Mengupayakan Kesatuan dengan Tidak Berpikir Kitalah Satu-satunya Khotbah Minggu 27 Agustus 2023

14 August 2023

Minggu Biasa | Penutupan Bulan Pembangunan GKJW
Stola Hijau

Bacaan 1: Yesaya 51 : 1 – 8
Bacaan 2: Roma 12 : 1 – 8
Bacaan 3: Matius 16 : 13 – 20

Tema Liturgis: Kesatuan sebagai Modal Keterlibatan GKJW dalam Pemulihan Masyarakat
Tema Khotbah: Mengupayakan Kesatuan dengan Tidak Berpikir Kitalah Satu-satunya

Penjelasan Teks Bacaan;
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Yesaya 51 : 1 – 8
Bacaan pertama ini merupakan perikop yang tercakup dalam Deutero-Yesaya (Yesaya 40-55), dimana bagian ini ditulis dan ditujukan kepada orang-orang Yehuda yang hidup dalam pembuangan di Babilonia, di saat mereka dalam keadaan hancur tanpa harapan. Yesaya memberitakan bahwa tak lama lagi Allah akan membebaskan umat-Nya dan membawa mereka pulang ke Yerusalem, untuk memulai suatu hidup baru. Tema penting bagian ini: Allah menguasai sejarah dan Ia merencanakan untuk mengutus umat-Nya Israel kepada segala bangsa, dan melalui Israel, bangsa-bangsa lain yang percaya kepada Allah akan diberkati.

Bagian per bagian dari ayat ini ditujukan untuk memberikan penghiburan dan dorongan kepada orang-orang yang takut akan Allah dan berpegang teguh pada perintah-perintah-Nya, sekalipun mereka sedang berjalan dalam kegelapan dan tidak memiliki terang. 1. Bahwa Allah yang membangkitkan umat-Nya pada mulanya dari keadaan mereka yang tidak ada apa-apanya, akan menjaga supaya umat-Nya Israel itu tidak binasa (Ay. 1-3). 2. Bahwa kebenaran dan keselamatan yang dirancang bagi umat-Nya merupakan hal yang pasti dan sudah dekat, sangat dekat, dan pasti (Ay. 4-6). 3. Bahwa para penganiaya umat Israel adalah makhluk-makhluk lemah dan yang pasti akan mati (Ay. 7-8).

Bagaimana mereka di sini diperintahkan untuk menengok kembali kepada asal usul mereka, dan menyadari betapa kecilnya permulaan mereka. Mereka diajak untuk mengingat bagaimana Abraham dipanggil, ketika ia masih seorang diri, namun ia diberkati dan menjadi bertambah banyak. Biarlah hal itu mendorong umat untuk bergantung pada janji Allah meskipun jalan buntu seakan ada di segala sarana yang dipakai untuk penggenapannya. Khususnya, biarlah hal itu membesarkan hati tawanan-tawanan di negeri Babel, walaupun jumlah mereka semakin kecil, dan hanya sedikit di antara mereka yang tersisa. Agar mereka berharap bahwa mereka akan bertambah-tambah sampai dapat menghuni kembali tanah mereka sendiri. Bagaimana mereka diyakinkan bahwa waktu menabur dengan mencucurkan air mata sekarang ini akan berakhir di dalam tuaian sukacita.

Roma 12 : 1 – 8
Setelah pada bagian-bagian sebelumnya Rasul Paulus menjelaskan dan menegaskan pengajaran Kekristenan yang paling mendasar dan utama ini, maka sampailah Paulus pada tahap berikutnya untuk menekankan kewajiban-kewajiban utama Kekristenan. Kewajiban itu ditekankan – untuk memper-sembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup. Secara tidak langsung nasihat ini menyinggung persembahan di bawah hukum Taurat, yang disajikan atau diletakkan di hadapan Allah di atas mezbah, siap untuk dipersembahkan kepada-Nya. Jikalau dalam ketentuan hukum dan tradisi Agama Yahudi, persembahan yang pantas (terbaik) diberikan kepada Tuhan berupa binatang-binatang, lain halnya dengan ungkapan Rasul Paulus, persembahan yang baik di hadapan Tuhan adalah persembahan tubuh.

Mempersembahkan persembahan itu menunjukkan suatu tindakan yang dilakukan secara sukarela, dilakukan karena kuasa mutlak dari kehendak atas tubuh dan anggota-anggotanya. Persembahan itu haruslah persembahan yang dilakukan dengan kehendak bebas. Tubuhmu, dan bukan binatang-binatangmu. Persembahan yang sah itu, yang memiliki kuasa dari Kristus, juga memiliki masanya di dalam Kristus. Persembahan tubuh kepada Allah tidak saja berarti menjauhi dosa yang diperbuat dengan atau terhadap tubuh, tetapi juga menggunakan tubuh sebagai pelayan roh di dalam melayani Allah. Karena persembahan itu ditujukan kepada Allah, maka persembahan tubuh itu harus kudus. Tetapi, disamping itu, harus ada kekudusan yang nyata di dalam kebenaran hati dan kehidupan secara keseluruhan, yang olehnya kita menjadi serupa dengan sifat dan kehendak Allah.

Salah satu penjelasan dari Rasul Paulus ketika berbicara mengenai kekudusan hidup itu adalah: “Janganlah memikirkan hal-hal yang lebih tinggi” dari pada yang patut kamu pikirkan. Kita harus berhati-hati untuk tidak memiliki pandangan diri yang berlebihan atau memberikan nilai yang terlampau tinggi atas penilaian kita, kemampuan kita, pribadi kita, dan hasil kerja kita. Kita tidak boleh menyombongkan diri, tidak boleh terlampau memandang tinggi kebijaksanaan dan keberhasilan kita, juga tidak boleh beranggapan sudah menjadi orang yang berarti. Semua orang kudus membentuk satu tubuh di dalam Kristus, yang menjadi Kepala dari tubuh itu serta menjadi pusat bagi kesatuan mereka semua. Orang-orang percaya tidak berada di dunia ini, seperti timbunan yang kacau dan berantakan, tetapi teratur rapi dan saling terkait satu sama lain, sebagaimana mereka disatukan bersama-sama pada satu kepala, digerakkan dan dihidupkan oleh Roh yang sama.

Orang-orang percaya tertentu adalah anggota-anggota dari tubuh ini, bagian-bagiannya, yang artinya mereka adalah bagian dari keseluruhan, dan dalam hubungan dengan tubuh secara keseluruhan, mereka memperoleh hidup dan roh dari Sang Kepala. Tidak semua anggota itu mempunyai tugas yang sama (Ay. 4), namun masing-masing memiliki tempat masing-masing dan bekerja sesuai tugas yang telah ditetapkan. Tugas mata adalah untuk melihat, tugas tangan adalah untuk bekerja, dan seterusnya. Masing-masing anggota memiliki tempat dan tugas masing-masing, untuk kebaikan tubuh secara keseluruhan dan kebaikan masing-masing anggota lain. Kita tidak saja menjadi anggota tubuh Kristus, tetapi kita juga menjadi anggota yang seorang terhadap yang lain (Ay. 5). Kita berdiri dalam hubungan satu sama lain.

Matius 16 : 13 – 20
Di sini diceritakan tentang percakapan pribadi Yesus dengan murid-murid-Nya perihal diri-Nya. Peristiwa ini terjadi di tepi pantai Kaisarea, Filipi, wilayah perbatasan paling utara tanah Kanaan. Di sanalah Yesus bertanya, apa yang dikatakan orang banyak tentang diri-Nya: “Siapakah Aku ini menurut kata orang? “Apakah mereka mengakui bahwa Aku ini Mesias?” Ia tidak bertanya, “Siapakah Aku ini menurut ahli-ahli Taurat dan orang Farisi?” Kemudian, Ia bertanya, “Siapakah Aku ini menurut kata orang?” Yesus menunjuk kepada orang kebanyakan yang dipandang rendah oleh orang-orang Farisi. Kristus menanyakan hal ini, bukan karena Ia tidak tahu jawabannya. Ia mengetahui apa yang dipikirkan manusia, apalagi yang mereka ucapkan. Ia juga bukan seorang yang gila hormat, yang ingin mendengar pujian orang tentang diri-Nya sendiri. Tetapi, Ia ingin membuat murid-murid-Nya memikirkan dengan penuh perhatian, apakah mereka berhasil dalam mengajarkan orang tentang Dia, apakah mereka berhasil menunjukkan kepada orang lain mengenai siapakah Dia? Orang kebanyakan lebih merasa akrab untuk bergaul dengan murid-murid daripada dengan Guru mereka. Jadi, dari merekalah, Ia dapat lebih mengetahui apa kata orang banyak itu. Yesus belum memberitahukan orang lain secara terus terang siapa diri-Nya. Ia membiarkan orang menyimpulkan sendiri dari pekerjaan-pekerjaan-Nya. Sekarang Ia ingin mengetahui apa kesimpulan yang ditarik orang berdasarkan pengajaran murid-murid itu dan dari mujizat-mujizat yang dibuat oleh mereka di dalam nama-Nya.

Respon Petrus atas pertanyaan ini, dia tampil memberikan jawaban mewakili murid-murid yang lain, dan teman-temannya yang lain menyetujui dan mendukung jawaban tersebut. Perangai Petrus seringkali membuat ia selalu tampil di depan untuk berbicara di semua kesempatan, kadang-kadang ia mampu berbicara dengan baik dan adakalanya ia membuat kekeliruan. Yesus pun menunjukkan rasa senangnya terhadap pengakuan Petrus, yang sangat jelas dan langsung, tanpa kata-kata keraguan atau persyaratan. Yesus sangat berkenan dengan murid-murid yang penuh pengetahuan dan anugerah. Ia menunjukkan kepada Petrus dari mana pengetahuan tentang kebenaran itu didapatnya.

Namun membaca bagian ini lepas dari kelanjutan adegannya, akan membuat kita salah menangkap pesan apa yang ingin disampaikan oleh Matius. Kita akan menemukan kenyataan yang berbeda, Petrus yang tadinya mendapat sanjungan dan penghargaan yang tinggi dari Yesus, karena jawaban yang diberikan mewakili murid-murid yang lain, menemukan teguran keras dari Yesus, karena rupanya jawaban yang diberikan oleh Petrus sama sekali tidak bersumber dari pengetahuan dan pengalaman iman yang mendalam selama menjalani hari-hari bersama Yesus. Terkesan, bahwa jawaban yang diberikan oleh Petrus hanyalah didasari oleh keinginan tampil lebih baik dibandingkan murid-murid yang lain.

Benang Merah Tiga Bacaan
Janji akan pemulihan dan kesatuan kembali, yang disampaikan Tuhan kepada orang beriman haruslah direspon dengan kesungguhan. Kesungguhan untuk hidup dalam kekudusan sesuai dengan yang dikehendaki oleh Allah, yang nampak dalam perilaku: tidak meninggikan diri sendiri, memikirkan perkara-perkara di luar batas kemampuannya, kemauan untuk satu, rasa satu pemikiran, dan satu tujuan. Kita harus menyadari bahwa kemampuan dan anugerah yang Tuhan berikan atas umat-Nya berbeda-beda, akan tetapi semuanya harus diarahkan untuk kemuliaan nama Allah semata. Seyogyanya tidak ada satu orangpun yang merasa dirinya lebih pandai atau lebih utama dibandingkan yang lainnya.

 

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)

Pendahuluan
Sebagian besar dari orang yang hidup di dunia ini akan senang ketika dirinya mendapatkan sanjungan atau pujian atas kelebihan yang mereka miliki. Seperti mendapatkan sanjungan karena memiliki paras yang ganteng/cantik, mendapat sanjungan karena kepandaiannya, prestasinya, pencapaiannya, dan bentuk-bentuk sanjungan yang lainnya. Tidak heran apabila kita menemukan beberapa peristiwa dimana ada beberapa orang yang dengan sadar menciptakan kebohongan demi mendapatkan pengakuan dan sanjungan dari orang lain, atau melakukan tindak kejahatan demi menaikkan status sosialnya agar mendapat pengakuan dari orang lain.

Mendapatkan sanjungan atau penghargaan dari orang lain oleh karena kepantasan diri kita mendapatkannya, adalah sesuatu yang baik. Namun seringkali menjadi masalah, apabila pengakuan dan penghargaan itu menjadi ambisi buta yang kita peroleh dengan menghalalkan segala cara. Akan menjadi masalah apabila di sekeliling kita dipenuhi oleh orang-orang yang tidak segan-segan terlihat sok pandai di hadapan orang lain agar dinilai pandai, orang berdandan tidak sesuai dengan kemampuannya agar terlihat mapan, orang merendahkan orang lain dan merasa diri paling benar agar tidak disalahkan.

Isi
Mari kita lihat bacaan Injil pada hari ini, diceritakan bagaimana respon yang diberikan oleh para murid ketika Tuhan Yesus bertanya tentang bagaimana pengenalan diri mereka terhadap sosok Guru yang selama ini mereka ikuti. Yesus mengawali percakapan dengan pertanyaan mengenai apa yang murid-murid dengar dari orang lain tentang Anak Manusia. Seketika itu juga para murid memberikan jawab bahwa Anak Manusia itu adalah Yohanes Pembaptis, Elia, Yeremia, atau salah seorang di antara para nabi. Sampailah Yesus menyampaikan pertanyaan yang kedua: siapakah Aku menurut para murid sendiri? Di sanalah kemudian Simon Petrus memberikan jawaban dengan tegas, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!”

Respon Petrus atas pertanyaan ini nampak begitu antusias, dia tampil memberikan jawaban mewakili murid-murid yang lain, dan keheningan murid-murid yang lain menandakan bahwa mereka menyetujui dan mendukung jawaban tersebut. Perangai Petrus seringkali membuat ia selalu tampil di depan untuk berbicara di semua kesempatan, kadang-kadang ia mampu berbicara dengan baik dan adakalanya ia membuat kekeliruan. Yeus pun menunjukkan rasa senangnya terhadap pengakuan Petrus, yang sangat jelas dan langsung, tanpa kata-kata keraguan.

Namun membaca bagian ini lepas dari kelanjutan adegannya, akan membuat kita salah menangkap pesan apa yang ingin disampaikan oleh Matius. Kita akan menemukan kenyataan yang berbeda, Petrus yang tadinya mendapat sanjungan dan penghargaan yang tinggi dari Yesus karena jawaban yang diberikan sungguh baik, pada cerita selanjunya Petrus justru mendapat teguran keras dari Yesus. Karena sepertinya jawaban yang diberikan oleh Petrus atas pertanyaan Yesus tentang siapa diri-Nya, sama sekali tidak bersumber dari pengetahuan dan pengalaman iman yang mendalam selama menjalani hari-hari bersama Yesus. Terkesan, bahwa jawaban yang diberikan oleh Petrus hanyalah didasari oleh keinginan tampil lebih baik dibandingkan murid-murid yang lain.

Penutup
Entah, apa yang menjadi sebab keheningan di antara murid-murid yang lain, apakah karena mereka tidak tahu, apakah mereka ragu-ragu untuk memberikan jawab, ataukah mereka memang bersikap layaknya kebanyakan kita yang selalu memberikan kesempatan orang lain terlebih dahulu? Jelasnya, Petrus yang penuh dengan semangat mengambil kesempatan untuk dapat memberikan jawaban atas pertanyaan Yesus itu, yang sekali lagi terkesan, bahwa Petrus ingin tampil sebagai sosok yang terdepan di antara yang lain.

Pada momen penutupan bulan pembangunan GKJW inilah, kita diajak untuk merenungkan kembali nasihat Rasul Paulus yang mengajak kita untuk mempersembahkan kekudusan tubuh kita. Kekudusan tubuh yang dimaksudkan oleh Rasul Paulus, yaitu kita mau melihat keberadaan diri kita dan orang lain di sekitar kita, dan kita mau menghargai mereka dengan sepenuh hati, dengan tidak melihat diri kita yang paling unggul dibandingkan dengan yang lain. Amin. [YEP].

 

Pujian: KJ. 357 : 1, 2 Dengar Panggilan Tuhan

Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, seged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)

Pambuka
Kathah tiyang ing donya punika ngraosaken remen nalika piyambakipun nampi pangalembana awit kasaenan ingkang dipun gadhahi. Piyambakipun nampi pangalembana awit piyambakipun punika ngganteng/ayu, pinter, berprestasi, saged nggayuh punapa ingkang dados pangajeng-ngajengipun, lsp. Boten nggumun bilih kita saged manggihi prastawa punika, ing pundi wonten sak perangan tiyang ingkang kanthi sadhar ngapusi tiyang sanes supados angsal pangalembana, utawi nindhakaken tumindhak awon supados tiyang sanes purun ngakeni derajat-pangkatipun.

Nampeni pangalembana utawi pengaken saking tiyang sanes awit kita pantes nampeni kalebet perangan ingkang sae. Ananging asring ingkang dados masalah, menawi pengaken lan pangalembana kalawau dados ambisi ingkang kita upadi. Saged dados masalah bilih wonten ing sakiwa-tengen kita dipun kebaki kaliyan tiyang-tiyang ingkang boten sungkan malih dados tiyang sok-pinter wonten ngajengipun tiyang sanes, supados saged kasebat tiyang pinter. Wonten tiyang ngagem busana ingkang boten imbang kaliyan kasagedanipun, supados katingal tiyang mapan, tiyang ningali kawontenan tiyang sanes sepele lan ningali dhirinipun ingkang paling sae.

Isi
Sumangga kita tingali waosan Injil ing dinten punika. Dipun cariosaken kados pundi wangsulan para sakabat nalika Gusti Yesus ndangu dhateng piyambakipun gegayutan kaliyan kados pundi pangertosipun para sakabat tumrap Guru ingkang dangu dipun tepang punika. Gusti Yesus miwiti pirembagan kanthi pitakenan, punapa ingkang dipun pirengaken dening para sakabat tumrap pangertosipun tiyang kathah bab Putraning Manungsa. Sanalika para sakabat paring wangsulan kanthi nyebat bilih Putraning Manungsa punika Yokanan Pambaptis, Elia, Yeremia, utawi salah satunggaling nabi. Gusti Yesus nglanjengaken pitakenanipun, miturut para sakabat, Gusti Yesus punika sinten? Lajeng Simon Petrus paring wangsulan kanthi teges: “Paduka punika Sang Kristus, Putraning Allah ingkang gesang!”.

Wangsulan Petrus tumrap pitakenan kalawau saestu dipun dhasari raos krenteg sanget. Piyambakipun majeng paring wangsulan makili para sakabat. Sidhemipun sakabat sanesipun saged dados pratandha bilih sadaya sami sarujuk kaliyan wangsulan ingkang dipun aturaken Petrus. Sipat ingkang dipun gadhahi dening Petrus pancen asring ndamel piyambakipun ketingal wonten ing ngajeng kangge wicanten sakwanci-wanci. Wonten kalamangsanipun Petrus wincanten kanthi sae, wonten kalamangsanipun Petrus ndamel kalepatan. Gusti Yesus ngatingalaken raos remenipun tumrap pangakenipun Petrus, ingkang dipun aturaken kanthi teges lan lugas, boten wonten raos mangu babar pisan.

Ananging maos carios punika saged ndamel kita salah paham. Ing cariyos salajengipun, kita saged manggihi carios ingkang saestu benten kawontenanipun, Petrus ingkang saderengipun nampeni pangalembana ingkang mirunggan saking Gusti, awit sampun paring wangsulan ingkang sae, wonten ing carios salajengipun, Petrus malah dipun winelehaken dening Gusti Yesus. Awit kados-kados wangsulan ingkang dipun aturaken tumrap pitakenanipun Gusti bab sinten Panjenenganipun, boten nggadhahi dasar pangertosan lan iman ingkang lebet. Katingal bilih wangsulan kalawau namung dipun dhasari pepingan supados Petrus saged dipun tingali paling sae katimbang sakabat sanesipun.

Panutup
Kita boten mangertosi, punapa sejatosipun ingkang dados sabab swasana sidhem wonten ing satengah-tengahing para sakabat. Punapa para sakabat saestu boten sumerep bab Gusti Yesus, punapa para sakabat mangu-mangu badhe paring wangsulan, utawi para sakabat pancen kepenging paring wekdal kangge sakabat sanes paring wangsulan? Ingkang cetha, Petrus ingkang kebak kaliyan krenteng ing manahipun kalawau, sampun mundhut wekdal kangge saged paring wangsulan tumrap pitakenan Gusti Yesus, ingkang kados-kados dipun dhasari raos kepengin katingal langkung sae katimbang sanesipun.

Ing wekdal panutupipun sasi Pembangunan GKJW punika, kita sami dipun ajak ngraos-ngraosaken pepengetipun Rasul Paulus supados kita purun misungsungaken kasucen dhiri kita. Kasucenaning dhiri ingkang dados pemanggihipun Rasul Paulus gegayutan kaliyan jangkepipun serat ing waosan kita. Boten sanes kasucenanipun dhiri punika saged kagayuh nalika kita purun ningali kawontenan tiyang sanes lan ugi purun ngajeni piyambakipun kanthi sawetah. Kita boten namung ningali kawontenan dhiri kita ingkang paling sae katimbang tiyang sanes kalawau, nanging ningali kawontenan kita sami kaliyan tiyang sanes wonten ing ngarsanipun Gusti. Amin. [YEP].

 

Pamuji: KPJ. 188 : 1, 3 Biyen Nglirwakake

Renungan Harian

Renungan Harian Anak