Tugas dan Janji Bagian dari Wujud Kasih Pemeliharaan Tuhan Khotbah Minggu 10 Februari 2019

Minggu Biasa / Minggu V Setelah Epifani
Stola Hijau

Bacaan 1   : Yesaya 6 : 1 – 8
Bacaan 2   : I Korintus 15 : 1 – 11
Bacaan 3   : Lukas 5 : 1 – 11

Tema liturgis  : Melakukan kehendak Allah sambil meyakini Kasih PemeliharaanNya
Tema khotbah : Tugas dan janji bagian dari wujud kasih pemeliharaan Tuhan

 

KETERANGAN BACAAN
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca/dipelajari saat mempersiapkan khotbah)

Yesaya 6 : 1 – 8

Di dalam penglihatan ini, tampaklah keprihatinan-keprihatinan utama kitab ini : kemutlakan kekudusan Allah dan kekuasaanNya yang hanya ada padaNya; kemulian yang telah diperintahkanNya dan penyingkiran dari dosa yang dituntutNya; pembersihan orang yang menyesal dan hidup baru yang masih akan muncul dari tunggul Isai.

Pemanggilan Yesaya terjadi sebelum Raja Uzia meninggal. Meninggalnya Raja Uzia ini menjadi penting bukan hanya karena waktunya, tetapi lebih dari itu ia meninggal sebagai penderita kusta karena “mencemooh kekudusan Allah” ketika ia menjadi tinggi hati (II Taw 26:16, cf Yesaya 2:17)

Serafim yang berarti “yang bernyala-nyala” titik berat gambaran ini menekankan kekudusan Allah.  Dalam kehadiranNya menyilaukan, tidak layak melihat Dia, dan tidak untuk dilihat (2b) namun cepat uintuk melayani (2c) dan tak kunjung lelah untuk memuji Dia (ayat 3), memuji kekudusan Allah: bait pertama menggemakan sifat, nama dan kekuasaan Allah (Sebaot=semesta alam); bait kedua menggemakan bidang cakup dan cirri-ciri kerajanNya.

Bara api yang disentuhkan ke mulut Yesaya, sesuatu yang dibutuhkan oleh dia untuk memastikan bahwa baginya akan ada keampunan pribadi. Sehingga pemberitaannya adalah dari seorang yang telah diampuni, yang sama-sama bersalah seperti bangsa Israel, yang kepada mereka dia menawarkan hidup dan mati.

Respon Yesaya terhadap tugas panggilan yang diberikan Allah, Ini aku, utuslah aku ! sebuah respon yang sangat berbeda dengan keputusasaannya yang terdahulu (ayat 5)

I Korintus 15 : 1 – 11

Allah tetap memanggil manusia untuk tugas melakukan kehendakNya. Oleh karena itu Allah berkenan menyatakan kasih pemeliharaanNya dengan membebaskan manusia dari maut dan menganugerahklan hidup yang kekal melalui peristiwa kematian dan kebangkitan Yesus Kristus. Yang merupakan pokok ajaran yang asasi bagi kekristenan, dan yang menjadi satu-satunya dasar keselamatan orang Kristen. Menyangkal kebangkitan Kristus dari antara orang mati berarti meniadakan seluruh makna Injil (15:12).

Penampakan Yesus seperti disebutkan dalam ayat 5 – 7 dan yang terakhir kepada Paulus, benar benar  meneguhkan kebenaran peristiwa kebangkitan Kristus. Paulus meyakini bahwa semuanya adalah kasih karunia Allah yang adalah wujud dari pemenuhan janji Allah : hidupnya sebagai orang Kristen, pelayanan kerasulannya, caranya ia dimampukan untuk bertahan di dalam pekerjaannya. Semua ini juga bukti bahwa Kristus benar-benar bangkit.

Lukas 5 : 1 – 11

Perikup yang sejajar Mat 4 : 18 – 22; Mark 1 : 16 – 20. Cerita yang singkat dari Markus mengenai pemanggilan murid-murid yang pertama, memusatkan perhatian atas kenyataan dasariah, bahwa tanggapan yang layak terhadap amanat Kerajaan Allah adalah ketaatan yang segera kepada pemanggilan menjadi murid. Cerita Lukas yang lebih panjang disini memperlihatkan bahwa pemanggilan itu hanya terjadi sesudah yesus berhasil bersahabat dengan Simon dan menyatakan kuasa sorgawiNya kedanya.

Walaupun Simon, sebagai seorang nelayan yang berpengalaman, mengetahui bahwa hanya ada sedikit kemungkinan ditangkapnya ikan-ikan, namun ia telah cukup terkesan kepada Yesus untuk mentaati perintahNya. Ketika sepenuhnya penyataan kuat kuasa Yesus datang kepadanya, ia dikuasai oleh perasaan yang mendalam, perasaan ketakutan dan ketidaklayakan di hadapan Dia yang yang memperlihatkan kuasa sorgawi dan dengan itu menunjukkan dengan secara jelas bahwa Ia kudus. Tapi kemudian Yesus memerintahkan supaya jangan takut (cf 1:13,30), dan mengeluarkan panggilanNya menjadi murid dalam perkataan yang dengan jelas dengan pekerjaan Simon sekarang (sebagai penajala ikan).

Benang Merah Tiga Bacaan

Allah dalam memerikan tugas (kepada Yesaya, Para murid, Paulus), pasti disertai dengan janji. Allah berkehendak supaya manusia melakukan tugas pemberianNya, yaitu melakukan kehendak Allah, sebagai bentuk ucapan syukur kepadaNya. Dan Allah memberikan janjiNya yaitu berkat dan keberhasilan dalam tugasnya. Tugas dan janji yang diberikan oleh Allah sebagai bagian dari wujud kasih pemeliharaanNya.

RANCANGAN KHOTBAH : Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan, silakan dikembangkan sesuai konteks Jemaat)

 Pendahuluan

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering menyaksikan apa yang akan diterima oleh orang-orang yang sungguh-sungguh melakukan apa yang dikehendaki oleh orangtua, guru atau siapa saja yang dianggap berpengaruh di dalam kehidupan ini. Mis : anak yang melakukan apa yang dikehendaki ayahnya ,akan membuat hati ayahnya senang dan bahkan biasanya anak itu mendapatkan sesuatu sebagai hadiah atau paling tidak apresiasi.

Demikian juga murid yang melakukan apa yang dikehendaki gurunya, pasti murid ini mendapatkan pujian dari gurunya, malahan bisa saja menadapatkan hadiah. Termasuk warga Negara terhadap pemerintah, warga Negara yang melakukan apa yang dikehendaki oleh pemerintah, mesti mendapatkan apresiasi, bahkan hadiah, seperti misalnya : para atlet Indonesia juara Asian Games atau Asian Para Games.

Isi

Dalam bacaan ke 3 diceritakan bagaimana beberapa orang yang di kemudian hari digelari “ rasul” dan mempunyai tempat yang penting dalam Jemaat Kristen – khususnya Simon Petrus – menjadi pengikut-pengikut dan murid-murid Yesus. Pemanggilan itu dipersiapkan oleh Yesus dengan terjadinya keajaiban penangkapn ikan. Setelah Yesus berkhotbah, Ia berkata kepada Simon, supaya ia pergi ketengah-tengah danau untuk menangkap ikan. Dengan cara ini Simon dicoba apakah ia akan mempercayai Yesus atau tidak, sebab sudah semalaman ia berlelah-lelah tidak mendapatkan ikan.

Sikap Simon terhadap perintah/kehendak Yesus ini…tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga (ayat 5 akhir). Jawabab ini menjadi bukti bahwa Simon terkesan, terpengaruh oleh perkataan dan pekerjaan Yesus. Ini sebuah jawabah yang menunjukkan sebuah pengakuan percaya Simon.

Setelah Simon melakukan apa yang diperintahkan Yesus, keajaiban besar terjadi (ayat 6), ini menyatakan kepada Simon bahwa perkataan Yesus adalah perkataan yang berkuasa (seperti yang telah dialami oleh Simon sebelumnya (4:38-39). Simon terkejut, karena ia insyaf bahwa Yesus bukan orang biasa, tetapi seseorang yang mempunyai hubungan dengan Yang Kudus yaitu Tuhan Allah. Dan kontak (persentuhan) dengan yang Kudus adalah berbahaya untuk orang berdosa (Yes 6:1-7 – bacaan ke 1). Kemudian Simon berkata dalam ayat 8 , ini menunjukkan petobatan dan kepercayaannya setelah ia menginsyafi kasih karunia Allah.

Di akhir cerita ini kita membaca dan boleh mengatakan bahwa Yesus sekarang telah menguasai seluruhnya hidup Simon, sehingga ia mengerti bahwa ia harus mengikuti Yesus untuk seterusnya dan menjadi muridNya. Kemudian Yesus berkata kepada Simon : mulai sekarang “engkau akan menjala manusia” (ayat 10 akhir), Sebenarnya tertulis akan “menjala hidup-hidup” sebab ikan-ikan yang ditangkap akan mati, tetapi tujuan “penangkapan manusia” adalah justru supaya mereka hidup. Yesus berkata kepada Simon dengan bahasa Simon yaitu bahasa seorang nelayan, untuk menjelaskan bahwa kepadanya diberikan tugas dan janji bahwa ia akan membawa banyak orang kepada Allah melalui Yesus sebagai jalanya. Kalau ia mentaati perintah/tugas dari Allah,yaitu melakukan apa yang dikehendaki Allah, maka ia akan memperoleh pemenuhan janjiNya yaitu terberkati dan dipercayakan tugas yang lebih besar.

Demikian juga pasti berlaku untuk saya dan panjenegan semua. Jika kita menerima dan melakukan dengan setia tugas dari Tuhan yaitu melakukan apa yang dikehendakiNya, sebagai bentuk ucapan syukur kita kepada Tuhan karena kita telah menerima kepastian keselamatan kita dalam kematian dan kebangkitan Yesus Kristus (bacaan kedua) pasti kita juga menerima wujud pemenuhan janjiNya yaitu hidup terberkati dan dipakai sebagai batu batu yang hidup, alat-lat penyelamatan di dunia ini, membawa orang-orang kepada Yesus.

Puncak atau titik berat dari cerita ini terdapat dalam perkataan ayat 10. Dan berdasarkan ayat ini kita boleh merenungkan keajaiban tentang penangkapan ikan ini sebagai perumpamaan. Dalam cerita ini dilukiskan secara konkret, secara yang kelihatan bahwa gereja Kristen, di waktu memenuhi tugasnya di dunia ini, mendapat juga janji bahwa pekerjaannya tidak akan sia-sia. Jika Gereja itu taat kepada perintah Yesus dan benar-benar berani masuk ke dunia ( seperti nelayan yang harus taat dan harus pergi ke tengah-tengah danau), maka pekerjaan itu akan sungguh-sungguh beroleh hasil, sekalipun waktu dan keadaan tidak baik kelihatannya (seperti Simon dan kawan-kawannya diberkati dengan penangkapan banyak ikan, meskipun menurut pendapat dan pengalaman nelayan-nelayan, orang harus pergi menangkap ikan di waktu malam hari, bukan di panas terik di waktu siang hari !) Dan berkat atas pekerjaan itu tidak membuat Simon sombong, tetapi rendah hati (ayat 8).

Tuhan juga memberikan tugas dan janji kepada kita, keberhasilan pekerjaan atau apapun yang kita lakukan bukan semata-mata tergantung pada kemampuan kita, baik secara materi atau intelektual atau kekuatan fisik kita,  kehebatan kita, keterampilan yang kita miliki, tetapi juga seberapa jauh kita telah sedang dan akan terus melakukan tugas pemberian Tuhan yaitu melakukan kehendaknya, dimanapun dan kapanpun serta dalam situasi bagaimanapun. Sehingga kalau pekerjaan kita berhasil kita pasti tidak akan takabur, tetapi rendah hati dan selalu mengakui bahwa semua ini adalah kasih karunia Allah semata, sebagaimana Simon dan Paulus.

Penutup

Tugas melakukan kehendak Allah dalam aktivitas kita sehari-hari,  harus diterima dengan kerendahan hati dan kekudusan, hati yang terbuka terhadap pemberlakuan kehendak Allah, disertai petobatan dan penyangkalan diri dalam bentuk mengutamakan pemberlakuan kehendak Allah diatas kehendak dan kemaun pribadi diri sendiri.

Kepada setiap orang yang demikian ini layak menerima janji Allah, pekerjaan atau aktivitas yang dilakukan tidak akan sia-sia tetapi akan memperoleh hasil bahkan penuh dengan mujizat-mujizat. Lakukanlah tugas (melakukan kehendak Allah) dan terimalah janji (keberhasilan, keberkatan) sebagai bentuk pemeliharaan Allah kepada hidup kita. Amin (SS)

Nyanyian: KJ. 460 : 2,3


RANCANGAN KHOTBAH : Basa Jawi

Pambuka

Ing pagesangan kita padintenan kita asring nyekseni menapa ingkang badhe dipun tampi dening tiyang ingkang estu estu nindakaken menapa ingkang dipun kersakaken dening tiyang sepuhipun, guru utawi sinten kemawon ingkang kaanggep nggadahi pengaruh. Umpaminipun : anak  ingkang nindakaken menapa ingkang dipun kersakaken dening tiyang sepuhipun, bade damel renaning penggalihing tiyang sepuhipun, lan biasanipun anak menika angsal hadiah utawi paling mboten pangalembana.

Mekaten ugi murid ingkang nindakaken menapa ingkang dipun kersakaken dening gurunipun, mesthi murid menika angsal pangalembana saking gurunipun, malahan saget ugi angsal hadiah. Kalebet rakyat Indonesia, menawi rakyat menika nindakaken menapa ingkang dados pikajengipun pemerintah, mesthi angsal pangalembana, malah kepara hadiah. Ump : para atlit Indonesia Asian Games utawi Asian para Games.

Isi

Ing waosan kita ingkang kaping 3 kacariyosaken kadospundi sawetawis tiyang ingkang ing tembe wingking nggadahi kelengghan “rasul” lan nggadahi kelengghan ingkang penting ing pasamuwan – mligenipun Simon Petrus – dados para penderek lan murid-muridipun Gusti Yesus. Timbalan menika kacawisaken dening Gusti Yesus srana kedadosan mujizat jala ulam . Sesampunipun Gusti Yesus khotbah, Gusti dawuh dateng Simon, supados piyambakipun  deteng tengah-tengahing begawan,…jalamu tibakna supaya oleh iwak (ayat 4). Kanthi cara menika Simon kauji dening Gusti Yesus, menapa piyambakipun pitados dateng Gusti, menapa mboten, karana sampun sedalu muput pados ulam, ananging mboten angsal menapa-menapa.

Wangsulanipun Simon :……”ewadene margi saking dhawuh Paduka, kawula inggih badhe ndawahaken jala” (ayat 5 wekasan). Wangsulan menika dados pratandha yekti bilih Simon kasengsem, kapilut dening pakaryan lan dawuhipun Gusti Yesus. Menika wangsulan ingkang nedahaken pangaken kapitadosanipun Simon.

Sesampunipun Simon nindakaken menapa ingkang kadawuhaken dening Gusti Yesus, mujizat ingkang ageng kelampahan (ayat 6), menika nedahaken dateng Simon bilih dawuhipun Gusti menika dawuh ingkang kebak pangwasa (kados ingkang sampun dipun alami dening Simon saderengipun (4:38-39). Simon kaget, karana piyambakipun sadar bilih Gusti Yesus sanes tiyang biasa, ananging priyantun ingkang nggadahi sesambetan secara maligi kaliyan Ingkang Suci inggih menika Gusti Allah. Lan sesambetan kaliyan Ingkang Suci menika bebayani tumraping tiyang dosa (Yes 6:1-7 – waosan kaping sepisan). Selajengipun, Simon munjuk  ing ayat 8, menika nedahaken pamratobat lan kapitadosanipun sesampunipun piyambakipun ngraosaken sih kanugrahanipun Gusti.

Ing pungkasanipun cariyos menika kita maos lan saget mestani bilih Gusti Yesus samangke sampun ngwasani saranduning gesangipun Simon, matemah Simon mangertos bilih piyambakipun kedah nderek ngetut wingking Gusti Yesus ing salaminipun lan dados muridipun. Selajengipun Gusti Yesus paring dawuh dateng Simon :…”wiwit saiki kowe bakal padha amek wong” (ayat 10 wekasan). Sejatosipun sinerat :..”bade amek urip-urip” karana ulam-ulam ingkang dipun jala badhe pejah, ananging ingkang dados gegayuhanipun “amek wong”  supados tiyang-tiyang menika gesang. Gusti Yesus paring dawuh dateng Simon kanthi basanipun Simon, inggih menika basanipun nelayan, kangge jelasaken bilih piyambakipun kaparingan tugas lan janji bilih piymbakipun bade nyowanaken tiyang-tiyang ingkang kathah cacahipun dateng Gusti Allah lumantar Gusti Yesus minangka jalanipun. Menawi piyambakipun tuhu setya dateng dawuh/tugas saking Gusti, inggih menika nindakaken menapa ingkang dipun kersakaken dening Gusti Allah, piyambakipun badhe nampi kasunyataning janjinipun Gusti, inggih menika gesang binerkahan tuwin pinitados nindakaken ayahan ingkang langkung ageng malih.

Inggih mekaten ingkang kelampahan tumrap kula lan panjenengan sami.  Menawi kita nampi lan nindakaken kanthi setya tuhu tugas (jejibahan) saking Gusti inggih menika nindakaken ingkang dados karsanipun, minangka wujuding saos sukur kita dateng Gusti karana kita sampun nampi kawilujengan lumantar seda lan wungunipun Gusti (waosan kaping kalih) mesthi kita ugi nampi kasunyataning janjinipun Gusti inggih menika gesang ingkang binerkahan lan kaagem dados pirantos-pirantosing kawilujengan ing jagad menika, nyowanaken tiyang dateng Gsuti Yesus.

Menggah ingkang dados puncak utawi titik berat cariyos menika wonten ing dawuh : Aja wedi, wiwit saiki kowe bakal padha amek wong” (ayat 10). Adedasar ayat menika kita saget mestani bilih mujizat menika minangka satunggaling gegambaran/sanepan. Wonten ing cariyos menika dipun gambaraken kanthi cetha, kanthi kasat mripat bilih greja Kristen, wekdal nindakaken ayahanipun ing jagad menika, pikantuk janji bilih ayahanipun/pakaryanipoun mboten badhe muspra, menawi greja menika setya tuhu dateng timbalanipun Gusti Yesus lan estu-estu wantun lumebet ing donya (kadosdene para juru amek iwak ingkang kedah setya tuhu lan kedah wantun lumebet dateng tengah-tengahing telaga), pakaryan menika bade estu-estu wonten asilipin/kasil, senadyan wekdal utawi kawontenan ketinggalipun mboten prayogi. (Kadosdene Simon dalasan kancanipun dipun berkahi kanthi mujizat angsal ulam katah, senadyan miturut pemanggih lan pengalamanipun para juru amek iwak, tiyang kedah kesah jala ing wanci dalu, mboten wanci siang !} Berkah ingkang katampi dening Simon mboten ndadosaken piyambakipun sombong, ananging malah andhap asor (ayat 8)

Gusti ugi maringi tugas lan janji dateng kita, bilih ingkang murugaken ayahan utawi menapa kemawon  ingkang kita tindakaken kasil, menika mboten gumantung saking kasagetan ingkang kita nggadahi, menapa menika tata kadonyan, utawi kapinteran kita, utawi kekiyatan kita tata wadag, ananging ugi gumantung ngantos dumugi pundi anggen kita sampun, saweg lan badhe terus nindakaken tugas  peparingipun Gusti inggih menika nindakaken karsanipun Gusti, ing pundia papan dunung kita, ing wekdal lan kawontenan dikadospundi kemawon. Matemah menawi ayahan utawi pakaryan kita kasil, kita mboten takabur/sombong, ananging malah andap asor ing manah, lan tansah ngakeni bilih sedaya menika namung awit sih kanugranipun Gusti kemawon, kadosdene Simon lan Paulus.

Panutup

Tugas utawi timbalan/ayahan nindakaken kersanipun Gusti ing salebeting gesang kita padintenan, kedah kita tampo kanthi andap asoring manah lan kasucen, manah ingkang tansah binuka dateng kebabaring/timindaking karsanipun Gusti, kinantenan pamratobat lan nyingkur badanipun piyambak, inggih menika srana tansah ngutamekaken tumindaking kersanipun Gusti katimbang pikajengipun piyambak.

Dumateng sok sintena tiyang ingkang kados mekaten menika, tiyang menika sembada nampi janjipun Gusti, pakarya utawi ayahan ingkang katindakaken mboten badhe muspra ananging tansah kasil, malahan kebak mujizat. Mangga katindakna tugas (nindakaken kersanipun Gusti) lan katampia janji (binerkahan lan kasil) minangka wujuding pangrimatanipun Gusti tumraping gesang lan pigesangan kita. Amin (SS)

Pamuji: KPK. 82 : 1 -3

 

 

 

Bagikan Entri Ini: