Tuhanlah yang Berperan, Ia Adalah Segalanya Khotbah Minggu 3 Juni 2018

Minggu UEM
Stola Hijau

 

Bacaan 1         : 1 Samuel 3:1-10
Bacaan 2         : 2 Korintus 4:5-12
Bacaan 3         : Markus 2:23- 3:6

Tema Liturgis  : Roh Kudus Mengobarkan Semangat Bersaksi dan Melayani
Tema Khotbah: Tuhanlah yang berperan, Ia adalah segalanya.

 

KETERANGAN BACAAN
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah) 

1 Samuel 3:1-10

Peranan Tuhan dalam kehidupan umat kembali nampak, ketika Ia memanggil Samuel, setelah sekian lama Ia jarang berfirman dan menyatakan diri-Nya. Seperti dijelaskan di ayat 1 bahwa pada masa itu firman TUHAN jarang, penglihatan-penglihatanpun tidak sering. Pada saat itu Samuel tidur di dalam Bait Suci TUHAN, tempat tabut Allah. Tabut Allah adalah peti yang terbuat dari kayu akasia (atau kayu penaga dalam Kel.25:10). Tabut ini menyertai orang Ibrani dalam pengembaraan mereka di padang gurun pada zaman Musa. Di dalamnya terdapat dua loh batu berisi Sepuluh Firman. Selain menyimpan Sepuluh Firman, tabut itu juga melambangkan kehadiran Allah di tengah bangsa-Nya. Tabut itu biasanya disimpan di dalam ruang Mahakudus di Kemah Suci. Tiga kali TUHAN memanggil Samuel, tetapi ia tidak mengenali suara TUHAN. Ia mengira bahwa yang memanggilnya adalah Eli. Hal itu karena Samuel belum mengenal TUHAN. Setelah Eli memberitahu, bahwa yang memanggilnya adalah TUHAN, barulah ia mengenali-Nya. Iapun bersedia untuk mendengarkan-Nya. TUHAN kembali berperan dan hadir dalam kehidupan umat.

 

2 Korintus 4:5-12

Rasul Paulus ingin menunjukkan peranan Allah dalam pelayanannya. Hal itulah yang membuatnya tidak tawar hati. Ia membuat terang-Nya bercahaya dalam hati supaya beroleh pengetahuan  tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus. Paulus merasa kekuatan yang berlimpah-limpah untuk memberitakan Yesus Kristus sebagai Tuhan, adalah berasal dari Allah. Kekuatan dari Allah tersebut selalu tersimpan dan selalu ada dalam dirinya, seperti gambaran harta yang tersimpan dalam bejana tanah liat. Pada zaman Paulus bejana tanah liat digunakan sebagai wadah untuk menyimpan. Sehingga ketika ia dan teman sepelayanannya ditindas, tidak terjepit; ketika habis akal, tidak putus asa;ketika dianiaya, tidak ditinggalkan sendirian; dan ketika dihempaskan, tidak binasa.

 

Markus 2:23-3:6

Ajaran dan tindakan Yesus, sang Anak Manusia, lebih berkuasa dari pada hukum Taurat, termasuk aturan tentang hari Sabat. Sabat adalah hari ketujuh dalam satu pekan. Pada hari ke tujuh Allah beristirahat ketika Ia menciptakan dunia. Sabat berarti “istirahat” dan beristirahat pada hari Sabat adalah hukum yang wajib ditaati oleh semua orang Yahudi. Hukum inilah yang dijadikan dasar orang-orang Farisi untuk bertanya kepada Tuhan Yesus akan tindakan para murid yang memetik gandum di hari Sabat dan ketika Tuhan Yesus menyembuhkan seseorang yang mati sebelah tanggnya. Orang-orang Farisi menganggap bahwa Tuhan Yesus dan para murid-Nya melanggar Hukum. Tetapi Yesus mengatakan bahwa Dirinya yang adalah Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat. Ia lebih berkuasa atas aturan hari Sabat. Tindakan yang dilakuan Tuhan Yesus bukannya tanpa dasar. Tindakan Tuhan Yesus adalah upaya penyelamatan bagi yang kekurangan dan kelaparan, serta yang menderita sakit. Sebuah tindakan yang tidak dapat ditunda.

 

Benang Merah Ketiga Bacaaan

Siapakah yang berperan dalam kehidupan umat? Tuhan atau manusia? Tuhanlah yang berperan dalam kehidupan umat. Tuhan ingin menunjukkan peranan-Nya ketika Ia memanggil Samuel. Adanya peranan Tuhan dalam kehidupan umat, nampak dari pengakuan Paulus ketika ia harus menghadapi penderitaan. Ia kuat karena Tuhan. Tuhan juga yang lebih berkuasa diatas segalanya, termasuk hukum Taurat.

 

RANCANGAN KHOTBAH: Bahasa Indonesia

Pendahuluan

Ingatkah saudara dengan sebuah lagu lama dari Ruth Sahanaya, yang berjudul “Kaulah Segalanya”?  Potongan lirik lagunya demikian:

Kau takkan percaya, kau selalu di hati
Haruskahku menangis
Untuk mengatakan yang sesungguhnya..
Kaulah segalanya untukku, kaulah curahan hati ini
Tak mungkin ku melupakanmu
Tiada lagi yang kuharap, hanya kau seorang…

Cara menyanyikan lihat di: https://www.youtube.com/watch?v=hu3qZ3FNhRc. Makna lagu ini adalah bahwa  seorang menganggap orang yang disayangi atau dicintainya adalah segalanya baginya dan karena sudah mengisi hidupnya, dan membuat hidupnya lebih berharga. Apakah saudara punya pengalaman seperti yang diceritakan lagu ini? Jika ya, tentu romantis sekali. Jika ada seseorang yang dianggap segalanya, apakah Tuhan juga dianggap segalanya?

 

Isi

Tuhan Allah adalah segalanya dalam hidup manusia. Ia berperan besar dalam kehidupan manusia. Peranan Tuhan dalam kehidupan umat kembali nampak, ketika Ia memanggil Samuel, setelah sekian lama Ia jarang berfirman dan menyatakan diri-Nya. Seperti dijelaskan pada bacaan pertama, pada masa itu firman TUHAN jarang, penglihatan-penglihatanpun tidak sering. Pada saat itu Samuel tidur di dalam Bait Suci TUHAN, tempat tabut Allah. Tabut itu melambangkan kehadiran Allah di tengah bangsa-Nya. Tiga kali TUHAN memanggil Samuel, tetapi ia tidak mengenali suara TUHAN. Ia mengira bahwa yang memanggilnya adalah Eli. Hal itu karena Samuel belum mengenal TUHAN. Setelah Eli memberitahu, bahwa yang memanggilnya adalah TUHAN, barulah ia mengenali-Nya. Samuel menanggapi panggilan TUHAN itu, sebagai bentuk pengakuan adanya peranan TUHAN dalam kehidupan manusia.

Rasul Paulus merasakan betul bagaimana Tuhan Allah berperan di dalam kehidupannya.  Ia ingin menunjukkan peranan Allah dalam pelayanannya. Hal itulah yang membuatnya tidak tawar hati. Paulus merasa kekuatan yang berlimpah-limpah untuk memberitakan Yesus Kristus sebagai Tuhan, adalah berasal dari Allah. Kekuatan dari Allah tersebut selalu tersimpan dan selalu ada dalam dirinya, seperti gambaran harta yang tersimpan dalam bejana tanah liat. Sehingga ketika ia dan teman sepelayanannya ditindas, tidak terjepit; ketika habis akal, tidak putus asa;ketika dianiaya, tidak ditinggalkan sendirian; dan ketika dihempaskan, tidak binasa.

Tidak ada satupun yang dapat menghalangi peranan Tuhan dalam kehidupan manusia, meski hukum Taurat sekalipun, termasuk aturan tentang hari Sabat. Sebab Tuhan Yesus yang adalah Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat. Ia lebih berkuasa atas aturan hari Sabat. Tindakan yang dilakuan Tuhan Yesus yang terkesan melanggar hari Sabat, seperti yang diceritakan di bacaan ketiga, bukannya tanpa dasar. Tindakan Tuhan Yesus adalah upaya penyelamatan bagi yang kekurangan dan kelaparan, serta yang menderita sakit. Sebuah tindakan yang tidak dapat ditunda.

 

Penutup

Tidak ada yang perlu diragukan lagi dari Tuhan. Ia berkuasa atas kehidupan kita, melebihi aturan-aturan yang dibuat manusia. Mari kita bersedia mendengarkan suara Tuhan seperti Samuel yang  telah dengan tegas menanggapi mendengar paggilan Tuhan. Janganlah kita menutup telingga atau meragukan seperti orang-orang Farisi. Jika kita menutup telinga, itu berarti bahwa kita hanya mengandalkan diri sendiri. Tuhanlah yang berperan dalam hidup kita. Kita persilahkan Tuhan berkarya dalam kehidupan kita, dan biarlah kekuatan Tuhan tersimpan dalam hidup kita. Kita akan merasakan hasil yang luar biasa, seperti yang dirasakan oleh Rasul Paulus, ketika mempersilahkan Tuhan berperan dalam hidup kita.Ketika ditindas, tidak terjepit; ketika habis akal, tidak putus asa; ketika dianiaya, tidak ditinggalkan sendirian; dan  ketika dihempaskan, tidak binasa, itulah hasil yang dapat kita rasakan. Bukankah hal tersebut yang kita butuhkan dalam kita menjalani kehidupan pribadi, keluarga dan persekutuan yang penuh dengan tantangan ini? Tuhanlah yang berperan, Ia adalah segalanya dalam hidup kita. Amin. (SWT).

 

Nyanyian: KJ. 396


RANCANGAN KHOTBAH: Basa Jawi

Pembuka

            Punapa panjenengan enget kaliyan lagu lami ingkang irah-irahanipun“ Kaulah Segalanya”? Peranganing lagu punika mekaten:

Kau takkan percaya, kau selalu di hati
Haruskahku menangis
Untuk mengatakan yang sesungguhnya..
Kaulah segalanya untukku, kaulah curahan hati ini
Tak mungkin ku melupakanmu
Tiada lagi yang kuharap, hanya kau seorang…

Kados pundhi caranipun nyuraos lagu punika, panjenengan saged mirsani ing:https://www.youtube.com/watch?v=hu3qZ3FNhRc. Lagu punika ngemu suraos bilih wonten tiyang ingkang nganggep tiyang ingkang dipun tresnani punika wigatos ing sedayanipun, amargi sampun ngisi gesangipun, lan gesangipun dados langkung aji. Punapa panjenengan kagungan pengalaman ingkang kados ingkang dipuncariyosaken lagu punika? Menawi nggih, tamtu romantis. Menawi wonten tiyang ingkang kaanggep wigatos ing sedayanipun, punapa ing pigesangan kita minangka umat, Gusti Allah ugi kaanggep wigatos ing sedayanipun?

 

Isi

Gusti Allah punika wigatos ing sedayanipun, kangge gesangipun manungsa. Panjenenganipun kagungan pakaryan ageng kangge gesangipun manungsa. Pakaryanipun Gusti Allah ketingal malih rikala nimbali Samuel, saksampunipun awis-awis anggenipun ngandika lan paring wahyu. Kados ingkang dipun terangaken ing waosan kaping sepisan, bilih kala semanten awis-awis wonten dhawuh sarta wahyu saking Gusti Allah. Rikala Samuel sare ing padalemane suci, papan pethinipun (tabut) Gusti Allah. Tabut punika mralambangaken rawuhipun Gusti Allah ing tengah-tengahipun umat. Kaping tiga Gusti Allah nimbali Samuel, nanging Samuel mboten wanuh swanteipun Gusti Allah. Samuel nginten bilih punika swanteipun Eli. Perkawis punika kelampahan awit Samuel dereng wanuh kaliyan Gusti Allah. Saksampunipun Eli paring pirsa bilih ingkang nimbali punika Gusti Allah, enggal Samuel wanuh dhateng Panjenenganipun. Samuel kersa mangsuli timbalanipun, minangka wujud pangaken bilih wonten pakaryanipun Gusti Allah ing gesangipun manungsa.

Rasul Paulus ngraosaken saestu kados pundhi pakaryanipun Gusti Allah ing pigesanganipun. Rasul Paulus nerangaken pakaryanipun Gusti ing peladosanipun. Awit pakaryanipun Gusti Allah punika, Rasul Paulus mboten semplah ing ati. Rasul Paulus rumaos bilih kekiyatan ingkang ngedab-edabi kangge martosaken Yesus Kristus minangka Gusti, asalipun saking Allah. Kekiyatan punika kasimpen ing dirinipun, kados gegambaran rajabrana ingkang kawadhahan ing grabah. Matemah senaosa Rasul Paulus lan kanca peladosanipun katindhes nanging mboten mboten remuk kejepit; katelasan akal nanging mboten kecalan pangajeng-ajeng; dipun kuya-kuya nanging mboten dipun tilar piyambakan; sami dipun banting nanging mboten manggih bilai.

Boten wonten tiyang satunggal kemawon ingkang saged ngalang-alangi pakaryanipun Gusti ing gesangipun manungsa. Angger-angger Toret, kalebet pranatan ngingingi dinten Sabat ugi mboten saged ngalang-alangi. Amargi Gusti Yesus, Putranipun manungsa punika Gustinipun dinten Sabat. Panjenenganipun langkung kuwaos tinimbang pranatan dinten Sabat. Anggenipun Gusti Yesus “nerak” dinten Sabat, kados ingkang kacariyosaken ing waosan kaping tiga, mboten ateges tanpa dhasar. Pakaryanipun Gusti Yesus punika kangge paring kawilujengan dhateng manungsa ingkang saweg kekirangan lan sakit. Pakaryan ingkang mboten saged dipunundur malih.

 

Panutup

Kita mboten perlu mangu-mangu malih dhumateng Gusti. Panjenenganipun kagungan panguwaos tumrap gesang kita, nglangkungi pranatanipun manungsa. Sumangga kita sami sumadya mirengaken swantenipun Gusti, kados Samuel ingkang sumadya mirengaken pangandikanipun Gusti. Sampun ngantos kita nutup talingan kita utawi mangu-mangu kados tiyang Farisi. Menawi kita nutup talingan, punika ateges kita namung ngendelaken kekiyatan diri kita piyambak. Gusti Allah ingkang makarya ing pigesangan kita. Ing sedayanipun namung Gusti Allah kemawon, mboten wonten lintunipun. Kita sumanggakaken Gusti Allah makarya ing pigesangan kita, lan kakiyatanipun kasimpen ing gesang kita. Kita badhe ngraosaken kekiyatan ingkang ageng, kados ingkang dipun raosaken dening Rasul Paulus. Senaosa katindhes nanging mboten mboten remuk kejepit; katelasan akal nanging mboten kecalan pangajeng-ajeng; dipun kuya-kuya nanging mboten dipun tilar piyambakan; sami dipun banting nanging mboten manggih bilai. Punika ingkang kita betahaken ing pigesangan kita secara pribadi, keluarga, mekaten ugi ing pasamuwan ingkang kebak pambengan punika. Kita sumanggakaken Gusti Allah pribadi ingkang makarya. Ing sedayanipun namung Gusti Allah kemawon, mboten wonten lintunipun. Amin. (SWT).

 

Pamuji: KPK. 69

 

Bagikan Entri Ini: