Indahnya Hidup Mandiri dan Menjadi Berkat Khotbah Minggu 11 Agustus 2019

Minggu Biasa VIII
Stola Hijau

 

Bacaan 1         :  Kejadian 15 : 1 – 6
Bacaan 2         :  Ibrani 11 : 1 – 3,  8 – 16
Bacaan 3
         :  Lukas 12 : 32 – 40

Tema Liturgis  :  Membangun Diri Dalam Kasih Menuju Kemandirian dan Menjadi Berkat
Tema Khotbah
:  Indahnya Hidup Mandiri dan Menjadi Berkat

 

Keterangan Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah).

Kejadian 15 : 1 – 6

Mengapa Abram takut? (ay. 1). Barangkali ia takut akan balas dendam dari raja-raja yang ia kalahkan (14:15). Allah memberinya dua dukungan agar ia tidak takut dan tetap teguh hati, yakni: (1) Ia berjanji membela Abram (‘Aku adalah pelindung/perisaimu’); (2) Ia berjanji memberi ‘ganjaran / hadiah / pahala’ kepada Abram. Bilamana kita takut tentang apa yang akan terjadi, ingat bahwa Allah akan bersama kita di saat-saat sulit dan Ia telah berjanji memberi berkat besar bagi kita.

Elieser adalah pelayan Abram yang paling dipercaya, sebagai pengelola rumah tangga/seorang kepala pelayan (ay. 2-3); Kejadian 24: Elieser dipercaya oleh Abraham mencarikan isteri/Ribka bagi Ishak). Menurut adat, jika Abram mati tanpa anak, pelayannya yang tertua akan menjadi ahli warisnya. Meskipun Abram mengasihi pelayannya, namun ia ingin seorang anak kandung yang meneruskan garis keluarga.

Allah menjanjikan keturunan sebanyak  bintang-bintang di langit atau butir-butir pasir di tepi laut (ay. 5; 22:17), terlalu banyak untuk dihitung dan tak seorangpun dapat menghitungnya. Saat Abram putus asa sebab tidak memiliki anak kandung sebagai ahli warisnya, Allah berjanji memberi keturunan yang sangat banyak jumlahnya dan sulit untuk bisa dibayangkan. Berkat Allah di luar jangkauan/bayangan kita.

Abram menunjukkan imannya melalui perbuatannya dan iman seperti itulah yang membuat Abram dianggap benar oleh Allah (ay.6; Roma 4:1-5). Kita juga dapat memiliki hubungan yang benar dengan Allah melalui percaya kepada-Nya. Perbuatan kita yang nampak antara lain: hadir ke gereja, berdoa, berbuat baik, dll. Namun hal-hal tersebut tidak dengan sendirinya membuat kita benar di hadirat Allah. Sebuah hubungan yang benar didasarkan pada iman, yakni percaya sepenuh hati bahwa Allah adalah sebagaimana yang Ia katakan dan melakukan apa yang Ia katakan. Perbuatan benar akan mengikutinya, sebagai hasil/produk iman.

 

Ibrani 11 : 1 – 3, 8 – 16

Iman adalah keyakinan berdasarkan pada pengalaman masa lalu, dimana ada kejutan-kejutan baru dan segar dari Allah, dan yang akan sungguh-sungguh menjadi milik kita (ay. 1).

Dua kata berikut ini menggambarkan tentang iman: ‘Jaminan/kepastian dan keyakinan’. Dua hal ini membutuhkan sebuah awal dan tujuan/akhir.  Titik awal iman adalah percaya akan karakter Allah, yakni ‘Ia adalah yang Ia katakan’, dan tujuan akhir adalah percaya pada janji Allah yakni ‘Ia akan melakukan apa yang Ia katakan’. Jika kita percaya bahwa Allah akan memenuhi janji-janji-Nya meskipun kita sebelumnya tidak melihat janji-janji itu terwujud, kita mempraktikkan iman sejati (Yoh.20:24-31).

Iman kita ada pada Allah yang menciptakan seluruh alam semesta dengan Firman-Nya (ay. 3). Firman Allah memiliki kuasa yang mengagumkan. Jika Ia berbicara, apakah kita mendengar dan merespon-Nya? Bagaimana kita dapat menyiapkan diri dengan lebih baik untuk merespon Firman Allah?

Hidup Abraham diisi dan berdasarkan iman (ay. 8-10). Demi perintah Allah, ia meninggalkan rumah dan pergi ke negeri lain yang ia tidak ketahui, ia taat tanpa bertanya (Kej. 12:1 dst). Abraham percaya perjanjian yang dibuat Allah dengannya (Kej. 12:2-3; 13:14-16; 15:1-6). Dalam ketaatannya kepada Allah, Abraham rela mengorbankan anaknya Ishak (Kej. 22:1-19). Jangan kaget jika Allah meminta kita untuk membuat lingkungan yang nyaman dan bersahabat, agar kita dapat mengikuti kehendak-Nya.

Sarah adalah istri Abraham (ay.11-12). Mereka tidak memiliki anak dalam perkawinan mereka. Allah menjanjikan Abraham seorang anak, tetapi Sarah ragu-ragu apakah ia dapat hamil di usia tuanya. Pertama ia tertawa, tetapi kemudian ia percaya (Kej.18; 19).

Saat kita sebagai ‘orang asing dan buangan’, tekanan atas diri kita datang dari lingkungan (ay.13). Mungkin hal itu datang kemudian atau sebagai akibat masa-masa sulit. Tetapi dunia bukanlah rumah kita, kita tidak hidup di sini selamanya (I Pet.1:1). Yang terbaik bagi kita adalah tidak menjadi terlalu lekat/menempel pada keinginan dan harta dunia ini, yang malah dapat menghambat kita untuk taat pada perintah Allah.

Mereka tidak pernah kehilangan visi sorgawi mereka, yakni ‘sebuah negeri yang lebih baik… yang sorgawi’ (ay. 13-16). Banyak orang Kristen menjadi frustrasi dan gagal sebagai orang beriman, sebab kebutuhaan, keinginan, harapan, dan tuntutan mereka yang tidak segera mereka dapatkan. Mereka menjadi tidak sabar dan ingin berhenti sebagai orang beriman. Apakah kita berkecil hati karena pencapaian tujuan kita agaknya masih jauh? Belajar dan ambil keberanian/keteguhan hati dari kedua pahlawan iman ini, yang hidup dan mati tanpa melihat buah iman mereka di  bumi dan tetap melanjutkan percaya (11:36-39).

 

Lukas 12 : 32 – 40

Harta/uang dapat menjerat kita dan mengganggu/memutus hubungan kita dengan Allah dan dengan sesama kaum fakir miskin (ay.33). Kunci untuk menggunakan harta/uang secara bijaksana adalah melihat seberapa banyak yang dapat kita gunakan bagi maksud Allah, dan bukan seberapa banyak yang dapat kita kumpulkan bagi diri sendiri. Jika kita bisa berbuat demikian, berarti kita mengumpulkan harta kekal di sorga. Jika kita tidak bisa berbuat demikian, maka justru menghalangi kita mengasihi sesama dan Tuhan. Untuk itu, jual harta dan bawa hidup kita masuk ke dalam perspektif yang benar.

Jika kita menempatkan uang kita untuk berbisnis, maka pikiran kita akan berpusat pada bagaimana membuat bisnis tersebut menguntungkan (ay.34). Jika kita membagikannya ke orang lain, maka pikiran kita akan berpusat pada bagaimana kita bisa ikut menyejahterakan mereka. Di mana kita menempatkan waktu, uang, dan energi kita? Bagaimana sebaiknya mengubah cara menggunakan harta/penghasilan agar supaya merefleksikan nilai-nilai Kerajaan Allah lebih akurat (saksama, tepat benar, cermat)?

Tuhan Yesus mengulangi berkata bahwa Ia akan meninggalkan dunia ini tetapi akan kembali suatu saat nanti (ay. 35-40; Mat. 24; 25; Yoh. 14:1-3). Ia juga berkata bahwa sebuah kerajaan disiapkan bagi para pengikut-Nya. Banyak orang Yunani memimpikan hal ini bernuansa sorgawi, ideal, dan kerajaan rohani. Orang Yahudi, seperti Yesaya dan Yohanes penulis Kitab Wahyu, melihatnya sebagai sebuah restorasi atau pemulihan kerajaan duniawi.

