Ketaatan kepada Tuhan menjadi Dasar Mewujudkan Hubungan dan Kerjasama Antar Umat Khotbah Minggu 2 Oktober 2022

Minggu Biasa | Perjamuan Kudus Ekumene
Stola Putih

Bacaan 1: Habakuk 1 : 1 – 4; 2 : 1 – 5
Bacaan 2:
2 Timotius 1 : 1 – 14
Bacaan 3:
Lukas 17 : 5 – 10

Tema Liturgis: Mewujudkan Hubungan dan Kerjasama Antar Umat sebagai Panggilan Pelayanan
Tema Khotbah: Ketaatan kepada Tuhan menjadi Dasar Mewujudkan Hubungan dan Kerjasama Antar Umat

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Habakuk 1 : 1 – 4; 2 : 1 – 5
Penulis kitab Habakuk memperkenalkan dirinya sebagai “nabi Habakuk” (Hab. 1:1; 3:1). Isi kitab ini sendiri tidak menceritakan tentang latar belakang pribadi atau keluarga dari Habakuk. Habakuk tidak secara langsung menyebutkan pada zaman raja siapa di Yehuda pada saat dia bernubuat. Namun demikian dapat diperkirakan nubuatan Habakuk ini terjadi pada masa Nebukadnezar, raja Babel menyerang Yehuda dan membawa sejumlah orang tawanan dari Yehuda ke Babel, diantaranya Daniel dan ketiga sahabatnya. Para penafsir kitab memperkirakan nubuatan Habakuk sekitar tahun 606 – 605 SM pada awal pemerintahan Raja Yoyakim dari Yehuda.

Berbeda dengan Yeremia rekan sezamannya, nubuat Habakuk tidak ditujukan secara langsung kepada bangsa Yehuda yang sudah murtad yang ada di Babel, melainkan kepada orang Yehuda yang masih tinggal di tanah Yehuda. Habakuk menyampaikan cara Allah menghukum bangsa Yehuda yang berdosa dan hukuman mereka. Habakuk 1:2-4 merupakan bagian pertanyaan Habakuk kepada Allah, “Bagaimana mungkin Allah membiarkan umat-Nya Yehuda yang banyak berbuat dosa tanpa dihukum?” Pertanyaan ini menghantui Habakuk karena ia sendiri menyaksikan orang-orang Yehuda yang berbuat jahat secara rohani dan sosial, namun Allah tidak menghukum mereka. Pada ayat selanjutnya (5-11) Allah menjawab bahwa Dia akan memakai bangsa Babel untuk menghukum Yehuda.

Sedangkan Habakuk 2:1-5 merupakan respon Habakuk terhadap jawaban Allah atas pertanyaannya. Dia percaya akan keadilan Allah, dia senantiasa menanti jawaban Allah atas pertanyaannya (2:1). Jawaban Tuhan dinantikan dengan iman karena keadilan Allah akan ditegakkan pada waktunya (2:2-3). Orang yang percaya dan benar akan hidup karena iman dan kesetiaannya. Mereka akan bertahan dalam iman dan menanti dengan taat sampai diselamatkan (2:4). Habakuk meyakini bahwa Allah akan bertindak melawan semua kefasikan Yehuda pada saatnya. Sementara itu orang benar akan tetap hidup oleh percayanya (2:4). Sebaliknya, orang yang sombong dan tidak bertobat dari dosa-dosanya pasti akan dihukum (2:5).

2 Timotius 1 : 1 – 14
Surat 2 Timotius ini merupakan surat terakhir yang ditulis oleh Paulus. Pada saat Paulus menulis suratnya ini dia sedang berada di penjara kota Roma. (2 Tim. 1:16). Di dalam penjara inilah Paulus merasa menderita karena diperlakukan seperti penjahat (2 Tim. 2:9). Dia ditinggalkan oleh banyak sahabatnya (2 Tim. 1:15). Dan dia menyadari bahwa pelayanannya akan segera berakhir dan waktu kematiannya sudah dekat (2 Tim. 4:6-8, 18). Oleh karena itu, Paulus menuliskan suratnya kepada Timotius dengan tujuan supaya Timotius senantiasa memelihara Injil, memberitakan Firman Tuhan, kuat menanggung penderitaan, dan setia menjalankan tugas-tugas pelayanannya.

Uraian penjelasan 2 Timotius 1:1 – 14 dapat dijabarkan sebagai berikut:

Ayat 1 – 4: berisi Pendahuluan yang menjelaskan penulis surat yaitu Paulus, alamat surat yaitu kepada Timotius, salam dan ucapan syukur kepada Tuhan Allah. Ayat 5 – 14: berisi tentang pesan dan nasihat Paulus kepada Timotius antara lain: a. Kesediaan untuk mengobarkan karunia Allah (Ay. 5-7); b. Kesediaan bersaksi dan ikut menderita bagi Injil Kristus (Ay. 8-10); c. Mencontoh teladan Paulus (Ay. 11-12); d. Kesediaan untuk selalu berpegang dan memelihara kebenaran Kristus (Ay. 13-14).

Lukas 17 : 5 – 10
Injil Lukas 17:5-10 ini terdiri dari dua perikop yang berisi pengajaran Yesus tentang iman sebesar biji sesawi (Ay. 5-6) dan tentang kesiapsediaan/ ketaatan seorang hamba dalam melakukan tugasnya (Ay. 7-10). Para murid memiliki pemahaman untuk bisa menjadi seorang yang sungguh-sungguh beriman, maka dia haruslah seorang yang peka terhadap dosa dan bersedia mengampuni orang lain. Untuk melakukan hal tersebut dibutuhkan iman yang besar. Tetapi Tuhan Yesus mengajarkan hal yang berbeda. Bagi Tuhan Yesus hal yang penting bukan masalah besar – kecilnya iman melainkan bagaimana iman itu dilakukan. Sebesar apapun tantangan dan rintangan akan teratasi jika para murid sungguh-sungguh memiliki iman kepada Tuhan. Orang yang beriman adalah orang yang mau melakukan kehendak Allah dalam hidupnya. Ibarat biji sesawi, meskipun kecil tetapi akan menjadi tanaman yang besar, demikian halnya dengan iman.

Iman juga dinyatakan dalam pelayanan. Pada zaman Tuhan Yesus seorang hamba memiliki tanggung jawab atas banyak hal, seperti bekerja di ladang, menjaga dan menggembalakan ternak, menyiapkan makanan Sang Tuan. Pekerjaannya seolah-olah tidak pernah habis. Tuhan Yesus sendiri memberikan gambaran seorang hamba yang menyiapkan makanan bagi tuannya. Si hamba tidak boleh makan sampai si tuannya selesai makan. Dia juga tidak mendapatkan ucapan terimakasih atas apa yang dia lakukan pada tuannya, karena itu sudah menjadi bagian dari tugas dan kewajibannya. Seorang hamba harus menaati tuannya, tanpa perlu merasa bahwa ketaatannya itu harus dihargai. Sang tuan punya hak untuk ditaati dan tidak punya kewajiban untuk berterimakasih atas hal itu.

Murid yang menaati kehendak Kristus dalam hal mengampuni tidak perlu merasa diri hebat. Sebagaimana Tuhan Allah telah mengampuni manusia berdosa, karena dia telah mengakui kesalahannya dan bertobat, maka demikian para murid hendaknya mau mengampuni orang yang bersalah kepada mereka. Jadi pengampunan tidak membutuhkan iman yang lebih besar melainkan yang utama adalah ketaatan melakukan firman Tuhan itu sendiri.

Benang Merah Tiga Bacaan
Ketiga bacaan kita berbicara tentang ketaatan umat kepada Tuhan Allah mendatangkan keselamatan. Tuhan Allah menghendaki agar umat-Nya hidup seturut kehendak-Nya, hidup benar, memiliki kerendahan hati, dan mau mengutamakan orang lain dalam melayani-Nya dan sesama.

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silahkan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing).

Pendahuluan
Ada berbagai macam bentuk hubungan dan kerjasama ekumene yang dilakukan GKJW bersama dengan gereja lain sebagai wujud kesatuan tubuh Kristus. Misalnya: kegiatan tukar pelayanan di antara anggota PGI, kegiatan retreat pemuda antar anggota PGI, kegiatan pertandingan bulu tangkis, dll. Di tingkat jemaat wujud hubungan dan kerjasama ekumene yang lain dapat dilakukan melalui kegiatan peduli kasih kepada saudara dari gereja lain atau saudara yang beragama lain, kepada mereka yang sedang isolasi mandiri karena terpapar Covid-19 atau kepada saudara yang menderita kekurangan di masa pandemi Covid-19 ini. Di tingkat yang lebih luas, GKJW bersama PGI dan pemerintah mengupayakan kegiatan vaksinasi Covid-19 bagi masyarakat umum maupun umat Kristen di berbagai tempat. Contoh kegiatan-kegiatan di atas menjadi bukti nyata bahwa membangun hubungan dan kerjasama ekumene menjadi wujud panggilan pelayanan kita kepada dunia.

Sampai pada tahap ini, kita patut berbangga bahwa GKJW juga menjadi pelopor dalam berbagai kegiatan ekumene, yang melibatkan bukan hanya dengan sesama umat Kristen saja, tetapi juga dengan umat lintas iman. Melalui semangat Persaudaran Sejati, GKJW membangun ekumene baru, mengupayakan terciptanya hubungan dan kerjasama dengan semua umat. GKJW menyadari ia ada bersama dengan umat yang lain. GKJW tidak dapat sendirian dalam menghadirkan Kerajaan Allah di tengah dunia. Karena itu GKJW terus berupaya merangkul dan berjuang bersama dengan semua pihak mewujudkan syalom bagi semua umat. Hal inilah yang perlu disadari dan dipahami oleh semua warga jemaat, bahwa setiap orang memiliki arti penting dalam mewujudkan hubungan dan kerjasama yang baik dengan umat yang lain dalam berbagai bidang kemanusiaan.

Isi
Bagian bacaan kita pada saat ini mengisahkan tentang pengajaran Tuhan Yesus kepada para murid-Nya. Yang pertama Tuhan Yesus mengajarkan tentang iman yang diumpamakan seperti biji sesawi (Luk. 17:6). Pada waktu itu Tuhan Yesus menghendaki agar para murid senantiasa menjaga diri mereka dari penyesatan saat itu. Mereka diperintahkan untuk menegor orang yang berbuat dosa dan jahat. Sekiranya mereka yang berdosa mau menyesal dan bertobat, maka para murid diminta untuk mengampuni mereka (Luk. 17:4). Tuhan Yesus mengajarkan: seberapa besar dan seberapa sering seseorang berbuat kesalahan kepada mereka, maka mereka harus tetap mengampuni orang tersebut. Hal ini dipandang bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan oleh para murid, karena itu mereka meminta kepada Tuhan Yesus untuk menambahkan iman kepada mereka (Luk. 17:5).

Dalam konteks inilah Tuhan Yesus berbicara tentang iman sebesar biji sesawi. Tuhan Yesus menghendaki bukan besar atau kecilnya iman para murid untuk mampu mengampuni, tetapi bagaimana iman itu dinyatakan dan dilakukan dalam kehidupan sehari-hari dengan mengampuni. Sebesar apa pun kesulitan dan tantangan yang dihadapi oleh para murid, ketika mereka sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan Yesus, maka mereka akan mendapatkan kekuatan untuk melakukan apa yang mereka yakini.

Kemudian Tuhan Yesus melanjutkan pengajarannya, Dia mengajarkan tentang ketaatan dalam melakukan kehendak Tuhan Allah. Tuhan Yesus menggunakan perumpamaan tuan dan hamba. Dikisahkan ada tuan yang mempunyai seorang hamba. Hamba ini bekerja melayani tuannya, dia membajak sawah, menggembalakan ternak si tuan, menyiapkan makanan bagi si tuan. Yang dilakukan oleh hamba ini adalah taat kepada tuannya. Dia melayani tuannya dengan baik, dia mengutamakan tuannya terlebih dahulu daripada dirinya. Dia makan dan minum setelah tuannya selesai makan dan minum, itu dia lakukan setiap hari dengan sungguh. Apakah dia mendapatkan ucapan terimakasih atas pekerjaan yang dia lakukan? Tidak! Sebab hal-hal yang dia lakukan adalah tugasnya sehari-hari. Dari perumpamaan ini Tuhan Yesus menghendaki agar para murid-Nya memiliki sikap hati sebagaimana hamba yang taat pada tuannya tadi. Hamba yang menyadari keberadaan dirinya, yang mesti taat melakukan apa yang menjadi tugas tanggung jawabnya untuk melayani tuannya.

Wujud ketaatan yang lain juga tampak pada diri Habakuk. Sebagai nabi yang diutus untuk mewartakan nubuat kepada bangsa Yehuda yang masih ada di tanah Yehuda, dia melakukannya dengan baik. Imannya kepada Tuhan Allah dapat kita ketahui melalui pernyataannya pada Habakuk 2:1-5. Dia percaya akan keadilan Allah (2:1). Jawaban Tuhan dinantikan dengan iman karena keadilan Allah akan ditegakkan pada waktunya (2:2-3). Orang yang percaya dan benar akan hidup karena iman dan kesetiaannya. Mereka akan bertahan dalam iman dan menanti dengan taat sampai diselamatkan (2:4). Allah akan bertindak melawan semua kefasikan Yehuda pada saatnya. Sementara itu orang benar akan tetap hidup oleh percayanya (2:4). Sebaliknya, orang yang sombong dan tidak bertobat dari dosa-dosanya pasti akan dihukum (2:5).

Ketaatan kepada Tuhan Allah juga ditunjukkan oleh Paulus melalui suratnya kepada Timotius. Dalam suratnya tersebut, Paulus menasihatkan Timotius sebagai pemimpin di jemaat saat itu untuk memberitakan Injil Kristus yang berisi tentang berita keselamatan Allah (Ay. 5-7), siap sedia menderita untuk Injil yang telah diberitakan (Ay. 8-10), meneladani Paulus dalam hal ketaatan kepada Kristus (Ay. 11-12), selalu berpegang dan memelihara kebenaran Kristus dalam hidup sehari-hari (Ay. 13-14).

Penutup
Hari ini merupakan pembukaan bulan ekumene yang kita tandai dengan Perjamuan Kudus Ekumene. Sebagai bagian tubuh Kristus, kita diajak untuk menyadari bahwa kehidupan kita sebagai gereja tidak lepas dari persekutuan sebagai umat Allah yang disatukan oleh Kristus. Melalui bulan ekumene, mari kita mengingatkan kembali sebagai tubuh Kristus kita dipanggil untuk saling menguatkan, mendukung, dan bekerjasama demi kemuliaan Kristus. GKJW tidak lagi berpikir tentang dirinya sendiri, melainkan bersama dengan gereja yang lain dan umat lintas agama bergandengan tangan mewujudkan hubungan dan kerjasama yang baik agar tercipta kerukunan, kedamaian, dan cinta kasih yang nyata dalam kehidupan bersama.

Seperti para murid, Habakuk, Paulus, dan Timotius yang taat pada panggilan pelayanannya, kita pun memiliki panggilan yang sama untuk mewujudkan Kerajaan Allah di dunia. Ketaatan kita kepada Tuhan Allah adalah dasar bagi kita untuk mewujudkan hubungan dan kerjasama ekumene. Karena itu, bulan ekumene yang kita tandai dengan perjamuan kudus Ekumene saat ini, sungguh memampukan kita untuk berjuang dan berkarya bersama umat percaya yang lain dan umat lintas agama dalam mewujudkan panggilan pelayanan kita yang nyata bagi dunia. Tuhan Yesus memberkati kita. Amin [AR].

Pujian: KJ. 257 : 1, 2 Aku Gereja, Kau pun Gereja


Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)

Pambuka
Wonten maneka warni wujudipun hubungan lan kerjasama ekumene ingkang dipun lampahi GKJW kaliyan greja sanesipun minangka wujuding Sariranipun Sang Kristus. Contonipun: kegiatan tukar peladosan ing antawisipun anggota PGI, kegiatan retreat pemuda antawisipun anggota PGI, kegiatan olahraga kados pertandingan bulutangkis, lsp. Ing pasamuwan, wujudipun hubungan lan kerjasama ekumene punika saged kalampahan lumantar kegiatan peduli kasih dhateng para sederek saking greja sanes utawi sederek benten agami, dhateng para sederek kita ingkang isolasi mandiri awit kenging Covid-19 utawi para sederek ingkang nandhang kakirangan ing mangsa pagebluk Covid-19 punika. Ing tatanan ingkang langkung wiyar, GKJW sinarengan PGI lan pamrentah ngupaya kegiatan vaksinasi Covid-19 kangge masyarakat sacara umum lan umat Kristen ing perangan papan. Contoh kegiatan-kegiatan wonten inggil punika dados bukti nyata kados pundi anggenipun GKJW mbangun hubungan lan kerjasama ekumene kangge mujudaken timbalan peladosan kita dhateng donya.

Ngantos ing tahap punika, kita minangka warga GKJW saged bangga karana GKJW ingkang miwiti maneka kegiatan ekumene ingkang ngatutaken sederek ingkang tunggil iman lan ugi sederek lintas iman. Lumantar semangat Paseduluran Sejati, GKJW mbangun ekumene enggal ingkang nyupaya hubungan lan kerjasama kaliyan sedaya umat. GKJW sadar bilih kawontenanipun punika wonten sinarengan kaliyan umat sanesipun. GKJW boten saged piyambakan kangge nuwuhaken Kratoning Allah ing satengah-tengahing donya punika. Karana punika GKJW tansah ngupaya ngrangkul lan makarya sesarengan kaliyan sedaya pihak kangge mujudaken “syalom” kangge sedaya umat. Prekawis punika kedah dipun sadari lan dipun mangertosi dening sedaya warga pasamuwan bilih saben warga punika kagungan peran ingkang penting kangge nuwuhaken hubungan lan kerjasama ingkang sae kaliyan umat sanesipun ing maneka werni bidang kamanungsan.

Isi
Bagian saking waosan kita wekdal punika nyariosaken bab piwucalipun Gusti Yesus dhumateng para sakabatipun. Ingkang sepisan Gusti Yesus mucal bab iman ingkang dipun umpamiaken kados dene winih sawi (Luk. 17:6). Nalika semanten Gusti Yesus ngersakaken para sakabatipun sami mawas lan jagi dhirinipun saking tumindak sesat. Para sakabat dipun printah kangge negor/ ngemutaken tiyang ingkang tumindak dosa lan awon. Bilih tiyang ingkang tumindak dosa punika purun nelangsani dosanipun lan mratobat, para sakabat kedah purun paring pangapura dhateng tiyang punika (Luk. 17:4). Gusti Yesus mucal: sepinten agenging kalepatan lan awonipun tiyang punika, para sakabat kedah tetep paring pangapura dhateng tiyang punika. Prekawis punika dipun pandheng prekawis ingkang sisah kanggenipun para sakabat, karana punika para sakabat nyuwun dhumateng Gusti Yesus supados nambahan iman kangge para sakabat. (Luk. 17:5).

Ing konteks punika Gusti Yesus mucal bab iman sa agenging winih sawi. Gusti Yesus nedahaken sejatosipun sanes ageng lan alitipun iman, para sakabat punika saged ngapura tiyang sanes, nanging kados pundi iman punika dipun nyataaken lan dipun tindakaken ing salebeting gesang sadinten-dinten srana ngapura. Sepinten agengipun pakewed lan tantangan ingkang kedah dipun adepi para sakabat, nalika para sakabat punika sami pitados dhumateng Gusti Yesus kanthi temen, para sakabat badhe mampi kakiyatan kangge nglampahi punapa ingkang dipun yakini.

Ing selajengipun Gusti Yesus nglajengaken piwucalipun. Gusti Yesus mucal bab kasetyan nindakaken Karsanipun Gusti Allah. Gusti Yesus ngagem pasemon bab bandara lan abdinipun. Kacariosaken wonten bandara lan kagungan abdi. Abdi punika nyambut damel nladosi bandaranipun punika. Abdi punika mbajak sabin, ngrimati ternak bandaranipun, nyawisaken tetedhan kagem bandaranipun. Sedaya pandamelan punika dipun tindakaken dening abdi punika klayan setya dhateng bandaranipun. Piyambakipun nladosi bandaranipun kanthi sae, kabetahanipun bandaranipun dipun rumiyinaken katimbang kabetahanipun piyambak. Abdi punika badhe nedha lan ngunjuk sak sampunipun bandaranipun dhahar lan ngunjuk, sedaya punika dipun tindakaken saben dinten kanthi temen-temen. Punapa abdi punika nampi atur panuwun saking pandamelanipun punika? Boten! Karana prekawis ingkang dipun tindakaken punika sampun dados tugasipun sadinten-dinten. Saking pasemon punika Gusti Yesus mucal para sakabatipun supados kagungan sikap gesang kados abdi ingkang setya dhateng bandaranipun punika. Dados abdi ingkang sadar tumrap kawontenanipun ingkang kedah setya nindakaken punapa ingkang dados tugas tanggel jawabipun inggih punika ngladosi bandaranipun.

Wujud kasetyan sanesipun ugi saged kita tingali saking Habakuk. Minangka nabi ingkang dipun utus martosaken pameca kangge bangsa Yahudi ingkang taksih wonten tanah Yuhuda, piyambakipun nindakaken ayahanipun punika kanthi sae. Imanipun dhumateng Gusti Allah katon saking waosan Habakuk 2:1-5. Ing ngriku, Habakuk saestu pitados tumrap kaadilanipun Gusti Allah (2:1). Wangsulan Gusti Allah dipun anti-anti srana imanipun awit piyambakipun pitados Gusti Allah badhe nindakaken kaadilanipun ing wancinipun (2:2-3). Tiyang ingkang pitados lan tumindak bener badhe gesang sarana iman lan kasetyanipun. Kanggenipun tiyang tahan salebeting imanipun lan tansah nganti-anti kalayan setya, badhe kawilujengaken (2:4). Gusti Allah badhe nglawan sedaya tumindak lepatipun Yehuda ing wancinipun. Tiyang ingkang bener badhe gesang awit saking kapitadosanipun (2:4). Kosokwangsulipun, tiyang ingkang gumunggung lan boten purun mratobat saking sakatahing dosanipun, tamtu badhe dipun ukum (2:5).

Kasetyan dhumateng Gusti Allah ugi ketawis ing gesangipun Rasul Paulus lumantar seratipun dhateng Timotius. Salebeting seratipun punika, Paulus maringi pepenget kangge Timotius minangka pimpinaning pasamuwan nalika semanten. Pepenget punika antawisipun : Timotius kautus kangge martosaken Injil Kristus ingkang isinipun pawartos rahayu saking Gusti Allah (Ay. 5-7), Timotius kedah sedya nandhang sangsara awit saking pawartos Injil ingkang dipun lampahi (Ay. 8-10), Timotius kasuwun nuladhani Paulus salebeting kasetyanipun dhumateng Sang Kristus (Ay. 11-12), pungkasanipun Timotius kedah gondelan Gusti lan ngrimati kapitadosanipun ing Sang Kristus wonten gesangipun sadinten-dinten (Ay. 13 -14).

Panutup
Dinten punika dipun wastani pambuka wulan ekumene ingkang kita tengeri srana bujono suci ekumene. Minangka perangan Sariranipun Sang Kristus, kita dipun ajak nyadari bilih gesang kita minagka gereja boten saged ucul saking patunggilan umatipun Allah ingkang katunggilaken Sang Kristus piyambak. Lumantar wulan ekumene punika, mangga kita sami ngenget malih minangka Sariranipun Sang Kristus, kita dipun timbali supados tansah ngiyataken, dukung, lan makarya kagem kamulyanipun Sang Kristus. GKJW boten malih namung mikir kangge dhirinipun piyambak, nanging sesarengan kaliyan greja sanes lan umat lintas agami sami gandengan asta mawujudaken hubungan lan pakaryan ingkang sae kangge tuwuhipun karukunan, katentreman lan katresnan ingkang nyata salebeting gesang sesarengan.

Kados para sakabat, Habakuk, Paulus lan Timotius ingkang setya netepi timabal peladosanipun, mekaten ugi kita, kita dipun timbali kangge mujudaken Kratoning Allah kababar wonten ing bumi. Kasetyan kita dhumateng Gusti Allah punika dasar kangge kita mujudaken hubungan lan kerjasama ekumene sapunika. Karana saking punika, wulan ekumene ingkang kita tengeri mawi bujono suci ekumene punika, saestu dadosaken kita saged makarya lan ngupaya sesarengan kaliyan umat sanesipun mujudaken timbalan peladosan kita ingkang nyata kangge sesami gesang. Gusti Yesus tansah mberkahi kita. Amin. [AR].

 

Pamuji: KPJ. 357 : 1, 2 Endahing Saduluran

 

Bagikan Entri Ini: