Percaya dan Mengeluarkan Buah Khotbah Minggu 10 Mei 2020

Minggu Paskah V | Masa Raya Unduh-unduh
Stola Putih

Bacaan 1         :  Kisah Para Rasul 7 : 55 – 60  
Bacaan 2         : 
1 Petrus 2 : 2 – 10 
Bacaan 3         : 
Yohanes 14 : 1 – 14

Tema Liturgis :  Penggenapan Karya Allah Memampukan Orang Percaya Untuk  Bersyukur
Tema Khotbah: 
Percaya dan Mengeluarkan Buah

Penjelasan Teks Bacaan :
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah) 

Kisah Para Rasul 7: 55 – 60

“Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka”. Di sini ia mengikuti contoh dari Gurunya yang berdoa demikian menjelang ajal-Nya bagi para penganiaya-Nya, “Ya Bapa, ampunilah mereka”. Dengan demikian ia memperlihatkan sebuah contoh bagi semua orang yang menderita karena Kristus untuk mendoakan orang-orang yang menganiaya mereka. Sebuah doa dapat menjadi sebuah khotbah. Ini terjadi demikian di sini bagi orang-orang yang merajam Stefanus. Ia berlutut, agar orang-orang itu bisa memperhatikan bahwa ia hendak berdoa dan berseru dengan suara nyaring supaya mereka dapat memperhatikan apa yang ia ucapkan di dalam doa dan belajar dari situ.

Pertama, bahwa yang mereka lakukan adalah perbuatan dosa, sebuah dosa yang besar, yang jika tidak dicegah oleh belas kasihan dan kasih karunia ilahi akan tertanggung atas mereka dalam penghukuman yang kekal.

Kedua, bahwa sehebat apa pun kebencian dan amarah mereka terhadap dirinya, ia tetap berbaik hati kepada mereka. Ia sama sekali tidak ingin supaya Allah membalaskan kematiannya kepada mereka. Itulah yang menjadi doa yang keluar dari lubuk hatinya kepada Allah supaya perbuatan mereka ini jangan ditanggungkan sedikit pun kepada mereka. Sungguh suatu perhitungan yang menyedihkan jadinya bagi mereka bila ini sampai terjadi. Apabila mereka tidak bertobat, perbuatan itu pasti akan ditanggungkan kepada mereka. Namun, di pihaknya, ia tidak menginginkan datangnya hari yang mengerikan itu. Biarlah mereka memperhatikan hal ini. Jika mereka sudah menjadi tenang kembali, mereka pasti sulit mengampuni perbuatan sendiri, yakni membunuh orang yang begitu mudah mengampuni mereka sedemikian rupa. Orang yang haus darah membenci orang saleh, tetapi orang yang jujur mencari keselamatannya (Ams. 29:10).

Ketiga, bahwa walaupun dosa itu sangat kejam dan jahat, mereka tidak boleh kehilangan harapan akan pengampunan yang akan diberikan bila mereka bertobat. Kalau mereka menaruh hal itu di dalam hati, Allah tidak akan menanggungkan perbuatan itu kepada mereka. “Apakah Anda pikir,” kata Augustinus (theolog Kristen abad keempat – pen.), “Paulus mendengar doa Stefanus ini? Tampaknya memang begitu. Ia mendengar kemudian mengejeknya (audivit subsannans, sed irrisit – ia mendengarnya sambil mencemooh). Namun, sesudah itu ia memperoleh keuntungan dari doa itu, dan dapat maju dengan lebih baik.”

Keempat, Kematiannya yang digambarkan seperti ini: Dan dengan perkataan itu tertidurlah ia (KJV), atau sementara ia mengatakan hal itu, ia mengembuskan nafasnya yang penghabisan. Perhatikanlah, bagi orang-orang benar, kematian hanyalah seperti tidur. Bukan jiwanya yang tidur (Stefanus telah menyerahkan jiwanya ke dalam tangan Kristus), tetapi tubuhnya. Tubuh itu beristirahat dari semua kesedihan dan susah payah. Itu adalah perhentian yang sempurna dari susah payah dan kepedihan. Stefanus meninggal dengan cepat seperti yang terjadi pada setiap orang, namun ketika ia mati, ia jatuh tertidur. Ia menyongsong kematian dengan pikiran yang sangat tenang seolah-olah sedang pergi tidur. Hanya dengan menutup matanya, kemudian pergi. Perhatikanlah, ia jatuh tertidur ketika ia sedang berdoa bagi para penganiayanya. Tampaknya, seolah-olah ia tidak akan meninggal dengan tenang sebelum melakukan hal ini. Bila kita penuh dengan kemurahan hati bagi sesama kita, maka pada waktu mati nanti kita juga akan penuh dengan penghiburan. Kemudian kita berada di dalam damai bersama Kristus. Janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu. Ia jatuh tertidur, dalam terjemahan bahasa Latin sehari-hari ditambahkan, di dalam Tuhan, dalam pelukan kasih-Nya. Jika ia tidur seperti ini, maka pastilah ia akan baik-baik saja. Ia akan bangun kembali pada pagi hari kebangkitan.

1 Petrus 2 : 2 – 10

Dalam PL keimaman terbatas pada suatu golongan minoritas tertentu. Kegiatan mereka yang khusus ialah mempersembahkan kurban kepada Allah, mewakili umat-Nya dan berbicara langsung dengan Allah (Kel. 28:1; 2 Taw. 29:11). Kini melalui Yesus Kristus, setiap orang Kristen sudah menjadi imam di hadapan Allah (Wahyu 1:6; 5:10; 20:6). Keimaman semua orang percaya berarti sebagai berikut:

  1. Semua orang percaya boleh langsung menghadap Allah melalui Kristus (1 Pet. 3:18; Yoh. 14:6; Ef. 2:18).
  2. Semua orang percaya berkewajiban untuk hidup kudus (1 Pet. 2:5,9; 1:14-17).
  3. Semua orang percaya harus mempersembahkan “persembahan rohani” kepada Allah, termasuk:
    1. hidup dalam ketaatan kepada Allah dan jangan menjadi serupa   dengan dunia (Roma 12:1-2);
    2. berdoa kepada Allah dan memuji Dia (Maz. 50:14; Ibr 13:15)
    3. melayani dengan sepenuh hati dan pikiran (1 Taw. 28:9; Ef. 5:1-2; Fil. 2:17);
    4. melakukan perbuatan baik (Ibr. 13:16);
    5. memberi dari harta milik (Rom. 12:13; Fil. 4:18); dan
    6. mempersembahkan tubuh kita kepada Allah sebagai senjata kebenaran (Rom. 6:13,19).
  4. Semua orang percaya harus bersyafaat dan saling mendoakan serta berdoa untuk semua orang (bdk. Kol. 4:12; 1 Tim.  2:1; Wahyu 8:3).
  5. Semua orang percaya harus memberitakan Firman Allah dan mendoakan keberhasilannya (1 Petrus 2:9; 3:15; Kis. 4:31; 1 Kor. 14:26; 2 Tes. 3:1).
  6. Semua orang percaya dapat memimpin baptisan air dan Perjamuan Kudus (Mat. 28:19; Luk. 22:19).

Yohanes 14 : 1 – 14

Kepada orang banyak Yesus berkata bahwa mereka tidak dapat ikut bersama-Nya ke rumah Bapa-Nya (Yoh. 13:33). Kepada Petrus, Ia mengatakan hal yang sama, namun dengan arti dan alasan berbeda. Tuhan menyatakan bahwa keadaan hatinya tidak menjamin bahwa ia dapat setia mengasihi Tuhan. Orang banyak yang tidak menerima Dia tidak dapat bersama Dia. Sekarang Yesus menegaskan bahwa sebenarnya para murid telah mengetahui jalan ke sana, ke rumah Sang Bapa dan mereka pasti akan bersama Dia sesudah Ia selesai menyiapkan tempat di rumah Bapa bagi mereka (ayat 3-4). Meski benar bahwa mereka tidak dapat mengandalkan kondisi hati mereka agar setia dan kelak sampai ke tujuan kekal, namun mereka sudah percaya dan dengan terus mempercayai karya-karya Yesus mereka pasti akan sampai di tujuan. Tuhan memerintahkan mereka untuk percaya. Kenyataan janji-janji Allah tidak tergantung pada perasaan dan kondisi hati kita, tetapi pada Dia yang setia pada janji-janji-Nya. Bertekun dalam iman adalah cara untuk memiliki keteguhan hati (bdk. dengan yang Yesus lakukan, 12:27).

Kebenaran tentang jaminan kekal tersebut lebih jelas dalam jawaban- Nya kepada Tomas. Ungkapan “Akulah …” menggemakan kembali ungkapan-ungkapan yang sama dalam Injil Yohanes yang menegaskan kesetaraan Yesus dengan Yahwe dalam Perjanjian Lama. Karena itulah Dia dapat mengklaim bahwa diri-Nya sendirilah jalan, kebenaran dan hidup (ayat 6). Akibatnya, Dia dan hubungan dengan-Nya menentukan apakah orang yang mengenal Bapa akan sampai ke rumah Bapa kelak atau tidak. “Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku” (ayat 7). Sang Bapa telah berkemah di dalam Yesus, sehingga siapa mengenal Dia, mengenal Bapa (bdk. 1:14, 14:10). Firman Bapa ada di dalam-Nya dan itulah yang disampaikan kepada mereka (ayat 10-11).

Tidak saja mengenal Bapa dan beroleh jaminan kekal di dalam Yesus, para pengikut-Nya akan pula melakukan pekerjaan-pekerjaan Allah bahkan yang lebih besar dari yang Yesus telah buat. Pekerjaan- pekerjaan besar itu adalah juga pekerjaan Yesus di dalam mereka dan dapat terus dilakukan karena mereka mengandalkan Dia di dalam doa (ayat 12-13).

KeteranganUraian tentang bacaan 1, 2, dan 3 dikutip dari: http://alkitab.sabda.org/ commentary

Benang Merah Tiga Bacaan  :

Kelekatan hati pada Kristus memberi kekuatan iman pada Stefanus, baik dalam menghadapi kematian maupun dalam bersikap terhadap mereka yang membencinya. Kedalaman iman kepada Kristus menjadi pondasi yang kokoh untuk berhadapan dengan dunia dengan segala macam tantangan dan pergumulannnya. Pondasi yang kuat ini mendapat penyempurnaan jaminan dari Kristus, bahwa Ia telah menyediakan tempat untuk mereka yang setia kepada-Nya sampai akhir.

 

RANCANGAN KHOTBAH :  Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan, silahkan dikembangkan sesuai konteks Jemaat)

  1. Pak Drembo dikenal sebagai sosok yang sangat aktif di Jemaat Wetankulon. Hampir di setiap kegiatan yang dilakukan di jemaat selalu bisa dijumpai Pak Drembo. Sepertinya di Jemaat Wetankulon tak ada orang lain yang mampu melebihi kerajinan Pak Drembo, lebih-lebih kerajinan Pak Drembo sudah berlangsung belasan tahun. Selain aktif ia juga sangat senang menolong orang lain sehingga wajar kalau ia sangat dikenal oleh hampir seluruh warga Jemaat Wetankulon. Seandainya satu per satu Warga Jemaat Wetankulon diminta pendapatnya tentang Pak Drembo, sepertinya mereka semua akan sepakat menjawab bahwa Pak Drembo adalah orang yang baik, setia dalam pelayanan dan taat kepada Tuhan.
  2. Banyak warga jemaat yang kemudian terperangah ketika mendengar apa yang dituturkan oleh Pak Dadap tentang Pak Drembo. Apa yang dituturkan oleh Pak Dadap kemudian menjungkirbalikkan penilaian terhadap Pak Drembo. Kita perhatikan dialog mereka sebagai berikut:

    Pak Dadap : Apakah Bapak tetap memutuskan untuk pindah ke gereja lain?    
    Pak Drembo : Iya, pasti.

    Pak Dadap : Sudah mantap?
    Pak Drembo : Ooh, mantap sekali!
    Pak Dadap : Kalau saya boleh tahu, alasan paling mendasar sehingga Bapak merasa mantap sekali pindah ke gereja lain itu apa?
    Pak Drembo : Ah, kaya Anda tak tahu saja
    Pak Dadap : Lha, saya memang betul kepingin tahu
    Pak Drembo : Saya sudah muak melihat muka Pak Lamis. Itu alasan utama saya. Jelas?

    Rupanya tidak banyak yang tahu bahwa ternyata terdapat konflik tersembunyi antara Pak Drembo dengan Pak Lamis. Ketika konflik itu diketahui oleh majelis jemaat, maka Pak Dadap diutus oleh PHMJ untuk mengadakan pendekatan baik kepada Pak Drembo maupun kepada Pak Lamis agar mereka berdua dapat menyelesaikan persoalan dengan baik. Setelah beberapa kali dilakukan pendekatan Pak Lamis melunak hatinya sehingga siap berdamai dengan Pak Drembo. Sebaliknya, Pak Drembo sama sekali tak bergeming, hatinya mengeras sehingga ia bersikeras untuk berpindah ke gereja lain.
  3. Sebuah pertanyaan sederhana yang bisa kita gumuli bersama: Pak Drembo yang selama bertahun-tahun sangat aktif dalam berbagai pelayanan dan kegiatan jemaat, “Apakah benar ia sudah hidup bersama dengan Kristus?” (Baik jikalau jemaat diberi kesempatan sejenak untuk merenungkan pertanyaan ini…) Sebenarnya tidak mudah memberi jawaban, karena penilaian kita terhadap sesama selalu terbatas sehingga berpotensi salah. Namun menilik dari kekerasan hatinya sehingga menutup pintu pengampunan kepada Pak Lamis setidaknya menolong kita bisa memberi penilaian. Sampai pada saat ia tidak mau mengampuni Pak Lamis, ia belum hidup dalam Kristus. Jikalau ia sudah hidup bersama dengan Kristus tentu nilai keteladanan Kristus akan terpancar pada keputusan hidupnya, yaitu kesediaan untuk berlapang dada dan mau menerima dengan suka cita dan tulus hati kehadiran Pak Lamis dalam hidupnya. Pertanyaan kedua: “Aktivitas yang begitu banyak yang telah dilakukan oleh Pak Drembo selama bertahun-tahun di jemaat apakah itu bukan bentuk kecintaannya kepada Kristus?” (Baik jikalau jemaat diberi kesempatan sejenak untuk merenungkan petanyaan ini…) Bisa panjang penjelasannya untuk menjawab pertanyaan ini. Warga yang giat sekali dalam jemaat bisa disebabkan karena berbagai alasan, misalnya:
    a. di rumah sudah tak lagi repot;
    b. hobi (senang) kalau bertemu dengan banyak orang;
    c. karena merasa menjadi kewajibannya;
    d. dan mereka yang menghayati mendalam kasih Kristus sehingga terpanggil untuk ikut serta menghidupi jemaat.
    Dapat dipastikan bahwa penyebab Pak Drembo aktif di jemaat bukan karena alasan (d). Kok bisa? Ya, kalau seseorang menghayati mendalam kasih Kristus, maka akan terpancar dalam hidupnya termasuk keputusan-keputusan hidupnya pasti akan memantulkan kasih di dalamnya! Bagaimana mungkin ada kasih ketika hatinya beku sehingga menutup memberi maaf – pengampunan kepada Pak Lamis!
  4. Berkaitan dengan bacaan kita pada hari ini. Apakah seruan yang disampaikan oleh Stefanus yang sedang di ambang kematian, “Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!” dapat masuk dan dicerna oleh hati Pak Drembo? Didengarkan, iya! Tetapi dihayati, sama sekali tidak! Apakah di jemaat ini – di antara yang hadir dalam ibadah saat ini- adakah yang bertipe seperti Pak Drembo atau bahkan lebih parah? (Baik jikalau jemaat diberi kesempatan sejenak untuk merenungkan petanyaan ini…) Padahal ketika Pak Drembo masih aktif dalam pelayanan di jemaat seringkali ia mengatakan dengan penuh kebanggaan bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya jalan keselamatan (Yoh. 14:6). Kalimat itu diucapkan dengan penuh keyakinan dan kebanggaan. Pertanyaan berikut: Layakkah dia yang keras hatinya dan tak mau mengampuni sesama lalu berharap sudah disiapkan tempat indah di sorga oleh Yesus? ( 14:1-3)
  5. Oleh karena itu agar kita tidak berkhayal dalam iman yang semu: berbuih-buih bercerita tentang pengorbanan Stefanus atau merasa diri sebagai umat tebusan dan berhak atas jaminan keselamatan, lekat dengan Kristus, dsb.; sebaiknya dicek dulu isi pikiran dan hati kita masing-masing! Kenyataannya, kesempatan berdamai dengan sesama kita singkirkan jauh-jauh! Siapa tahu kita tidak lebih baik daripada Pak Drembo, tetapi GR menjadi pengikut Kristus yang setia. Bandingkan dengan yang tertulis di Injil Matius 7: 21, 22. Amin. (smdjn)

Pujian :  KJ. 300  “Andaikan Yesus, Kau Bukan Milikku”

RANCANGAN KHOTBAH  : BASA JAWI

  1. Pak Drembo kondhang ing Pasamuwan Wetankulon minangka piyantun ingkang aktif sanget ing peladosan. Saben pasamuwan kagungan acara, ing ngriku mesthi wonten Pak Drembo. Mbokbilih ing pasamuwan boten wonten ingkang ngungguli sregepipun Pak Drembo. Kejawai aktif, piyambakipun ugi remen tetulung dhateng sesami. Mila meh saben warga Pasamuwan Wetankulon tepang kaliyan Pak Drembo. Upami saben warga pun takeni bab Pak Drembo, sedaya badhe sepakat yen Pak Drembo punika piyantun sae lan temen anggenipun mangabekti.
  2. Warga pasamuan sami kaget lan gumun nalika mangertos punapa ingkang dipun cariyosaken dening Pak Dadap. Cariyos saking Pak Dadap punika ngewahi babar pisan penilaian warga tumrap Pak Drembo. Kita gatosaken wicantenan antawisipun Pak Dadap lan Pak Drembo ing ngandhap punika:
    Pak Dadap : Punapa estu Bapak badhe tetep pindah dhateng greja sanes?
    Pak Drembo : Ohh, inggih, temtu!
    Pak Dadap : Sampun manteb estu?
    Pak Drembo : Ooh, mantep sanget!
    Pak Dadap : Menawi kepareng kula nyuwun pirsa: Bab prinsip ingkang murugaken Panjenengan mantep pindah greja sanes punika punapa?
    Pak Drembo : Ah, kados boten pirsa kemawon, Panjenengan!
    Pak Dadap : Lho estu kula boten mangertos
    Pak Drembo : Kula jijik menawi nyawang Pak Lamis! Cetha to, alasan kula?!
         Rupinipun boten kathah sedherek ingkang mangertos yen sajatosipun wonten konflik antawisipun Pak Drembo kaliyan Pak Lamis. Nalika konflik kapireng dening majelising pasamuwan, PHMJ lajeng ngutus Pak Dadap lan kaparingan tugas mbudidaya supados sesambetan antawisipun Pak Drembo kaliyan Pak Lamis saged kapulihaken. Sasampunipun dipun sowani (langkung saking setunggal) dening Pak Dadap, Pak Lamis kabikak manahipun lan purun -malah bingah- kapulihaken sesambetanipun kaliyan Pak Drembo. Nanging kosokwangsulipun, Pak Drembo babar pisan boten purun dedami, sanadyan boten kirang-kirang anggenipun Pak Dadap sowan lan nyenyuwun. Pak Drembo ketingal samsaya kenceng anggenipun boten purun sesambetan malih kaliyan Pak Lamis, pramila tetep kenceng anggenipun nyuwun pindah greja.Setunggal pitakenan ingkang perlu kita gegilut: Pak Drembo ingkang sampun mataun-taun giyat sanget ing peladosan lan maneka warni kegiatan pasamuwan punika, “Punapa estu sampun ngecakaken gesang ing sang Kristus?” (Prayogi menawi warga pasamuwan kaparingan wekdal kangge kendel sekedhap supados pitakenan punika karaosaken langkung lebet…) Sajatosipun boten gampil mangsuli pitakenan punika, awit paningal kita tansah winates, saged klentu miji gesanging sesami.
  3. Nanging, menawi ngengeti wangkotipun Pak Drembo anggenipun boten purun paring pangapunten dhateng Pak Lamis, paling boten saged kita dadosaken titikan bilih gesangipun dereng gesang ing Kristus. Saupami piyambakipun sampun ngalami gesang ing sang Kristus temtu badhe nyunaraken gesang ingkang sae lan boten angel ngapunten sesami. Pitakenan kaping kalih: Kegiatan ingkang ketingal temen lan kalampahan mataun-taun ingkang dipun lampahi dening Pak Drembo punapa boten minangka tetenger yen Pak Drembo nresnani sang Kristus? (Warga prayogi kaparingan wekdal kangge sidhem sawetis …) Sajatosipun boten gampil paring wangsulan. Awit, piyantun ingkang sregep ing peladosan kathah jalaran utawi alasanipun, ing antawisipun:
    a. sampun longgar, boten repot malih
    b. Hobi (remen menawi kempal kaliyan tepangan)
    c. amargi kewajiban
    d. amargi temen ngraosaken lan ngalami gesang ing Sang Kristus lan rumaos dipun timbali supados lelados.
    Saged pun pesthekaken yen alasan Pak Drembo sanes ingkang d) (amargi temen ngraosaken lan ngalami gesang ing Sang Kristus lan rumaos pun timbali supados lelados). Kok saged? Lha, menawi pancen piyambakipun temen gesang ing Sang Kristus mesthinipun rak ngetingalaken praktik gesang ingkang cocok kaliyan dhawuhipun Kristus : purun ngapunten sesami kanthi tulus. Nanging nyatanipun Pak Drembo wangkot babar pisan!
  4. Sesambetan kaliyan waosan kita ing dinten punika, perlu kita gumuli saestu: Punapa isining manah ingkang kalairaken dening Stefanus, “Dhuh Gusti, dosa punika mugi sampun Paduka tempahaken dhateng tiyang-tiyang punika.” Punapa saged rumesep ing panggalihipun Pak Drembo? Kapireng? Temtu! Dipun gegilut kanthi temen? Blas boten! Punapa wonten ing pasamuwan ngriki utawi ing antawis kita ingkang rawuh ing pangabekti setipe kaliyan Pak Drembo? (prayogi pasamuwan katuran wekdal kangge sidhem sawetawis supados ngggegilut). Kamangka, nalika Pak Drembo taksih aktif ing peladosan ing pasamuwan asring nglairaken klayan “banggabilih Yesus Kristus punika margining kawilujengan (Yoh. 14:6). Tembung punika kalairaken kalambaran piyandel ingkang kiyat. Pitakenan salajengipun: Punapa cocok piyantun ingkang wangkot lan boten purun paring pangapunten dhateng sesami lajeng ngajeng-ajeng papan endah ingkang kacawisaken dening Gusti Yesus ingkang wonten ing swargo? (Yoh. 14:1-3)
  5. Pramila punika, supados kita boten gesang kalambaran raos piyandel semu: nggethu cariyos bab pangurbanan Stefanus utawi ngunggulken dhiri rumaos dados umat tebusan lan pikantuk ganjaran kawilujengan; lengket kaliyan Gusti, lsp.; prayogi dipun cek malih rumiyin isining manah kita. Wong nyatanipun kesempatan dedami ingkang endah kita singkiraken! Sinten mangertos jebulipun kita boten langkung sae katimbang Pak Drembo, lan tansah GR dados pendherekipun Gusti Yesus. Saged kabandingaken kaliyan Injil Matius 7: 21, 22. Amin (smdjn).

Pamuji  : KPJ. 196  “Kula Pengin Lir Gusti”

 

Bagikan Entri Ini:

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •