Kuasa Tuhan Yesus Yang Sempurna Khotbah Minggu 28 Januari 2018

Bulan Penciptaan
Stola Hijau

 

Bacaan 1         : Ulangan 18: 15 – 20
Bacaan 2         : 1 Korintus  8: 1 – 13
Bacaan 3         : Markus 1: 21 – 28

Tema Liturgis  :  Alam Menunjukkan Tuhan dan Keselamatan-Nya
Tema Khotbah:  Kuasa Tuhan Yesus yang Sempurna

 

KETERANGAN BACAAN
(Tidak perlu dibaca diatas mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

 Ulangan 18:15 – 20

Musa mendapatkan tugas dari Tuhan Allah untuk memperingatkan umat Israel supaya menjaga kemurnian dan kekudusan umat dihadapan Tuhan. Maksudnya adalah supaya umat Israel hanya percaya dan menyembah Tuhan Allah saja (ay 13). Perintah ini penting mengingat tanah perjanjian ditinggali oleh orang-orang yang menyembah ilah-ilah lain bahkan praktek menduakan Tuhan dengan menyembah ilah-ilah itu. Dan untuk menjaga kemurnian umat, Tuhan tidak lagi datang dan menjumpai umat Israel sebab umat Israel sendiri merasa takut dan hidup dalam kengerian. Sebagaimana yang pernah umat Israel minta kepada Musa supaya jikalau Tuhan berkehendak memerintahkan seorang nabi seperti ketika mereka di gunung Horeb (ay 16).

Permintaan umat Israel tersebut dipandang baik oleh Tuhan sehingga Tuhanpun mengabulkan permintaan itu ketika mereka tinggal ditanah perjanjian (ay 17). Karena itulah, Tuhan Allah akan membangkitkan seorang nabi dari antara orang-orang Israel. Artinya, dari sekian banyak orang Israel akan dipilih orang khusus yang diberi tugas menjadi penyambung lidah Tuhan dengan tugas menyampaikan firman Tuhan. Ayat 18 secara khusus menyebutkan tugas nabi itu yaitu bahwa dia akan menyampaikan segala perintah Tuhan kepada umat Israel. Dan jikalau umat Israel tidak mendengarkan perintah yang disampaikan Tuhan melalui nabi itu maka Tuhan menuntut penghukuman kepada umat itu. Demikian sebaliknya, jikalau nabi itu menyampaikan perintah diri sendiri tetapi mengatasnamakan Tuhan maka Tuhan sendiri yang akan membinasakan nabi tersebut.

Dari bacaan ini kita melihat betapa rawannya seorang nabi karena dia bisa memanipulasi firman Tuhan. Namun Tuhan sendiri yang akan memberikan hukuman kepada nabi yang demikian tersebut. Demikianlah kita melihat posisi seorang nabi yang ditunjuk Tuhan adalah orang yang dikhusukan untuk menjadi perantara Tuhan dengan umat Israel.

 

1 Korintus 8: 1 – 13

Kembali lagi perselisihan diantara jemaat Korintus mengemuka dalam perikop kita kali ini. Pertikaian itu kini berkaitan dengan boleh atau tidak boleh memakan daging korban dikuil persembahan. Ini tentu dilatarbelakangi adanya orang-orang disekitar warga jemaat Korintus yang mempraktekkan korban persembahan di kuil. Setelah daging korban dipersembahkan kepada dewa-dewa di kuil maka ada sebagian orang yang mengkonsumsinya. Perihal itulah muncul pro kontra diantara umat Kristen Korintus. Ada sebagian yang menyebutkan bahwa hal demikian berdosa dan dilarang tetapi ada sebagian yang berpahaman tidak ada masalah selama tidak ikut pemujaan dikuil itu.

Ditengah kondisi pro dan kontra itulah, Paulus mengingatkan jemaat Korintus bahwa ukuran yang dipergunakan adalah pengetahuan (eido –Yunani). Pengetahuan tersebut dikaitkan dengan iman dan pengenalan kepada Yesus Kristus sebagai satu-satunya Tuhan. Artinya, jika kita hanya percaya kepada Yesus Kristus sebagai satu-satunya Tuhan maka perihal makan atau tidak makan daging korban bukan lagi masalah. Sebab “makanan tidak membawa kita lebih dekat kepada Allah.”(ay 8). Dengan bahasa lain yang terpenting adalah percaya bahwa hanya Tuhan Yesus Kristus sebagai satu-satunya Allah sehingga mau memakan daging korban dikuil atau tidak jangan sampai menjadikan iman kepada Tuhan Yesus itu berubah.

Namun toh walau demikian, perlu juga dipikirkan dampaknya andai kita memakan daging korban dikuil bagi orang lain. Oleh sebab itulah Paulus mengajarkan bagi mereka yang memiliki pengetahuan iman yang benar tersebut juga jangan seenaknya bersikap karena akan menjadi ukuran bagi orang lain disekitarnya. Jangan menjadi batu sandungan. Sikap yang bijak dalam hal makanan adalah: jangan menjadikan apa yang kita makan justru menjadikan yang lain justru kehilangan imannya (13).

 

Markus 1: 21 – 28

Setelah memanggil Simon, Andreas,Yakobus dan Yohanes di danau Galilea, Tuhan Yesus melanjutkan perjalanan menuju Kapernaum. Kebetulan bersamaan dengan itu tibalah hari Sabat yaitu hari perhentian dimana setiap orang datang untuk beribadah kepada Tuhan. Pada hari inilah rumah ibadah ramai dikunjungi oleh umat. Dalam konsisi rumah ibadah yang ramai pengunjung itulah Tuhan Yesus juga datang ke tempat ibadah di Kapernaum tersebut. Kedatangan tuhan Yesus bukan sekadar beribadat tetapi lebih dari itu Ia mengajar. Juga bukan sekadar mengajar karena Tuhan Yesus mengajar penuh dengan kuasa. Pengajaran itu mampu membius dan menjadikan semua yang hadir ditempat ibadat itu terkagum-kagum dan takjub.

Tidak berselang lama, ditempat yang sama (tempat ibadah itu) ada seorang yang kerasukan roh jahat. Bisa dibayangkan dalam tempat itu ada demo kuasa antara kuasa Tuhan Yesus dalam mengajar dan kuasa roh jahat yang mengganggu orang beribadat diwaktu hampir bersamaan. Mungkin juga ini tipe yang selalu terjadi bahwa dimana ada kuasa Tuhan dinyatakan disitu juga si jahat juga tidak tinggal diam. Rumah ibadat dimana umat memuja dan menyembah Tuhan juga demikian si jahat datang untuk mengacaukan orang yang datang beribadat.jadi ada semacam peperangan kuasa dalam rumah ibadat. Demikian juga dirumah ibadat Kapernaum itu rupanya peperangan kuasa itu benar terjadi.

Peperangan kuasa disini bukan peperangan kekuatan untuk menunjukkan mana yang kuat mana yang kalah tetapi peperangan kuasa ditempat ibadat itu adalah peperangan simpati atau perhatian dari umat yang datang. Ketika Tuhan Yesus mengajar dengan penuh kuasa simpati orang yang hadir ditempat ibadat semua tertuju kepada Tuhan Yesus. Namun roh jahat juga tidak tinggal diam, roh jahat itu ingin merebut perhatian umat yang hadir dengan merasuki orang yang hadir disitu. Ini nampak dengan sikap orang yang kerasukan yaitu berteriak keras seraya mengajukan protes tentang kedatangan Tuhan Yesus ketempat itu (ay 23-24).

Apakah karena si jahat ketakutan kepada kuasa Tuhan Yesus ? Mungkin saja tetapi mengapa dia berteriak tentang sejatinya Tuhan Yesus didepan banyak orang ? Mengapa bukan saat Tuhan Yesus berhadapan muka dipadang gurun ? Disinilah patut kita menyimpulkan, bahwa antara si jahat dengan Tuhan Yesus sedang berebut perhatian dari setiap orang yang jahat. Melihat strategi yang dipakai si jahat dengan membongkar jati diri Tuhan Yesus maka Tuhan Yesus mengambil sikap dengan tegas untuk menghardik roh itu keluar dari tubuh orang itu. Selesaikah itu ? Ternyata tidak sebab perlawanan keras dilakukan oleh roh jahat itu dengan menggoncang-goncangkan tubuh orang yang kerasukan seraya berteriak-teriak. Walaupun akhirnya roh jahat itu menyerah kalah dan keluar dari tubuh orang yang kerasukan itu. Jadi memang ada peperangan tetapi bukan peperangan kekuatan sebab roh jahat itu menggunakan senjata lain yaitu ingin membongkar sejatinya Tuhan Yesus yang adalah Allah itu sendiri. Dan peperangan ini diarahkan untuk mencari perhatian setiap orang yang datang dalam tempat ibadah itu.

Kembali Tuhan Yesus mendemontrasikan kuasa bukan hanya dalam hal pengajaran tetapi juga kepada kuasa roh jahat. Kisah ini kemudian menjadi buah bibir diantara orang yang datang dirumah ibadah itu dan sampai akhirnya menjadi cerita yang tersebar ke seluruh Galilea.

 

BENANG MERAH TIGA BACAAN

Allah berkuasa atas segala kuasa. Kekuasaan Allah yang besar ini sebagai undangan bagi setiap orang untuk mengimaninya dengan sungguh-sunngguh supaya tidak ada lagi kemenduaan kepada kuasa lainnya. Dalam iman kepada kuasa Allah ini kita diberi tugas supaya menjadi teladan bagi orang lain untuk semakin dekat dan percaya kepada Tuhan bukan menjadi batu sandungan bagi orang lain.

 

RANCANGAN KHOTBAH: Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan…bisa dikembangkan sendiri sesuai konteks jemaat)

 

Kuasa Tuhan Yesus

Disebuah keluarga Kristen setiap anggota keluarga selalu diajari untuk berserah kepada Tuhan Yesus. Terlebih lagi pengajaran itu bagi anak-anaknya. Setiap anak jatuh dan merasakan sakit, orang tuanya selalu memeganginya sambil berkata: “di dalam nama Tuhan Yesus, sembuh.” Dan anak yang kesakitan itupun berangsur menghentikan tangisan kesakitan dan segera beranjak bermain lagi. Demikian juga saat anak merasa tidak enak badan dan berceritera kepada orang tuanya maka kata yang sama diungkapkan orang tuanya: di dalam nama Tuhan Yesus, sembuh.

Saat anak merasa ketakutan ke kamar mandi sendiri, orang tua kembali mengingatkan: ada Tuhan Yesus kok takut, ayo sebut saja dalam nama Tuhan Yesus pasti setan dikalahkan. Beranjak dewasa anak ini sedemikian lekat dengan nama dan kuasa Tuhan Yesus. Bahkan saat hatinya gentar menghadapi ujian maka dalam hati anak itupun menyebut: dalam nama Tuhan Yesus. Saat bekerja dan merasa bebannya berat anak itu kembali menenangkan hatinya dengan mengatakan: di dalam nama Tuhan Yesus.

Jemaat yang terkasih, ini adalah pelajaran sederhana dan yang umum kita lakukan kepada anak-anak kita untuk mengajarkan bahwa Tuhan Yesus itu berkuasa diatas segala kuasa. Dan karena kita selalu bersama dengan Tuhan Yesus yang berkuasa maka kita melakukan berbagai hal dalam kehidupan ini. Sederhana, tetapi itu menjadikan kita berani bahkan tenang dalam segala kondisi. Tentu saja merasakan kuasa Tuhan Yesus itu atas kesadaran dan penyerahan diri bukan sekadar diucapkan dibibir saja. Seiring kematangan diri tentu pula membawa kita semakin memahami dan menghayati iman kepada Tuhan Yesus.

 

Jangan Menghalangi Kuasa Tuhan

Jemaat yang terkasih dalam Tuhan,

Tentu sebagai orang Kristen, kita juga memahami bahwa kuasa Tuhan Yesus tiada terkalahkan dengan kuasa apapun juga. Ini sangat baik, namun bagaimana penghayatan itu dapat diejawantahkan dalam sikap hidup sehari-hari sebagai orang beriman ? Disinilah dibutuhkan perwujudan iman kita yang sebenarnya atas pengakuan bahwa Tuhan Yesus berkuasa diatas segala kuasa. Untuk mewujudkan itu tidak mudah dan tidak sederhana sebab setiap hari kita diperhadapkan muka dengan berbagai kuasa-kuasa yang terlihat hebat dan luar biasa. Melalui demonstrasi-demontrasi kuasa baik yang dilakukan atas nama agama maupun atas nama apapun. Apalagi ketika demonstrasi kuasa itu berjubahkan hamba Tuhan entah pendeta ataupun juga orang Kristen lainnya. Tentu menjadi sangat sulit bagi kita untuk mengetahui mana kuasa Tuhan Yesus dan mana kuasa yang bukan Tuhan Yesus.

Godaan untuk memanipulasi kuasa Tuhan memang tantangan seorang hamba Tuhan. Bahkan hal itulah yang diingatkan oleh Tuhan melalui Musa ketika hendak membangkitkan seorang nabi. Dalam bacaan pertama kita melihat memang seorang nabi adalah seorang manusia biasa yang hadir dari antara penduduk Israel. Nabi menjadi penyambung lidah Allah kepada umatnya sehingga apapun yang disampaikan kepada umat haruslah bersumber dari pertintah dan firman Allah. Namun demikian jikalau ada nabi yang mengatsnamakan Allah padahal Allah tidak memerintahkan dan berfirman demikian maka nabi itu harus disingkirkan.

Sebenarnya dalam bacaan satu ini kita melihat betapa riskan dan rentannya penyalahgunaan peran seorang nabi. Dengan bahasa yang lebih jelas, Paulus dalam bacaan kedua malah menyebut bahwa hamba Tuhan adalah orang yang berpengetahuan. Dan hamba Tuhan itu jangan pernah menjadi batu sandungan bagi yang lainnya. Tentu konteksnya memang bukan dalam peran seorang nabi, namun memang diingatkan dengan jelas bahwa menjadi batu sandungan bagi orang lain adalah sebuah larangan. Dalam kedua bacaan inilah saya harus mengatakan bahwa semua perilaku baik seorang nabi maupun orang yang berpengetahuan benar tentan Tuhan Yesus bertugas mengarahkan dan menghantarkan orang lain untuk datang kepada Tuhan. Datang kepada Tuhan berarti mengakui kuasa dari Tuhan Yesus sendiri diatas kuasa dirinya.

Dalam konteks hidup kita hari ini, tandingan atas kuasa Tuhan Yesus lebih banyak adalah kuasa diri sendiri bukan kuasa roh jahat atau kuasa ilah-ilah lain. Kuasa diri sendiri tersebut adalah ketika kita mulai tergoda untuk menjadi pusat perhatian dan bahkan menjadikan orang lain imannya bergantung kepada diri kita. Orang ingin doanya terjawab, minta kita yang berdoa karena kita dianggap lebih dekat dengan Tuhan. Orang butuh pengajaran minta kita yang berkhotbah karena dianggap khotbah kita lebih diurapi Tuhan. Pemujaan diri sendiri yang demikian inilah yang hari ini sering terjadi sehingga ketika kita beriman: kuasa Tuhan Yesus diatas segala kuasa, harusnya juga menjadikan diri sendiri tidak mengalihkan iman orang lain kepada kuasa Tuhan Yesus.

 

Berfokus Kepada Kuasa Tuhan Yesus

Belajar dari Markus 1:21-28 maka kita semakin tahu bahwa kuasa Tuhan sering sekali teralihkan kepada kuasa lain. Dalam Injil Markus tersebut kuasa Kristus dialihkan oleh kuasa roh jahat yang merasuki orang ditempat ibadah itu. Si jahat tidak pernah terima jikalau orang-orang berfokus kepada kuasa Tuhan Yesus sehingga berupaya mengalihkannya dengan mencari perhatian. Orang kerasukan itu berteriak-teriak dan mengaku menenal sejatinya Tuhan Yesus bahwa Ia adalah Yang Kudus dari Allah (ay 24). Dari sini kita lihat bahwa si jahat saja juga mengenal siapa sejatinya Tuhan Yesus. Artinya, si jahat yang selama ini dianggap sebagai antitesa kuasa Tuhan mengakui keberadaan dan kuasa Tuhan tetapi tetap saja melawan. Perlawanan itu adalah dengan mengalihkan perhatian orang banyak dari Tuhan Yesus kepada dirinya. Di sini kita diingatkan lagi bahwa tidak cukup percaya dan tahu siapa sejatinya Tuhan Yesus itu karena tugas kita adalah justru percaya kita itu yang membawa kita untuk semakin memuliakanNya.

Demikian juga, kita sekalian dikehendaki bukan hanya sekadar percaya tetapi lebih dari itu adalah memusatkan diri kita kepada Tuhan Yesus yang berkuasa itu. Undangan kita saat ini adalah undangan tidak mengalihkan perhatian kita kepada kuasa lainnya apalagi hanya sekadar tahu bahwa Tuhan Yesus berkuasa. Kita harus tetap berfokus kepada kuasa Tuhan Yesus dalam menjalani kehidupan ini. Ketika dalam kehidupan sehari-hari kita hanya berfokus kepada Tuhan Yesus saja maka segala kuasa yang hendak mengalihkan perhatian kita pasti sirna. Dengan hanya memandang kuasa Tuhan Yesus maka apapun tantangan dan kuasa yang mencoba menghancurkan kita pasti akan sirna sebab memang Tuhan Yesus memiliki kuasa diatas segala kuasa yang ada disorga maupun dibumi. Dengan menjadikan kuasa Tuhan Yesus yang menguasai kehidupan kita maka hidup kita akan berkemenangan dan menjadi berkat bagi seluruh ciptaan.

Tuhan Yesus berkuasa atas segala kuasa, ya itu benar. Dan kuasa Tuhan itu bekerja dengan cara yang sederhana yaitu ketika kita tidak mengalihkan perhatian kita kepada kuasa lainnya. Hanya berpusat kepada Tuhan Yesus saja maka kuasanya yang sempurna bekerja atas kehidupan kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.(to2k)

 

Nyanyian:  KJ. 341


RANCANGAN KHOTBAHBasa Jawi

Kuwaosipun Gusti Yesus

Wonten ing brayat Kristen tamtu saben perangan anggotanipun tansah dipun gulawentah pasrah dumateng panguwaosipun Gusti Yesus. Punapa malih dumateng para bocah, piwucal babagan punika tamtu asring dipun wucalaken. Saben bocah dawah lajeng nangis ngraosaken sakit, tiyang sepuh lajeng gendong lan dawuh: “ing dalem asmanipun Gusti Yesus waras.” Bocah ingkang nangis krana ngraosaken sakit punika lajeng mendel lan dolanan malih. Mekaten ugi nalika bocah sambat badanipun sakit utawi sirahipun kraos ngelu, tiyang sepuh tamtu dawuh: ing dalem asmanipun Gusti Yesus, saras….

Menawi bocah saweg ajrih dhateng kamar mandi piyambak, tiyang sepuh ngemutaken malih: onok Gusti Yesus kok wedi, ayo nyebut asmane Gusti Yesus wae pasti setan kalah. Tumuju dewasa para putra tamtu sansaya rumaket kaliyan asmanipun Gusti Yesus ingkang kuwaosipun agung punika. Nalika raos sumelang badhe ngadepi testamen, para putra punika tamtu wonten manahipun anyebat: ing dalem asmanipun Gusti Yesus. Nalika makarya lan ngraosaken momotan awrat, para putra ngeremaken manahipun kanthi nyebat asamnipun Gusti Yesus.

Pasamuwan kinasihipun Gusti,sedaya kala wau estunipun piwucal sederhana tumrap para putra ingkang nedahaken bilih Gusti Yesus punika anggadahi panguwaos ingkang agung nglangkungi sedaya panguwaos. Awit kita tansah sesarengan kaliyan Gusti ingkang maha kuawaos punika kita ngayahi sedaya ayahan wonten ing gesang kita. Sederhana, ananging ngleremaken manah lan dadosaken kita kendel ing sedaya kahanan. Tamtu ngraosaken panguwaosipun Gusti Yesus punika awit pitados lan psrah kita dumateng Gusti lan menawi kita angucapaken asmanipun Gusti Yesus kanti tulusing manah. Sansaya kita dewasa tamtu sansaya andadosaken kita san saya mengertosi lan ngraosaken kepitadosan dumateng Gusti Yesus.

 

Aja Ngaling-alingi Panguwasane Gusti

Pasamuwan kinasihipun Gusti,

Tamtu minangka tiyang Kristen kita pitados bilih panguwaosipun Gusti Yesus punika tan tanding kaliyan panguwaos punapa mawon. Punika wanci elok ananging kados pundi pemanngih iman kita punika dipun ejawantahaken kaliyan tumindhak kita? Ing mriki kita betahaken buktinipun ingkang nedahaken kepitadosan kita dumateng Gusti ingkang maha kuawaos punika. Tamtu babagan punika boten gampil lan sederhana awit saben dinteng kita manggihi kuwaos ingkang manekawarni ingkang glebyaripun maedap-edapi. Malah wonten demontrasi panguwaos punika ugi asring atas name agami. Punapa malih bilih ingkang nidhakaken para abdinipun Gusti sae punika pendeta utawi warga sanesipun. Lajeng ing mriki kita asring bingung, pundi pungawosipun Gusti lan pundi panguwaos ingkang sanes saking Gusti.

Goda manipulasi panguwaosipun Gusti Yesus punika dados perangan awrat tumrapipun abdinipun Gusti. Pramila wonten ing waosan sepindah nabi Musa dipun emutaken dening Gusti bilih bade wonten wancinipun Gusti Allah ngangkat nabi ing antawisipun umat Israel. Nabi punika manungsa limrah ingkang kapiji saking antawisipun umat. Lan nabi punika ingkang dados wakilipun Gusti Allah gelaraken dawuh lan kersanipun Allah. Pramila sedaya ingkang dipun wartosaken dening nabi punika underanipun anamung saking dawuh lan kasanipun Gusti Allah. Menawi wonten nabi ingkang medar sabda ananging boten saking Gusti Allah, nabi punika estunipun kedah dipun sirnakaken.

Saking waosan satunggal punika kita sinau malih babagan riskan lan rentanipun abdinipun Gusti angginakaken panguwaos diri pribadi ngatas asmanipun Gusti. Paulus malah langkung gamblang malih awit abdinipun Gusti ing waosan kalih punika inggih punika tiyang ingkang wasis lan wicaksana. Abdinipun Gusti punika sampung ngatos dados pambengan anggenipun tiyang sanes dherek Gusti. Ateges sedaya tumindhakipun abdinipun Gusti kedah paring tulada kagem tiyang sanes. Tamtu konteks serat Paulus dhateng pasamuwan Korinta punika sanes gegayutan kaliyan bab nabi kados dene waosan setunggal. Ananging saking kalih waosan punika kita sansaya mangertosi bilih abdinipun Gusti Allah kajibah pakaryan andadosaken sedaya tiyang sansaya wanuh lan caket kaliyan Gusti Allah. Rumaket kaliyan Gusti ateges bilih pitados bilih Gusti Yesus anggadahi panguwaos nglangkungi sedaya panguwaos ing alam donya.

Wonten ing pigesangan kita padintenan, panguwaosipun Gusti Yesus asring keblidru panguwaos diri pribadi sanes panguwaosipun roh jahat. Panguwaosipun diri inggih punika nalika kita sampun kaguda ngaling-alingi Gusti kempingin sedaya tumuju kagem diri piyambak malah dadosaken tiyang sanes muja diri kita ugi. Menawi wonten tiyang nyenyuwun dhateng Gusti kedah langkung donga kita awit donga kita dipun anggep paling mandhi karana kita nganggep langkung raket kaliyan Gusti. Tiyang betah piwucal kedah kita ingkang khotbah awit khotbah kita kaanngep dipun ijabahi Gusti. Muja diri pribadi ingkang makaten punika asring dadosaken panguwaosipun Gusti malah kaaling-alingan. Menawi kita pitados bilih panguwaosipun Gusti Yesus nglangkungi sedaya panguwaos tamtu dadosaken kita sansaya sumuyud ing panguwaosipun Gusti lan mboten ngaling-alingi kapitadosanipun tiyang sanes.

 

Tumuju Dhumateng Panguwaosipun Gusti Yesus

Sinau saking Markus 1:21-28, kita sansaya mangertosi bilih panguwaosipun Gusti Yesus asring kalindih dening panguwaos sanesipun. Wonten ing Markus dipun cariyosipun bilh panguwaosipun Gusti Yesus kaalihaken dening panguwaosipun dhemit ingkang ngaslupi sawetawis piyantun ing dalem pamujan mriku. Dhemit boten nate rila bilih manungsa punika saweg anamung tumuju dumateng panguwaosipun Gusti Yesus kemawon. Pramila dhemit punika reridu dumateng tiyang kathah. Malah piyantun ingkang saweg kapanjingan dhemit punika nguwuh-uwuh lan ngaken bilih wanuh kaliyan Gusti Yesus inggih menika: ingkang asipat suci kagunganipun Gusti Allah (ay 24). Dhemit kemawon wanuh dumateng sejatosipun Gusti Yesus ananging tetep kemawon dados reribetipun pakaryanipun Gusti Yesus. Ing mriki kita dipun imutaken, boten cekap anamung pitados sinten Gusti Yesus ananging pengaken pitados kita menika kedahipun sansaya andadosaken kita sarana kagem pakaryanipun Gusti.

Sak mangke kita kaparingan timbalan supados namung mandeng dumateng Gusti Yesus kemawon. Gesang kita tumuju lan anamung kagem kemulyanipun Gusti supados panguwasanipun Gusti ingkang agung munika ingkang tansah ngirid gesang kita. Bilih kita anamung mandeng dumateng panguwaosipun Gusti Yesus tamtu panguwaos sanes ingkang reribet kasirnakaken saking pigesangan kita awit wanci panguwaosipun gusti Yesus nglangkungi sedaya panguwaos sae ing swarga mekaten ugi ing bumi. Kanthi andadosaken panguwaosipun Gusti Yeusu underan gesang kita tamtu kita gesang ing kasampurnan lan dados berkat tumrap sedaya titah.

Panguwaosipun Gusti Yesus nglangkungi sedaya panguwaos, menika estu leres. Lan panguwaosipun Gusti Yesus menika kagelar kanthi madya inggih punikan bilih kita anamung gesang tumuju lan mandeng Gusti kemawon boten kebidung panguwaos sanesipun. Awit kumandel lan mandeng panguwaosipun Gusti Yesus kemawon gesang kita tamtu ngraosaken panguwaosipun Gusti ingkang sampurna. Gusti berkahi kita sami. Amin. (to2k)

Pamuji: KPJ. 106

 

Bagikan Entri Ini: