Membangun Sikap dan Perilaku Khotbah Minggu 4 Agustus 2019

Perjamuan Kudus Pembangunan GKJW
Stola  Putih

 

Bacaan 1 : Pengkhotbah 1 : 2, 12 – 14 , 2 : 18 – 23
Bacaan 2 : Kolose 3 : 1 – 11
Bacaan 3 : Lukas 12 : 13 – 21

Tema Liturgis  : Membangun Diri dalam Kasih Menuju Kemandirian dan Menjadi Berkat
Tema Khotbah:  Membangun Sikap dan Perilaku

 

KETERANGAN BACAAN :
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Pengkhotbah 1 : 2, 12 – 14 ; 2 : 18 – 23.

Penulis kitab Pengkhotbah 1 : 12 menyatakan sebagai raja Israel atas Yerusalem, berpikir bahwa di dunia ini ada banyak hal yang sia-sia. Dengan hikmat yang dimiliki, sang Pengkhotbah mengamati pekerjaan yang dilakukan manusia, dan ternyata itu  sia-sia. Jika seseorang telah meninggal dunia, maka apa yang pernah dia lakukan akan dinikmati oleh generasi berikutnya. Jika orang melakukan apapun hanya untuk dirinya sendiri, maka pada akhirnya dia akan merasa sia-sia.  Kalau begitu, untuk apa dia berlelah-lelah melakukan banyak hal jika akhirnya akan menjadi sia-sia?

Dijelaskan juga (pada ayat 22, 23) bahwa meskipun manusia memiliki berbagai keinginan, atau merasakan kesedihan yang luar biasa, itu akhirnya juga akan sia-sia. Demikian juga di saat orang merasa tidak tenteram, itupun sia-sia karena jika semuanya berakhir, maka rasa tidak tenteram itupun akan menjadi sia-sia.

 

Kolose 3 : 1 – 11.

Pada bagian ini Rasul Paulus menekankan bahwa jemaat di Kolose sudah menjadi ciptaan baru di dalam Tuhan Yesus (ayat 3). Sebagai ciptaan baru, sudah semestinya jika mereka juga memberlakukan cara hidup baru sebagaimana sudah diteladankan oleh Kristus. Dengan demikian orang tidak lagi hanya memikirkan hal-hal duniawi saja (apa yang dia inginkan), tetapi justru melakukan apa yang dikehendaki oleh Kristus (memikirkan hal-hal yang di atas).

Di ayat 5-7 Paulus menyebutkan berbagai perbuatan yang cenderung menuruti keinginan manusiawi atau disebut sebagai perbuatan manusia lama (sebelum mengenal Kristus). Paulus mengatakan bahwa seharusnya semua perbuatan itu sudah berlalu. Dengan penebusan Kristus, maka manusia dimampukan untuk mengubah perilakunya sebagai manusia baru yang meneladani Kristus. Di ayat 8-10 Paulus juga menyebutkan berbagai perbuatan manusia baru. Untuk memberlakukan semua perbuatan manusia baru itu memang tidak ada perbedaan berdasarkan ras, suku bangsa, agama, status sosial, dll. Semua orang berhak diselamatkan oleh Kristus. Dan kepada mereka yang telah diselamatkan itu memang harus mengubah perilaku hidupnya dengan memberlakukan pola hidup manusia baru. Untuk hidup sesuai dengan kehendak Kristus, yaitu menjadi manusia baru, hal itu membutuhkan proses selama hidup.

 

Lukas 12 : 13 – 21.

Ayat 13, 14 menunjukkan adanya orang yang bisa menjadi tidak rukun dengan saudaranya karena masalah harta warisan. Seseorang menuntut pembagian warisan, sementara saudaranya tidak mau berbagi. Masing-masing orang menganggap bahwa harta warisan itu sedemikian pentingnya dalam hidupnya. Orang bisa menjadi tamak dan cenderung ingin menguasai seluruh hartanya.

Pada ayat 15 Tuhan Yesus mengingatkan bahaya ketamakan. Orang yang tamak beranggapan bahwa harta adalah segalanya. Tetapi Tuhan Yesus mengajarkan bahwa hidup jauh lebih berarti daripada segala harta. Manusia tidak bisa menggantungkan hidupnya pada harta, melainkan hanya kepada Allah. Orang yang menggantungkan hidupnya pada harta adalah orang bodoh.

Tuhan Yesus lalu menjelaskan pernyataanNya itu dengan memberikan sebuah perumpamaan tentang orang kaya yang bodoh di ayat 16-21. Bagi orang kaya ini, harta hanya untuk memenuhi dan memuaskan dirinya sendiri baik di masa kini maupun masa yang akan datang. Dia beranggapan bahwa dengan hartanya dia akan bisa melakukan apapun atau tidak perlu melakukan apapun. Dia lupa bahwa hidupnya jauh lebih penting dari segalanya. Sebanyak apapun hartanya, sebanyak apapun rencana untuk hari depannya, tetapi jika nyawanya diambil, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Segala harta dan rencananya menjadi sia-sia. Hal ini dikarenakan semasa hidupnya dia hanya berpikir bahwa semua hartanya adalah untuk dirinya sendiri. Dia sama sekali tidak berpikir untuk berbagi.

Menjadi kaya di dunia saja belumlah cukup. Orang juga harus kaya di hadapan Allah. Caranya adalah dengan tidak menganggap bahwa harta adalah segalanya, melainkan Allah adalah segalanya. Hidup jauh lebih berarti dari segala harta. Oleh karena itu, jika orang masih dikaruniai hidup, dia harus bersyukur kepada Allah, dia harus membangun hidupnya menjadi berguna bagi orang lain.

 

Benang Merah Ketiga Bacaan:
Agar hidup tidak menjadi sia-sia, setiap orang harus membangun diri dengan terus-menerus memperbarui hidupnya.

 

RANCANGAN KHOTBAH: Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan… bisa dikembangkan sendiri sesuai konteks jemaat)

Pendahuluan

Dalam membangun suatu gedung pasti dibutuhkan material, tenaga dan sikap perilaku tukang dan kulinya. Semuanya tentu dibutuhkan. Tetapi jika diurutkan kepentingannya, manakah yang lebih utama antara material, tenaga dan sikap perilaku? (Silahkan umat memberikan jawaban!) Jika semua material sudah tersedia, tetapi tidak ada tenaga yang mengerjakannya, maka pembangunan gedung itu tidak bisa dilaksanakan. Bagaimana jika semua material dan tenaga tersedia, namun tukang dan kulinya malas atau asal-asalan saja mengerjakannya? Tentu gedung itu juga tidak akan terbangun dengan baik, pembangunannya akan membutuhkan waktu yang lebih lama dan biaya yang lebih besar dari yang seharusnya, atau bahkan setelah selesai dibangun, gedung itu segera runtuh atau rusak. Jika dampak terakhir ini terjadi, maka material dan tenaga yang besar harganya itu akan jadi sia-sia. Jadi yang utama dalam pembangunan adalah sikap dan perilaku.

 

Isi

Begitu pulalah dalam membangun kehidupan negara, gereja, keluarga atau bahkan kehidupan pribadi. Material atau harta benda memang dibutuhkan, tetapi itu bukanlah yang utama. Pengutamaan harta benda dalam pembangunan kehidupan akan menimbulkan sikap dan perilaku tamak. Itulah yang diingatkan oleh Tuhan Yesus dalam bacaan Injil kita.

Orang yang tamak akan menggantungkan hidupnya pada harta benda. Sehingga segala cara dilakukan untuk memperoleh harta benda sebanyak-banyaknya, bahkan tidak peduli akibatnya. Orang yang tamak tidak peduli kepada orang lain, bahkan kepada saudaranya sendiri sekalipun. Demi mendapatkan harta benda yang banyak, orang yang tamak tidak peduli jika kerukunan dengan saudara atau sahabatnya rusak dan putus. Dia tidak peduli dengan kedamaian. Karena tidak pedulinya terhadap apapun selain harta benda, orang – dalam cerita Injil tadi – nekat tanpa malu meminta kepada Tuhan Yesus supaya menegor saudaranya untuk berbagi harta warisan dengannya. Karena itu, Tuhan Yesus mengatakan “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan…”

Hidup itu tidak bergantung pada harta kekayaan. Hidup itu bergantung pada Allah Sang Penciptanya. Hidup bisa tetap hidup, tetap berkwalitas tanpa harta benda yang banyak. Harta kekayaan sebesar apapun tidak akan bisa menjamin kelangsungan hidup seseorang. Sebab, hidup manusia itu tidak berasal dari harta benda, melainkan berasal dari Allah yang hidup. Karena itu, hidup kita hanya bergantung pada Allah Sang Pemberi dan  Pemilik kehidupan itu.

Begitulah pula dalam membangun kehidupan, baik kehidupan negara, gereja, keluarga dan kehidupan pribadi, harusnya tidak bergantung harta kekayaan. Negara kita Indonesia ini mempunyai harta kekayaan yang sangat besar. Namun nyatanya masih sangat banyak rakyat yang menderita, miskin, rata-rata harapan hidup masih pendek (umur 71,1 tahun dan berada di urutan 117 di seluruh dunia). Gereja kita GKJW tidak termasuk gereja yang kaya harta benda, namun gereja kita bisa mempertahankan kesatuan dan kerukunan di antara semua jemaatnya. Bagaimanakah dengan harta benda dan kehidupan keluarga atau pribadi kita?

Pembangunan kehidupan kini dan masa depan kita baik sebagai pribadi, keluarga, gereja atau negara harus didahului pembangunan sikap dan perilaku. Kita orang percaya sudah diciptakan menjadi manusia baru. Namun manusia baru kita harus terus-menerus diperbaharui, terus dibangun (bacaan 2: Kol. 3:10). Untuk itu, Rasul Paulus menasehatkan supaya kita mematikan segala percabulan, perbuatan cemar, hawa nafsu, keinginan jahat, keserakahan, amarah, kekerasan, kebencian, kebohongan, dan yang sejenisnya. Kita membangun kehidupan seperti yang digambarkan, diteladankan oleh Kristus, yaitu dengan kebenaran, keadilan, kesetiaan/ ketekunan dan kasih yang tulus (pengorbanan).

Tanpa pembangunan sikap dan perilaku, maka ketrampilan, kecerdasan dan tenaga serta harta benda karunia Tuhan bisa menjadi sia-sia, bahkan bisa merusak kehidupan kita pribadi, keluarga, gereja dan negara. Dengan pembangunan sikap dan perilaku, hidup pribadi, keluarga, gereja dan negara kita menjadi berkwalitas, mandiri dan menjadi berkat Tuhan bagi semua ciptaanNya.

Ada sebuah tembang Jawa berjudul Uler kambang yang sebagian syairnya mengajari kita dalam membangun kehidupan. Sebagian syairnya berbunyi demikian (akan lebih baik jika dinyanyikan):

Ora butuh kae-kae (2x)
Butuhku mung nyambut gawe

Ora butuh apa-apa
Butuhku mung mbangun jiwa

(artinya: tidak butuh ini itu, butuhku hanya bekerja; tidak butuh apa-apa, butuhku hanya membangun jiwa)

 

Penutup

Perjamuan Kudus yang dilayankan pada hari ini mengingatkan kita bagaimana Tuhan Yesus membangun Kerajaan Allah dengan perjuangan, kesabaran, kesetiaan, kasih dan pengorbanan. Dengan menerima pelayanan Perjamuan Kudus hari ini, mari kita membangun sikap dan perilaku kita, mari kita membangun kehidupan pribadi, keluarga, gereja dan negara kita. Dengan berkat Perjamuan Kudus ini kiranya kita bisa menjadi berkat Tuhan bagi seluruh ciptaanNya. Amin. [st]

 

Pujian : KJ 253 : 1, 4, 5; 313 : 1, 5, 7;  KK. 104.


RANCANGAN KHOTBAH:  BASA JAWI

 

Pambuka

Saben mbangun wewangunan mesthi mbetahaken bahan-bahan, tenaga lan patraping tukang lan kulinipun. Sadaya tamtu dipun betahaken. Nanging menawi dipun urutaken kapentinganipun, pundi ingkang langkung wigatos ing antawisipun bahan-bahan, tenaga lan patrap? (Kaparingana wegdal dhateng warga kangge atur wangsulan!) Menawi sadaya bahan-bahan sampun cumepak, nanging boten wonten tenaga ingkang tumandang, pambanguning wewangunan menika mesthi boten kaleksanan. Kados pundi menawi bahan-bahan lan tenaga sampun cumawis, nanging tukang lan kulinipun lumuh, aras-arasen, namung angger tumandang? Tamtu wewangunan menika boten badhe kabangun kanthi sae, pakaryanipun mesthi badhe mbetahaken wegdal ingkang langkung dangu lan wragat ingkang langkung kathah saking ingkang samesthinipun, utawi sasampunipun rampung, wewangunan menika enggal rubuh utawi risak. Menawi ngantos rubuh utawi risak, bahan-bahan lan tenaga ingkang ageng reginipun menika badhe muspra. Pramila, ingkang kalangkung wigatos ing salebeting pambangunan inggih menika mbangun patrap (watak lan tumindakipun).

 

Isi

Lah mekaten ugi ing pambanguning pigesanganipun negari, greja, kulawarga lan pigesangan pribadi. Bahan-bahan utawi bandha donya pancen dipun betahaken, nanging sanes menika ingkang paling wigatos. Pamawas bilih bandha donya menika dados ingkang paling wigatos ing pambanguning pigesangan, badhe nuwuhaken watak lan laku kethaha utawi murka. Lah bab menika ingkang dipun welingaken dening Gusti Yesus ing waosan Injil supados kita waspada.

Tiyang ingkang murka badhe nggantungaken gesangipun dhateng bandha donya. Temahan menapaa kemawon badhe dipun tindakaken lan dipun lampahi kangge pikantuk bandha donya sakathahipun, tanpa perduli menapa lan sintena kemawon. Tiyang ingkang murka boten perduli dhateng tiyang sanes, nadyan dhateng sedherekipun piyambak. Margi mbujeng bandha donya ingkang kathah, tiyang murka boten perduli pasedherekan lan sesrawungan dados pedhot lan risak. Tiyang murka boten perduli dhateng karukunan. Amargi boten perduli dhateng sintena kemawon kajawi namung bandha donya, tiyang ing cariyos Injil menika nekat tanpa isin nyuwun dhateng Gusti Yesus melehaken sadherekipun supados purun andum bandha warisan kaliyan piyambakipun. Pramila saking menika Gusti Yesus meling: “Padha diwaspada marang watak murka…!”

Gesang menika boten gumantung dhateng bandha donya utawi raja brana. Gesang menika gumantung dhumateng Gusti Allah ingkang nitahaken gesang. Gesang menika tetep saged gesang, tetep aji tanpa bandha donya ingkang kathah. Raja brana sepintena kathahipun boten badhe saged dados jonggol (jaminan) tumrap lestantuning gesang. Awit gesangipun manungsa menika tukipun sanes saking bandha donya, nanging saking Gusti Allah ingkang gesang. Pramila, gesang kita menika namung gumantung dhumateng Gusti Allah ingkang kagungan lan paring gesang.

Lah mekaten ugi ing salebeting mbangun pigesangan, dadosa pigesanganing negari, greja, kulawarga lan gesang pribadi, ugi boten gumantung ing bandha donya utawi raja brana. Negari kita Indonesia menika nggadhahi raja brana ingkang kathah sanget. Ewasamanten, nyatanipun taksih kathah sanget kawula (rakyat) ingkang rekaos gesangipun, miskin, lan rata-rata pangareping urip taksih cendhak (umur 71,1 tahun lan wonten ing urutan 117 ing donya). Greja kita GKJW boten kalebet greja ingkang sugih raja brana, nanging greja kita saged ngesuhi karukunan lan patunggilan ing antawisipun sadaya pasamuwan. Kados pundi menggah bandha donya lan pigesanganing kulawarga utawi pribadi kita?

Pambanguning pigesangan kita samangke lan ing tembe, dadosa gesang pribadi, kulawarga, greja lan nagari kedahipun nengenaken lan kadhasaran pambanguning patrap, watak lan tumindak. Minangka tiyang pitados, kita sampun katitahaken dados manungsa enggal. Nanging kamanungsan enggal kita kedah terus kaenggalaken, terus kabangun (waosan 2: Kol. 3:10). Ingkang menika, Rasul Paul paring piwulang supados kita mejahi watak kadonyan kados: laku jina, tindak rusuh, hawa nepsu, kepencuting daging, budi kethaha (murka), nepsu, brangasan (kekerasan), piawon, pitenah/ goroh lan sarupaning tumindak ingkang boten pantes. Kita mbangun pigesangan kados ingkang kagambaraken lan katuladhakaken dening Sang Kristus, inggih menika srana kaleresan, kaadilan, kasetyan lan katresnan ingkang tulus (pangurbanan).

Tanpa pambanguning watak lan tumindak, kaprigelan, kapinteran lan tenaga sarta bandha donya kanugrahanipun Gusti saged dados muspra tanpa gina, malah saged ngrisak pigesangan kita pribadi, kulawarga, greja lan negari. Kanthi pambanguning watak lan tumindak, pigesangan pribadi, kulawarga, greja lan negari kita mesthi dados aji, berkwalitas, mandiri lan dados berkahipun Gusti tumrap sadaya titah.

Ing tembang Jawi “Uler Kambang” kawulangaken pambanguning gesang. Saperangan cakepan/ tembungipun mekaten (langkung prayogi menawi dipun tembangaken):

Ora butuh kae-kae (2x)
Butuhku mung nyambut gawe

Ora butuh apa-apa
Butuhku mung mbangun jiwa

 

Panutup

Bujana Suci ingkang kaladosaken dinten menika ngengetaken kita kados pundi anggenipun Gusti Yesus mbangun Kratonipun Allah kanthi pambudidaya (perjuangan), kasabaran, kasetyan, katresnan lan pangurbanan. Kanthi nampi Bujana Suci dinten menika, sumangga kita mbangun watak lan tumindak kita, sumangga mbangun pigesangan pribadi, kulawarga, greja lan negari kita. Kanthi berkah Bujana Suci menika mugi-mugi kita saestu saged dados berkahipun Gusti tumrap sadaya titahipun Gusti. Amin. [st]

 

Pamuji  :  KPJ. 203 : 1, 3.

 

Bagikan Entri Ini:

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •