Berelasi dengan Allah Khotbah Minggu 28 Juli 2019


Minggu Biasa VI
Stola Hijau

Bacaan  1 : Kejadian 18 : 20 – 33
Bacaan  2 : Kolose 2 : 6 – 15
Bacaan  3 : Lukas 11 : 1 – 13

Tema Liturgis :  Kehadiran Kristus di Tengah Keluarga yang Membawa Keselamatan
Tema Khotbah :  Berelasi dengan Allah

KETERANGAN BACAAN :
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Kejadian 18 : 20 – 33

Narasi perikop ini menggambarkan kedekatan hubungan antara Tuhan dengan Abraham. Keduanya digambarkan sedang berdiskusi. Pasalnya, Tuhan begitu murka dengan dosa dan kejahatan yang diperbuat oleh masyarakat Sodom dan Gomora (ay 20). Menarik dari diskusi yang dilakukan antara Abraham dengan Tuhan sebab terjadi dialog. Yang namanya dialog tentu bukan hanya satu arah tetapi saling berpendapat dan menyampaikan gagasannya. Hal ini sangat berbeda dengan gambaran Allah dalam perikop-perikop lain yang cenderung dikisahkan sebagai pihak yang berotoritas dengan perintah. Dalam konteks perikop ini Tuhan diposisikan dekat dan akrab dengan Abraham. Tentu dalam relasi tersebut ingin menampilkan Tuhan yang dekat dalam relasinya dengan manusia.

Bahkan dialog Tuhan dengan Abraham ini terlihat lebih sebagai sebuah transaksi. Transaksi yang dilakukan bukan untuk kepentingan diri Abraham tetapi dalam menyikapi sebuah fenomena yang terjadi di Sodom dan Gomora. Posisi Tuhan dalam fenomena ini adalah sebagai pihak yang ingin memberikan hukuman sementara Abraham menjadi pembela bagi Sodom dan Gomora. Pembelaan Abraham didasarkan kepada premis mendasar yaitu Allah yang Maha Adil. Dari premis itulah kemudian terjadi sebuah transaksi lanjutan. Bagaimana Allah yang adil bertindak tidak adil? Jadi yang dibela Abraham bukanlah sikap orang-orang Sodom dan Gomora yang disebut berdosa berat tetapi Abraham membela jati diri Tuhan sebagai hakim yang adil. Sebagai hakim yang adil, Abraham mengingatkan Tuhan tentang cara memandang masyarakat Sodom dan Gomora. Selama ini Tuhan memandang Sodom dan Gomora secara umum dimana semua penduduknya dipandang sebagai berbuat dosa. Abraham berbeda posisi dalam memandang hal itu. Bagi Abraham ada keyakinan bahwa di dalam masyarakat yang berdosa itu masih ada orang-orang baik yang beriman. Angkanya kemudian memang menjadi alat transaksi dengan Tuhan. Mulai dari 50 orang, 45 orang, 40 orang, 30 orang, 20 orang dan 10 orang. Jumlah-jumlah ini sekali lagi menampilkan jati diri Tuhan selain sebagai hakim yang adil juga sebagai Tuhan yang welas-asih. Pertanyaanya adalah: mengapa Abraham seberani itu tawar-menawar dengan Tuhan?

Belajar dari perikop ini, nampak bahwa Abraham tahu posisi dan sedang berhadapan dengan siapa. Sebagai manusia, Abraham menyadari berbeda dengan Tuhan karenanya Abraham selalu mengungkapkan: “Janganlah kiranya Tuhan murka, jika aku berkata sekali lagi…” (ay 30, 32). Pernyataan Abraham itu menunjukkan posisi dirinya dan Tuhan. Memang Tuhan dan Abraham nampak dekat dan akrab sehingga terjadi dialog yang baik namun Abraham pun tetap memposisikan Tuhan sebagai yang lebih tinggi (kudus) dibanding dirinya. Jadi keberanian Abraham terletak karena kedekatan namun kedekatan itu bukan kemudian membawa diri Abraham setara dengan Tuhan tetapi justru semakin menyadarkan Abraham betapa berbedanya Tuhan dibanding dirinya. Tuhan tetap Tuhan yang mulia dibanding manusia tetapi Tuhan yang mulia itu bukan Tuhan yang otoriter, tidak terjangkau atau tidak dapat diajak berdiskusi. Itulah sebabnya, narasi perikop ini menandaskan kembali bahwa Tuhan itu dekat dan bergaul akrab dengan manusia walaupun tidak pernah sama dan setara posisinya dengan manusia. Tuhan yang asyik diajak berdiskusi asalkan kita tahu diri bukan justru menggurui apalagi memposisikan sebagai pengganti.

Kolose 2 : 6 – 15

Sebagai surat yang ditujukan kepada komunitas, Kolose memberikan ajaran umum yang diperlukan oleh jemaat. Ajaran yang umum itu kembali mengingatkan posisi dan pusat iman Kristen yaitu Kristus. Dalam perikop ini, Paulus menggingatkan kembali jemaat Kolose bahwa mereka telah menerima Kristus Yesus (ay 6). Dari gagasan dasar itulah kemudian Paulus melanjutkan nasehatnya tentang resiko atau dampak yang  dilakukan oleh jemaat Kolose jika menerima Kristus. Menerima Kristus berarti menuntut kesetiaan kita yaitu: hidup tetap di dalam Dia (ay 6). Hidup dalam Kristus diartikan sebagai kesediaan berakar dan dibangun di atas Kristus. Dengan bahasa lain, hidup dalam Kristus sepenuhnya mendasarkan seluruh kehidupan dengan tidak pernah meninggalkan Kristus. Itu artinya Kristus memiliki posisi utama karena menjadi pusat kehidupan orang percaya.

Keutamaan Kristus dalam kehidupan orang percaya tentu mengalami banyak tantangan dan godaan. Itulah sebabnya Paulus memperingatkan kembali orang-orang Kolose supaya tidak mudah dibelokkan oleh berbagai ajaran dan kebijaksanaan yang bertentangan dengan Kristus. Hidup dalam Kristus berarti ya hanya Kristus saja tidak perlu ditambah dengan yang lainnya. Orang percaya adalah milik Kristus dan Kristus menjadi sumber kehidupan orang percaya. Undangan keintiman relasi inilah yang diistilahkan dengan “sunat” yaitu tanda dimiliki dan penyerahan diri sepenuhnya kepada Kristus.

Lukas 11 : 1 – 13

Perikop ini berbicara tentang formulasi doa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus yang lazim disebut sebagai Doa Bapa Kami. Dalam tradisi gereja, doa tersebut menjadi doa utama yang diletakkan dalam setiap kali jemaat bersekutu. Dalam perspektif liturgis, Doa Bapa Kami memiliki posisi penting dan utama disamping doa-doa lain yang memang banyak modelnya. Kebanyakan tradisi gereja menempatkan doa ini sebagai pengantar sebelum berkat walaupun posisi doa tersebut kemudian mengalami perubahan diberbagai tradisi liturgi.

Menariknya, Doa Bapa Kami yang dituliskan oleh Injil Lukas sedikit berbeda dengan yang ditulis Matius 6:9-13. Ada beberapa perbedaan kata tetapi juga konteks penyampaian doa itu sendiri. Dalam Matius Doa Bapa Kami diletakkan sebagai bagian utuh dari kewajiban keagamaan yaitu: sedekah, doa dan puasa. Tentu ini berkaitan dengan alamat tujuan penulisan Injil Matius bagi mayoritas orang Yahudi yang memiliki tradisi ritual secara teratur. Namun Lukas justru meletakkan Doa Bapa Kami ini sebagai permintaan seorang murid yang melihat Yesus sedang berdoa di suatu tempat (Luk 11:1). Lebih lagi, permintaan murid tersebut didasarkan atas perbandingan disiplin doa yang dilakukan oleh murid-murid Yohanes Pembaptis yang memang ketika berdoa diajari oleh gurunya. Ini berarti bahwa sampai saat ini, Yesus tidak pernah mengajarkan para murid sebuah formula doa. Mungkin saja Yesus memandang bahwa formula doa itu sebagai sesuatu yang umum dan biasa karena para murid adalah orang Yahudi yang biasa berdoa secara teratur. Namun toh, Tuhan Yesus juga bersedia mengajari sebuah formulasi doa sebagaimana yang diinginkan oleh para murid. Bisa juga dikatakan bahwa formula doa merupakan identitas dari gurunya sebab murid Yohanes berdoa dari formula yang diajarkan Yohanes demikian juga murid Yesus kini memiliki formula doa yang diajarkan oleh Yesus.

Dari segi isi, Doa Bapa Kami dalam Injil Lukas ini lebih pendek dari Doa Bapa Kami dalam Injil Matius. Setidaknya dalam Injil Lukas terangkum pokok-pokok demikian: Pengkudusan Bapa oleh umat, permohonan makanan untuk kebutuhan sehari-hari, memohon pengampunan dari Tuhan karena kitapun bersedia mengampuni orang yang bersalah, serta permohonan untuk tidak membawa kita masuk dalam pencobaan. (ay. 2-4). Sampai ayat 4 ini keterkaitan dengan ayat 1 masih terlihat utuh. Namun masuk ke dalam ayat 5-13 terkesan ada topik yang berbeda dengan doa yang diajarkan. Namun jika diteliti lebih dalam temanya pun serupa dengan isi doa yaitu permintaan. Uniknya, permintaan itu dianalogikan oleh Yesus dengan permintaan seseorang kepada tetangga (manusia) yang disandingkan dengan permintaan umat kepada Tuhan. Apa maknanya ? Rupanya, Tuhan Yesus ingin membuat perbandingan ektrim bahwa jikalau manusia saja yang cenderung egois dan pilih-pilih dalam membantu atau memenuhi permintaan orang lain maka sangat berbeda dengan Tuhan yang penuh welas-asih. Jika manusia yang cenderung egois saja hatinya terketuk oleh kesulitan orang yang datang memohon bantuannya, apalagi Tuhan yang kasihnya melampaui kasih manusia.

Menariknya lagi bahwa kasih Tuhan yang besar itu memang akan memberikan pertolongan kepada manusia tetapi pertolonganNya itu belum tentu sama dengan apa yang diminta oleh manusia. Ayat 13 dengan jelas menyebutkan bahwa yang akan diberikan adalah Roh Kudus. Mengapa Roh Kudus? Sebab Roh Kudus itulah yang terbaik bagi segala permintaan manusia. Jadi boleh saja meminta roti dan Tuhan tidak akan memberi ular tetapi bukan berarti bahwa ketika kita meminta roti Tuhan akan memberi roti juga tetapi bisa saja Tuhan memberi Roh Kudus supaya kita siap dan tahu memilih cara mendapatkan roti. Dengan bahasa lain, permintaan dalam doa bukanlah mantera yang abrakadabra semua ada sebagaimana yang kita minta tetapi doa justru sebuah kekuatan untuk kita hidupi dalam kehidupan sehari-hari.

Benang Merah Tiga Bacaan

Tuhan mengundang kita untuk membangun hubungan yang akrab dalam kasih sayang karena Tuhan bersedia “berdiskusi” dengan manusia dalam kemuliaan-Nya. Undangan ini adalah anugerah yang sekaligus menyingkapkan sisi welas-asihnya Tuhan kita. Sehingga setiap orang diundang untuk membangun keintiman dengan Tuhan dalam seluruh laku kehidupannya dengan tetap menjadikan Tuhan Yesus sebagai yang utama dalam kehidupan kita. Dalam keintiman relasi dengan Tuhan itulah maka segala perjalanan kehidupan kita akan senantiasa mewartakan karya keselamatan Allah.

 

RANCANGAN KHOTBAH :  Bahasa Indonesia

Kebutuhan Berelasi

Sudah sangat umum dipahami bahwa di zaman milenial ini kebutuhan setiap pribadi adalah berelasi dengan semua orang. Didukung dengan kemajuan teknologi informasi yaitu internet maka dunia kita hari ini adalah dunia yang cair, dunia tanpa batas ruang dan waktu dan penuh kebebasan memilih dan dipilih kepada siapa dan oleh siapa kita membangun relasi. Karena itulah sosial media menjadi sangat diminati dan digandrungi oleh semua kalangan karena dalam sosial media itulah kita bisa berelasi dengan siapapun. Bahkan, relasi hari ini tidak hanya antara sesama manusia saja tetapi juga dengan piranti teknologi. Ambillah contoh relasi manusia dengan gadget (smartphone, tab dll) saking akrabnya sampai tidurpun bersama gadget, bangun tidur yang ditemui pertama kali adalah gadget. Lima menit terpisah dari gadget menjadikan manusia merasa ada yang hilang dalam dirinya atau ada sebagian dari dirinya yang tidak lengkap.

Tentu relasi manusia dengan gadget adalah relasi fungsional yaitu karena kebutuhan akan fungsinya bagi kebutuhan hidup manusia. Namun sering juga tidak sadar kita menjadikan gadget seolah menjadi bagian dari diri kita. Don Ihde (filsuf teknologi) menyebutkan bahwa relasi manusia dengan teknologi setidaknya dibangun atas kebertubuhan (alat teknologi menjadi bagian tubuh manusia) dan keterliyanan (alat teknologi semata dipandang sebagai alat diluar tubuh manusia). Kedua hubungan itu membedakan manusia dalam memperlakukan teknologi tetapi tetap sama berkaitan dengan fungsinya bagi kehidupan manusia.

Memang ada dampak positif dan negatif dari segala kemajuan teknologi informasi ini. Alih-alih kita berdiskusi tentang dampak positif dan negatif itu mari kita merenungkan relasi kita dengan teknologi itu: seberapa intim kita berelasi dengan gadget kita? Sudah sangat intimkah relasi kita sehingga tanpa sadar menjadikan gadget sebagai bagian diri kita? Atau dengan agak tergagap tetapi tetap belajar mempergunakan gadget? Jaman now kata yang ditakuti bukanlan ndeso tetapi ketertinggalan, tidak update, tidak aktual.

Membangun Relasi karena Sadar Posisi

Iman Kristen hari ini sedang ditantang oleh arus baru yaitu arus berelasi. Sebagai gereja, GKJW tidak lagi steril di ruang hampa baik berkaitan dengan ajaran, model ibadah, persembahan dan kegiatan-kegiatannya. Pengaruh tradisi gereja lain disekitar kita juga bersinggungan dengan kita. Itu bisa berarti baik karena semakin memperkaya kita tetapi juga bisa berdampak tidak tepat karena semakin mengaburkan jati diri kita. Bisa menjadikan GKJW semakin mandiri baik teologi, daya dan dana tetapi juga semakin menjadikan GKJW tidak lagi dikenali keberadaanya karena dianggap tidak ada bedanya dengan yang lainnya. Ditengah arus relasi ini tentulah kita sebagai gereja juga harus selalu terbuka membangun relasi dengan pihak diluar tembok gereja kita tetapi jangan juga sampai lebur dan kabur indentitas kita. Identitas GKJW yang mana? Itu sering menjadi pertanyaan retorikanya. Sesederhana ini sajalah kita memahami bahwa GKJW ini adalah gereja Tuhan Yesus Kristus. Jika berbicara tentang identitas GKJW maka tidak bisa dilepaskan dari identitas Tuhan kita itu. Apa identitas Tuhan kita? Tuhan kita adalah Tuhan yang welas-asih yang tidak akan pernah memberikan ular kepada anak-Nya yang meminta roti (Lukas 11: 11). Tetapi juga bukan Tuhan yang seperti dalang yang mengkontrol semua gerak dan arah bahkan dialog umat-Nya. Tuhan yang penuh welas-asih itu mengajak kita berelasi dan asyik diajak ngobrol dan jagongan. Identitas welas asih dan asyik itulah harusnya yang menjadi identitas kita sebagai gereja yaitu gereja yang merengkuh semua orang dan tetap mewartakan kasih.

Bangunan relasi yang akrab dengan Tuhan kitalah yang membawa kita dalam bersikap dihadapanNya. Karena Tuhan itu welas-asih dan bukan Tuhan yang otoriter maka bukan berarti bahwa kita kemudian lupa posisi diri (nglamak) tetapi semakin menyadarkan jati diri kita sebagai miliknya. Marilah belajar dari Abraham dalam bacaan I kita tadi. Abraham tetap tahu posisinya walaupun Tuhan bersedia berdialog dengannya. Hal ini nampak dalam ungkapan Abraham: “Janganlah kiranya Tuhan murka, jika aku berkata sekali lagi…” (Kej 18:30,32). Akrab memang suasananya dalam berdialog dengan Tuhan tetapi tetap saja Abraham sadar bahwa dirinya tidak setara dan sebanding apalagi sehakekat dengan Tuhan. Kesadaran posisi ini penting dalam membangun relasi dengan Tuhan termasuk juga dengan sesama ataupun teknologi. Jika kita berelasi dengan pihak diluar diri kita tetapi tidak sadar posisi kita maka yang ada adalah kita akan hanyut bahkan kehilangan diri kita sendiri. Jika kita tidak tahu posisi kita dihadapan Tuhan maka betapa sering kita akan menjadikan Tuhan sebagai tukang sulap karena minta apapun segera diberikan. Tuhan menjadi mesin ATM karena terus-terusan dimintai duit. Tuhan kayak dukun yang sekali sembur maka sembuhlah penyakit kita. Demikian saat relasi kita dengan orang lain tidak disadari posisi diri kita maka pasti kita sering bermasalah dengan orang lain, entah dianggap nglamak, tidak tahu sopan santun dan lain sebagainya. Demikian juga saat berelasi dengan teknologi karena kita tidak tahu posisi diri maka kitapun akan tanpa sadar diperalat oleh teknologi.

Saking pentingnya posisi diri maka Tuhan Yesus pun dalam doa yang diajarkan kepada para murid juga pertama-tama menyebutkan: “Bapa, dikuduskanlah nama-Mu…” Ini menjadi kalimat pembuka dalam doa yang diajarkan Tuhan Yesus. Dibalik kalimat pembuka itu ada makna yang dalam terkait penyebutan posisi Tuhan yaitu sebagai “Bapa”. Sebutan ini adalah sebutan keakraban sekaligus menjelaskan posisi kita dihadapan Tuhan. Lebih lagi sebutan “Bapa” tersebut ditambahi “dikuduskanlah nama-Mu.” Jelaslah bagi kita bahwa Tuhan kita itu Tuhan yang berelasi akrab dengan kita tetapi posisi kita tidak sama dengan Tuhan karena memang kita menjadi anak (jika Tuhan adalah Bapa) dan kita ini tidak sempurna penuh dengan kelemahan karena Tuhan adalah kudus.

Merawat dan Menjaga Relasi

Karena itulah mari bersama di bulan keluarga ini kita kembali merenungkan relasi kita dengan masing-masing anggota keluarga kita. Seberapa intim kita berelasi dengan anak-anak kita? Seberapa intim kita berelasi dengan pasangan hidup kita? Seberapa intim kita berelasi dengan orangtua kita? Meneladani Tuhan yang mengundang kita untuk berelasi intim dengan-Nya maka kitapun dipanggil Tuhan untuk membangun keitimiman dengan keluarga kita. Wujud dari keintiman kita dalam berelasi adalah dengan menjadikan welas-asih sebagai ruh yang merekatkan kita dalam kehidupan bersama. Sama seperti Tuhan yang bersedia kita panggil “Bapa” demikian juga hendaknya dalam relasi dengan sesama kitapun bersedia menjadikan orang lain sebagai bagian dari keluarga kita. Selamat membangun relasi dengan Tuhan dalam doa dan perenungan, dan selamat membangun relasi dengan sesama dalam kemesraan sebagai keluarga seraya berani menyingkirkan hambatan-hambatan berelasi. Tuhan memberkati kita semua. Amin. (to2k)

Pujian  : Kidung Kontekstual 48


RANCANGAN KHOTBAH  :  Basa Jawi

Kabetahan Relasi

Sampun limrah bilih ing zaman milenial punika sedaya tiyang mbetahaken relasi kaliyan sedaya tiyang. Punapa malih kanthi kemajuan teknologi informasi inggih punika internet andadosaken sedaya tiyang saged milih lan dipilih dhateng anggenipun mbangun relasi punika awit internet dadosaken ndonya san saya mboten wonten jarak lan wekdal malih. Pramila zaman sak mangke sosial media (sosmed) san saya dipun gandrungi lan dipun betahaken dening sedaya tiyang awit sosmed punika kita saged mangun sesrawungan kalih sinten kemawon. Malah kepara ing zaman sakmangke relasi punika mboten anamung antawis manungsa kaliyan manungsa ananging ugi kaliyan piranti teknologi. Kita saged ningali bilih sak mangke relasi manungsa kaliyan gadget (smartphone, tab lsp) sampun akrab ngantos nalika sare manungsa sami nyanding gadget-ipun. Makaten ugi nalika tangi saking tilem ingkang dipun panggihi wiwitan ugi gadget, gangsal menit kemawon kapisah kaliyan gadget sampun andadosaken tiyang klimpungan awit ngraosaken wonten ingkang kirang wonten gesangipun.

Wanci relasi mangunsa kaliyan gadget punika relasi fungsional awit kabetahan gegayutan kaliyan fungisnipun gadget kagem gesangipun manungsa. Ananging kala-kala malah kita tanpa sadar andadosaken gadget punika dados peranganipun diri. Pramila mboten lepat bilih Don Ihde (filsuf teknologi) gambaraken hubungan manungsa kaliyan teknologi punika kawangun mawi kalih arti inggih punika kebertubuhan lan keterliyanan. Kebertubuhan inggih punika andadosaken teknologi dados peranganaipun diri manungsa. Keterliyanan punika pemanggih ingkang dadosaken teknologi perangan ing sajawinipun badanipun manungsa. Kalih relasi punika andadosaken manungsa benten anggenipun mangun hubungan kaliyan teknologi ananging tata fungsi lan ginanipun tetep gegayutan kaliyan diri pribadi manungsa.

Wanci wonten dampak negatif lan positifipun kemajuan teknologi punika kagem manungsa ananging dinten punika sumangga kita sami nggraita: kados pundi relasi kita kaliyan gadget? Sampun saweg andadosaken gadget dados perangan diri kita pramila mboten saged pisah kaliyan gadget utawi taksih nembe sinau ginakaken gadget? Zaman now punika tiyang sami ajrih dipun wastani kirang update, mboten aktual.

Mbangun Relasi kanthi Sadar Posisi

Iman Kristen dinten punika ugi dipun tantang dening arus relasi punika. Minangka gereja, GKJW mboten malih saged mendel awit sak mangke kita mboten wonten ing papan suwung ingkang steril saking ajaran iman, model ibadah, paham pisungsung lan kegiatan-kegiatan sanesipun. Pengaruh tradisi gereja sanes ugi asring ngrasuk dateng GKJW. Punika saged ngemu teges sae ananging mboten jarang malah ugi ngemu teges awon. Saged andadosaken GKJW sansaya mandiri teologi, daya lan dana ananging ugi saged andadosaken GKJW koncatan jatidirinipun awit dipun wastani mboten wonten bedanipun kaliyan gereja sanesipun. Bilih gegyutan kaliyan identitas tamtu pitakenanipun: pundi ingkang dipun wastani identitas GKJW punika? Estunipun ngantosa sak mangke GKJW punika mastani bilih gerejanipun Gusti Yesus Kristus. Pramila bilih ngrembag identitas GKJW estunipun mboten saged dipun pisahaken kaliyan identitasipun Gusti Yesus Kristus punika. Punapa identitasipun Gusti Yesus punika? Identitasipun Gusti Yesus ingkang pinunjul inggih punika welas-asih ingkang mboten nate paring sawer dumateng putraipun ingkang nyuwun roti (Lukas 11:11). Ananging ugi sanes Gusti ingkang kados dalang ingkang sedaya tumindhak lan lelampahan manungsa dipun dikte. Gusti ingkang karana welas-asih punika sumedya ngajak dialog, jagongan kaliyan umatipun. Pramila Gusti kita punika Gusti ingkang akrab ing sesrawungan kaliyan manungsa. Pramila identitas welas-asih punika kedahipun dados identitas GKJW inggih punika gereja ingkang tansah sumedya nampi lan ngrengkuh sedaya manungsa lan titah kanthi tetep martosaken katresnan ing pigesangan.

Relasi ingkang akrab kaliyan Gusti andadosaken gesang ingkang leres ing ngarasanipun Gusti. Awit Gusti kita punika welas-asih lan sanes Gusti ingkang otoriter tamtu kedahipun kita sansaya akrab ananging mboten ngluntha awit mboten sadar posisi diri. Akrabipun Gusti kaliyan kita kedah sansaya dadosaken kita sadar diri bilih kita punika sakderma kagunganipun Gusti lan wanci benten sanget kaliyan Gusti.

Sumangga sinau saking Bapa Abraham wonten ing waosan sepisan. Abraham tetep sadar posisi sanadyan Gusti sumedya dialog kaliyan panjenenganipun. Punika ketawis sanget wonten ing waosan kaping sepisan awit Abraham ugi dawuh: “Paduka mugi sampun ngantos duka, menawi kawula munjuk sapisan malih…” (Kej 18:30,32). Akrab wanci rerembaganipun Bapa Abraham kaliyan Gusti Allah ananging Bapa Abraham tetep sadar diri lan posisi bilih panjenenganipun punika sakderma abdi ingkang benten sanget kaliyan Gusti Allah. Sadar diri punika penting sanget kagem mbangun relasi kaliyan Gusti, sesami lan ugi teknologi. Bilih kita mbangun relasi ananging mboten sadar diri lan posisi kita, tamtu kita badhe kedlarung lan koncatan diri prinadi, kumalungun lan adigang-adigung-adiguna. Bilih kita mboten sadar diri ing ngarsanipun Gusti tamtu kita saged kedlarung mawang Gusti minangka perangan ingkang sadeg kita prentah dados tukang sulap awit sedaya kekarepan kita kedah dipun turuti. Gusti kados mesin ATM awit anamung dipun suwuni arta kemawon. Malah kepara, Gusti kita anggep kados dene dukun ingkang sabegyaran saged nyarasaken penyakit kita. Mekaten ugi bilih relasi kita kaliyan tiyang sanes mboten sadar diri tamtu asring nuwuhaken masalah kaliyan tiyang sanes, kita saring nglamak, mboten saged jagi sopan-santun. Makaten ugi relasi kaliyan teknologi, bilih kita mboten sadar posisi kita saged dados alatipun teknologi.

Awit pentingipun posisi diri punika pramila Gusti Yesus anggenipun paring piwucal ndedonga kagem para siswa ugi ingkang pisanan kaucapaken: Dhuh Rama, asma Paduka mugi kasucekna…(Luk 11:2). Punika dados pambukanipun pandonga ingkang dipun wucalaken dening  Gusti Yesus. Ukara punika ngemu teges bilih Gusti Allah punika akrab awit kasebat “Rama” lan kita punika minangka putra-putinipun Gusti. Rama lan putra-putri punika benten sanget. Pramila bilih kita nimbali Gusti mawi “Rama”, kita punika benten nging dipun anggep akrab kaliyan Gusti. Punapa malih sebatan “Rama” dipun sarengi kaliyan ukara: “asma Paduka mugi kasucekna… Sansaya jelas tegesipun kagem kita bilih Gusti punika wanci akrab kaliyan kita ananging ugi posisinipun mboten sami kaliyan kita awit Gusti punika Rama ingkang sampurna lan kita punika putra-putri ingkang winates kahananipun.

Nguri-uri Relasi

Pramila para sedherek kinasihipun Gusti wonten ing Bulan Keluarga punika kita sepindah malih nggraita malih relasi kita dumateng perangan brayat kita piyambak-piyambak. Kados pundi relasi tiyang sepuh kaliyan para putra lan putri kita? Kados pundi relasi kita kaliyan somah kita? Kados pundi relasi kita kaliyan tiyang sepuh kita? Nulad Gusti ingkang sampun nimbali kita murih anggadahi relasi ingkang akrab pramila kita ugi katimbalan mbangun relasi ingkang akrab kaliyan perangan brayat kita. Relasi akrab punika katandan kaliyan andadosaken welas-asih minangka ruh sesrawungan kaliyan brayat kita. Kadosdene Gusti ingkang sumedya dipun timbali “Rama” inggih makaten ugi kedahipun relasi kita keliyan sesami kedah kados brayat. Sugeng nindakaken relasi kaliyan Gusti Allah srana pandongan lan nggegilut Sabdanipun lan sugeng mbangun relasi kaliyan sesami srana welas-asih lan kendel nyingkiraken sedaya pambengan ingkang reridu sesrawungan. Gusti tansah berkahi kita sami. Amin. (to2k).

Pamuji  :  KPJ.  316

 

 

Bagikan Entri Ini:

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •