Menerima Kehadiran Sang Juru Selamat Khotbah Minggu 31 Desember 2017

Tutup Tahun
Stola Merah

 

Bacaan 1         : Yesaya 62 : 1 – 12.
Bacaan 2         : Galatia 4 : 4 – 7.
Bacaan 3         : Lukas 2 : 22 – 40.

Tema Liturgis : Hidup Dalam Kelimpahan Anugerah Tuhan.
Tema Khotbah : Menerima Kehadiran Sang Juru Selamat.

 

Keterangan Bacaan
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Yesaya 62: 1 – 12.

Israel yang menerima janji keselamatan akan menjadi bangsa yang benar di hadapan bangsa-bangsa lain. Bangsa-bangsa lain akan mengenal dengan sebutan baru sebagai “bangsa kudus”. Predikat baru ini adalah pemberian Allah yang menyelamatkan mereka. Bangsa-bangsa lain akan melihat perubahan dari bangsa yang dulunya merasa “ditinggalkan” oleh Allah, sekarang menjadi bangsa yang “diperhatikan” oleh Allah.

Allah akan menerima Israel dengan sukacita bagaikan kegirangan seorang muda belia menjadi suami seorang anak dara, dan seperti kegirangan seorang mempelai melihat pengantin perempuan. Hal ini merupakan perumpamaan Allah sebagai mempelai laki-laki dan Israel sebagai mempelai perempuan (ayat 5). Allah menerima Israel dengan kegirangan, dan itu merupakan anugerah luar biasa bagi Israel. Janji keselamatan ini bukan hanya persoalan kegirangan sesaat, tetapi juga sukacita berkaitan dengan rasa aman, berkat jasmani dan juga masalah rohani. Semua itu diterima Israel dari Allah. Dia yang berprakarsa, dan Dia pula yang mengerjakan karya keselamatan itu. Hal ini benar-benar menjadi penghiburan dan kesuka-citaan bagi Israel.

 

Galatia 4: 4 – 7.

Paulus mengingatkan orang-orang di Galatia bahwa kehadiran Yesus Kristus adalah untuk membebaskan manusia dari belenggu ketundukan pada hukum Taurat. Termasuk “orang tuanya” yang saat itu juga tunduk dan melakukan berbagai tuntutan hukum Taurat. Itulah sebabnya mereka semua disebut sebagai hamba hukum Taurat. Dengan kata lain, mereka adalah hamba hukum Taurat.

Kehadiran Yesus Kristus adalah untuk mengubah status manusia dari status sebagai hamba menjadi sebagai anak. Sebagai anak tentunya mereka berhak menyebut “Bapa” kepada Allah dan juga berhak menjadi ahli waris. Posisi ini hanya mungkin terjadi karena Yesus Kristus yang telah mengubah status itu dengan segala pengorbanan yang harus Dia lakukan supaya manusia yang percaya kepadaNya bisa menjadi ahli waris kerajaan Allah. Hamba bukanlah ahli waris, sehingga mereka tidak berhak menempati kerajaan sorga. Tetapi seorang anak berhak mendapatkan semua itu. Perubahan status itu murni pemberian Allah di dalam Yesus Kristus. Itulah kasih karunia Allah. Sehingga, semua orang percaya kepada Yesus Kristus sekarang juga disebut sebagai “anak-anak Allah”.

 

Lukas 2: 22 – 40.

Dalam tradisi agama Yahudi ada 3 upacara keagamaan yang harus dilakukan setelah lahirnya bayi. Pertama, adalah sunat. Sunat diperuntukkan bagi bayi laki-laki yang berumur 8 hari. Pada saat itulah bayi diberi nama oleh orang tuanya. Sunat merupakan simbol keturunan Abraham yang juga menjadi umat Allah. Kedua, adalah upacara pengudusan setelah kelahiran anak pertama. Upacara ini dilaksanakan sebulan setelah kelahiran. Anak sulung itu dibawa ke Bait Allah untuk diserahkan kepada Tuhan disertai dengan persembahan sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati. Ketiga,  adalah upacara pentahiran ibu yang habis melahirkan. Jika anaknya laki-laki, maka upacara pentahiran itu dilakukan 40 hari setelah melahirkan. Tetapi jika anaknya perempuan, maka upacara itu dilakukan 80 hari setelah melahirkan. Sebelum upacara itu dilakukan, seorang perempuan dinyatakan najis dan tidak boleh beribadah ke Bait Allah. Pada upacara itu orang tua membawa domba untuk dikorbankan oleh imam. Tetapi jika mereka tidak mampu, bisa diganti dengan sepasang burung merpati. Dan itulah yang dikorbankan oleh Maria dan Yusuf.

Simeon, orang benar dan saleh yang saat itu “menerima” Yesus untuk melakukan upacara keagamaan Yahudi. Di ayat 27 dituliskan bahwa dia datang ke Bait Allah karena Roh Kudus. Artinya, Allah sudah mempersiapkan segala sesuatunya sehingga Simeonpun berkesempatan berjumpa dengan Mesias sebagaimana yang dia rindukan. Setelah perjumpaan itu, melalui pujiannya, Simeon menyatakan kesediaannya untuk dipanggil Tuhan. Simeon telah melihat keselamatan dari Tuhan yang telah dijanjikan kepada umat Israel. Simeon telah melihat kebenaran janji Tuhan itu.

Ayat 36, 37  menyatakan bahwa ada seorang janda berumur 84 tahun bernama Hana. Dia juga orang benar dan saleh seperti Simeon. Hal itu terbukti bahwa hari-harinya diisi dengan tinggal di Bait Allah siang dan malam untuk berdoa dan berpuasa.  Hana adalah seorang nabi perempuan (nabiah). Sebagaimana Simeon, Hanapun juga mengharapkan kehadiran Mesias. Sebagai seorang nabiah pada saat itu, Hana juga berbicara tentang firman Tuhan. Hanapun bersyukur atas perjumpaannya dengan bayi Yesus (ayat 38).

Yusuf dan Maria menyelesaikan semua ketentuan hukum Taurat berkaitan dengan upacara keagamaan yang harus mereka lakukan. Setelah itu mereka kembali pulang ke Nazaret. Di ayat 40 disebutkan bahwa hikmat dan kasih karunia Allah benar-benar dinyatakan dan nampak semenjak Yesus masih kanak-kanak. Dia tetap berada dalam asuhan Yusuf dan Maria di Nazaret, tetapi tetap berada dalam kasih karunia Allah.

 

Benang merah tiga bacaan

Status baru sebagai umat yang telah diselamatkan membawa perubahan dari status hamba Taurat menjadi anak-anak Allah. Semua itu dikerjakan oleh Yesus Kristus sebagai Juru Selamat.

 

RANCANGAN KHOTBAH: Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan…bisa dikembangkan sendiri sesuai konteks jemaat)

MENERIMA KEHADIRAN SANG MESIAS
(Nats: Lukas 2: 28)

 

Pendahuluan

Berbagai tanggapan bisa diterima oleh seseorang yang menjadi “penghuni/ pendatang baru”, termasuk seorang bayi. Paling tidak, ada yang menerima dengan gembira dan mungkin juga ada yang menerima dengan terpaksa atau kebencian. Kehadiran bayi Yesus juga mungkin saja mengalami tanggapan (respon) seperti itu. Paling tidak, dalam bacaan hari ini kita bisa melihat ada dua orang yang menyambut kehadiran bayi Yesus itu dengan sukacita, dengan kegembiraan yang luar biasa. Mereka adalah Simeon dan Hana.

Kegembiraan mereka bukanlah kegembiraan yang biasa. Kegembiraan mereka lebih pada kesuka-citaan rohani karena mereka merasa telah menerima dan membuktikan terpenuhinya janji Allah tentang hadirnya Mesias. Perjumpaan Simeon dan Hana dengan bayi Yesus menjadi kesuka-citaan tersendiri bagi mereka karena mereka bisa bersyukur setelah “berjumpa” dengan Sang Juru Selamat. Perjumpaan itupun menjadikan mereka begitu iklas untuk dipanggil Tuhan/ menghadap kepada Tuhan dengan sukacita karena telah berjumpa dengan Sang Mesias yang memang dinanti-nantikan sekian lama oleh bangsa Israel. Itulah sebabnya perjumpaan Simeon dan Hana dengan bayi Yesus di Bait Allah itu menjadi saat yang “spesial” dan benar-benar mereka syukuri.

 

Isi

Penerimaan yang tulus terhadap kehadiran Sang Mesias membawa dampak positif yang luar biasa bagi mereka. Bagi Simeon dan Hana, penerimaan dan perjumpaan mereka dengan Sang Mesias berdampak pada ucapan syukur, pujian dan bahkan kepasrahan kepada Allah untuk setiap saat siap menghadapi kematian. Ada kepuasan dan kebanggaan tersendiri setelah mereka berjumpa dan menerima kehadiran Sang Mesias itu.

Sang Juru Selamat hadir ke dunia memang untuk semua orang. Tetapi, kenyataannya tidak semua orang menerima kehadiranNya dengan sukacita. Simeon dan Hana tidak hanya berjumpa secara fisik dengan bayi Yesus di Bait Allah itu, tetapi secara rohani mereka benar-benar terbuka menerima kehadiran Sang Mesias dan siap menerima apapun karyaNya. Termasuk karya Allah untuk berhadapan dengan kematian. Menerima kehadiran Sang Juru Selamat ternyata juga membawa pembaharuan hidup bagi Simeon dan Hana. Ada perubahan pemahaman, dari yang dulunya menanti-nanti kehadiran Mesias, kini bersukacita menerima kehadiran Sang Mesias. Dari yang dulunya tetap hidup saleh karena berpengharapan, kini menjadi hidup saleh karena ucapan syukurnya dan kesiapannya menghadap Tuhan. Bukan hanya itu, ternyata dengan menerima kehadiran Sang Mesias mereka juga siap menerima dan melaksanakan kehendak Allah.

Pembaharuan hidup setelah menerima kehadiran Mesias ini tentu sesuai dengan yang dinubuatkan oleh nabi Yesaya (lih. bacaan 1). Mereka yang telah menerima pembaharuan itu menerima “sebutan baru” sebagai “bangsa kudus”, bukan lagi sebagai “bangsa yang ditinggalkan”. Predikat baru itu juga dirasakan oleh Simeon dan Hana. Semua merupakan anugerah Allah. Kesadaran akan anugerah Allah yang tak terhingga itulah yang menjadikan mereka mengungkapkan rasa syukurnya melalui pujian mereka. Dalam surat Galatia (lih. bacaan 2), Rasul Paulus juga menekankan bahwa sebagai orang-orang yang telah ditebus dari belenggu dosa, semua orang percaya juga menerima predikat baru sebagai anak-anak Allah, sebagai ahli waris Allah. Dan inilah anugerah yang terbesar dalam hidup manusia.

Dengan kata lain bisa dikatakan bahwa jika seseorang bisa menerima kehadiran Yesus Kristus Sang Mesias sebagaimana Simeon dan Hana, itupun karena anugerah Allah yang memberi kesempatan dan membuka hatinya untuk sedia menerima kehadiranNya. Ternyata orang-orang “sederhana” yang diungkapkan oleh Alkitab yang lebih terbuka menerima kehadiran Sang Mesias. Simeon dan Hana yang sederhana dalam keberadaan fisiknya (karena usia lanjut), kesederhanaannya dalam menanti janji Tuhan sehingga menghabiskan hari tua mereka dengan beribadah di Bait Allah. Selain itu, kita juga melihat kesederhanaan Yusuf dan Maria dari jenis korban yang dibawa ke Bait Allah. Mereka tidak membawa dan mengorbankan domba, tetapi sepasang burung merpati. Itu adalah salah satu tanda kesederhanaan mereka secara materi. Kesederhanaan Yusuf dan Maria juga diikuti dengan “kesederhanaan” cara berpikir mereka yang begitu berserah pada kehendak Tuhan, apapun tantangan yang mereka hadapi. Hal ini juga diwujudkan dengan ketaatan dan kesetiaan mereka dalam memenuhi ketentuan hukum Taurat pada saat itu untuk menyerahkan “anak sulung” mereka kepada Tuhan di Bait Allah.

Apapun yang dilakukan baik oleh Simeon dan Hana maupun Yusuf dan Maria, semua itu merupakan wujud penerimaan mereka yang tulus terhadap kehadiran Sang Juru Selamat dalam hidup mereka. Kehadiran Juru Selamat ini benar-benar mereka hayati dalam hidup mereka yang akhirnya membawa perubahan juga dalam diri mereka ke arah ketaatan pada terlaksananya kehendak Allah dalam hidup mereka. Menerima kehadiran Sang Juru Selamat tidak hanya berhenti pada kesuka-citaan batiniah secara pribadi, tetapi juga diikuti ketundukan pada kehendak Allah, apapun bentuknya. Bedanya, kini ketaatan itu bukan lagi dilakukan dalam rangka penantian akan hadirnya Sang Mesias, tetapi lebih pada wujud ucapan syukur karena telah berjumpa secara pribadi dengan Sang Mesias.

Simeon dan Hana tidak sedikitpun mengalami rasa takut untuk berhadapan dengan kematian karena mereka telah yakin bahwa perjumpaanNya dengan bayi Yesus Sang Juru Selamat itu telah menyelamatkan mereka. Apa yang harus ditakutkan jika perjumpaan secara pribadi dengan Sang Mesias itu telah  menjamin keselamatan kita? Simeon dan Hana telah memberi teladan kepada kita bahwa semua orang membutuhkan perjumpaan secara pribadi itu dengan Sang Juru Selamat. Perjumpaan itu hanya anugerah. Kita hanya perlu membuka hati untuk bisa dengan tulus terbuka menerima kehadiran Sang Mesias itu dalam hati dan hidup kita. Kitapun harus mengalami perubahan pola berpikir, perilaku dan apapun yang menunjukkan kesiapan kita memberlakukan kehendak Allah dalam hidup kita. Sebagaimana Simeon dan Hana yang begitu “legawa” menerima kehendak Allah -termasuk berjumpa dengan kematian- akan diterima dengan sukacita.

 

Penutup

Menerima kehadiran Mesias dalam hidup kita ternyata juga diwujudkan dengan perubahan pola pikir, gaya hidup dan lainnya, demi terlaksananya kehendak Allah. Menerima Yesus Kristus sebagai Juru Selamat dalam hidup kita tidak cukup hanya kita terima sebagai kesuka-citaan rohani secara pribadi, tetapi juga diikuti dengan ketundukan pada kehendak Allah. Ketika kita sedia diatur oleh Allah, kita juga menerimanya dengan sukacita, karena kita sadar telah menerima anugerah besar dari Allah yang berwujud keselamatan. Apapun kehendak Allah yang harus kita hadapi, kita bisa menghadapinya dengan sukacita dan ucapan syukur (seperti Simeon dan Hana) karena telah yakin bahwa Allah menyelamatkan kita.

Menyambut kehadiran Sang Mesias dalam hidup kita berarti juga mewujudkan perubahan hidup yang sedia memberlakukan kehendak Allah dengan sukacita, dan bukan memaksakan kehendak sendiri. Sudahkah kita menyambut  dengan benar kehadiran Sang Mesias dalam hidup keseharian kita? Akhir tahun tentunya menjadi kesempatan yang tepat bagi kita untuk “introspeksi”  berkaitan dengan hal ini. Perayaan-perayaan Natal mungkin telah berakhir, tetapi perayaan-perayaan itu apakah juga mampu membawa perubahan dalam hidup kita sehingga benar-benar terbukti menerima kehadiran Sang Mesias dalam hidup kita? Perubahan hidup seperti apakah yang telah kita alami di tahun ini sebagai wujud penerimaan kita terhadap kehadiran Sang Mesias?  Amin. (YM).

 

Nyanyian: Kidung Jemaat 128: 1, 2.


RANCANGAN KHOTBAH: Basa Jawi.

NAMPENI RAWUHIPUN SANG MESIH
(Jejer: Lukas 2: 28)

Pambuka

Mawarni-warni pamanggih saged katampi dening tiyang ingkang dados “warga/ tamu enggal”, kalebet bayi. Paling mboten, wonten ingkang nampi kanthi bingah lan mbokbilih ugi wonten ingkang nampi kanthi raos kepeksa utawi raos sengit. Wiyosipun Sang Bayi Yesus saged kemawon nampeni pamanggih ingkang kados mekaten. Ing waosan kita dinten punika kita saged niti priksa bilih wonten tiyang kalih ingkang nampeni rawuhipun Sang Bayi Yesus punika kanthi kabingahan ingkang ageng. Tiyang-tiyang kalawau asmanipun Simeon lan Hana.

Kabingahanipun Simeon lan Hana sanes kabingahan ingkang limrah. Kabingahan punika langkung asipat kabingahan rohani awit rumaos sampun nampeni lan mbuktekaken prajanjinipun Allah sampun kawujud ing rawuhipun Sang Mesih. Pepanggihanipun Simeon lan Hana kaliyan bayi Yesus dados kabingahan. Simeon lan Hana saged saos sukur sasampunipun pinanggih kaliyan Sang Juru Wilujeng. Pepanggihan punika ndadosaken legawaning manah bilih katimbalan dening Gusti lan ugi bingah awit sampun pinanggih kaliyan Sang Mesih ingkang sampun mataun-taun karantos dening bangsa Israel. Pramila, pepanggihanipun Simeon lan Hana kaliyan bayi Yesus punika dados wekdal ingkang mirunggan lan saestu ndadosaken saos sukuripun.

 

Isi

Panampi ingkang tulus dhumateng rawuhipun Sang Mesih mbekta ewah-ewahan ingkang ageng sanget tumrap Simeon lan Hana. Nampeni lan pepanggihan kaliyan Sang Mesih nuwuhaken saos sokur, pamuji lan ugi kepasrahan dhumateng Allah bilih sawanci-wanci katimbalan dening Gusti. Wonten raos mongkog ing manah sasampunipun pinanggih lan nampeni rawuhipun Sang Mesih punika.

Sang Juru Wilujeng rawuh ing donya pancen kangge sedaya manungsa. Ananging, nyatanipun boten sedaya manungsa nameni rawuhipun kanthi bingah. Simeon lan Hana boten namung pinanggih secara fisik kaliyan bayi Yesus ing padaleman suci punika, ananging secara rohani Simeon lan Hana saestu nampeni rawuhipun Sang Mesih lan ugi sumadya nampeni punapa kemawon ingkang dados karsanipun Gusti, kalebet karsanipun Gusti menawi Gusti ngersakaken nimbali. Nampeni rawuhipun Sang Juru Wilujeng nyatanipun ugi mbekta gesang enggal tumrap Simeon lan Hana. Wonten ewah-ewahan ing bab pangertosan. Rumiyin, namung ngrantos rawuhipun Sang Mesih, samangke dados kabingahan awit sampun nampeni rawuhipun Sang Mesih. Rimiyin, tansah gesang mursid awit saking pangajeng-ajengipun, samangke gesang mursid awit saking pangucap sokur lan anggenipun cumadhang katimbalan dening Gusti. Boten namung punika, nyatanipun kanthi nampeni rawuhipun Sang Mesih ugi ndadosaken Simeon lan Hana cumadhang nampeni lan nindakaken kersanipun Allah.

Gesang ingkang sampun kaenggalaken sasampunipun nampeni rawuhipun Sang Mesih punika tamtunipun selaras kaliyan pamecanipun nabi Yesaya (mirsanana waosan 1). Sinten kemawon ingkang sampun nampeni gesang enggal punika saestu nampeni “sebutan enggal” minangka “bangsa kang suci”, sanes “bangsa kang katinggal”. Sebutan enggal punika ugi karaosaken lan dipun alami dening Simeon lan Hana, lan sedaya kalawau sih-kanugrahanipun Allah. Kesadharan ing bab sih-kanugrahanipun Allah ingkang tanpa upami punika ingkang dados landhesan saos sokuripun awujud pamuji. Ing serat Galatia (mirsanana waosan 2), Rasul Paulus ugi paring dhawuh bilih umatipun Allah dados manungsa ingkang sampun tinebus saking panguwaosing dosa, sedaya tiyang pitados ugi nampeni sebutan enggal selaku para putraning Allah, dados ahli waris. Lan punika dados sih-kanugrahan ingkang paling ageng ing gesanging manungsa.

Kanthi tembung sanes saged dipun wastani menawi wonten manungsa ingkang saged nampeni rawuhipun Yesus Kristus Sang Mesih kados dene Simeon lan Hana, punika inggih sih-kanugrahanipun Allah ingkang sampun paring wekdal lan mbikak manah supados sumadya nampi rawuhipun. Nyatanipun para tiyang “prasaja” ingkang kapratelakaken dening Kitab Suci langkung saged mbikak manah lan nampi rawuhipun Sang Mesih. Simeon lan Hana ingkang prasaja ing kawontenan badanipun (sampun sepuh sanget), prasaja anggenipun ngrantos prajanjinipun Gusti kanthi tansah ngibadah lan gesang ing pedaleman suci. Kejawi saking punika, kita ugi saged mangertosi Yusuf lan Maryam ingkang ugi prajasa inggih saking kewan ingkang kakorbanaken ing pedaleman suci. Yusuf lan Maryam boten ngurbanaken menda, nanging peksi sajodho. Punika salah satunggaling tandha brayat ingkang prasaja secara materi. Yusuf lan Maryam ugi prasaja penggalihipun ingkang namung pasrah dhumateng kersanipun Gusti, senadyan kedah ngadhepi mawarni-warni kawontenan. Sedaya punika kawujudaken ing kasetyanipun netepi angger-anggering Toret nalika semanten kangge masrahaken “putra pembajeng” dhumateng Gusti ing pedaleman suci.

Punapa kemawon ingkang katindakaken dening Simeon lan Hana mekaten ugi Yusuf lan Maryam, dados wujuding panampi kanthi tulus dhumateng rawuhipun Sang Juru Wilujeng ing salebeting gesangipun. Rawuhipun Sang Juru Wilujeng punika saestu dipun antepi ing gesangipun, lan wusananipun inggih mbekta ewah-ewahan ing gesangipun awujud kasetyan anggenipun nindakaken kersanipun Allah ing gesangipun. Nampeni rawuhipun Sang Juru Wilujeng boten kandheg ing kabingahan batiniah sacara pribadi kemawon, ananging ugi kalajengaken kanthi mbangun turut ing kersanipun Allah, senadyan punapa kemawon wujudipun. Nanging, samangke kasetyan punika boten katindakaken wonten ing salebeting pangajeng-ajeng bab rawuhipun Sang Mesih, nanging dados wujud pangucap sokur awit sampun pinanggih sacara pribadi kaliyan Sang Mesih.

Simeon lan Hana boten ajrih menawi katimbalan dening Gusti awit sampun pitados saestu bilih angenipun pepanggihan kaliyan bayi Yesus Sang Juru Wilujeng punika sampun milujengaken gesangipun. Punapa ingkang badhe ndadosaken ajrih menawi pepanggihanipun sacara pribadi kaliyan Sang Mesih punika sampun paring jaminan kawilujengan? Simeon lan Hana sampun paring tuladha dhateng kita bilih sedaya manungsa mbetahaken pepanggihan sacara pribadi kaliyan Sang Juru Wilujeng. Lan punika boten ngetang umur lan wekdalipun. Pepanggihan kaliyan Gusti punika ugi satunggaling sih-kanugrahanipun Allah. Kita namung betah mbikak manah supados saged kanthi tulus nampeni rawuhipun Sang Mesih punika ing manah lan gesang kita. Kita ugi kedah purun ngalami ewah-ewahan ing bab cara menggalih, tumindak lan punapa kemawon ingkang nedahaken bilih kita sumadya nindakaken kersanipun Allah ing salebeting gesang kita. Kados dene Simeon lan Hana ingkang saestu legawa nampeni kersanipun Allah, kalebet menawi kedah katimbalan dening Gusti kanthi bingah.

 

Panutup

Nampeni rawuhipun Sang Mesih ing gesang kita nyatanipun ugi kawujudaken kanthi wontenipun ewah-ewahan ing bab pemikiran, tata cara gesang, amrih tumindaking kersanipun Allah. Nampeni Gusti Yesus Kristus minangka Juru Wilujeng ing gesang kita boten cekap menawi kita tampi namung minangka kabingahan pribadi sacara rohani kemawon, nanging ugi kedah wonten kesagahan setya nindakaken kersanipun Allah. Nalika kita sumadya katata dening Allah, kita ugi nampeni prekawis punika kanthi bingah, awit kita ngraosaken sampun nampeni sih-kanugrahanipun Allah ingkang ageng, inggih punika awujud kawilujengan. Punapa kemawon kersanipun Allah ingkang kedah kita adhepi, kita saged ngadhepi kanthi bingah lan saos sokur (kados dene Simeon lan Hana) awit sampun pitados saestu bilih Allah sampun paring kawilujengan dhateng kita.

Mahargya rawuhipun Sang Mesih ing gesang kita ateges ugi mujudaken ewah-ewahaning gesang ingkang sumadya nindakaken kersanipun Allah kanthi suka bingah, lan boten meksa kangge nindakaken pepinginan kita piyambak. Punapa kita sampun nampeni rawuhipun Sang Mesih kanthi leres ing gesang padintenan kita?  Pungkasaning taun temtunipun dados wekdal ingkang trep tumrap kita kangge “introspeksi” (niti priksa) ing bab punika. Sedaya pahargyan Natal mbokbilih sampun rampung, ananging, punapa pahargyan-pahargyan punika saged ngewahi gesang kita lan saestu paring bukti bilih kita sampun nampeni rawuhipun Sang Mesih ing gesang kita? kados pundi ewah-ewahaning gesang ingkang sampun kita alami ing taun punika minangka wujuding panarimah kita dhumateng rawuhipun Sang Mesih?  Amin.  (YM)

 

Nyanyian: KPK 241: 1, 3.

 

Bagikan Entri Ini: