Orang Berdosa dan Orang Benar Khotbah Minggu 23 Juni 2019

Minggu Biasa I
Stola Hijau

Bacaan 1 : Yesaya 65:1-7
Bacaan 2  : Galatia 3- 23-29
Bacaan 3  : Lukas 8:26-39

Tema Liturgis : Roh Kudus : Rahasia Pengharapan dibalik Panggilan yang Menerangi Hati

 

KETERANGAN BACAAN
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Yesaya 65:1-7

Menunjukkan bahwa Tuhan seantiasa menunggu dan memanggil umat untuk datang kepada-Nya untuk mendapat kasih karunia dan berkat. Namun manusia tidak mendengar dan tidak memperdulikan panggilan Tuhan. Ketika pada akhirnya manusia mengalami penderitaan dan kehancuran dalam hidupnya, hal itu akibat dari perbuatannya sendiri dan akibat dari ketegaran /kekerasan hati umat yang tidak pernah mengindahkan tawaran kasih karunia Tuhan Allah.

Galatia 3:23-29

Menegaskan bahwa keselamatan diperoleh orang percaya bukan karena perbuatan baiknya, tapi karena kasih karunia. Paulus mengingatkan jemaat di Galatia bahwa, hukum taurat tidak dapat menyelamatkan hidup mereka, tatapi karena pengorbanan dan kematian Yesus. Sekarang iman itu telah dianugerahkan kepada mereka sebagai anak-anak Allah. Tidak ada lagi orang Yunani atau Yahudi, budak dan orang merdeka, karena semua telah diselamatkan karena kasih Tuhan.

Lukas 8:26-39

Mencatat tentang pertualangan orang muda Gerasa yang mengalami penderitaan karena dikuasai/dirasuk oleh roh Jahat. Tuhan Yesus tidak menegakan, Ia segera menolong orang muda Gerasa, dengan mengusir roh jahat lalu memindahkannya ke babi. Apa yang dilakukan Yesus ini menegaskan betapa Tuhan Yesus menghargai manusia. Jiwa manusia yang telah rusak karena kuasa roh jahat diselamatkan, agar manusia dipulihkan dan memiliki kemulyaan.  Roh jahat itu dipindahkan ke ternakan babi, sehingga babi-babi masuk jurang dan mati. Tuhan Yesus lebih menyayangkan jiwa manusia daripada hal-hal lain termasuk didalamnya harta duniawi, walaupun babi-babi itu mahal harganya, namun lebih berharga manusia. Maka Tuhan Yesus memilih untuk menyelamatkan jiwa manusia dari roh jahat.

BENANG MERAH TIGA BACAAN

Ketiga bacaan menekankan kasih karunia Allah yang membebaskan orang percaya. Kasih karunia itu berkat, tetapi memerlukan respon keterbukaan manusia agar bisa mengalaminya. Kasih karunia Allah diperlukan karena manusia membutuhkan keselamatan.

 


 

 

RANCANGAN KHOTBAH: Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan. Sila dikembangkan sendiri sesuai konteks jemaat)

 

Orang Berdosa dan Orang Benar

Pendahuluan

Hidup itu adalah pilihan, setiap orang bebas menentukan pilihan.Manusia diberi oleh Tuhan kehendak bebas(commonsense) untuk menentukan mana yang harus dipilih, dijalani dan dikerjakan.Tuhan tidak pernah memaksa kehendakNya untuk dilakukan oleh manusia dengan kepatuhan buta. Tuhan sangat menghargai manusia,manusia diberi akal budi dan hikmat untuk  menentukan mana yang baik dan tidak baik, mana yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan. Akalbudi hendaknya digunakan untuk menghadapi kehidupan yang didalamnya penuh dengan pilihan.

Pertanyaannya adalah, mana yang selama ini kita pilih ? Apakah pilihan-pilihan kita yang berdasarkan kehendak bebas itu telah mendatangkan kebaikan bagi diri sendiri dan orang lain atau justru menghancurkan. Apakah karena pilihan kita maka dunia dan sesama terberkati ? Apakah pilihan kita yang bebas itu telah membawa keluarga, jemaat, lingkungan di sekitar kita diperbaharui, diselamatkan, diberkati atau malah sebaliknya menghancurkan, merusak dan mendatangkankutuk ? Mari kita renungkan!

Isi

Tema tentang pertobatan dan pengampunan menjadi tema klasik namun tetap relevan disepanjang zaman. Mengapa demikian, karena manusia disepnajang abad dan tempat telah melakukan dosa, ada banyak orang yang lebih suka hidup dan terbenam dalam dosa, namun ada juga yang mempunyai keinginan untuk bangkit, keluar dari dosa, untuk memperbaharui kehidupannya dalam terang dan bimbingan Tuhan. Jatuh- bangun dalam dosa menjadi sifat dan karakter manusia di sepanjang jaman, walaupun manusia tahu aturan dan rambu-rambu tentang mana yang benar dan yang salah, namun tetap saja melanggar aturan yang ada. Justru karena adanya larangan dan aturan yang ketat tentang apa yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan, maka dosa dan kesalahan manusia semakin banyak. Seperti yang dikatakan Rasul Paulus kepada Jemaat Galatia, bahwa karena  adanya Hukum Taurat maka manusia mengenal dan berbuat dosa.Namun Puji Tuhan dalam Yesus Kristus, karena selalu ada cara Allah menyelesaikan dan mengatasi dosa manusia.

Allah selalu membuka tangan-Nya untuk menawarkan pengampunan.Anugerah pengampunan dan penebusan dosa itu tersedia dengan cara yang tidak dapat terselami oleh akal, pikiran dan pemahaman manusia yang sempit.Hanya dengan Iman dan atas pertolongan Roh Kudus saja pemahaman tentang pengampunan dosa dari Allah dapat dimengerti.Paulus menegaskan hal itu, agar dengan tersedianya kasih karunia, maka janganlah kasih karunia, kesempatan emas itu diinjak-injak dan dihinakan oleh manusia.

Umat Israel dan bangsa-bangsa disekitarnya sudah berkali-kali mendapat tawaran kasih karunia itu, tapi  mereka berhati dan berkepala batu! Mereka bangsa yang tegar tengkuk.Mereka terlalu sombong dan tida peka terhadap suara Allah.Panggilan pertobatan dan tawaran kasih karunia sudah disampaikan berualangkali, namaun berkali-kali jugadiabaikan dan diacuhkan.Mata hati dan telinga mereka tidak dapat mendengar lagi, mereka juga tidak menyegani  (Takut) kepada Allah, tetapi lebih menyegani serta memilih setia kepada ilah-ilah, dewa-dewa lain yang menjadi kebanggaan mereka. Karena itu Nabi Yesaya diutus untuk  memberitakan kepada umat tegar tengkuk agar mereka dapat memahami betapa dasyatnya kasih karunia dan keselamatan yang ditawarkan dan diberikan kepada mereka.

Kalau dalam pengalaman ada orang benar dan orang salehmenerima kasih karunia dan keselamatan yang sama, apakah itu artinya Allah tidak adil ?Bukan Allah yang tidak adil, tetapi karena Allah mengasihi dan menghargai semua orang, baik orang jahat maupun orang benar. Semua telah diberi kesempatan yang sama untuk menerima kasih karunia dan berkat. Namun lebih banyak orang yang memilih untuk menolak kasih karunia dan keselamatan itu.Sehingga ketika pada akhirnya hidupnya mengalami celaka dan kehancuran, itu disebabkan karenaperbuatannya sendiri. Mereka  telah MEMILIH CARA HIDUP   berdosa, karena itu kehancuran adalah buah dari perbuatan mereka.Karena itu jangan menyalahkan Allah dalam hal ini. Bukankah sepanjang hari Allah tidak bosan-bosannya menawarkan  kasih karunia dan pengampunan ? Aku telah mengulurkan tangan-Ku  kepada suku bangsa yang memberontak, yang menempuh jalan tidak baik dan mengikuti rancangannya sendiri (ay, 2). Sepanjang hari Aku telah berkata “INILAH AKU” kepada suku bangsa yang telah menyakitkan hati-Ku, di depan mata-Ku, yang mempersembahkan  korban  bagi dewa-dewa (ay.3).Tetapi mereka mengindahkan dan tidak menanyakan petunjuk-petunjuk-Ku.Namun walau demikian Aku berkenan selalu memberi petunjuk (ay.1). Jadi hukuman yang dasyat itu akibat dari TINGKAH LAKU, PRILAKU BURUK MEREKA SENDIRI! Tidak kurang-kurang kasih karunia dan tawaran pertobatan itu disampaikan, tetapi juga tak henti-hentinya dosa itu diperbuat. Dasar Bangsa Tegar Tengkuk!

Pengalaman bangsa yang tegar tengkuk ini dicatat dalam Alkitab untuk menjadi pengingat bagi kita. Barangkali kita juga sudah dan sedang menjadi bangsa, komunitas, keluarga, pribadi yang tegar tengkuk, tidak peka terhadap suara Tuhan lewat berbagai keadaan yang kita alami, tidak mengindahkan tawaran kasih karunia yang dasyat dari Tuhan ?

Daud ketika menghadapi malapetaka dan kesesakan yang menghimpit hidupnya memohon-mohon agar Tuhan tidak meninggalkan dirinya (Mazmur 22). Daud yakin  jika Allah berkenan mendengar permohonan dan seruan minta tolong pasti dirinya akan terluput dari pedang, cengkraman musuh dan kematian di kubur yang paling dalam, karena Daud yakin setiap orang yang berseru-seru dengan sangat  kepada Tuhan akan akan diselamatkan. Tuhan mendengar orang yang berteriak  minta tolong kepada-Nya, Tuhan tidak memandang hina dan Jijik  kesengsaraan orang yang tertindas, Ia tidak menyembunyikan wajah-Nya kepada orang itu (Mazmur 22: 25). Sikap Daud dicatat dalam Alkitab sebagai pengingat kepada kita bahwa teriakan dan permohonan orang yang sungguh-sungguh bertobat pasti diindahkan oleh Allah.

Dalam pandangan Allah Jiwa manusia sangat berarti karenanya Yesus sangat memperhatikan baik tubuh maupun jiwa manusia.Hal itu dapat kita lihat dari Perisiwa di Gerasa, Yesus mengusir roh jahatdari orang Gerasa. Peristiwa ini menunjukkan kepada kita, Yesus tidak membiarkan  Iblis menguasai /merasuki tubuh dan jiwa laki-laki muda itu (ay,27).  Yesus memerintahkan agar roh-roh jahat itu keluar dari orang muda itu, karena Yesus tidak mau baik jiwa maupun raga orang itu hancur karena perbuatan roh-roh jahat yang berkuasa dalam kehidupan manusia. Maka berteriak-teriaklah iblis dan bersungkur dihadapan Yesus memohon agar jangan membuangnya ke dalam jurang maut, dan meminta dipindahkan ke bab-babi yang saat itu sedang diternakkan pemiliknya (ay. 28 &29), lalu Yesus memindahkannya ke babi-babi itu (ay.33). Bagi Yesus keselamatan Jiwa manusia lebih penting dari segala yang lain. Daripada jiwa manusia rusak karena  perbuataniblis, lebih baik babi-babi itu yang mati. Meskipun babi-babi itu mahal harganya,pemiliknya pasti mengalami kerugian karena ternaknya berjatuhan di tepi jurang (ay. 33), namun bagi Yesus hal itu lebih baik daripada Jiwa  manusia yang dikorbankan.

Penutup

Melalui refleksi yang didasari pembacaan Firman Tuhan di atas, kita belajar tentang penghargaan Yesus kepada keselamatan Jiwa manusia.  Keselamatan dan pemulihan itu tidak perlu diperjuangkan dengan menghitung seberapa banyak  amal baik yang sudah dilakukan, sebab sesungguhnya tidak ada yang dapat dibanggakan dan diandalkan  dari perbuatan baik manusia. Mungkin sudah sangat banyak perbuatan-perbuatan yang sudah kita lakukan,pelayanan, sedekah, amal, kebaikan hati,  persembahan, ibadah-ibadah, dan prestasi-prestasi yang sudah  kita lakukan, namun sesungguhnya semua itu sia-sia!Tak seoarngpun bisa dengan sempurna melakukan kebaikan entah itu berupa ibadah, persembahan, pelayanan, dll.Hukum-hukum dan aturan yang tertulis dalam kitab suci, tidak pernah dapat membawa kita kepada keselamatan.Jika perkara-perkara tersebut yang menyelamatkan kita, maka sia-sialah kematian dan kebangkitan Yesus.

Mulailah  lebih menghargai dan mengutamakan kebutuhan jiwa, spiritualitas dan  rohani kita daripada mengutamakan kebutuhan fisik, jasmaniah, kekayaan, kemulyaan, kekuasaan, dan rupa-rupa kenikmatan duniawi. Keselamatan Jiwa lebih utamadari segalanya, apa gunanya memperoleh semuanya, tetapi kehilangan jiwa ?Jadi sekarang apa yang harus kita banggakan ? Yesus atau segala yang kita miliki dan perbuat secara jasmani ? Mulailah untuk bersikap dan hidup bijaksana agar hidup ini tidak kita sia-siakan dengan mengejar perbuatan baik namun tidak disertai dengan iman, motivasi dan pemahaman yang benar.Itu semua hanya kebodohan-kebodohan yang sering kita lakukan dalam hidup ini. Mari lebih menjaga jiwa agar tidak menjadi umat yang tegar tengkuk, namun menjadi orang-orang yang selalu peka, terhadap sentuhan  Roh Kudus yang senantiasa menunggu, menawarkan dan memberi kesempatan untuk bertobat agar hidup ini layak untuk menjadi persembahan yang hidup, yang berkenan bagi Allah. Amin.

Nyanyian: KJ. 367.


 

RANCANGAN KHOTBAH: Basa Jawi

Pambuka

Gesang punika satunggiling pilihan, saben tiyang bebas nemtokaken pilihanipun. Menungsa kaparingan kebebesan  (kehendak bebas) (common sense) kangge nemtokaken  pundi ingkang  kedhah dipilih lan dilampahi ing gesangipun. Gusti mboten meksa utawi intervensi menungsaklayan  kepatuhan buta.  Gusti saestu paring kebebasandhumateng  manungsa,  saben manungsa diparingi akal budi lan  hikmat kangge  menggalih lan nimbang-nimbang sakderengipun ndamel keputusan ing gesangipun. Menungsa kedhah nemtokaken pilihanipun piyambak-piyambak!

Pitaken kangge kita sakmangke inggih punika, punapa ingkang sampun kita pilih wonten ing saklebeting gesang? Pilihan kula lan panjenengan sampun  ndatengaken kasaenan kangge diri pribadi lan tiyang sanes, utawi justru ngrisak  diri pribadi lan gesangipun asanes ? Punapa gesang kita sampun mbekta donyo sak isinipun kaberkahan,utawi gesang kita tansah ndatengaken sengsaranipun sesami? Punapa pilihan lan keputusan kita sampun ndatengaken  kasaenan kangge brayat, pasamuan, lan masyarakat utawi malah gesang kita dados batu sandungan ? Sumangga dipun renungaken!

Isi

Tema Perkawis pertobatan lan  pengapunten saking Gusti punika minangka tema klasik, nanging tansah relevan ing sepanjang zaman. Kenging menapa tansah relevan ? Karana menungsa ing sepanjang abad lan panggenan tansah nindakaken laku dosa,kathah sanget tiyang ingkang langkung milih gesang nggilut-nggilut dosa, katimbang gesang ing pepadang.Namung sekedhik tiyang ingkang langkung remen milih gesang ing pepadang utawigemregah tangi medal saking pepeteng lan pindah gesang ing pepadang, gesang enggal lan nyenyuwun pitungan lan pangrehipun Gusti Allah.Nibo-nanginipun manungsa ing saklebeting dosa punika dados sifat lan karakter manungsa ing salebeting jaman, sinaosa manungsa mangertos aturan lan rambu-rambu ngengingi pundi ingkang leres lan ingkang klentu, nanging manungsa tetepremen nindakaken lan nglanggar  aturan. Justru krana wonten aturan ingkang ketat ngengingi pundi ingkang kedah dipun tindakaken lan ingkang disingkiri, mila dosa lan pelanggaran menungsa langkung kathah. Kadhos ingkang dingendikaaken dening Rasul Paulus ing pasamuan Galatia, awit krana wonten Taurat, mila menungsa mangertas lan nindakaken dosa. Nanging Puji wonten ing asmanipun Gusti Yesus, bilih  Gusti Allah tansah ngrampungi dosanipun menungsa.

Gusti Allah tansah nyawisaken manahipun, inggih maringi wekdal, kesempatan lankawilujengan dhumateng menungsa. Sih rahmat lan pangapunten saking Gusti tansah kacawisaken dhumateng menungsa. Saestu pakaryanipun Gusti Yesus punika mboten saged dinalar dening pikiran menungsa ingkang cupet lan terbatas.Paulus negesaken bilih pangapuntening dosa saking Gusti  sampun kacawisakensecara gratis, mila sampun ngantas sih rahmat saking Gusti punikakainginjak-injak (dihinakan dan direndahkan)  dening menungsa.

Umat Israel  lanbangsa-bangsa ing sak kiwatengenipun sampun makaping-kaping nampeni lan mireng perkawis ngengingi Sih Rahmatipun Gusti Allah, nanging umat  tansah bandhel, ndablek (tegar tengkuk). Umat mboten nggadahi andhapsoring manah, mboten peka dhumateng timbalan lan dawuh pangadikanipun Gusti, umat tansah mboten mirengaken timbalanipun Gusti Allah. Dawuh pangandikanipun Gusti mboten kagatosaken babarpindah, umat ugi mboten ajrih- asih lan mboten ngajeni(tidak menyegani/ takut)  dhumateng Gusti Allah, umat  langkung milihngajeni, ajrih asih dhumatengdewa-dewa, ilah-ilah ingkang dados andalanipun.Karana saking punika Nabi Yesaya kautus dening Gusti martosaken punapa dene ngemutaken Umat supados eling lan waspada, umat Israel kedah mangertas bilih Sih Rahmatipun Gusti menika dasyat sanget. Kawilujengan lan Sih rahmatipun Gusti punia katujokaken dhumateng sedaya tiyang, inggih punika tiyang dosa punapa dene tiyang saleh.

Menawi ing pengalaman padintenena kita manggihi wonten tiyang jahat lan tiyang sae nampeni kawilujengan lan berkah ingkang sami, kita mbokbilih mboten magertos lan pitaken ing manah, kenging punapa tiyang dosa ugi kaparingan Sih rahmat lan berkahipunGusti ? Punana punika ateges Gusti Allah mboten adil ? Punapa alasanipun Gusti ugi nresnani tiyang dosa ?Wangsulanipun, sih Rahmat saking Gusti dhumateng menungsa punika mboten pilih kasih, sedaya menungsa kaparingan Sih Rahmatipun Gusti, nanging Sih rahmat saking Gusti badhe kacabut (diambil) menawi menungsa mboten nanggapi, masa-bodo (acuh tak acuh). Sih rahmat badhe kacabut dening Gusti menawi tiyang dosa mboten purun ngribah gesangipun lan tansah nggilut-nggilut dosa.Sedaya manungsa kagungan kehendak bebas (Commonsense) kangge milihlan nemtokaken pilihan-pilihanipun. Menawi menagsa milih gesang mawi cara miturut kedagingan punika satunggiling putusan gesangipun piyambak.

Ing ngriki manungsa sampun  MILIH CARA GESANGIPUN PIYAMBAK, mila akibat saking pilihanipun utawi putusanipun badhe dados konsekwens pribadi. Menawi saklajengipun pilihanipun ndatengaken kasengsaran dhumateng gesangipun,punika minangka konsekwensi saking pilihan bebasipun piyambak. Cekak aosipun, punapa kemawaon ingkang dipun tampeni dening menenugsa, punika minangkauwoh (buah) saking tindhakanpun piyambak. Saestunipun Gusti Allah kebak ing katresnan.Saben dinten Gusti Allah tansah nengga lan nimbali tiyang dosa, panjenenganipun makapng kaping anggenmartosaken  Sih rahmatipun dhumateng sedaya tinyang, kalebet tiyang dosa (ay.2-3).Nanging ingkang mrihatosaken bilih tiyang dosa tansah mboten nggatosaken lan mboten ngendahaken dawuh pangandikanipun Gusti. Sinaosa mekaten Gusti taksih paring wekdal, paring kesempatan lan tansah nenggo tiyang dosa  mratobat (ay.1).Pungkasanipun  menawi menungsa tetep mboten nggatosaken timbalanipun Gusti, mila wonten wekdalipun, wonten batasipun!Gusti sampun mboten kersa nimbali malih.Ing titik punika menungsa bakal ngalami kasengsaran. Menawi Gusti sampun mboten nggatosaken lan ngejarake menungsa,  menungsa saestu badhe nampeni konsekwensinipun.  Konsekwensi punika AKIBAT SAKING PRILAKU MANUNGSA PIYAMBAK.!

Pengalaman Bangsa Israel ingkang tegar tengkuk ugi  kacatet dening Kitab Suci (gatosaken pengalaman umat Israel), piwucal ngengingi perkawis punika badhe ngemutaken kita sami, minangka individu, komunitas, pasamuan, brayat,lan sok sintena kemawon ingkanggadah watek, sifat tegar tengkuk (keras kepala), mboten peka dhumateng suwantenipun Gusti Allah. Nanging awit krana Sihipun Gusti tansah paring pepenget, paring dhawuh ugi tansah nenggo, paring wekdal dhumateng manungsa.Nanging sih Rahmatipun Gusti tansah kainjak-injak, karemehaken dening menungsa (dihinakan, direndahkan), pramila lajeng Gusti kendel anggen nimbali, awit wekdalipun sampun cekap.

Daud  nalika ngadepi musibah lan penderitaan ing gesangipun, nyenyuwun klayan sanget dhumateng Gusti supados Gusti paring kalepasan (Jabur 22). Daud nyenyuwun supados Gusti mboten nilaraken panjenenganipun, lan  Daud pitados menawi gesangipun tansah wonten ing rengkuhanipun Gusti, tamtu piyambakipun badhe nampeni kawilujengan, awit  Gusti mboten badhe nilaraken lan mirengaken panyuwunipun. Awit karana kasaenan Gusti Daud kaluputaken saking pedang lan pejah. Sinaosa musuhipun tansah ngedang gesang Daud, nanging astanipun Gusti tansah paring kawilujengan. Mekaten ugi wonten ing pengalaman kita piyambak-piyambak,  Gusti tansah mirengaken tiyang ingkang nangis ngguguk nyuwun pitulunganipun. Gusti mbotem  negakaken tiyang ingkang tansah ngarep-ngarep dhumateng Sih Rahmatipun.

Wonten ing penggalihipun Gusti, nyawa menungsa punika aji sanget, mila Gusti tansah nggatosaken badan lan nyawanipun menugsa. Perkawis punika saged kita panggihi wonten ing carios  bab tiyang ingkang kerasukan setan ini Gerasa, Gusti  ngusir roh jahat ingkang ngrasuk tiyang Gerasa. Kadadosan punika negesaken dumateng kita, bilih Gusti Yesus mboten ngersakaken setan ngrisaklan nguaosi gesangipun menungsa, awit gesang menungsa punika berharga. (ay,27).  Gusti Yesus ngersakaken roh-roh  pepeteng enggal-enggal medal  saking badanipun tiyang jaler Grasa,krana Gusti ngeman menungsa lan mboten ngersakaken  gesang menungsa risak awit karana panguasaning roh jahat. Nalika Gusti ngusir roh pepeteng ingkang ngrasuk tiyang nem Grasa, spontan setan bengok-bengok, nyembah Gusti klayan nyenyuwun supados mboten dibucal wonten ing saklebeting jurang, nanging dipindahaken dhumateng bab-babi ingkang saweg kaangen (ay. 28 &29). Nyawa, jiwa lan gesang manungsa langkung wigatos katimbang perkawis sanes-sanesipun, punapa dene babi lan bondo kandonyan sanesipun.Babi-babi pejah mboten kenging punapa katimbang gesang, roh, jiwa manungsa ingkang “pejah”.

Penutup

Renungan kita badhe paring piwucal bilih  Gusti Yesus sanget anggen nggreganilan ngajeni menungsa, mila Gusti paring kawilujengan dhumateng jiwanipun menugsa. Kawilujengan gesang mboten mboten saged diperjuangaken mawi nindakaken amal lankasaenan. Pramila saestu mboten wonten hal-hal lahiriah  ingkang saged kita andalaken wonten ing saklebeting gesang kita. Mbokbilih sampun kathah ingkang kita tindakaken, kados dene peladosan, sedekah, amal, kasaenan,  pisungsung, ngibadah lan jasa-jasa ingkang kita perjuangaken kanthi keroya-raya, naging sakjatosipun sedaya punika muspra!Mboten wonten  tiyang ingkang saged nindakaken kasaenan klayan sampurna. Pramila kita mbetahaken salib Yesus Kristus.

Para sederak,  milai sakmangke sumangga kita langkung sanget anggen njagi lan ngrimat gesang karohanen kita.  Sumangga kita langkung nggatosaken kabetahaipun jiwa- spiritualitas dan  rohani kita katimbang  ngutamakaken kabetahan fisik, jasmaniah, kemulyaan, kekuasaan lan werni-werni kenikmatan ndonya. Nyawa kita langkung wigatos katimbang sanes-sanesipun,. Mboten wonten ginanipun kita nggadahi sedayanipun nanging kecalan nyawa? Kados pundi kita, menapa kita wantunkecalan kamulyan, bondha, panguaos , pacar, arta, jabatan, pandamelan lan sakpatunggilanipun? Sumangga kita nggadahi sikap ingkang wicaksana, supados gesang kita mboten nindakaken “kebodohan-kebodohan”ingkang tanpa gina. Ing sak kiwa tengen kita kathah sanget godaan ingkang nawaraken  perkawis ingkan mbotenwonten manfaatipun (narkoba; sex bebas, judi, bandar obat terlarang, perselingkuhan, lan sanes-sanesipun),  punika sedaya pancen nyenenganken nanging saged ngrusak gesang karohanen kita. Sumangga kita jagi badan kita minangka Bait Suci, Pandalemanipun Gusti ingkang tansah kauri-urilan kasucekaken. Amin

 

Pamuji: KPJ. 452.

 

 

Bagikan Entri Ini:

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •