Masuk Kembali Dalam Pelukan Allah Khotbah Minggu 31 Maret 2019

18 March 2019

Minggu Pra – Paskah IV
Stola Ungu

Bacaan 1 : Yosua 5: 9-12
Bacaan 2  : 2 Korintus 5: 16-21
Bacaan 3 : Lukas 15: 1-3, 11b-32

Tema Liturgis  : Kedaulatan, Cinta, dan Keadilan Allah berjalan seiring dan Indah pada waktunya.
Tema Khotbah : Masuk Kembali Dalam Pelukan Allah

KETERANGAN BACAAN
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca/dipelajari saat mempersiapkan khotbah)

Yosua 5: 9-12

Peristiwa yang terjadi di Gilgal, mengingatkan kita akan firman Tuhan kepada Yosua atas terwujudnya proses pembaharuan terhadap bangsa israel sebab “cela Mesir” itu akan dihapuskan. Salah satu pemahamannya adalah berhentinya pengembaraan tanpa arah di padang gurun dan Tuhan telah membuktikan janjiNya akan tanah perjanjian. Di tempat itu pula Paskah dirayakan untuk mengenang kembali bagaimana Allah bertindak menyelamatkan umat Israel dari perbudakan di Mesir. Kondisi baru dirasakan umat Israel, sebagai petanda berakhirnya suatu zaman dan dimulainya zaman lain. Manna yang adalah makanan khusus saat bangsa Israel mengembara di padang gurun, sekarang mereka menetap di Kanaan. Mereka dapat menanam gandum yang akan menjadi makanan pokoknya. Umat Israel diharuskan untuk makan roti yang dibuat tanpa ragi selama seminggu berikutnya setelah Paskah, yang dikenal dengan perayaan roti tidak beragi. Sebagai wujud syukur dapat menikmati hasil negeri sendiri dan mengenang kebesaran Allah atas keselamatan umatNya.

2 Korintus 5: 16-21

Keteladanan yang baik diperlihatkan oleh Paulus kepada jemaat di Korintus dengan pengalaman nyata bahwa dirinya sempat bergabung dengan orang-orang yang menindas pengikut Kristus. Namun akhirnya perlakuan itu terhenti oleh kekuatan Allah, jadilah Paulus sebagai ciptaan baru. Kristus telah menyingkirkan dosa manusia termasuk dalam diri Paulus, maka dimungkinkanlah kemudian perdamaian antara Allah dan manusia terwujud. Apa yang dilakukan Paulus adalah sebagai ungkapan syukur karena anugerah kasih Kristus. Anugerah itulah yang membuat Paulus hidup bukan hanya bagi dirinya sendiri, tetapi bagi Kristus yang telah mati dan bangkit kembali. Ciptaan baru dalam diri Paulus akan bermakna jika senantiasa memperkenankan Allah berkarya dalam dirinya. Sudah nampak jelas, bahwa motivasi Paulus melayani adalah karena ia takut akan Tuhan dan kasih Allah telah menguasai dirinya.

Lukas 15: 1-3, 11b-32

Cara cerdik Tuhan Yesus untuk meruntuhkan sikap buruk orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang menganggap orang lain penuh dosa dan tidak layak didekati. Sebuah perumpamaan yang menyoroti sikap orang Farisi dan ahli Taurat yang merasa diri benar. Orang Farisi dan ahli taurat merasa bahwa hanya merekalah yang layak masuk kerajaaan Tuhan. Kisah ini membalikkan pandangan mereka bahwa Allah sangat menghargai setiap orang yang mau datang dan mengakui dosanya. Anggapan bahwa ukuran kekudusan adalah tidak berteman dengan orang yang berdosa, terpatahkan oleh sikap Yesus yang justru sering berada bersama orang berdosa. Tiga tokoh sentral dalam kisah perumpamaan ini menggambarkan bagaimana figur Bapak yang adalah Tuhan Yesus bisa menerima si bungsu, merupakan gambaran orang berdosa yang mau datang kembali dan mengakui segala kesalahannya dan mau bertobat. Sedang si sulung adalah sikap orang Farisi dan dan ahli Taurat yang penuh dengan keiri-hatiannya kepada si bungsu. Sulit bagi si sulung untuk menerima pengakuan dosa adiknya, demikian juga tentu sulit baginya untuk bisa melihat bahwa dalam dirinya justru penuh dengan dosa yang mestinya juga bisa menerima kasih karunia Allah.

Benang Merah Tiga Bacaan

Secara individu maupun kelompok, bahwa manusia yang telah menerima kedaulatan Allah akan terselamatkan, seperti dalam diri Paulus dan umat Israel. Mereka adalah ciptaan baru yang tentu akan menempatkan karya Allah dalam dirinya. Demikian juga mereka yang datang dan mengakui dosanya seperti perumpamaan si bungsu, maka Allah akan menerimanya sebagai ciptaan baru. Itu semua menunjukkan kepada kita akan kedaulatan, cinta dan keadilan Allah yang senantiasa berlaku pada saat yang tepat.

RANCANGAN KOTBAH: bahasa Indonesia

Pendahuluan

Sepertinya manusia dapat dipilah menjadi dua bagian yang didasarkan kepada perlakuan hidupnya. Manusia yang bisa menerima perlakuan baik Allah dan manusia yang sulit menerima rancangan Allah, baik terhadap dirinya maupun dalam kehidupan di sekitarnya. Setiap orang maupun kelompok yang menerima perlakuan baik Allah, tidak hanya berdampak baik terhadap dirinya sendiri tetapi juga berimbas dalam kehidupan sesamanya juga. Sedangkan mereka yang sulit menerima rancangan Allah, seringkali merasa terusik hidupnya yang pada akhirnya ada niatan jahat untuk melawannya. Rancangan Allah yang dipastikan akan berdampak baik bagi semuanya itu, akan mendapat perlawanan bagi yang menolaknya dengan beragam dalih. Kesempurnaan Allah demi umat ciptaan-Nya, terlebih yang dirancang sebagai teman sekerja-Nya, Dia akan menjemput bola dengan tindakan yang diluar nalar manusia. Demikianlah kesaksian para penulis dalam bacaan kita saat ini. Bagaimana bangsa Israel yang pada akhirnya bisa menikmati makanan pokok hasil tanam dari negeri sendiri. Paulus yang adalah ciptaan baru setelah runtuhnya sikap perlawanannya terhadap pengikut Kristus. Dan bagaimana Tuhan Yesus meruntuhkan sikap egois orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang dilambangkan dengan penerimaan sang Bapak terhadap si bungsu yang datang dengan pengakuan dosanya.

Isi        

Salah satu kekuatan jahat manusia yang tidak mudah ditaklukkan adalah sikap kebekuan hati terhadap pembaharuan kondisi lingkungannya. Terlebih jika perubahan itu mengusik akan kenyamanan yang sudah dinikmatinya cukup lama. Apalagi perubahan yang diharapkan baru dan lebih baik itu tidak kunjung datang, dan harus memerlukan pengorbanan yang berlawanan dengan kehidupan sebelumnya. Demikianlah yang dialami oleh Umat israel dalam perjalanannya menuju tanah perjanjian dan sajian manna yang cukup lama itu. Tindakan Allah terhadap umat Israel lebih kepada pemberlakuan kedaulatan dan cinta kasih serta keadilan Allah, yang tidak menginginkan umat pilihanNya memiliki kehidupan bahagia yang semu. Sehingga “cela Mesir” harus dihapuskan sebagai penerapan kebaikan Allah untuk menghentikan gundah umat Israel yang menganggap perjalanannya menuju ke tanah perjanjian sebagai pengembaraan tanpa arah. Penghentian pemberian “manna” dengan gandum dari hasil tanam negeri sendiri, sebagai upaya Allah menghentikan “sikap manja” umatNya ke arah kedewasaan kehidupan namun tetap dalam topangan Allah. Beruntung kesadaran umat Israel terhadap karya dan rancangan baik Allah tersebut tetap terjaga dengan perayaan Paskah dan Perayaan hari raya roti tidak beragi. Ini juga merupakan perlambang sikap ungkapan syukur umat pilihan Allah terhadap perlakuan Allah yang baik itu, yang diberlakukannya tepat pada waktunya.

Tak seorangpun diantara kita yang mengatakan bahwa Allah salah memilih umatNya sebagai teman sekerjanya. Sekalipun terhadap orang yang secara nalar tidak mungkin diberlakukannya cinta kasih Allah. Demikianlah kedaulatan Allah juga berlaku terhadap seorang Paulus yang sebelumnya jelas-jelas berupaya untuk menghabisi umat Kristus. Kembali kita diingatkan akan tindakan “jemput bola” Allah terhadap umat pilihanNya, sebuah pemahaman diberikan kepada kita bahwa kedaulatan Allah diberlakukan tepat sesuai dengan hak Allah yang tidak pernah terlihat dan dirasakan sebelumnya oleh nalar atau pikiran manusia. Alur narasi ini mencelikkan mata hati kita, bahwa Allah menghancurkan “kebekuan hati” seseorang menurut waktu dan cara Allah demi kebaikan yang tidak hanya berdampak bagi pribadi satu orang, tetapi berimbas kepada orang-orang di sekitarnya yang pada akhirnya meluas kepada banyak orang. Nilai yang bisa diambil bagi kita adalah betapa banyaknya sikap perlawanan kita yang sering muncul dalam diri kita yang tidak kita sadari. Sebagai contoh, seringkali kita tidak memberlakukan karya Allah dalam diri kita, bahkan menentangnya karena dianggap merugikan kehidupan kita. Itulah sikap perlawanan kita sebagai upaya jahat melawan pemberlakuan rencana Allah. Dampak dari ketidak-berlakunya rencana Allah dalam diri kita indentik dengan perlawanan Paulus sebelum disadarkan oleh Allah. Betapa bahagianya semua orang yang ada di sekitar kita jika kedaulatan dan cinta kasih Allah terjadi dalam perjalanan hidup kita, sebab mereka mendapatkan kebaikan melalui keteladanan kita. Tetapi apa yang terjadi jika karya Allah kita hindari berlaku dalam hidup kita, maka akan tumbuh banyaknya “kebekuan hati” yang melawan kehendak Allah.

Salah satu kebahagiaan seseorang adalah ketika diterima kembali dalam komunitasnya, setelah membuat kesalahan dan mengakuinya. Sebenarnya kebahagian tersebut juga dimiliki oleh yang ditinggalkan sebelumnya, karena kesadaran akan pengakuan kesalahan itu membongkar kebekuan hati. Namun pemahaman tersebut tidak seluruh kerabat atau teman serta sesama disekitarnya bisa menerimanya. Oleh karena itu, perumpamaan yang diberikan Tuhan Yesus dalam bacaan ketiga, selain bagaimana perlakuan si Bapak mau menerima si bungsu yang datang dan bertobat, tetapi juga proses merobohkan keiri-hatian si sulung yang sulit menerima perlakuan si Bapak terhadap adiknya yang hanya dilihat sebagai orang yang menghabiskan harta. Sikap kedekatan Yesus dan mau menerima terhadap mereka yang berdosa, sebenarnya merupakan tindakan awal menyematkan proses pembersihan diri yang merupakan persiapan masuknya rancangan baik Allah kedalam diri orang tersebut. Maka narasi kehidupan orang tersebut akan diberlakukan kedaulatan Allah yang siap menerapkan keteladanan baik dari Allah kepada sesamanya. Banyak orang yang berperilaku seperti orang-orang Farisi dan ahli taurat yang sulit menerima perlakuan baik Kristus, seperti dalam perumpamaan si sulung yang menentang perlakuan bapaknya terhadap si bungsu. Ketika si bungsu yang berdosa bisa diterima dengan baik, dan itu juga berarti bahwa mereka yang berdosa dan bertobat bisa mendapat perlakuan baik, maka letak permasalahannya sekarang terhadap si sulung atau siapa saja yang masih menyimpan “kebekuan hatinya” dan tidak mau bertobat malah menentang sebuah tindakan kebaikan dari Allah. Sebuah sikap yang mempertahankan kenyamanan diri yang berdampak melestarikan egois dibiarkan tumbuh dalam dirinya.

Penutup

Pemberlakuan kedaulatan, cinta kasih dan keadilan Allah diawali dari hasrat dan kehendakNya serta diterapkan tepat pada waktunya. Kebaikan tersebut ditujukan kepada siapa saja tak terkecuali, baik yang merasa bersalah dan bertobat maupun mereka yang selama ini merasa baik namun masih menyimpan iri hati dan sulit menerima mereka yang dianggap penuh dosa. Kedaulatan, cinta kasih dan keadilan Allah itu bagaikan udara yang menggembara bebas tidak terbatas ruang dan waktu, mereka yang menghirupnya akan memberlakukan karya Allah dalam dirinya. Sebagai umat Allah, biarlah karya Allah saja yang berlaku dalam hidup kita, bukan yang lainnya, semoga. Amin

Nyanyian: KJ 246, KJ 369a, KJ 370


RANCANGAN KHOTBAH: Basa Jawi

Pambuka

Kadose manungsa punika saged kapilah dados kalih adedasar tumindak ing lampah gesangipun. Manungsa ingkang saged nampi patrap saenipun Allah lan manungsa ingkang rumaos awrat anampeni karsanipun Allah, inggih tumrap gesangipun piyambak miwah tumrap pigesangan ing sakupengipun. Sedaya tiyang sacara pribadi utawi golongan ingkang saged nampi patrap saenipun Gusti, boten namung migunani kangge pribadi utawi golonganipun piyambak, ananging ugi saged maedahi kangge sesami lintunipun. Ananging tetiyang ingkang awrat nampeni karsanipun Allah, malah asring gumrengseng batosipun wusana tuwuh pepinginan awon lan wusananipun nyingkur Gusti Allah. Karsanipun Allah ingkang pinesthi adi kangge sedaya titah punika, inggih taksih angsal mensah awujud tumindak ‘nyiwak’ kanthi alesan ingkang warni-warni. Kasampurnanipun Allah kangge sedaya titah, mligi ingkang kapething dados rencang damelipun, punika Gusti piyambak ingkang miwiti tumindak sanadyan karaos mokal ing pamikiran manungsa. Inggih mekaten paseksine juru serat ing waosan kita sapunika. Kadospundi amrih umat Israel kawusananipun saged ngraosaken tetedhan ingkang tuwuh saking siti piyambak. Paulus ingkang ngrumaosi dados titah enggal, sesampunipun ambruke patrap tumindak awon ing gesangipun nguya-uya pandhereke Gusti Yesus. Lan kadospundi saweg Gusti Yesus ‘nggogrogaken”  patrap pamrih kangge kabetahan piyambak ing gesange para tiyang Farisi lan para ahli Torat, kanthi kagambaraken kalayan panampine kang rama tumrap putra ragilipun, ingkang wangsul malih lan mratobat.

Isi

Salah satunggile kekiyatan awon manungsa ingkang boten gampil kakawonaken inggih punika wangkote manah tumrap tuwuhe kahanan enggal ing sakupenge lampah gesangipun. Utaminipun menawi ewah-ewahan kalawau dados pepalang katentremanipun ingkang sampun lumampah lami. Langkung-langkung menawi ewah-ewahan ingkang kaajeng-ajeng enggal katingal kalawau dereng karaosaken, kamangka kedah mbetahaken pangorbanan lan boten salaras kaliyan lampah gesang sakderengipun. Inggih mekaten ingkang kalampahan ing gesangipun umat Israel kala semanten saweg lumampah tumuju tanah prajanjian lan tetedhan “manna” ingkang radi lami punika. Tumindaking Allah tumrap umat Israel punika utaminipun kangge ngetrapaken panguwaose lan katresnane sarta kaadilanipun Allah, ingkang boten ngeparengaken umat kagungane nggadhahi kabingahan “semu”. Satemah “kanisthaning Mesir” kedah kasingkiraken supados kasaenanipun Allah saged kaetrapaken kangge mungkasi ruweting manahipun umat Israel ingkang nggadhahi panganggep bilih lelampahan tumuju tanah prajanjian punika tanpa tujuan ingkang cetha. Pamungkasing pacawisan “manna” kagantos kaliyan gandum saking taneman piyambak kala semanten, murih saged ngecalaken patrap “ngalem” umatipun Allah tumuju kadiwasaning gesang kanthi tetep ing panyengkuyungipun Allah. Mbingahaken sanget awit pangertosan umat Israel tumrap pakaryanipun Allah tansah kajagi krana tansah dipun pengeti kanthi mangun riyadin Paskah lan kalajengaken kaliyan dedaharan roti tanpa ragi. Punika wujuding raos sokur dumateng Allah ingkang tansah ngetrapaken sedaya karsaniPun ing wekdal ingkang trep.

Mokal kangge kita yen wonten pamanggih bilih Allah punika lepat mething salah satunggiling titah dados rencang damelipun. Kalebet kangge tetiyang, sanadyan mokal ing pamikiran, saged nampeni katresnanipun Gusti. Inggih mekaten panguwaose Allah lumampah ing gesangipun Paulus, tiyang ingkang sakderengipun tansah nguya-kuya pandhereke Gusti. Kita kaengetaken malih kaliyan patrapipun Allah ingkang langkung rumiyin kagungan karsa miwiti miji dumateng umatipun. Wujude pangertosan ingkang kedah kita tampi bilih panguwaose Allah punika kaetrapaken wonten ing panggenan lan wekdal ingkang salaras kaliyan pikajengipun lan boten tinimu nalar ing pamikirane manungsa limrah. Lumampahing carios punika mbikak batos kita bilih Allah bade ngremukaken kawangkotane manungsa miturut wekdal lan margining Allah piyambak kangge kasaenanipun kathah tiyang. Pangertosan ingkang saged karaosaken, bilih taksih kathah tumindak ingkang lumawan dumateng Allah ingkang tuwuh ing batos kita lan boten kita rumaosi. Asring kita boten saged ngetrapaken karsanipun Allah ing lampah gesang, krana ketingal boten migunani kangge kebetahan piyambak, patrap punika inggih kalebet lumawan dumateng Gusti. Nglirwakaken karsanipun Allah tebih ing lampahing gesang kita punika, sami kaliyan ingkang kalampahan ing gesanging Paulus sakderenging kaemutaken dening Gusti. Kadospundi bingahipun kangge manungsa ing sakupenging gesang kita, menawi panguwaos, katresnanipun Allah punika lumampah ing gesang kita, tamtu kathah tiyang ingkang badhe nampeni kasaenanipun Allah lumantar gesang kita. Lan kosok wangsulanipun, kadospundi menawi karsanipun Allah punika kita lirwakaken, tamtu badhe tuwuh ngrembaka batos ingkang wangkot, ingkang tansah lumawan karsanipun Allah.

Tiyang badhe ngraosaken kabingahan menawi saged katampi malih wonten ing brayat utami pakempalanipun malih, krana sampun damel lan ngakeni kalepatanipun. Sejatosipun kabingahan kalawau inggih karaosaken kaliyan ingkang tinilar, awit pangaken kalepatan punika nggadhah teges mbikak manah ingkang wangkot. Ananging pamanggih punika, boten sedaya tiyang saged nampi kalabet kanca raket lan brayat piyambak. Pramila, pasemon kang kawucal dening Gusti Yesus ing waosan angka tiga punika, kejawi kadospundi patrapipun kang rama saged nampi putra ragil ingkang wangsul lan mratobat, nanging ugi tumindaking Gusti ngrebahaken patrap meri putra mbarep ingkang awrat nampeni patrapipun kang rama tumrap sedherekipun ingkang kawastanan tiyang ingkang sampun nelasaken rajabrana kalawau. Raketing Gusti Yesus ingkang purun nampi tiyang dosa, sejatosipun punika patrap wiwitan kangge ngresiki pribadi kebak rereged, ingkang kawastanan cecawis kangge lumebete karsa adine Allah dumateng pribadi tiyang kalawau. Satemah lumampahe gesang tiyang kalawau kebak kaliyan karsanipun Allah satemah sumadya dados tulada kangge sesaminipun. Kathah tiyang ingkang tumindak kados dene tiyang-tiyang Farisi lan para ahli Taurat ingkang awrat nampi patrap adinipun Kristus, kados ing pasemon putra mbarep ingkang nampik patrap ramanipun anampeni putra ragil. Saweg putra ragil ingkang ngrumaosi dosa saged katampi kanthi sae, punika ateges bilih sedaya tiyang ingkang rumaos lepat lan mratobat saged nampi patrap sae. Mila kawigatosan kita sapunika tumrap tiyang kadosdene anak barep ingkang taksih nyimpen batos ingkang wangkot punika, lan dereng purun mratobat, malah lumawan karsanipun Allah. Salah satunggile patrap ingkang njagi kahanan “rumaos tentrem” amrih saged nglestantunaken kebetahanipun piyambak supados tansah kawangun ngrumbaka wonten ing gesangipun.

Panutup

Pangetrapan kuwaos, katresnan lan kaadilanipun Allah kawiwitan saking patrap lan pikajengipun Allah salaras kaliyan wekdal ingkang sampun katetepaken piyambak. Kasaenan punika kaparingaken dumateng sinten kemawon, inggih tumrap tiyang ingkang rumaos lepat lan mratobat, semanten ugi tumrap tetiyang ingkang rumaos sae nanging taksih nyimpen raos meri lan awrat nampi sesami ingkang kaanggep taksih kalumuran dosa. Kuwaos, katresnan dalah kaadilanipun Allah punika kadosdene hawa ingkang sumebar tanpa winates dening panggenan lan wekdal, sok sintena kemawon ingkang ngisem hawa kalawau, inggih punika ingkang ngetrapaken pakaryane Allah wonten ing gesangipun. Dados umat kagungane Gusti, sumangga sami mbikak manah kangge lumampahing karsaning Allah wonten ing gesang kita, sanes lintunipun, mugi-mugi. Amin

Pamuji:  KPJ. 158, KPJ. 58, KPJ. 404

Renungan Harian

Renungan Harian Anak