Kedatangan Kristus pada waktu yang tak diketahui, bukanlah sebuah perangkap/jerat, bukan pula tipu muslihat yang Allah harapkan dapat menyergap kita. Dalam kenyataan, Allah menunda kedatangan-Nya agar lebih banyak orang memiliki kesempatan untuk mengikut-Nya (II Pet.3:9). Sebelum kedatangan Kristus, kita memiliki waktu untuk hidup sampai iman kita merefleksikan kasih Kristus bagi sesama.

Orang yang siap bagi kedatangan Tuhan adalah mereka yang : (1) Tidak munafik, tetapi tulus hati (12:1) band. Yesaya 1:1,10-20; (2) Tidak penakut, tetapi siap untuk bersaksi (12:4-9); (3) Tidak kuatir, tetapi percaya (12:25-26); (4) Tidak rakus/tamak, tetapi dermawan (12:34); (5) Tidak malas, tetapi rajin/tekun (12:37). Biarkan hidup kita bertumbuh dan berkembang semakin seperti Kristus, agar jika Ia datang, kita siap menyambut-Nya dengan sukacita.

Benang Merah Ketiga Bacaan:

Perjalanan kehidupan ini terdiri dari masa lalu, kini, dan masa yang akan datang. Apa yang kita hayati dan lakukan di saat ini, tidak bisa lepas dari pengalaman masa lalu (baik/buruk) dan harapan/mimpi kita di masa depan (optimis/pesimis). Rasa takut muncul antara lain disebabkan karena masa lalu/pengalaman yang tidak baik dan gambaran masa depan yang belum/tidak menentu.

Gambar dan model ideal orang beriman adalah: percaya, tidak ragu, patuh, yakin akan jaminan-Nya, dan memiliki cara pandang (perspektif) ilahi dalam menghayati kehidupan ini. Orang yang seperti inilah yang memiliki peluang besar untuk berkontribusi membangun kehidupan yang lebih indah, mandiri, dan menjadi berkat.

 

Rancangan Khotbah Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan, silakan dikembangkan sesuai konteks jemaat).

Pendahuluan

Tema Liturgis: “Membangun Diri dalam Kasih Menuju Kemandirian dan Menjadi Berkat”; Tema Khotbah: “Indahnya Hidup Mandiri dan Menjadi Berkat”. Ada tiga (3) kata kunci dalam tema khotbah ini, yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki arti: (1) Indah = dalam keadaan enak dipandang; (2) Mandiri = dalam keadaan dapat berdiri sendiri dan tidak bergantung pada orang lain; (3) Berkat = karunia Tuhan yang membawa kebaikan dalam hidup manusia.

Tema tersebut menantang kita untuk mencari cara, bagaimana kita bisa berkontribusi membangun kehidupan yang indah, mandiri, dan menjadi berkat! Ketiga bacaan Alkitab membantu kita menemukan beberapa cara yang kita butuhkan untuk membangun diri, yang indah, mandiri dan menjadi berkat.

 

Isi

‘Indah’

Di tengah-tengah ramainya ujaran kebencian, hoax/berita bohong, intoleran, isu SARA (Suku Agama Ras Antar golongan), dll kita memperoleh kabar yang menyejukkan melalui ‘Rekomendasi Munas Alim Ulama dan Konferensi Besar NU 2019 (27 Februari – 1 Maret 2019, di kota Banjar – Jawa Barat)’, a.l.: (1) Menganjurkan agar kata ‘kafir’ tidak digunakan untuk melabeli non-Muslim dalam ranah sosial dan kehidupan berbangsa dan bernegara;      (2) Tak boleh ada lembaga yang mengeluarkan fatwa kecuali Mahkamah Agung; (3) Persoalan ekologis/lingkungan hidup: 130.000 ton sampah plastik per hari (Kompas, Selasa 5 Maret 2019). Kabar besar ini sangat membantu kita semua, warga Negara Kesatuan Republik Indonesia, untuk dapat membangun kehidupan yang lebih indah.

Secara arif, masyarakat Jawa memberikan kontribusi positif bagi kehidupan ini melalui nasihat yang arif: ‘Sepi ing pamrih, rame ing gawe, memayu hayuning bawana’. Artinya, kita diajak untuk menjauhkan diri dari hanya mengutamakan kepentingan diri sendiri; sebaliknya hendaknya kita lebih mementingkan melaksanakan kewajiban-kewajiban kita; dan berikhtiar mencari cara agar kehidupan ini lebih terasa indah dan menyenangkan.

Untuk dapat menjadi kontributor/penyumbang bagi kehidupan yang lebih indah, jangan kita hanya menjadi follower/pengekor/pengikut saja; kita harus menjadi pionir/pelopor/perintis atau pembuka jalan untuk bisa mengubah keadaan.

Sebuah mutiara kata berbunyi: ‘Perubahan tidak pernah datang jika kita menunggu seseorang melakukannya atau menunggu waktu yang tepat. Yang ditunggu tak lain adalah kita sendiri.’ (Barack Obama, Presiden Amerika Serikat).

Kehidupan Abraham indah sebab Allah memberinya dukungan agar tidak takut dan tetap teguh hati; Allah memberinya janji bahwa Ia sebagai pelindung dan perisainya serta memberinya ganjaran. Keindahan hidup Abraham semakin lengkap sebab ia memiliki seorang kepala pelayan rumah-tangganya yang setia, yakni Elieser, dan yang ia percaya untuk mencarikan jodoh bagi Ishak anaknya.

Respon/tanggapan Abraham atas anugerah kehidupan yang indah tersebut, dengan menunjukkan imannya melalui perbuatannya dan iman seperti itulah yang membuat Abram dianggap benar oleh Allah. Kita juga dapat memiliki hubungan yang benar dengan Allah melalui percaya kepada-Nya. Perbuatan kita yang nampak antara lain: hadir ke gereja, berdoa, berbuat baik, dll. Namun hal-hal tersebut tidak dengan sendirinya membuat kita benar di hadirat Allah. Sebuah hubungan yang benar didasarkan pada iman, yakni percaya sepenuh hati bahwa Allah adalah sebagaimana yang Ia katakan dan melakukan apa yang Ia katakan. Perbuatan benar akan mengikutinya, sebagai hasil/produk iman.

Hidup Abraham diisi dan berdasarkan iman. Demi perintah Allah, ia meninggalkan rumah dan pergi ke negeri lain yang ia tidak ketahui, ia taat tanpa bertanya. Abraham sangat percaya akan perjanjian yang dibuat oleh Allah dengannya. Dalam ketaatannya kepada Allah, Abraham bahkan rela mengorbankan anaknya Iskak.

Jangan kaget jika Allah juga meminta kita untuk membuat lingkungan yang nyaman dan bersahabat, agar kita dapat mengikuti kehendak-Nya.

‘Mandiri’

Kita dianugerahi oleh Allah sebuah otoritas/wewenang untuk dapat menentukan pilihan secara mandiri. Apa yang hendak kita pilih dan apa yang hendak kita lakukan tergantung pada keputusan kita sendiri. Intervensi atau campur tangan orang lain sebatas memberi masukan.

Ingat, bahwa dunia ini bukanlah rumah kita. Kita tidak selamanya hidup di sini. Untuk itu, hal yang terbaik bagi kita adalah tidak menjadi sedemikian lekat pada keinginan dan harta dunia ini, yang malah dapat menghambat kita untuk taat pada perintah Allah.

Posisikan diri kita sebagai orang asing dan pendatang di dunia ini, yang tidak pernah kehilangan visi sorgawi, yakni ‘sebuah tanah air yang lebih baik yaitu satu tanah air sorgawi’ (ay.16a). Banyak orang Kristen menjadi frustrasi dan gagal sebagai orang beriman, sebab merasa bahwa kebutuhaan, keinginan, harapan, dan tuntutan mereka yang tidak segera mereka dapatkan. Mereka menjadi tidak sabar dan ingin berhenti sebagai orang beriman. Apakah kita berkecil hati karena pencapaian tujuan kita agaknya masih jauh?

Harta/uang dapat membantu kita mandiri, namun ingat bahwa harta/uang juga dapat menjerat kita dan mengganggu bahkan memutus hubungan kita dengan Allah dan dengan sesama. Kunci untuk menggunakan harta/uang secara bijaksana adalah melihat seberapa banyak yang dapat kita gunakan bagi maksud Allah, dan bukan seberapa banyak yang dapat kita kumpulkan bagi diri sendiri. Jika kita bisa berbuat demikian, berarti kita mengumpulkan harta kekal di sorga. Jika kita tidak bisa berbuat demikian, maka justru menghalangi kita mengasihi sesama dan Tuhan. Untuk itu, jual harta dan bawa hidup kita masuk kedalam perspektif/sudut pandang yang benar.

Jika kita menempatkan uang kita untuk berbisnis, maka pikiran kita akan berpusat pada bagaimana membuat bisnis tersebut menguntungkan. Jika kita membagikannya ke orang lain, maka pikiran kita akan berpusat pada bagaimana kita bisa ikut menyejahterakan mereka. Di mana kita menempatkan waktu, uang, dan energi kita? Bagaimana sebaiknya mengubah cara menggunakan harta/penghasilan agar supaya merefleksikan nilai-nilai Kerajaan Allah lebih akurat (saksama, tepat benar, cermat)?

‘Menjadi Berkat’

Tahun 2017, Indonesia dinobatkan sebagai pembuang makanan terbesar nomor 2 sedunia berdasarkan Food Sustainability Index yang dikembangkan The Economist Intelligence Unit. Satu orang membuang hingga 300 kilogram makanan setiap tahun. Peringkat pertama, menurut data itu, adalah Arab Saudi yang membuang 427 kg makanan per orang per tahun. Ironis, karena di sisi lain, 795 juta orang di dunia ini kelaparan (Kompas, Minggu, 17 Maret 2019).

Salah satu penyebabnya adalah karena kita seringkali membiarkan ‘lapar mata’. Artinya, mengambil apa saja yang menurut mata kita kelihatan enak dan menarik untuk dimakan, meskipun pada akhirnya tidak semua dapat kita makan habis. Coba ingat, ketika kita hadir di sebuah pesta perkawinan, berapa banyak orang yang mengambil makanan sebanyak mungkin, namun kemudian dibiarkan tersisa di piring dan ditinggalkan (dibuang?) begitu saja. Bersediakah kita mengganti ‘lapar mata’ dengan lapar yang sesungguhnya, yang memang kita butuhkan? Dengan cara hidup seperti itu, sulit bagi kita untuk bisa menjadi berkat!

Kegelisahan Abraham karena tidak mempunyai anak kandung, diubah oleh Allah dengan memberinya keturunan sebanyak  bintang-bintang di langit atau butir-butir pasir di tepi laut, jumlah yang sangat banyak untuk dapat dihitung dan tak seorangpun dapat menghitungnya. Di saat Abraham putus asa sebab tidak memiliki anak kandung sebagai ahli warisnya, Allah berjanji memberinya keturunan. Berkat Allah di luar jangkauan/bayangan kita.

Kita dapat menjadi berkat apabila kita memiliki sudut pandang / perspektif jauh ke depan, di seberang kehidupan ini.  Tuhan Yesus menyatakan bahwa Ia akan meninggalkan dunia ini tetapi akan kembali lagi suatu saat nanti. Ia juga menegaskan bahwa sebuah kerajaan disiapkan bagi para pengikut-Nya. Tantangan bagi kita adalah bagaimana restorasi / pemugaran / pemulihan kehidupan duniawi ini dapat kembali ke nuansa semula/sorgawi?

Kedatangan Kristus pada waktu yang tak diketahui, bukanlah sebuah perangkap/jerat, bukan pula tipu muslihat yang Allah harapkan dapat menyergap kita. Dalam kenyataan,  Allah menunda kedatangan-Nya agar lebih banyak orang memiliki kesempatan untuk mengikut-Nya. Sebelum kedatangan Kristus, kita memiliki waktu untuk hidup sampai iman kita merefleksikan/memantulkan kasih Kristus bagi sesama.

Orang yang siap bagi kedatangan Tuhan adalah mereka yang :

  1. Tidak munafik, tetapi tulus hati;
  2. Tidak penakut, tetapi siap untuk bersaksi;
  3. Tidak kuatir, tetapi percaya;
  4. Tidak rakus/tamak, tetapi dermawan;
  5. Tidak malas, tetapi rajin/tekun.

Biarkan hidup kita bertumbuh dan berkembang semakin seperti Kristus, agar jika Ia datang, kita siap menyambut-Nya dengan sukacita.

Penutup

Jika Allah telah memberi dukungan kepada Abraham, agar ia tidak takut dan tetap teguh hati, maka Dia pula yang akan memberi dukungan untuk kita, sebab Ia adalah pelindung/perisai kita; Ia pemberi ganjaran/hadiah/pahala bagi kita. Ketika kita takut tentang apa yang akan terjadi, ketika kita berada di saat-saat sulit, ingat bahwa Allah setia bersama kita di masa lalu dan Ia telah berjanji memberi berkat besar bagi masa depan kita. Amin. (esha)

 

Pujian  :  KJ. 400 : 1, 2, 3, 4.

RANCANGAN KHOTBAH  : BASA JAWI

Pambuka

Tema Liturgis: “Mbangun Dhiri Ing Salebeting Katresnan, Nuju Gesang Mandhiri Lan Dados Berkah”; Tema Kotbah: “Endahing Gesang Mandhiri Lan Dados Berkat”. Wonten tiga (3) ukara ing tema kotbah menika, ingkang miturut Kamus Besar Bahasa Indonesia nggadhahi arti: (1) Endah = kawontenan ingkang enak dipun sawang; (2) Mandhiri = ing salebeting kawontenan saged madeg piyambak lan mboten gumantung dhateng tiyang sanes; (3) Berkah = peparingipun Gusti ingkang ndadosaken kasaenan kangge gesangipun umat manungsa.

Tema kasebat nuntun kita iktiyar pados cara, kadospundi kita saged tumut cawe-cawe mbangun pigesangan ingkang endah, mandhiri, lan dados berkah! Tetiga waosan Kitab Suci mbantu kita manggihaken cara-cara ingkang kita betahakan kangge mbangun dhiri, ingkang endah, mandhiri lan dados berkah.

Isi

‘Endah’

Ing satengahing ramenipun ujaran kebencian, hoax/berita bohong, intoleran, isu SARA (Suku Agama Ras Antar golongan), lsp kita nampi kabar ingkang nentremaken lumantar ‘Rekomendasi Munas Alim Ulama dan Konferensi Besar NU 2019 (27 Februari – 1 Maret 2019, ing kitha Banjar – Jawa Barat)’, ing antawisipun.: (1) Nganjurkan supados ukara ‘kafir’ mboten dipun ginakaken kangge nyebut non-Muslim ing gesang lan pasrawungan masyarakat, bangsa lan negari; (2) Mboten pareng wonten lembaga ingkang ndamel fatwa kecuali Mahkamah Agung; (3) Persoalan ekologis/lingkungan hidup: 130.000 ton sampah plastik saben dinten (Kompas, Selasa, 5 Maret 2019). Kabar sae menika sanget mbantu kita sedaya, warga Negara Kesatuan Republik Indonesia, kangge saged mbangun pigesangan ingkang langkung endah.

Sacara arif, masyarakat Jawi urun nasehat positif kangge pigesangan menika, ingkang ungelipun: ‘Sepi ing pamrih, rame ing gawe, memayu hayuning bawana’. Artosipun, kita kaajak supados nebihaken dhiri saking sikap mentingaken dhiri pribadi piyambak/egois; langkung sae menawi kita mentingaken nindakaken kewajiban-kewajiban kita; lan iktiyar supados pigesangan menika karaosaken langkung endah lan mbingahaken.

Supados saged dados kontributor/penyumbang kangge pigesangan ingkang langkung endah, sampun ngantos kita namung dados follower /pengekor/pengikut kemawon; kita kedah dados pionir/pelopor/perintis utawi pambuka margi kangge saged ngribah kawontenan.

Wonten mutiara kata ingkang ungelipun: ‘Perubahan tidak pernah datang jika kita menunggu seseorang melakukannya atau menunggu waktu yang tepat. Yang ditunggu tak lain adalah kita sendiri.’ (Barack Obama, Presiden Amerika Serikat).

Gesangipun Abraham endah sebab Allah maringi dukungan supados piyambakipun mboten ajrih lan tetep teguh ing manah; Allah maringi janji bilih Panjenenganipun dados pelindung dan perisai-nipun sarta maringi ganjaran. Kaendahan gesangipun Abraham tambah lengkap, sebab piyambakipun gadhah pelados brayatipun ingkang setya, inggih menika Elieser, lan ingkang pinitados kangge madosaken jodho kangge Iskak anakipun.

Respon/tanggapan Abraham tumraping anugerah pigesangan ingkang endah kasebat, kanthi nedahaken imanipun lumantar tandang-damelipun. Iman ingkang kados mekaten menika ingkang ndadosaken Abraham kaanggep leres dening Allah. Kita ugi saged gadhah sesambetan ingkang leres kaliyan Allah lumantar pitados dhateng Panjenenganipun, sarta kawujudaken anggen kita sregep dhateng greja, ndedonga, nindakaken kasaenan, lsp. Ewa semanten bab-bab kasebat mboten otomatis ndadosaken kita leres ing ngarsanipun Allah. Sesambetan ingkang leres kadhasaraken iman, inggih menika pitados sawetahing manah bilih Allah menika kados ingkang kadhawuhaken lan nindakaken menapa ingkang sampun kadhawuhaken. Tandang-damel leres badhe ngetutaken, minangka hasil/produk iman.

Gesangipun Abraham dipun isi lan kadhasaraken iman. Dhemi prentahipun Allah, piyambakipun nilaraken bale griyanipun lan kesah nuju ing tlatah ingkang dereng lan mboten dipun sumurupi, piyambakipun taat tanpa taken. Abraham sanget pitados dhateng prajanji ingkang dipun nyasa dening Allah kaliyan piyambakipun. Ing salebting ketaatanipun dhumateng Allah, Abraham malah rila ngorbanaken anakipun, Iskak.

Mboten perlu kaget menawi Allah ugi ngersakaken kita mujudaken lingkungan ingkang nyaman lan semanak, supados kita saged ngetut wingking karsanipun Allah.

‘Mandhiri’

Kita dipun paringi dening Allah satungaling otoritas/wewenang kangge saged mutusaken pilihan sacara mandhiri. Menapa ingkang badhe kita pilih lan menapa ingkang badhe kita tindakaken gumantung dhateng putusan kita piyambak. Intervensi/ campur tangan tiyang sanes winates maringi masukan.

Enget, bilih jagad menika sanes griya/papan kita. Kita mboten terus gesang ing jagad menika. Kangge menika, bab ingkang paling sae kangge kita, mboten memitran kaliyan pepenginan lan raja brana jagad, ingkang malah saged ngalang-alangi kita kangge taat dhumateng prentahipun Allah.

Mapanaken dhiri kita minangka tiyang manca lan neneka ing jagad menika, ndadosaken kita mboten nate kecalan visi sorgawi, inggih menika ‘Tanah wutah rah kang luwih becik, yaiku tanah wutah rah kaswargan’ (ay.16a). Kathah tiyang Kristen frustasi lan gagal minangka tiyang pitados, sebab rumaos bilih kabetahanipun, pepinginan, pengajeng-ajeng, lan tuntutanipun mboten enggal kasembadan. Sami mboten sabar lan kepingin kendel dados tiyang pitados. Menapa kita alit ing manah sebab tuntutan lan pengajeng-ajeng kita ketingalipun taksih tebih saking nyata?

Raja-brana/yatra saged mbantu kita mandhiri, nanging enget bilih raja-brana/yatra ugi saged njiret kita lan ngganggu sarta medhot sesambetan kita kaliyan Allah lan sesami. Kunci kangge ngginakaken raja-brana/yatra sacara wicaksana inggih menika ningali sepinten kathah ingkang saged kita ginakaken kagem karsanipun Allah, lan mboten sepinten kathahipun ingkang saged kita kempalaken kangge dhiri kita piyambak. Menawi kita saged mekaten, kita ngempalaken raja-brana langgeng kaswargan. Menawi kita mboten saged nindakaken mekaten, bab menika malah ngalang-alangi kita nresnani sesami lan Gusti. Kangge menika kita perlu mbekta gesang kita mlebet ing perspektif/sudut pandang ingkang leres.

Menawi kita mapanaken yatra kita kangge bisnis, pikiran kita badhe konsentrasi mikir kadospundi ndadosaken bisnis saged nguntungaken. Menawi kita mbagi kangge sesami, pikiran kita badhe konsentrasi dhateng iktiyar kadospundi kita saged tumut mujudaken kesejahteraan sesami. Ing pundi kita mapanaken wekdal, yatra, lan energi kita? Kadospundi saenipun ngrebah cara ngginakaken raja-brana/penghasilan supados nyunaraken kawicaksanan Kratonipun Allah langkung akurat (saksama, tepat benar, cermat)?

‘Dados Berkah’

Tahun 2017, Indonesia dipun tetepaken minangka pembuang makanan terbesar nomer 2 sajagad, adhedhasar Food Sustainability Index ingkang dipun kembangaken The Economist Intelligence Unit. Saben setunggal tiyang mbuwang ngantos 300 kilogram tetedhan saben tahunipun. Peringkat pertama, miturut data kalawau, inggih menika Arab Saudi ingkang mbuwang 427 kg tetedhan per tiyang per tahun. Ironis, sebab ing sisih sanesipun, 795 yuta tiyang ing jagad menika keluwen/kelaparan (Kompas, Minggu 17 Maret 2019).

Salah satunggaling sebab inggih menika karana kita sering nuruti ‘lapar mata’. Artosipun, mendhet tetedhan menapa kemawon ingkang miturut mripat kita ketingalipun eca dipun tedha, senadyan ing wusananipun mboten sedaya ingkang kita pendhet kalawau kita tedha telas. Cobi enget, rikala kita jagong manten, kathah tamu ingkang mendhet dhaharan kathah, nanging dipun imbaraken sisa ing piring lan dipun tilar prung/dipun buwang?. Menapa kita saged nggantos ‘lapar mata’ dados luwe ingkang samesthinipun? Yen mboten saged, cara gesang ingkang mekaten menika, ewet kangge kita saged dados berkah!

Kegelisahan Abraham karana mboten gadhah anak kandhung, dipun ribah dening Allah kanthi maringi keturunan ingkang kathah cacahipun, kados lintang-lintang ing langit utawi pasir ing pinggir seganten/laut, jumlah ingkang kathah sanget ngantos mboten saged dipun etang. Ing wekdal Abraham putus asa sebab mboten gadhah anak kandung minangka ahli warisipun, Allah aprajanji maringi keturunan. Berkahipun Allah mboten saged dipun bayangaken.

Kita saged dados berkah menawi kita gadhah sudut pandang/perspektif jauh ke depan, di seberang kehidupan ini. Gusti Yesus dhawuh bilih Panjenenganipun nilaraken jagad menika, ananging badhe rawuh malih ing satunggiling wekdal mangke. Panjenenganipun ugi dhawuh bilih kraton swargi kacawisaken kangge para pendherekipun. Tantangan kangge kita inggih menika kadospundi mugar/mulihaken gesang duniawi menika saged wangsul kadadosaken gesang sorgawi?

Rawuhipun Sang Kristus ing wekdal ingkang mboten dipun sumerepi, sanes perangkap/jerat, ugi sanes tipu muslihat ingkang dipun kersakaken dening Allah kangge nyergap kita. Rawuhipun Allah dipun sumenekaken supados langkung kathah tiyang gadhah kesempatan dados pendherekipun. Sakderengipun Sang Kristus rawuh, kita gadhah wekdal kangge nyunaraken gesang iman kita, inggih katresnanipun Gusti Yesus sumunar dhateng sesami.

Tiyang ingkang siyaga mapag rawuhipun Gusti, inggih menika tiyang ingkang: (1) Mboten munafik, malah burus ing manah; (2) Mboten jirih, malah cumadhang nglairaken paseksi; (3) Mboten kuwatir, ananging pitados;            (4) Mboten rakus, ananging dhemen tetulung; (5) Mboten males/kesed, ananging rajin/tekun. Mugi-mugi gesang kita saged tuwuh lan ngrembaka dados kados Sang Kristus, supados yen Panjenenganipun rawuh, kita siyaga mapag kanthi sukarena.

Panutup

Menawi Allah sampun maringi dukungan dhateng Abraham, supados mboten ajrih lan tetep teguh ing manah, Panjenenganipun ugi badhe maringi dukungan kangge kita, sebab Panjenenganipun menika  pelindung lan tameng kita; Ing wekdal kita ajrih tumraping bab-bab ingkang badhe kedadosan, ing wekdal kita ngalami karibetan, enget bilih Allah setya nganthi kita lan aprajanji maringi berkah kangge masa depan kita. Amin.  (Esha)

Pamuji  :  KPJ. 357 : 1, 2, 3.

 

Bagikan Entri Ini:

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •