Minggu Pra – Paskah V
Stola Ungu
Bacaan 1 : Yesaya 43: 16-21
Bacaan 2 : Filipi 3: 4b-14:
Bacaan 3 : Yohanes 12: 1-8
Tema Liturgis : Kedaulatan, Cinta dan Keadilan Allah Berjalan Seiring dan Indah pada Waktunya.
Tema Khotbah : Demi Masa Depan
KETERANGAN BACAAN
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
Yesaya 43: 16-21
Bagian ayat-ayat ini ada dalam bagian kedua kitab Yesaya (Deutero-Yesaya). Para ahli Kitab Suci membagi kitab Yesaya dalam tiga bagian yakni pasal 1-39 merupakan bagian satu/Proto-Yesaya), pasal 40-55 adalah bagian dua/Deutero-Yesaya, pasal 56-66 disebut bagian ketiga/Trito-Yesaya. Kitab Yesaya bagian pertama berasal dari masa ketika Yehuda diancam oleh Asyur. Bagian kedua ditujukan kepada orang-orang Yehuda yang akan/sedang hidup dalam pengasingan/pembuangan di Babel. Sedangkan bagian ketiga, secara garis besar ditujukan kepada umat yang telah kembali dari pembuangan. Bagian kedua, yang termasuk didalamnya adalah bacaan ini, mayoritas berisi pengharapan pembebasan yang dijanjikan oleh Tuhan bagi umat yang sedang putus asa dalam pembuangan di Babel.
Tuhan mengingatkan umat kembali akan penyertaanNya dan bahwa Ia akan berindak menyelamatkan seperti ketika Ia membelah lautan yang menenggelamkan pasukan Firaun di Laut Teberau (lihat ayat 16-17, bandingkan dengan Keluaran 14: 15-31). Dengan menarasikan kembali kisah Keluaran, Yesaya 43: 16- 21 ini ingin menekankan bahwa Tuhan adalah Sang Pengharapan, Sang Pembebas, Sang Penyelamat yang akan bertindak bagi umat yang sedang dalam penderitaan.
Filipi 3: 4b-14
Surat Filipi ini ditulis oleh Paulus ketika Paulus melakukan perjalanan misi yang kedua. Surat yang ditulis dari dalam penjara ini memiliki nada pengajaran yang kental, tetapi dibahasakan dengan akrab. Ini menunjukkan kedekatan antara Paulus dengan jemaat Filipi.
Jemaat Filipi sedang mengalami gangguan karena maraknya pengajar palsu , perselisihan, dan pengaruh agama Yahudi serta orang-orang Kristen keturunan Yahudi yang merasa lebih baik dari orang Kristen keturunan lain.
Pada Filipi 3: 4b-14 ini Paulus berharap bahwa orang-orang Kristen tidak lagi fokus memikirkan hal-hal yang di belakang, yang seharusnya sudah ditinggalkan ketika telah mengikut Kristus. Umat seharusnya fokus pada apa yang ada di depan karena dengan menjadi pengikut Kristus, tidak penting lagi memikirkan apakah mereka orang Yahudi atau bukan. Yang paling penting adalah memikirkan masa depan yakni bagaimana bisa menjadi serupa dengan Kristus dalam kematian dan kebangkitanNya.
Yohanes 12: 1- 8
Kisah Yesus diurapi minyak narwastu dan diseka dengan rambut ini ada di semua Injil. Menariknya, Injil Yohanes menceritakan yang berbeda daripada Injil-Injil yang lain soal siapa perempuan yang meminyaki kaki Yesus. Jika di Injil-injil yang lain (Matius 26, Markus 14, Lukas 7), perempuan yang meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambut itu hanya disebutkan sebagai: seorang perempuan atau perempuan berdosa, maka di Injil Yohanes nama perempuan yang meminyaki kaki Yesus disebut. Dialah Maria, saudara Marta dan Lazarus.
Motif Maria meminyaki kaki Yesus tidak disebutkan secara eksplisit. Namun banyak penafsir menyebut bahwa hal tersebut dilakukan sebagai tanda kerendahan hati Maria kepada Yesus yang sangat dihormatinya. Penafsir yang lain juga menyebut bahwa pengurapan kaki Yesus dengan minyak narwastu murni yang mahal merupakan tanda persiapan bagi Yesus untuk memasuki sengsara kematian demi menebus dosa manusia. Hal tersebut sesuai dengan yang diucapkan sendiri oleh Yesus di ayat 7.
Yesus memaknai peristiwa itu sebagai tanda persiapan atas apa yang akan segera dialamiNya di Yerusalem, kota tujuanNya, yakni mati untuk membebaskan manusia.
Benang Merah Tiga Bacaan
Ketiga bacaan menyebutkan tentang pengharapan masa depan dan Allah yang membebaskan. Yesaya berbicara tentang pengharapan bagi umat Yehuda di Babel yakni bahwa Allah berkenan membebaskan Yehuda dari Babel. Paulus berbicara tentang pertobatan dan masa depan dalam Kristus Yesus yang membebaskannya dan membuatnya fokus memikirkan masa depan. Tuhan Yesus berbicara tentang tanda permulaan misiNya menuju Yerusalem untuk mati demi membebaskan manusia.
RANCANGAN KHOTBAH: Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan, silakan dikembangkan sesuai konteks jemaat)
Pendahuluan
Pada rancangan buku katekisasi remaja ada sebuah pembahasan tentang pentingnya remaja menyadari untuk memikirkan masa depannya sejak dini. Beberapa pembahasan menggambarkan bahwa baik kalau remaja memikirkan atau mengangan-angankan masa depan. Ada pembahasan tentang bagaimana remaja membayangkan hidupnya sepuluh tahun lagi, bagaimana pasangan hidupnya nanti, bagaimana jika nanti punya anak, dan bagaimana nanti ketika menjadi orang tua. Para remaja diajak untuk mengandai-andaikan masa depannya supaya para remaja mempertimbangkan hidupnya mulai dari sekarang. Mereka diajak mempersiapkan diri dan memiliki kesadaran bahwa apa yang mereka pikirkan, putuskan, dan lakukan saat ini bisa mempengaruhi masa depannya. Masa kini dan masa depan, tidak bisa dipisahkan.
Isi
Apa yang dilakukan Maria dengan meminyaki kaki Yesus menandai apa yang akan terjadi kemudian yakni persiapan kematian Yesus, meskipun mungkin tindakan Maria itu dimaknai secara berbeda-beda oleh orang-orang yang melihat. Bagi Maria, apa yang ia lakukan adalah tanda betapa ia menghormati Sang Guru itu. Sebegitu terhormatnya Yesus bagi Maria sehingga ia rela meminyaki kaki Yesus dengan minyak yang mahal dan menyeka kaki itu dengan rambutnya. Tetapi bagi Yudas Iskariot, apa yang dilakukan oleh Maria tersebut adalah tanda pemborosan. Tanda ketidakpedulian pada kemiskinan di sekitarnya. Bukankah lebih baik minyak tersebut dijual dan uangnya dipakai untuk membantu orang-orang miskin? Demikian pendapat Yudas Iskariot. Sayangnya pendapat itu tidak didasarkan pada ketulusan untuk memperhatikan orang miskin, tetapi didasarkan pada nafsunya terhadap uang.
Bagi Yesus, apa yang dilakukan Maria adalah tanda yang mengawali suatu tugas maha besar di masa depan. Hari itu telah dekat. Ia akan segera ke Yerusalem dan siap menjadi penebus umat manusia. Ia akan menunaikan kasih Tuhan bagi manusia. Ia sedang bersiap menuju ke penggenapan kasih Tuhan bagi umat manusia itu. Kunjungannya ke Betania adalah bagian dari perjalanan mengemban misi menyelamatkan masa depan manusia.
Masa depan adalah hal penting. Sejak awal, kisah penyelamatan Allah itu berkaitan dengan masa depan. Salah satu contohnya, Allah melalui Nabi Yesaya mengajak untuk berpikir soal masa depan. Masa depan yang penuh kedamaian dan kebahagiaan yang disediakan bagi umat Tuhan. Umat diajak memikirkan suatu pengharapan. Pengharapan yang memampukan manusia menjalani kehidupannya dengan lebih positif.
Bagi Paulus, masa depan merupakan hal yang ia kejar. Diawali oleh pertobatannya, ia menetapkan fokus apa yang harus ia lakukan di masa kini untuk meraih masa depan itu. Paulus mengatakan: “ Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitanNya dan persekutuan dalam penderitaanNya, di mana aku menjadi serupa dengan dia dalam kematianNya.(ay. 10)” Masa depan yang ingin diraih oleh Paulus adalah supaya ia akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati (ay. 11). Apa yang ia lakukan untuk bisa mendapatkannya? Paulus mengatakan bahwa ia melupakan apa yang di belakangnya dan mengarahkan diri pada apa yang di hadapan serta berlari-lari kepada tujuan (ay. 13, 14) . Paulus menggunakan sebuah perumpamaan untuk menggambarkan pandangannya. Intinya, pertobatan itu akan dipakainya sebagai titik berangkat untuk memusatkan diri pada masa depan. Maka ia di masa kini berupaya keras.
Pertobatan adalah tindakan besar dalam diri manusia yang menjadi titik balik kehidupan menuju pada masa depan yang lebih baik. Pada dasarnya setiap orang yang mengharapkan masa depan yang lebih baik dan penuh pengharapan harus mengupayakan pertobatan diri. Pertobatan itu bisa bermacam-macam bentuk. Baik yang bersifat rohani maupun “pertobatan” dalam artian meninggalkan kebiasaan buruk dan menggantinya dengan kebiasaan baik.
Penutup
Masa depan tidak bisa dilepaskan dari masa kini. Meskipun masa depan adalah sesuatu yang harus kita pikirkan, tetapi itu harus dimulai dengan memikirkan masa kini. Banyak orang terlalu focus pada masa depan tetapi tidak memberi perhatian pada masa kini. Padahal masa kini memiliki peran yang signifikan untuk masa depan.
Masa kini adalah masa yang sedang kita hadapi. Masa yang nyata sedang kita alami. Perhatian pada masa kini yang nyata ini adalah hal yang tak boleh diabaikan. Banyak pertobatan-pertobatan di masa kini yang harus dilakukan jika ingin meraih masa depan yang didambakan. Semoga kita dimampukan untuk meneliti hidup kita dan menatanya bersama Tuhan dengan lebih baik.
Nyanyian: KJ. 436: 1,2
RANCANGAN KHOTBAH: Basa Jawi
Pambuka
Ing rancangan buku katekisasi kagem remaja wonten satunggaling bahasan bab wigati dene para remaja nzadhari kedah mikiraken mangsa ngajeng wiwit wiwitan mula. Saperangan gagasan nggambaraken mendah saenipun menawi para remaja nggagas lan ngangen-angen mangsa ngajeng. Wonten gagasan bab kadospundi remaja ngangen-angen gesangipun sedasa tahun malih, kadospundi semahipun mangke, kadospundi menawi gadhah anak nalika sampun diwasa mangke, lan kadospundi menawi dados tiyang sepuh. Para remaja dipunajak ngangen-angen mangsa ngajeng supados saged nimbang-nimbang gesangipun wiwit samangke. Para remaja dipunajak nyiapaken dhiri lan nggadhahi kasadaran bilih menapa ingkang dipunpikiraken, putusaken, lan tindakaken samangke nggadhahi pengaruh kangge mangsa ngajeng gesangipun. Samangke lan mangsa ngajeng boten saged dipunpisahaken.
Isi
Menapa ingkang dipuntindakaken Maryam, njebadi sampeyanipun Gusti Yesus, minangka tandha persiapan sedanipun Gusti Yesus mangke, sanadyanta patrapipun Maria menika dipunmangertosi benten-benten dening tiyang-tiyang ingkang sami nyekseni. Kangge Maryam, njebadi sampeyanipun Gusti Yesus menika wujud anggenipun ngurmati Sang Guru. Gusti Yesus sanget kinurmat kangge Maryam, mila piyambakipun lila njebadi sampeyanipun Gusti ngangge lenga ingkang awis sanget lan nyeka sampeyan menika ngangge rambutipun. Nanging kangge Yudas Iskariot, menapa ingkang dipuntindakaken Maryam menika tandha pemborosan. Sawijining tandha ngiwaaken tiyang-tiyang mlarat. “Yagene lenga jebad iku ora didol telung atus dinar banjur didanakake marang para wong miskin?”, makaten ujaripun Yudas Iskariot. Emanipun, Yudas wicanten makaten boten krana tulus anggenipun kepengen nggatosaken tiyang miskin, nanging krana hawa nepsunipun dhumateng artha.
Kagem Gusti Yesus, menapa ingkang dipuntindakaken Maryam menika tandha miwiti tugas ageng ing mangsa ngajeng. Dinten menika sampun celak. Gusti Yesus badhe tumuju Yerusalem lan sumadya dados panebusing manungsa. Panjenenganipun mujudaken rancangan katresnanipun Gusti Allah kangge manungsa. Panjenenganipun tata-tata tumuju kayektenipun katresnanipun Gusti kangge manungsa. Anggenipun rawuh ing Betania minangka perangan ngemban misi milujengaken mangsa ngajengipun manungsa.
Mangsa ngajeng menika wigati. Wiwit wiwitan mula, cariyos bab kawilujengan saking Gusti Allah tansah dipungandhengaken kaliyan mangsa ngajeng. Contonipun, Gusti Allah lumantar nabi Yesaya mbereg umat kangge nggagas mangsa ngajeng. Mangsa ngajeng ingkang ayem tentrem lan kebak karenan ingkang sampun sumadya kangge para umat. Umat dipunajak nggagas pangajeng-ajeng. Pangajeng-ajeng ingkang saged ngiyataken manungsa nglampahi gesangipun kanthi langkung positif.
Kagem rasul Paulus, mangsa ngajeng menika ingkang dipunoyak. Dipunwiwiti anggenipun mratobat, piyambakipun netepaken punjer menapa ingkang kedah katindakaken samangke kangge nyandhak mangsa ngajeng. Rasul Paulus ngendika, “ Kang dakkarepake yaiku wanuh marang Panjenengane lan dayane wungune lan manunggil ing sajrone sangsarane, temahan aku dadi madha rupa lan Panjenengane an ing sedane” (ay. 10) Mangsa ngajeng ingkang kersa dipuncandhak dening rasul Paulus inggih menika supados sanged nampeni sih rahmat wungu saking antawisipun tiyang pejah (ay. 11). Menapa ingkang kedah katindakaken supados saged nampeni sedaya kalawau? Rasul Paulus dhawuh bilih piyambakipun nyupekaken menapa ingkang ing wingkingipun lan ngarah dhumateng menapa ingkang ing ngajengipun lan rikat anggenipun mlajeng tumuju tujuan (ay. 13-14). Rasul Paulus ngagem sanepan kangge nggambaraken pamanggihipun. Intinipun, mratobat menika langkah awal kangge musataken dhiri dhateng mangsa ngajeng. Mila rasul Paulus ngupadi sedaya menika kanthi utun lan temen.
Mratobat menika bab ageng ing dhirinipun manungsa ingkang dados titik balik gesang tumuju mangsa ngajeng ingkang padhang/sae. Limrahipun sok sintena ingkang ngajeng-ajeng mangsa ngajeng ingkang langkung sae lan kebak pangajeng-ajeng kedah purum mratobat. Mratobat menika saged mawarni-warni wujudipun. Sae ingkang sipatipun rohani urawi ugi mratobat ingkang artosipun nilar pakulinan ala dipungantos pakulinan sae.
Panutup
Mangsa ngajeng boten saged dipunpisah kaliyan samangke. Sanadyanta mangsa ngajeng menika bab ingkang kedah kita pikiraken, ananging kedah dipunwiwiti kanthi nggagas mangsa samangke. Kathah tiyang ingkang munjeraken sedayanipun dhateng mangsa ngajeng lan boten paring kawigatosan dhumateng wekdal samangke. Kamangka samangke gadhah pengaruh ingkang ageng kangge mangsa ngajeng.
Masa samangke inggih menika wekdal ingkang kita adhepi samangke. Wekdal ingkang nyata kita alami. Kawigatosan dhumateng wekdal samangke boteng pareng kita kiwaaken. Kathah pitobatan-pitobatan ing wekdal samangke ingkang kedah kita tindakaken menawi kepengen nyandhak mangsa ngajeng sae ingkang kita ajeng-ajeng. Mugi-mugi kita dipunkiyataken kangge nliti gesang kita lan nata sedayanipun sesarengan kaliyan Gusti. Amin.
Pamuji: KPJ. 434: 1, 3.