Minggu Pra – Paskah III
Stola Ungu
Bacaan 1 : Yesaya 55:1-9
Bacaan 2 : 1 Korintus 10:1-13
Bacaan 3 : Lukas 13:1-9
Tema Liturgis : Kedaulatan, Cinta dan Keadilan Allah Berjalan Seiring dan Indah Pada Waktunya”
Tema Kotbah : Ayo berbuah, selagi masih ada kesempatan!
KETERANGAN BACAAN
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan kotbah)
Yesaya 55:1-9
Bangsa Israel, yang telah meninggalkan Allah dan kebenaran-Nya, kini diundang kembali oleh Allah untuk kembali kepadaNya dan dikembalikan kepada persekutuan dan berkat.
Syarat penting untuk keselamatan ialah kelaparan dan dahaga rohani yang sejati akan pengampunan dan hubungan yang benar dengan Allah (bdk. Yohanes 4:14; 7:37), berlandaskan korban kematian sang Mesias-Hamba (Yesaya 53:1-12). Kita harus bertobat dari dosa-dosa dan menghampiri Dia dalam iman; lagi pula, lapar dan dahaga akan kebenaran Allah dan kuasa kerajaanNYa masih terus menjadi syarat yang sangat penting untuk menerima kepenuhan Roh-Nya.
Kita harus mencari Allah selama masih ada janjiNya untuk menanggapi. Waktu keselamatan Allah itu terbatas; akan tiba hariNya Dia tidak berkenan ditemui.
Rancangan dan jalan Allah tidak sama dengan rancangan manusia biasa. Tetapi hati dan pikiran manusia dapat dibaharui dan diubah dengan mencari Dia; lalu pikiran dan jalan kita akan mulai selaras dengan jalanNya. Keinginan kita yang terbesar seharusnya hidup selaras dengan citra Tuhan kita sehingga segala sesuatu yang kita lakukan menyenangkan Allah yang kita layani. Kita dapat melakukan hal ini dengan tetap tinggal dalam firmanNya dan menanggapi pimpinan Roh Kudus.
1 Korintus 10:1-13
Kenyataan bahwa seseorang dapat ditebus, ambil bagian dalam kasih karunia ilahi, namun akhirnya ditolak oleh Allah karena tingkah lakunya yang jahat.
Orang Israel telah mengalami kasih karunia Allah dalam peristiwa keluaran. Mereka telah dibebaskan dari perbudakan (ayat 1), dibaptis (ayat 2) dan diperlihara di padang gurun, mengalami persekutuan yang erat dengan Kristus (ayat 3-4). Meskipun demikian sebagian besar dari mereka telah gagal untuk menaati perintah Allah, sehingga mereka dibinasakan olehNya di padang gurun. Mereka kehilangan hak sebagai umat pilihan, dan tidak bisa memasuki tanah perjanjian (bdk. Bilangan 14:30). Maksud Paulus inilah: sama seperti Allah tidak membiarkan penyembahan berhala, dosa dan kebejatan Israel, demikianlah Ia tidak akan membiarkan dosa orang percaya yang hidup di bawah perjanjian yang baru. Hukuman Allah yang dahsyat atas orang Israel yang tidak taat menjadi contoh dan peringatan bagi mereka yang berada di bawah perjanjian yang baru agar jangan menginginkan hal-hal yang jahat. Paulus memperingatkan jemaat Korintus bahwa jika mereka mengulangi ketidaksetiaan Israel (ayat 7-10), mereka juga akan menerima hukuman Allah dan tidak akan masuk tempat sorgawi yang dijanjikan.
Roh Kudus dengan tegas menyatakan bahwa Allah menyediakan bagi anak-anakNya kasih karunia yang memadai untuk mengatasi setiap cobaan atau dengan kata lain melawan dosa. Jikalau orang Kristen menyerah kepada dosa, itu karena orang percaya gagal melawan keinginan berdosa mereka dengan kuasa Roh.
Lukas 13:1-9
Ada yang berpikir bahwa musibah atau malapetaka yang dialami sebagai akibat dari dosa manusia sehingga malapetaka dianggap sebagai ujian dari Tuhan. demikianlah pikiran orang Yahudi pada zaman Tuhan Yesus. dalam agama dua musibah yang disampaikan orang banyak kepadaNya, yang satu karena kejahatan manusia yaitu orang-orang Galilea yang dibantai Pilatus dan yang satu karena kecelakaan yaitu kedelapan belas orang yang telah meninggal karena ditimpa menara Siloam. Mereka bercerita kepada Tuhan Yesus dengan nada mencela orang-orang yang telah meninggal itu. Mereka berpikir bahwa orang-orang yang mendapat malapetaka itu sudah menerima siksanya karena dosa-dosa mereka.
Tuhan Yesus mematahkan pemahaman mereka dengan berkata “Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya dari pada dosa semua orang Galilea yang lain, karena mereka mengalami nasib itu? Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian. Atau sangkamu kedelapan belas orang, yang mati ditimpa menara dekat Siloam, lebih besar kesalahannya dari pada kesalahan semua orang lain yang diam di Yerusalem? Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian.” (ay. 2-5). Tuhan Yesus mengajak mereka untuk bertobat daripada menghakimi.
Melalui perumpamaan tentang pohon ara, Tuhan Yesus ingin menjelaskan bahwa kesempatan untuk bertobat masih diberikan. Pohon ara yang tumbuh selama tiga tahun ternyata tidak menghasilkan apa-apa (ay. 6). Permintaan untuk menebang pohon tersebut menunjukkan batas kesabaran si pemilik kebun yang telah menanti selama tiga tahun (ay.7). Meskipun demikian, pemilik kebun masih memohon kepada tuannya untuk bersabar menantikan pohon tersebut berbuah. Kesempatan diberikan selama setahun lagi menunjukkan bahwa masih ada harapan dan kesempatan untuk bertobat.
Benang Merah Tiga Bacaan
Pertobatan merupakan satu-satunya jalan untuk bisa kembali kepada Tuhan karena kehidupan manusia sudah pebuh dengan dosa. Tuhan masih memberikan kesempatan untuk bertobat dan menghasilkan buah.
RANCANGAN KOTBAH: bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan, silahkan dikembangkan sesuai konteks Jemaat)
Pendahuluan
Saudara-saudara yang dikasihi oleh Tuhan,
Ketika ada dua orang: yang satu telah melakukan pembunuhan kejam dan yang satu telah mencuri mangga tetangga. Kira-kira, menurut anda siapakah yang dosanya paling besar? (berikan kesempatan warga jemaat untuk menjawab). Berbicara mengenai dosa sebenarnya kita tidak pernah mengenal dosa besar dan dosa kecil, yang namanya dosa ya tetap saja dosa. Jika memang demikian, coba kita ingat-ingat lagi mulai tadi pagi bangun tidur hingga sekarang berada di tempat ini, kita sudah berbuat dosa atau belum? Apa saja ya? Cukup dijawab dalam hati saja nggih….. Kalau kita mau jujur sebenarnya kehidupan kita sehari-hari tidak pernah luput dari dosa baik yang kita lakukan dengan sengaja atau tidak, baik kepada sesama maupun kepada Tuhan sendiri.
Isi
Saudara-saudara yang terkasih,
Berkaitan dengan dosa, kita tahu bahwa setiap orang telah berbuat dosa, kecuali Tuhan Yesus. Jika memang demikian maka kita tidak perlu memandang orang lain memiliki dosa yang lebih besar dari kita. Seperti halnya yang dilakukan oleh beberapa orang yang membawa kabar mengenai orang-orang Galilea, yang darahnya dicampurkan Pilatus dengan darah korban yang mereka persembahkan ataupun delapan belas orang yang mati ditimpa menara di dekat Siloam. Melalui pernyataan mereka kepada Tuhan Yesus sebenarnya ada maksud terselubung bahwa mereka ingin mengetahui jawaban Tuhan Yesus berkaitan dengan kadar keberdosaan orang-orang yang mengalami malapetaka tersebut. Mereka berpikir bahwa orang-orang yang mendapat malapetaka itu sudah menerima siksanya karena dosa-dosa mereka.
Tuhan Yesus telah mengingatkan mereka dengan keras dan tegas bahwa setiap orang harus bertobat. Dalam perikop ini Tuhan Yesus sudah berkata mengenai pertobatan sebanyak dua kali di dalam ayat 3 dan 5 yang demikian: “Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian.” Tuhan Yesus tidak terjebak dalam pemikiran mereka mengenai kadar dosa. Setiap orang pasti berbuat dosa, sehingga Tuhan Yesus langsung mengingatkan untuk bertobat.
Bagaimana jika kita tidak bertobat? Rasul Paulus telah memberikan contoh melalui kehidupan bangsa Israel yang telah mengalami kasih karunia Allah dalam peristiwa keluaran. Mereka telah dibebaskan dari perbudakan (ayat 1), dibaptis (ayat 2) dan diperlihara di padang gurun, mengalami persekutuan yang erat dengan Kristus (ayat 3-4). Meskipun demikian sebagian besar dari mereka telah gagal untuk menaati perintah Allah, sehingga mereka dibinasakan olehNya di padang gurun. Hukuman Allah yang dahsyat atas orang Israel yang tidak taat menjadi contoh dan peringatan bagi mereka yang berada di bawah perjanjian yang baru agar jangan menginginkan hal-hal yang jahat. Oleh karena itu, Pertobatan menjadi satu-satunya jalan untuk kembali kepada kemuliaan Allah.
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan,
Sebenarnya, minimal satu kali dalam seminggu pada saat kebaktian Minggu, kita juga telah diberikan kesempatan untuk mengakui segala dosa kita dan bertobat dihadapan Tuhan. Namun, yang menjadi pertanyaan kini adalah apakah pertobatan yang kita lakukan benar-benar tulus dari dalam hati kita? Pertobatan itu tidak hanya sekedar ucapan bibir tetapi harus tulus keluar dari dalam hati kita. Pertobatan ini bisa terjadi ketika seseorang melakukannya atas kemauannya sendiri, bukan karena terpaksa atau dipaksa dan tentu saja melalui tuntunan Roh Kudus. Rancangan dan jalan Allah tidak sama dengan rancangan manusia biasa. Tetapi hati dan pikiran manusia dapat dibaharui dan diubah dengan mencari Dia; lalu pikiran dan jalan kita akan mulai selaras dengan jalanNya. Inilah gunanya bertobat.
Ada satu tanda yang dapat kita gunakan untuk mengetahui apakah pertobatan yang dilakukan itu sungguh-sungguh atau tidak yaitu melalui buah yang dihasilkan. Tuhan Yesus memberikan perumpamaan mengenai pohon ara yang tidak berbuah. Pohon ara yang tumbuh selama tiga tahun ternyata tidak menghasilkan apa-apa (ay. 6). Permintaan untuk menebang pohon tersebut menunjukkan batas kesabaran si pemilik kebun yang telah menanti selama tiga tahun (ay.7). Meskipun demikian, penggarap kebun masih meminta waktu selama satu tahun supaya ia bisa merawat, mencangkul dan memberi pupuk terhadap pohon ara tersebuut. Siapa tahu pohon ara tersebut bisa menghasilkan buah. Benarlah, pohon ara tersebut masih diberikan waktu selama satu tahun. Begitu juga dengan kita yang bertobat masih diberikan kesempatan untuk menghasilkan buah, sehingga maih ada pengharapan bagi kita.
Penutup
Saudara-saudara yang terkasih,
Bagaimana, apakah pertobatan yang selama ini kita lakukan sudah sungguh-sungguh di hadapan Tuhan? Tulus keluar dari dalam hati kita? Apakah kita sudah menghasilkan buah yang baik, besar dan tidak dimakan ulat dari pertobatan kita? Mari mumpung kita masih diberikan kesempatan. Amin.
Nyanyian: KJ. 169
RANCANGAN KOTBAH: basa Jawi
Pambuka
Para sedherek ingkang ditresnani Gusti,
Nalika wonten tiyang kalih: ingkang setunggal sampun nindakaken pembunuhan keji daln ingkang nomer kalih sampun nyolong pelem kagungane tangginipun. Miturut panjenengan sinten ingkang dosanipun paling ageng? (dipun paringi wakdal kagem wargane pasamuan paring wangsulan). Ngrembag bab dosa estunipun kita mboten nate tepang kalian dosa alit utawi dosa ageng, ingkang naminipun dosa nggih dosa. Menawi pancen kados mekaten, cobi dipun dipun eling-eling malih wiwit kala wau enjing nembe tangi ngantos sakmangke, kinten-kinten kita sampun nindakaken dosa napa dereng? Napa mawon nggih? Cekap diwangsli wonten ing manah mawon nggih….. Nalika kita purun jujur kasunyatan bilih wonten ing gesang sadinten-dinten kita asring sanget ndamel dosa sae menika ingkang dipun sengaja menapa mboten, sae dumateng sesami langkung-langkung dumateng Gusti Allah piyambak.
Isi
Para sedherek ingkang kinasih,
Gegayutan kalian dosa, kita sami mangertosi bilih saben tiyang sampun nindakaken dosa, kejawi Gusti Yesus. Menawi kados mekaten kamangka mbboten perlu malih nilai dosanipun tiyang sanes langkung ageng tinimbang diri kita. Kados dene ingkang sampun dipun tindakaken dening para tiyang ingkang ngasto pawartos bab para tiyang Galilea ingkang, getihe sami kawutahake dening Pilatus pramila getihe dados campur kalian getihe korban ingkang diunjukaken utawi wolulas tiyang ingkang sami mati kebrukan menara ing Siloam. Para tiyang menika kepingin mangertosi wangsulanipun Gusti Yesus gegayutan kalian kadar dosa para tiyang ingkang sampun mati nampi bilai. Pamikiranipun bilih para tiyang ingkang sampun mati nampi bilai tampu sampun nampi pasiksa amargi dosa-dosanipun.
Gusti Yesus paring piweling kanthi teges banget bilih saben manungsa kedah mratobat. Wonten ing perikop meniko Gusti Yesus sampun ngandiko bab pamratobat kaping kalih wonten ig ayat 3 lan ayat 5 ingkang mekaten; “Nanging menawa kowe padha ora mratobat, bakal tiwas kanthi patrap mangkono”. Gusti Yesus mboten kejebak wonten ing pamikiranipun para tiyang kalawau bab kadar dosa. Saben tiyang mesti nindakaken dosa, pramila Gusti Yesus paring piweling supados mratobat.
Kados pundi menawi mboten mratobat? Rasul Paulus sampun paring tuladha bilih gesangipun bangsa Israel ingkang sampun nampi Sih Rahmatipun Gusti Allah lumantar prastawa pangluwaran. Bangsa Israel sampun dipunbebasaken saking perbudakan (ay. 1), dibaptis (ay. 2) lan dipun openi wonten ing pasamunan, sampun ngalami gesang ingkang raket kalian Gusti (ay.3-4). Senajan kados mekaten saperangan ageng saking bangsa Israel sampun gagal anggenipun netepi dawuhipun Gusti Allah pramila katumpes wonten ing pasamunan. Hukuman ingkang sampun katampi saking Gusti Allah tumraping para tiyang ingkang mboten manut menika dados tuladha kagem para tiyang ingkang gesang ing Prajanjian Enggal supados mboten nindakaken perkawis-perkawis ingkang jahat. Pramila, pamratobat dados margi utami supados manungsa sageg wangsul malih dumateng kamulyanipun Gusti Allah.
Para sedherek ingkang kinasih,
Sejatosipun, minimal seminggu sepindah kita sami sampun kaparingan wekdal kagem mratobat rikala pangabekti dinten Minggu. Nanging ingkang dados pitakenan sakmangke nggih menika menapa pamratobat ingkang sampun kita tindakaken menika sampun tulus saking lebeting manah kita? Pamratobat menika mboten namung ing lambe kemawon nanging ugi tulus lair saking manah. Pamratobat meniko saged kalair saestu nalika mboten kapeksa lan tamtunipun lumantar panuntuning Roh Suci. Rancangan lan margining Gusti Allag saestu mboten sami kalian rancanganipun manungsa. Nanging manah lan pikiranipun manungsa saestu saged kaenggalaken dan kaubah nalika manungsa purun madosi Gusti Allah piyambak, pramila margi ingkang kita lampahi manut karsanipun Gusti. Menika ingkang dados gunanipun tiyang mratobat.
Wonten satunggal tanda ingakng saged kagunakaken kagem mangertosi menapa pamratobat ingkang sampun kelampahan kala wau saestu napa mboten, nggih menika lumantar woh ingkang dipun hasilaken. Gusti Yesus paring pasemon bab wit anjir ingkang mboten ngedalaken woh. Sampun tigang tahun, wit anjir kalawau mboten ngasilaken woh (ay. 6). Lajeng ingkang kagungan kebon nyuwun supados wit anjir kalawau ditebang kemawon. Panyuwunan menika nggambaraken batese kesabaran (ay. 7). Senajan kados mekatan tiyang ingkang nggarap kebon tasih nyuwun wekdal setunggal tahun supados saged ngrimati, maculi lan ngrabuk wit anjir kala wau. Mbok bilih wit anjir kalawau lajeng saged ngasilaken woh. Saestu, wit anjir kalawau tasih dipun paringi kesempatan setunggal tahun. Mekaten ugi kita ingkang mratobat ugi tasih dipun paringi kesempatan kagem ngasilaken woh. Pramila tasik wonten pangarep-arep kagem kita sami.
Panutup
Para sedherek ingkang kinasih,
Kados pundi, menapa pamratobat kita sampun saestu kita lampahi wonten ing ngarsanipun Gusti? Sampun kalair saking manah kita? Menapa kita sampun saged ngasilaken woh ingkang sae, ageng-ageng lan mboten dipangan uler? Monggo mumpung kita taksih kaparingan wekdal lan kesempatan. Amin.
Pamuji: KPJ. 390