Minggu Biasa / Minggu VII Setelah Epifani
Stola Hijau
Bacaan 1 : Kejadian 45:3-11, 15
Bacaan 2 : 1 Korintus 15:35-38, 42-50
Bacaan 3 : Lukas 6:27-38
Tema Liturgis : Melakukan kehendak Allah Sambil Meyakini Kasih PemeliharaanNya
Tema Khotbah : Melakukan lebih baik dari pada umumnya
KETERANGAN BACAAN
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
Kejadian 45:3-11, 15
Bacaan ini adalah bagian dari suatu kisah yang cukup panjang sikap dan perlaku antara Yusuf dan sebelas saudara-saudaranya. Sebagian besar saudara-saudaranya awalnya sangat membenci Yusuf. Karena itu, Yusuf terbuang sampai ke tanah Mesir, tetapi dikabarkan telah mati. Tentu tidak disangka bahwa mereka bertemu dengan Yusuf dalam kekuasaan dan kemuliaannya.
Saudara-saudara Yusuf tentu berpikir bahwa Yusuf akan melakukan sesuatu yang buruk dan yang menyakitkan mereka. Jika Yusuf melakukan perbuatan begitu, tentu mereka menganggap perbuatan itu wajar, sebab mereka sadar telah membenci dan menyengsarakan Yusuf. Karena itu, mereka merasa takut sekali mendekat kepada Yusuf.
Yusuf melakukan suatu perbuatan yang tidak umum dilakukan oleh orang pada umumnya. Dia tidak melakukan sesuatu pun yang buruk sebagai balas dendam, seperti yang biasanya dilakukan orang pada umumnya. Yusuf malah memeluk dan mencium mereka dengan penuh kasih. Yusuf melakukan suatu perbuatan yang luhur dan mulia.
1 Korintus 15:35-38, 42-50
Dalam bagian ini Rasul Paulus menyampaikan hal tentang perubahan dan perbedaan hidup di dalam dan di luar Kristus. Setiap orang yang hidup di dalam Kristus, Adam yang terakhir, mengalami perubahan hidup, sehingga berbeda dari kehidupan yang di luar Kristus. Setiap orang yang di dalam Kristus mengalami kebangkitan Kristus. Setiap orang yang di dalam Kristus mengalami perubahan dari kehinaan kepada kemuliaan dalam sikap dan perilakunya, berubah dari kelemahan kepada kekuatan, dari kefanaan kepada keabadian. Setiap orang yang di dalam Kristus berubah dari kehidupan yang dikuasai kedagingan dan jasmani menjadi kehidupan yang dipimpin secara rohani.
Lukas 6:27-38
Yesus memberikan perintah yang melampaui hukum dan kebiasaan perilaku dunia. Bukan membinasakan atau mengalahkan musuh, melainkan mengasihi orang yang memusuhi yang diperintahkan Yesus. Bukan melawan atau menjauhi atau melakukan yang buruk terhadap orang membenci, melainkan melakukan perbuatan baik kepada orang yang membenci; itulah yang diperintahkan Yesus kepada para pengikutNya. Bukan mengembalikan kutuk kepada orang yang mengutuk, melainkan memintakan berkat bagi orang yang mengutuki. Bukan melawan atau mendiamkan orang yang mencaci maki, melainkan malah mendoakannya. Bukan meminta atau mengharap sesuatu yang baik dari orang lain, melainkan melakukan atau memberikan sesuatu yang baik kepada orang yang meminta atau bahkan tidak memintanya sekalipun.
Orang yang melakukan apa yang diperintahkan Yesus itu menjadi anak-anak Allah. Hanya dari Allah sajalah anak-anak Allah mengharapkan dan menerima sesuatu yang baik. Allahlah yang memberikannya. Tentang sesamanya manusia, anak-anak Allah hanya berhak melakukan atau memberikan sesuatu yang baik saja. Karena Allah itu murah hati, suka memberi dan melakukan sesuatu yang baik bahkan tanpa diminta, bahkan kepada orang yang jahat. Demikianlah juga dengan sikap dan perilaku anak-anak Allah, murah hati. Untuk mendapatkan pengampunan atau sesuatu yang baik dari Allah, maka anak-anak Allah pun harus mengampuni sesama.
Benang Merah Tiga Bacaan
Bacaan 1 dan 3 sama-sama mengajarkan perbuatan yang lebih baik dari pada yang umumnya dilakukan orang. Bacaan 2 menjadi dasar perbuatan lebih itu, yaitu bahwa kita masuk ke dalam hidup orang-orang yang dibangkitkan dari kematian.
RANCANGAN KHOTBAH: Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan… bisa dikembangkan sendiri sesuai konteks jemaat)
Pendahuluan
Ada orang yang melakukan kejahatan mendapat balasan perbuatan keras atau jahat dari orang lain. Bagaimana menurut saudara-saudara? Wajar? Ya, itu biasa. Tetapi bahkan ada orang yang melakukan perbuatan keras atau jahat kepada orang atau orang-orang lain yang tidak melakukan kejahatan apa-apa. Misalnya, gereja (kita) tentu tidak melakukan kejahatan apa-apa, eh…tetapi ada orang yang mengebomnya, ada yang menekannya. Bagaimana orang seperti itu? Wah…keterlaluan ya? Ada juga orang yang dibenci, dimusuhi dan disengsarakan tetapi tidak balik membenci atau memusuhi atau menyengsarakan, melainkan malah melakukan suatu perbuatan yang baik kepada orang yang membenci, memusuhi dan menyengsarakannya. Kalau orang seperti ini bagaimana menurut saudara-saudara? Wah… itu mulia, luhur dan luar biasa ‘kan? Begitulah mulia, luhur dan luar biasanya Yusuf dalam bacaan kita yang pertama hari ini.
Isi
Yusuf dibenci, dimusuhi dan disengsarakan oleh saudara-saudaranya sendiri. Dalam keadaan menderita, dia dipisahkan jauh dari bapaknya yang sangat menyayanginya. Bertahun-tahun dia dipisahkan jauh dari adik kandungnya yang sangat dikasihinya. Karena perbuatan mereka, Yusuf bertahun-tahun hidup terhina sebagai budak dan sengsara difitnah dan dipenjara tanpa ada seorangpun yang mendampingi dan mengasihinya. Syukurlah kemudian dia mendapat anugerah dari Allah yang sangat besar, menjadi Perdana Menteri di seluruh tanah Mesir.
Dalam kekuasaannya yang besar Yusuf melihat dan menemui saudara-saudaranya itu di tempat kekuasaannya. Bayangan balas dendamlah yang dipikirkan oleh saudara-saudaranya ketika Yusuf memperkenalkan diri sebagai yang telah mereka jual ke Mesir. Karena itu, mereka sangat takut dan gemetar. Mungkin pikir mereka: “Habislah…tamatlah riwayat kita…terlalu besar dan keras kejahatan yang telah kita lakukan terhadap Yusuf…” Tetapi Yusuf mendekati mereka, satu demi satu mereka dipeluk erat dan diciumi oleh Yusuf dalam kasih sayang dan kerinduan yang mendalam. Yah…menangislah mereka semua.
Yusuf melakukan suatu perbuatan yang melampaui hukum dan perilaku umum terhadap kejahatan. Rupanya tidak ada niatan sama sekali di dalam diri Yusuf untuk membalas kejahatan saudara-saudaranya kepadanya. Tidak ada kebencian di dalam diri Yusuf kepada mereka, sekalipun mereka telah sangat menyengsarakannya. Yusuf malah mengasihi mereka secara konkrit: dia mencium dan memeluk mereka semua, dia menyediakan tempat tinggal bagi mereka dan ayah mereka di Gosyen, dia menanggung kebutuhan hidup mereka semua.
Perbuatan seperti yang Yusuf lakukan itulah yang perintahkan oleh Tuhan Yesus dalam bacaan 3 hari ini. Tuhan Yesus memerintahkan kita untuk memiliki sikap dan perilaku mulia dan luhur melampaui sikap dan perilaku dunia. Menurut naluri dan perilaku dunia, baik manusia maupun binatang, musuh itu harus dibinasakan atau dihancurkan. Bahkan yang tidak disukai, yang menjadi pesaing, harus disingkirkan. Pembenci atau yang tidak menyukai harus dijauhi atau dilawan dengan perbuatan buruk. Menurut sikap dan perilaku dunia, kutuk harus dikembalikan kepada orang yang mengutuki, supaya kita tidak celaka oleh kutuk itu. Orang yang mencaci maki harus disumbat mulutnya atau didiamkan saja. Orang yang meminta cukup diberi sedikit saja. Tidaklah demikian yang dikehendaki oleh Tuhan Yesus terhadap para pengikutNya.
Tuhan Yesus memerintahkan para pengikutNya memiliki sikap dan perilaku yang berbeda, yang lebih baik dari pada dunia. Orang yang memusuhi harus dikasihi, ditaklukkan dengan kasih, bukan dibinasakan atau dihancurkan. Orang yang membenci atau mencaci maki kita harus kita doakan supaya sadar dari sikap buruknya, bukan didiamkan atau disingkiri. Bahkan orang yang mengutuki kita harus kita mintakan berkat dari Allah, bukan kita kembalikan kutuknya. Tuhan kita yang perkasa pasti melindungi kita dari kutuk. Kepada orang-orang yang berperilaku buruk kepada kita begitu itu kita diperintahkan untuk melakukan perbuatan baik. Kepada orang yang meminta, kita diperintahkan memberikan lebih dari yang dimintanya. Kepada orang yang meminjam kepada kita, kita diperintahkan untuk tidak mengharapkan balasan. Bahkan kita diperintahkan untuk melakukan perbuatan baik kepada semua orang tanpa menunggu diminta. Dengan begitu kita berjasa. Menurut Tuhan Yesus, jasa adalah perbuatan baik yang murni tulus; jasa adalah perbuatan baik tanpa mengharapkan balasan apapun; jasa itu bukan untuk dijual. Perintah Tuhan Yesus itu benar-benar mulia dan luhur. Tidak ada agama manapun atau guru manapun yang memberikan ajaran atau perintah seperti itu, selain Tuhan kita Yesus Kristus yang mulia.
Dengan melakukan apa yang diperintahkan Tuhan Yesus itu kita menjadi anak-anak Allah yang maha tinggi. Hanya dari Allah sajalah kita mengharapkan dan menerima sesuatu yang baik, bukan dari manusia. Allah Bapa kita yang memberikannya. Tentang sesama manusia, kita hanya diberi hak untuk melakukan atau memberikan sesuatu yang baik saja. Karena Allah Bapa kita murah hati, Dia pasti memberikan upah yang besar kepada kita. Karena Allah itu murah hati, maka kita pun juga harus murah hati. Murah hati berarti suka memberi dan melakukan sesuatu yang baik bahkan tanpa diminta, bahkan kepada orang yang jahat, yang berperilaku buruk kepada kita. Demikianlah sikap dan perilaku anak-anak Allah itu. Untuk mendapatkan sesuatu yang baik dari Allah –misalnya pengampunan– maka anak-anak Allah pun harus melakukan atau memberikan sesuatu yang baik –misalnya mengampuni– kepada sesama. Jangan mengharapkan Allah atau sesama kita melakukan sesuatu yang baik bagi kita, kalau kita sendiri enggan melakukannya.
Yang menjadi dasar kita mesti melakukan perbuatan baik yang melampaui hukum dan perilaku umum dunia adalah bahwa kita di dalam Kristus dimasukkan ke dalam kuasa kebangkitan Kristus (bacaan kedua). Di dalam Kristus, kita berubah dari keduniawian dan sifat jasmaniah menjadi rohaniah, dari kehinaan dosa kepada kemuliaan.
Penutup
Mari kita tunjukkan kepada dunia kemuliaan dan keluhuran Tuhan kita Yesus Kristus dengan kita melakukan perbuatan baik melampaui sikap dan perilaku umum dunia. Dengan begitu Tuhan Yesus dimuliakan, kita pun mendapat kemuliaan. Jangan sampai sikap dan perilaku kita sebagai anak-anak Allah sama saja dengan sikap dan perilaku dunia. Kalau kepada orang yang berperilaku buruk kepada kita saja kita harus melakukan perbuatan baik, apalagi kepada orang yang tidak berperilaku buruk, apalagi kepada orang yang mengasihi dan baik kepada kita, kita harus otomatis melakukan yang baik. Amin. [st]
Nyanyian : KJ 434:1,2/ 437:1,5,6.
RANCANGAN KHOTBAH: Basa Jawi
Pambuka
Wonten tiyang ingkang nindakaken piawon lajeng pikantuk piwales tumindak kasar utawi awon saking tiyang sanes. Kados pundi mekaten menika miturut pamanggih panjenengan? Sampun salimrahipun? Inggih pancen limrah. Nanging wonten tiyang ingkang nindakaken tumindak awon utawi bengis dhateng tiyang utawi tiyang-tiyang ingkang sejatosipun boten nindakaken piawon menapa-menapa. Upaminipun, greja (kita) tamtu boten nglampahi tumindak piawon menapa-menapa, e…nanging wonten tiyang ingkang ngebom greja, wonten tiyang ingkang nindhes greja. Kados pundi tiyang ingkang mekaten menika? Wah… kebangeten nggih? Ugi wonten tiyang ingkang dipun sengiti, dipun mengsahi lan dipun sengsarakaken nanging boten males sengit utawi memengsahi utawi nyengsarakaken, malah kepara nindakaken tumindak sae dhateng tiyang ingkang nyengiti, memengsahi lan nyengsarakaken. Menawi tiyang mekaten menika kados pundi pemanggih panjenengan? Lha…menika mulya lan luhur sanget, nggih? Lhah mekaten menika mulya lan luhuring budinipun Yusuf ing waosan kapisan kita dinten menika.
Isi
Yusuf dipun sengiti, dipun mengsahi lan dipun sengsarakaken dening para kadangipun piyambak. Ing kawontenan ingkang sangsara, piyambakipun dipun pisahaken tebih saking bapakipun ingkang sanget tresna dhateng piyambakipun. Mataun-taun piyambakipun kapisahaken tebih saking rayinipun tunggal ibu ingkang sanget dipun tresnani. Karana patraping para kadangipun, Yusuf mataun-taun gesang nistha minangka budhak lan sangsara dipun pitenah saha dipun kunjara tanpa wonten tiyang ingkang mbelani utawi nresnani. Puji sokur dene salajengipun Yusuf pikantuk kanugrahan ageng saking Allah ingkang maha agung, jumeneng Perdana Mentri ing saindhenging tanah Mesir.
Ing pangreh lan kuasanipun ingkang ageng Yusuf ningali lan manggihi para kadangipun ing satunggaling papan wewengkonipun. Nalika Yusuf mblakakaken dhirinipun minangka ingkang dipun sade dhateng Mesir, tamtu trawangan wales ukum ing paningalipun para kadangipun menika. Pramila, sadaya sami ajrih lan gemeter sanget. Mbokmenawi sadaya sami mbatin: “Wah bilai gedhe…tumpes awake dhewe saiki….kejem tur kasar tur bengis banget kelakuane awake dhewe biyen marang Yusuf…” Nanging Yusuf nyelak dhateng para kadangipun, satunggal baka satunggal dipun rangkul lan dipun ambungi dening Yusuf kanthi kebak sih katresnan lan raos kangen sanget. Sadaya sami muwun ….adres dleweran luhipun.
Yusuf nglampahi satunggaling tumindak ingkang nglangkungi ukum lan patrap umum tumrap piawon. Rupinipun boten wonten niyat babar pisan ing manahipun Yusuf nedya males ukum (balas dendam) dhateng patrap awoning para kadangipun dhateng piyambakipun. Ing manahipun Yusuf boten wonten raos sengit dhateng para kadangipun, sanadyan para kadangipun sampun nyengsarakaken gesangipun kanthi sanget. Nanging Yusuf malah nresnani sadayanipun kanthi nyata: piyambakipun ngrangkuli sarta ngambungi para kadangipun sadaya, piyambakipun nyawisaken papan padunungan kagem para kadang lan bapakipun ing Gosyen, piyambakipun nanggel sadaya kabetahaning gesang sadaya kadang lan bapakipun.
Tumindak kados ingkang dipun lampahi dening Yusuf menika ingkang dipun prentahaken dening Gusti Yesus ing waosan katiga dinten menika. Gusti Yesus mrentahaken kita supados nggadhahi watak lan tumindak mulya lan luhur nglangkungi watak lan patraping donya. Miturut naluri lan patraping donya, dadosa manungsa lan sato kewan, mengsah kedah dipun remuk lan dipun sirnakaken; malah ingkang boten dipun remeni, ingkang dados pesaing, kedah dipun singkiraken. Tiyang ingkang sengit utawi boten remen kedah dipun tebihi lan dipun lawan kanthi tumindak keras. Miturut watak lan patraping donya, wewelak (kutuk) kedah dipun wangsulaken dhateng tiyang ingkang nyupatani (mengutuki) supados kita boten cilaka/ bilai dening wewelak menika. Tiyang ingkang remen nylathu tiyang sanes kedah dipun “sumpel” tutukipun utawi dipun kendelaken kemawon. Tiyang ingkang remen “njaluk-njaluk” dipun paringi sekedhik kemawon. Nanging boten mekaten menika ingkang dipun kersakaken dening Gusti Yesus tumrap sadaya para pendherekipun.
Gusti Yesus mrentah para pendherekipun nggadhahi watak lan tumindak ingkang benten, ingkang langkung sae tinimbang donya. Tiyang ingkang memengsahi kedah dipun tresnani, dipun telukaken kanthi sih katresnan, sanes dipun remuk utawi kasirnakaken. Tiyang ingkang sengit utawi nylathu kita kedah kita dongakaken supados sadhar saking patrap awonipun, sanes dipun kendelaken utawi dipun singkiri. Malah tiyang ingkang nyupatani kita kanthi wewelak kedah kita suwunaken berkah dhateng Allah, sanes kita wangsulaken wewelakipun. Menawi kita wangsulaken, tumindak kita badhe mbilaeni utawi nyengsarakaken tiyang menika. Gusti Allah kita ingkang prakosa mesthi ngreksa kita saking wewelak. Dhateng tiyang-tiyang ingkang nindakaken patrap awon dhateng kita mekaten menika, kita dipun prentah supados nindakaken kasaenan. Dhateng tiyang ingkang nyenyuwun, kita dipun prentah maringi langkung saking ingkang dipun suwun. Dhateng tiyang ingkang utang, kita dipun prentah supados boten ngajeng-ajeng piwales. Kita dipun prentah sami nglampahi tumindak sae tumrap sadaya tiyang tanpa nengga panyuwun. Pepaken utawi prentahipun Gusti Yesus menika saestu mulya lan luhur. Boten wonten agami utawi guru pundia ingkang paring piwulang utawi prentah ingkang luhur kados mekaten menika, anjawi namung Gusti Yesus ingkang mulya.
Kanthi nindakaken menapa ingkang dipun prentahaken dening Gusti Yesus menika kita dados para putranipun Allah ingkang maha luhur. Namung saking Gusti Allah kemawon kita ngajeng-ajeng lan nampeni samukawis ingkang sae, sanes saking manungsa. Gusti Allah Rama kita ingkang maringaken. Tumrap sesamining manungsa, kita namung kaparingan wewenang nindakaken utawi maringaken prekawis ingkang sae, sanes ngajeng-ajeng. Amargi Gusti Allah Rama kita menika loma, Panjenenganipun mesthi paring opah ageng dhateng kita. Amargi Gusti Allah Rama kita menika loma, kita ugi kedah loma. Loma ateges remen peparing lan nindakaken sadaya prekawis ingkang sae, sanadyan boten kasuwun, malah dhateng tiyang ingkang awon, ingkang nindakaken piawon dhateng kita. Lhah mekaten watak lan tumindakipun para putranipun Allah menika. Kangge pikantuk prekawis ingkang sae saking Allah –upaminipun pangapunten– para putranipun Allah ugi kedah nindakaken utawi maringi prekawis ingkang sae –upaminipun pangapunten– dhateng sesami. Sampun ngajeng-ajeng Gusti Allah utawi sesami nindakaken prekawis ingkang sae tumrap kita, menawi kita piyambak boten kasedu (purun) nindakaken.
Ingkang dados landhesan kita mesthi nglampahi tumindak utami ingkang nglangkungi ukum lan patraping donya inggih menika karana kita wonten ing Sang Kristus kalebetaken dhateng panguwaos wungunipun Sang Kristus (waosan 2). Wonten ing Sang Kristus kita ngalami ewah-ewahan saking kadonyan lan sipat kajasmanen dados karohanen, saking kanisthan dosa dhateng kamulyan.
Panutup
Sumangga nedahaken lan mujudaken dhateng jagad kamulyan lan kaluhuranipun Gusti kita Yesus Kristus srana kita nglampahi tumindak sae nglangkungi watak lan patrap umuming donya. Kanthi mekaten Gusti Yesus kamulyakaken, kita ugi pikantuk kamulyan. Sampun ngantos watak lan tumindak kita minangka para putranipun Allah sami kemawon kaliyan watak lan patraping donya. Menawi dhateng tiyang ingkang tumindak awon dhateng kita kemawon kita kedah nglampahi tumindak utami, menapa malih dhateng tiyang ingkang boten tumindak awon, menapa malih dhateng tiyang ingkang sae lan tresna dhateng kita, kita mesthi kedah otomatis, sanalika nindakaken ingkang sae. Amin. [st]
Pamuji: KPJ 136:3,4.