Minggu Kristus Raja
Stola Putih
Bacaan 1: Yeremia 23 : 1 – 6
Mazmur: Mazmur 46
Bacaan 2: Kolose 1 : 11 – 20
Bacaan 3: Lukas 23 : 33 – 43
Tema Liturgis: Pengorbanan yang Mendamaikan
Tema Khotbah: Pengorbanan yang Mendamaikan
Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
Yeremia 23 : 1 – 6
Yeremia hidup pada masa yang sulit. Kerajaan Utara (Israel) telah jatuh ke tangan bangsa Asyur beberapa waktu sebelumnya. Sedangkan Kerajaan Selatan (Yehuda) sedang menuju pada kehancuran akibat penyembahan berhala dan ketidaktaatan kepada hukum Tuhan. Belum lagi keadaan sulit atas kemudaan diri Yeremia sendiri yang minim pengalaman. Bagaimanapun, Yeremia muda dipanggil oleh Tuhan untuk menjadi suara-Nya di tengah-tengah bangsa yang memberontak, yakni Yehuda. Tentu bukan tugas yang mudah bagi Yeremia, sebab di tengah pemberontakan itu ia harus menyampaikan sesuatu apa adanya, yang bahkan tidak menyenangkan bangsanya. Di sisi lain, ia juga harus membawa pesan pengharapan tentang pemulihan sebagaimana dinyatakan oleh Tuhan dalam bacaan pertama ini. Betapa pun memberontak, Yehuda tetap umat yang disayangi Tuhan. Nubuat tentang keadilan dan kebenaran yang akan ternyatakan pada saatnya tergenapi oleh karena Tuhan Allah sendiri yang menjadi Raja dalam kehidupan umat-Nya. Itu semua diwujudkan melalui pengorbanan Putra Tunggal-Nya.
Kolose 1 : 11 – 20
Salah satu pendiri Jemaat Kolose adalah Epafras. Ia beserta dengan beberapa pekerja dari Efesus diutus oleh Paulus. Saat Jemaat ini terbentuk, Paulus menerima laporan dari Epafras bahwa di Kolose terdapat pengajar-pengajar palsu. Ajarannya pun jauh dari ajaran dasar Paulus tentang iman Kristen. Penyembahan kepada roh-roh penguasa dan pemerintah alam semesta ini, merupakan ”ajaran palsu”. Pula ditambahi dengan pengajaran untuk menaati peraturan-peraturan sunat dan berbagai pantangan yang harus dipenuhi. Dalam konteks laporan Epafras yang demikian ini, Paulus kemudian bersurat kepada Jemaat Kolose sebagai bentuk tanggungjawab penggembalaannya terhadap kehidupan umat. Dalam suratnya, Paulus tegas menekankan bahwa keselamatan umat adalah dari Kristus Yesus, yang adalah kepenuhan Allah. Kristuslah yang Sulung dari segala yang tercipta di alam semesta ini. Di dalam Kristus, segala sesuatu diciptakan dan berada. Melalui Firman yang menjadi daging dalam Kristus Yesuslah, semua orang percaya diselamatkan melalui pengorbanan darah dan tubuh-Nya. Pengorbanan-Nya itu mendamaikan. Bukan hanya menyoal kedamaian batin, namun juga pendamaian atas perseteruan umat dan Allah karena dosa. Jelas, keselamatan bukanlah upah dari perbuatan dan upaya umat, melainkan sepenuhnya atas anugerah Allah. Inilah yang ditegaskan oleh Paulus sebagai ajaran yang benar.
Lukas 23 : 33 – 43
Injil Lukas lebih dominan menyatakan keberpihakan kepada orang-orang miskin yang kehilangan pengharapan atas pembebasan dari situasi hidup yang sulit. Memang, kaum ini dimatikan haknya untuk hidup layak melalui berbagai pemerasan, perampasan, pembatasan, dan diskriminasi oleh dua golongan, yakni rekan sebangsa yang lebih mapan dan otoritas pemerintah masa itu. Injil Lukas hadir sebagai penguatan pengharapan bahwa Sang Kristus Yesus Raja Yahudi adalah pengharapan mereka. Kisah penyaliban-Nya memang tanpa perlawanan kepada dua golongan yang menindas. Namun, tiada perlawanan bukan berarti tanpa daya. Kekuatan yang disimbolkan melalui penyaliban ialah perlawanan terhadap mentalitas diri sebagai bangsa yang harus menerima nasib tertindas dan terdiskriminasi. Keberpihakan Tuhan Yesus Sang Raja itu membangkitkan pengharapan. Sehingga setiap mereka yang memiliki kepercayaan kepada-Nya, menerima kekuatan. Betapa pun sulitnya kadaan yang menerpa, namun kedamaian hidup tetaplah menjadi hak semua orang, bukan hanya bagi orang kaya dan berkuasa. Sebab, kedamaian berada di dalam sumbernya, yakni Kristus Sang Raja Damai. Sekurang-kurangnya, mentalitas itu ditunjukkan oleh salah satu dari dua orang yang ikut disalibkan bersama Tuhan Yesus. Atas kepercayaan dan pengharapannya, dia diberi keistimewaan untuk menikmati kedamaian bersama Yesus di dalam Firdaus. Di tengah kelelahan pengharapan sebagian besar orang yang mempertanyakan kapan dinyatakannya perlawanan Yesus terhadap penindasan pemerintah, Dia justru sama sekali tidak menjawabnya. Justru, kabar tentang pengorbanan-Nya yang membangkitkan mentalitas damai bagi umat, ini yang mesti terus terwartakan sampai ke ujung bumi. Sehingga, fokus pesan Injil Lukas bukanlah tentang kapan ternyatakannya kedamaian dan keselamatan, namun kesediaan umat untuk mewartakan dan berbagai kedamaian secara terus-menerus. Ini yang patut kita hayati bahwa kedamaian sorgawi bukanlah semata sebagai janji, namun lebih sebagai panggilan bagi setiap orang beriman.
Benang Merah Tiga Bacaan:
Kedamaian sorgawi merupakan anugerah pemberian dan janji Allah yang pasti digenapi. Setiap orang percaya yang menerimanya perlu setia pada pengharapan atas kepastian itu, perlu dihayati dengan sungguh-sungguh, bahwa kesetiaan itu sama nilainya dengan kesediaan untuk menerima kedamaian sorgawi sebagai panggilan mewartakan injil dan membagikannya.
Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)
Pendahuluan
Salah satu hewan terbesar di dunia yang hidup di laut, ialah Paus Biru. Hewan ini memiliki keistimewaan, ia dapat merasakan bahwa kematiannya yang akan segera menimpanya. Menjelang ajal menjemput, Paus Biru akan berenang ratusan kilometer menjauh dari sarangnya sebagai penyelaman terakhirnya. Saat mendekati kematian, ia akan menyelam langsung ke kedalaman laut, sebab di kedalaman itulah kisah kematiannya menarik untuk dihayati. Saat mati di kedalaman, tubuhnya pertama-tama akan dimakan oleh hiu dan belut laut. Beberapa hari setelahnya, sisa-sisa daging akan dimakan oleh cacing-cacing kecil. Setelahnya, giliran jenis cacing-cacing zombie yang mengeluarkan asam untuk melunakkan dan melarutkan tulang-tulang bangkai Paus Biru agar kandungan lemak dan protein yang terkandung di dalamnya dapat keluar. Lemak dan protein ini juga dimakan oleh bakteri simbiotik yang hidup bersama dengan cacing-cacing zombie tersebut. Belum usai, ketika tulang Paus Biru telah larut, itu akan menjadi nutrisi bagi aneka tanaman yang tumbuh di kedalaman laut. Kehidupan Paus berakhir. Namun kematiannya memberikan keberlangsungan hidup bagi sekitar 43 spesies dan sekitar 12.490 organisme kehidupan.
Isi
Pengorbanan Tuhan Yesus Kristus, Putra Tunggal Allah ialah memberikan keberlangsungan hidup bagi segenap ciptaan, teristimewa bagi setiap orang yang memercayakan diri untuk ditanggung-Nya. Keberlangsungan hidup itu mesti diisi terus-menerus dengan kedamaian. Menurut perikop di kitab Yeremia, kedamaian itu akan tergenapi. Yehuda hanya perlu setia kepada janji Allah tanpa harus mengkhianati dengan cara menyeleweng. Yehuda tidak perlu mencari-cari sesuatu untuk disembah di luar Allah mereka, meskipun dirasa lebih mengesankan. Hanya dengan menyatakan kesetiaanlah, kedamaian dapat diperoleh sebagai hak atas janji kedamaian Allah.
Demikian juga menurut rasul Paulus, kedamaian sorgawi itu merupakan anugerah dan sudah ternyatakan bagi kehidupan umat melalui pengorbanan Tuhan Yesus Kristus. Umat tidak perlu lagi bertindak macam-macam bahkan dengan dalih mencari kedamaian sejati sekalipun. Sebab, sejatinya kedamaian hanya ada di dalam Tuhan Yesus Kristus, dan umat tidak perlu tergoda untuk melakukan hal-hal yang terkesan lebih menyenangkan di luar iman percaya mereka kepada Sang Sumber Damai. Umat hanya perlu menjaga dan merawat anugerah pendamaian itu dengan memegang teguh iman mereka tanpa tergoda dengan rupa-rupa pengajaran palsu yang bertentangan dengan pendamaian yang terkandung dalam pengorbanan Tuhan Yesus Kristus.
Sedangkan Injil Lukas, selain ingin menekankan bahwa kedamaian hidup sedang diusung oleh Tuhan Yesus, injil Lukas juga menyampaikan pesan agar setiap orang percaya memercayakan diri kepada Tuhan dan mengamalkan keteladanan-Nya. Mentalitas orang percaya bukanlah fokus pada pertanyaan dan penantian terhadap kapan ternyatakannya keselamatan dan kedamaian abadi. Namun, mempercayakan diri untuk ditanggung oleh Tuhan Yesus, sebuah kesiapan untuk bergerak mewartakan dan membagikan kedamaian yang telah diterima oleh karena pengorbanan-Nya. Sehingga, kedamaian sorgawi bukanlah semata merupakan janji lepas, namun juga sebagai panggilan yang harus dipenuhi oleh setiap orang yang mengaku percaya kepada-Nya.
Penutup
Kedamaian sorgawi memang sebuah anugerah dan janji pasti. Namun yang sama nilainya dengan itu, kedamaian sorgawi adalah panggilan. Untuk itu, pengorbanan Tuhan Yesus yang mendamaikan mari kita respons dengan kesetiaan. Bukan hanya setia menanti janji-Nya, namun lebih lagi kita setia untuk hidup terus-menerus di dalam-Nya dan secara konsisten melakukan panggilan-Nya mewartakan kedamaian sorgawi di mana pun kita berada. Sebab, kita adalah anak-anak damai, orang-orang yang dipilih oleh-Nya sebagai pewaris dan pewarta damai surgawi. Amin. [adx].
Pujian: KJ. 426 Kita Harus Membawa Berita
Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)
Pambuka
Salah satunggaling kewan ingkang paling ageng, ingkang manggen ing samudra inggih punika Paus Biru. Kewan punika saged ngraosaken kapan wancinipun mati. Nalika mapag pati, Paus Biru mungkasi lelakon nglanginipun kanthi nebih atusan kilometer saking papan panggenanipun. Ing titi wancinipun kakiyatanipun telas, Paus Biru punika mandap dhateng telenging samodra, awit ing ngriku lelakon bab patinipun wigatos sanget kangge kita raos-raosaken. Nalika mati ing telenging samodra, badanipun dipun tedha dening hiu lan welut laut. Sawetawis dinten kalampahan, turahan dagingipun dados tetedhan kangge cacing-cacing alit. Sabibaripun, wonten malih kewan ingkang aran cacing zombie ngedalaken cairan asam kangge ngempukaken lan ngejur marang balung-balungipun Paus Biru punika supados lemak saha protein ing balung punika saged medal lajeng dados pangan tumrap cacing zombie kalawau lan ingkang aran bakteri simbiotik. Dereng rampung lelakon patinipun, balung-balung ingkang ajur dados perangan-perangan alit ugi dados nutrisi kangge maneka warni tetaneman ing telenging samodra ngriku. Paus Biru punika mati, nanging patinipun maringi lestarining gesang kangge sawetawis 43 spesies lan sawetawis 12.490 organisme pigesangan.
Isi
Pangurbananipun Gusti Yesus Kristus, Kang Putra Ontang-anting, inggih maringi lestantuning gesang tumrap sagung tumitah, mirunggan tumrap para pitados ingkang masrahakaen dhiri dhumateng Panjenenganipun. Lestantuning gesang punika kedah kapenuhan dening katentreman. Miturut waosan kapisan, katentreman punika minangka prasetya ingkang badhe kayektenan saha katetepan. Yehuda prelu setya tuhu dhumateng prasetyaniPun Gusti Allah. Yehuda mboten kaparengaken atingkah polah ngupaya saprakawis ingkang dados sesembahan anjawi namung dhumateng Gusti Allah kemawon, sinaosa sesembahan sanes punika langkung nengsemaken. Inggih mawi netepi kasetyan kemawon, bab katentreman saged kita gayuh kanthi laku utami minangka yektining prasetya.
Mekaten ugi miturut rasul Paulus. Bab tentreming kaswargan punika inggih minangka peparing, lan kepara sampun kalaksanan tumrap pigesanganipun para umat lumantar pangurbananipun Sang Kristus Yesus. Umat mboten kepareng malih atingkah-polah kanthi pangakal ngupaya sejatining katentreman. Sabab, sejatining katentreman namung wonten ing Panjenenganipun. Para pitados estunipun mboten kenging malih ngupaya lan nindakaken samukawis ingkang nengsemaken lamun cengkah kaliyan imanipun dhumateng Sang Sumber Sejatining Katentreman. Umat kedah ngrimati lan ngupakara katentreman supados lestantun kawontenanipun. Umat mboten kenging malih kagodha dening sarupining pamulang palsu ingkang cengkah kaliyan wosing katentreman ingkang kasuraosaken ing pangurbananipun Gusti Yesus Kristus.
Dene Injil Lukas, kajawi negesaken bilih katentreman saweg kawartosaken dening Gusti Yesus, ugi nedahaken supados para pitados sami masrahaken dhiri ing pananggel-Ipun kanthi sumanggem nindakaken patuladhan-Ipun. Tiyang pitados, mboten samesthinipun namung mendel kemawon ing satengahing pitakenan saha pangantya bab babaripun karahayon saha katentreman ingkang sejati. Punika ngemu suraos bilih masrahaken dhiri sawetahipun ing pananggelipun Gusti Yesus ateges sumanggem lan sagah jumangkah martosaken saha andum katentreman ingkang sampun katampi sarana pangurbanan-Ipun. Temahan, katentreman ingkang katampi dening para pitados mboten namung minangka prasetya kemawon, ananging ugi minangka timbalan ingkang kedah dipun tindakaken.
Panutup
Katentreman kaswargan pancen peparing saha prasetya ingkang sayekti. Nanging bobotipun sami kaliyan timbalan ingkang kedah kita tetepi salaminipun kita ndherek tut wingking Gusti. Pramila, sumangga pangurbananipun Gusti Yesus Kristus kita sambeti kalawan kasetyan. Mboten namung setya anggen kita angantya prasetya bab kaswargan, nanging linangkung malih kita inggih mituhu anggen manetep ing Gusti saha tansah nindakaken timbalanipun mbabar katentreman ing pundia papan panggenan kita. Awit, kita punika anak-anaking karahayon, inggih tetiyang ingkang piniji minangka ahli waris saha pawarta bab rancangan katentreman lan kaswargan. Amin. [adx].
Pamuji: KPJ. 431 Gusti Adhawuh