Wanita Dian Keluarga Khotbah Minggu 21 Juli 2019

Minggu Biasa V – Pekan Wanita
Stola Hijau

 

Bacaan 1 :  Kejadian 18 : 1 – 10a
Bacaan 2
:  Kolose 1 : 15 – 29
Bacaan 3
:  Lukas 10 : 38 – 42

Tema Liturgis  :  Kehadiran  Kristus  di  Tengah  Keluarga  yang   Membawa  Keselamatan
Tema Khotbah
:  Wanita Dian Keluarga

 

KETERANGAN BACAAN :
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Kejadian 18 : 1 – 10a

Bagian ini menceritakan sebuah perjumpaan antara Allah dan Abraham, sebagai upah karena Abraham dengan sukarela menaati hukum sunat. Salah satu dari ketiga orang itu rupanya menjadi manifestasi Allah dalam rupa manusia dan dua orang lainnya adalah malaikat dalam rupa manusia. Abraham mulanya mungkin tidak mengetahui bahwa mereka itu Allah dan malaikat. Apa yang ingin ditekankan dalam bacaan pertama ini adalah kebaikan hati Allah untuk mengunjungi Abraham dan sambutan ramah Abraham atas kunjungan itu. Perkunjungan Allah sendiri dalam rangka menyampaikan rencana kasih Allah mengenai Sara, bahwa Sara akan melahirkan seorang anak laki-laki (ayat 10) ketika masanya tiba lagi (pada waktu yang telah ditetapkan).

Keramahan Abraham dalam menyambut tamunya ditunjukkan dengan sikap serta jamuan yang dipersiapkan dengan sungguh-sungguh. Ayat 2-5. Ia berlari menyongsong mereka, lalu sujudlah ia sampai ke tanah. Abraham ternyata sangat ramah. Dia melakukan segala sesuatu yang dituntut oleh adat Timur untuk para tamunya. Perilakunya memenuhi semua ketentuan. Dia mempersiapkan sebuah sambutan megah bagi para pengunjung surgawi tersebut. Dia mengundang mereka untuk duduk dan beristirahat sementara hidangan dipersiapkan. Kata Ibrani sããd, beristirahat, berarti “memperkuat” atau “menjadikan kuat.” Baik duduk maupun makanan yang disediakan akan memberikan “istirahat.” Ia melakukannya hingga sedemikian sebab ia melihat bahwa mereka nampak sebagai orang baik dan terhormat.

Bukan hanya Abraham yang menunjukkan keramahannya, Sara sebagai nyonya rumah juga melakukannya. Sara, istrinya penuh perhatian dan sangat sibuk dalam menjamu tamu mereka sebaik-baiknya. Sara sendirilah yang memasak dan membuat roti. Sedangkan Abraham berlari untuk mengambil lembunya, membawa susu dan dadih. Ia tidak beranggapan bahwa harga dirinya akan turun jika ia melayani tamu-tamunya di meja makan, supaya tamunya boleh merasa disambut dengan sepenuh hati.

Jenis makanan yang dipersiapkan dan dihadangkan juga mempertegas akan kesungguhan hati mereka dalam menyambut tamu. Ayat 6-8, dua kata Ibrani, gémâh dan sôlér dipakai untuk menunjukkan bahwa tepung yang disajikan itu merupakan tepung istimewa. Hema, “susu beku,” dicampur dengan susu segar merupakan minuman segar yang disajikan kepada para pelancong yang kelelahan sambil menantikan makanan utama dihidangkan. Anak lembu jarang sekali dihidangkan sehingga merupakan makanan mewah tambahan yang disajikan kepada tamu yang terhormat ini.

 

Kolose 1 : 15 – 23

Kolose 1:15 dan ayat-ayat sesudahnya (Kolose 1:15-20), termasuk salah satu bacaan Perjanjian Baru yang paling penting tentang hakikat dan kepribadian Kristus. Penjelasan dalam teks ini merupakan salah satu jawaban Paulus terhadap pertanyaan yang diajukannya ketika ia pertama kali ditemukan oleh Kristus di jalan Damaskus, “Siapakah Engkau, Tuhan?” (Kisah Para Rasul 9:5). Surat kepada jemaat Kristen di Kolose yang ditulis dari penjara di Roma menjelang akhir hayat Paulus ini, nampaknya memberikan jawaban yang paling matang dan lengkap terhadap pertanyaan siapakah Yesus itu.

Teks ini berbicara tentang keutamaan Kristus. Berbicara tentang Kristus secara istimewa. Keutamaan berarti keunggulan. Keistimewaan berarti hal yang terpenting. Pertama, ayat 15a, Ia adalah Gambar Allah yang tidak kelihatan. Teks ini ingin menyampaikan bahwa Kristus adalah manifestasi yang sempurna dari Allah Sang Bapa. Kristus adalah kebijaksanaan ilahi yang telah menciptakan segala sesuatu, datang ke dunia dalam wujud manusia yang fana, menderita, mati dan bangkit dari kematian. Semuanya itu terjadi karena Allah Bapa ada di dalam Kristus. Kedua, 15b. Frase “yang sulung”, menjelaskan kesetaraan Kristus, Allah Bapa dan Roh Kudus. Frase “yang sulung” ini menunjukkan gelar bagi Mesias. Mengungkapkan hubungan antara Kristus dengan Allah Bapa dan Roh Kudus pada karya penebusan. Peran pengutusan (yakni karya penebusan) Kristus dalam dunia ini sekaligus menentang pemahaman umat Yahudi yang tidak mempercayai bahwa Kristus adalah Mesias. Karya penebusan menghadirkan Kristus selaku Sang Anak sebagai utusan Allah Bapa.

Dalam pemahaman Yahudi, seorang yang diutus, menjadi wakil dari sang pengutus secara penuh. Ia sepenuhnya menghadirkan sang pengutus di tempat di mana ia berada.  Jadi, Kristus tidak lebih rendah dari Allah Bapa, dan Ia rela menjadi rendah untuk melaksanakan rencana penyelamatan. Keduanya  adalah Allah yang sama. Roh Kudus bekerja dalam Yesus Kristus, dan setelah kebangkitanNya Roh Kudus dicurahkan di tengah-tengah muridNya. Roh Kudus adalah wujud baru dari Yesus Kristus yang hadir di tengah-tengah para murid. Roh Kudus berasal dari Allah dan Roh Kudus adalah Allah. Oleh karenanya, hubungan antara Yesus Kristus, Allah Bapa dan Roh Kudus adalah setara. Ketiga, 15c frase lebih utama dari segala yang diciptakan. Teks ini ingin menyatakan bahwa Kristus adalah gambar Allah, sekaligus pencipta segala sesuatu. Kedudukan, karya penyelamatan dan penciptaan karena Ia bersatu dengan Allah, segala kepenuhan dalam Allah berdiam di dalamNya. Tidak ada kedudukan tinggi-rendah antara Kristus dan Allah Bapa.

Penjelasan sang Rasul yang demikian tentang Kristus yang adalah Allah, itulah yang diharapkan menjadi dasar pijak bagi jemaat Kolose untuk melanjutkan masa depan. Pada ayat 23, Paulus berharap agar jemaat Kolose tetap berpegang teguh, jangan mudah goyah mendengar ajaran dari guru-guru palsu. Masa depan ciptaan akan hadir karena dipengaruhi oleh keutamaan Kristus. Kristus menjadi pusat dan berada di pusat segala ciptaan.

 

Lukas 10 : 38 – 42

Ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan, mereka yang berada bersama-Nya tiba di sebuah kampung. Kampung ini adalah Betania, tidak jauh dari Yerusalem. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya dan menyambut Dia, karena dialah yang mengurus rumah tangga itu.

Marta dan Maria saudaranya disebutkan memberikan hormat kepada Yesus sebagai seorang yang bermartabat. Tidak aneh, bahwa dalam masyarakat (termasuk masyarakat Yahudi) bahwa seorang tamu yang bermartabat layak untuk menerima penghormatan dari keluarga yang dikunjungi. Sungguh baik untuk memberikan segalanya demi memberi penghormatan. Cara mereka berdua berbeda dalam menyatakan penerimaan kepada Yesus yang sedang berkunjung. Marta sibuk sekali melayani (ay. 40), dan itulah sebabnya mengapa ia tidak berada bersama Maria — untuk duduk di dekat kaki Kristus dan mendengarkan perkataan-Nya. Marta sibuk sekali melayani. Ia bertekad untuk menyiapkan jamuan yang sangat mewah dan hebat dengan jumlah, ragam, dan kesempurnaan yang luar biasa, sesuai kebiasaan tempat itu. Ia bersusah payah, peri pollēn diakoniansibuk sekali melayani.  Marta sedang sibuk mempersiapkan hidangan bagi Kristus dan orang-orang yang datang bersama-Nya, mungkin ia tidak diberi tahu sebelumnya tentang kedatangan-Nya dan tidak mempunyai persiapan. Ia ingin agar dalam kesempatan ini segala sesuatu berjalan dengan baik. Tidak setiap hari ia menerima tamu-tamu seperti ini. Para ibu rumah tangga tahu betapa sibuknya persiapan kalau ada jamuan besar. Marta menyampaikan keluhannya demi melihat sikap Maria saudaranya yang tidak bersegera membantu mempersiapkan segalanya untuk jamuan. Marta merasa kuatir tidak bisa menjamu Yesus dengan baik. Marta menyangka Kristus pasti akan mempersalahkan Maria karena tidak melakukan tugas seperti yang dilakukannya. Namun, Yesus justru mempersalahkannya karena tidak melakukan seperti yang dikerjakan Maria. Sebaliknya, Yesus memberi pujian  kepada Maria atas pilihannya itu. Maria telah memilih bagian yang terbaik. Maria tidak mengatakan apa pun untuk membela diri. Maria seorang wanita yang terpuji dihadapan Yesus, sebab ia yakin akan pilihannya. Cara yang ia pilih untuk memberi penghormatan akan kehadiran Yesus, tidak diukurkan berdasarkan cara yang dipakai oleh orang lain. Dia seorang wanita yang merdeka dan bahagia, tidak digelisahkan oleh keberadaan orang lain.

Apa yang keliru dalam diri Marta (sehingga olehnya Yesus menegur)  bukan karena Marta memilih sibuk dengan urusan dapur, namun karena Marta disibukkan dengan bagiannya sendiri. Memandang saudaranya, hanya dengan pikiran dan ukurannya sendiri. Tidak mampu memberi penghargaan pada pilihan orang lain.  Sikap Marta ini bisa mengecilkan hati Maria dalam hal kesalehan dan ibadah.

Benang Merah Tiga Bacaan

Mengutamakan Kristus sebagai Allah dalam kehidupan menjadi perkara yang paling penting dalam kehidupan orang percaya. Pengutamaan ini menjadi cara bagi manusia untuk memberi penghormatan atas kasih karunia yang sudah terlebih dahulu dilakukanNya untuk umat manusia. Keutamaan Kristus itu pada akhirnya akan menjadi kunci bagi manusia untuk membangun relasi dengan sesama manusia di dunia nyata.

 

RANCANGAN KHOTBAH :  Bahasa Indonesia                                           

Pendahuluan

Jika boleh bertanya? Kepada siapa saudari-saudari/ibu-ibu mengidentikkan diri? Seperti Maria? Atau seperti Marta. Saya meraba-raba bahwa ibu-ibu atau saudari saudari yang memiliki kebiasaan seperti yang di miliki Marta, akan merasa enggan untuk mengakuinya. Atau bahkan merasa keliru menjadi seperti Marta, merasa kecil hati dihadapan Tuhan dan di tengah komunitasnya.

Mengapa demikian? Sebab banyak orang selama ini mengartikan /menafsirkan bahwa Marta memilih bagian yang salah, yang keliru. Dan dipandang “kurang menghormati” kunjungan Yesus. Terlebih Yesus menegur Marta seperti pada ayat 41 dan 42, dan sebaliknya serasa mendukung pilihan Maria, yang duduk dekat kaki Yesus mendengarkan perkataan-Nya. Dalam masyarakat kita (dan bahkan dalam kehidupan bergereja) sangat kuat anggapan bahwa pekerjaan rumah tangga adalah tidak mulia (atau paling tidak, tidak semulia pekerjaan kantor; tidak semulia pekerjaan mengajar/berkhotbah). Pekerjaan dapur adalah pekerjaan yang hina, yang tidak layak diperhitungkan dan sebagainya.  Nah, saya jadi curiga, perikop inilah  yang menjadi penyebabnya, menjadi ayat-ayat yang serasa melegalkan gereja/masyarakat dengan anggapan yang demikian.

Isi

Tidak diragukan lagi bahwa baik Marta maupun Maria, sama-sama bersukacita akan kunjungan Yesus dan murid-muridNya. Mereka berdua merasakan memperoleh berkat yang luar biasa akan perkunjungan itu. Marta dan Maria, saudaranya disebutkan memberikan hormat kepada Yesus sebegai seorang yang bermartabat. Tidak aneh, bahwa dalam masyarakat (termasuk masyarakat Yahudi) bahwa seorang tamu yang bermartabat layak untuk menerima penghormatan dari keluarga yang dikunjungi. Sungguh baik untuk memberikan segalanya demi memberi penghormatan. Sama halnya yang dikisahkan dalam bacaan yang pertama, Kejadian 18 : 1-10a,  bahwa Abraham dan istrinya Sara mempersiapkan penyambutan yang istimewa terhadap tamu yang dilihatnya sebagai orang yang baik dan terhormat. Apa yang mereka lakukan sesuai dengan ketentuan dalam masyarakat saat itu. Tidak ada yang salah, tidak ada yang keliru.

Suasana perkunjungan dan penyambutan Yesus yang penuh dengan sukacita itu menjadi tergores, hanya karena salah satu diantara yang menyambut memiliki sikap yang kurang pas, dan bisa melukai perasaan Maria. Sikap Marta, yang tidak menghargai cara Maria dalam menyambut Yesus. Marta menuntut saudarinya untuk melakukan hal yang sama seperti yang dilakukannya. Ia mengeluh atas pilihan Maria saudarinya. Keluhannya ia sampaikan kepada Yesus, dengan harapan Yesus membenarkan dirinya. Namun, Yesus justru mempersalahkannya karena tidak melakukan seperti yang dikerjakan Maria. Sebaliknya, Yesus memberi pujian  kepada Maria atas pilihannya itu. Maria telah memilih bagian yang terbaik. Maria tidak mengatakan apa pun untuk membela diri. Maria seorang wanita yang terpuji dihadapan Yesus, sebab ia yakin akan pilihannya. Cara yang ia pilih untuk memberi penghormatan akan kehadiran Yesus, tidak diukurkan berdasarkan cara yang dipakai oleh orang lain. Dia seorang wanita yang merdeka dan bahagia, tidak digelisahkan oleh keberadaan orang lain.

Marta, di mata Yesus seorang wanita yang disibukkan dengan segala perkara (ruwet pikran dan tangannya). Sukacitanya akan kehadiran Yesus menjadi kegelisahan dan kemarahan, serta kejengkelan oleh karena memaksakan kemauannya pada orang lain.

Mengutamakan Kristus sebagai Allah dalam hidup, seperti yang disebut dalam bacaan ke-2, bagi kita yang percaya, … wow … tidak diragukan lagi. Itulah yang menjadi perkara terpenting dalam hidup ini, serta menentukan relasi kita dengan sesama yang kita jumpai dalam keseharian. Allah yang bermartabat, mau merendahkan diri menjadi manusia demi memberikan kemerdekaan bagi manusia. Persekutuan kita dengan Kristus yang adalah Allah serta  penyambutan kita atas berkatNya yang sudah terlebih dahulu dinyatakan mestinya memampukan kita menjadi bermakna baik bagi sesama dan membebaskan bagi sesamanya. Perempuan menjadi pembawa berkat baik bagi perempuan lain dalam gereja dan masyarakat. Perempuan yang adalah ibu bagi keluarga, dimampukan juga menjadi pembawa berkat bagi anggota keluarganya.

Seringkali yang terjadi tanpa kita sadari, kita memaksakan kemauan kita pada orang lain. Terlebih kepada mereka yang kita pandang lebih rendah. Yang pendidikannya lebih rendah; yang ekonominya lebih sedikit; yang pengetahuannya lebih minim; yang jabatannya tidak sehebat kita; yang tidak terkenal dan sebagainya. Kita mau mereka itu mengikuti pola pikir kita. Terlebih di konteks masyarakat yang sedang marak persaingan di banyak bidang. Jika ini yang terjadi, maka sungguh memprihatinkan. Para perempuan yang sudah mengaku terinspirasi oleh pelayanan Kristus, tidak bisa lagi menjadi “dian” atau “suluh” bagi perempun lain dan juga keluarga. Tidak lagi bisa memerdekakan mereka, tetapi sebaliknya “menindas”. Ada istilah perempuan penindas perempuan lain. Inilah yang terjadi, dan kurang kita sadari. Dalam masyarakat kita saat ini juga marak terjadi peristiwa ibu kandung menganiaya bahkan membunuh anaknya sendiri.

Penutup

Kristus yang adalah Allah, Dia berkenan untuk menyapa dan melakukan perjumpaan dengan umatNya. Ia telah merendahkan diri demi memberi kemerdekaan bagi manusia. Mari, kita perempuan, wanita, laki-laki, dengan segala keberadaan kita masing-masing menyambutNya dengan penuh rasa syukur. Mewujudkannya dengan membangun relasi yang setara dengan sesama, tanpa harus memaksakan kemauan. Memberikan penghargaan kepada sesama, perempuan lain, anggota keluarga untuk memuliakan Tuhan dengan cara yang mereka mampu. Menjadi “dian” atau “suluh” yang menerangi di tengah kegelapan adalah tugas kita dalam keseharian. Dan bukan menjadi api besar yang justru memberangus. Amin. (ES)

Pujian  : KJ.  451 : 1, 2  

RANCANGAN KHOTBAH  :  Basa Jawi

Pambuka

Wonten pitekenan makaten: “dumatheng sinten sedherek-sedherek/ibu-ibu ”mengidentikkan diri”? Kados Maria? Punapa kados Marta? Menawi boten klentu, raosipun ibu-ibu utawi para sedherek ingkang  nggadhahi adat kebiasaan kados tumindakipun Marta awrat anggen ngakeni. Utawi, saged ugi rumaos klentu menawi tumindakipun kados Marta, rumaos “alit manah” wonten ngarsanipun Gusti lan ing antawisipun pasamuan.

Kenging punapa kok saged makaten? Amargi, kathah tiyang ingkang sami mangertosi/menafsirkan bilih Marta klentu anggen milih bagianipun. Ugi dipun wastani “kirang anggen paring pangurmatan dumateng Gusti Yesus”. Langkung malih, Gusti Yesus paring pangandika kados ing ayat 41 lan 42. Lan kosokwangsulipun kados-kados mbelani Maria. Maria ingkang lenggah celak sukunipun Gusti Yesus, lan midangetaken pangandikanipun Yesus. Ing satengahing masyarakat (lan ugi ing satengahing pasamuan) wonten panganggep bilih pendamelan bale griya punika sanes pendamelan ingkang mulya (boten kados pendamelan kantor; boten kados pandamelan mucal/ medhar sabda). Kula dados sujana, raosipun perikop punika dados ayat-ayat ingkang “melegalkan” panganggep ingkang klentu ing satengahing pasamuan.

Isi

Boten mangu-mangu malih, bilih Marta lan ugi Maria saestu sami bingah nampi patuwenipun Yesus lan para sakabat. Kekalihipun sami ngraosaken nampi berkah awit patuwen punika. Marta lan Maria paring pangurmatan dhumateng Gusti Yesus minangka tetamu ingkang linuhur. Sampun dados adatipun masyarakat (kalebet masyarakat Yahudi) bilih tetamu ingkang linuhur pantes anggen nampi pangurmatan saking brayat ingkang dipuntuweni. Saestu sae paring sedayanipun amrih tetamu saged kinurmatan. Kadosdene ingkang dipun cariyosaken ing waosan ingkang sepisan, Purwaning Dumadi 18:1-10a, bilih Abraham lan semahipun Sara sami mapag dhumateng tetamu ingkang ketingal kinurmat. Punapa ingkang dipun tindakaken Abraham dalam Sara sampun dados adatipun. Boten klentu.

Suraosing patuwenipun Gusti Yesus ingkang kebak kabingahan punika lajeng dados risak amargi salah satunggil saking kekalihipun nggadhahi patrap ingkang klentu, lan saged ndadosaken tatuning sanes. Marta, boten saged ngajeni dhumateng caranipun Maria anggen mapag rawuhipun Gusti Yesus. Marta nuntut sedherekipun, Maria supados tumindak sami kadosdene punapa ingkang pun tindakaken. Piyambakipun sesambat dhumateng Gusti Yesus awit pilhan/tumindakipun Maria, mawi pangajeng-ajeng  Gusti Yesus saged a ngleresaken tumindakipun. Nanging kanyatanipun Gusti Yesus mastani bilih Marta gadhahi pilihan ingkang klentu. Lan kosokwangsulipun, Gusti Yesus paring pamuji dhumateng  Maria, awit Maria sampun milih bagian ingkang sae. Maria boten calathu menapa-menapa kangge mbelani badanipun piyambak. Maria mujudaken piyantun estri ingkang luhur ing ngarsaning Gusti Yesus, amargi piyambakipun yakin bab pilihanipun. Cara ingkang dipun tindakaken kangge ngurmati rawuhipun Yesus boten dipunukur mawi caranipun tiyang sanes. Maria, piyambakipun minangka piyantun estri ingkang mardika lan kebak kabingahan, boten judheg bab kawontenan asanes. Marta, ing ngarsane Yesus, mujudaken piyantun estri ingkang “disibukkan dengan banyak perkara ”…ruwet pikiran lan tanganipun. Raos bingah  awit rawuhipun Gusti Yesus ewah dados raos judheg, nepsu lan jengkel, awit karisak dening patrap meksa kekarepan dhumateng  asanes.

Para sedherek, boten mangu-mangu malih kanggenipun tiyang pitados bilih Gusti Yesus minangka Allah (kados ingkang sampun kasebat ing waosan ke-2) dados kautamaning gesang. Punika minangka prekawis ingkang wigati ing salebeting gesang, lan saged nemtokaken sesambetan/relasi kita kaliyan tiyang sanes ing padintenan. Allah ingkang linuhur sampun kersa ngandhap-asoraken Sariranipun awujud manungsa amrih manungsa saged nampi kawilujengan. Patunggilan kita kaliyan Kristus minangka Allah, sarta pamapag kita tumrap berkah ingkang sampun dipun paringaken, mestinipun saged ndadosaken kita dilah ingkang nyunaraken kasaenan kangge sesami. Mujudaken kamardikan kangge sedherek sanes. Piyantun estri saged mujudaken kasaenan kagem piyantun estri sanesipun ing gesang pasamuan lan ugi masyarakat. Piyantun estri minangka ibu ing satengahing brayat saged mujudaken kasaenan kagem brayatipun.

Asring kelampahan tanpa kita sadari, kita meksa kekarepan kita piyambak dhumateng sesami kita. Langkung-langkung dhumateng tiyang sanes ingkang kita anggep/sawang langkung andhap. Ingkang pendidikanipun langkung andhap; ingkang kasugihanipun langkung sekedhik; ingkang pangertosanipun langkung cethek, lsp. Kita meksa supados tiyang sanes saged manut dhumateng pamikiran kita. Langkung-langkung malih ing satengahing konteks masyarakat ingkang saweg kebag ing persaingan punika. Menawi punika ingkang kelampahan, saestu mrihatosaken. Para estri ingkang sampun ngakeni bilih peladosanipun Kristus dados dasaring gesang, boten saged malih dados suluh kagem tiyang estri sanesipun lan brayatipun. Boten saged malih ngupadi kamardikan kangge tiyang sanes, malah kosokwangsulipun dados panindes. Wonten istilah pawestri nindes pawestri. Punika ingkang kelampahan, lan kirang kita sadari. Ing Salebeting masyarakat samangke katah kelampahan ibu kandung ingkang nganiaya, lan malahan mejahi putranipun piyambak.

Panutup

Kristus minangka Allah, Panjenengane karsa manggihi umatipun. Panjenengane sampun ngandhapaken Sariranipun kangge paring kamardikan dhumateng manungsa. Mangga, kita para pawestri lan jaler ningali kawontenan kita piyambak-piyambak sami mapag Panjenengane kanthi raos syukur. Sami kita wujudaken arupi mangun sesambetan ingkang sajajar dhumateng tiyang sanes, tanpa meksa kekarepan kita. Paring pangurmatan dhumateng sesami, pawestri sanes, lan brayat anggen ngluhuraken Gusti mawi caranipun piyambak-piyambak. Dados suluh ingkang saged nyunaraken cahya ing satengahing peteng, punika tugas kita ing padintenan. Sampun ngantos dados geni ingkang kebrangas. Amin.  (ES)

 Pamuji  :  KPJ. 315 : 1, 2

 

Bagikan Entri Ini:

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •