Menjadi Sesama bagi Orang Lain Khotbah Minggu 10 Juli 2022

27 June 2022

Minggu Biasa | Pekan Anak
Stola Hijau

Bacaan 1: Ulangan 30 : 9 – 14
Bacaan 2:
Kolose 1 : 1 – 14
Bacaan 3:
Lukas 10 : 25 – 37

Tema Liturgis: Keluarga yang Ikut Serta dalam Karya Allah
Tema Khotbah: Menjadi Sesama bagi Orang Lain

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Ulangan 30 : 9 – 14
Secara garis besar kitab Ulangan dibagi ke dalam 5 bagian besar, terutama berdasarkan pidato-pidato Musa. Pasal 30 merupakan bagian keempat yang dimulai dari pasal 29. Isi dari bagian keempat ini adalah tentang pidato Musa yang ketiga yakni Israel harus memelihara perjanjiannya dengan TUHAN. Dalam ringkasan pidato bagian pertama dan kedua, Musa mengingatkan umat bahwa Allah telah membebaskan bangsa Israel dari tanah perbudakan di Mesir dan memimpin mereka melewati gurun. Sementara pada bagian ketiga ini pidato Musa berisi peringatan mengenai persoalan berkat dan kutuk atas Israel (Ul. 30:1). Jika umat Israel mendengarkan suara Tuhan dan melakukan perintah-Nya, mereka akan dilimpahi dengan berbagai macam kebaikan (Ay. 10). Kebaikan dalam segala pekerjaan, dalam buah kandungan (keturunan), dalam hasil ternak dan hasil bumi.

Ditekankan kembali pada bagian ini bahwa berkat kelimpahan atau keberuntungan ini hanya akan terjadi jika mereka benar-benar mendengarkan suara Tuhan dan berpegang pada perintah dan ketetapan-Nya. Musa juga mengingatkan bahwa perintah Tuhan itu tidak sukar untuk dilakukan. Firman Tuhan itu sangat dekat dengan mereka. Tidak dilangit atau diseberang lautan tempatnya, tetapi dalam mulut dan hati mereka (Ay. 11-14). Jadi tidak ada alasan bagi mereka untuk tidak mendengarkan dan melakukannya, karena firman itu telah berulang kali diperdengarkan dan diajarkan kepada mereka.

 Firman Tuhan bukanlah sesuatu yang tidak realistis dan tidak dapat dilakukan, justru sebaliknya perintah itu ada di tengah-tengah mereka. Bahkan, di ayat 14 ditutup dengan frasa “untuk dilakukan” yang memberi kesimpulan bahwa semua kemudahan yang Allah berikan untuk bisa bergaul akrab dengan firman Tuhan adalah dengan tujuan supaya dapat dilakukan oleh umat-Nya. Demikian perjanjian antara umat Israel dengan TUHAN yang bersifat timbal balik dan harus dikerjakan demikian adanya. Tugas umat Israel adalah melakukan firman yang telah mereka terima, yang telah tersimpan di dalam hati mereka. Jadi bukan sekedar menerima firman, mendengar, dan menyimpannya dalam hati, melainkan melakukannya juga.

Kolose 1 : 1 – 14
Setelah memberikan salam, surat yang ditujukan kepada jemaat di Kolose ini dilanjutkan dengan ucapan syukur. Rasul Paulus mengucap syukur kepada Allah karena ketekunan iman jemaat di Kolose dalam mengikut Yesus Kristus, serta kasihnya kepada semua orang kudus di Kolose (Ay. 4). Paulus menyatakan syukurnya karena iman dan kasih jemaat. Iman dihubungkan dengan Kristus dan kasih dihubungkan dengan orang Kristen lainnya. Paulus mendengar berita tentang iman mereka kepada Kristus dan ia sangat bersukacita karena buah iman yang mereka hasilkan. Berita baik ini sampai kepada Paulus, sebab Epafras rekan sepelayannya yang menceritakannya (Ay. 7).

Ketekunan iman jemaat di Kolose ini tampak dari Injil yang berbuah dan berkembang di seluruh dunia. Hal ini menunjukkan bahwa Injil yang disampaikan dan diterima oleh jemaat di Kolose tidak sia-sia, melainkan sungguh-sungguh membuahkan hasil bahkan ke seluruh dunia. Meski demikian, pencapaian jemaat di Kolose tidak lantas membuat Paulus dan para pelayan merasa puas. Paulus tetap mendoakan jemaat di Kolose bagi pertumbuhan rohani orang yang sudah menerima Injil dan bahkan orang yang sudah melayani. Paulus berdoa bagi mereka untuk pertumbuhan rohani yang lebih baik lagi, mereka memiliki hikmat dan pengertian yang lebih baik akan Kristus, karena tanpa hal tersebut orang-orang Kristen akan menjadi mandeg dan tidak produktif. Hanya orang Kristen yang bertumbuh yang akan mampu memahami kebenaran-kebenaran Allah dan mampu menerapkannya ke dalam kehidupan nyata, termasuk ketika mereka menghadapi penderitaan, sama seperti jemaat di Kolose. Mereka akan mampu menghadapinya dengan kekuatan dari Allah, ketekunan, dan kesabaran serta ucapan syukur.

Lukas 10 : 25 – 37
Bagian bacaan ini berisi tentang percakapan antara Tuhan Yesus dan ahli Taurat. Ahli Taurat itu membuka percakapannya dengan mengajukan pertanyaan yang luar biasa penting tentang bagaimana seseorang dapat memperoleh hidup yang kekal. Pertanyaan yang diajukan memang penting, namun sayang motivasinya yang salah. Ia bertanya, bukan karena ia ingin sungguh-sungguh menggumuli tentang hidup yang kekal melainkan untuk mencobai Yesus. Ahli Taurat ini mewakili pandangan kebanyakan orang Yahudi pada masa itu, yakni beranggapan bahwa yang disebut “sesama” itu adalah mereka yang sama-sama orang Yahudi. Sementara mereka yang berbeda dari orang Yahudi bukanlah “sesama”. Jadi dalam percakapan ini Ahli Taurat ingin menguji tentang seberapa jauh Yesus akan mengklasifikasikan atau menggolongkan “sesama” yang tercantum dalam hukum Taurat. Tentunya dengan harapan bahwa Yesus mempunyai pandangan yang sama dengannya.

Tuhan Yesus tidak menjawab langsung pertanyaan Ahli Taurat tersebut, namun Ia menggunakan perumpamaan tentang seorang Samaria yang menolong orang yang sedang terluka. Dalam perumpaan tersebut Yesus menyebutkan seorang Imam dan seorang Lewi. Keduanya sama-sama berlatar belakang Yahudi, keduanya adalah orang yang saleh namun sama-sama tidak berkenan menolong orang yang terluka tersebut. Kemudian Yesus menghadirkan seorang Samaria. Orang Samaria pada masa itu merupakan golongan bangsa yang tidak disukai dan dipandang rendah oleh orang Yahudi, karena dianggap kehidupan beragama mereka sudah tidak murni lagi. Namun, justru orang Samarialah yang menolong dan melakukan kasih dengan benar.

Dalam perumpamaan ini Yesus ingin menyadarkan si Ahli Taurat bahwa hidup kekal bukan tentang warisan tetapi tentang hubungan atau relasi. Di samping itu Yesus juga ingin menunjukkan bahwa “sesama” itu tidak terbatas pada sama-sama dalam golongan bangsa tertentu saja, melainkan setiap orang yang menunjukkan kasihnya bagi orang lain. Faktor intinya adalah kondisi hati, bukan perbuatan. Sehingga, bukan lagi mencari siapa orang yang layak disebut “sesama”nya melainkan sebaliknya ia harus bisa menjadi sesama bagi orang lain. Perumpamaan yang Yesus sampaikan ini ternyata mampu membuka pikiran ahli Taurat. Akhirnya maksud dan tujuan Ahli Taurat untuk mencobai Yesus tidak terlaksana sesuai harapannya. Kemudian Ahli Taurat itu pergi meninggalkan Yesus dengan perintah untuk melakukan hukum Taurat tentang hukum kasih.

Benang Merah Tiga Bacaan:
Pidato Musa mengajak kita untuk menyadari bahwa sebenarnya Firman Tuhan begitu dekat dengan kita. Kita dipanggil untuk membuka hati, menerima sapaan-Nya dan melakukan firman-Nya. Jadi firman Tuhan yang diterima bukan hanya didengar dan disimpan dalam hati, melainkan harus dilakukan dan diwujudnyatakan, supaya kita hidup dalam berkat-Nya. Selain itu dengan melakukan firman Tuhan, maka iman kita akan terus bertumbuh dan menghasilkan buah. Buahnya pun bukan hanya kita nikmati sendiri melainkan juga dinikmati orang banyak di seluruh dunia. Salah satu firman-Nya adalah kita dipanggil untuk mengasihi sesama. Belas kasih kepada sesama diwujudkan tanpa memandang perbedaan status kelompok dimana seseorang masuk didalamnya. Dengan kata lain, kita tidak diutus untuk menentukan siapa sesama kita, tetapi kita harus terus berupaya untuk menjadi sesama bagi orang lain. Dalam hal ini, menyatakan kasih adalah perintah Tuhan yang perlu diwujudnyatakan, bukan hanya sekedar diajarkan.

 

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silahkan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)

Pendahuluan
Jemaat yang terkasih, jika pertanyaan ahli Taurat itu ditujukan kepada kita: “Siapakah sesamaku?” Apakah kira-kira jawaban kita? (berikan kesempatan kepada jemaat untuk memberikan jawaban mereka). Tentu jawaban kita akan beraneka ragam: “Sesama itu ya yang satu gereja, satu budaya, satu suku, satu agama, pokoknya yang sama atau segolongan dengan kitalah!”. Jika jawaban kita seperti ini, maka mungkin kita tidak jauh berbeda dengan anak-anak rentang usia 10 – 12 tahun atau anak kelas 4 – 6 SD. Jika mereka ditanya, jawaban mereka tentu akan berbeda; berhubungan erat dengan jenis kelamin, kelompok bermain, dll. Coba perhatikan anak-anak dalam usia ini, mereka lebih senang bergerombol dengan yang sama-sama jenis kelaminnya (laki-laki dengan laki-laki dan perempuan dengan perempuan) atau yang mempunyai hobi dan ketertarikan yang sama. Kalau pola pikir kita masih sama dengan usia anak-anak, maka apakah kita sudah bisa benar-benar disebut sebagai pribadi yang dewasa? Apalagi dewasa dalam iman kepada Tuhan. Mari sama-sama belajar untuk menjadi pribadi yang dewasa di dalam iman.

Isi
Apa tandanya seseorang bisa disebut sebagai orang yang dewasa di dalam iman? Bacaan kita yang pertama memberikan jawaban. Musa melalui pidatonya kepada umat Israel menegaskan bahwa firman Allah atau perintah Allah tidak jauh dari manusia. Firman dan perintah Allah itu begitu dekat dan ada di antara umat manusia. Firman Allah itu dekat di mulut dan dalam hati setiap umat manusia. Artinya firman dan perintah Tuhan itu selalu disampaikan kepada umat dan sudah diterima, disimpan dalam hati dan diperkatakan melalui mulut mereka. Kini tugas manusia adalah melakukan firman yang telah diterima itu (Ul.30:14), sehingga firman itu tidak hanya disimpan di dalam hati saja (dibatin) melainkan sungguh-sungguh diwujudnyatakan dalam kehidupan sehari-hari. Jika umat mampu melakukan firman Tuhan tersebut, maka umat akan hidup dalam berkat-berkat Tuhan, sebagaimana janji-Nya. Ia akan memberikan kebaikan-kebaikan bagi manusia dalam hasil bumi, ternak, bahkan buah kandungan atau keturunan (Ul. 30:9).

Setiap kita yang mampu melakukan dan mewujudnyatakan firman serta perintah Tuhan bukan hanya akan hidup dalam berkat-berkat Tuhan melainkan kita juga akan menjadi berkat bagi banyak orang. Seperti kesaksian Rasul Paulus tentang jemaat Kolose. Mereka yang telah menerima Injil dari para pelayan atau para Rasul, selanjutnya, Injil itu tidak hanya mandeg untuk diri mereka sendiri namun Injil itu diresapi dan dengan ketekunan, iman mereka terus bertumbuh bahkan berbuah ke seluruh dunia (Kol. 1:6). Disanalah kemudian Rasul Paulus sangat bersukacita dan mengucap syukur atas buah yang dihasilkan oleh jemaat Kolose. Meskipun begitu buah tersebut bukanlah capaian akhir dari pelayanan para rasul. Rasul Paulus mendoakan jemaat Kolose supaya mereka dapat memiliki pertumbuhan iman yang lebih baik lagi. Mereka memiliki hikmat dan pengertian yang benar akan Kristus (Kol. 1:9). Karena tanpa hal tersebut orang-orang Kristen akan menjadi mandeg dan tidak produktif. Hanya orang Kristen yang bertumbuh imannya yang akan mampu memahami kebenaran-kebenaran Allah dan mampu menerapkannya ke dalam kehidupan nyata, termasuk ketika mereka menghadapi penderitaan, sama seperti jemaat di Kolose. Mereka akan mampu menghadapinya dengan kekuatan dari Allah, ketekunan, dan kesabaran serta ucapan syukur.

Dari kedua bacaan di atas ditekankan bahwa tugas dan panggilan kita adalah melakukan atau mewujudnyatakan setiap kebenaran firman Tuhan yang telah kita dengar dan simpan dalam hati. Lantas, apakah firman dan perintah Tuhan tersebut? Lukas 10:25-37 memberikan penjelasan kepada kita. Isi dari bacaan ini adalah percakapan Tuhan Yesus dengan ahli Taurat. Percakapan diawali dengan pertanyaan Ahli Taurat tentang hidup yang kekal. Tentu ini merupakan sebuah pertanyaan yang prinsip dan mendalam. Sayangnya tujuan dari pertanyaan ini bukan untuk memahami betul tentang konsep hidup yang kekal, melainkan untuk mencobai Yesus (Ay. 25). Yesus menjawab dengan menanyakan kepada ahli Taurat tentang isi hukum Taurat. Maka ahli Taurat itu pun menjawab, bahwa hukum taurat itu berisi tentang hukum kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama. Lalu ahli Taurat itu mulai menguji Yesus dengan pertanyaan tentang sesama. Tentu dengan asumsi atau harapan bahwa Yesus akan memberikan jawaban yang sama dengan pemahamannya selama ini. Ia beranggapan bahwa sesama itu dibatasi pada mereka yang sebangsa dan segolongan dengan mereka saja. Namun ternyata Tuhan Yesus memberikan jawaban yang berbeda atas pertanyaan tersebut.

Yesus menjawab pertanyaan ahli Taurat itu dengan menggunakan perumpamaan seorang Samaria yang murah hati. Diceritakan adalah seorang yang dalam perjalanannya dirampok dan terluka parah. Selanjutnya, ada seorang Imam dan seorang Lewi yang melewati jalan itu dan mengetahui ada seorang yang terluka parah, namun mereka melewatinya begitu saja tanpa menolong orang tersebut. Padahal Imam dan orang Lewi adalah sama-sama bagian dari orang Yahudi dan orang yang terpandang serta saleh. Tetapi sedikitpun mereka tidak berkenan menolong orang yang terluka parah itu. Berikutnya datanglah seorang Samaria. Pada masa itu orang Samaria adalah golongan yang dipandang rendah oleh orang Yahudi, karena hidup beragama mereka yang tidak murni lagi. Dalam kisah itu, justru orang Samarialah yang berkenan menolong orang yang terluka parah tadi. Orang Samaria yang tidak segolongan dengan orang Yahudi yang justru tergerak hati untuk mengulurkan tangannya dan melakukan kasih yang benar.

Dalam perumpamaan ini Yesus ingin menyadarkan Ahli Taurat bahwa hidup kekal bukan tentang warisan tetapi tentang hubungan atau relasi. Di samping itu Yesus juga ingin menunjukkan bahwa “sesama” itu tidak terbatas pada sama-sama dalam golongan bangsa tertentu saja, melainkan setiap orang yang menunjukkan kasihnya bagi orang lain. Faktor intinya adalah kondisi hati, sehingga bukan lagi mencari siapa orang yang layak disebut “sesama”nya melainkan sebaliknya ia harus bisa menjadi sesama bagi orang lain. Perumpamaan yang Yesus sampaikan ini mampu membuka pikiran ahli Taurat. Akhirnya maksud dan tujuan dia untuk mencobai Tuhan Yesus tidak terlaksana sesuai harapannya. Kemudian dia pergi meninggalkan Yesus.

Penutup
Dengan memahami firman Tuhan hari ini, maka kita sedang belajar untuk terus bertumbuh dan menjadi pribadi yang dewasa. Pribadi yang mempunyai pemahaman yang benar akan kebenaran firman Tuhan dan siap mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari. Tantangan kecil yang harus kita selesaikan adalah menjadi sesama bagi orang lain sebagaimana firman-Nya. Bersamaan dengan itu, kita yang terus belajar, kita pun sedang menjadi teladan bagi anak-anak kita.

Hari ini merupakan Pekan Anak, pekan khusus yang disediakan oleh GKJW untuk memberikan perhatian khusus kepada anak-anak kita. Mari melakukan dua hal kecil bagi anak-anak kita. Pertama, mari kita berupaya untuk menjadi teladan yang baik bagi mereka yakni dengan melakukan serta mewujudnyatakan firman yang kita dengar dan simpan dalam hati. Kedua, mari kita mengajak anak-anak untuk mejadi “sesama” bagi orang lain. Artinya memperhatikan dan menjadi penolong bagi orang lain tanpa memandang latar belakang dan perbedaan yang ada. Jika dua hal ini bisa kita lakukan dengan sungguh-sungguh, maka kita akan senantiasa hidup dalam berkat-berkat Tuhan, sebagaimana janji-Nya kepada umat-Nya. Amin. [TpJ].

 

Pujian: KJ. 432 : 1, 2 Jika Padaku Ditanyakan


Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)

Pambuka
Pasamuwan ingkang kinasih, bilih pitakenanipun Ahli Taurat bab “Sinten ta pepadhaku kuwi?” dipun tangletaken dhateng kita, kados punapa kinten-kinten wangsulan kita? (pasamuwan dipun aturi wekdal kangge mangsuli pitakenan punika). Tamtu wangsulan kita maneka warni, “Pepadhaku yo wong kang sak greja, sak budaya, sak suku, sak agama, pokok e sing padha utawa sak golongan karo aku kabeh!”. Menawi wangsulan kita kados mekaten, kita punika sami kados dene para bocah ingkang yuswanipun 10-12 taun utawi bocah kelas 4-6 SD. Kenging punapa? Karana nalika para bocah punika dipun tangleti, wangsulanipun mesthi benten-benten, mesthi raket kaliyan kelompokipun. Coba kita gatosaken para bocah ing yuswa punika, mesthi asring makempal kaliyan kanca ingkang jenis kelaminipun sami (jaler kaliyan jaler ugi ingkang estri kaliyan ingkang estri) utawi makempal kaliyan ingkang kagungan hobi sami. Menawi ingkang kita penggalih taksih sami kaliyan para bocah kalawau, punapa kita saged dipun wastani pribadi ingkang dewasa? Punapa malih dewasa secara iman dhateng Gusti? Mangga, kita sinau seserangan supados dados pribadi ingkang dewasa secara iman.

Isi
Punapa ta tengeripun tiyang dipun wastani dewasa imanipun? Waosan kita ingkang sepindah punika paring wangsulan. Musa lumantar ceramahipun dhateng umat Israel negesaken bilih sabdanipun Gusti punika mboten tebih saking manungsa. Sabdanipun Gusti Allah punika celak sanget, wonten ing antawisipun manungsa. Tegesipun Sabdanipun Gusti Allah punika tansah dipun wedar lan dipun tampi dening umat, lajeng dipun simpen ing sajroning manahipun sarta dipun tuturaken. Ingkang dados tugasipun manungsa inggih punika nindakaken Sabda punika, supados mboten namung dipun simpen ing sajroning manah kemawon ananging saestu dipun tindakaken salebeting gesang padintenan. Bilih umat saged nindakaken sabdanipun Gusti, umat badhe nampi berkahipun Gusti Allah, kados dene prasetyanipun Gusti. Gusti Allah badhe paring kasaenan tumrap manungsa arupi hasil bumi, ternak, lan kaparingan tedhak turun. (Pangandharing Toret 30:9).

Saben kita ingkang saged nindakaken sabda pangandikanIpun Gusti, mboten namung badhe gesang ing salebeting berkahipun Gusti kemawon, nanging ugi badhe dados lantaran berkah kangge tiyang kathah. Kados dene paseksinipun Rasul Paulus bab pasamuwan Kolose. Para tiyang ing Kolose sampun nampi Injil saking para pelados ugi para Rasul. Salajengipun, Injil punika mboten namung mandeg kangge piyambakipun ananging sumrambrah ing donya (Kol. 1:6). Saking ngriku Rasul Paulus raos suka bingah ugi saos sokur krana wohing iman saking pasamuwan Kolose. Senadyan mekaten sedaya punika mboten dados pungkasaning peladosanipun para Rasul. Rasul Paulus ugi dedonga kangge pasamuwan Kolose supados pasamuwan punika nggadahi iman kapitadosan ingkang tansaya tuwuh, pasamuwan nggadahi hikmat lan pangertosan ingkang leres ing Gusti Yesus Kristus (Kol. 1:9). Awit tanpa sedaya punika tiyang Kristen badhe mandeg lan mboten produktif. Namung tiyang Kristen ingkang tuwuh iman kapitadosanipun ingkang saged mangertosi kayektenipun Gusti Allah lan saged nindakaken ing gesang padintenanipun. Tiyang Kristen ingkang mekaten punika ugi saged ngadhepi sedaya prekawis gesangipun kanthi kekiyatan saking Gusti Allah, tlaten, lan sabar sarta kebak saos sokur.

Saking kalih waosan ing wiwitan punika dipun tegesaken bilih tugas dan timbalan kita inggih punika nindakaken sedaya Sabda PangandikanIpun Gusti ingkang sampun kita pirengaken sarta raos-raosaken ing manah kita. Saklajengipun, punapa toh sabda pangandikanipun Gusti ingkang kedah kita tindakaken punika? Lukas 10:25-37 paring gambaran kangge kita. Waosan punika nyariosaken pirembakanipun Gusti Yesus kaliyan Ahli Toret. Pirembagan punika dipun wiwiti kaliyan pitakenan saking Ahli Toret bab gesang langgeng. Tamtu pitakenan punika sae sanget, pitakenan ingkang utami. Nanging tujuan saking pitakenan punika sanes kangge mangertosi bab gesang langgeng kanthi temen ananging kangge paring pacoben dhumateng Gusti Yesus (Ay. 25). Gusti Yesus mangsuli kanthi pitakenan dhateng Ahli Toret bab suraosipun Toret. Lajeng Ahli Toret punika paring wangsulan dhumateng Gusti Yesus bilih suraosipun Toret inggih punika bab tresna tinresnan dhumateng Gusti Allah ugi dhateng pepadha. Selajengipun Ahli Toret punika paring pacoben dhumateng Gusti Yesus kanthi pitakenan bab pepadha. Tamtunipun kanthi pangajeng-ajeng Gusti Yesus mesthi paring wangsulan kados dene ingkang dipun mangertosi dening tiyang Yahudi punika. Tiyang Yahudi menggalih bilih pepadha punika dipun watesi kangge tiyang sak bangsa lan sak golonganipun. Ananging kasunyatanipun Gusti Yesus paring wangsulan ingkang benten.

Gusti Yesus mangsuli Ahli Toret ngagem pasemon bab tiyang Samaria. Dipun cariyosaken wonten satunggaling tiyang ingkang nembe kemawon ngalami musibah ngantos badanipun tatu. Saklajengipun wonten Imam lan tiyang Lewi ingkang nglangkungi tiyang kalawau lan pirsa bilih tiyang punika badanipun tatu, nanging sedaya namung nglangkungi kemawon lan mboten paring pitulungan dhateng tiyang punika. Senaosa kekalihipun sak golongan kaliyan tiyang Yahudi sarta tiyang ingkang saleh, nanging mboten purun mitulungi. Ingkang ketiga wonten tiyang Samaria. Tiyang Samaria punika kalebet tiyang ingkang dipun benci kaliyan tiyang Yahudi amargi dipun anggep ibadahipun sampun mboten murni malih. Ing cariyos punika malah tiyang Samaria punika ingkang kersa mitulungi tiyang ingkang badanipun tatu kalawau. Tiyang Samaria ingkang mboten sak golongan kaliyan tiyang Yahudi malah kersa mbiyantu lan nindakaken katresnan ingkang sae.

Saking pasemon punika, Gusti Yesus paring pangertosan dhateng Ahli Toret bilih gesang langgeng punika sanes warisan ananging gegayutan kaliyan relasi. Wah malih Gusti Yesus kersa nedahaken bilih “pepadha” punika mboten winates tiyang ingkang sak golongan, sak bangsa kemawon ananging kalebet sok sinten kemawon ingkang sami nresnani tiyang sanes. Punjeripun ing manah sanes laku gesang. Satemah, mboten pados sinten toh pepadhaku nanging tansah ngupaya supados saged dados pepadha kangge tiyang sanes. Pasemonipun Gusti Yesus punika saged mbikak pikiranipun Ahli Toret. Ing pungkasan pengajeng-ajengipun mboten kalaksanan, lajeng Ahli Toret punika lunga lan nilar Gusti Yesus.

Panutup
Kanthi mangertosi sabda pangandikanipun Gusti dinten punika, kita saged sinau, supados kita terus tuwuh dados tiyang ingkang dewasa imanipun. Inggih punika tiyang ingkang mangertosi sabdanipun Gusti kanthi sae, leres sarta sagah anggenipun mujudaken ing gesang padintenan. Tantangan ingkang kedah kita rampungaken inggih punika dados pepadha kangge tiyang sanes kados sabdanipun Gusti Yesus. Sesarengan anggenipun kita sinau, kita ugi saweg dados patuladhan kangge anak-anak kita.

Dinten punika kita lumebet ing Pekan Anak, pekan khusus ingkang dipun cawisaken GKJW kangge kita paring wekdal lan kesempatan khusus tumrap anak-anak kita. Swawi kita nindakaken kalih prekawis punika dhateng anak-anak kita. Ingkang sepindah, mangga kita sami ngupadi dados patuladhan ingkang sae kangge anak-anak kanthi nindakaken sarta mujudaken sabda pangandikanipun Gusti ingkang sampun kita tampi lan raos-raosaken ing manah kita. Kaping kalih, mangga sami ngajak anak-anak kita anggenipun dados pepadha kangge tiyang sanes. Tegesipun kita purun nggatosaken lan dados tiyang ingkang kersa mitulungi kanthi mboten mandeng sinten lan kados punapa tiyang ingkang kita tulungi punika. Bilih kalih perkawis punika saged kita tindakaken kanthi estu, kita mesthi bakal gesang ing salebeting berkah-berkahipun Gusti, kados dene prasetyanipun tumrap umat kagunganipun. Amin. [TpJ].

 

Pamuji: KPJ. 202 : 1 , 2 Rahayu Kang Utama Lakune

Renungan Harian

Renungan Harian Anak