Minggu Pra Paskah 4
Stola Ungu
Bacaan 1: Yosua 5: 9 –12
Bacaan 2: 2 Korintus 5: 16 –21
Bacaan 3: Lukas 15: 1 – 3, 11b – 32
Tema Liturgis: Bertirakat sebagai Jalan Memperbarui Panggilan dan Iman
Tema Khotbah: Menanggapi Kasih Pendamaian dari Allah
Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
Yosua 5 : 9 – 12
Dalam memahami Yosua 5:9-12 tidak bisa dilepaskan dari peristiwa sebelumnya yaitu pada pasal 4 dan pasal 5 secara keseluruhan. Pada pasal 4, kita bisa melihat bahwa bangsa Israel harus menyeberangi sungai Yordan. Peristiwa ini seperti mengulang peristiwa Musa membawa bangsa Israel menyeberangi laut Teberau. Tuhan mengeringkan Laut Teberau dan demikian Tuhan juga mengeringkan sungai Yordan bagi bangsa Israel (Yos. 5:1). Hal ini menegaskan penyertaan Tuhan kepada bangsa Israel tidak pernah berubah.
Penyertaan Allah terhadap Musa dan Yosua adalah sama, Perjanjian antara Allah dan Musa itu seperti diulang kembali kepada Yosua. Bangsa Israel juga melakukan sunat di bukit Khatan (Yos. 5:2,3). Sunat adalah lambang perjanjian antara Allah dan umat-Nya Israel yang pernah diikat-Nya melalui Musa. Bangsa Israel juga makan Paskah di Gilgal, peristiwa ini seperti mengulang peristiwa Paskah di Mesir yang menandai keselamatan dan pembebasan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir. Dalam bacaan kita ini pembebasan dan keselamatan itu ditandai dengan Firman Allah: “Hari ini telah Kuhapuskan cela Mesir itu dari padamu.” (Yos. 5:9). Jika Allah memelihara bangsa Israel pada zaman Musa dengan roti Manna, maka kini Manna telah berhenti dan digantikan dengan makanan dari tanah Kanaan. Pengulangan peristiwa ini ingin menegaskan bahwa kasih Allah tidak pernah berubah kepada umat-Nya yang mengikat setia dengan-Nya. Ini adalah sebuah harapan baru bagi bangsa Israel generasi Yosua daripada generasi Israel di padang gurun yang sering berbuat dosa. Ini seperti sebuah pembaharuan perjanjian. Allah mengikat setia kepada bangsa Israel, demikianlah sebaliknya diharapkan terjadi. Kini dua pihak yang saling mengasihi itu memiliki harapan baru.
2 Korintus 5 : 16 – 21
Pada ayat 18 kata pendamaian yang dipakai adalah dari kata Yunani katallage yang mengandung arti bahwa pendamaian mencakup arti bahwa dua pihak sekarang telah didamaikan, tadinya berlawanan atau berseteru . (https://alkitab.sabda.org/dictionary.php?word=DAMAI,+PENDAMAIAN).
Jadi pendamaian ini benar-benar memulihkan hubungan dua pihak yang berseteru menjadi baik kembali. Rusaknya hubungan manusia dengan Allah dipicu oleh kesalahan atau dosa manusia. Kondisinya membaik kembali karena kasih yang diberikan Allah melalui Yesus Kristus. Yang telah didamaikan oleh Allah adalah ciptaan baru yang kehidupannya yang lama telah berlalu, artinya yang rusak itu telah digantikan dengan relasi yang baru.
Namun kondisi pendamaian itu bukanlah tanpa proses, Paulus mengulang dan memberikan tekanan bahwa Tuhan telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepadanya dan rekan-rekan sepelayanannya. Melalui pemberitaan tentang kasih Yesus yang mendamaikan manusia dan Allah, maka proses pendamaian itu terjadi dari dua arah, dari sisi Allah yang menganugerahkan pendamaian dan dari sisi manusia yang menerima pendamaian itu. Gereja pada masa kini bertanggung jawab untuk menjadi tempat terjadinya proses pendamaian antara Allah dan manusia.
Namun seringkali proses pemberitaan pendamaian ini bisa terganjal dengan siapakah yang menyampaikannya. Paulus memberi tekanan berulang-ulang bahwa ia layak juga memberitakannya meskipun secara fisik ia tidak pernah bertemu dengan Yesus (Ay. 18, 20). Pergumulan gereja masa kini juga demikian status dan latar belakang pelayan (strata sosial, pendidikan, suku) menjadi lebih penting ketimbang proses pemberitaan pendamaian dengan Allah itu sendiri.
Lukas 15 : 1 – 3, 11b – 32
Dalam ayat 1-3, kita dapat melihat dengan jelas betapa pentingnya latar belakang status bagi orang-orang Farisi. Sudut pandang ini sangat berbeda dengan Yesus yang justru hadir untuk mencari yang berdosa. Memang benar ketika manusia hidup dalam dosa ia melakukan perbuatan yang egois berpotensi merugikan orang lain dan bisa mendorongnya masuk dalam penderitaan, seperti anak bungsu.
Kasih Allah tak berubah kepada anak-anak-Nya meskipun mereka sudah sangat berdosa, seperti gambaran Bapa dari anak bungsu tersebut. Gambaran Yesus mengenai tanggapan bapa itu terhadap kembalinya anak tersebut mengajarkan beberapa kebenaran penting:
- Allah mempunyai belas kasihan bagi yang hilang oleh karena keadaan mereka yang menyedihkan.
- Kasih Allah bagi mereka begitu besar sehingga Ia tidak putus-putusnya bersedih hati atas mereka dan menunggu mereka kembali kepada-Nya.
- Ketika orang berdosa dengan tulus hati kembali kepada Allah, maka Allah pun sudah siap untuk menerima mereka dengan pengampunan, kasih, belas kasihan, kasih karunia, dan mengaruniakan hak penuh sebagai anak yang sah (bdk. Yoh. 1:12). Berbagai manfaat kematian Kristus, pengaruh Roh Kudus, dan kekayaan kasih karunia Allah, semuanya tersedia bagi mereka yang mencari Allah.
- Tak terhinggalah sukacita Allah atas kembalinya orang berdosa. (Sumber https://alkitab.sabda.org/commentary.php?passage=Luk%2015:11-32)
Sikap ini bertentangan dengan sikap orang-orang Farisi dan kisah ini sebenarnya merupakan sindiran kepada mereka. Dengan hadirnya tokoh anak sulung yang menggambarkan posisi orang-orang Farisi, yang mengkritik sikap Yesus kepada orang-orang berdosa itu. Mereka seharusnya sebagai anak sulung yang merayakan janji keselamatan dari Allah, tetapi mereka malah sibuk dengan segala ritus, yang justru malah membentangkan jarak antara Allah dan manusia.
Benang Merah Tiga Bacaan:
Kasih adalah dimensi dua sisi dari Allah dan ditanggapi oleh manusia. Pertemuan dua dimensi ini akan merubah kehidupan manusia menjadi lebih baik.
Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silahkan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)
Pendahuluan
Mas Itu berpacaran dengan Mbak Ini, suatu hari mereka bertengkar dan Mbak Ini memutuskan Mas Itu. Mas Itu sangat sedih. Mas Itu memutar otaknya mencari cara agar bisa kembali berpacaran dengan Mbak Ini. Dia membeli buku 101 cara kembali berbaikan dengan pacar. Setiap hari Mas Itu membaca buku, genap seminggu dia sudah menuntaskan membaca bukunya tersebut. Dia siap untuk pergi ke rumah Mbak Ini untuk berbaikan. Dia membawa seikat bunga mawar dan sekotak coklat dengan percaya diri. Tapi, …eng ing eng… betapa terkejutnya Mas Itu ketika dia samapai di depan pagar rumah Mbak Ini dilihatnya Mbak Ini sedang duduk berduaan dengan pria lain yang adalah sahabatnya sendiri. Hancurlah hati Mas Itu. Dia pulang dengan lemas. Lagu yang cocok adalah “terlambat sudah kau datang padaku, setelah kudapatkan penggantimu, kini hatiku tertutup untukmu, cukup sudah penderitaanku.”
Isi
Mari bersama-sama membayangkan bagaimana perasaan Mas Itu, ya... wah pasti sedih sangat, sedih sekali, tidak ada kesempatan untuk berbaikan kembali dengan Mbak Ini yang dicintainya. Bagaimana dengan relasi kita bersama Allah? Apakah kita juga dalam kondisi yang sama dengan Mas Itu? Apakah kita sedang merasa sebagai orang yang yang sangat berdosa dan tidak layak berelasi dengan Allah sampai sangat merasa tidak layak untuk pergi ke gereja atau ibadah brayat sekalipun?
Jika kita merasa sedang seperti Mas Itu, dalam relasi kita dengan Allah maka sebenarnya kita sedang dalam keadaan yang sangat rugi. Ketiga bacaan kita menjelaskan dengan sangat gamblang bagaimana cara Allah mencintai umat-Nya. Allah mencintai dengan cara yang luar biasa, kasih yang tulus digambarkan dengan seorang Bapak yang meskipun telah ditinggalkan anaknya dengan cara yang tidak baik, dengan meminta warisan meskipun bapaknya masih hidup, namun bapak itu tetap mengasihi anaknya. Kembalinya anak bungsu adalah berita sukacita bagi sang bapak. Tidak ada bekas luka di hati sang bapak, ketika menyambut kepulangan anak bungsunya.
Kasih yang sama ditujukkan-Nya juga bagi bangsa Israel yang entah sudah berapa kali berkhianat setelah keluar dari Mesir, tetapi tetap dipelihara dengan rahmat yang baik. Pada Yosua 5:9-12, sekali lagi kesalahan bangsa Israel dilupakan Tuhan. Ia memperbaharui lagi janji dengan bangsa Isarel melalui Yosua. Akankah drama pengkhianatan itu diulang kembali oleh anak bungsu dan oleh bangsa Israel ? Sampai kapan Allah akan terus mengampuni? Untuk selama-lamanya kasih setia Tuhan kepada kita umat ciptaan-Nya. Seperti dalam Mazmur 100:5, “Sebab TUHAN itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun.“
Gereja memiliki tanggungjawab untuk memastikan bahwa berita pendamaian dari Allah kepada umat-Nya akan tersampaikan dengan baik kepada umat-Nya. Paulus dalam 2 Korintus 5:16-21 menegaskan peran kerasulannya kepada jemaat Korintus dan kepada dunia untuk memberitakan pendamaian yang diberikan Tuhan Yesus kepada umat-Nya dan bagaimana cara menghidupi pendamaian itu, yaitu dengan merespon pendamaian dari Allah melalui Tuhan Yesus. Meresponnya tentu saja dengan menerima ajaran Tuhan Yesus untuk dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Ini menunjukkan kesungguhan kita dalam merespon pendamaian dari Allah. Jika kita mengatakan menerima pendamaian dari Allah, tetapi hidup jauh dari ajaran Kristus dan ogah-ogahan, hafal Kitab Suci tetapi menunda untuk melakukannnya, maka kita hanya akan seperti Mas Itu yang hanya sibuk mempelajari buku berbaikan dengan Mbak Ini tetapi menunda untuk segera berbaikan dengan Mbak Ini.
Ada banyak cara dan jalan untuk menghidupi respon kita terhadap karya pendamaian Allah, hanya saja terkadang proses tersebut terkendala dari diri kita sendiri dan luar diri kita:
- Dari Diri Sendiri
- Kita bisa menjadi orang Kristen yang menutup diri terhadap teguran dan nasihat yang baik.
- Kita bisa menjadi orang yang rajin membaca Alkitab dan bahkan hafal dan mungkin sangat berpengetahuan, tetapi menunda untuk melakukan dalam kehidupan sehari-hari.
- Kita bisa menjadi pribadi yang dengan sengaja melanggar kebenaran dan tetap melakukan yang salah dihadapan Tuhan dan sesama.
- Kita bisa menolak pengajaran dari gereja, karena kita melihat latar belakang yang mengajar dan memberitakan berita pendamaian itu karena derajat dan pendidikannya lebih rendah daripada kita.
- Dari Luar Diri Kita
- Gereja bisa lalai dalam menjalankan tugas mengajar untuk membawa warga tetap menyadari kasih pendamaian dari Allah.
- Gereja tidak lali dalam menjalankan tugas mengajar untuk mewartakan pendamaian dari Allah, tetapi Pelayan dari gereja bisa saja mengabaikan kita karena melihat latar belakang kita yang dirasa tidak perlu untuk diurusi.
Penutup
Keputusan ada pada kita sendiri sebagai pribadi, “Apakah kita akan bersedia untuk merespon pendamaian dari Allah dengan mendorong dan melatih diri kita melakukan ajaran Yesus dalam kehidupan sehari-hari atau terus menunda untuk melakukannya?”. Ada banyak cara dan jalan untuk bisa melakukannnya, tetapi terkadang kita mengeraskan hati untuk melakukannya. Jangan sampai nasib kita sama dengan Mas Itu yang kehilangan kesempatan untuk berdamai dengan Mbak Ini, karena dia hanya sibuk membaca buku teori berbaikan dengan pacar dan menunda untuk langsung mengambil langkah berbaikan. Selama nafas masih dikandung badan, selama itulah kasih setia Tuhan kepada kita. Amin. [AM].
Pujian: KJ. 375 : 1 Saya Mau Ikut Yesus
—
Rancangan Khotbah: Basa Jawi
Pambuka
Mas Itu pacangan kalian Mbak Ini, ing sawijinipun dinten sami padu lajeng pisahan. Mas Itu sisah sanget manahipun lan pados cara, kados pundi amrih piyambakipun saged wangsul pepacangan malih kalian Mbak Ini. Lajeng Mas Itu tumbas buku “101 Cara Kembali Berbaikan dengan Pacar.“ Saben dinten, Mas Itu maos buku punika. Sampun ganep seminggu anggenipun maos bukunipun. Saksampunipun seminggu, Mas Itu nembe kesah murugi Mbak Ini, ajengipun nyuwun wangsul pepacangan malih kalian Mbak Ini. Mas Itu mbeta sekar mawar lan coklat sakkotak, ananging iba kagetipun Mas Itu, awit Mbak Ini saweg lenggahan kekalih kalian tiyang jaler sanes. Manahipun Mas Itu sakit sanget lan wangsul kanti susah penggalih. Lagu ingkang cocok mbokmenawi “terlambat sudah kau datang padaku, setelah kudapatkan penggantimu, kini hatiku tertutup untukmu, cukup sudah penderitaanku.”
Isi
Mangga kita sami mbayangaken perasaanipun Mas Itu, tamtu sedih sanget nggih. Mboten wonten kesempatan kangge wangsul malih kalian Mbak Ini ingkang dipuntresnani. Kadospundi anggen kita nglampahi gesang kalian Gusti Allah, punapa kita ngraosaken kadosdene ingkang dipun raosaken dening Mas Itu? Punapa wonten ingkang ingkang rumaos dados tiyang ingkang dosa sanget ngantos rumaos mboten pantes tindak greja utawi tindak kebaktian brayat ugi?
Bilih wonten ing antawis kita ingkang kados Mas Itu anggenipun nglampahi gesang kalian Gusti Allah, tegesipun eman sanget, awit ing tigang waosan kita dinten punika sampun dipunjelasaken kanti gamblang bab kadospundi Gusti Allah punika nresnani umat-Ipun. Anggenipun nresnani punika dipungambaraken kadosdene bapak ingkang tetep nresnani putranipun senaosa putranipun sampun nilar bapakipun lan nyuwun warisan kamangka bapakipun taksih sugeng. Putra ragil nalika wangsul, Bapak punika bungah sanget manahipun.
Katresnan ingkang sami ugi dipun paringaken dhateng bangsa Israel ingkang sampun wongsal-wangsul ndadosaken cuwaning manahipun Gusti, ananging tetep dipun tresnani. Ing Yosua 5:9-12 sepindah malih kaluputanipun bangsa Israel dipunpangapura dening Gusti Allah. Panjenenganipun ngenggalaken malih prasetyanipun kalian bangsa Israel lumantar Yosua. Kinten-kinten ing wekdal ngajeng punapa bangsa Israel taksih saged setya tuhu dhumateng Gusti Allah? Ngantos kapan Gusti Allah tansah paring pangapura? Ngantos saklami–laminipun kasetyanipun Gusti dumatheng kita, para titah-Ipun, kadosdene kaserat ing Jabur 100:5, “Amarga Pangeran Yehuwah iku becik, sih-kasetyane iku kanggo ing salawase, lan kasetyane lestari turun-tumurun.“
Greja gadahi tanggel jawab kangge medhar pawartos pirukunan saking Gusti Allah kangge umat-Ipun. Paulus, ing 2 Korinta 5:16-21 negesaken ayahan kerasulanipun tumrap pasamuwan Korinta lan tumrap jagad supados medhar pawartos pirukunan saking Gusti Allah lan kadospundi nanggepi pirukunan saking Gusti, supados saged nindakaken timbalan punika ing gesang padintenan. Anggen kita nanggepi katresnanipun Gusti punika saged kita lampahi kanthi nindakaken piwucalipun Gusti Yesus ing gesang padintenan. Bilih kita nampi pirukunan saking Allah ananging gesang tebih saking piwucalipun Gusti Yesus, lan mbok menawi sregep maos lan apal Kitab Suci nanging mboten dipuntindakaken, punika sami kalian Mas Itu ingkang sregep maos buku supados saged rukun malih kalian Mbak Ini ananging kesupen mboten enggal-enggal tumindak saged enggal rukun malih kalian Mbak Ini.
Kathah cara supados kita saged gesang sae kangge nanggepi pirukunan saking Gusti, ananging kala-kala wonten pambengan. Tuk ing pambengan punika wonten kalih, inggih punika mijil saking diri pribadi lan saking njawi kita:
- Saking Diri Kita Piyambak
- Kita saged dados tiyang Kristen ingkang menutup diri saking tegoran lan nasehat ingkang sae saking tiyang sanes.
- Kita saged dados tiyang ingkang sregep maos Kitab Suci lan apal Kitab Suci ananging mboten saged nindakaken ing gesang padintenan.
- Kita saged dados tiyang ingkang mangertos bab ingkang sae, ananging kanthi sengaja dipun terak.
- Kita ugi saged dados tiyang ingkang ngremehaken tiyang ingkang medharaken Sabda, awit latar belakang pendidikan utawi sosial ingkang langkung andap katimbang kita.
- Saking Njawi
- Greja saged ngumbar pasamuwan lan mboten paring piwucal bab katresnanipun Gusti lan kados pundi saged ngatag warga supados gesang kanti sae.
- Saged ugi oknum peladosing pasamuan pilih–pilih anggenipun paring peladosan lan mbok menawi wonten warga pasamuan ingkang kagolong mboten perlu dipun urus awit ewet sanget.
Panutup
Keputusan wonten ing kita piyambak, “Punapa kita kersa nampeni pirukunan saking Gusti Allah lantaran Gusti Yesus punapa mboten?“ Bilih kersa tamtu kita badhe mbereg gesang kita piyambak supados gesang kanti sae nderek dawuh pangandikanipun Gusti. Sejatosipun katah margi supados kita saged nderek dawuh pangandikanipun Gusti lan gesang ing katentreman ananging kala-kala kita dados tiyag ingkang wangkot utawi aras-arasen nindakaken dawuh pangandikanipun Gusti. Sampun ngantos nasib kita kados Mas Itu, ingkang sibuk maos buku lan kesupen bilih kedah enggal-enggal pados cara supados saged rukun malih kalian Mbak Ini. Bilih kita taksih kaparingan ambegan sakdangunipun gesang, samanten punika agenging katresnanipun Gusti dhumateng kita. Amin. [AM].
Pamuji: KPJ. 113 Gusti Yesus Sang Pamarta