Minggu Pra Paskah 5
Stola Ungu
Bacaan 1: Yesaya 43 : 16 – 21
Bacaan 2: Filipi 3 : 4b – 14
Bacaan 3: Yohanes 12 : 1 – 8
Tema Liturgis: Bertirakat sebagai Jalan Memperbarui Panggilan dan Iman
Tema Khotbah: Berjuang Mencapai Titik Keseimbangan Jasmani dan Rohani
Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
Yesaya 43 : 16 – 21
Dapat dimengerti secara garis besar, bahwa bacaan 1 ini adalah sebuah pernyataan dari Allah melalui Nabi Yesaya kepada bangsa Israel yang sedang berada di negeri Pembuangan, bahwa Dia akan kembali memperlihatkan kedaulatan-Nya dengan menggulingkan Kerajaan Kasdim dan membawa kembali bangsa Yahudi ke negeri yang Dia janjikan. Allah menegaskan bahwa Dialah Allah yang sama yang membuat jalan melintasi Laut Merah bagi bangsa Israel pada waktu peristiwa Keluaran, dan yang menenggelamkan kereta-kereta perang Mesir yang mengejar mereka. Kelepasan yang dijanjikannya pada bangsa Israel yang sedang terbuang kali ini bahkan akan jauh melebihi peristiwa Keluaran. Sebab Dia akan memimpin bangsa Yahudi yang telah bebas itu melalui Padang Gurun Siria yang panas membakar, lalu Dia membuat sungai-sungai di sana memuaskan kehausan mereka. Binatang-binatang gurun yang diceritakan bersukacita dengan tersedianya air ini adalah gambaran dari bangsa-bangsa lain yang akan memperoleh manfaat karena menjadi saksi dari pemulihan bangsa Yahudi.
Dapatlah kita bayangkan bagaimana cara seseorang beriman dan percaya kepada Allah di tengah suasana psikologis tertekan selama di negeri pembuangan itu. Tentu saja iman dan pengharapan mereka benar-benar dalam situasi kering saat-saat itu. Sedemikian keringnya iman dan pengharapan umat Allah di Babel, sehingga diperlukan kata demi kata untuk meyakinkan mereka bahwa mereka akan dibebaskan dari penawanan. Oleh karena itu, supaya mereka beroleh dorongan yang kuat, jaminan-jaminan untuk itu sering diulang, dan diberikan di sini dengan sangat tegas dan membesarkan hati.
Melalui Nabi Yesaya, Allah mengingatkan mereka akan perkara-perkara besar yang sudah pernah dilakukan-Nya untuk nenek moyang mereka ketika Ia membawa mereka keluar dari tanah Mesir. Sebab demikianlah yang dapat dibaca dalam ayat 16-17, Allah berjanji masih akan melakukan perkara-perkara yang lebih besar lagi bagi mereka daripada yang sudah dilakukan-Nya pada zaman dulu. Jadi tidak beralasan bagi mereka untuk bertanya, dengan mengeluh-ngeluh, seperti Gideon, dimanakah segala perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib yang diceritakan oleh nenek moyang kami kepada kami? Sebab mereka akan melihat perbuatan-perbuatan itu diulangi, bahkan mereka akan melihat yang lebih lagi daripada itu (Ay. 18): “Janganlah ingat-ingat hal-hal yang dahulu, lalu kemudian, seperti yang dilakukan sebagian orang, berdasarkan itu meremehkan hal-hal sekarang, seolah-olah zaman dulu lebih baik dari pada zaman sekarang. Tidak, kamu bisa saja, kalau mau, sedikit banyak melupakannya, tetapi kamu sudah cukup tahu, melalui kejadian-kejadian di zamanmu sendiri, untuk merasa yakin bahwa Tuhan adalah satu-satunya Allah. Sebab, lihat, Tuhan hendak membuat sesuatu yang baru, yang sama sekali tidak lebih rendah dari hal-hal yang dahulu, baik dalam hal keajaibannya maupun nilai belas kasihannya.”
Allah memberikan janji, bahwa Dia tidak hanya akan membebaskan mereka dari Babel, tetapi juga akan menuntun mereka dengan selamat dan nyaman ke negeri mereka sendiri, sebab tampaknya jalan dari Babel ke Kanaan, dan juga dari Mesir, melewati “padang belantara”. Dan sewaktu para tawanan yang hendak kembali berjalan melewati padang belantara itu, Allah akan memberikan persediaan bagi mereka, supaya kemah mereka memiliki persediaan makanan yang baik dan juga berada di bawah pimpinan yang baik. Kuasa yang sama yang sudah membuat jalan melalui laut (Ay. 16) dapat membuat jalan di padang gurun, dan akan menerobos dengan kekuatan besar untuk membuka jalan menembus kesulitan-kesulitan besar. Dan Dia yang sudah membuat tanah kering di dalam lautan dapat memancarkan air juga di tanah yang paling kering, dengan sedemikian melimpahnya sampai tidak hanya memberi minum umat pilihan-Nya, tetapi juga binatang hutan, serigala, dan burung unta, yang karena itu dikatakan memberikan kehormatan kepada Allah atas semuanya itu.
Maka harapan terbesar Nabi Yesaya adalah agar bangsa Israel mau untuk tetap beriman dan berpengharapan kepada Allah, bahkan mau untuk menjadi saksi-saksi atas karya penyelamatan Allah yang pernah dilakukan-Nya bagi nenek moyang mereka.
Filipi 3 : 3b – 14
Menurut catatan sejarah, Jemaat Filipi mulai berdiri sekitar tahun 49-50 M. Jemaat di Filipi terdiri dari orang-orang Kristen bukan Yahudi (Kis. 16:33b), orang-orang Yahudi yang sudah menjadi Kristen (Kis. 16:13) dan disebutkan pula orang-orang yang takut akan Tuhan (Kis. 16:14). Hubungan Paulus dengan jemaat ini terjalin dengan baik, bahkan jemaat Filipi menyatakan kesediaan mereka untuk memberikan dukungan finansial terhadap pelayanan Paulus melalui perantaraan Epafroditus. Namun, di dalam kehidupan berjemaat di Filipi rupanya ada sekelompok orang yang menentang ajaran Rasul Paulus, seperti tertulis dalam Filipi 1:27-30; 2:21. Paulus menyatakan kritikannya kepada orang-orang ini secara tajam dalam Filipi 3:2.
Secara umum pada keseluruhan pasal 3 ini, Paulus sangat nampak terkesan sedang berhadapan dengan orang-orang dalam jemaat di Filipi yang sudah terpengaruh oleh paham-paham yang dibawa oleh orang-orang diluar jemaat yang bertentangan dengan ajaran Paulus. Mengenai orang-orang ini, beberapa tokoh mengidentifikasinya sebagai orang-orang Kristen yang menganut aliran Gnostisisme atau para misionaris Yahudi, ada juga orang-orang Kristen Yahudi yang masih berpegang pada Taurat agar mendapatkan keselamatan, sementara pendapat lain menyebutkan Paulus sedang berpolemik dengan ajaran Yudaisme. Namun yang diketahui dengan jelas adalah Paulus sedang berhadapan dengan misionaris Yahudi yang disebutnya ‘anjing-anjing’ dalam Filipi 3:2-11. Ini mengindikasikan bahwa ada sejumlah orang yang telah berhasil masuk ke dalam jemaat dan memberikan pengaruh negatif pada anggota jemaat. Oleh sebab itu, Paulus pada pasal selanjutnya menasihatkan jemaat agar tidak membiarkan diri mereka disesatkan orang-orang itu. Jemaat harus tetap teguh dalam Tuhan.
Pada bacaan kedua ini, Rasul Paulus menyinggung soal sunat lahiriah yang menjadi adat dan tradisi orang-orang Yahudi. Sebagai seorang Yahudi “tulen”, Paulus telah mengikuti seluruh tradisi ajaran Yahudi dalam hidup masa lalunya. Tidak hanya perkara sunat lahiriah, yang sebagian kecil saja dari seluruh adat dan tradisi Yahudi yang telah dia lakukan, bahkan sebagaimana kita tahu bahwa Rasul Paulus juga seorang Farisi yang dengan tekun belajar kitab-kitab dan hukum Taurat Yahudi. Jadi kalaupun kita menempatkan diri sebagai seseorang yang menghidupi adat dan tradisi Yahudi, apa yang telah menjadi pencapaian Rasul Paulus di masa lalunya adalah sebuah pencapaian yang sangatlah layak untuk dibanggakan. Tetapi rupanya, setelah Rasul Paulus menjadi pengikut Kristus, segala hal yang telah menjadi pencapaian hidup masa lalunya itu, dianggapnya sebagai sesuatu yang tidak layak untuk dibanggakan (baca: disombongkan). Ya, apabila orang menyangka hanya cukup dengan percaya dan melakukan hal-hal yang lahiriah saja, Paulus memilikinya dan bahkan lebih daripada yang dimiliki orang Yahudi biasanya.
Rasul Paulus mengajak para pengikut Kristus untuk lebih mengutamakan dan berfokus pada hal-hal yang rohani – tidak pada hal-hal yang jasmani/ lahiriah saja. Rasul Paulus tentu tidak menganggap menjadi orang Yahudi atau menaati seluruh hukum Taurat adalah sesuatu yang jahat. Namun apa yang pantas diutamakan sebagai seorang pengikut Kristus adalah dengan mengutamakan hal-hal kerohaniannya. Sebagaimana yang telah dilakukan oleh Rasul Paulus, di mana dia telah berusaha untuk bersatu dengan Kristus dengan cara berada dalam kebenaran Kristus itu sendiri, bukan pada kebenaran-kebenaran yang dia pegang sebelum mengenal Kristus dalam hidupnya. Paulus menerangkan bahwa kebenaran Kristus adalah karunia Allah yang diberikan di dalam Kristus.
Menanggalkan cara hidup yang berfokus pada hal jasmani atau lahiriah dan beralih pada cara hidup seimbang antara jasmani dan rohani merupakan sesuatu yang cukup berat dan harus terus menerus diperjuangkan sebagai cara hidup orang beriman. Rasul Paulus pun mengakui bahwa dia sendiripun sedang dalam kondisi di dalam pertandingan (Ay. 13), Paulus masih dalam proses perjuangan dan belum mengakhiri pertandingannya. Dan rasul Paulus memberi semangat kepada jemaat di Filipi, supaya dapat memenangkan pertandingan ini dengan cara fokus pada tujuan.
Yohanes 12 : 1 – 8
Peristiwa dalam bacaan 3 ini, adalah peristiwa enam hari menjelang perayaan Paskah menurut tradisi Yahudi, dimana Yesus mengawali perjalanan terakhirnya menuju Yerusalem sebelum ditangkap dan disalibkan. Menurut Rasul Yohanes, sejak peristiwa pembangkitan Lazarus oleh Yesus, Dia semakin menjadi pusat perhatian. Hal itu menimbulkan rasa gusar dan rencana jahat dari Imam Besar dan para pemuka agama Yahudi untuk segera melenyapkan Yesus. Karena mengetahui akan hal itu, Yesus kemudian menyingkir ke kota Efraim bersama murid-murid-Nya (Yoh. 11:54). Jarak Efraim ke Betania kurang lebih 10 Km. Sementara Betania terletak di balik Bukit Zaitun dekat Yerusalem (Mrk. 11:1; Yoh. 11:18). Jarak Betania ke Yerusalem kurang lebih 3 Km.
Tujuan Yesus adalah menuju ke Yerusalem, tetapi Dia terlebih dahulu singgah di Betania untuk menghadiri undangan perjamuan dari Lazarus. Disebutkan bahwa perjamuan itu dilakukan di rumah Lazarus sendiri, seorang yang pernah dibangkitkan oleh Yesus, disanalah terjadi peristiwa pengurapan minyak yang dilakukan oleh saudara perempuan Lazarus, yaitu Maria.
Pada zaman Yesus, minyak narwastu biasanya ditempatkan dalam buli-buli berdiameter 10 -12 cm dan tinggi buli-bulinya sekitar 8-10 cm. Mulut buli-bulinya cukup kecil karena biasanya dipakai sedikit saja dan sudah semerbak baunya. Sebagaimana kita ketahui, minyak narwastu adalah minyak yang digunakan sebagai wewangian yang terhitung cukup mahal. Harga yang disebut dalam bacaan kita adalah tiga ratus dinar. Jika menurut kamus Alkitab 1 dinar adalah upah pekerja untuk satu hari, sedangkan bila kita bandingkan dengan upah pekerja saat ini yang rata-rata Rp 100.000, maka nilai minyak narwastu yang pakai untuk mengurapi Yesus adalah 300 x 100.000, yaitu 30 juta rupiah. Nilai yang cukup fantastis jika hanya digunakan untuk keperluan semacam itu.
Terlebih lagi, bila kita bandingkan dengan bacaan yang paralel, dalam Yoh. 12:3 disebutkan bahwa Maria meminyaki kaki Yesus dan menyeka dengan rambutnya, sedangkan di Mrk. 14:3 dan Mat. 26:7 mencatat bahwa minyak tersebut dituang di kepala Yesus. Dari perbandingan tersebut, tentu perbedaan itu bukan terjadi karena kesalahan dalam pencatatan, tetapi bisa jadi bahwa Maria membasuhkan minyak yang mahal harganya itu mulai dari kepala sampai kaki Yesus (seluruh tubuh). Barangkali Yohanes hanya menekankan pada bagian kaki untuk menunjukkan rasa kasih yang besar.
Setelah meminyaki kaki Yesus, selanjutnya disebutkan Maria menyeka kaki Yesus dengan rambutnya. Hal ini bukanlah kejadian yang biasa dan pada masa itu bisa dianggap tidak pantas, karena wanita umumnya tampil dengan bertudung/ berkerudung, dan melepas/ mengurai rambutnya hanya dilakukan di dalam kamar atau ruangan tertutup. Melepas rambut di depan umum seperti yang Maria lakukan dan menyeka kaki Yesus dengan rambutnya barangkali adalah suatu tindakan untuk menunjukkan sebuah sikap kerendah-hatian dan kasihnya yang begitu besar kepada Yesus. Maria merendahkan dirinya sedemikian rupa, karena ia tahu siapa Yesus sebenarnya, dan ketidak-layakan dirinya menerima Yesus hadir ditempatnya. Maria tidak melihat cara lain yang pantas untuk bersyukur dan menyatakan kasihnya terhadap Yesus selain daripada meminyaki kepala dan kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya yang adalah mahkotanya.
Peristiwa meminyaki kaki Yesus dan menyeka dengan rambut tersebut, tentu saja menimbulkan berbagai reaksi. Mengingat bahwa wanita hanya hadir sebagai pelayan dan tidak ikut makan bersama, maka pada saat perjamuan itu tentulah semuanya hanya laki-laki. Berbagai rasa tentu timbul, ada yang jengah dan malu, karena terkejut melihat Maria melepas dan mengurai rambutnya, tetapi ada juga yang iri. Rasul Yohanes dengan tegas langsung menunjuk kepada Yudas Iskariot, sementara Mrk. 14:4-5 dan Mat. 26:8 hanya menyebut murid-murid yang gusar. Gusar karena dunia lelaki mereka terusik oleh Maria yang mempertontonkan penyembahan, pengorbanan, dan pengagungan luar biasa terhadap Yesus, sementara mereka tidak mampu mengekspresikan hal seperti itu.
Harga minyak narwastu yang mahal tersebut (Bdk. Mat. 20:2) akhirnya menjadi sasaran kegusaran murid-murid yang dipicu rasa iri Yudas Iskariot: “Mengapa minyak Narwastu ini tidak dijual tiga ratus dinar dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin?” Dengan ucapan tersebut, sebenarnya Yudas telah mempertontonkan isi hati dan pikirannya dengan jelas, yang menilai segala sesuatu dengan nilai materi dan uang, dan memakai kedok orang-orang miskin untuk menutupi pikiran jahatnya tersebut. Yudas lupa bahwa iri hatinya tersingkap, Yudas lupa bahwa ia dengan sekejap berubah menjadi pencemooh yang tidak hanya mencemooh tindakan Maria, tetapi juga mencemooh Gurunya sendiri, yaitu Yesus.
Benang Merah Tiga Bacaan:
Apabila kita tarik dalam satu benang merah, ketiga bacaan tersebut dapat kita mengerti sebagai sebuah ajakan kepada umat beriman agar dapat senantiasa berjuang untuk mencapai kedewasaan spiritual dalam mengikut Tuhan. Salah satu jalan yang dapat dilakukan untuk mencapai kedewasaan spiritual adalah dengan masuk dalam cara hidup baru, yang tidak hanya berfokus pada hal-hal jasmani atau lahiriah saja, melainkan mampu menyeimbangkan keduanya. Ketika kita masuk dalam cara hidup yang berfokus pada hal-hal yang rohani, maka di sana kita dimampukan untuk senantiasa melihat karya dan keagungan Tuhan dalam segala peristiwa.
Sebagaimana bangsa Israel yang berada di tanah pembuangan, sekalipun dalam situasi lahiriah yang tertekan, mereka diajak untuk dapat senantiasa mengingat dan bersaksi karya-karya penyelamatan Tuhan bagi bangsanya. Dengan terus mengingat dan bersaksi akan kebesaran Tuhan, mereka pun diharapkan dapat mengesampingkan cara pandang mereka pada penderitaan dan ketertindasan jasmani yang sedang mereka alami, dari sana lahirlah pengharapan akan cinta kasih Tuhan yang akan dikerjakan-Nya bagi mereka.
Rasul Paulus pun menegaskan secara tidak langsung, betapa bahayanya jika cara pandang hidup beriman hanya terarah pada hal-hal jasmani atau lahiriah. Cara beriman yang dibangun dengan dasar lahiriah akan memungkinkan seseorang untuk menjadi seseorang yang munafik dan pamrih, serta memiliki kesombongan diri dengan membanggakan apa yang seharusnya tidak pantas dimiliki oleh orang-orang beriman kepada Tuhan. Pentingnya laku hidup rohani, akan menjadikan kita dapat menyadari akan kebesaran Tuhan melalui anugerah keselamatan yang melampaui hal-hal jasmani atau materi. Sebagaimana yang telah ditunjukkan melalui peristiwa pengurapan minyak Narwastu oleh Maria, di mana dia tidak lagi mementingkan seberapa besar nilai dari minyak Narwastu yang dia pergunakan untuk meminyaki Yesus, diapun juga tidak memperhitungkan sebagai besar nilai perendahdiriannya di hadapan Tuhan. Karena ketika laku hidup beriman dan berspiritual yang didasari pada kasih itu memenuhi hidup manusia, nilai-nilai materi, jasmani atau lahiriah menjadi lebur di hadapan Tuhan.
Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silahkan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)
Pendahuluan
Dalam sebuah notasi musik, dikenal istilah tanda diam atau tanda istirahat. Tanda ini bergambar garis kecil tebal dan dibuat menurut durasinya, biasanya berupa ketukan. Tanda istirahat atau tanda diam digunakan untuk menunjukkan waktu jeda (diam) dalam sebuah karya musik. Seorang pemain musik, ketika melihat tanda istirahat, tidak perlu melakukan apapun tetapi ia tetap menghitung ketukan-ketukannya. Sama seperti not, tanda istirahat juga menunjukkan jumlah ketukan. Ada saat musik dimainkan, ada saat musik itu diam, itulah keseimbangan dan itulah bagian keindahan dalam sebuah alunan musik.
Masuk dalam suasana tenang dan hening akan memungkinkan kita dapat mengendalikan suasana batin. Tetapi hal itu bukanlah perkara yang mudah untuk dilakukan oleh setiap orang, terutama mereka yang rutinitas kesehariannya begitu padat. Rutinitas dan kebiasaan memang sangat memungkinkan bagi siapapun kehilangan “kesejatian diri” sebagai manusia yang diciptakan Tuhan dalam bentuk dua dimensi yang menyatu menjadi satu kesatuan, yaitu jasmani dan rohani. Ya, karena rutinitas, kita seringkali hanya memfokuskan diri pada satu dimensi, yaitu dimensi lahiriah atau jasmaninya saja.
Fokus pada dimensi lahirah/ jasmani dalam diri kita, pada akhirnya membentuk kita menjadi sosok yang sangat bergantung pada perkara indrawi: apa yang bisa dilihat, apa yang bisa disentuh, apa yang bisa didengarkan, apa yang bisa dikecap, pokoknya apa-apa saja yang bisa diindera. Itulah kenapa kebanyakan orang kemudian menjadi sosok yang sangat reaktif, emosional, dan dipenuhi dengan naluri-naluri kejahatan dalam dirinya. Jangankan untuk menyadari dan mensyukuri segala kebaikan Tuhan dalam hidup mereka, untuk dapat berbahagia atas hidupnya saja sangat sulit untuk mereka dapatkan. Segala berkat Tuhan hanya diukur dan baru bisa disadari ketika itu ada kaitannya dengan perkara-perkara jasmani.
Isi
Peristiwa pengurapan kaki Yesus yang dilakukan oleh Maria menggunakan minyak Narwastu dan adegan-adegan lain yang ditunjukkan oleh Penulis Injil Yohanes dalam bacaan kita hari ini, menolong kita untuk setidaknya membedakan bagaimanakah gambaran seseorang yang hidupnya hanya berfokus pada dimensi jasmani/ lahiriah dan seseorang yang mampu menyeimbangkan antar keduanya.
Maria tentu sangat mengetahui bahwa minyak Narwastu yang akan dia pergunakan untuk meminyaki kaki Yesus memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Jika Maria adalah seseorang yang hanya berfokus pada perkara lahiriah, dimana dia memperhitungkan nilai ekonomis dan nilai manfaat atas apa yang akan diperbuatnya kepada Tuhan Yesus, barangkali dia akan mengurungkan tindakannya itu. Akan tetapi, karena Maria telah mencapai keseimbangan diri, maka dia tidak lagi menilai apa yang dilakukannya kepada Yesus itu sebagai bentuk pemborosan atau sesuatu yang tidak berguna untuk dilakukan. Juga karena pencapaian keseimbangan itu, Maria mampu menyadari cinta kasih Tuhan Yesus dan berupaya untuk mewujudkan sikap mengasihi Tuhan dengan keseluruhan hidupnya. Tidak hanya minyak Narwastu yang mahal harganya itu yang dia berikan, bahkan harga diri sebagai seorang wanita yang hidup dalam budaya Yahudi seutuhnya pun dia tanggalkan dengan membuka penutup kepalanya – meminyaki kaki Yesus menggunakan rambutnya (hal yang tidak biasa dilakukan dalam tradisi Yahudi).
Berbeda dengan sikap yang ditunjukkan oleh Yudas Iskariot, salah seorang murid yang juga menjadi salah satu tamu dalam perjamuan tersebut. Yudas tidak dapat mencerna dan memahami dengan baik apa yang dilakukan Maria terhadap Tuhan Yesus dihadapannya, dia hanya berfokus pada sisi lahiriahnya saja. Dia menilai apa yang dilakukan oleh Maria adalah suatu tindakan pemborosan yang tidak berguna dan tidak perlu dilakukan. Dia beralasan bahwa minyak Narwastu yang memiliki harga mahal tersebut bisa diuangkan dan uangnya bisa dibagi-bagikan kepada orang yang membutuhkan. Sekalipun dasar pemikiran yang disampaikan Yudas adalah sesuatu yang nampaknya pantas untuk dipikirkan, tetapi karena seorang Yudas yang dipilih untuk menyampaikan, maka kita pun pantas curiga, apakah pertimbangan yang Yudas sampaikan itu benar-benar bersumber dari ketulusan hati? Nampaknya sama sekali tidak.
Yudas Iskariot (dan mungkin juga murid-murid yang lain) nampaknya hanya secara spontan saja mengucapkan itu. Melihat peristiwa itu, isi hatinya hanya dipenuhi dengan rasa keterkejutan, rasa malu, dan juga cemburu yang tidak mampu dikendalikan: kenapa justru seorang yang notabene orang luar (bukan murid Yesus), apalagi dia adalah seorang wanita, melakukan hal itu? Kenapa minyak narwastu yang begitu mahal harganya yang dipergunakan? Dan cara pandang lahiriah yang dia pergunakan untuk menilai persitiwa itu. Dia lupa atau bahkan tidak mau serta tidak mampu untuk melihat pada kedalaman makna atas apa yang diperbuat Maria kepada Tuhan Yesus.
Penutup
Menjalani cara hidup dan cara pandang yang seimbang antara jasmani dan rohani bukanlah perkara yang mudah untuk dilakukan, butuh usaha dan perjuangan yang keras untuk bisa mencapai titik itu. Sebagaimana apa yang telah disampaikan oleh Rasul Paulus dalam bacaan kita hari ini, bahwa dia sendiri juga mengakui jika dirinya belumlah sampai titik itu dan masih dalam situasi pertandingan atau perjuangan. Perjuangan untuk mencapai titik keseimbangan mungkin adalah proses seumur hidup. Tetapi jika kita mau tetap setia untuk berjuang, maka kita akan dimampukan untuk menjadi orang yang dipenuhi hikmat dan kebijaksanaan. Kita tidak lagi mengukur segala sesuatu yang terjadi di hadapan kita hanya berdasarkan pengamatan indrawi yang memungkinkan kita menjadi sosok yang sangat reaktif, emosional, dan bernaluri jahat terhadap sesama kita.
Dengan berjuang untuk mencapai titik keseimbangan itu pula, kita akan dimampukan untuk tidak hanya melihat berkat-berkat Tuhan dari segi lahiriah (materi) saja. Bahkan dalam kondisi semenderita dan terpuruk apapun, kita akan tetap mampu melihat wujud berkat Tuhan. Sebagaimana ajakan Nabi Yesaya kepada orang-orang Israel agar tetap mengingat segala kebaikan Allah yang telah dicurahkan pada bangsanya, percaya pada janji-janji yang diadakan Allah bagi bangsanya, dan memiliki dorongan untuk menjadi saksi-saksi karya keselamatan Allah itu pada suku-suku bangsa lain.
Selamat bertirakat dalam rangka menghayati minggu-minggu Paskah kita dengan setia berjuang mencapai titik keseimbangan hidup. Tuhan memberkati. Amin. [YEP].
Pujian: KJ. 400 Ku Daki Jalan Mulia
—
Rancangan Khotbah: Basa Jawi
Pambuka
Ing salebetipun notasi musik, kita mengertos bilih wonten lambang kendel utawi lambang ngaso sawetawis. Lambang punika kagambaraken garis kandel lan dipun ginakaken gumantung saking dangunipun kendel, biasanipun awujud ketukan. Lambang ngaso sawetawis utawi lambang kendel sawetawis punika dipun ginakaken kangge paring pratandha sela (kendel) ing salebetipun karangan lagu. Tumrap pemain musik, nalika ningali lambang ngaso kalawau kedah kendel sawetawis sinambi ngetang ketukan-ketukanipun. Kadosdene not, lambang ngaso sawetawis ugi mratelakaken cacahipun ketukan. Wonten kalamangsanipun musik kalawau dipun ungelaken, wonten kalamangsanipun musik kalawau mboten dipun ungelaken, punika ingkang kasebat keseimbangan lan karana seimbang kalawau ndadosaken tambahing endah ing satengah-tengahing musik.
Lumebet ing swasana sidhem lan anteng ndadosaken kita saged ngemudheni swasana batin. Ananging prekawis punika sanes prekawis ingkang saged dipun tindhakaken kanthi gampil dening tiyang kathah, mliginipun tumrap tiyang-tiyang ingkang nggadahi rutinitas padintenan ingkang padet. Rutinitas lan kalumrahanipun tiyang saestu saged ndadosaken tiyang-tiyang kalawau kecalan “jatining gesang” minangka manungsa ingkang dipun titahaken Gusti awujud manunggaling kajasmanen lan karohanen. Nggih, karana rutinitas, kita asring sanget nengenaken dhiri namung dhateng prekawis kajasmanen kemawon.
Nengenaken kajasmanen wonten ing salebeting gesang saged ndadosaken gesang kita dados gesang ingkang namung caket kaliyan prekawis panca indra: punapa ingkang saged dipun tingali, punapa ingkang saged dipun cepeng, punapa ingkang saged dipun pirengaken, punapa ingkang saged dipun kecapi, punapa ingkang saged kita gayuh ngginakaken panca indra kita. Limrah bilih lajeng kathah tiyang ingkang sami dados tiyang ingkang grusa-grusu (reaktif), gampang gregeten, lan dipun kebaki wewatekan awon ing salebetipun gesang. Mboten saged nggadahi kesadaran lan raos sokur tumrap sedaya kasaenanipun Gusti ing salebetipun gesang, ugi ewed sanget ngraosaken kabingahanipun gesang. Sedaya berkahipun Gusti namung dipun ukur lan dipun sadari bilih berkah punika namung gegayutan kaliyan prekawis kajasmanen.
Isi
Prastawa jinebadan Panjenenganipun Gusti Yesus ingkang dipun tindakaken dening Maryam ngginakaken lisah Jebad (Narwastu) lan ugi prastawa-prastawa sanesipun ingkang dipun pratelakaken dening Injil Yokanan wonten ing waosan dinten punika, saged paring pambiantu tumrap kita supados nggadahi gegambaran kados pundi bentenipun tiyang ingkang gesangipun namung nengenaken prekawis kajasmanen lan tiyang ingkang saged mranata kanthi imbang kekalihipun.
Maryam tamtunipun mengertosi bilih lisah Jebad (Narwastu) ingkang badhe dipun ginakaken kalawau nggadahi regi ingkang saestu awis. Bilih Maryam kalebet tiyang ingkang namung nengenaken prekawis kajasmanen, ing pundi piyambakipun etang-etangan bab regi lan gina tumrap punapa ingkang badhe katindhakaken dhateng Gusti Yesus, menawi kemawon piyambakipun mboten sios nyebadi Panjenenganipun Gusti Yesus rikala semanten. Ananging karana Maryam sampun saged dumugi titik keseimbangan dhiri, matemah piyambakipun mboten ningali malih, punapa ingkang badhe dipun tindhakaken kalawau minangka tumindhak ngebreh-ngebreh arta ingkang mboten gina. Ugi karana sampun dumugi titik keseimbangan kalawau, Maryam saged nggadahi kesadaran bab katresnanipun Gusti Yesus Kristus lan ngupadi supados saged nglairaken katresnanipun dhateng Panjenenganipun ngginakaken sawetahing gesang. Mboten anamung lisah Jebad ingkang reginipun awis ingkang dipun pisungsungaken, ananging ugi kaurmatan gesangipun minangka tiyang estri wonten ing satengah-tengahing budaya Yahudi ingkang dipun paringaken kanthi nguwalaken tutuping sirahipun – njebadi Panjenenganipun Gusti ngginakaken rikmanipun (punika sanes prekawis ingkang limrah ingkang dipun tindhakaken ing tradisi Yahudi).
Ananging saestu benten kaliyan tumindhakipun Yudas Iskariot, satunggalinipun sakabat ingkang ugi dados satunggaling tamu wonten ing suruhan pambujanan punika. Yudas mboten saged nggayuh lan mangertosi kanthi sae punapa ingkang dipun tindhakaken dening Maryam dhumateng Gusti Yesus ing ngajengipun. Piyambakipun namung nengenaken bab kajasmanen kemawon. Yudas mastani punapa ingkang dipun tindhakaken dening Maryam punika namung tumindhak ngebreh-ngebreh arta ingkang mboten nggadahi gina babar pisan lan tumindhak punika mboten kedah dipun tindhakaken. Piyambakipun ngginakaken dhasar pangertosan, bilih lisah Jebad kalawau saged dipun sade lan arta sadeanipun saged dipun dum-dumaken dhateng tiyang-tiyang ingkang mbetahaken. Sanaosna dhasar pengertosan kalawau katingal sae, ananging karana Yudas ingkang ngaliraken, matemah kita saged nggadahi raos curiga: punapa aturipun Yudas kalawau saestu kalairaken saking manah ingkang tulus? Katingalanipun kok mboten.
Yudas Iskariot (ugi para sakabat sanesipun) katingalanipun namung sacara dumadakan kemawon nglairaken tembung punika. Ningali prastawa punika, lebetipun manah Yudas Iskariot kebak kaliyan raos kaget, raos isin, ugi meri ingkang mboten saged dipun kendhaleni: kenging punapa tiyang sanes ingkang nindhakaken prekawis punika, punapa malih tiyang sanes punika namung tiyang estri (ingkang miturut tradisi Yahudi kelas nomer kalih katimbang tiyang jaler). Kenging punapa lisah Jebad (Narwastu) ingkang awis reginipun ingkang dipun ginakaken? Namung paningal kajasmanen kemawon ingkang dipun ginakaken kangge ngukur prastawa punika. Piyambakipun kesupen, malah kepara mboten saged lan mboten purun ningali kanthi lebet punapa sejatosipun ingkang dipun tindhakaken dening Maryam dhumateng Gusti Yesus.
Panutup
Nglampahi gesang ngginakaken paningal ingkang imbang antawisipun kajasmanen lan karohanen punika sanes prekawis ingkang gampil dipun tindhakaken, mbetahaken pangupadi lan perjuangan ingkang tuhu supados saged dumugi titik punika. Kadosdene punapa ingkang dipun ngendikakaken dening Rasul Paulus wonten ing salebetipun waosan dinten punika, bilih piyambakipun ugi taksih wonten ing salebetipun pangupadi lan perjuangan kangge mujudaken bab punika. Perjuangan kangge dumugi titik keseimbangan punika menawi kemawon dados pangupadi sakdangunipun gesang. Ananging bilih kita purun nggadahi kasetyan kangge merjuangaken, matemah kita kasagedaken dados tiyang ingkang dipun kebaki kaliyan kawicaksanan lan kalimpadan. Kita mboten malih ngukur sedaya ingkang kalampahan ing ngajeng kita namung ndamel ukuran panca indra ingkang ndadosaken kita grusa-grusu, gampil nesu, lan dipun kebaki wewatekan awon dhateng sesami kita.
Kanthi merjuang supados saged dumugi ing titik keseimbangan, kita ugi kasagedaken ngrasosaken berkah-berkahipun Gusti boten anamung sacara kajasmanen kemawon. Malah lanngkung-langkung ing salebeting kahanan prihatos lan dhawah kados punapa kemawon, kita tansah saged ningali wujud berkahipun Gusti ing gesang kita. Kadosdene dhawuhipun Gusti Allah lumantar Nabi Yesaya dhateng bangsa Israel supados bangsa punika tansah emut tumrap bekah-berkahipun Sang Yehuwah ingkang sampun dipun tumrahken lan ugi tansah nggadahi krenteg dados para seksi tumrap pakaryan kawilujenganipun Sang Yehuwah punika dhateng bangsa-bangsa sanesipun. Sugeng nglampahi tirakat ing salebeting reraosan minggu-minggu Paskah kanthi setya merjuangaken kangge dumugi titik keseimbanganipun gesang. Gusti tansah paring berkah. Amin. [YEP].
Pamuji: KPJ. 396 Siyang Dalasan Ratri