Perjamuan Kudus Paskah
Stola Putih
Bacaan 1 : Kisah Para Rasul 10 :34-43
Bacaan 2 : I Kor. 15:20-26
Bacaan 3 : Lukas 24:1-12
Tema Liturgis : Ia Yang Telah Bangkit Memberi Daya Untuk Bersaksi
Tema Khotbah : Kehidupan Orang Kristen Membawa Dampak
KETERANGAN BACAAN
Kisah Para Rasul 10: 34-43
Peristiwa Pertemuan Petrus dan Kornelius mencatat beberapa peristiwa penting yang menjadi kesaksian dan penguatan Iman bagi orang percaya, anak-anak Tuhan yang hidup pada masa lalu dan masa kini.
Bahwa Allah di dalam Tuhan Yesus, mengasihi semua orang bahkan seisi dunia dengan segala ciptaan, tanpa membedakan orang, golongan dan kebangsaan (ay. 34). Keselamatan dianugerahkan oleh Allah di dalam Yesus bagi setiap orang dari bangsa dan golongan manapun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran, berkenan kepada-Nya (ay.35). Anugerah keselamatan dan Damai sejahtera yang dari Allah dalam Yesus Kristus kepada dunia dengan seluruh isinya ini harus diberitakan kepada semua orang agar dunia mengalami pembaharuan dan pengampunan dosa(ay.39; ay 42; ay.43)
I Kor. 15:20-26
Kesaksian Rasul Paulus bagi Jemaat Korintus tentang kebangkitan Kristus yang terkait dengan Kebangkitan orang Percaya setelah mati menjadi pengingat bahwa tidak sia-sia kita sebagai orang percaya mengikut Kristus, karena Iman itulah yang menyelamatkan. Rasul Paulus memberi kesaksian tentang dirinya sendiri bahwa dirinya sebagai yang paling hina dari semua rasul, bahkan tidak layak disebut rasul, sebab telah menganiaya Jemaat, namun Kasih karunia Allah di dalam Yesus Kristus yang dianugerahkan kepadanya telah menyelamatkan ay.9 & 10). Kebangkitan Kristus dari kematian menjadi bukti nyata bahwa ada kebangkitan setelah kematian, kalau tidak ada kebangkitan orang mati, Kristus juga tidak dibangkitkan (ay, 12 &13).Keselamatan dan hidup yang kekal setelah kematian hanya terjadi bagi setiap orang percaya dan yang mati dalam Kristus (ay. 18).
Lukas 24:1-12
Kubur yang kosong menegaskan kembali bahwa “Anak Manusia harus diserahkan ke tangan orang-orang berdosa, disallibkan, dan akan bangkit pada hari yang ketiga” (ay.7).Peristiwa kebangkitan Yesus telah diberitakan oleh Maria Magdalena dan Yohana, dan Maria Ibu Yakobus. Perempuan-perempuan inilah saksi pertama tentang kebangkitan Yesus, dan mereka tidak bisa diam atau menyimpan kesukacitaan dan mujizat kebangkitan itu untuk diri sendiri tetapi bergegas memberitahukan, menceritakan semua peristiwa itu kepada kesebelas murid, kepada semua saudara yang lain dan kepada rasul-rasul (ay. 9 &10).
Benang Merah Tiga Bacaan
Kebangkitan Yesus Kristus memberikan daya, energi, dampak/pengaruh bagi orang percaya. Para perempuan, Rasul Paulus, dan Rasul Petrus menjadi saksi-saksi kebangkitan Yesus Kristus yang membawa perubahan bagi sekitarnya tersebut.
RANCANGAN KHOTBAH: Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan. Sila dikembangkan sendiri sesuai konteks jemaat)
Pendahuluan
Pikirkan dan Renungkan secara pribadi dan penuh kejujuran, apakah kehadiran kita di manapun berada telah memberi dan atau membawa dampak ? Jika telah membawa dampak, apakah dampak itu positif atau negative ?
Mari belajar dari Bunda Theresa, Mahatma Gandi, Ibu Kartini, Martin Luther, Soekarno, dan tokoh-tokoh karismatik lain yang hidupnya membawa dampak positif ! Hidup mereka membawa perubahan dan kebaikan bagi banyakorang bahkan bagi dunia. Tokoh-tokoh Karismatik ini tidak menyia-nyiakan hidupnya, mereka mempunya Visi, Misi, Komitmen, Integritas, jati diri yang jelas, hidupnya punya tujuan dan misi untuk kepentingan dunia, orang-orang disekitarnya. Pandangan dan visinya menembus jangkauan yang luas, menembus dunia.Karya-karyanya, cara hidup, cara pandangnya berbeda dengan orang pada umumnya, berbeda dengan orang kebanyakan.Hidup dan kehidupan seperti tokoh-tokoh karismatik inilah yang saat ini sedang dibutuhkan, bangsa, masyarakat, jemaat dan keluarga, termasuk didalamnya masyarakat dan bangsa Indonesia.
Isi
Orang Kristen Bersaksi atau melakukan kesaksian, merupakan kata atau ungkapan yang sangat dekat dengan kehidupan kita sebagai orang kristen. Bersaksi atau menjadi saksi Yesus menjadi ungkapan yang sering dipercakapkan dan disampaikan melalui kotbah-kotbah hari Minggu, Pemahaman Alkitab, Katekisasi, diskusi dan diungkapkan dalam doa-doa dll.
Kata Bersaksi menjadi penting dan popular sebab menjadi panggilan sekaligus tanggungjawab yang melekat pada orang Kristen.Ketika menjadi orang Kristen dan berani menyebut diri Kristen berarti harus menghadirkan Kekristenannya baik secara verbal maupun non-verbal. Kekritenan itu harus menjadi Identitas, kekhasan, cirikhas, keunikan orang Percaya. Identitas Kristen kiranya dapat “dibaca” oleh semua orang, lewat kata dan karya yangmendatangkan kebahagiaan dan kedamaian, sehingga hidup orang Kristen merupakan hidup yang memberkati dan memperbaharui,hidup laksana, (seperti) Kristus!
Alasan utama melakukan kesaksian bukan karena menganggap diri baik dan lebih baik dari orang lain, bukan untuk menjadikan dunia ini Kristen, bukan untuk mendapat pahala dan berkat. Melainkan karena kelekatannya dengan Yesus dan kuasa Roh Kudus. Sebagaimana yang telah dilakukan oleh Maria Magdalena dan teman perempuannya yang lain, juga yang dilakukan para murid dan para rasul, dorongan untuk memberitakan kebangkitan Yesus merupakan daya, kekuatan, energy yang luar biasa keluar dari dalam diri, yang tidak bisa di sembunyikan dan dihalang-halangi oleh siapapun.
Roh Kudus itu sendiri yang memberi energy, daya untuk bersaksi dan bukan kekuatan dan kehendak para murid Yesus itu sendiri.Kekuatan Roh Kudus pula yang memberi keberanian untuk menembus serta melampaui bangsa, golongan dan wilayah seantero bumi tanpa ragu dan takut. Kasih dan niat baik untuk bersaksi tentang kebenaran dan pengharapan hari depan yang lebih baik telah mengatasi ketakutan dan keraguan Maria Magdalena dan para murid yang lain. Tujuan pemberitaan itu hanya satu yaitu, keinginan agar semua orang turut mengalami kebaikan-kebaikan Allah di dalam Yesus.
Rasul Paulus menegaskan kepada jemaat di Korintus bahwa kesaksian Jemaat tidak pernah sia-sia, karena mereka bersaksi tentang kebenaran, tentang Yesus yang hidup dan bukan Yesus yang mati. JIka Yesus tidak bangkit, maka sia-sialah kesaksian mereka. Karena itu Paulus mendorong Jemaat Korintus untuk bersaksi di tengah masyarakat dan wilayah Korintus yang beragam (plural), baik dalam kebuadayaan, keyakinan, maupun beragam suku, bangsa, status social, ekonomi dan politik.
Korintus sebagai kota besar, kota dagang yang dekat pelabuhan menjaditempat orang datang dan pergi, transit, serta berkumpulnya berbagai ragam orang dengan aneka kebudayaan, kebiasaan, kepercayaan yang berbeda-beda. Kondisi masyarakat yang seperti ini telah memberi pengalaman sekaligus tantangan yang tidak sederhana bagi Jemaat Korintus. Dalam pergaulan sehari-hari di tengah kota besar seperti Korintus Jemaat bisa terpengaruh dengan hal-hal yang tidak baik dan bahkan bisa dengan mudah meninggalkan apa yang selama ini telah diajarkan oleh Paulus tentang hidup dalam iman dan kebenaran Kristus. Dalam keberagaman seperti itu orang Kristen di Korintus tertantang untuk menunjukkan Identitas, cirikas, dan keunikannya sebagai pengikut Yesus, namun tetap menghargai identitas orang lain. Di tengah masyarakat plural seperti Korintus dibutuhkan Identitas (Kristen) yang terbuka, identitas inklusif, yang bisa menerima keragaman, perbedaan dan bahkan menghargai perbedaan yang ada, namun tidak kehilangan jatidiri sebagai orang Kristen. Dengan kata lain bagaimana orang Kristen di Korintus dapat menunjukkan cara hidup, cara berpikir dan cara pandang yang berbeda dengan cara-cara yang diajarkan oleh dunia. Sikap dan cara hidup yangkhas Kristus ini jika dilakukan secara konsisten akan berdampak besar bagi setiap orang yang “membaca” dan melihat prilaku murid-murid Kristus.Dalam hal inilahmurid-murid Kristus di Korintus telah melakukan panggilan dan tanggungjawabnya untuk bersaksi.
Penutup
Menyaksikan kubur yang kosong paca kematian Yesus, telah memberitakan bahwa Yesus yang telah bangkit dari kematian, bukan saja menjadi penguatan Iman bagi pribadi dan persekutuan Kristen, tetapi peristiwa ini juga mengandung tugas, panggilan dan tanggungjawan kristiani yang sangat besar dan penting artinya.
Identitas kita sebagai orang Kristen bukan sekedar identitas tanpa arti, namun didalmnya terkandung panggilan yang dalam, yakni mampu “menceritakan” Yesus dalam kehidupan sehari-hari dalam terang dan bimbingan Roh Kudus.
Kehadiran individu serta Jemaat Kristen sama sekali tidak berguna jika sebutan “Kristen” itu hanya menjadisebuah identitas belaka!Namun Identitas tersebut menjadi “berkuasa” ketikaditerjemahkan dalam tindakan, dalam Actian, bukan berhenti sampai pada teori saja.Belajar dari Perempuan-perempuan Magdalena, Yohana dan Maria, mereka telah melakukan Action, menjadi saksi kebangkitan Yesus melalui kata dan perbuatan.
Jemaat terpanggil untuk terus bersaksi lewat karya-karya nyata. Kotbah-kotbah, seremonial dan perayaan-perayaan gerejawi jangan hanya mandeg di sekitar mimbar dan dibatasi tembok-tembok gereja.Menara Gading itu sudah waktunya “dirobohkan”. Tidak ada gunanya sama sekali kalau hanya “berteduh” di bawah kemegahan dan kehormatan sesaat namun jauh dari dunia yang sedang alami berbagai masalah diberbagai bidang kehidupan (ekonomi, social, budaya, politik) yang carut marut. Dunia saat ini membutuhkan model yang dapat ditiru. Orang Kristen baik secara individu maupun sebagai jemaat bisa menjadi model, yang dapat ditiru oleh siapa saja yang melihatnya. Jangan sibuk “mempercantik” diri sendiri dan lari-lari ditempat, namun mari kita memaminkan peran kita sebagai model, sebagai panutan, contoh yang menunjukkan identitas yang khas Kristus!
Jika gereja selama ini alami kebekuan, kekakuan, dan Zona nyaman, menjadi tempat berteduh yang serba ayem tentrem, hangat-hangat kuku/ suam-suam kuku sudah waktunya diganti dengan yang lebih panas, dinamis, semangat, cair, fleksibel, terbuka,mampu menembus dunia yang juga sedang bergulat hidup. Hidup murid Kristus, Jemaat Tuhan kiranya membawa dampak di luar sana, bisa larut (seperti garam) dan bergulat bersama dan dengan dunia yang sedang merintih, mengerang dan bergeliat, dunia yang semakin tua dengan berbagai penderitaan di dalamnya. Panggilan Gereja dan setiap orang Kristen menjadi/ laksana Kristus yang rendah hati, berkorban hingga mati, namun tetap hidup bahkan memperbaharui dunia. Amin.
Nyanyian: KJ. 187/188.
RANCANGAN KHOTBAH: Basa Jawi
Pambuka
Sumanggo kita mawas diri kanthi andhap asoring manah, punapa kawontenan gesang kita sampun mbekta DAMPAK utawi ndatengaken PENGARUH kangge tiyang sanes, masyarakat utawi pasamuan ? Menawi sampun, miladampak menapa ingkang karaosaken dening tiyang sanes, masyarakt utawi pasamuan ?
Sumanggo kita sinau saking Bunda Theresa, Mahatma Gandi, Ibu Kartini, Martin Luther, Soekarno, lan tokoh-2 karismatik sanesipun. Tokoh-tokoh ageng punika gesangipun ndhatengaken pengaruh positif !Dampak saking gesangipun para tokoh punika mbekta kabingahan, perubahan ugi kasaenan dhumateng tiyang kathah.Gesangipun nggadahi Visi, Komitmen lan Integritas. Ing saklebeting gesangipun nggadahi misi kangge sesami.Misi ingkang ndatengaken perubahan ageng kangge tiyang katah. Gesang ingkang mboten kangge golongan lan bangsanipun piyambak, nanging nembus kalangan luas. Punika ingkang kasebat kasaenan universal, kasaenan ingkang mboten pandang bulu, nembus batas-batas, singgetan lantembok pembatas. Para tokoh karismatik punika sedaya parkaryanipun, arah lan misi gesangipun mboten cupet, padhang lan benten, seje, bedha kalian tiyang umumipun. Gesangipun tansah ndatengaken DAMPAK POSITIF. Mboten gesang sak gesang-gesange, nanging gesang ingkang bermutu, gesang ingkang berkualitas!Gesangipun minangka model, ingkang saged ditiru, diconto tiyang sanes.
Isi
Tembung bersaksi punika tembung ingkang familiar (akrab), ingkang mboten asing ing gesangipun tiyang kristen. Saben minggu kita mirengaken tembung bersaksi utawi wejangan supados tansah bersaksi, nindakaen kesaksian saking kotbah-kotbah minggu, Pemahaman Alkitab, katekisasi, diskusi, sarasehan, tansah ngrembag bab kesaksian.
“Bersaksi” utawi nindakane kesaksian punika wigatos sanget kangge tiyang Kristen awit sampun dados timbalan ingkang nempel punapadene dados tanggeljawab iman. Kekristenan kita kedah kawartosaken sae secara verbal lan non verbal. Kekristenan kita kedah dados identitas lancirikhas. Keunikan gesangipun tiyang Kristen punika minangka “tanda” bilih gesangipun sampun kaenggalaken, sampun pindah saking peteng ing padang. Gesang Kristen punika gesang nuladha sang Kristus. Gesang enggal ingkang kados punika saestu badhe ndhatengaken dampak positif lan pembaharuan dhumateng lingkungan sekitaripun.
Alasan utami nindakaken kesaksian mboten karana rumaos sempurna utawi langkung sae katimbang tiyang sanes, bersaksi ugi mboten nggadahi motivasi kangge ngristenaken tiyang sanes. Gusti Yesus mboten mbetahaken kuantitas utawi jumlah pandherekipun puluhan ugi ratusan juta, sanes punika tujuan bersaksi. Gusti namung mbetahaken kualitaspara pendherekipun! GESANG INGKANG BERKUALITAS, sinaosa cacahipun namung sekedhik nanging menawi nggadahi kualitas ingkang sae saged ngribah donyo. Ingkang sekedik punika menawi berkualitas lan bermutu saged nggadahi DAMPAK ingkang ngedab-edabi sanget. Kados dene ingkang sampun katindakaken dening Maria Magdalena lan para rasul, kesaksian lan gesangipun Maria Magdalena lan para rasul ndatengakendampak ingkang ageng.
Roh Suci piyambak ingkang paring energy lan kasagedan bersaksi, Maria Magdalena lan para Rasulpunika ringkih lan terbatas kemampuannipun, minangka tiyang lumrah, nanging Roh Suci piyambak ingkang paring kekiyatan lan kesagedan bersaksi nembus bangsa, golongan lan wilayah. Rasul Paulus negesaken pasamuan Korinta bilih kesaksian Pasamuan Korinta mboten muspra, nanging saged ndatengaken dampak lan pengaruh ingkang ageng dhumateng masyarakat. Kitha Korinta punika kitha perdagangan, celak pelabuhan mila kathah tantanganipun. Korinta dados kitha persinggahan, kitha transit, minangka wilayah ingkang dinamis. Kitha Korinta kadosdene kitha “metropolitan” mboten nate sepen, kathah tiyang mlebet lan medhal saking pundi-pundi panggenan, tiyang saking manca negri nyambet damel, dagang, lan usaha ing kitha Korinta. Minongko masyarakat Plural Korinta dados titik pertemuan ing antawisipun tiyang saking beragam kebudayaan, keyakinan, status social, ekonomi, politik.Ing pergaulan padintenan pasamuan Korinta tansah kepanggih lanbergaul secara verbal lan non verbal kaliyan sederek-sederek saking kebudayaan lan kapitadosan sanes. Ing kawontenan ingkang kados mekaten punika saged ugi pasamuan Korinta gampil terpengarh dhumateng cara gesang sederekipun ingkang awon, lan gampil nilaraken kapitadosan lan iman dhumateng Yesus.
Ngadhepi situasi lan kondisi ingkang kados mekaten punika, pasamuan Kristen ing Korinta kaemutaken dening Rasul Paulus supados tansah mujudaken Identitas, ciri khas lan keunikanipun minangka pasamuan Kristen. Ing tengah masyarakat Plural kados dene Korinta dibetahaken Identitas Kristen ingkan inklusif, Identitas terbuka, Identitas ingkang saged nampi keberagaman, kemajemukan, inggih punika tansah ngajeni kawontenan sederekipun ngkang mboten sami (benten), nanging tetep nggadahi jatidiri ingking kekeh, manteb minangka pandherekipun Gusti Yesus. Pramila PR kangge pasamuan Korintus lan PR kangge kita minangka pasamuan ing GKJW: Kadospundi supados kita saged ngetingalaken gesang ingkang khas Kristus, ngetingalaken kepribadian ingkang benten kaliyan tiyang sanes. Menawi kekhasan Kristen kita katindakaken klayan ajeg lan konsekwen ugi konsisten mila badhe ndatengaken DAMPAK, PENGARUH ingkang ageng kange lingkungan.
Penutup
Sinau saking pasarean kosong paska sedanipun Gusti Yesus, badhe paring pawartos dhumateng kita sedaya bilih Gusti Yesus ingkang sampun wungu saking sedanipun, mboten namung ngiyataken iman kapitadosan, nanging ugi paring tugas lan tanggeljawab dhumateng kita sae minangka pribadi punapa malih patunggilan Kristen. Kawontenan kita minangka tiyang Kristen mboten wonten ginanipun babar pindah menawi namung mandeg wonten ing sebutan kristen kemawon. Identitas Kristen badhe ndhatengaken energy, daya ingkang ngedab-edabi, menawi “teori” kekristenan diterjemahaken wonten ing action. Sinau saking iman kapitadosan Maria Magdalena, mboten namung “berteori” nanging nindakaken “action” minangka saksi Yesus.
Patunggilan Kristen kalebet patunggilan, pasamuan GKJW mugi-mugi tansah tanggap, sigap lan, sidhak kados dene Maria Magdalena. Kotbah-kotbah, seremonial lan pahargiyan-parhargiyan gerejawi sampun ngantos namung mandeg ing sak celakipun mimbar lan dibatesi tembok-tembok gerejo kemawon. Sampun ngantos gereja dados menara gading ingkang “megah” nanging mboten menarik dening masyarakat sekitar.Gereja menawi taksih dados menara gading, kedah enggal-enggal mratobat! Menara gading puniko sampun wancinipun dirubuhaken, mboten wonten ginanipun babar pisan menawi kita namung “ngiyup” lan mbanggakaken kehormatan lan kemuliaan, ing saklebeting gereja, nanging gesang tebih lan mboten tanggepkaliyan kawontenan ing sak kelilingipun ingkang saweg ngadepi rupi-rupi pergulatan gesang. Pramilo sumangga kita sampun ngantos namun repot ngurusi diri pribadi piyambak, sampun ngantos gesang kita namung sibuk “ngayu-ngayu” diri pribadi.
Sedaya kebekuan, kekakuan lan Zona nyaman sumanggo dipun gantos kaliyan sikap ingkang dinamis, siaga, sigrak, ngadepi kenyataan, ngadepi ancaman lan tantangan ingkang mboten gampil. Greja lan tiyang Kristen kedah gesang proaktif dhumateng kawontenan sekitar ingkang taksih saweng ngalami keprihatinan lan perjuangangesang ing bab social, ekonomi, politik lan budaya. Kawontenan pasamuan Kristen kedah ndatengaken dampak positif dhumateng lingkungan sekitaripun; saged dados model. Gesangipun tiyang Kristen kedah Larut, mrasuk (kados sarem) wonten ing saklebeting pergumulan gesang ndonya. Sesarengan kaliyan ndonya ingkang saweg berjuang, kados dene Gusti Yesus, sumangga pasamuan Kristen tansah berjuang sesarengan kaliyan ndonya tumuju ing transformasi donya. Amin.
Pamuji: KPJ. 267