Menjadi Domba-domba Milik Kristus Khotbah Minggu 12 Mei 2019

29 April 2019

Minggu Paskah IV / Minggu Panggilan
Stola Putih

Bacaan 1 : Kisah Para Rasul 9:36-43
Bacaan 2 : Wahyu 7:9-17
Bacaan 3 : Yohanes 10:22-30

Tema Liturgis : Pemeliharaan Allah bagi Orang Percaya Tiada Habisnya
Tema Khotbah : Menjadi Domba-domba Milik Kristus

KETERANGAN BACAAN
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Kisah Para Rasul 9:36-43

Sebagai sekuel dari Injil Lukas, Kisah Para Rasul menyajikan setting jemaat Kristen yang masih sangat muda yang masih mencari jati diri dan belajar tentang siapa dan apa yang mereka imani. Dalam perjalanan perkembangan jemaat mula-mula ini, Lukas menyajikan kisah menarik tentang seorang murid perempuan di Kota Yope. Tidak seperti kebanyakan perempuan dalam Perjanjian Baru yang disajikan secara anonim, perempuan dalam narasi ini disebutkan jelas namanya: Tabita yang artinya rusa. Dalam bahasa Yunani ia juga disebut Dorkas yang mempunyai arti yang sama. Tabita adalah satu-satunya perempuan dalam Perjanjian Baru yang disebut sebagai mathetria (bentuk feminin dari mathetes: murid). Siapa suaminya atau apa status pernikahannya, Lukas tidak menyebutkannya dengan jelas. Namun, apa yang dilakukannya selama hidup dijelaskan: “banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah” (ay.36). Keterangan Lukas ini sangat menarik, karena perempuan Yahudi di Abad Pertama pada umumnya tidak mampu hidup mandiri di tengah dunia patriakal kala itu.

Namun nampaknya Tabita berbeda, rusa betina ini lincah dan tangguh sehingga ia tak hanya mampu menghidupi dirinya namun juga mampu menjadi sumber daya dan memberdayakan sekelompok janda yang dalam sistem sosial menempati level terendah. Eksistensi perempuan saat itu tergantung dari laki-laki dalam keluarganya: seorang anak perempuan tergantung pada Ayahnya, seorang isteri tergantung pada suaminya. Namun, janda tak lagi memiliki laki-laki yang bisa membuatnya mengakses sistem ekonomi yang sangat patriakal kala itu. Karena itu, Lukas menggambarkan bagaimana kematian seorang Tabita membuat komunitasnya ada dalam krisis yang begitu dalam. Para janda itu meratapd dengan hebat, mereka tak hanya kehilangan sahabat, melainkan juga terancam kehilangan hidupnya sendiri. Jika tak ada lagi Tabita, bagaimana sekelompok janda itu bisa terus bertahan? Harapan para janda ini turut mati bersama dengan kematian Tabita.

Saat tubuh tak bernyawa Tabita disemayamkan di ruang atas, Lukas menggambarkan cara para murid lain di Yope memberitahu Petrus: segeralah datang kepada kami (ay.38). Petrus tidak diberitahu mengapa ia dipanggil, namun ia segera berkemas dan datang ke Yope. Setelah memahami situasi, Petrus meminta semua orang keluar dari ruangan, ia berdoa dan kemudian membangkitkan Tabita dari kematian. Kuasa itu jelas bukan kuasa dari Petrus sendiri, sama seperti saat ia memulihkan Eneas (ay.34), Petrus memohon kuasa Kristus untuk membawa Tabita kembali. Dengan kembalinya Tabita, harapan komunitas janda itu turut kembali. Dari narasi ini kita bisa melihat bahwa kuasa nama Yesus juga bekerja bagi para janda, bagi mereka yang tersisih dan rentan.

Wahyu 7:9-17

Wahyu kepada Yohanes adalah satu-satunya kitab yang ber-genre apokaliptis dalam Perjanjian Baru. Sastra apokaliptis adalah gaya tulisan yang lahir dari konteks tertentu yang membuat para penulisnya pesimis akan kondisinya sehingga berharap akan datangnya pemuliaan melalui kehancuran. Demikian jugalah pola yang dipilih oleh Yohanes si Pelihat dalam tulisannya: menjelaskan hal-hal yang akan terjadi di jaman akhir (hukuman) dan berkat yang akan diterima (pemuliaan).

Perikop kita kali ini ada di bagian berkat. Kumpulan “orang banyak yang tidak dapat terhitung” (ay.9) itu nampaknya merujuk kepada para jemaat Kristen yang saat itu menanggung derita hebat dan bahkan menjadi martir karena kepercayaan dan ketaatan mereka pada Kristus. Yohanes memberikan pengharapan apokaliptis dengan menyebut para martir itu tidak akan merasa lapar dan dahaga dan bahkan tidak akan tertimpa matahari dan panas teriknya lagi (ay.16). Jadi, meski di dunia para orang Kristen didera dan bahkan kehilangan nyawa, para martir akan beroleh berkat karena mereka akan digembalakan oleh Anak Domba ke mata air kehidupan dan air mata mereka akan terhapus karena sukacita dari Allah (ay.17). Demikianlah derita di dunia akan diganjar dengan sukacita surga oleh Sang Anak Domba.

Yohanes 10:22-30

Perikop khas Yohanes ini mengambil setting musim dingin di Palestina, di tengah Hari Raya Yahudi, Hanukah. Hanukah adalah perayaan terang yang berasal periode awal wangsa Hasmonean, yang memperingati penyucian kembali Bait Allah yang telah dinajiskan oleh Antiokus Epifanes. Antiokus Epifanes adalah penguasa Siria yang berkuasa 175-164 SM, dimana Palestina ada dalam kekuasaannya. Masalahnya, tidak seperti penguasa-penguasa sebelumnya yang berusaha menjaga harmoni dan ketenangan di wilayah Palestina yang rawan konflik, Antiokus Epifanes justru ingin memusnahkan agama Yahudi dari muka bumi dan ingin agar semua orang Yahudi memeluk agama-agama Pagan (Yunani). Ia melarang keras pelaksanaan ritual Yahudi seperti korban, perayaan Hari Sabat dan sunat. Jika kedapatan ada ibu yang menyunatkan bayi lelakinya, ia akan disalib dengan bayinya tergantung di lehernya. Antiokus juga menjadwal para Imam Yahudi untuk mempersembahkan korbah di Bait Allah, namun tidak ditujukan pada TUHAN melainkan mengorbankan babi yang ditujukan untuk dewa-dewi Yunani. Banyak sekali kengerian yang dialami oleh orang Yahudi akibat kekejaman Raja Siria itu. Sampai akhirnya orang Yahudi mendapatkan kemenangan melalui pemberontakan yang diawali oleh seorang imam yang menolak untuk mempersembahkan babi pada dewa-dewi, bernama Matatias (pemberontakan Makabe). Matatias, yang kemudian dilanjutkan dengan anak-anak lelakinya memimpin pemberontakan yang efektif dan akhirnya berhasil membebaskan Palestina dari kekuasaan Siria, membangun negara Yahudi merdeka dan menguduskan kembali Bait Allah. Dalam perayaan itu dinyalakanlah 8 pelita selama 8 hari, baik di rumah ibadah dan juga di rumah-rumah orang Yahudi. Untuk memperingati kejadian ini.

Di suatu hari yang dingin saat banyak pelita dinyalakan sementara sinar matahari tertutup awan musim dingin, Yesus berjalan-jalan di serambi Salomo. Serambi yang dipenuhi dengan tiang-tiang besar penyangga bangunan Bait Allah yang megah itu. Orang-orang Yahudi dengan sengaja mendatangi dan beramai-ramai mengelilingi-Nya dengan satu tuntutan: “Jikalau Engkau Mesias, katakanlah terus terang kepada kami.” (ay.24). Nampaknya memang ada yang benar-benar ingin tahu apakah Dia Mesias, namun nampaknya banyak pula yang ingin membunuh Yesus dengan cara dirajam dengan tuduhan menghujat Allah melalui pertanyaan ini. Dalam keselurhan narasi sebenarnya ada dua pertanyaan mendasar: apakah Yesus Mesias? (ay.24) dan apakah Ia menyamakan diriNya dengan Allah? (ay.33). Tiap pertanyaan itu mendapatkan jawaban yang panjangnya hampir sama (ay. 25-30, 34-38), jawaban ini bermuara pada kesimpulan yang sama yaitu: kesatuan Yesus dengan Bapa-Nya. Respon orang-orang Yahudi terhadap dua jawab Yesus ini pun mirip, berusaha menangkap dan melempari-Nya dengan batu (ay. 31,39).

Perikop kita dibatasi sampai ay.30, oleh karena itu saya akan mencoba fokus pada pertanyaan dan jawaban yang pertama saja. Pertanyaan ini memiliki latar belakang kompleks berkaitan dengan pengharapan Mesianis yang dihidupi oleh orang-orang Yahudi. Dalam Kitab Suci Ibrani, sosok Mesias juga tidak digambarkan secara jelas dan seragam. Namun, secara umum Mesias senantiasa dikaitkan dengan tradisi wangsa Daud, memiliki kuasa sebagai pemimpin politis, militer dan teologis. Karena itu, jawaban Yesus atas pertanyaan kemesiasan-Nya sangat penting, sekaligus membahayakan Diri-Nya. Jawaban Yesus amat memikat, Ia tak menjawab dengan “ya” atau “tidak”, melainkan meminta mereka untuk melihat sendiri apa yang telah dikerjakan-Nya dalam nama Bapa (ay.25). Pekerjaan-pekerjaan yang disebut Yesus ini tentulah merujuk pada mujizat-mujizat dan pengajaran-pengajaran yang telah Ia lakukan. Membuat yang buta melihat, yang tuli mendengar dan yang lumpuh berjalan. Ia juga mengajarkan Hukum Taurat dengan kuasa dan tak jarang memberikan makna baru ke dalamnya. Pekerjaan-pekerjaan ajaib ini yang sebenarnya memenuhi berbagai nubuatan tentang Mesias. Namun orang-orang Yahudi ini tak percaya karena alasan sederhana, mereka bukan domba milik Yesus dan tak mengenali suara-Nya (ay.27).

Yesus yang menempatkan Diri sebagai gembala juga memiliki pesan penting, karena gembala sering dipakai sebagai simbol Kerajaan Daud (lih. Yeh 34:23). Tema domba ini mengingatkan pembaca pada ay.1-21 dimana Yesus menggambarkan hubungan-Nya dengan orang percaya seperti hubungan gembala sejati dan domba-domba yang mengenali gembalanya dengan baik. Dan bagi domba-dombaNya, Yesus memberikan jaminan hidup kekal, hidup aman dan hubungan dengan Sang Bapa (ay.29). Janji ini bisa diberikan-Nya karena, Dia dan Bapa adalah satu (ay.30)

Benang Merah Tiga Bacaan

Karya Yesus adalah karya penyelamatan yang ditujukan dan berlaku bagi semua orang. Bagi kaum tersisih dan para martir yang menderita sengsara, Yesus menyerahkan Diri-Nya sebagai tebusan. Namun, memang tak semua manusia bersedia menerima karya-Nya, ada golongan yang menolak untuk jadi domba milik-Nya dan karena itulah mereka tak mampu mengenali suaraNya.


 

RANCANGAN KHOTBAH: Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan. Sila dikembangkan sendiri sesuai konteks jemaat)

Menjadi Domba Milik Kristus

Pendahuluan

Saudara-saudara yang terkasih, di jaman digital ini media sosial menjadi cara utama kita berkomunikasi. Dulu memang sempat media sosial hanya mendekatkan yang jauh, yang sudah lama berpisah. Namun kini, media sosial juga bisa mendekatkan yang memang sudah dekat dan menjadi sarana utama dalam berkomunikasi. WA (Whatsapp) adalah salah satu media sosial terpopuler saat ini. Kita bisa saling mengirim pesan, kirim foto, lagu dan bahkan video. Bisa pula tak mengirimnya pada satu orang, tapi pada banyak orang sekaligus di Grup WA. Pertanyaan saya sederhana, berapa jumlah grup WA yang saudara punya? (berikan waktu bagi pendengar untuk menghitung-hitung sebentar). Siapa yang  jumlah grup WA-nya di bawah 5? Di atas 10? Diatas 20?

Berapapun grup WA yang kita punya, fenomena grup WA itu berdasar satu hal yaitu: common ground, kesamaan. Orang yang ada di Grup WA Majelis, ya pasti para Pnt, Dkn atau Pdt, selain itu gak masuk. Orang yang ada di grup WA Alumni SMA, ya mestilah teman-teman kita yang sekolah di SMA yang sama, yang sekolah di SMA lain ya gak masuk. Sesederhana itu konsep dari WA Grup yang kita gunakan untuk berkomunikasi dan berkomunitas di dunia maya (meski dunia nyata dan maya kini berbeda sangat tipis). Bicara tentang grup dan komunitas, pernahkah kita bertanya pada diri sendiri, apa common ground (kesamaan) kita sehingga kita berani menyebut diri sebagai (sesama) orang Kristen?

Isi

Komunitas yang menyebut dirinya sebagai Kristen sebenarnya memiliki jalan panjang dan berliku. Sejak Yesus naik ke surga, orang-orang yang percaya pada-Nya berkumpul tiap-tiap hari untuk berbagi hidup dan menunggu kedatangan Yesus kembali. Jumlah mereka makin banyak dan semakin banyak, karenanya mereka harus mengidentifikasi diri tentang siapa mereka dan apa yang mereka percaya. Demikian juga sekumpulan orang percaya di Kota Yope, yang hidup bersama dan belajar menjadi pengikut Kristus. Di antara mereka ada seorang perempuan yang memiliki dampak luar biasa, terutama untuk para janda yang tidak memiliki sumber daya untuk hidup. Tidak seperti kebanyakan perempuan dalam Perjanjian Baru yang disajikan secara anonim, perempuan dalam narasi ini disebutkan jelas namanya: Tabita yang artinya rusa. Dalam bahasa Yunani ia juga disebut Dorkas yang mempunyai arti yang sama. Tabita adalah satu-satunya perempuan dalam Perjanjian Baru yang disebut sebagai mathetria (bentuk feminin dari mathetes: murid). Siapa suaminya atau apa status pernikahannya, Lukas tidak menyebutkannya dengan jelas. Namun, apa yang dilakukannya selama hidup dijelaskan: “banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah” (ay.36).

Keterangan Lukas ini sangat menarik, karena perempuan Yahudi di Abad Pertama pada umumnya tidak mampu hidup mandiri di tengah dunia patriakal kala itu. Namun nampaknya Tabita berbeda, rusa betina ini lincah dan tangguh sehingga dari segala pekerjaan-pekerjaan baiknya, ia tak hanya mampu menghidupi dirinya namun juga mampu menjadi sumber daya dan memberdayakan sekelompok janda yang dalam sistem sosial menempati level terendah. Eksistensi perempuan saat itu tergantung dari laki-laki dalam keluarganya: seorang anak perempuan tergantung pada Ayahnya, seorang isteri tergantung pada suaminya. Namun, janda tak lagi memiliki laki-laki yang bisa membuatnya mengakses sistem ekonomi yang sangat patriakal kala itu. Karena itu, Lukas menggambarkan bagaimana kematian seorang Tabita membuat komunitasnya ada dalam krisis yang begitu dalam. Para janda itu meratap dengan hebat, mereka tak hanya kehilangan sahabat, melainkan juga terancam kehilangan hidupnya sendiri. Harapan para janda ini turut mati bersama dengan kematian Tabita. Namun melalui Petrus, kuasa Tuhan dinyatakan. Dia menghidupkan kembali harapan para janda ini seiring dengan kembalinya hidup Tabita. Kasih-Nya ternyata berlaku bagi semua orang, bahkan bagi para janda yang tersisih dan terpinggirkan.

Wahyu kepada Yohanes juga memberikan pengharapan yang sama, dimana orang-orang yang menderita, luka bahkan harus menghadapi kematian yang menyakitkan akan dihapuskan duka dan air matanya. Di hadapan Anak Domba, orang percaya akan dipimpin kepada air kehidupan dan ada dalam hidup sentosa yang kekal. Pengharapan ini bukanlah tanpa alasan, karena Kristus sendiri telah memberikan diri dan hidupNya sebagai tebusan. Sehingga bahkan dari kehancuran, tersedia berkat dan pengharapan.

Pertanyaan reflektifnya kini adalah, siapa yang dapat menerima janji itu dan apa yang harus dilakukan untuk mendapatkan bagian dalam karya penyelamatan itu?

Dalam tekanan para orang Yahudi yang meminta kepastian dariNya tentang kemesiasan-Nya, Yesus menunjukkan bahwa pekerjaan-pekerjaan-Nya adalah bukti. Pekerjaan-pekerjaan yang disebut Yesus ini tentulah merujuk pada mujizat-mujizat dan pengajaran-pengajaran yang telah Ia lakukan. Membuat yang buta melihat, yang tuli mendengar dan yang lumpuh berjalan. Ia juga mengajarkan Hukum Taurat dengan kuasa dan tak jarang memberikan makna baru ke dalamnya. Karena itu tak perlu lagi Ia menjelaskannya dengan kata. Masalahnya, mereka tak bisa mendengar dan melihat apa yang telah dikatakan dan diperbuat Yesus. Bukan karena tidak mampu, tapi karena tidak mau. Orang Yahudi memilih untuk tidak mau menjadi domba milik Kristus. Itu berarti mereka pun memilih untuk tidak menerima jaminan hidup kekal

Berarti jelas, siapa yang dapat menerima janji keselamatan dari Kristus adalah para domba milikNya. Dan apa yang harus dilakukan? Sederhana….bersedia untuk jadi domba miliknya. Domba yang dimiliki oleh seorang Gembala berarti meletakkan dirinya, kehendaknya, keinginan dan tujuannya sendiri di bawa kehendak dan rencana Sang Gembala. Terakhir, domba adalah mereka yang senantiasa mengenali suara Gembalanya.

Untuk memperkuat bagian khotbah ini, silahkan tayangkan video berikut ini https://www.youtube.com/watch?v=e45dVgWgV64

Penutup

Sebagai orang yang mengaku pengikut Kristus, mari memeriksa diri dan hidup kita. Sudahkah kita menjadi domba milik Kristus yang benar-benar mengenali suara-Nya? Jika belum mampu mendengar-Nya, tak apa….teduhkan hati yang sering terlalu gaduh, tenangkan pikiran yang penuh dengan tekanan dan heningkan jiwa yang diisi dengan berbagai ambisi. Kadang-kadang, suara Sang Gembala jadi nyaris tak terdengar bukan karena Ia tak memanggil kita, tapi karena hati dan telinga kita terlalu sibuk untuk mendengar-Nya.

Selamat melanjutkan hidup dengan ambil bagian dalam karya penyelamatan-Nya dan selamat terus mendengar suara Sang Gembala Agung itu. Amin. (Rhe)

Nyanyian: KJ. 415


RANCANGAN KHOTBAH: Basa Jawi

 Dados Mendanipun Sang Kristus

Pambuka

Para sadherek ingkang kinasih, ing zaman digital menika media sosial dados cara ingkang utami kangge komunikasi. Kala rumiyin pancen nate denen media sosial menika nyelakaken ingkang tebih, ingkang sampun lami pepisahan. Nanging samangke, media sosial ugi saged ndadosaken ingkang sampun celak sangsaya celak lan dadaos piranti wigati kangge komunikasi. Samangke Whatsapp (WA) dados salah satunggaling media sosial ingkang populer. Tiyang saged kirim warta, kirim foto, lagu lan ugi video. Saged ugi kaginakaken kangge ngirimi boten namung tiyang setunggal, nanging tiyang kathah ing grup WA. Pitakenan kula lugu kemawon, panjenengan kagungan pinten grup WA? (pasamuwan kaparingan wekdal kangge ngetang cacahipun grup WA ingkang dipunduweni). Sinten ingkang kegungan grup WA ing sangandhapipun 5? Nginggilipun 10? Nginggilipun 20?

Sapintena kathahipun grup WA ingkang kita gadhahi, wontenipun grup WA menika adhedhasar setunggal perkawis inggih menika wontenipun perkawis ingkang sami (ind. Kesamaan). Tiyang ingkang wonten ing grup Majelis inggih mesthi para pinisepuh, juru pamulasara/diaken utawi Pendita. Salintunipun boten klebet. Tiyang ingkang wonten ing grup WA alumni SMA, inggih mesthi kanca-kanca nalika taksih sekolah ing SMA ingkang sami. Salintunipun boten klebet. Rancangan saking WA grup ingkang kita manfaataken kangge komunikasi lan pakempalan  (berkomunitas) ing dunia maya menika makaten (sanadyanta dunia nyata lan dunia maya menika bedanipun tipis). Wicantenan bab grup lan komunitas, menapa nate kita pitakenan, menapa perkawis ingkang sami (kesamaan) kita saengga wantun nyebataken dhiri kadidene (sesami) tiyang Kristen?

Isi

Pakempalan ingkang nyebut dhiri Kristen nglampahi margi ingkang panjang lan awrat. Nalika Gusti Yesus mekrad ing Swarga, tiyang-tiyang ingkang pitados dhumateng Gusti Yesus nglempak saben dinten kangge mbagekaken gesang lan nengga rawuhipun Gusti Yesus malih. Cacahipun tansaya kathah, mila kedah sami mangertosi sinten piyambakipun lan manapa ingkang dipunpitadosi.

Makaten ugi kumpulan tiyang-tiyang pitados ing kitha Yope, ingkang gesang sesarengan lan sinau dados pandherekipun Gusti. Ing antawisispun, wonten satunggaling wanita ingkiang nggadhahi pengaruh ageng, utaminipun kangge para randha ingkang boten gadhah sumber pangupajiwa. Boten kados wanita-wanita lintunipun ing kitab Prajanjian Anyar ingkang boten dipunsebataken naminipun (anonim), wanita menika kasebatakanen kanthi jelas naminipun: Tabita ingkang artosipun Kidang. Ing basa Yunani ugi kasebat Dorkas, ingkang sami artosipun.

Tabita menika wanita mligi ingkang ing kitab Prajanjian Anyar kasebat mathetria (bentuk feminin saking mathethes ingkang ateges: murid). Sinten semahipun utawi menapa status nikahipun, Lukas boten nyebataken kanthi jelas. Nanging, menapa ingkang sampun dipuntindakaken ing gesangipun dipun serat:  „Wong wadon iku akeh banget panggawene becik lan anggone dedana (ay. 36)“ Katranganipun Lukas menika wigati krana wanita Yahudi ing kala semanten limrahipun boten saged mandiri ing satengahing donya patriarkhal (nengenaken tiyang jaler). Tabita benten. Kidang wadon menika lincah lan tanggon saengga krana pandamelan becikipun, boten namung nguripi piyambakipun, nanging ugi saged dados sumber kangge ngangkat drajadipun para randha ingkang ing kala samanten dipunanggep andhap.

Para wanita ing kala samanten gesangipun gumantung dhumateng tiyang kakung ing brayat : para putri gumantung dhumateng bapanipun, para pawestri gumantung dhumateng lakinipun. Para randha sampun boten gadhah semah ingkang mbiyantu nggadhahi akses ekonomi ingkang nengenaken para priya ing kala samanten. Mila, Lukas paring gegambaran bilih sedanipun Tabita ndadosaken pakempalanipun ngalami perkawis awrat. Para randha lajeng muwun kanthi sora, boten namung krana kecalan kanca, nanging amarga gesangipun kecalan pangupa jiwa. Pangajeng-ajengipun para randha menika katut pejah kaliyan Tabita. Nanging lumantar rasul Petrus, kuwaosipun Gusti kanyatakaken. Tabita kagesangaken malih lan pangajeng-ajengipun para randha menika katut gesang malih. Katresnanipun Gusti sumrambah dhateng sedaya tiyang, ugi dhateng para randha ingkang kasingkiraken.

Wahyu dhumateng Yohanes ugi paring pangajeng-ajeng ingkang sami, dene tiyang ingkang sangsara,  tatu lan ngadhepi pejah ingkang nyengsarakaken badhe dipuntebihaken saking sungkawa lan luh. Ing ngajengipun Sang Cempe, tiyang pitados badhe kagiring ing toya pigesangan lan gesang langgeng. Pangajeng-ajeng menika dhasaripun Sang Kristus ingkang maringaken nyawanipun kangge tebusan. Mila sanadyanta ing satengahing karisakan, sumadya berkah lan pangajeng-ajeng.

Samangke pitakenan refleksi kangge kita, sinten ingkang saged nampi janji menika lan menapa ingkang kedah katindakaken supados antuk panduman ing pakaryan kawilujengan menika?

Nalika tiyang Yahudi sami kepengen mesthekaken dhumateng Gusti bab ka-mesihan-ipun (kemesiasanNya), Gusti Yesus paring bukti lumantar pakaryan-pakaryanipun. Pakaryan-pakaryan menika awujud mukjizat-mukjizat lan piwulang-piwulang. Ndadosaken tiyang wuta saged ningali, ingkang budheg saged mireng lan ingkang lumpuh saged mlampah. Gusti ugi paring piwucal bab Hukum Toret kanthi kuwaos lan malah kala-kala paring pangerten enggal bab makna-nipun. Mila boten perlu malih njlentrehaken ngangge dhawuh. Nanging emanipun, tiyang-tiyang menika boten saged mireng lan ningali menapa ingkang dipundhawuhaken lan dipuntindakaken dening Gusti Yesus. Sanes krana boten mampu, nanging krana boten purun. Tiyang Yahudi sami milih boten dados mendanipun Sang Kristus. Menika ateges boten milih kangge nampi gesang langgeng.

Mila terwaca, sinten ingkang saged nampeni janji kawilujengan saking Sang Kristus inggih menika para menda kagunganipun. Para menda menika kagunganipun Sang Pangen, mila kedah nyelehaken dhiri, pepenginan lan tujuan ing ngandhaping karsa lan rancanganipun Sang Pangen. Ingkang pungkasan, menda kedah saged nitiki swantenipun Sang Pangen.

Kangge negesaken khotbah menika, mangga katuran nyetel video ing  https://www.youtube.com/watch?v=e45dVgWgV64

Panutup

Minangka tiyang ingkang ngakeni dados pandherekipun Sang Kristus, mangga sami mriksa dhiri lan gesang kita. Menapa sampun dados mendanipun Gusti ingkang temen-temen ngenali swantenipun Sang Pangen? Menawi dereng saged mirengaken Panjenenganipun, boten menapa…samia ngedhem batos ingkang asring rame, samia ngleremaken pikiran ingkang ruwet lan ngeningaken jiwa ingkang asring kaisenan pepenginan-pepenginan. Nalika swantenipun Sang Pangen boten saged kita pirengaken, menika boten krana Panjenenganipun boten nimbali kita, nanging krana batos lan kuping kita boten tengen dhumateng swantenipun.

Sugeng nglajengaken gesang kanthi ndherek timbalan pakarya kawilujengan saking Sang Pangen lan sugeng midhangetaken swantenipun Sang Juru Pangen ingkang Agung menika. Amin (terjemahan oleh dn)

Pamuji: KPJ. 202.

 

Renungan Harian

Renungan Harian Anak