Damai Sejahtera dalam Keluarga yang Diberkati Khotbah Minggu 3 Juli 2022

Minggu Biasa | Pembukaan Bulan Keluarga
Stola Hijau

Bacaan 1: Yesaya 66 : 10 – 14
Bacaan 2:
Galatia 6 : 7 – 16
Bacaan 3:
Lukas 10 : 1 – 11, 16 – 20

Tema Liturgis: Keluarga yang Ikut Serta dalam Karya Allah
Tema Khotbah:
Damai Sejahtera dalam Keluarga yang Diberkati

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Yesaya 66 : 10 – 14
Hukuman bagi Israel berakhir dengan keselamatan yang dijanjikan. Itulah konteks “langit baru dan bumi baru” yang dinubuatkan pada pasal 65. Keselamatan yang dialami merupakan sesuatu yang bersifat lahir dan batin. Diawali dengan kesukacitaan yang diwujudkan dengan sorak-sorak karena dicintai oleh semua orang. Hal ini menunjukkan adanya pemulihan hubungan antar sesama manusia, termasuk dengan mereka yang sebelumnya berduka (Ay. 10). Sukacita itu juga diwujudkan dalam bentuk pemenuhan kebutuhan jasmani yang diungkapkan dengan pemberian susu sampai kenyang, sampai puas (Ay. 11).

Ayat 11 – 13 menyatakan peran Allah sebagai seorang “Ibu” yang sangat ditonjolkan. Kefemininan Allah dinampakkan dalam ungkapan: “supaya kamu menghisap dan menjadi kenyang dari susu yang menyegarkan kamu, supaya kamu menghirup dan menikmati dari dadanya yang bernas.” (Ay. 11). Demikian juga di ayat 12 – 13 : “… kamu akan menyusu, akan digendong, akan dibelai-belai di pangkuan seperti seorang yang dihibur ibunya, …”. Digambarkan dengan sangat jelas pribadi Allah yang memberikan kelembutan dan pemeliharaan. Bukan hanya seperti pribadi yang menghukum dan bertindak tegas terhadap pelanggaran Israel, tetapi dalam ketegasan dan hukuman itu ternyata “ke-Ibu-an” Allah juga dimunculkan dengan sangat jelas.

Keselamatan yang Tuhan berikan itu mengalir tiada henti seperti aliran sungai, mewujudkan kasih sayang Allah yang membelai dan menggendong, yang menghibur. Penghiburan itu jelas dinyatakan bahwa keselamatan Allah telah menggantikan penghukuman. Tidak berhenti pada hal pengampunan dan anugerah keselamatan saja, tetapi umat Allah juga akan terus bertumbuh seperti rumput muda yang terus bertumbuh dengan lebat (Ay. 13). Artinya, keselamatan yang telah diterima dengan sukacita secara lahir dan batin itu juga menjadikan umat Allah memiliki kekuatan untuk terus bertumbuh dan menyebar ke berbagi tempat untuk membagikan sukacita yang diterimanya.

Pengampunan Allah merupakan titik awal sukacita dan keselamatan yang diterimanya. Jelas bahwa semua itu inisiatif, kehendak, dan tindakan Allah untuk menusia yang dikasihi-Nya. Karena kasih-Nya itulah maka murka Allah tidak untuk selama-lamanya bagi umat-Nya. Ada keselamatan yang dijanjikan dibalik penghukuman yang terjadi.

Galatia 6 : 7 – 16
Pemahaman tentang “sesat” dalam surat Galatia, khususnya pada perikop ini mengajarkan supaya “jangan mempermainkan Allah.” Di saat seseorang tidak melakukan apa yang Allah kehendaki dan ajarkan, sama artinya dengan mempermainkan Allah. Allah (Roh Kudus) adalah sumber kebenaran. Ketika seseorang dengan sengaja tidak mau melakukan kebenaran, menolak kebenaran itu, sama artinya dengan mengingkari bahwa Allah adalah kebenaran. Kebenaran yang diajarkan antara lain: orang akan menuai dari apa yang ditaburnya (Ay. 7), oleh karenanya harus berhati-hati dalam bertindak, harus menabur dalam Roh (sesuatu yang bukan duniawi); menabur kebaikan atau berbuat baik itu tidak mengenal waktu; jangan jemu-jemu berbuat baik (Ay. 9).

Selain hal di atas, perbuatan “sesat” lainnya yang disebutkan adalah melakukan sesuatu yang justru tidak diperintahkan Allah. Antara lain: pengajaran tentang sunat sebagai suatu keharusan demi memenuhi tuntutan hukum Taurat. Kenyataannya, mereka yang mengajarkan itu sendiri tidak melakukan hukum Taurat dengan taat. Mereka hanya bisa mengajarkan dan menuntut orang lain memberlakukan hukum Taurat, tetapi dirinya sendiri tidak melakukannya. Tujuannya tidak lain hanya untuk kemegahan diri sendiri, yaitu kemegahan bagi orang yang hanya bisa menuntut orang lain melakukan sunat. Hal itu menjadi sebuah kebanggan baginya.

Selanjutnya, Paulus mengingatkan bahwa kemegahan orang percaya bukan karena dia telah bersunat secara fisik atau karena melakukan berbagai peraturan hukum Taurat. Semua itu tidak ada maknanya berkaitan dengan iman kristiani. Kemegahannya justru pada pengorbanan Kristus di kayu salib yang menjamin keselamatan kita. Jaminan adanya keselamatan itulah yang menjadi kebanggaan, bukan pada hal menaati hukum Taurat, apalagi karena sunat. Kenyataannya, tidak ada seorangpun yang bisa menaati hukum Taurat sepenuhnya. Memang banyak orang yang beranggapan bahwa melalui penyunatan dan memenuhi hukum Taurat, mereka akan memperoleh berkat Allah. Padahal, sunat bukanlah keharusan, karena itu sebuah tradisi (tradisi Yahudi), juga tidak berkaitan dengan hal keselamatan.  

Lukas 10 : 1 – 11, 16 – 20
Ayat 1 – 2 menunjukkan bahwa murid-murid Tuhan Yesus yang setia kepada-Nya tidak hanya berjumlah 12 orang. Yesus mengutus 70 orang murid untuk pergi berdua-dua (dipencar). Hal ini bisa menunjukkan bilangan kesempurnaan ( 7 merupakan angka sempurna bagi orang Yahudi) yang ingin menggambarkan bahwa ada banyak orang yang setia menjadi murid-Nya. Jelas sekali bahwa mereka juga dipersiapkan untuk menjadi “penuai”, melakukan tugas pengajaran. Orang-orang yang akan mereka ajar jumlahnya jauh lebih banyak. Allah adalah yang punya otoritas untuk memberikan dan mengutus sang “penuai” / pengajar itu.

Pengutusan yang dilakukan Tuhan Yesus kepada para murid (untuk pergi berdua-dua) tentunya bukan tanpa maksud. Ini bukan hal ringan bagi para murid. Pergi berdua berarti masih ada teman diskusi dan mempertimbangkan berbagai hal sebelum mengambil keputusan. Sebelumnya mereka sangat bergantung kepada Tuhan Yesus, gurunya. Setelah pengutusan itu mereka dilatih untuk benar-benar mandiri dalam segala hal.

  Tidaklah mudah untuk menjadi “penuai”. Para murid yang diutus oleh Tuhan Yesus itu diberitahu bahwa mereka akan menghadapi situasi yang tidak mudah, penuh ancaman, bahkan mempertaruhkan nyawa (bagai anak domba ke tengah-tengah serigala – Ay. 3). Tampaknya ironis, karena Tuhan Yesus tidak mengijinkan mereka untuk membawa bekal apapun sebagai sarana untuk mengatasi persoalan mereka. Dalam hal ini Tuhan Yesus menginginkan agar para murid yang diutus ini benar-benar bergantung sepenuhnya hanya kepada Allah. Para murid tidak boleh mengandalkan bekal mereka untuk hidup, tetapi harus tetap mengandalkan Allah dalam mengatasi setiap persoalan dan tantangan. Bahkan jika ada orang lain yang memberi mereka makan dan minum, itu haruslah dihayati sebagai wujud pemeliharaan Allah atas mereka. Mereka harus mensyukuri itu, dengan menikmati apa yang mereka dapat dari pelayanan dan pelaksanaan tugas mereka (Ay. 7).

Tuhan Yesus memberitahukan kepada mereka perihal yang mungkin akan mereka hadapi selama memberitakan Injil dan bagaimana mereka harus bersikap. Tantangan yang akan mereka hadapi mulai dari hal “ringan” seperti ditolak di suatu tempat, sampai dengan hal yang “berat” seperti halnya berhadapan dengan roh-roh jahat. Namun demikian, kenyataannya para murid itu bisa kembali dengan sukacita (Ay. 17). Dalam melaksanakan tugas itu ternyata Tuhan Yesus telah memperlengkapi mereka dengan memberikan kuasa untuk menghadapi berbagai tantangan, termasuk menghadapi kuasa iblis (Ay. 19). Pada akhirnya Tuhan Yesus mengingatkan mereka supaya kesukacitaan yang mereka alami itu bukan karena mereka diberi kuasa oleh Tuhan Yesus, melainkan mereka bersukacita karena namanya terdaftar di sorga (Ay. 20). Artinya mereka telah melakukan kehendak Allah dengan baik, yaitu menjadi seorang pewarta Injil, pewarta damai sejahtera.

Benang Merah Tiga Bacaan:
Pribadi Allah yang dikenal manusia sesungguhnya bukan saja jiwa kemaskulinan-Nya, tetapi kefemininan-Nya juga sangat nampak dalam keinginan-Nya untuk menyelamatkan, melindungi, dan tidak ingin anak-anak-Nya binasa. Upaya penyelamatan yang Tuhan lakukan ini juga nampak dalam Dia mengutus para murid-Nya untuk mewartakan pertobatan dan damai sejahtera bagi semua orang.

 

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silahkan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)

Pendahuluan
Ada orang berpendapat bahwa segala sesuatu dimulai dari “rumah”. Di rumah seorang anak belajar nilai-nilai iman kristiani, kebaikan, sopan santun, kesetia-kawanan, dan lain-lain, namun sekaligus juga belajar tentang kekerasan dan mengumpat. Rumah menjadi awal segalanya. Suasana damai sejahtera yang dirasakan penghuni rumah sangatlah penting. Itulah sebabnya Tuhan Yesus berpesan kepada para murid yang diutus-Nya untuk terlebih dahulu mengucapkan, “Damai sejahtera bagi rumah ini!” pada setiap penghuni rumah yang akan dimasukinya. Berita damai sejahtera dan juga berita pertobatan, dimulai dari sebuah rumah, bukan dari tempat ibadah atau yang lainnya.

Isi
Semua murid Tuhan Yesus (bukan hanya ke-12 murid) mendapat tugas untuk menyampaikan berita damai sejahtera dan berita pertobatan kepada lingkungannya. Tuhan Yesus menyadari betapa pentingnya damai sejahtera itu bisa dirasakan di setiap lingkungan yang terkecil sekalipun, yaitu keluarga atau rumah. Inilah sasaran pertama. Damai sejahtera yang dimaksud adalah adanya perasaan sukacita, karena keselamatan dan perlindungan yang Tuhan berikan.

Sejak jaman Perjanjian Lama, berita penghukuman selalui diikuti dengan seruan untuk bertobat dan berita keselamatan dari Tuhan. Artinya, Tuhan menghendaki semua umat-Nya selamat dan merasakan perlindungan dan asuhan Tuhan (lih. bacaan 1). Itulah sebabnya mengapa damai sejahtera menjadi hal penting untuk diberitakan. Damai sejahtera ini bukan karena terpenuhinya kebutuhan jasmani seseorang, melainkan karena orang merasakan adanya kepastian akan keselamatan hidupnya, bahkan hari depannya. Damai sejahtera dalam rumah juga menjadi penting, karena dengan damai sejahtera yang dialami itu memungkinkan seseorang untuk melakukan banyak hal dan banyak kebaikan lainnya.

Ucapan “Damai sejahtera bagi rumah ini!” melebihi sekedar salam yang selalu diucapkan kepada seseorang yang ditemui (misalnya: selamat pagi, dll). Orang yang mengucapkan salam bisa sekedar hanya basi-basi atau demi kesopanan belaka. Namun, ucapan “Damai sejahtera bagi rumah ini!” bisa dimaknai sebagai sebuah doa dan harapan untuk seluruh penghuni rumah. Mengapa damai sejahtera bagi keluarga menjadi penting?

Damai sejahtera itu menjadi bekal bagi seseorang, termasuk para utusan dalam menghadapi berbagai tantangan. Utusan Tuhan Yesus dalam mewartakan berita pertobatan dan berita damai sejahtera akan berhadapan dengan berbagai tantangan berat maupun ringan. Tantangan berat bisa sampai mempertaruhkan nyawa misalnya seperti anak domba di tengah-tengah serigala (Ay. 3), maupun tantangan ringan seperti penolakan oleh sesama (Ay. 10).

Salam “damai sejahtera” ini ternyata bisa berdampak bagi orang yang mengucapkan maupun yang mendengarnya. Ada orang yang dianggap tidak layak untuk menerima damai sejahtera itu, tetapi ada juga yang dianggap layak menerimanya. Yang tidak layak menerima damai sejahtera adalah orang-orang yang menolak menerima pemberitaan para murid, yaitu mereka yang menolak seruan untuk bertobat dan menerima damai sejahtera. Demikian juga sebaliknya. Menolak pemberitaan para murid sama artinya dengan menolak Allah. Menolak kehadiran Allah berarti juga menolak damai sejahtera, karena Allah adalah sumber dari damai sejahtera itu.

Apakah orang yang sedang menghadapi berbagai tantangan atau dalam keterbatasan juga bisa mengalami damai sejahtera? Bisa! Buktinya, Tuhan Yesus melarang para murid untuk membawa bekal selama dalam perjalanan memberitakan Injil. Baik itu berupa bekal makanan maupun pakaian. Tujuannya tentu saja supaya dalam melaksanakan tugas pemberitaan Injil itu para murid benar-benar mengandalkan Tuhan yang memelihara hidupnya, bukan mengandalkan bekal mereka. Kenyataannya, mereka semua kembali dengan gembira (Ay. 17). Artinya, berbagai tantangan yang dihadapi selama mewartakan Injil tidak menghalangi damai sejahtera yang mereka rasakan. Mereka kembali dengan gembira karena ternyata Tuhan memberikan “bekal” melebihi kebutuhan mereka. Tuhan memberikan “bonus” berupa kuasa untuk mengusir setan, dll, yang sebelumnya tidak pernah dipikirkan oleh para murid. Tuhan Yesus tahu bahwa semua itu diperlukan oleh para murid, tetapi hal itu tidak boleh menjadi kesombongan bagi mereka. Damai sejahtera yang mereka alami seharusnya bukan karena menerima sesuatu dari Tuhan, tetapi karena mereka telah menjadi pewaris keselamatan atau tercatat dalam kerajaan sorga.

Merasakan damai sejahtera tidak lepas dari adanya hubungan yang baik antara seseorang dengan Tuhan dan dengan sesamanya. Berdamai dengan Tuhan tidak bisa tidak, tentulah diawali dengan pertobatan. Di saat seseorang merasakan dosanya sudah diampuni oleh Tuhan, maka damai sejahtera akan dirasakannya. Demikian juga, di saat seseorang merasa berdamai dengan sesama dan lingkungannya, tidak punya musuh, maka diapun layak merasakan damai sejahtera. Jadi, tidaklah berlebihan jika suasana damai sejahtera itu akan dirasakan dengan diawali berita pertobatan. Semua itu dimulai dari keluarga-keluarga, seperti yang diberitakan oleh para murid yang diutus oleh Tuhan Yesus. Tujuannya tiada lain adalah untuk menyelamatkan umat manusia. Berbagai kesesatan dihadapi oleh manusia di dunia, termasuk menghadapi berbagai ajaran yang tidak sesuai dengan kehendak Allah (lih. bacaan 3).

Orang yang memberitakan damai sejahtera tidak perlu khawatir akan pemenuhan kebutuhan hidupnya. Tuhan telah menyediakan sesuai kehendak-Nya. Tuhan memberikan kuasa untuk menghadapi berbagai tantangan, bahkan memberikan melebihi apa yang dipikirkan manusia. “Kuasa” pemberian Tuhan itu juga yang harus digunakan dan diandalkan untuk menghadapi berbagai persoalan hidupnya. Pada intinya, perlindungan Tuhan atas umat-Nya, terlebih pada mereka yang bersedia menjadi utusan untuk mewartakan damai sejahtera, sudah terbukti bahwa Tuhan menyediakannya, bahkan memberikan sukacita.

Penutup
Hari ini merupakan pembukaan bulan keluarga di lingkup Greja Kristen Jawi Wetan. Kita diingatkan bahwa menyebar damai sejahtera merupakan perintah Tuhan Yesus kepada kita semua. Damai sejahtera hendaklah dimulai dari keluarga. Inilah saat yang tepat bagi kita untuk kembali meneliti, apakah damai sejahtera itu sudah dirasakan oleh seluruh anggota keluarga kita? Apakah hidup dalam pertobatan dan menjauhi kesesatan juga sudah mewarnai pola hidup keluarga kita?

Damai sejahtera dimulai dari hal-hal yang sederhana dalam keluarga, misalnya semua anggota keluarga merasa betah untuk tinggal di rumah. Suasana rumah betul-betul bisa menjadi tempat untuk “pulang”, tempat untuk berlindung dan menjadi representasi perlindungan Tuhan atas umat-Nya.

Damai sejahtera yang terpancar dari keluarga kita masing-masing akan menjadi “bekal” untuk mewartakan damai sejahtera juga bagi sesama. Jangan pernah kita lupakan, bahwa Tuhan Yesus mengutus kita untuk menebarkan berita damai sejahtera dan pertobatan kepada sesama. Damai sejahtera bukan hanya untuk dinikmati sendiri. Amin. [YM].

 

Pujian: KJ. 447 : 1, 2, 3 Dalam Rumah yang Gembira


Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)

Pambuka
Wonten sawetawis tiyang ingkang gadhah pamanggih bilih samudaya prekawis kawiwitan saking brayat. Ing kulawarga, bocah saged sinau bab ajining kapitadosan kristiani, kabecikan, sopan santun, pasedherekan, lan sanesipun, ananging ugi saged sinau bab tumindak kasar lan misuh. Kulawarga dados wiwitaning sedayanipun. Swasana tentrem rahayu ingkang saged karaosaken dening sedaya warganing brayat, saestu wigati. Pramila Gusti Yesus paring pangandika dhateng para sakabat ingkang kautus supados langkung rumiyin ngucap, “Tentrem rahayu mugi wontena ing dalem ngriki!” dhumateng sedaya warganing brayat ingkang dipun lebeti. Pawartos tentrem rahayu lan pamratobat, kawiwitan saking kulawarga, boten saking papan pangabekti utawi sanesipun.

Isi
Sedaya sakabatipun Gusti Yesus (boten namung 12) nampi jejibahan supados martosaken pawartos tentrem rahayu lan pawartos pamratobat dhateng sakiwa-tengenipun. Gusti Yesus pirsa bilih tentrem rahayu punika saestu kabetahaken ing saben panggenan, kalebet ing papan ingkang paling alit, inggih punika kulawarga utawi brayat. Punika ingkang dados tujuan ingkang wiwitan. Tentrem rahayu ingkang dipun kersakaken dening Gusti inggih punika wontenipun raos bingah, awit kawilujengan lan panganthi ingkang sampun kaparingaken dening Gusti.

Wiwit jaman Perjanjian Lami, menawi wonten pawartos bab paukuman tamtu kalajengaken pawartos bab pamratobat lan pawartos kawilujengan saking Gusti. Tegesipun, Gusti ngersakaken sedaya umat kagunganIpun nampi kawilujengan lan ngraosaken panganthi lan pangrimatan saking Gusti (mugi mirsani waosan 1). Mila saking punika bab tentrem rahayu lajeng dados prekawis ingkang wigati kangge kawartosaken. Tentrem rahayu punika boten awit saking kabetahan jasmani ingkang sampun kacekapan, ananging awit saking ngraosaken sampun nampi kepastian ing bab kawilujenganing gesangipun, mekaten ugi bab gesang langgeng. Tentrem rahayu ing kulawarga ugi dados wigati, awit kanthi tentrem rahayu ingkang sampun karaosaken punika ndadosaken manungsa saged nindakaken kathah prekawis lan kabecikan sanesipun.

Pangucap “tentrem rahayu mugi wontena ing dalem ngriki” estunipun nglangkungi saking salam ingkang adatipun kaucapaken dhateng tiyang ingkang pinanggih (umpaminipun: sugeng enjing, lsp). Tiyang ingkang ngucapaken salam, saged namung waton kemawon utawi namung sopan santun. Ananging, pangucap: “tentrem rahayu mugi wontena ing dalem ngriki” saged ateges pandonga lan pangajeng-ajeng kangge sedaya warganing brayat. Kenging punapa bab tentrem rahayu punika dados wigati?

Tentrem rahayu punika dados sangu tumrap saben tiyang, kalebet para utusanipun Gusti Yesus kangge ngedhepi sedaya prekawis. Utusanipun Gusti Yesus wonten anggenipun martosaken pawartos pamratobat lan pawartos tentrem rahayu badhe ngadhepi pambengan ingkang awrat mekaten ugi ingkang entheng. Pambengan ingkang awrat saged ugi ngantos “toh nyawa” umpaminipun kados dene cempe ing satengahing asu ajag (Ay. 3), mekaten ugi pambengan ingkang entheng kados dene katampik dening sesami (Ay. 10).

Salam “tentrem rahayu” punika nyatanipun saged karaosaken dening tiyang ingkang ngucapaken mekaten ugi ingkang nampeni salam. Wonten tiyang ingkang rumaos boten pantes nampeni tentrem rahayu, ananging ugi wonten ingkang dipun anggep pantes nampeni. Ingkang boten pantes nampeni tentrem rahayu inggih punika para tiyang ingkang nampik pawartosipun para sakabat, inggih punika pawartos supados mratobat lan nampeni tentrem rahayu saking Gusti. Mekaten ugi kosok-wangsulipun. Nampik pawartosipun para sakabat ateges nampik Gusti Allah. Nampik rawuhipun Gusti Allah ateges ugi nampik tentrem rahayu, awit sejatosipun Gusti Allah punika etuking tentrem rahayu punika.

Punapa tiyang ingkang ngadhepi mawerni-werni pambengan utawi ing kawontenan ingkang sarwi winates taksih saged ngraosaken tentrem rahayu? Saged! Buktinipun, Gusti Yesus boten marengaken para sakabat sami sangu kangge wonten ing margi sak dangunipun martosaken Injil. Sae awujud tedhan mekaten ugi sandhangan. Tujuanipun tamtu supados wonten anggenipun nindakaken jejibahan martosaken Injil punika para sakabat saestu namung ngandelaken Gusti ingkang ngrimati gesangipun, boten ngandelaken sangunipun. Nyatanipun, para sakabat sedaya sami wangsul kanthi bingah (Ay. 17). Tegesipun, senadyan ngalami mawerni-werni pambengan sak dangunipun martosaken Injil nanging boten ngalang-alangi tentrem rahayu ingkang karaosaken. Para sakabat sami wangsul kanthi bingah awit nyatanipun Gusti paring “sangu” ingkang nglangkungi kabetahanipun para sakabat. Gusti Yesus paring “bonus” awujud panguwaos kangge nundhung setan, lsp, ingkang sak derengipun boten nate dipun galih dening para sakabat. Gusti Yesus pirsa bilih sedaya kalawau pancen dipun betahaken dening para sakabat, ananging prekawis punika boten pareng ndadosaken para sakabat jumawa/ sombong. Tentrem rahayu ingkang dipun raosaken dening para sakabat kedahipun boten awit saking nampeni panguwaos saking Gusti, ananging awit saking sampun dados ahli waris kawilujengan, utawi awit sampun kaserat ing kratoning swarga.

Ngraosaken tentrem rahayu estunipun boten uwal saking wontenipun sesambetan ingkang sae antawisipun manungsa kaliyan Gusti lan sesaminipun. “Rukun” kaliyan Gusti tamtu kedah kawiwitan saking pamratobat. Nalika manungsa saged ngraosaken bilih dosanipun dipun apunten dening Gusti, tamtu tentrem rahayu badhe karaosaken. Mekaten ugi, nalika manungsa sampun “rukun” kaliyan sesami lan sakiwa-tengeninipun, boten gadhah mengsah, sampun sak mesthinipun tiyang punika ugi saged ngraosaken tentrem rahayu. Tegesipun, swasana tentrem rahayu punika saged karaosaken menawi kawiwitan saking pamratobat. Sedaya punika kawiwitan saking kulawarga-kulawarga kados ingkang sampun kawartosaken dening para sakabat utusanipun Gusti Yesus. Dene tujuanipun boten wonten sanes inggih namung kangge kawilujenganipun manungsa. Kathah panasar ingkang dipun adhepi dening manungsa ing alam donya, kalebet kedah ngadhepi mawerni-werni piwucal ingkang boten nyondhongi kaliyan karsanipun Gusti (mugi mirsani waosan 3).

Tiyang ingkang martosaken tentrem rahayu boten prelu kuwatos ing bab nyekapi kabetahaning gesangipun. Gusti sampun nyawisaken miturut karsanIpun. Gusti paring panguwaos kangge ngadhepi samukawis reribet, kepara maringi berkah nglangkungi pangangen-angenipun manungsa. Wosipun, panganthinipun Gusti Allah tumrap umat kagunganIpun, langkung-langkung tumrap tiyang ingkang sumadya dados utusan martosaken tentrem rahayu, sampun kabukti bilih Gusti Allah sampun nyawisaken, mekaten ugi paring kabingahan.

Panutup
Dinten punika dados dinten pambuka ing sasi kulawarga (Pembukaan Bulan Keluarga) ing tlatah Greja Kristen Jawi Wetan. Kita sami kaengetaken bilih nyebar tentrem rahayu punika minangka utusanipun Gusti dhateng kita sedaya. Tentrem rahayu kedah kawiwitan saking kulawarga. Punika wekdal ingkang trep kangge kita sami supadaos sami naliti priksa, punapa tentrem rahayu punika sampun karaosaken dening sedaya isining brayat kita? Punapa gesang ing salebeting pamratobat lan nebihi panasar punika ugi sampun dados wernining gesang tumrap kulawarga kita?

Tentrem rahayu punika kawiwitan saking prekawis-prekawis ingkang prasaja kemawon ing kulawarga, umpaminipun sedaya warganing brayat kita rumaos “krasan” wonten ing griya. Swasana kulawarga saestu dados panggenan kangge “wangsul”, panggenan kangge ngiyup lan dados pralambang tumrap pangrengkuhipun Gusti dhumateng umatIpun.

Tentrem rahayu ingkang sumunar saking brayat kita piyambak-piyambak badhe dados “sangu” kangge martosaken tentrem rahayu ugi kangge sesami. Sampun ngantos kita kesupen, bilih Gusti Yesus ngutus kita sami kangge martosaken bab tentrem rahayu lan pamratobat dhateng sesami. Tentrem rahayu punika boten namung kangge kita pribadi. Amin. [YM].

 

Pamuji: KPJ. 326 : 1, 2, 4 Punika Brayat Kula

 

Bagikan Entri Ini: