Setia Memelihara Ciptaan-Nya dengan Spiritualitas Kasih Khotbah Minggu 3 Februari 2019

Penutupan Bulan Penciptaan / Minggu IV Setelah Epifania
Stola Hijau

 

Bacaan 1 : Yeremia 1:4-10
Bacaan 2 : 1 Korintus 13: 1-13
Bacaan 3 : Lukas 4: 21-30

Tema Liturgis : Alam Ciptaan Tuhan Wujud Pemeliharaan Terhadap Umat-Nya
Tema Khotbah : Setia Memelihara Ciptaan-Nya dengan Spiritualitas Kasih

 

KETERANGAN BACAAN
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca/dipelajari saat mempersiapkan khotbah)

Yeremia 1 : 4 – 10

Bagian ini menjelaskan proses panggilan dan tugas perutusan sebagai seorang nabi atas diri Nabi Yeremia. Seorang nabi yang diutus memprasyaratkan untuk hanya taat melaksanakan karya Allah dan tidak takut menghadapi risiko dan tantangan. “Janganlah takut kepada mereka, sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau,” merupakan kekuatan spiritualitas seorang yang diutus Tuhan untuk melaksanakan karya dan rencana-Nya. Memang pada awalnya Yeremia sempat enggan menerima tugas perutusan dari Tuhan dengan sempat ngelesdalam pernyataannya di ayat 6, menggunakan dua alasan klasik: tidak pandai bicara, masih terlalu muda. Tetapi Allah tidak mau menerima alasan semacam itu dan tetap mengutus Yeremia (ayat 7) supaya Yeremia taat, bahkan menyertai Yeremia dan memberi tugas khusus kepadanya (ayat 9-10).

1 Korintus 13: 1-13

Menurut 1 Korintus 13:1-13 kasih bukanlah perihal kemampuan tinggi dalam berteori yang disimbolisasikan dengan kefasihan berbahasa dan karunia bernubuat, melainkan perihal substansi laku dari seluruh tindakan pemeliharaan kesejatian hidup termasuk sebagai dasar memelihara kelestarian lingkungan dan sesama ciptaan.Ungkapan di ayat 1 menyatakan bahwa terlampau banyak wacana maupun teori tidaklah berarti apa pun; melainkan segala laku yang bersubstansi kasih merupakan tindakan berharga. Termasuk dalam tema liturgis kita pada penutupan Bulan Penciptaan saat ini bacaan di 1 Korintus 13:1-13 bermuatan pokok bahwa pemeliharaan alam semesta berpangkal pada kasih yang berakar dan berbuah pada tindakan pemeliharaan alam. Di mana seluruh tindakan kasih berstandarkan pada karakter nilai seturut ayat 4-7. Termasuk dalam mengasihi dan memelihara ciptaan dibutuhkan sikap mental sabar (yang artinya tahan menderita) yang disertai dengan seluruh spiritualitas nilai-nilai yang dinyatakan di ayat 4-7. Dengan demikian tindakan kasih akan terus berlanjut (ayat 7) seturut bahwa usaha pemeliharaan alam ciptaan memerlukan keberlanjutan dan daya tahan  dari tindakan kita yang bersumberkan atas pemberlakuanseluruh nilai di ayat 4-7 tersebut.

Lukas 4: 21-30

Tuhan Yesus yang memproklamasikan tindakan pembebasan (ayat 18-19) menandaskan bahwa:

  1. Sasaran pembebasan adalah untuk seluruh bagian bahkan bangsa kafir sekalipun merupakan sasaran pembebasan dan pewartaan Injil (ayat 25-27); tampaknya ini yang memancing amarah pendengarnya di Sinagoge Nazareth yang bermental eksklusif.  Pendengarnya marah karena mendengar bahwa justru misi pembebasan itu disampaikan Yesus dengan memuji orang kafir.Ini bermakna bahwa setiap orang yang mengaku beriman perlu mawas diri dan introspeksi apakah sudah bertindak turut melaksanakan misi pembebasan secara rendah hati dan inklusif. Terkait tema liturgi kita, maka sasaran pembebasan adalah mencakup pembebasan alam semesta secara holistik bukannya parsial hanya lingkungan tempat ibadah yang kelihatan saja.
  2. Setiap orang yang diutus melaksanakan misi penyelamatan perlu bersiap menghadapi berbagai penolakan atas tindakannya untuk melaksanakan misi pembebasan (ayat 24).

 

Benang Merah Tiga Bacaan

Seluruh utusan TUHAN jangan takut untuk menghadapi segala tantangan dan risiko dalam perutusannya (Yeremia 1:8). Seluruh utusan TUHAN diutus untuk memberlakukan kasih sejati ( 1 Korintus 13:1-13; ayat 13) termasuk kepada seluruh ciptaan. Hal ini memerlukan komitmen total untuk sabar berani menanggung segala sesuatudan memberlakukan seluruh karakter dari standar nilai-nilai kasih (1 Korintus 13: 4-7). Ketika memproklamasikan perutusan-Nya untuk menyelamatkan ciptaan ( Lukas 4:18-19), Tuhan Yesus pun telah siap menghadapi segala risiko ( Lukas 4:23-27). Bahkan Tuhan Yesus pun menghadapi risiko pengusiran dan akan dibunuh oleh kumpulan Jemaat Nazareth (Lukas 4:28-29). Tuhan Yesus menghadapi ancaman dan penolakan tersebut dengan tetap tegar, dengan terus berjalan, melangkah (Lukas 4: 30), tak berhenti melakukan misi-Nya.

 

RANCANGAN KHOTBAH: Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan, silakan dikembangkan sesuai konteks Jemaat)        

Bulan Penciptaan: Umat dan Bungkus Permen

Pekerjaan Mbah Sadiman bukanlah tanpa kesulitan. Banyak pohon yang ia tanam dipangkas orang untuk makanan kambing. Bahkan ada juga pohon yang ditanamnya dengan susah payah dicabut orang yang tidak setuju dengan usahanya. Beberapa kali ia terpaksa mengumpulkan uang secara pribadi untuk membayar sewa lahan agar ia bebas untuk menanam pohon. Bahkan dari nafkahnya sendiri ia membeli bibit pohon beringin dan jenis pepohonan lainnya yang sesuai untuk melestarikan lingkungannya.Dari rumahnya menuju hutan, Mbah Sadiman harus berjalan kaki 3 kilometer.Karena Mbah Sadiman tak memiliki sepeda, motor, maupun alat transportasi lainnya. Karenanya ia biasa pulang pergi ke lereng gunung membawa bibit pohon untuk ditanam dua kali sehari. Sadiman sadar bahwa penghijauan adalah pekerjaan jangka panjang yang hasilnya baru bisa dinikmati dalam hitungan tahun. Karenanya, menghijaukan hutan tidak hanya butuh kesabaran, melainkan juga usaha yang terus berkesinambungan. Demikianlah sepenggal kisah Mbah Sadiman dari Desa Geneng, Kecamatan Bulukerto di lereng Gunung Gendol, Wonogiri yang seorang diri memulai usaha memerdekakan desanya dari kekeringan. Berkat upaya Mbah Sadiman yang berhasil menghijaukan hutan dengan tanaman beringin mata air melimpahi kembali Desa Geneng, Bulukerto, Wonogiri.

Di lain kisah, seorang bernama Salim Kancil dari Desa Selok Awar-awar, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang pada tanggal 26 September 2015 mati karena menentang penambangan pasir yang merusak sumber mata air dan kelestarian alam di daerahnya. Salim Kancil adalah petani yang memperhatikan keberlangsungan lahan pertaniannya dan lahan pertanian di sekitarnya dengan berupaya mencegah supaya mata air tidak rusak akibat penambangan ilegal pasir yang merusak sumber mata air di daerah Pesisir Selatan Watu Pecak Kabupaten Lumajang. Banyak lahan pertanian di Watu Pecak rusak tak bisa ditanami akibat penambangan pasir yang menghancurkan daerah aliran sungai.  Karena sikapnya yang konsisten tidak kompromi dengan para penambang ilegal yang merusak lingkungan, Salim Kancil diintimidasi, diancam, dan akhirnya dibunuh oleh mafia perusak lingkungan pada 26 September 2015 dengan diseret dan dianiaya beramai-ramai oleh para pelaku tambang ilegal.

Ingatkah kita akan ungkapan bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati? Dalam 1 Korintus 13:1-2 dinyatakan jelas bahwa semua penguasaan bahasa dan teori yang indah tanpa diwujudnyatakan dalam kasih, yaitu tanpa penerapan yang sungguh-sungguh, ternyata seperti bunyi gong yang berkumandang dan canang bergemerincing belaka.Karena itu patutlah dalam penutupan Bulan Penciptaan ini kita sebagai pribadi dan sebagai gereja sungguh berintrospeksi. Bukankah kita Greja Kristen Jawi Wetan setiap tahun melaksanakan peringatan Bulan Penciptaan, apakah ini turut menjadikan kita lebih sungguh dalam mengasihi alam semesta dan sesama ciptaan? Kalau ya, apakah buahnya?

Termasuk apakah kita sebagai warga GKJW menghayati sungguh bahwa seperti Nabi Yeremia kita juga diutus, termasuk kita diutus untuk merawat alam semesta dan dalam rangka mewujudkan Kerajaan Allah secara lengkap dengan bertindak mengasihi alam semesta dengan sungguh-sungguh. Memang terkadang kita sering ngeles terlalu banyak alasan untuk tidak bersedia bertindak; mirip bahwa Nabi Yeremia yang juga sempat mau menghindar. Tetapi Tuhan tahu seluruh motif bahkan jati diri umat-Nya, Tuhan tahu ngelesnya Panjenengan dan semua kita! Tuhan tidak bisa dikibuli dengan berjuta cara ngeles. Tidak! Tuhan tidak bisa ditipu oleh basa-basi dan ketidaksungguhan umat-Nya yang mau menghindar. Anda mau menghindar dan ngeles dalam perutusan-Nya! Termasuk apakah kita akan ngeles perihal tugas perutusan kita sebagai Gereja yang wajib memelihara alam semesta dengan kewajiban untuk berkarya bagi kelestarian alam! Ah itu kan bukan tugas gereja melainkan tugas pelestari lingkungan? Mungkin itu gaya ngeles kita.

Termasuk bagi yang membuang sampah seenaknya, membuang bungkus permen di lantai gereja saat ibadah minggu maupun aktivitas di gedung gereja kita; bahkan mungkin saat khotbah ini disampaikan; ah nanti kan dibersihkan disapu oleh koster! Seringkali banyak yang tak memahami etos sikap dalam perkara yang sering disepelekan ini. Coba sekarang lihat di lantai gereja maupun di cepitan kursi di lubang kursi tempat alkitab dan kidung ketika ada bungkus permen dan sampah yang ngruwel tolong ambil dan buang ke tempat sampah.  Bisakah kebersihan dalam beribadah dan menghormati lingkungan (minimal lingkungan gedung gereja) menjadi satu sikap perutusan kita! Kita semua! Seluruhnya!

Upaya pemeliharaan alam sesungguhnya merupakan upaya pembebasan manusia dan lingkungan dari penderitaan dan penindasan akibat bencana buatan manusia. Saudara-saudara, kesungguhan dalam mencintai bumi dan dalam mewujudkan serta mengikuti karya pembebasan Tuhan kita Yesus Kristus(yang telah diproklamasikan kepada Jemaat Nazareth dan diwartakan tak hanya dalam sejarah perikop Lukas 4 bacaan kita ini melainkan dalam sejarah nyata kehidupan) memerlukan laku tindakan yang harus jelas dari kita semua pada masa ini. Salah satunya upaya memelihara alam semesta dan sesama ciptaan membutuhkan perbuatan yang sungguh berwujud dan berkesinambungan. Perutusan kita untuk menjadi berkat bagi alam semesta harus dilanjutkan, dikongkretkan. Kita Gereja di desa perlu melestarikan sumber mata air dan hutan desa. Kita Gereja di kota perlu meminimalkan polutan dan menciptakan lingkungan asri.

Dan untuk melaksanakan karya yang demikian maka kesabaran dan seluruh nilai-nilai dari 1 Korintus 13:4-7 menjadi bagian pegangan kita. Sabar yang artinya tahan menderita bisa kita contoh dari tindakan ketekunan Mbah Sadiman di atas.Untuk melaksanakan karya ini justru kita diajak bertekun, memiliki daya tahan untuk mewujudkan visi Kerajaan Allah dalam menghadapi berbagai risiko dan tantangan. Untuk memelihara lingkungan, mewujudkan kebersihan dan keasrian di lingkungan Gereja dan rumah sekitar kita sungguh tak seperti membalik telapak tangan. Untuk mereboisasi alam tak seperti pesta sekejap hanya datang berombongan membawa bibit tanaman, membuat lubang, menanamnya, disiram lalu ditinggal pulang dan dibiarkan! Melainkan perlu ketekunan merawat, ketekunan menghadapi tantangan dari pencuri kayu, mental tangguh menghadapi penebang pohon, kesabaran menghadapi tangan usil dan sebagainya. Siapkah?

Karenanya semangat tindakan Yesus sekalipun menghadapi penolakan dari jemaat di sinagoge Nazareth, dari orang sekampungnya, tetapi Yesus tetap melangkah dan tidak kompromi perlu menjadi spirit dan mentalitas kita orang-orang Kristen, terlebih kita warga GKJW yang memiliki visi menjadi berkat. Teruslah menjadi berkat atas alam semesta ini. Salim Kancil yang bukan orang Kristen telah berani mati untuk membela dan melindungi lingkungannya dari penjarahan. Terlebih kita para pengikut Tuhan Yesus Kristus. Tuhan memberkati seluruh lingkungan tempat kita berpijak. Dan Tuhan menghendaki kita semua memberkati lingkungan alam semesta!

       (Bisa dilanjutkan aksi menanam pohon di sekitar gereja, di tepi jalan raya sebagai tanaman peneduh, atau menanam tanaman rebosisasi di sekitar sungai dan sumber mata air sebagai penanda penutupan peringatan Bulan Penciptaan)

Kidung Pujian  : KJ. 16:1&4; KJ. 19; KJ. 53; KJ. 58:4; Kidung Ria 45 “Semesta Bernyanyi”

 —

RANCANGAN KHOTBAH: Basa Jawi

Wulan Penciptaan: Umat lan Bungkus Permen

Penggaweane Mbah Sadiman ora tanpa kangelan. Akeh wit-witan sing ditandur diramban, dikethoki, dipuklesi kanggo rambanan wedhus. Malah ana uga wit kang ditandur kanthi ketekuk ringkel dicabut karo wong kang ora setuju marang upayane Mbah Sadiman. Kaping pira wae Mbah Sadiman kepeksa nglumpukake dhuwite dhewe kanggo nyewa lahan ben bisa bebas nanduri perengan mau karo wit reboisasi. Malah saka penghasilane dhewe Mbah Sadiman tuku bibit wit ringin lan jenis wit-witan kang laras kanggo lestarining lingkungan pegunungan lan sumber banyu. Tekan omahe menyang alas, Mbah Sadiman kudu mlaku 3 kilometer adohe. Sebabe Mbah Sadiman ora duwe sepeda, sepeda motor, lan alat transportasi liyane. Mulane Mbah Sadiman biasa mlaku budhal mulih menyang perenge gunung karo nggawa winih bibit wit-witan kanggo ditandur isuk sore kaping pindho sedinane. Mbah Sadiman sadar yen penghijauan kuwi pakaryan kang sifate jangka panjang sing asile baru bisa dinikmati itungan tahun. Mulane nglestarekake alas ora mung butuh kesabaran, ananging uga usaha sing kudu terus berkesinambungan. Mangkono sakcuplik kisahe Mbah Sadiman sing asale teka Desa Geneng, Kecamatan Bulukerto ana ing perenge Gunung Gendol, Wonogiri sing dhewekan miwiti usaha mardikakake desane saka kekeringan. Berkat upayane Mbah Sadiman kangkasil ngijokake alas karo tanduran ringin lan sakpanunggalane,sumber-sumber banyu mili maluber maneh ing Desa Geneng, Bulukerto, Wonogiri.

Conto liyane, ana Salim Kancil sing asale tekan Desa Selok Awar-awar, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang sing tanggal 26 September 2015 mati dikaniaya amarga nglawan penambangan wedhi kang nggawe rusake sumber banyu lan kelestarian alam ana ing desane. Salim Kancil sawijining petani kang nggatekakelestarine sawah lan pategalan lahan pertanian lan nduweni perjuangan kanggo mencegah supaya sumber-sumber banyu ora rusak amarga penambangan ilegal pasir kang ngrusak sumber banyu ana daerah Pesisir Kidul Watu Pecak Kabupaten Lumajang. Akeh lan amba lahan pertanian Watu Pecak kang rusak lan ora bisa ditanduri amarga penambangan wedhi kang ngrusak daerah aliran sungai.  Amarga sikape kang jejeg lan teguh pendiriane kanggo lestarine alam sarta ora nduweni kompromi marang penambang ilegal kangngrusak lingkungan, Salim Kancil diancam, diteror, lan pungkasane malah dipateni, dikruyuk disiksa karo mafia perusak lingkungan. Pas tanggal 26 September 2015 Salim kancil diseret lan dianiaya karo pelaku tambang ilegal nganti tumekaning pati.

Para sedulur apa Sampeyan kelingan marang sesorah yen keyakinan tanpa tumindak kuwi ateges mati/matek/modar? Ana ing 1 Korintus 13:1-2 dijlentrehake kanthi terang yen kabeh kapinteran penguasaan bahasa lan teori sing apik tanpa diwujudake ana ing katresnan lan kasunyatan kuwikaya unine gong mbengung lan gembreng gemerincing benceng cuweng wae. Mulane iku payo ana ing penutupan pengetan Bulan Penciptaan sak ikiawake dhewe, secara pribadi lan secara urip masamuwan padha introspeksi dhiri. Lak saben taun awake dhewe GKJW iki nindakake pengetan Bulan Penciptaan, apa kabeh wujud ritual ikindadekake awake dhewe tambah tumemen anggone nresnani  lan ngrumati  alam semesta lan sakpepadha titahe Gusti? Menawa iya, apa buktine?

Uga, apa awake dhewe  warga GKJW menghayati lan ngestreni kanthi tumemen dene awake dhewe iki kadya Nabi Yeremia uga diutus. Termasuk awake dhewe diutus kanggo ngrumati alam semesta lan mujudake kanthi jangkepKratoning Allah srana tumindak tumemen nresnani alam sarwa tumitah.Pancen kadhang akeh kang alasan thok ngelesora gelem tumindak; persis kaya Nabi Yeremia kanga nate arep endha nganggo alasan ora prigel omong lan alasane isih enom banget. Ananging Gusti ngerteni kabeh isine jerohane atine umat. Jerohane atine dhewe Gusti mangerteni. Gusti mangerteningelesePanjenengan lan awake dhewe kabeh!Gusti ora bisa diapusi karo akehe carane awake dhewe ding duweni berjuta cara ngeles. Ora! Gusti ora bisa diapusi karo basa-basi lan ketidaksungguhan umat-Nya. Panjenengan arepe endha lan kakeyan alasanngelesana ing karsa-Ne! Uga apa awake dhewe bakalngeles bab tugas perutusaneawake dhwe kang dadi Greja/pasamuwankang wajib ngrumati alam sarwa tumitah! Ah kuwi lak dudu tugase greja ananging tugase wong LSM pelestari lingkungan? Mungkin ngono kuwi gayane Sampeyan ngeles. Mulane aja kakehan alasan!

Termasuk kanggo kang seneng mbuwang reged tanpa mikir,mbuwang bungkus permen ana mestere greja ing ibadah minggu lan kegiatan ana ing gedung gereja iki; mungkin malah pas khotbah iki diaturake ya mbuang bungkuse permen; ah mengko lak bakale disaponi diresiki karo merbot! Merbote kan digaji. Sering akeh kang nduweni sikap makaten. Nyepelekake! Pramila cobi sami mirsani dhateng sor longan/ngandhap kursi greja ingkang Panjenengan pinarak ing sakmangke, ugi manggamirsanicepitan kursi papan alkitab lan kidung kasalap! Nalika wonten bungkus permen lan sampah ingkang ngruwel mangga nyuwun tulung dipundhut lan dibucal wonten tempat sampah. Patunggilan, punapa saged karesikaning papan pangabekti saha patrap menghormati lingkungan (minimal lingkungan gedung greja punika) dados setunggaling patrap perutusan kita anggen ndherek Gusti! Kita sedaya! Sedayanipun! Punika estu wigatos!

Anggen kita ngupaya pemeliharaan alam saestunipun dados upaya pembebasan manusia lan lingkungan saking penderitaan lan penindasan akibat bencana buatan manusia. Para sedherek, tumemeningpatrap anggen kita mencintai bumi punika mujudaken ndherek pakaryan pembebasan Gusti kita Yesus Kristus (ingkang sampun diproklamasikan dhateng Jemaat Nazareth lan diwartosaken mboten naming ingsaklebeting sejarah perikop Lukas 4 waosan kita ananging malah wonten kasunyatan sejarah kehidupan). Punika mbetahaken laku tumindak ingkang tumemen saking kita sedayanipun. Perutusan kita kangge dados berkahtumprap alam semesta kedah dipunlajengaken, diwujudnyatakaken! Kita Greja desa perlu melestarikan sumber mata air lan alas desa. Kita Greja kutha perlu meminimalkan polutan lan mujudaken lingkungan asri.

Sauger kangge nindakaken pakaryan ingkang mekaten, saestu dipun perlokaken kesabaran lan sedaya nilai-nilai gesang kados kacetha wonten 1 Korintus 13:4-7. Kawicaksanan nilai-nilai ingkang kaserat ing 1 Korintus 13:4-7 punika dadosa cekelan kita. Sabar punika artosipun tahan menderita, tekun lan telaten ngadhepi samukawis. Lan punika saged kita conto saking tumindakipun Mbah Sadiman. Kangge nindakaken sedaya pakaryan sae punika kita perlu bertekun, nggadhahi ketelatenan kangge mujudaken visi Kerajaan Allah lan ngadhepi sedaya risiko lan tantangan. Kangge ngupadi pangrimatan  lingkungan, mujudaken keasrian wonten lingkungan Greja saha lingkungan griya sekitar, lan pakaryan sae sanesipunmboten kados malik telapak tangan. Kangge nindakaken reboisasi alam mboten kados pesta sekejap: dugi rombongan dhateng papan sasaran reboisasi, ngasta bibit tanaman, macul damel luweng taneman, nanem, nyiram, difoto lajeng ditinggal wangsul lan dijaraken! Ananging sedaya punika perlu ketelanenan anggen kita ngrimati, ketelatenan kita ngadhepi tantangan saking maling kayu, perlu mental tangguh ngadhepi tukang golek kayu ingkang sakpenake dhewe nebangi tanduran, kesabaran ngadhepi tangan usil. Supados tuwuh ngrembaka. Kados mekaten punika. Punapa Panjenengan sumadya?

Pramila semangat tuladha tumindakipun Gusti Yesus, ingkang sanadyan ngadhepi penolakan saking jemaat sinagoge Nazareth, saking tiyang sekampung, ananging Gusti Yesus tetep jumangkah, mboten kompromi lan malah ajrih. Estu punika perlu dadosspiritsaha mentalitas kita tiyang-tiyang Kristen. Langkung-langkungkangge kita warga Greja ingkang nggadhahi visi dados berkah. Sumangga dipunlajengaken anggen Panjenengan dados berkah tumprap alam sarwa tumitah. Salim Kancil ingkang mboten ngrasuk agami Kristen kemawon sampun berani mati berkurban kangge membela dan melindungi lingkunganipun saking penjarahan lan perusakan. Punapa malih kita para pandherekipunGusti Yesus Kristus. Gusti mberkahi lingkungan papan dunung kita. Gusti saestu ngersakaken kita sedaya dados berkah kangge lingkungan alam semesta!Panjenengan dipun utus! Amin.

    (Saged dipunlajengaken srana nandur taneman/wit wonten sekitar greja, wonten pinggir margi kangge tanaman peneduh, utawi nanem taneman rebosisasi ing sak kiwa tengenipun kali lan sumbering toya ing lingkungan greja kita, punika dados penanda pungkasaning pengetan Bulan Penciptaan)

 

Pamuji: Kipas 115;  KPK. 1:1; KPK. 5:1; KPK. 9; KPK.17; KPK. 29.

 

Bagikan Entri Ini: