Dengarlah Firman-Nya melalui Alam Semesta Khotbah Minggu 27 Januari 2019

Bulan Penciptaan / Minggu III Setelah Epifani
Stola Hijau

 

Bacaan 1 : Nehemia 8 : 1-3 , 5-6, 8-10
Bacaan 2 : I Korintus 12 : 12 – 31a
Bacaan 3 : Lukas 4 : 14 – 21

Tema Liturgis  : Alam Ciptaan Tuhan Wujud Pemeliharaan Terhadap Umat-Nya
Tema Khotbah : Dengarlah Firman-Nya melalui Alam Semesta

 

KETERANGAN BACAAN
(Tidak perlu dibaca diatas mimbar, cukup dibaca saat sebelum kotbah sebagai referensi )

Nehemia 8 : 1-3 , 5-6, 8-10

Kitab Nehemia dan Ezra adalah dua kitab penting yang mencatat kehidupan bangsa Israel setelah pembuangan ke Babel (586 SM). Persia menakhlukkan Babel pada 539 SM dengan dipimpin Raja Koresh. Melaluinya, orang-orang Israel diijinkan untuk pulang ke tanah airnya di Yehuda dan beribadah kepada Allah, bahkan membangun Bait Allah kembali.

Ezra dan Nehemia adalah dua tokoh besar yang dipakai Tuhan untuk menolong bangsa Israel dalam proses pemulihan mereka dari pembuangan tersebut. Ezra adalah seorang imam sekaligus pemimpin religius yang penting kala itu, sedangkan Nehemia adalah orang yang dipercaya Raja Artahsastra yang diangkat untuk menjadi bupati Yehuda.

Lamanya bangsa Israel hidup di dalam pembuangan tersebut membuat mereka tidak lagi mampu memelihara dan melakukan hukum Taurat di dalam kehidupan mereka. Demikian sampai pada generasi-generasi berikutnya, hukum Taurat semakin terlupa. Oleh sebab itu, bangsa Israel harus diingatkan kembali kepada hukum Taurat. Inilah yang dilakukan Ezra dalam perikop ini. Ia membacakannya supaya setiap orang mendengar dan mengerti.

Ketika mendengar hukum Taurat dibacakan dan diterangkan (sangat mungkin diterjemahkan dari bahasa Ibrani ke dalam bahasa Aram, sebab pada saat itu banyak orang Yahudi yang tidak lagi memahami bahasa Ibrani), bangsa Israel lalu menangis. Mereka sadar atas ketidaktaatan mereka kepada Tuhan, melalui hukum Taurat tersebut. Kesadaran dan penyesalan bangsa Israel ini, tidak berhenti samai di sini, tetapi juga diikuti dengan pertobatan mereka kepada Tuhan (pasal 9). Dengan dasar pertobatan itulah, bangsa Israel lalu memulai pemulihan dan pembangunan kembali.

I Korinus 12 : 12 – 31a

Salah satu yang menjadi permasalahan yang dihadapi oleh jemaat mula-mula di Kota Korintus adalah masalah perpecahan. Sebab jemaat Korintus bukanlah jemaat yang homogen. Kota Korintus yang memiliki dua pelabuhan di bagian timur dan baratnya, membuat kota ini menjadi tempat strategis. Dengan demikian, banyak orang dengan segala latar belakang mereka datang, bahkan tinggal di Korintus. Sehingga, dapat dikatakan bahwa Korintus adalah pusat pertemuan banyak kebudayaan, agama dan kepercayaan.

Paulus pernah mengunjungi Korintus dan tinggal di sana untuk memberitakan Injil (lih. Kis 18 : 1-17). Relasi Paulus dengan jemaat Korintus tidak putus begitu saja setelah Paulus pergi. Jemaat Korintus dan Paulus nampaknya masih sering berhubungan melalui surat (lih I Kor 7:1). Melalui surat, Paulus memberikan pelayanan pastoral dan penggembalaannya.

Secara khusus dalam perikop ini, Paulus menolong jemaat Korintus supaya mereka dapat mempertahankan hidup persekutuan, terlebih mengerti bagaimana seharusnya hidup di dalam sebuah persekutuan. Kehidupan persekutuan digambarkan dengan gambaran ‘tubuh’, yang terdiri dari bermacam-macam anggota yang berbeda-beda, tetapi terhubung yang satu dengan yang lain untuk mendukung satu dengan yang lain. Perbedaan tidak dipandang sebagai pemecah, namun sebaliknya dilihat sebagai kelebihan untuk mendukung sehingga ‘tubuh’ menjadi sempurna dalam keberadaan dan perannya.

Lukas 4 : 14 – 21

Dalam pembukaan perikop ini, Injil Lukas mencatat bahwa Yesus kembali ke Galilea, tempat tinggal Yesus dalam kuasa Roh. Kemudian di sana, Ia mengajar dan membacakan bagian Kitab Suci. Pada awalnya orang yang mendengarkan pengajarannya menjadi takjub (ay 15).

Secara khusus dalam perikop ini (ay 18-19), Yesus membacakan bagian dari kitab Yesaya 61 : 1-2. Ia menyampaikan pembacaan firman mengenai kabar baik dan pembebasan Tuhan. Orang banyak itu takjub dengan cara Yesus membaca dan mengajar kepada mereka. Sampai kemudian mereka mengenali-Nya sebagai anak Yusuf. Ia tidak lagi dihormati sebagaimana sebelumnya.

Karena sikap mereka itu, apa yang disampaikan Yesus menjadi sia-sia. Kabar baik yang Ia sampaikan tidak lagi diperhatikan. Orang-orang itu pada ayat 29 justru memilih untuk mengusir Yesus. Mereka menolak perkataan-Nya. Mereka menolak kabar baik yang dibawa-Nya. Mereka menolak Yesus.

Benang Merah Tiga Bacaan

Firman Tuhan amat berkuasa dan mampu mengubah kehidupan manusia ke arah yang lebih baik. Tetapi di sisi lain, Firman Tuhan juga bisa menjadi sesuatu yang tidak ada artinya. Kedua hal yang bertolak belakang ini bisa terjadi, tergantung dari pilihan manusia untuk merespon-Nya. Jika mau mendengar dan memeliharanya, firman itu akan hidup dan membangun kehidupan. Namun jika menolak dan menguburnya, firman itupun akan menjadi sia-sia belaka.

 

RANCANGAN KHOTBAH : Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan. Silakan  dikembangkan sendiri sesuai konteks jemaat)

Pengantar

Ada seorang teman yang menderita diabetes. Secara usia, dia belumlah terlalu tua namun sudah sangat sukses dalam pekerjaannya. Mengetahui penyakitnya ini, ia lalu segera mencari doker terbaik di kotanya. Ia berobat selama beberapa lama kepada dokter tersebut, namun setelah beberapa saat, keadaannya tidak nampak membaik. Keadaannya justru semakin buruk. Lalu ia memutuskan untuk mencari dokter lain. Keluarga dan kerabat juga setuju, sebab mungkin jangan-jangan dokter ini memang kurang baik dalam pekerjaannya.

Setelah mencari beberapa saat dan bertanya sana-sini, mereka menemukan seorang dokter ahli diabetes yang diakui sebagai yang terbaik di Indonesia. Lalu tanpa pikir panjang, mereka membawa teman kami kepada dokter tersebut. Namun apa yang terjadi? Sama saja. Setelah beberapa waktu, kami tidak melihat peningkatan kesehatan. Hanya penurunan dari waktu ke waktu.

Sampai suatu hari saya mengambil waktu untuk berbincang serius dengan si teman. Sebab saya sungguh tidak habis pikir, bagaimana bisa pengobatan yang selama ini dilakukan dokter yang terbaikpun tidak membawa perubahan sama sekali pada kesehatannya?

Kemudian tak disangka-sangka teman saya berkata : “Mmm.. mungkin ini salahku. Sejak awal, semua dokter selain memberikan obat, mereka semua menganjurkanku untuk diet gula. Tapi aku tidak bisa. Aku tak bisa hidup tanpa gula. Apalagi kalau sedang stress, bawaannya kepingin yang manis-manis.. Jadi, aku colong-colong deh.. Hehehe”

Oalah! Tentu saja! Mau mencari dokter sepandai dan sebaik apapun juga percuma. Lha wong saran mereka mental. Masuk telinga kanan, keluar lewat hidung.

Isi

Demikian juga dengan firman Tuhan. Banyak orang berkata bahwa Firman Tuhan itu kuasanya sungguh besar. Banyak cerita-cerita kehidupan yang berubah karena firman Tuhan. Salah satu contohnya seperti yang telah kita baca dalam bacaan pertama. Diceritakan bahwa bangsa Israel yang kehidupanya jauh dari ketetapan Tuhan karena hidup di dalam pembuangan. Ketika mereka kembali, Ezra membacakan kembali hukum-hukum Tuhan dan itu membuat mereka sadar bahwa mereka telah jauh dari kehendak Tuhan. Dan dalam perikop-perikop selanjutnya dijelaskan betapa mereka menyesal lalu melakukan pertobatan di hadapan Tuhan. Pertobatan itu yang kemudian menjadi dasar mereka membangun kehidupan mereka kembali dalam pembaharuan. Hidup mereka dipulihkan. Firman Tuhan sungguh membawa perubahan.

Tapi di sisi lain, bacaan kita yang ketiga menceritakan bagaimana Yesus ditolak di tempat asal-Nya. Diceritakan bahwa Yesus berada di Nazareth untuk mengajar dan membacakan bagian Firman dalam Kitab Suci. Memang pada mulanya banyak orang menyukai pengajaran dan perkataannya. Sampai ketika ada yang melihat latar belakang-Nya dan mengenalinya sebagai anak Yusuf, Yesus lalu ditolak bahkan sampai akan didorong dari tebing. Sungguh perbuatan yang jahat. Bagi orang banyak itu, apakah Firman yang disampaikan Yesus berkuasa memperbaiki dan mengubahkan kehidupan? Nampaknya tidak!

Lalu sebenarnya, firman Tuhan itu berkuasa atau tidak sih? Tentu saja pertanyaan ini tidak bisa serta merta dijawab. Sama seperti yang terjadi pada teman saya. Pengobatan sebaik apapun tidak akan manjur jika tidak diterima dengan baik. Demikian juga firman Tuhan, jika tidak diterima dengan baik, firman Tuhan hanya akan menjadi kata-kata yang sia-sia saja.

Padahal, firman Tuhan itu bisa dinyatakan dimana saja, melalui siapa saja. Hanya terkadang kita kurang peka sehingga membiarkan firman Tuhan berlalu begitu saja. Contoh yang paling mudah adalah ketika kita sedang berhadapan dengan orang (atau ciptaan lain) yang kita anggap kurang dari kita. Kita merasa ‘lebih’ lalu menolak untuk mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Tentu saja kita tidak akan menerima apapun. Kehidupan kita juga akan begini-begini saja.

Maka di dalam menjalani kehidupan pemberian Tuhan ini, baiklah jika kita mengaca pada gambaran tubuh yang dijelaskan Rasul Paulus pada bacaan kedua. Semestinya kita sadar bahwa kita, bersama dengan sesama kita adalah bagian dari satu tubuh yang utuh, yang tidak seharusnya merasa lebih baik dari yang lain karena saling terhubung dan membutuhkan, untuk mendapatkan hidup yang baik.

Penutup

Mari saudara-saudara kita buktikan bahwa Firman Tuhan itu sungguh-sungguh berkuasa. Dengan rendah hati mari kita belajar untuk peka mendengar suara-Nya. Jangan kita batasi suara Tuhan yang kita dengar. Sebab Tuhan tidak terbatas. Ia dapat berfirman melalui seluruh ciptaan-Nya, untuk menuntun dunia merasakan kasih dan pemeliharaan-Nya.

 

Nyanyian:       KJ. 61 : 1-4


RANCANGAN KHOTBAH : Basa Jawi

Pambuka

Wonten salah satunggaling kanca ingkang nandang sakit, nggih punika sakit diabetes. Sacara umur piyambakipun dereng saged kawastanan sepuh. Lan ugi piyambakipun punika saged kawastanan tiyang ingkang sukses wonten ing pendamelanipun. Nalika kanca punika wanuh punapa ingkang dados sesakitipun, piyambakipun ngupadi supados enggal sae lan sehat, lumantar dokter ingkang saestu sae ing tlatah papan panggonan punika. Nalika nglampahi proses punika ing sawetara wektu, kahanan mboten tan saya sae, ananging kosokwangsulipun. Pramila tuwuh pamanggih supados ngupadi lumantar dokter sanesipun, mbok bilih dokter punika mboten prigel anggenipun ngupadi.

Saweg sawetara wektu, piyambakipun kepanggih kaliyan dokter ingkang saestu gemati ing babagan sakit diabetes. Nalika nglampahi proses kaliyan dokter ingkang enggal kalawau, kahanan ingkang dipunraosaken ugi sami kemawon.

Lan ing salah satunggaling dinten, kula jejagongan kaliyan kanca kalawau babagan sesakit ingkang dipunalami, awit sacara pribadi kula gumun, “punapa ingkang dados prakawis? Dokter ingkang sampun gemati ing bab sesakit punika ngantos mboten saged maringi kahanan ingkang tan saya sae?

Lajeng kanthi wangsulan ingkang mboten kanyana-nyana,”Mmmm… iki paling gara-gara salahku dewe. Wiwit mula, kabeh dokter wus maringi obat lan wus weling marang aku supaya ngurangi anggenku maem gula. Nging aku ora isa, luwih-luwih yen lagi kebag momotan, hawane kepengen seng legi-legi, ya wes ndhelik-ndhelik aku … hehehe”

“Oalah!” Tamtu kemawon, badhe dipunparingin obat kadosapundi, badhe dipunupadi dokter ingkang kadospundi nggih muspra! Awit sedaya pitedah ingkang dipuntampeni sedaya mboten rumesep – mlebet kuping kiwa, metu kuping tengen!

Isi

Ugi makaten ingkang dados dhawuh sabdanipun Gusti. Kathah tiyang ingkang sampun ngraosaken bilih Sabda punika estu ngedab-edabi kwasanipun. Kathah ingkang tampi kawicaksanan awit Sabdanipun Gusti. Salah satunggaling conto, wonten ing waosan ingkang kaping sepisan. Kacariosaken kanthi cetha, bilih bangsa Israel ingkang lampah gesangipun tebih lan mboten cunduk kaliyan karsanipun Gusti awit nglampahi gesang ing papan pambuwangan. Nalika bangsa Israel sampun wangsul, Ezra ngemutaken malih lumantar pamaosing angger-anggering Gusti. Bab punika ndadosaken bangsa Israel nelangsani diri bilih sampun tebih saking Gusti. Lan ing bab-bab salajengipun kanthi gamblang ugi kacariosaken bilih bangsa Israel nggetuni lajeng mujudaken pamrarobat ing ngarsanipun Gusti Allah. Pamratobat punika ingkang dados pancer kagem mranata gesang. Gesang enggal dipunraosaken awit sabdanipun Gusti ingkang adi.

Ananging ing waosan ingkang kaping tiga, kacariosaken bilih Gusti Yesus katampik ing kutha Nasaret. Kacariosaken, nalika Gusti medhar sabda ing kutha Nasaret, ing wiwitan kathah tiyang ingkang kesengsem piwucalipun Gusti. Dumugi wonten ingkang pirsa bilih Gusti Yesus punika putraning Yusuf. Gusti katampik ngantod badhe didhabyang menyang ing pinggiring gunung. Saestu tumindak ingkang tebih saking karsanipun Gusti. Kagem tiyang kathah punika, punapa sabda ingkang dipunwedhar dening Gusti Yesus punika kagungan panguwaos nyantosaken, lan ndadosaken gesang tan saya wicaksana? Kadosipun mboten!

Lajeng ingkang saestu, sabdanipun Gusti punika kagungan panguwaos punapa mboten? Tamtu pitakonan punika mboten saged kanthi grusah-grusuh diwangsuli. Kadosdene kanca kula kalawau, obat saha lan pitedah saking dokter mboten maedahi menawi mboten dipuntampeni kanthi sae. Makaten ugi sabanipun Gusti, menawi mboten dipuntampeni kanthi wicaksana, sabda punika namung dados tetembungan ingkang muspra tanpa guna.

Sajatosipun sabdanipun Gusti punika saged kawartakaken ing pundi kemawon, lumantar sok sintena kemawon. Nanging, asring kula dalasan panjenengan anggenipun nggatosaken punika mboten kanthi saestu. Conto ingkang paling gampil, nalika kula lan panjenengan ngadepi tiyang utawi titahipun Gusti ingkang langkung asor kaliyan kita. Asring kita rumaos linuwih lan tuwuh pamanggih ngasoraken, lan sedaya tetembungan ingkang dados pangucapipun punika katampik. Tamtu kula panjenengan mboten badhe nampeni bab ingkang mbok bilih wigati, lan gesang kita dados gesang ingkang mandeg.

Pramila anggenipun nglampahi gesang peparingipun Gusti punika, langkung prayogi menawi kita ngaca kanthi gegambaran badan ingkang dipunadharaken dening rasul Paulus ing waosan ingkang kaping kalih. Kedahipun kula dalasan panjenengan ngraosaken bilih, kanthi sesarengan kaliyan sesami kita sami punika badan ingkang manunggal. Mboten wonten pamanggih ngasoraken, mboten wonten pamanggih ingkang langkung prayogi, awit satunggal lan satungalipun punika satunggal-manunggal tumuju gesang ingkang langkung sae.

Panutup

Mangga sesarengan para sadulur, mujudaken bilih sabdanipun Gusti punika estu kagungan panguwaos. Kanthi andhap-asoring manah, mangga sami sinau midangetaken sabda punika. Ampun ngantos sabda punika dados sabda ingkang winates. Awit Gusti saged ugi mbabar sabdanipun lumantar sedaya titah, kagem ngreksa-nganthi alam donya ngraosaken katresnan lan pengreksanipun.

 

Pamuji            : KPJ. 113

 

Bagikan Entri Ini: