dengan Tuhan Yesus.
- Menerima damai sejahtera dari Tuhan Yesus.
- Berani mengatakan bahwa Tuhan Yesus sudah bangkit dari antara orang mati.
- Mentaati perintah Tuhan.
- Memberlakukan pemerintahan (kerajaan) Allah.
- Mewujudkan rahmat Tuhan kepada semua orang.
Bagaimana dengan kita?
Penutup
Tentunya kita semua –sebagai saksi Kristus– juga percaya bahwa Tuhan Yesus memang sudah bangkit dari kematian. Kita mestinya meyakini bahwa dengan kebangkitanNya, Tuhan Yesus berkuasa penuh atas segala sesuatu. Kita tidak perlu ragu sedikitpun, sebab keraguan Thomas sudah terjawab dan terhapus serta berubah jadi keyakinan penuh. Bukti-bukti kebangkitanNya sudah ditunjukkan sendiri oleh Tuhan Yesus kepada para muridNya. Walaupun kita tidak melihat Tuhan Yesus secara fisik atau kasat mata, namun mestinya kita sudah dan bisa mengalami perjumpaan dengan Dia. Perjumpaan kita denganNya dapat kita alami di dalam dan melalui doa yang penuh konsentrasi, nyanyian yang penuh penghayatan dan kesungguhan, melalui perenungan yang mendalam akan firmanNya, melalui mujizat-mujizatNya, karya-karyaNya, melalui berkat-berkatNya, bahkan melalui segala sesuatu yang nampak di sekitar kita.
Tuhan Yesus yang hidup itu sudah memberikan damai sejahteraNya kepada kita semua. Tentunya kita juga sudah menerima dan mengalaminya. Setiap kali kita merasa ayem tentrem, kelegaan dan kedamaian, itulah damai sejahtera pemberian Tuhan untuk kita. Kita merasakan ayem tentrem itu karena kita meyakini sepenuhnya bahwa segala sesuatu, termasuk segala yang kita butuhkan, ada di dalam tangan kuasa dan kasihNya.
Kalau sudah merasakan seperti itu, mestinya kita berani dengan tenang memberitakan/ mengatakan tentang Tuhan Yesus kepada siapapun, tanpa takut ataupun kuatir. Dengan begitu pula, kita akan dengan senang hati mentaati segala perintah Tuhan, tanpa rasa terpaksa atau berat hati. Kita akan melakukan segala kehendak Tuhan dengan penuh sukacita. Bahkan juga dengan sabar dan lemah lembut kita memberlakukan pemerintahan (kerajaan) Allah, yaitu menegakkan kebenaran, keadilan dan kedamaian. Benar-benar dengan tulus dan rendah hati serta rasa syukur membagikan dan menjadi berkat Tuhan kepada semua orang dan semua ciptaan.
Begitulah seharusnya cara kita menjalani kehidupan sebagai saksi Kristus yang bangkit dan hidup mulia kekal. Dengan begitu, dimuliakan dan dimasyhurkanlah nama Tuhan kita Yesus Kristus di dunia. Amin. [st]
Nyanyian: KJ 200:1,3,4/ 426:1,4.
RANCANGAN KHOTBAH: Basa Jawi
Pambuka
Seksi dipun betahaken ing salebeting pangadilan. Kadhang kala ing satunggaling pangadilan dipun betahaken sawatawis seksi. Salah satunggaling sarat tiyang kasuwun dados seksi ing salebeting pangadilan inggih menika bilih tiyang menika mrangguli piyambak utawi malah ndherek ngalami satunggaling prekawis ingkang saweg dipun adili. Ing lampahing pangadilan, seksi kasuwun mangsuli sawatawis pitakenan. Nanging, menawi anggenipun mangsuli pitakenan, seksi menika mbulet kemawon, boten yakin, boten ngertos, tumindakipun mesthi badhe nggelani sadayanipun: dadosa hakim, panuntut, pambela, ingkang dinakwa mekaten ugi sadaya ingkang sami rawuh. Ingkang menika, seksi kedah ngyakini leresing prekawis ingkang dipun prangguli, boten mangu-mangu.
Isi
Para rasul katetepaken dados seksinipun Sang Kristus ing donya. Para rasul piyambak matur bilih sami dados seksinipun Gusti Yesus ingkang wungu (P.R. 5:32). Ing salebeting sidang Pradata Agami Yahudi, para rasul menika sami dados ingkang dinakwa lan ugi seksi. Para rasul dipun tuntut supados boten mulangaken asma Yesus Kristus dhateng sintena kemawon. Minangka seksi wungunipun Sang Kristus, para rasul menika malah mawartosaken Gusti Yesus dhateng Pradataning Agami menika. Para rasul menika malah sami mulang para gegelitaning Pradata Agami sarta sadaya tiyang dosa kinen mratobat supados pikantuk pangapunten saking Allah wonten ing Gusti Yesus Kristus. Para rasul menika wantun melehaken Pradata Agami menika saking dosanipun karana anggenipun sampun menthang lan nyedani Gusti Yesus.
Para rasul wantun atur paseksi tanpa ajrih mekaten ing ngajenging Pradata Agami tamtu karana kukuhing iman kapitadosan lan kayakinanipun dhumateng Gusti Yesus. Para rasul yakin sanget bilih Gusti Yesus estu-estu wungu malih saking antawisipun tiyang pejah. Para rasul pitados kanthi mantep bilih Gusti Yesus jumeneng Panuntun lan Juru wilujenging jagad. Kukuhing iman kapitadosanipun mbereg lan nyagedaken para rasul netepi prentahipun Gusti kinen mawartosaken Sang Sabda ingkang gesang, inggih menika mawartosaken asmanipun Gusti Yesus dhateng sadaya tiyang.
Para rasul menika nggadhahi kayakinan ingkang bakuh dhumateng Gusti Yesus boten namung karana ningali Gusti Yesus ingkang wungu srana anggenipun ngetingalaken dhiri, nanging karana ngalami pepanggihan kaliyan Panjenenganipun. Ing antawisipun para rasul, inggih menika Thomas, boten pitados dhateng paseksinipun para rasul sanesipun bilih Gusti Yesus wungu gesang malih, karana boten/ dereng ngalami pepanggihan kaliyan Gusti Yesus. Nanging wangkoting kapitadosanipun Thomas sirna dening yektosing pawartos bab wungunipun Gusti Yesus srana anggenipun Gusti Yesus pribadi manggihi Thomas. Saking paseksi lan lelampahan nyata ingkang dipun alami dening para rasul menika kedahipun boten wonten dhasar tumrap tiyang ingkang mangu-mangu kangge pitados kanthi temen dhumateng Gusti Yesus ingkang tuhu wungu saking antawisipun tiyang pejah.
Tiyang-tiyang ingkang pitados menika lajeng kautus dening Gusti Yesus kados dene Panjenenganipun kautus dhateng jagad dening Sang Rama. Tiyang-tiyang menika kautus nindakaken menapa ingkang sampun katindakaken dening Gusti Yesus piyambak, anenggih mawartosaken lan mujudaken Kratoning Allah lan taun rahmatipun Gusti. Kangge nindakaken pangutusanipun Gusti minangka seksinipun menika, tiyang-tiyang menika dipun sangoni tentrem rahayu. “Tentrem rahayu” ingkang kaucapaken dening Gusti Yesus ngantos kaping tiga (ing waosan 3) lan ingkang kaserat dening Yokanan ing kitab Wahyu 1:4 menika sanes namung uluk salam. “Tentrem rahayu” menika raos lan swasana gesang ing suwung saking was sumelang, ajrih utawi kekirangan. Tentrem rahayu wungunipun Gusti Yesus menika nyata dipun alami dening para rasul. Buktinipun, sanadyan dipun siksa, para rasul menika rumaos bingah nalika dipun luwari saking sidang Pradataning Agami (P.R. 5:41 candhaking waosan2).
Dados, seksi-seksinipun Sang Kristus menika:
- Pitados kanthi yakin bab wungunipun Gusti Yesus.
- Ngalami pepanggihan kaliyan Gusti Yesus.
- Nampi tentrem rahayu saking Gusti Yesus.
- Wantun nyariyosaken bilih Gusti Yesus estu sampun wungu saking pepejah.
- Netepi prentahipun Gusti.
- Mbudidaya adeging pamarentahan/ kratonipun Allah.
- Mujudaken sih rahmatipun Gusti tumrap sadaya tiyang.
Kados pundi gesang kita minangka seksinipun Gusti?
Panutup
Kita sadaya minangka seksinipun Sang Kristus ugi pitados bilih Gusti Yesus saestu sampun wungu saking pepejah. Kita tamtu ugi pitados kanthi yakin bilih srana wungunipun, Gusti Yesus mengku sagunging pangwasa tumrap sadhengah ingkang wonten. Kita boten prelu mangu-mangu babar pisan, awit pamangu-mangunipun Thomas sampun winangsulan lan sirna sarta ewah dados kayakinan ingkang bakuh. Bukti-bukti bab wungunipun Gusti Yesus sampun katedahaken dening Gusti Yesus piyambak dhateng para sakabatipun. Nadyan kita boten ningali Gusti Yesus sacara kasat mripat, nanging kita tamtu sampun lan saged ngalami pepanggihan kaliyan Gusti Yesus. Pepanggihan kaliyan Panjenenganipun saged kita alami ing salebeting lan lumantar pandonga ingkang mantheng, pamuji ingkang kebak pangraos ing batos, lumantar reraosan ingkang jero bab sabdanipun Gusti, lumantar mukjijat-mukjijatpun, pakaryan-pakaryanipun, lumantar berkah-berkahipun, malah lumantar samukawis ingkang ketingal ing sakiwa tengen kita.
Gusti Yesus ingkang gesang menika sayekti sampun paring tentrem rahayu dhateng kita sadaya. Tamtunipun kita ugi sampun nampeni lan ngalami tentrem rahayu menika. Saben-saben kita ngalami tentrem lan lega, lhah menika tentrem rahayu peparingipun Gusti Yesus dhateng kita. Kita saged rumaos ayem lan tentrem menika karana kita ngyakini sawetahipun bilih sadaya prekawis, kalebet sadaya kabetahan kita, tansah cumawis ing astanipun ingkang kebak sih lan pangwaos.
Menawi sampun ngraosaken sadaya menika, mesthi kita wantun kanthi alus mawartosaken/ nyariyosaken bab Gusti Yesus dhateng sintena kemawon, tanpa raos ajrih utawi kuwatos. Kita mesthi ugi remen netepi prentah-prentahipun Gusti, tanpa rumaos kepeksa utawi abot. Kita badhe nindakaken sadaya karsanipun Gusti kanthi kebak kabingahan. Malah kanthi sabar lan alusing budi mujudaken peprentahaning (kratoning) Allah, anenggih ngudi kelampahing kayekten, kaadilan lan katentreman tumrap sadaya titah. Mekaten ugi kita mesthi kanthi saestu tulus lan andhap asor sarta raos sokur andum lan dados berkahipun Gusti tumrap sadaya titahipun Allah.
Lhah mekaten menika kedahipun cara kita nglampahi pigesangan kita minangka seksinipun Gusti Yesus ingkang wungu gesang mulya. Mugi kaluhurna lan kasuwurna asmanipun Gusti Yesus Kristus ing saindhenging jagad. Amin. [st]
Pamuji: KPJ. 452: 1,2.