Menjadi Murid Kristus Khotbah Minggu 10 April 2022

28 March 2022

Minggu Palmarum
Stola Merah

Bacaan 1:
Bacaan 2:
Bacaan 3:
Lukas 19 : 28 – 40

Tema Liturgis: Setialah dalam Kasih hingga Paripurna
Tema Khotbah: Menjadi Murid Kristus

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Lukas 19 : 28 – 40
Dalam Injil Lukas, perjalanan Yesus menuju Yerusalem adalah jalan searah yang digunakan sebagai alur utama dari narasi keseluruhan Injilnya. Lukas berkali-kali menunjukkan bahwa peran Yerusalem bukan hanya sekedar “tujuan perjalanan”, melainkan “tujuan pelayanan” Yesus (lih. 9:31,51,53; 13:22,33-34; 17:11; 18:31-34). Pembaca Lukas saat itu memahami benar bahwa Yerusalem adalah pusat kekuasaan para politisi dan elit agama Yahudi di Palestina. Yerusalem memiliki dua sisi, ia adalah kota suci dimana rumah doa berada namun sekaligus sarang bagi para penyamun (Ay. 46). Yerusalem inilah latar tempat dimana karya pelayanan Yesus mencapai puncaknya.

Di awal perikop, Lukas kembali mengingatkan pembacanya tentang keutamaan kota suci dengan menggambarkan bahwa Yesus berjalan sendirian, mendahului para murid-Nya menuju Yerusalem (Ay. 28). Bahkan Lukas menambahkan unsur dramatis dengan menandai secara khusus tempat-tempat terakhir sebelum Yesus benar-benar memasuki Yerusalem: Yerikho, Betfage, Betania, dan akhirnya Bukit Zaitun. Lukas bahkan menyebut Bukit Zaitun sebanyak dua kali (Ay. 29 dan 37), tentu ini bukanlah sebuah kebetulan, karena dalam ingatan kolektif orang Yahudi waktu itu, dataran tinggi (gunung dan bukit) selalu dikaitkan dengan pengharapan Mesianik. Narasi berlanjut dengan adegan dimana Yesus meminta dua orang dari murid-Nya untuk mengambil keledai muda di sebuah kampung (Ay. 28-34). Lukas tidak memberikan data khusus mengenai siapa dua orang murid itu dan kampung mana yang dimaksudkan oleh Yesus. Namun, Lukas memberikan data detil mengenai keledai, pemiliknya dan apa yang harus dikatakan oleh dua orang murid tadi. Nampaknya keledai menjadi simbol yang lebih penting bagi Lukas, sehingga ia memberikan data spesifik: “keledai muda tertambat dan belum pernah ditunggangi orang” (Ay. 30). Dalam bagian ini, apa yang dilakukan oleh pemilik keledai sangat menarik, pada dasarnya ia memang berhak menanyai dua orang asing yang tiba-tiba melepaskan keledai miliknya. Namun, saat pertanyaannya dijawab: “Tuhan memerlukannya” oleh para murid, sang pemilik melepaskan keledai itu. Kita memang tidak tahu kondisi ekonomi dari pemilik keledai itu, apakah ia kaya raya atau malah sebaliknya, namun Lukas ingin menunjukkan sikap dan responnya. Ia melepas keledai itu tanpa banyak bertanya lagi, karena Tuhan memerlukannya. Ia mungkin tak sepenuhnya bisa mengerti apa yang sedang terjadi, ia tak tahu apakah keledainya akan dikembalikan, namun ia memilih untuk memberikan apa yang dimilikinya. Demikianlah, sang pemilik keledai menjadi bagian dari sejarah karya penyelamatan Sang Anak Manusia.

Selama perjalanan-Nya menuju Yerusalem, Yesus selalu berjalan kaki. Namun, saat hanya tinggal beberapa kilometer lagi, Dia justru dengan sengaja ingin masuk dengan mengendarai keledai (Ay. 35-36). Nampaknya Lukas ingin menunjukkan bagaimana prosesi ini bercorak mesianik berdasarkan Kej. 49:11 dan Zak. 9:9 yang menggambarkan kedatangan Raja Israel dengan mengendarai keledai. Menurut beberapa sumber, di masa-masa damai, seorang raja memang tidak mengendarai kuda melainkan keledai. Corak mesianik ini semakin diperkuat dengan tindakan dan perkataan para murid yang berinisiatif mengklaim Yesus sebagai Mesias, Anak Daud, raja Israel (Ay. 37-38). Masalahnya, meski Yesus masuk Yerusalem dengan damai, klaim bahwa Ia adalah Mesias, dianggap sebagai ancaman serius pada Pax Romana. Karena itulah orang Farisi meminta agar Yesus menegur para murid-Nya (Ay. 39-40).

Dalam narasi ini kita dapat melihat bahwa Yesus tahu benar, bahwa perjalanan-Nya ke Yerusalem berarti perjalanan menuju penggenapan karya penyelamatan Ilahi. Dengan memasuki Yerusalem, Yesus bukan hanya “pulang” ke rumah Bapa-Nya, namun Ia juga “menantang” hegemoni politis dan teologis di sana. Kita semua tahu akhir ceritanya: Yesus mati. Meski demikian, perjalanan ke Yerusalem ini bukanlah kebetulan atau tindakan bunuh diri. Dengan kesadaran dan kebebasan penuh, Yesus memilih jalan salib-Nya. Ia tidak sekedar diperintahkan Sang Bapa untuk mati, namun Yesus yang memilih via do lorosa sebagai bukti kasih-Nya pada Bapa dan manusia.

Inti Bacaan:
Jalan menuju Yerusalem adalah jalan iman yang dipilih Yesus. Sebenarnya, Dia bisa saja menghindari jalan yang susah demi jalan lain yang lebih mudah. Namun, Yesus memilih via dolorosa sebagai bukti cinta-Nya. Dalam jalan menuju Yerusalem inilah, Dia juga mengundang tiap orang untuk terlibat. Para murid, orang banyak, dan pemilik keledai sudah merespon untuk menjalani jalan yang sama. Memang ada bahaya, namun mereka tetap setia.

 

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silahkan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)

Pendahuluan
Dietrich Bonhoeffer adalah seorang pendeta Lutheran berkebangsaan Jerman. Ia adalah seorang teolog cemerlang yang telah menghasilkan berbagai tulisan luar biasa dan mempelopori riset lintas ilmu yang menghubungkan teologi sistematika dan sosiologi. Dia berasal dari keluarga yang tidak terlalu religius, justru dia sudah memiliki ketertarikan pada ilmu teologi dan ingin menjadi pendeta sejak masa remajanya. Benar saja, begitu menjadi mahasiswa teologi, dia langsung menjadi akademisi yang handal. Segera setelah dia menyelesaikan pendidikan doktoralnya di Universitas Berlin di usia 24 tahun, dia berkesempatan pergi ke luar negeri untuk memperluas wawasan teologisnya. Beberapa saat sebelum perang pecah, dia berada di Amerika dengan tawaran menjadi Profesor di salah satu Sekolah Teologi top di sana. Tentu ini adalah kesempatan emas bagi Bonhoeffer muda, dia memiliki semua kemampuan untuk menjadi teolog besar dan memiliki kesempatan untuk tetap aman dari perang di negerinya. Namun, di negeri asalnya ketidakadilan dan pelanggaran terhadap kemanusiaan tengah terjadi. Kanselir Jerman, Hitler mengembangkan kultus pemberhalaan dan mencari pembenaran untuk melakukan genosida terhadap orang-orang Yahudi. Bonhoeffer bisa saja menyelamatkan dirinya sendiri dengan tetap berada di Amerika, tapi tidak, dia melihat bahaya pemerintahan Nazi dan memutuskan untuk pulang.

Di Jerman, dia aktif bergerak sebagai oposisi, dia mengingatkan gereja untuk melawan ketidakadilan dan bahkan mendirikan gereja sendiri karena merasa gereja-gereja saat itu terlalu lemah dalam menghadapi ideologi Nazi. Meski dia tahu benar tindakannya sedang diawasi otoritas berwenang, Bonhoeffer tetap melakukan berbagai seminar secara tersembunyi. Bahkan, di masa-masa sulit itu, dia juga menerbitkan sebuah tulisan luar biasa: “The Cost of Discipleship” (Harga sebuah Pemuridan) yang membahas tentang Khotbah di Bukit dan apa artinya menjadi pengikut Kristus. Dalam usahanya itu, memang dia pernah gagal. Dia pernah “lari” ke London dan mengalami hidup yang lebih aman di sana, namun dia merasa harus kembali untuk merespon panggilannya. Setelahnya, Bonhoeffer mulai merasa pikiran dan perkataan perlu diikuti dengan tindakan nyata sebagai murid Kristus. Karena itulah, dia bergabung dalam gerakan perlawanan terhadap Hitler. Dia tidak hanya melawan dengan buah pikiran, namun juga turut membantu orang-orang Yahudi melarikan diri ke Swiss. Inilah sebab, Bonhoeffer lalu ditangkap, dipenjara, dan dihukum gantung hanya tiga minggu sebelum perang berakhir. Demikianlah, salah seorang teolog besar dalam sejarah pernah memilih jalannya sebagai murid Kristus. Bukan jalan yang nyaman dan aman, tapi justru jalan ketidakpastian.

Isi
Jalan ketidakpastian yang sama, telah lebih dulu dipilih oleh Tuhan Yesus jauh sebelum Dietrich Bonhoeffer. Dalam relasi Trinitaris, jelas bahwa Dia bukan sekedar “wayang” yang didalangi Bapa-Nya. Yesus berkarya dalam kebebasan-Nya sebagai Anak Allah. Sebenarnya, Yesus bisa saja menyimpang dari jalan itu dan memilih jalan lainnya. Dia bisa meminimalisir resiko dan menjalani hidup yang lebih nyaman dan aman. Tapi hampir keseluruhan narasi dalam Injil Lukas adalah penggambaran tentang perjalanan Yesus menuju Yerusalem, jadi bagi Yesus perjalanan menuju Yerusalem adalah perjalanan karya penyelamatan bagi manusia yang dikasihi-Nya. Jika Yerusalem adalah puncak karya-Nya, tidak heran jika Yesus memilih cara masuk kota yang sedikit dramatis dan menggunakan simbol sarat makna.

Dengan sengaja, Yesus mengatur agar bisa masuk kota dengan mengendarai keledai. Keledai tersebut bukanlah sembarang keledai, namun keledai muda bernilai yang diserahkan oleh seorang pemilik yang rela hati. Pemilik keledai itu memang sempat menanyai dua orang murid yang tiba-tiba melepaskan tambatan keledainya, namun jawaban “Tuhan memerlukannya” cukup membuatnya menyerahkan apa yang menjadi miliknya. Demikian juga para murid lain, yang merelakan jubahnya untuk mengalasi punggung keledai dan menghamparkannya di jalan yang dilalui Yesus. Perkataan dan tindakan itu jelas mengindikasikan bahwa para murid percaya kemesiasan Yesus, bahwa Yesuslah Sang Raja yang dinanti-nantikan itu. Nampaknya dalam jalan menuju Yerusalem ini, Yesus juga mengundang orang-orang yang dikasihi dan mengasihi-Nya untuk turut ambil bagian. Mereka sudah merespon dengan memberikan dirinya dan apa yang ada padanya. Mereka memutuskan untuk terus ada dalam proses pemuridan bersama Yesus dan turut Dia dalam jalan menuju Yerusalem itu.

Saudara-saudara yang terkasih, jalan menuju Yerusalem, jelas adalah jalan yang berbahaya dan beresiko. Dengan berjalan ke Yerusalem, Yesus sedang menantang para politisi dan para elit Yahudi, Dia menantang hegemoni. Meski demikian, jalan ini bukanlah jalan bunuh diri tanpa perhitungan. Ini adalah jalan pilihan berdasar kesadaran. Yesus tahu diri-Nya akan sengsara, namun karena cinta-Nya pada manusia, Dia memilih via dolorosa-Nya.

Penutup
Saudara-saudara yang terkasih, Rancangan Khotbah ini ditulis pada masa dimana berita duka datang tanpa jeda, karena gelombang kedua Covid-19 varian delta. Masa dimana tidak banyak pilihan yang kita punya, bisa tetap bertahan dan tetap sehat saja sudah sangat bersyukur. Semoga saat Rancangan Khotbah ini digunakan kondisinya sudah menjadi lebih baik. Namun jika tidak, itu berarti hari ini adalah Minggu Palma kita yang ketiga, yang harus kita hayati dengan segala keterbatasan perjumpaan nyata dengan memperkuat persekutuan melalui perjumpaan melalui dunia maya. Dalam masa-masa sulit yang sudah, tengah, dan (mgunkin) akan kita lalui ini, apakah kita masih setia hidup sebagai murid Kristus?

Dietrich Bonhoeffer bukan hanya menulis buku tentang pemuridan (discipleship) namun juga mewujudkannya dalam tindakan. Bonhoeffer sadar, tidak cukup hanya menjadi murid Yesus dalam pikiran dan ucapan, namun juga perlu dalam tindakan. Meski jalannya berbahaya, dia yakin jalan itu via dolorosa yang harus dijalaninya sebagai murid Kristus. Tentu pilihan yang dibuat Bonhoeffer terinspirasi dari Sang Guru Agung yang telah memilih via dolorosa-Nya. Sebagaimana Yesus mengundang pemilik keledai, para murid, dan orang banyak saat itu, Dia juga mengundang kita untuk ambil bagian dalam jalan menuju Yerusalem itu. Bersediakah kita? Amin. [Rhe].

The disciple only looks to his master, never to Christ and the law,
Christ and religion, Christ and the world. Only by following Christ
alone can he preserve a single eye.
(Dietrich Bonhoeffer)

Pujian: KJ. 375 Saya Mau Ikut Yesus


Rancangan Khotbah: Basa Jawi

Pambuka
Dietrich Bonhoeffer punika pendita Lutheran piyantun Jerman. Piyambakipun punika kasuwur minangka teolog ingkang kawogan, ingkang sampun ngasilaken mawerni-werni seratan ingkang luar biasa. Piyambakipun ugi ingkang miwiti riset ilmu ingkang ngubungaken teologi sistematika kalian sosiologi. Sanajan brayatipun Bonhoeffer punika sanes saking brayat ingkang religius, nanging Bonhoeffer remen anggenipun sinau ilmu teologi lan kagungan pepenginan dados Pendita wiwit mangsa remajanipun. Mila, nalika piyambakipun dados mahasiswa teologi, piyambakipun langsung dados akademisi ingkang kawogan. Sak sampunipun, Bonhoeffer ngrampungaken pendidikan doktoralipun ing Universitas Berlin, ing yuswa 24 taun, piyambakipun kaparingan kesempatan kangge sinau ilmu teologi malih wonten negara manca. Sak derengipun perang donya pecah, Bonhoeffer ingkang wonten Amerika dipun paring tawaran dados Profesor ing salah setunggaling sekolah teologi ingkang paling sae ing Amerika punika. Tamtunipun punika kesempatan emas kangge Bonhoeffer dados teolog ingkang agung lan kagungan kesempatan tetep aman saking ancaman perang ing negerinipun. Nalika semanten wonten Jerman kelampahan tumindak boten adil lan pelanggaran tumrap kamanungsan. Kanselir Jerman nalika semanten, Hitler nindakaken genosida (mejahi tiyang sacara masal) dhateng tiyang-tiyang Yahudi. Mangertos kahanan ingkang mekaten punika, Bonhoeffer saged kemawon pados kawilujenganipun piyambak sarana tetep wonten Amerika, nanging punika boten dipun tindakaken. Bonhoeffer mutusaken wangsul dhateng Jerman, ningali tumindak pemrentah Nazi punika.

Wonten ing Jerman, Bonhoeffer aktif minangka oposisi/ lawan pamrentah. Piyambakipun ngengetaken dhateng greja kangge nglawan tumindak ingkang boten adil punika. Boten namung punika kemawon, Bonhoeffer ugi ngadekaken greja piyambak, karana piyambakipun rumaos bilih greja-gereja nalika semanten boten wonten ingkang wantun ngadepi ideologi Nazi. Bonhoeffer sadar saking punapa ingkang dipun tindakaken punika, piyambakipun dipun awasi dening pamrentah Nazi. Sanajan mekaten, Bonhoeffer tetep ngawontenaken seminar sacara singitan. Ing mangsa ingkang ewet punika, piyambakipun taksih saged nyerat tulisan: “The Cost of Discipleship” (Harga Sebuah Pemuridan) ingkang isinipun bab Khotbah ing Redi lan punapa tegesipun dados panderekipun Sang Kristus. Ing salebeting pangupaya punika, Bonhoeffer nate gagal. Piyambakipun nate “mlajeng” dhateng London lan ngraosaken gesang ingkang langkung aman ing ngrika. Nanging piyambakipun rumaos kedah wangsul dhateng negarinipun malih awit saking timbalan gesangipun. Bonhoeffer ngraosaken bilih pamikiran lan pitembungan punika kedah dipun lajengaken sarana tumindak nyata minangka sakabatipun Sang Kristus. Karana punika, piyambakipun lajeng gabung kalian gerakan perlawanan tumrap Hitler. Piyambakipun mboten namung nglawan ngangge pamikiranipun kemawon, nanging ugi nderek nulungi tiyang-tiyang Yahudi ingkang mlajeng dhateng Swiss. Punika ingkang dados sebabipun, Bonhoeffer dipun tangkep, dipun kunjara, lan dipun ukum gantung, tigang minggu sakderengipun perang bibar. Mekaten, salah setunggaling teolog agung ing sejarah ingkang milih margi gesangipun minangka sakabatipun Sang Kristus. Sanes margi ingkang nyaman lan aman, ananging margi ingkang boten pasti.

Isi
Margi ingkang boten pasti punika langkung rumiyin dipun piji dening Gusti Yesus sakderengipun Dietrich Boenhoffer. Ing salebeting relasi Trinitaris nedahaken bilih Gusti Yesus sanes “wayangipun” Gusti Allah Sang Rama. Gusti Yesus punika makarya kanthi bebas minangka Putraning Allah. Gusti Yesus saged kemawon nyimpang saking margining Gusti Allah Sang Rama lan milih margi sanesipun. Panjenenganipun saged kemawon nebihi resiko kasangsaran lan nglampahi gesang ingkang langkung nyaman lan aman. Ananging ing sedaya narasi Injil Lukas paring gambaran lampahing Gusti Yesus tumuju dhateng Yerusalem. Kagem Gusti Yesus, lampahipun tumuju Yerusalem punika lampahing pakaryanipun kangge kawilujenganipun manungsa ingkang dipun trenani. Bilih mlebet kutha Yerusalen punika dados puncak pakaryanipun, mila boten gumun bilih Gusti Yesus mlebet kutha Yerusalem punika sacara dramatis lan migunaaken simbol ingkang kebak tegesipun.

Sacara sengaja Gusti Yesus ngatur supados saged mlebet ing kutha Yerusalem srana nitih kuldi. Kuldi punika sanes kuldi sembarangan, kuldi punika dipun pasrahaken dening ingkang kagungan kuldi punika kanthi ikhlas. Tiyang ingkang kagungan kuldi punika atur pitaken dhateng kalih sakabatipun Gusti ingkang ngeculaken kuldi punika saking papanipun. Kalih sakabat punika mangsuli “Gusti ngersakaken”, lajeng tiyang ingkang kagungan kuldi punika masrahaken kuldinipun dhateng para sakabat punika. Mekaten ugi para sakabat sanesipun sami ngaturaken jubahipun kangge alasipun kuldi punika lan kangge alasing margi ingkang dipun langkungi Gusti Yesus. Pangandikan lan tumindak punika nedahaken bilih para sakabat pitados dhateng kamesiasanipun Gusti Yesus, pitados bilih Gusti Yesus punika Prabu ingkang dipun anti-anti. Ing sauruting margi tumuju dhateng Yerusalem punika, Gusti Yesus ngundang para tiyang ingkang dipun tresnani lan ingkang nresnani Panjenganipun. Para tiyang punika ingkang nanggepi lan ngaturaken dirinipun punapa wontenipun dhumateng Gusti Yesus. Para tiyang punika mutusaken tansah wonten ing salebeting proses pemuridan sinarengan Gusti Yesus lan nderek Panjenenganipun tumuju dhateng Yerusalem.

Para sederek ingkang dipun tresnani dening Gusti, margi tumuju dhateng Yerusalem punika kebak bebaya lan resiko. Sarana tindak dhateng Yerusalem, Gusti Yesus wantun nantang para politisi lan para elit Yahudi. Gusti Yesus nantang hegemoni. Senajan mekaten punika, boten ateges tumindak punika tumindak bunuh diri tanpa etangan. Tumindak punika tumindak ingkang dipun pilih Gusti Yesus kanthi sadar. Gusti Yesus mangertosi bilih Panjenenganipun badhe nandhang kasangsaran, ananging awit saking katresnanipun dhateng manungsa, Panjenenganipun milih via dolorosa-Nipun.

Panutup
Rancangan Khotbah punika kaserat ing mangsa gelombang Covid-19 ingkang kaping kalih (varian Delta), ing pundi pawartos lelayu boten wonten mandegipun. Mangsa ing pundi kita boten kagungan kathah pilihan, saged tahan lan tetep sehat kemawon, kita sampun saos sokur. Mugi nalika Rancangan Khotbah punika dipun ginaaken, kahanan ing lingkungan kita sampun langkung sae. Nanging bilih boten, dinten punika ateges Minggu Palma ingkang kaping tiga, ingkang kita lampahi sarana kahanan ingkang sarwa kawates awit kita mangun patunggilan kita kalian para sederek kita lumantar donya maya. Salebeting mangsa-mangsa ewet ingkang sampun, tengah, lan mbok menawi badhe kita lampahi punika, punapa kita taksih gesang kanthi setya dados sakabatipun Sang Kristus?

Dietrich Bonhoeffer punika boten namung nyerat buku bab pemuridan kemawon, ananging ugi mujudaken lumantar tumindak gesangipun. Bonhoeffer sadar, boten cekap dados sakabatipun Gusti Yesus namung ing pamikiran lan pangucap kemawon, nanging ugi kedah wonten tumindak. Senajan kedah nglangkungi margi ingkang kebak bebaya, piyambakipun yakin margi via dolorosa punika kedah dipun lampahi minangka sakabatipun Sang Kristus. Tamtunipun pilihan Bonhoeffer punika pinangkanipun saking Gusti Yesus ingkang sampun paring tuladha milih margi via dolorosa. Kados dene Gusti Yesus ingkang ngundang tiyang ingkang kagungan kuldi, para sakabat, lan tiyang katah, wekdal punika, Gusti Yesus ugi ngundang kita mendet bagian ing salebeting margi tumuju kutha Yerusalem. Punapa kita sumadya? Amin. [terj. AR].

 

Pamuji: KPJ. 262 Kwaosing Asma Paduka

Renungan Harian

Renungan Harian Anak