Firman Tuhan Menuntun Kita Peduli kepada Sesama Khotbah Minggu 25 September 2022

Minggu Biasa | Penutupan Bulan Kitab Suci
Stola Hijau

Bacaan 1: Amos 6 : 1a, 4 – 7
Bacaan2:
1 Timotius 6 : 6 – 19
Bacaan 3:
Lukas 16 : 19 – 31

Tema Liturgis: Jalanilah Kehidupan di dalam Terang Firman Allah!
Tema Khotbah: Firman Tuhan Menuntun Kita Peduli kepada Sesama

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Amos 6 : 1a, 4 – 7
Menurut narasi kitabnya, Amos hidup pada masa Uzia atau Azarya (untuk mengetahui pemerintahan Uzia, baca 2 Raj. 15 dan 2 Taw. 26). Uzia memerintah selama 52 tahun atas Yehuda. Menurut narasi Tawarikh, dikisahkan bahwa pemerintahan Uzia awalnya berjalan dengan sangat baik, dia menjadi raja yang mencintai Tuhan, bahkan memiliki kekuatan ekonomi, militer dan dukungan sosial yang besar dari masyarakatnya. Namun, sesudah menjadi besar, Uzia berubah haluan, menjadi seseorang yang tinggi hati, bahkan mengambil alih peran para imam di Bait Allah hingga dikritik keras oleh golongan para imam. Disebutkan sebagai dampaknya dia bahkan mengalami sakit kusta hingga hari kematiannya.

Tidak secara jelas, bagian Amos 6 ini dituliskan pada masa yang manakah dari pemerintahan Uzia (jika memang benar dituliskan pada masa raja Uzia), agaknya di masa-masa perubahan sikap Uzia menjadi angkuh. Amos merasa bahwa orang-orang yang merasa tentram dengan duduk di atas keangkuhan (digambarkan dengan berbaring di tempat tidur dari gading dan duduk berjuntai di ranjang), kesenangan (bernyanyi dan mendengarkan gambus, berpesta, minum anggur dan berurap minyak terbaik), dan ketidakpedulian pada kehancuran orang lemah dan bangsanya (tidak berduka atas kehancuran keturunan Yusuf) sesungguhnya adalah orang-orang celaka.

Amos menegaskan bahwa keberhasilan dan kedigdayaan yang dibangun di atas penderitaan (atau paling tidak mempedulikan situasi) orang-orang lemah di sekitarnya sesungguhnya adalah keberhasilan yang menantikan saatnya menghadapi kehancuran. Rasa tentram yang dihadirkan oleh situasi demikian adalah rasa tentram palsu. Pesta mereka akan bubar digantikan pembuangan (Ay. 7).

1 Timotius 6 : 6 – 19
Dalam surat pastoral kepada sang murid terkasihnya, Paulus mengingatkan kepada Timotius bahwa upaya memperoleh keberhasilan (kekayaan) bisa membuat orang terjatuh dalam percobaan. Orang kaya bisa merubah menjadi orang yang diburu nafsu, hingga mencintai uang dan menyimpang dari imannya. Orang-orang demikian tidak sadar bahwa mereka sedang menyiksa dirinya sendiri. Hal yang sama juga bisa dialami oleh orang-orang yang ingin selalu menang (saling berbantah atas dasar pengetahuan – baca kelanjutan perikop ini di ayat 20) dan tinggi hati (Ay. 17).

Paulus mengajarkan kepada Timotius untuk tidak sekadar melihat sesuatu yang tampak di depan mata dan mencurahkan hidup untuk itu. Sebaliknya, Paulus mengajarkan kepada Timotius untuk setia dalam imannya (ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran, dan kelembutan, bertanding untuk hidup yang kekal – Ay. 11-12). Karena yang tampak tidak akan abadi sebesar dan sehebat apa pun.

Paulus tidak sedang mengajarkan untuk lebih baik menjadi miskin atau hidup dalam penderitaan. Namun, Paulus mengingatkan bahwa selalu ada godaan untuk meninggalkan jalan iman ketika seseorang mengupayakan kebesaran. Justru, jangan sampai terjebak oleh kesenangan yang pada akhirnya membawa pada penderitaan diri maupun yang lain. Setiap sikap yang diambil, bahkan dalam mengupayakan kesejahteraan hidup perlu dilakukan beriringan dengan upaya mencintai Tuhan dengan sepenuh hati.

Ada sebuah titik perhentian: kematian (Ay. 16). Kesenangan atas kekayaan dan kebesaran akan takluk dengan kematian. Sedangkan kebahagiaan hidup dalam terang Kristus tidak takluk pada kematian. Mengupayakan yang besar jangan sampai meninggalkan prinsip mengupayakan yang benar.

Lukas 16 : 19 – 31
Jika ada ciri khas yang sangat menonjol dari Injil Lukas dibandingkan dengan Injil-injil yang lain, maka hal tersebut adalah keberpihakan kepada yang miskin dan lemah (dan kecaman kepada orang kaya dan berkuasa). Perumpamaan Yesus tentang orang kaya dan Lazarus yang miskin menegaskan teologi Lukas tersebut.

Lukas tidak pernah menceritakan orang kaya sebagai orang yang jahat. Dalam perikop ini pun orang kaya tidak dikisahkan sebagai penindas yang lalim. Dia hanya dikisahkan sebagai seorang yang berpakaian jubah ungu, kain halus, dan bersukaria dalam kemewahan. Menikmati kekayaan bukankah sesuatu yang wajar bagi orang yang hidup di dalamnya? Namun, bagi Lukas tidak demikian. Karena di sekitar orang kaya tersebut ada seorang Lazarus, pengemis miskin yang makan dari sisa-sisa orang kaya itu. Ketika keduanya mati, Lazarus miskin duduk di pangkuan Abraham, sedangkan si kaya hidup dalam nyala api. Abraham dalam perumpamaan itu mengatakan bahwa si kaya sudah menikmati hidupnya, tetapi tidak dengan Lazarus. Bahkan ketika si kaya meminta kepada Abraham untuk mengingatkan saudara-sarudaranya supaya tidak bernasib sama sepertinya (dia tidak melakukan itu untuk dirinya sendiri, tetapi untuk saudara-saudaranya – yang agaknya sama kayanya dengannya, jadi dia tidak sedang memikirkan dirinya sendiri) Abraham menolak permintaannya. Jika para nabi saja tidak didengarkan, tidak mungkin si kaya akan bisa meyakinkan mereka.

Lukas seolah sedang menyatakan bahwa ada sesuatu yang berjalan beriringan dengan kekayaan dan kekuasaan, sekalipun orang tersebut tidak menjadi jahat: ketidakpedulian tulus kepada yang menderita. Kepedulian itu bukan sekadar berupa kepedulian semu (politik penampilan/ pencitraan) yang sebenarnya tujuan utamanya adalah diri mereka sendiri, tetapi kepedulian tulus yang sungguh-sungguh. Ada sebuah ‘jebakan’ yang kadang tidak disadari dengan semakin tingginya status sosial seseorang, hilangnya solidaritas pada sesama ciptaan, khususnya yang lemah dan menderita.

Abraham dalam kisah ini digambarkan sebagai seseorang yang realistis, bahkan cenderung pesimis: para nabi sudah mengingatkan selama ribuan tahun, tetapi situasinya selalu jatuh dalam kondisi yang begitu-begitu saja terus menerus. Maka hendak diingatkan bagaimanapun, pasti akan gagal. Sehingga jika hendak melakukan perubahan maka perubahan itu harus perubahan radikal. Dimulai dari kesadaran akan hadirnya orang-orang lemah di sekitarnya, dan benar-benar hidup dalam kepedulian dan solidaritas yang nyata. Menikmati hidup adalah hak setiap orang, tetapi jangan sampai seseorang menikmati hidup hingga (bahkan sekadar) melupakan tangan-tangan yang membutuhkan kehadiran dan pertolongan mereka. Dalam setiap kekuasaan, kekayaan, dan berkat yang dimiliki, selalu ada bagian bagi yang lain yang menderita.

Benang Merah Tiga Bacaan:

  1. Menjadi besar membawa orang dalam jebakan: menikmati kebesaran untuk kenyamanan diri sendiri, meninggalkan solidaritas dan kepedulian yang tulus.
  2. Mengupayakan yang besar harus selalu dibersamai dengan mengupayakan yang benar. Jika harus memilih di antara keduanya, pilihlah mengupayakan yang benar. (Tafsir oleh Pdt. Gideon HB)

 

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silahkan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)

Pendahuluan

Diwa, anak lelaki saya yang baru sekolah TK A, sedang gandrung lagu Firman Tuhan, lagunya demikian:

Firman Tuhan ada di hatiku, ada di langkahku, ada di hidupku.
Dan terus bertumbuh, sirami jiwaku, berbuah, berbuah, berbuah, berbuah, berbuah, berbuah, berbuah, berbuah, uuuu…

(Bapak, Ibu, saudara pelayan bisa melihat di link ini)

Lagu ini menggambarkan supaya Firman Tuhan bisa berbuah dalam kehidupan kita, Firman Tuhan tersebut tidak cukup hanya ada di hati. Agar bisa berbuah, Firman Tuhan harus ada di setiap langkah kita dan terlihat di hidup kita. Dengan demikian, buahnya semakin banyak dan bisa dirasakan oleh orang-orang di sekitar kita.

Isi
Kisah orang kaya yang dijadikan perumpamaan oleh Tuhan Yesus dalam bacaan kita hari ini menunjukkan bahwa hidupnya belum menghasilkan buah yang bisa dirasakan oleh Lazarus, seorang pengemis miskin yang badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu, dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Orang kaya itu memang tidak berbuat jahat terhadap Lazarus dengan mengusir, menghina atau menindasnya. Namun, orang kaya itu menikmati hidupnya yang baik-baik saja dengan tidak mempedulikan Lazarus yang ada didekatnya. Orang kaya itu menikmati hidupnya yang baik-baik saja dengan mengabaikan keberadaan Lazarus yang miskin, butuh makan sebagaimana manusia pada umumnya, dan boroknya butuh dirawat.

Kemudian diceritakan bahwa ketika orang kaya tersebut dan Lazarus mati, di alam maut, orang kaya ini bisa mengenali Abraham. Itu berarti bahwa orang kaya ini tahu tentang bagaimana seharusnya menjalani hidup sebagai umat Allah dari kesaksian Musa dan para nabi, hanya saja dalam menjalani hidupnya, dia mengabaikan kesaksian itu. Orang kaya itu juga mengenali Lazarus dan meminta supaya Lazarus pergi memperingatkan saudara-saudaranya. Artinya, orang kaya itu tahu bahwa Lazarus bukanlah orang asing bagi keluarganya. Orang kaya itu berharap keluarganya tidak berada di tempat yang menyiksa seperti dirinya, ketika Lazarus yang dikenal oleh keluarganya dan diketahui sudah mati, menceritakan tentang alam maut kepada keluarganya.

Ada sebuah petuah Jawa: Ngundhuh wohing pakarti, yang berarti bahwa setiap orang akan memetik buah dari perbuatannya. Demikianlah yang dialami oleh orang kaya tersebut. Orang kaya itu ngundhuh wohing pakarti saat hidupnya di dunia sudah berakhir. Pengabaian terhadap keberadaan Lazarus saat orang kaya itu bisa berbagi berkat dengannya, membawa orang kaya itu pada penyiksaan kekal. Karena pengabaian terhadap liyan (orang lain) berarti pengabaian terhadap kehendak Allah.

Kematian ternyata hanyalah akhir kehidupan di dunia dan awal dari kehidupan dalam kekekalan. Oleh sebab itu, dalam suratnya kepada Timotius, Rasul Paulus menegaskan supaya Timotius mengingatkan umat Allah untuk berharap hanya kepada Allah yang kekal. Dalam mengupayakan kesejahteraan hidup, ketika ada godaan untuk meninggalkan jalan iman, ketika ada kesenangan yang bisa menjebak dengan membawa pada penderitaan, kita perlu meletakkan pengharapan pada Allah yang tidak takluk pada kematian. Sehingga kematian kita menjadi awal memasuki kehidupan kekal yang menentramkan.

Melalui nabi Amos, Allah memberi peringatan bahwa celakalah orang-orang yang merasa tentram dengan duduk di atas keangkuhan, kesenangan, dan ketidakpedulian pada kehancuran orang lemah dan bangsanya. Rasa tentram yang dihadirkan oleh keberhasilan dan kedigdayaan yang dibangun di dalam ketidakpedulian terhadap situasi sekitar adalah rasa tentram palsu. Mari memperhatikan peringatan Allah ini supaya wohing pakarti yang kita undhuh tidak mencelakai kita, namun bisa memberikan ketentraman yang sesungguhnya.

Mengupayakan menjadi besar bukan hal yang dilarang dalam ketiga bacaan kita hari ini. Hanya saja, sebagaimana ungkapan orang Jawa: urip ojok koyok uwit gedhang, duwe jantung tapi gak duwe ati. Menjalani hidup sebagai manusia tidak cukup hanya mengusahakan jantung tetap berdetak, namun juga harus bisa mengelola hati. Menikmati kebesaran tidak hanya untuk kenyamanan diri sendiri, namun tetap menjaga solidaritas dan kepedulian yang tulus, merupakan salah satu wujud mengelola hati.

Penutup
Mengetahui dan memahami isi kitab suci harus disertai dengan menyatakan pengetahuan dan pemahaman kita dalam laku hidup kita. Mari menjalani hidup dengan terus mengupayakan ketentraman hidup, tanpa mengabaikan sesama kita dan sesama ciptaan Tuhan lainnya. Dengan demikian, kapan pun waktunya kita harus ngundhuh wohing pakarti, kita sendiri bisa menikmati buah atau woh yang segar, enak dan bermanfaat bagi kesehatan. Amin. [SRw].

 

Pujian: KJ. 51 : 1, 2 Kitab Suci, Hartaku


Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)

Pambuka
Diwa, anak kula ingkang nembe sekolah TK A, saweg gandrung tembang Sabdanipun Gusti, ingkang mekaten tembangipun:

Firman Tuhan ada di hatiku, ada di langkahku, ada di hidupku.

Dan terus bertumbuh, sirami jiwaku, berbuah, berbuah, berbuah, berbuah, berbuah, berbuah, berbuah, berbuah, uuuu…

(Bapak, Ibu, sedherek pelados saged mirsani ing link punika)

Lagu punika nyariosaken bilih Sabdanipun Gusti punika mboten cekap namung wonten ing manah supados Sabdanipun Gusti saged nuwuhaken woh ing pigesangan kita. Supados saged nuwuhaken woh, Sabdanipun Gusti kedah wonten ing lampahing gesang saha ketingal ing gesang kita. Kanthi mekaten, wohipun sansaya kathah lan saged dipun raosaken dening tiyang-tiyang ing sakupeng kita.

Isi
Cariyos bab tiyang sugih ing pasemonipun Gusti Yesus ing salebeting waosan kita dinten punika, nedahaken bilih gesangipun dereng nuwuhaken woh ingkang saged dipun raosaken dening Lazarus, satunggaling tiyang miskin ingkang badanipun gudhigen, ngglungsar ing sacelake regoling griyane tiyang sugih punika kalawau, sarta kapengin sanget ngicali raos kerapanipun kalawan gogrogan saking mejanipun tiyang sugih punika. Tiyang sugih punika pancen mboten tumindak ala tumrap Lazarus kadosdene ngusir, ngina utawi nindhes. Nanging, tiyang sugih punika nglampahi pigesanganipun piyambak ingkang adem ayem lan mboten peduli dhateng Lazarus ingkang wonten ing sacelakipun. Tiyang sugih punika nglampahi pigesanganipun piyambak ingkang adem ayem kanthi mboten migatosaken kawontenanipun Lazarus ingkang miskin, mbetahaken nedha kados umumipun tiyang saha mbetahaken obat lan pangrimatan gudhigipun.

Lajeng kacariyosaken nalika tiyang sugih lan Lazarus seda, wonten ing donyaning tiyang pejah, tiyang sugih punika saged tepang Abraham. Artosipun, tiyang sugih punika mangertosi prekawis ingkang kedah dipun lampahi ing pigesanganipun minangka umatipun Gusti saking piwucalipun Musa lan para nabi. Nanging emanipun tiyang sugih punika mboten migatosaken piwucal punika. Tiyang sugih kalawau ugi tepang kaliyan Lazarus lan nyuwun supados Lazarus manggihi sarta ngengetaken para sedherekipun. Cariyos punika nedahaken bilih tiyang sugih kalawau mangertos menawi Lazarus sanes tiyang asing tumrap brayatipun. Tiyang sugih punika nggadhahi pangajeng-ajeng brayatipun mboten nglampahi kados piyambakipun ingkang kasiksa salaminipun, nalika Lazarus ingkang dipun mangertosi sampun seda dening sedaya brayatipun, nyariosaken bab donyaning tiyang pejah.

Wonten satunggaling piwucal Jawi mekaten: Ngundhuh wohing pakarti ingkang ngemu teges bilih saben tiyang badhe ngundhuh woh saking tumindakipun. Inggih mekaten punika ingkang dipun alami dening tiyang sugih kalawau. Piyambake ngundhuh wohing pakarti nalika gesangipun ing donya sampun dipungkasi dening Gusti Allah. Anggene tiyang sugih punika mboten peduli tumrap kawontenanipun Lazarus nalika tiyang sugih punika saged andum berkah kaliyan Lazarus, ndadosaken tiyang sugih punika mlebet ing papan kasangsaran langgeng.

Pepejah namung pungkasaning gesang ing donya lan dados wiwitaning gesang langgeng. Pramila saking punika, wonten ing seratipun dhumateng Timotius, Rasul Paulus ngengetaken umatipun Gusti Allah tansah nggadhahi pangajeng-ajeng namung dhumateng Gusti Allah ingkang langgeng. Ing salebeting ngupadi bab katentremaning gesang, nalika kagodha nilar iman kapitadosan, nalika wonten kabingahan ingkang milut dhateng kasangsaran, kita kedah nyalap pangajeng-ajeng kita dhumateng Gusti ingkang mboten kawon dening pepejah. Temahan, nalika tilar donya kita miwiti mlebet ing gesang langgeng ingkang nentremaken.

Lumantar nabi Amos, Gusti paring pepenget bab bilainipun para tiyang ingkang rumaos ayem kanthi lenggah ing sainggiling raos gumunggung, kabingahan saha mboten peduli tumrap tiyang ingkang ringkih lan bangsanipun. Raos tentrem ingkang mawujud saking upadi ingkang kasil sarta kadigdayan ingkang kawujudaken ing salebeting raos mboten peduli tumrap kawontenan ing sakupengipun punika sejatosipun raos tentrem ingkang palsu. Sumangga migatosaken pepengetipun Gusti punika, temahan wohing pakarti ingkang kita undhuh mboten ngantos ndadosaken kita cilaka, nanging saged maringi katentreman ingkang sejatos.

Tansah ngupadi dados panggedhe sanes prekawis ingkang dipun penggak saking tigang waosan kita dinten punika. Namung kemawon, kadosdene tembungipun tiyang Jawi: urip ojok koyok uwit gedhang, duwe jantung tapi gak duwe ati. Nglampahi gesang minangka manungsa mboten cekap namung ngupadi jantung kita mboten mandheg, nanging ugi kedah saged ngolah ati. Nyekecakaken asilipun usaha mboten namung kangge dhiri pribadi, nanging panggah njagi solidaritas lan raos peduli ingkang tulus, inggih punika satunggaling wujud ngolah ati.

Panutup
Mangertos saha nggadhahi pangertosan bab isining kitab suci kedah dipun sarengi kanthi mujudaken pangertosan kita ing salebeting gesang. Sumangga nglampahi gesang kanthi tansah ngupadi katentremaning gesang, peduli dhateng sesami kita lan sesami titahipun Gusti sanesipun. Kanthi mekaten, ing saben wegdal kita ngundhuh wohing pakarti, kita piyambak saged ngraosaken woh ingkang seger, eca, lan mumpangati tumrap kesarasan. Amin. [SRw].

 

Pamuji: KPJ. 195 Kula Datan Badhe Nrimah

 

Bagikan Entri Ini: