Mengabarkan Berita Suka Cita Khotbah Minggu 4 Februari 2018

Minggu Biasa
Stola Hijau

 

Bacaan 1         : Yesaya 40: 21-31
Bacaan 2         : 1 Korintus  9: 6-13
Bacaan 3         : Markus  1: 29-39

Tema Liturgis : Injil Adalah Kuasa dan Terang Kemuliaan Tuhan
Tema Khotbah: Mengabarkan Berita Suka Cita

 

KETERANGAN BACAAN
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Yesaya 40: 21-31

Yes 40:21-31 merupakan bagian dari Yesaya kedua (Deutero Yesaya): pasal 40-55 yang ditulis ketika orang-orang Yehuda dalam pembuangan Babil yang segera akan mendapatkan pembebasan dari Tuhan melalui Raja Koresy (Cyrus) pada tahun 538 SM.  Betapa sulitnya memberitakan berita sukacita kepada bangsa yang terpuruk, berita pembebasan kepada orang-orang yang tertindas dan berita harapan kepada bangsa yang telah putus asa.  Keadaan mereka benar-benar seperti tulang-tulang kering yang berserakan (Yehezkiel ps 37).  Oleh karena itu pasal 40 dimulai dengan kata “Hiburkanlah!  Hiburkanlah dengan menggunakan bentuk kata kerja yang menyangatkan (dalam Bahasa Iberani dipakai kata kerja piel) dengan diulang sampai 2 kali.  Dalam bacaan kita ini ditandaskan betapa perkasanya Tuhan Sang Pembebas itu.  Dialah Sang Pencipta, Sang Pengatur, Sang Pemerhati umat-Nya.  Dia berkarya terus tanpa lelah dan memberi kekuatan kepada orang-orang yang menanti-nantikan Dia saja.

1 Korintus. 9: 6-13

Dihadapan orang-orang Kristen di Korintus yang menyangsikan dan mengkritik kerasulannya, Paulus membela dirinya dengan menunjuk kehidupan orang–orang Korintus di dalam Tuhan itu adalah bukti nyata kerasulannya.  Bahkan jikalau setiap orang yang bekerja mempunyai hak untuk mendapatkan upahnya, termasuk orang yang melayani di tempat kudus mendapat penghidupannya dari tempat kudus, yang melayani mezbah mendapat bahagian dari mezbah itu, maka orang yang memberitakan Injil juga harus hidup dari pemberitaan Injil itu.  Tetapi Paulus tidak menggunakan haknya itu supaya ia tidak merintangi pemberitaan Injil Kristus.  Di sana nyata bahwa tidak ada motivasi kepentingan duniawi.  Motivasinya semata-mata cintanya dan urgennya panggilan Kristus.

Markus 1: 29-39

Tuhan Yesus menyembuhkan berbagai penyakit, baik yang kelihatannya sepele seperti ibu mertua Petrus yang sakit demam, maupun berbagai penyakit yang diderita orang-orang yang malam itu berdatangan kepada Tuhan Yesus mohon disembuhkan.  Penyakit bagaimanapun dapat mengganggu, bahkan menjadikan orang tidak mampu melakukan kegiatan, bekerja dan melayani.  Di tengah kesibukan yang hebat itu, Tuhan Yesus menyendiri dan berdoa.  Doa merupakan kesempatan persekutuan, berdialog dan berkomunikasi dengan Tuhan Bapa-Nya ini sangat penting.  Sebab dari sanalah akan bercahaya terang, hikmat dan kekuatan, sehingga Dia dimampukan melakukan misi-Nya dengan sempurna.

BENANG MERAH TIGA BACAAN:

Sungguh tidak gampang bagi Yesaya memberitakan berita pembebasan di tengah bangsa yang terpuruk, demikian juga Paulus yang mendapat tantangan dari luar maupun dalam.  Tuhan Yesus meneladani untuk berdoa sebagai landasan untuk membagi damai sejahtera-Nya.

 

RANCANGAN KHOTBAH: Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan… bisa dikembangkan sendiri sesuai konteks jemaat)

Pendahuluan

Saudaraku yang dikasihi Tuhan dan mengasihi Tuhan, hanya karena anugerah Allah yang tidak terbataslah kita menerima keselamatan-Nya.  Konsekwensinya, Tuhan memanggil kita untuk memberitakan dan membagi keselamatan-Nya ini kepada semua orang di mana saja, kapan saja dan dalam situasi apa saja.  Itulah tugas dan panggilan yang hebat, tetapi ternyata juga tidak mudah.  Tugas dan panggilan yang memerlukan keseluruhan hidup kita, pikiran, perasaan (emphatic), perkataan dan tindakan.  Itulah yang dialami oleh Nabi Yesaya dalam Perjanjian Lama dan Paulus dalam Perjanjian Baru.

Panggilan memberitakan pembebasan di tengah bangsa yang terpuruk

Pada tahun 586 SM, setelah selama 10 tahun dikepung akhirnya Kerajaan Yehuda jatuh ketangan Kerajaan Babil dan orang-orang Yehuda dibawa ke pembuangan Babil.  Orang-orang ini mengalami krisis multi dimensi, seperti krisis ekonomi, social, budaya dan yang paling parah adalah krisis rohani.  Mengapa Tuhan membiarkan umat-Nya tertindas oleh bangsa yang tidak percaya Tuhan?  Masih adakah Tuhan?.  Mereka kecewa, putus asa dan hidup mencari selamatnya sendiri-sendiri.  Keadaannya benar-benar seperti tulang-tulang kering yang berserakan sebagaimana digambarkan oleh Nabi Yehezkiel, seorang nabi yang ikut terbuang bersama mereka (Yeh 37).  Mereka terserak, tanpa kehidupan dan tanpa harapan.

Di tengah situasi itu, seorang nabi, murid dari Mazab Yesaya bernubuat tentang pembebasan Yehuda yang waktunya sudah dekat.  Namun betapa sulitnya memberitakan berita sukacita ini di tengah bangsa yang terpuruk dan kehilangan harapan.  Oleh karena itu kata-kata yang dipakai adalah kata-kata kerja bentuk menyangatkan (dalam Bahasa Iberani: piel).  Hiburkanlah!  Hiburkanlah dengan sungguh-sungguh dan sesangat-sangatnya umat-Ku!  Tenangkanlah dengan sungguh-sungguh  hati Yerusalem (40:1,2).  Dengan seruan itupun mereka belum percaya, hingga dalam ay 10 dipakai kata: lihat!  Itu Allahmu yang datang dengan kekuatan!  Artinya begitu dekatnya hingga bisa dilihat.

Itupun mereka belum percaya dan bangkit, hingga dalam bacaan kita ini dipakai ungkapan yang lebih keras lagi.  “Tidakkah kamu tahu?  Tidakkah kamu dengar?  Tidakkah kamu mengerti?  Dia yang berkuasa mengangkat dan menurunkan pembesar-pembesar, hakim-hakim akan bertindak”!  (ay 23 dst.nya).  Ia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tidak berdaya! (ay 29).

Lebih sulit lagi apa yang dihadapi Rasul Paulus dalam mengabarkan Injil.  Ia tidak hanya menghadapi sulitnya orang-orang dari luar saja, melainkan juga orang-orang warga jemaat sendiri yang mengkritik dan menyangsikan kerasulannya.  Ada berbagai tuduhan negative tentang motivasi Paulus.

Syukur, Tuhan tidak takluk dengan keadaan dan sikap negative umat-Nya.  Rencana Tuhan tidak tunduk kepada pikiran, perasaan keputus asaan dan rancangan manusia.  Pada tahun 538 SM, atas dekrit Raja Koresj dari Persia yang mengalahkan Babil, orang-orang Israel dibebaskan untuk kembali keTanah Kanaan, tanah leluhurnya.  Ya berapa  kali umat-Nya kecewa, putus asa dan kehilangan kehidupan, tetapi Tuhan tidak pernah menelantarkannya.  Tuhan selalu datang pada waktunya memberikan pembebasan.  Betapa tidak mudahnya memberitakan berita pembebasan ini, namun berbahagilah yang dapat melihat, mendengar Tuhan datang dan bertindak, sehingga kita juga tidak ikut tenggelam dalam keputus asaan dan berbagai tantangan dalam membawa berita Injil itu.  Motivasi cinta akan Tuhan Yesus itu telah membebaskan Paulus dari berbagai motivasi yang rendah.  Sehingga walaupun dia mempunyai hak untuk menerima imbalan dari pekerjaannya mengabarkan Injil itu, tetapi dia tidak mau menggunakannya (ay 13-15).  Supaya semua itu tidak merintangi pemberitaan Injil Yesus Kristus.

Apa yang dialami Yesaya maupun Paulus itu juga sering menjadi pengalaman orang beriman saat ini dalam memberitakan berita pembebasan dan membagi damai sejahtera Tuhan.  Tidak jarang berbagai tantangan dan masalah itu menjadikan orang beriman terombang-ambing, gamang dan undur.

Pentingnya Doa Mendasari Pemberitaan Injil

Saudaraku, mengingat betapa banyaknya godaan, jebakan dan tantangan dalam mengabarkan Injil itu, dalam Markus 1:35 Tuhan Yesus selalu menyendirikan waktu untuk berdoa.  Waktu untuk doa itu tidak lama, namun waktu yang tidak lama itu sangat berarti untuk perjalanan hidup-Nya ke depan.  Dalam doa itulah Ia bersekutu dengan Bapa-Nya, berdialog dengan-Nya, merancangkan rencana bersama-Nya untuk semua kegiatan selanjutnya.  Karena doa itulah, Ia selalu mendapatkan kekuatan baru di tengah keletihan-Nya, kepuasan di tengah kekecewaan-Nya, hikmat di tengah berbagai jebakan dan godaan.  Sehingga Ia tidak tinggi hati ditengah puji-pujian, kecewa ditengah kritikan, menyimpang ditengah godaan.  Dia tetap teguh dalam melaksanakan Rencana Bapa langkah demi langkah hingga tuntas.

Saudaraku, Tuhan Yesus sebenarnya mengajari dan meneladani kita.  Betapa pentingnya dan menentukannya doa di tengah kesibukan dan pekerjaan kita dari hari ke hari.  Tidak memerlukan waktu yang lama, tetapi waktu yang sedikit itu akan menentukan pekerjaan, karya dan pelayanan, bahkan perjalanan hidup selanjutnya.  Seluruh kehidupan kita sebenarnya pekabaran Injil untuk menyaksikan berita sukacita dan membagi damai sejahtera-Nya.  Dalam doa kita bersekutu dengan Bapa, berdialog untuk melihat perjalanan panjang yang telah kita lalui, mawas diri dan menyerahkan kekurangan kita dan dosa kita kepada-Nya serta menyerahkan rancangangan kita ke depan, jalan panjang yang terpampang.  Dengan doa kita belajar dari kekurangan kita dan meningkatkan diri dengan kelebihan kita untuk menjadi makin bijaksana dan mengandalkan Tuhan saja.  Puja-puji dan kelebihan tidak menenggelamkan kita.  Kekurangan tidak memenjarakan kita untuk takut melangkah.  Godaan tidak menyesatkan kita.  Jebakan tidak menjadikan kita kehilangan arah.

Penutup

Adakah kita selalu menyendirikan waktu untuk bersekutu dengan Bapa?  Lebih-lebih justru di tengah kesibukan pekerjaan dan pelayanan?  Alangkah bahagianya.  Waktu hanya beberapa menit, tetapi akan menjadikan hidup kita bermakna.  Hidup kita terus tumbuh dalam hikmat, kasih dan kekuatan-Nya, sehingga makin berkualitas dan menjadi berkat.  Amin.    (BRU)

Nyanyian:  KJ.427

RANCANGAN KHOTBAH: Basa Jawi

Pambuka

Para sadherek kinasih, ingggih karana sih kanugrahaning Allah ingkang tanpa wates kemawon kita nampi kawilujenganipun Gusti.  Mila Gusti nimbali kita mbabaraken kawilujenganipun punika dhumateng saben tiyang ing pundia kemawon, kala punapa kemawon miwah ing kawontenan ingkang kados punapaa kemawon.  Pranyata sadaya punika mboten gampil.  Tugas miwah timbalan ingkang mekaten punika mbetahaken sakrandhuning gesang kita, pikiran, pangrasa (emphatic), pitembungan saha tindak-tanduk.  Bab punika dipun alami dening Nabi Yesaya ing Prajanjian Lami saha Rasul Paul ing Prajanjian Enggal.

Timbalanipun mbabaraken pangluwaran ing tengahing bangsa ingkang ajur

Sadherek kinasih, sasampunipun kinepung 10 tahun, pungkasanipun ing tahun 586 Sakderengipun Gusti Yesus, Kraton Yehuda dhawah ing panguwaosing bangsa Babil.  Tyang-tiyang Yehuda kabandhang dhateng Tanah Babil.  Bangsa bandhangan punika ngalami krisis ekonomi, social, kabudayan, lan ingkang paling nyedhihaken krisis rohani.  Kathah ingkang kecalan kapitadosanipun dhumateng Gusti Allah.  Menawi Allah punika wonten, kenging punapa Panjenenganipun negakaken umatipun katindhes dening bangsa ingkang mboten pitados dhumateng Allah?  Tiyang-tiyang punika kuciwa sanget, semplah lan ngupadosi wilujengipun piyambak-piyambak.  Kawontenanipun saestu kadosdene balung-balung aking ingkang sumebar kados ingkang kagambaraken dening Nabi Yehezkiel ingkang ndherek kabandhang sesarengan kaliyan tiyang-tiyang Yehuda punika (Yeh 37).  Gesang sumebar, tan wonten pagesangan miwah pangajeng-ajeng.

Ing saktengahing kawontenan punika, satunggaling nabi, murid saking mazab Yesaya ngabaraken pawartos bilh pangluwaraning Yehuda sampun celak sanget.  Ananging saiba angelipun martosaken pawartos kabingahan ing tengahing bangsa ingkang sampun ajur tanpa pangajeng-ajeng punika.  Mila tembung ingkang dipun ginakaken ing waosan kita punika ngginakaken tembung-tembung kriya ingkang nyangetaken (ing basa Iberani kasebat piel).  “Lipuren!  Iya lipuren!” kanthi temen-temen umatingsun, “atine Yerusalem ayemna!” (40:1,2).  Nadyan mekaten tiyang-tiyang punika mboten pitados, ngantos ing ayat 10 punika kaginakaken tembung: “Delengen, iku Pangeran Allah! Kang rawuh kalawan kekiyatan sarta ngasta pangwaos!  Artosipun sampun celak sanget saengga saged katingal !.

Sanadyan mekaten tiyang-tiyang Israel punika dereng pitados, mila ing waosan kita punika kaginakaken tembung ingkang langkung sereng malih.  “Kowe apa padha ora sumurup? Kowe apa padha ora krungu?  Panjenengane kang lenggah ing sakdhuwure bumi, kang mbeberake langit kaya lawon, kang ndadosake para panggedhe padha sirna, sarta para hakim ing ndonya padha tanpa guna, Panjenengane bakal tumindak!” (ayat 21-23).  “Panjenengane paring kakuwatan marang kang sayah lan paring tambahing karosan marang kang tanpa daya.” (ay 29)

Ingkang langkung awrat malih inggih ingkang dipun adhepi dening Rasul Paul ing saklebeting martosaken Injilipun Gusti.  Panjenenganipun mboten namung ngadhepi angelipun tiyang-tiyang saking njawi kemawon, ananging ugi ruwetipun warganing pasamuan ingkang ngritik lan ngragokaken kerasulanipun Paulus.  Kathah tudhuhan negative bab motivasinipun Paulus minangka rasulipun Gusti.

Syukur, Gusti Allah mboten tundhuk dhumateng kawontenan lan sikap negatifipun umatipun.  Rancanganipun Gusti mboten takluk dhumateng rancancangan, pikiran, pangrasa karana semplahing manahing manungsa.  Kala taun 538 Sakderengipun Sang Mesih, adhedhasar dhekritipun Sang Prabu Koresj saking Persia ingkang naklukaken Kraton Babil, tiyang-tiyang Israel punika kaluwaran, pareng wangsul dhateng Tanah Kanaan, tanahing leluhuripun.  Sampun kaping pinten para sadherek, nalika umatipun Gusti dhawah, kuciwa, semplah miwah kecalan pangajeng-ajeng sarta pigesangan, ananging Gusti Allah mboten nate negakaken.  Gusti Allah tansah rawuh ing wekdalipun maringi pangluwaran.  Pancen mboten gampil mbabaraken pawartos pangluwaran tumrap tiyang tiyang ingkang remuk lan sampun ajur mekaten.  Ananging saestu rahayu ingkang saged ningali, mireng saha ngalami Gusti ingkang rawuh lan tumindak.  Saengga kita mboten ndherek kabandhang ing saklebeting semplahing manah lan mawarni-warnining tantangan ing saklebeting mbagi pawartos rahayu.

Motivasi syukur sarta sih katresnan dhumateng Gusti Yesus ngluwari Paulus saking mawarni-warni motivasi ingkang asor.  Matemah sanadyan piyambakipun nggadhahi hak nampi imbalan krana pendamelan miwah peladosan ngabaraken Injil punika, ananging Paulus mboten kersa ngginakaken hakipun punika (ay 13-15).  Sadaya punika supados mboten ngganggu miwah ngalang-alangi tumindaking mbabaraken Injilipun Gusti Yesus.

Pengalamanipun Nabi Yesaya lan Rasul Paulus punika ugi asring dados pengalaman kita samangke.  Tantangan miwah masalah ingkang kados mekaten punika ugi asring ndadosaken tiyang pitados gamang, sayah miwah semplah, mundur saking tugas lan timbalanipun Gusti.

Pentingipun pandonga minangka dasaring martosaken pawartos rahayu (Injil)

Para sadherek kinasih, ngengeti kathahing panggodha, jebakan, tantangan miwah masalah ing saklebeting martosaken Injil, ing Injil Markus 1:35 mila Gusti Yesus tansah nyengkeraken wekdal kangge ndedonga.  Wekdal ndedonga punika mboten dangu.  Ananging ing wekdal ingkang mboten dangu punika dados wekdal ingkang nggadhahi artos ingkang ageng sanget tumrap lampahing gesang tumuju dinten ngajeng.  Awit ing saklebeting ndedonga punika Gusti Yesus tetunggilan kaliyan Ramanipun, wawan rembag kaliyan Sang rama, ngrancangaken sadaya aktivitasipun sesarengan kaliyan Ramanipun.  Karana punika Panjenenganipun tansah nampi kekiyatan enggal ing saktengahing sayah miwah lesu, nampi kawicaksanan miwah kawaskithan ing saklebeting jebakan lan panggodha saha nampi kanthi rila legawa ing saklebeting kuciwa.  Matemah mboten lajeng adigang, adigung, adiguna ing saktengahing pangalembana sarta kuciwa lan emosi ing saktengahing kritikan, punapa malih mblarah ing saktengahing panggodha.  Panjenenganipun tetep teteg, teguh ing saklebeting nindakaken Rancanganipun Sang Rama jangkah mbaka jangkah ngantos tuntas.

Para sadherek kinasih, saestunipun Gusti Yesus mucali saha nuladhani kita.  Iba pentingipun pandonga ing saktengahing karepotan lan pedamelan ing dinten-dinten kita.  Ndedonga mboten mbetahaken wekdal ingkang dangu, ananging wekdal ingkang sakedhik punika badhe namtokaken pandamelan, pakaryan lan peladosan kita, malahan lampahing gesang kita saklajengipun.  Saestunipun sarandhuning gesang kita punika minangka pekabaran Injil kangge nyekseni pawartos kabingahan miwah mbabaraken karahayonipun Gusti.  Ing pandonga kita tetunggilan kaliyan Sang Rama, rerembagan kangge ngulati lelampahan ingkang sampun kapengker, mawas dhiri saha masrahaken kekirangan lan dosa kita dhumateng Gusti sarta masrahaken lelampahan kita tumuju dinten ngajeng, margi ingkang badhe kita ambah.  Kanthi pandonga kita sinau saking kekirangan kita lan ningkataken potensi kita, matemah sangsaya wicaksana lan namung ngendelaken Gusti Allah piyambak.  Pangalembana miwah kaunggulan mboten ngeremaken kita.  Kekirangan mboten ngunjara kita ngantos ajrih jumangkah.  Panggodha mboten nyasaraken kita. Jireting mengsah mboten ndadosaken kita kecalan arah.

Panutup

Gesang mbabaraken pawartos rahajeng saestu kathah sanget tantanganipun.  Punapa kita tansah nyengkeraken wekdal tetunggilan kaliyan Gusti Yesus lan Sang Rama?  Iba rahayunipun.  Wekdal ingkang namung sawetawis menit punika ageng sanget artosipun tumrap gesang kita.  Gesang kita terus tuwuh ing kawicaksanan, sih katresnan miwah panguwaosipun Sang Rama.   Amin   (BRU)

Pamuji: KPK. 78: 1,2.

 

Bagikan Entri Ini: