Membangun Komunitas yang Erat dalam Gereja Khotbah Minggu 20 Agustus 2023

7 August 2023

Minggu Biasa | Bulan Pembangunan GKJW
Stola Hijau

Bacaan 1: Yesaya 56 : 1, 6 – 8
Bacaan 2: Roma 11 : 1 – 2a, 29 – 32
Bacaan 3: Matius 15 : 21 – 28

Tema Liturgis: Kesatuan sebagai Modal Keterlibatan GKJW dalam Pemulihan Masyarakat
Tema Khotbah: Membangun Komunitas yang Erat dalam Gereja

Penjelasan Teks Bacaan
Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Yesaya 56 : 1, 6 – 8
Pasal 56:1-8 memiliki tema: keselamatan dari Allah bagi semua bangsa. Latar belakang dari bacaan kita ini adalah sebagai berikut: karena kalah melawan bangsa Babilonia, orang Israel dibawa ke dalam pembuangan di Babilonia. Bangsa Israel sampai dengan generasi ketiga telah tinggal di Babilonia telah kawin campur dengan orang-orang Babilonia. Saat itu mereka sedang mengalami banyak kesukaran sebagai orang yang berada di pembuangan. Namun pertanyaan lain yang penting adalah apakah janji keselamatan itu hanya berlaku bagi keturanan orang Israel semata-mata? Bagaimanakah nasib dari orang-orang asing yang oleh karena kawin mawin telah menjadi bagian dari bangsa Israel. Bagaimana nasib para suami dan istri non Israel? apakah mereka juga bagian dari janji keselamatan itu? Bagi nabi Yesaya janji keselamatan Allah itu berlaku bagi semua orang termasuk orang asing dan orang-orang yang dikebiri. Asal mereka mau kembali mengikatkan diri kepada Allah secara sungguh-sungguh. Mereka juga akan dibawa kembali ke Yerusalem dan tetap terhitung sebagai umat Tuhan.

(https://kupang.tribunnews.com/2019/07/17/renungan-harian-kristen-protestan-rabu-17-juli-2019-menuju-rumah-bersama-bagi-semua-orang?page=4.)

Roma 11 : 1 – 2a, 29 – 32
Dalam Roma 11:1–2a, dibuka dengan pertanyaan Paulus: apakah ketidaktaatan Israel yang menolak Injil berarti bahwa Allah menolak Israel? Paulus menunjuk kepada dirinya sendiri bahwa ia adalah contoh konkret  orang Israel yang percaya kepada Kristus (Ay. 1b). Allah adalah setia, bagaimanapun keadaan umat Israel, Allah tidak akan mengingkari pilihan-Nya (Ay. 2a), meskipun ada di antara orang Israel sebagai umat pilihan-Nya yang tidak setia. Paulus ingin menjelaskan bahwa jika ada orang yang diselamatkan, itu adalah mutlak anugerah dari Allah, bukan usaha manusia.

Pada ayat 29–32, Paulus menjelaskan bahwa anugerah Allah yang diberikan kepada umat-Nya tidak akan dicabut oleh Allah (Ay. 29). Ketidaktaatan Israel memberi peluang bagi bangsa-bangsa lain untuk bertobat, dan Paulus berharap bahwa pertobatan bangsa-bangsa lain akan mendorong Israel untuk bertobat. Inilah yang dinyatakan oleh Rasul Paulus, “Kamu dahulu tidak taat kepada Allah, tetapi sekarang beroleh kemurahan oleh ketidaktaatan mereka.” (Ay. 30). Namun demikian keselamatan tetap terbuka bagi umat Israel melalui kemurahan yang telah diperoleh orang-orang yang non Yahudi demikian juga sebaliknya. Disinilah nampak kasih Allah kepada semua ciptaan-Nya bahwa kasih-Nya dinyatakan kepada semua bangsa. Allah sedemikian inklusifnya dalam menyatakan kasih penyelamatan. Inilah yang ingin dijelaskan oleh Paulus bahwa orang-orang non Yahudi juga berhak mendapat keselamatan dari Allah yang kasih-Nya universal.

Matius 15 : 21 – 28
Ada perbedaan penyebutan asal usul perempuan antara Matius 15:22 dan Markus 7:26 dalam kisah ini. Matius menyebutnya sebagai perempuan Kanaan dan Markus menyebutnya sebagai perempuan Siro Fenesia. Orang Yahudi menyebut penghuni, Tirus dan Sidon sebagai orang Kanaan. (https://teologiareformed.blogspot.com/2018/12/yesus-dan-perempuan-kanaan-matius-1521.html) Perempuan Kanaan tersebut menyampaikan sebuah permohonan dan  Yesus tidak menjawab  perempuan tersebut, karena memang permohonan yang diajukan oleh perempuan tersebut tidak relevan dengan tujuan kehadiran Yesus, yang hadir bagi penyelamatan Bangsa Israel.

Lalu apa yang membuat Yesus berubah pikiran? Di ayat 27 perempuan itu menjawab bahwa Anjing itu makan remah-remah dari meja tuannya. Dengan menjawab hal tersebut, maka perempuan Kanaan ini sepenuhnya setuju dan menerima peraturan penyelamatan yang dinyatakan melalui Yesus Kristus atas Israel. Yang menarik adalah perempuan Kanaan ini menyebut Yesus sebagai Anak Dud, dengan menyebut Yesus sebagai Anak Daud, maka ia mengerti betul siapakah Tuhan Yesus. Imannya yang kuat menerima kebenaran yang berlaku untuknya dan anaknya yang sedang sakit. Iman inilah yang berkenan bagi Yesus dengan mengatakan “Besar imanmu”. Dengan demikian kita bisa melihat bahwa keselamatan dari Allah juga diberikan kepada semua bangsa yang mempercayai-Nya. Keselamatan dari Allah tidak lagi hanya  menjadi milik bangsa Israel, tetapi Allah juga berkenan kepada bangsa-bangsa lain.

Benang Merah Tiga Bacaan
Kasih keselamatan Allah dinyatakan bagi semua bangsa yang percaya dan taat kepada-Nya. Karya penyelamatan Allah bukan milik suatu bangsa secara eksklusif.

 

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan khotbah, silahkan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)

Pendahuluan
Di atas sebuah meja makan terhidang beragam makanan: ada bumbu urap-urap, ada bayam rebus, kecambah rebus, ayam bumbu rujak, dan tempe goreng. Masing-masing dari mereka membicarakan bahwa masing-masing dari mereka adalah yang paling hebat, paling berharga, dan paling enak. Lalu marahlah tempe goreng kepada semua makanan yang ada di atas meja. Lalu dia mendorong semua makanan agar jatuh dari meja. Bumbu urap sudah terjatuh, lalu ayam bumbu rujak pun jadi berantakan di lantai  tanah. Dia bersiap mendorong sayuran, untunglah pemilik rumah dan para tamunya datang. Betapa terkejutnya pemilik rumah itu melihat semua makanan yang berantakan di tanah. Seorang tamu mengatakan: “Ya ampun bumbu urap dan ayamnya berantakan di tanah, masak kita hanya mau makan bayam rebus dan tempe goreng, mana nikmatnya tanpa bumbu urap dan ayam bumbu rujak.” Maka menyesallah tempe goreng karena kelakuannya itu, ternyata tanpa teman-temannya apalah artinya dia, tak lengkaplah menu syukuran hari itu, bukan nasi urap-urap lagi.

Isi
Begitulah tadi balada meja makan, yang mungkin saja bisa terjadi dalam relasi sosial kita, misalnya di keluarga, di gereja, dan di dalam masyarakat. Kita sering tanpa sadar mengkotak-kotak diri kita membangun komunitas-komunitas tertentu dengan mengatakan bahwa, komunitas kita yang terbaik, pandangan, ide, dan pemikiran komunitas kitalah yang terbaik. Lalu alam berpikir yang seperti itu seringkali diikuti dengan memandang komunitas lainnya sebagai yang kurang baik bahkan salah.

Ketika seseorang menganggap dirinya baik dan benar sebenarnya bukan masalah. Itu adalah sah sebagai hak asasi. Bahkan seorang yang sehat adalah seseorang yang bisa menemukan kebaikan dalam dirinya, lalu mengembangkan dirinya karena kebaikan yang dia miliki itu. Ketika seseorang merasa dirinya benar itu juga penting. Seorang yang sehat jiwanya juga adalah seseorang yang bisa menemukan kebenaran dalam menguatkan keyakinannya, sehingga ia bisa menjadi bahagia dalam menjalani kehidupan yang ia pilih. Yang menjadi masalah adalah ketika ia merasa dirinya baik dan benar, dan orang lain lalu harus menjadi salah karena apa yang dipikirkannya. Dalam relasi sosial jika kita bersikap demikian, maka kita akan berbenturan dengan orang lain atau kita akan nampak menyebalkan bagi orang lain. Lebih-lebih jika dia memaksakan hal itu itu diterima oleh orang lain, jika tidak sama denganku, maka kamu salah. Betapa mengerikannya dia. Tak jarang di gereja, kita juga sering menemukan orang dengan perangai demikian. Dan biasanya orang dengan perangai demikian justru menyulut kericuhan yang membuat gereja kehilangan damai sejahtera.

Bagaimana supaya kita bisa menjaga keharmonisan dalam relasi sosial kita? Bagaimana kita bisa membangun komunitas yang erat dalam gereja kita, GKJW yang tercinta ini? Beberapa hal yang bisa menjadi perhatian bersama:

  1. Kita masing-masing perlu menyadari bahwa kita masing-masing adalah ciptaan Tuhan yang sangat berharga, bahwa Tuhan mengasihi kita semua. Paulus menjelaskan bahwa Allah adalah setia, bagaimanapun keadaan umat Israel, Allah tidak akan mengingkari pilihan-Nya, meskipun ada di antara orang Israel sebagai umat pilihan-Nya yang tidak setia. Paulus ingin menjelaskan jika ada orang yang diselamatkan, itu adalah mutlak   anugerah dari Allah, bukan usaha manusia. Semua makhluk dikasihi oleh Allah dan semua berharga di mata-Nya. Jika Tuhan melihat mereka begitu berharga, maka demikian pula kita memandang semua ciptaan.
  2. Kita perlu memahami bahwa kita dihargai karena kapasitas otentik kita. Keselamatan yang dinyatakan Allah melalui Tuhan Yesus Kristus mengandung prinsip keadilan, berlaku untuk semua bangsa yang percaya kepada-Nya. Perempuan Kanaan berhasil merebut hati Yesus dengan imannya. Allah itu tidak hanya kasih, tetapi juga adil. Perempuan itu dihargai karena imannya, bukan karena latar belakang kebangsaannya. Kitapun akan dihargai dengan baik dalam relasi sosial kita sesuai dengan kapasitas kita yang otentik. Maka kita juga perlu menghargai kapasitas otentik orang lain bukan melihat latar belakang sosialnya, ekonominya, apakah dia orang kaya atau miskin, tetapi melihat kemampuannya.
  3. Kita perlu memiliki kasih yang tulus seperti kasih Allah kepada umat-Nya yang meskipun umat-Nya tidak setia, Ia tetap setia. Saat bangsa Israel dalam pembuangan di Babilonia, mereka kawin-mawin dengan orang-orang Babilonia. Janji keselamatan Allah tidak hanya berlaku bagi keturanan orang Israel semata-mata. Nasib dari orang-orang asing yang oleh karena kawin-mawin telah menjadi bagian dari bangsa Israel. Janji keselamatan Allah itu berlaku bagi semua orang, termasuk orang asing dan orang-orang yang dikebiri. Asal mereka mau kembali mengikatkan diri kepada Allah secara sungguh-sungguh. Mereka juga akan dibawa kembali ke Yerusalem dan tetap terhitung sebagai umat Tuhan. Kawin-mawin dengan bangsa lain adalah sebuah pelanggaran terhadap hukum menjaga kemurnian Israel (Kel. 34:15-16, Ul 7:3,4). Meskipun demikian Allah tetap mengasihi umat-Nya Israel dan keturunannya yang telah bercampur dengan bangsa-bangsa lainnya. Persekutuan gereja kita akan menjadi komunitas yang erat, jika masing-masing memiliki kasih yang tulus, yang merengkuh segala keadaan dan perbedaan, bukan merusaknya atas nama kebenaran. Kasih yang demikian ini akan membuat kita memiliki pemikiran yang terbuka dan memahami keadaan apapun dengan kasih yang tulus, seperti Allah yang mengasihi umat-Nya.

Penutup
Demikianlah panggilan GKJW untuk bersatu, meskipun kita masing-masing memiliki beragam pemahaman cara membangun gereja. Jika kita bersatu dan saling menghargai, maka GKJW akan memiliki kekuatan untuk menjadi berkat bagi lingkungannya. Jika kita saling menjaga supaya kita menjadi komunitas yang erat, maka GKJW akan dipercaya oleh banyak pihak untuk bisa menjadi mitra dalam menjadi rekan sekerja Allah. Seperti  sekumpulan makanan di atas meja makan akan menjadi nikmat di mulut para tamu, ketika meskipun mereka berbeda-beda, mereka utuh menjadi hidangan yang nikmat. Amin. [AM].

 

Pujian: KJ. 249  Serikat Persaudaraan

Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, seged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)

Pambuka
Ing sak nginggilipun meja wonten rupi-rupi pasugatan kangge para tamu, wonten bumbu urap-urap, bayem, cambah, ayam bumbu rujak lan tempe goreng. Pasugatan punika lajeng sami wawanrembag bab sinten ingkang paling sae lan eco. Lajeng tempe nesu dhateng para kancanipun lan nyurung-nyurung kancanipun supados sami dawah saking meja. Bumbu urap sampun dawah, lajeng ayam bumbu rujak sampun ambyar wonten siti ing ngandap meja. Tempe sampun badhe nyurung kuluban, dumadakan para tamu lan ingkang kagungan griya sami mlebet dhateng ruang makan. Lajeng sami kaget awit pasugatan punika sami nggletak ing siti. Salah setunggilipun tamu ngendika: “Lha iki opo enake, yen gur mangan kuluban karo tempe, ora ana bumbu urap lan ayam bumbu rujake.” Lajeng tempe rumaos getun sampun nyurung kanca-kancanipun, awit tanpa kanca-kancanipun, tempe rumaos boten wonten ginanipun.

Isi
Kados makaten, punapa ingkang kelampahan ing meja dahar punika saged ugi kelampahan ing gesang sosial kita kaliyan tiyang sanes. Tanpa sadar kita punika langkung remen gesang boten rukun kaliyan tiyang sanes kanthi mbangun komunitas-komunitas piyambak lan ngendika bilih komunitas sanesipun punika langkung awon. Lan emanipun malah-malah kita kadang-kadang lajeng ugi nggadahi pamanggih bilih komunitas sanesipun punika lepat.

Nalika kita nggadhahi pamanggih bilih kita punika leres, sejatosipun sae kemawon. Punika sah awit punika hak asasi. Ingkang sehat malahan bilih kita saged manggihaken hal ingkang sae ing dhiri kita lan saged kangge ngembangaken dhiri kita. Ingkang sehat pribadinipun ugi ingkang saged manggihaken talesing kapitadosan kangge ngiyatken keyakinan, supados saged menggihaken kabingahan tumrap pilihanipun gesang. Ingkang dados masalah inggih punika bilih kita ngraos ingkang paling leres lan sae, lajeng tiyang sanes kedah lepat lan awon. Ing sesambetan kita kalian tiyang sanes bilih kita nggadhahi pemanggih ingkang paling leres, mila lajeng tiyang sanes boten remen lan terganggu. Ing greja, kala-kala kita ugi manggihaken tiyang ingkang kados makaten, lan biasanipun tiyang ingkang kados makaten dados sumbering cecongkrahan ing greja lan greja kecalan katentreman.

Kados pundi supados kita saged njagi keharmonisan ing sesambetan sosial kita? Kados pundi kita saged mbangun komunitas ingkang raket ing gereja kita GKJW ingkang kita tresnani? Kita saged nggatosaken prekawis punika:

  1. Kita kedah nyadari bilih kita punika titahipun Gusti ingkang aos wonten ngarsanipun Gusti, lan Gusti punika tresna dhateng kita sadaya. Paulus nedahaken bilih Gusti Allah punika setya, kadospundi kemawon kawontenanipun umat Israel, Gusti Allah boten badhe mblenjani prasetyanipun, senaosa umat Israel punika tumindak dosa dhumateng Gusti Allah. Paulus nerangaken tiyang ingkang nampi kawilujengan punika krana peparingipun Gusti Allah, sanes usahanipun piyambak sacara kamanungsan. Sadaya makhluk punika aos ing ngarsanipun Gusti lan dipun tresnani, mekaten ugi kita kedah nampi para sedherek tunggil pasamuan kados pundi kawontenanipun.
  2. Kita kedah mangertosi punapa kapasitas otentik dhiri pribadi kita. Kawilujengan ingkang dipun paringaken dhateng manungasa punika ngemu prinsip keadilan. Wanita Kanaan punika saged narik kawigatosanipun Gusti Yesus awit saking imanipun ingkang ageng. Gusti Allah punika adil, wanita Kanaan punika dipun tampi krana imanipun, sanes karana latar belakang bangsanipun. Kula lan panjenengan ugi badhe saged dipun aosi kanthi sae ing sesambetan sosial kita condhong kaliyan kapasitas otentik ingkang kita nggadhahi. Pramila kita ugi kedah ngaosi kapasitasipun tiyang sanes, sanes ningali latar belakang sosialipun utawi ekonominipun. Conthonipun : tiyang punika kalebet sugih punapa sekeng boten penting, ingkang penting kados pundi kasagedanipun.
  3. Kita kedah nggadhahi katresnan ingkang tulus, kados dene Gusti Allah ingkang tresna dhateng umat-Ipun senaosa umat-Ipun boten setya, Gusti Allah tansah setya. Nalika bangsa Israel wonten Babilonia, sami neningkahan kaliyan tiyang Babilonia. Kawilujengan boten namung kangge bangsa Israel kemawon, ananging ugi kangge keturunan campuran lan bangsa sanes ingkang pitados. Amargi kawin kaliyan bangsa sanes punika nglanggar hukumipun Israel (Pangentasan 34:15, P. Toret 7:3,4). Gusti Allah tetep tresna dhumateng bangsa Israel, senaosa keturunanipun sampun kawin campur kaliyan bangsa sanes. Greja kita saged dados komunitas ingkang raket, bilih kita sadaya nggadhahi katresnan ingkang tulus, ingkang ngrengkuh sadaya kawontenan, boten ngrisak atas nami kesaenan. Katresnan ingkang kados makaten ingkang ndadosaken kita nggadahi pemanggih ingkang tinarbuka lan mangertosi kawontenan ingkang kadospundi kemawon kanthi katresnan ingkang tulus, kadosdene Gusti Allah ingkang tresna dhateng umat-Ipun.

Panutup
Makaten ingkang dados timbalan greja kita GKJW, supados tansah nunggil, senaosa kita nggadhahi pemanggih ingkang mawarni-warni bab cara mbangun greja. Bilih kita nunggil dados setungggal lan tansah aos ingaosan,  GKJW tamtu badhe nggadhahi kekiyatan dados berkah tumrap lingkunganipun. Kita kedah saling njagi supados kita dados komunitas ingkang raket, sarana punika GKJW tamtu badhe pikantuk kapitadosan saking pihak sanes lan dados mitra rowang damelipun Gusti Allah ing bumi. Kados dene mawerni-wernining pasugatan ing meja, tamtu nikmat bilih dipun dahar kanthi kathah ragam ingkang benten ananging mathuk. Amin. [AM].

 

Pamuji: KPJ. 357 : 1, 2  Endahing Saduluran

Renungan Harian

Renungan Harian Anak