Hidup Benar atau Membenarkan Diri? Khotbah Minggu 18 September 2022

5 September 2022

Minggu Biasa | Bulan Kitab Suci
Stola Hijau

Bacaan 1: Amos 8 : 4 – 7
Bacaan 2:
1 Timotius 2 : 1 – 7
Bacaan 3:
Lukas 16 : 1 – 13

Tema Liturgis: Jalanilah Kehidupan di dalam Terang Firman Allah!
Tema Kotbah: Hidup Benar atau Membenarkan Diri?

 Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah) 

Amos 8 : 4 – 7
Zaman nabi Amos, banyak orang hidup makmur, ibadah menjadi penting dan negeri Israel nampaknya damai. Namun ternyata situasi itu hanya tampak yang di permukaan. Amos melihat bahwa yang mengecap kemakmuran hanya orang kaya yang memperkaya diri melalui penindasan dan kecurangan terhadap orang lain. Orang melakukan ibadah tidak dengan tulus hati, hanya penampakannya yang baik, suasana inilah yang melatarbelakangi peringatan keras Amos yang terkenal dengan suara kenabiannya, yang bahkan sampai kini masih relevan.

1 Timotius 2 : 1 – 7
Surat Rasul Paulus ini menegaskan bagaimana orang percaya Tuhan Yesus hidup benar di hadapan Tuhan. Ketenteraman karena melakukan kebenaran akan menjadi kekuatan dalam hidup persekutuan yang benar-benar merasakan damai sejati. Pengetahuan akan kebenaran dan melakukannya menjadi tanggung jawab siapapun yang menghidupi panggilan sebagai milik Tuhan Yesus sang penebus umat manusia.

Lukas 16 : 1 – 13
Perikop ini sebenarnya harus dilanjutkan di ayat selanjutnya yang memperjelas tujuan Tuhan Yesus memberikan perumpamaan bendahara yang tidak jujur namun mendapatkan pujian dari sang Tuan. Apa artinya kekayaan jika tidak membawa manfaat bagi orang lain? Tentu tidak salah menjadi orang diberkati, kaya, sehat, dan mendapatkan kemudahan dalam hidup. Namun ketika itu hanya untuk kemuliaan diri sendiri, maka di sanalah terletak kesia-siaan. Semua orang pada akhirnya akan mati, termasuk orang kaya dan miskin. Sebelum semua terjadi peringatan tentang hedonisme yang tidak lagi peduli kepada orang lain terlebih yang menderita benar menohok orang Farisi dan para hamba uang yang kaya yang bertemu Tuhan Yesus saat itu. Boleh diberkati, namun harus bermanfaat sehingga orang lain pun juga diberkati.

Benang Merah Tiga Bacaan:
Hidup benar di hadapan Tuhan adalah kunci dari kebahagiaan, kaya dan miskin bukan menjadi alasan untuk membenarkan diri atas situasi yang kita alami. Sekaya apapun orang juga akan berakhir hidupnya, demikian pula dengan yang miskin. Yang membedakan adalah seberapa bermanfaat hidup yang kita jalani saat ini dan apa yang sudah kita torehkan sebagai tanda cinta untuk dunia di mana kita berada dan telah dihidupi olehnya.

 

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silahkan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)

Pendahuluan
Saudaraku yang mengasihi Tuhan, sering orang mengatakan bahwa melayani tidak harus dengan memberi harta atau uang, dengan tenaga dan waktu sudah termasuk melayani. Sekilas ungkapan ini benar dan masuk akal, karena sumber daya memang bukan hanya uang, tetapi juga waktu, pikiran, tenaga. Namun seringkali ini menjadi semacam pembenaran bahwa kita tidak perlu memberi dalam bentuk yang simpel dan kongkret yakni uang. Kita tahu bahwa uang ternyata sangat penting dalam hidup ini, semua yang dilakukan kalau mau jujur ya untuk mendapatkan nafkah bisa berupa uang atau transaksi elektronik, yang ujung-ujungnya juga uang. Di era pandemi ini nampaknya kebutuhan akan biaya komunikasi online, ibadah online, pelayanan rapat online juga pembinaan yang online maka biaya menjadi penting. Listrik memerlukan biaya, sewa kamera, operator komputer dan sound sistem, tenaga pandu puji juga perlu penghargaan karena waktu untuk shoting juga mengambil waktu kerja yang lain. Lalu apakah ada yang salah dengan biaya yang kita sempitkan dengan uang?

Isi
Uang atau dalam Alkitab sering disebutkan mamon sering disalahpahami sebagai sesuatu yang negatif. The second god adalah uang, karena uang amat mirip sifatnya dengan Tuhan, ada di mana-mana dan berkuasa. Hal menggunakan uang sebagaimana diungkapkan Tuhan Yesus dalam pengajaran-Nya di bacaan ketiga ini menjadi penting. Ketika si bendahara mendapati dia akan dilepas oleh sang majikan karena dilaporkan menghamburkan uang yang dipercayakan kepadanya. (Luk. 16:1-2). Si bendahara cerdik ini segera tahu apa yang harus dilakukan. Dia tidak segan untuk menggunakan sumber daya yang ada pada dirinya dalam hal ini uang yang dikelolanya dan dengan cerdik memberikan kepada yang berhutang seperti diskon. Hal ini membawa sukacita bagi yang berhutang pada bendahara ini. Dia tahu kelemahan dirinya dan mempersiapkan seandainya dipecat, tetap ada orang yang menerima dirinya karena “kebaikan hati” yang sudah diberikan sebelumnya. Dari sekian banyak orang yang terkena “kebaikan” itu, pastilah ada satu yang bisa diharapkan untuk menerima dan menampung dirinya. Tindakan ini dipuji sang Majikan (Luk. 16:8), sebagai tindakan yang cerdik, meskipun tidak jujur (diterjemahan lain: tidak sungguh-sungguh) namun bisa memanfaatkan mamon/ kekuasaan itu untuk kebaikan orang lain juga dirinya sendiri. Sementara anak-anak terang dikritik tidak lebih cerdik daripada bendahara ini.

Belajar Cerdik tapi juga Tulus
Tentu Tuhan Yesus tidak mengajarkan bagaimana harus bertindak curang atau tidak jujur. Poinnya adalah bertindak responsif, cerdik dan bisa menggunakan uang dalam hal ini menjadi bermanfaat bagi orang lain dan pada saat yang sama bagi dirinya. Secara duniawi tentu sah memberikan potongan hutang sesuai dengan kebijakan sang pemberi kuasa, itu yang membuat sang majikan memuji, karena besar kemungkinan jika semua dipertanggung-jawabkan dengan baik, maka si bendahara tidak dipecat dan justru menerima bonus. Tuhan Yesus tidak melanjutkan perumpamaan ini karena pasti orang Farisi dan para pemilik uang langsung bisa tertohok dan memahami maksud pengajaran ini. Yang terpenting bukan menyenangkan diri dan memperkaya diri dengan kecurangan dan penindasan. Bendahara cerdik ini justru memberikan kemudahan dan kebahagiaan dengan membuatkan surat hutang yang baru, tidak merugikan sang Majikan, juga membuat gembira yang berhutang. Bisa jadi bendahara ini tidak tulus, namun siapa yang tahu soal hati?

Setiap orang juga pasti punya kepentingan yang tidak bisa diukur dari apa yang terlihat. Judul di perikop kita versi LAI: perumpamaan bendahara yang tidak jujur hemat penulis belumlah tepat, karena itu berupa prasangka. Di dalam teks justru terlihat bendahara ini cerdik dan bisa mengatasi persoalan yang dia harus jalani dan membuktikan tuduhan pada dirinya tidak benar. Akhir dari perumpamaan ini justru bendahara ini berhasil dan mendapatkan pujian. Orang Farisi dan para orang yang gila harta itu, mereka merasa dipuji, namun di akhir kisah ini justru mereka disindir keras sebagai anak-anak dunia, bukan sebagai anak terang meskipun disebut Tuhan sebagai orang yang lebih cerdik. Meskipun reaksi mereka adalah mencemooh, sebagai penutup rasa bersalah karena mereka hamba uang yang memperoleh secara tidak benar dan menampilkan diri sebagai orang saleh. (Lih. Luk. 16:14-16).

Hidup Damai oleh karena Melakukan Kebenaran
Hidup jujur tulus tetap memerlukan kecerdikan dalam kehidupan dunia ini. Seringkali kita sebagai milik Tuhan sangat jujur namun kurang cerdik sehingga banyak mengalami kesulitan, ditipu, dan ketidaknyamanan lainnya. Tetap ingat bahwa ketika mengasihi Tuhan tidak hanya dengan segenap jiwa, hati, tetapi juga dengan akal budi. Tentu saja masih ada satu lagi, kerelaan untuk memberi. Yang terakhir ini tidak mudah dilakukan. Hal yang paling dekat dan sederhana adalah keterikatan dengan uang. Apa yang dilakukan oleh bendahara cerdik itu justru menggunakan uang sebagai sarana untuk kebaikan sesamanya yang berimbas kepada dirinya. Dia bisa menggunakan sumber daya terpenting dan paling efektif yakni uang, bukan dikuasai oleh uang, namun sebaliknya bisa menggunakan dengan amat baik.

Sudah sering kita lihat dan dengar bahwa kalau belanja di mall uang 50 ribu rupiah amat sedikit, namun ketika ke gereja maka uang itu bernilai sangat besar. Sementara orang berusaha membenarkan diri bahwa persembahan khan tidak harus uang. Untuk hal yang kecil saja kita sudah berkilah, bagaimana kita dapat dipercaya untuk hal yang lebih besar. Semoga dugaan ini salah, sebab dengan adanya pandemi, kita kini jauh lebih mendekat dengan kasih Tuhan melalui kehidupan iman ini. Saat kita memberi kepada Tuhan sebetulnya saat itulah kita merasakan damai sejahtera, apalagi dari hasil yang jujur dan kerja keras. Tidak perlu menunggu harus memiliki banyak uang, seberapapun mari kita haturkan sesuai dengan kemampuan dan kesungguhan.

Tentu saja kita tidak hendak menyogok Tuhan agar memberikan berkat-Nya. Kita ini sungguh sudah diberkati, sehingga semua yang kita haturkan adalah ungkapan syukur. Mari menggunakan semua yang diberikan Tuhan termasuk apapun harta titipan Tuhan yang dipercayakan kepada kita. Kitalah bendahara yang cerdik itu, mari kita buat Tuhan tersenyum dan bangga saat kita menggunakan titipan-Nya itu menjadi manfaat, menggembirakan sesama, bahkan menjadi sukacita bagi mereka yang bahkan tidak menyangka mendapatkannya. Tetaplah cerdik namun juga tulus hati saat menyatakan kebenaran Tuhan di dalamnya.

Penutup
Hidup adalah kesempatan berharga, menandai kehidupan dengan cinta yang tak akan pernah hilang oleh waktu. Kita semua diberikan kesempatan sama, karena menjadi sesama umat milik Tuhan. Bersyukur kita dipakai Tuhan untuk menjadi orang yang diberkati, namun sekaligus pada saat yang sama kita menjadi berkat. Tetaplah dalam kesetiaan, ketulusan, dan cerdiklah menggunakan hal yang ada di dunia ini sebagai bekal yang indah bertemu Tuhan pada saatnya kelak. Amin. [LUV].

“Kalau kamu terlahir miskin itu bukan kesalahanmu, namun kalau kamu mati dalam keadaan miskin, itulah kesalahanmu.” (Bill Gates)

 

Pujian: KJ. 343 : 1 – 3 Dunia dalam Rawa Paya


Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)

Pambuka
Para sedherek tunggil pitados, kathah tiyang ing patunggilan nggadhahi pemanggih bilih lelados mboten kedah ngangge arta utawi bandha, cekap klayan tenaga, wekdal, lan kabisan sampun kasebut leladi. Pancen punika mboten lepat lan klentu. Kasagedan, penggalihan, lan wekdal ugi kasebut sumber daya ingkang kabetahaken ing paladosan. Nanging asring punika dados senjata kangge mboten maringi pisungsung arupi arta. Senaosa kita mangertosi arta punika estu penting kagem lumampahing pasamuwan lan patunggilan. Punapa malih ing wekdal pandemi kados sakmangke, sedaya mawi daring utawi online. Mbetahaken kathah beaya, wiwit listrik, sewa kamera, tenaga multimedia, wifi lan sanes sanesipun kangge lumampahing pangabekti lan paladosan online. Sedaya mboten saged menawi dipun cekapi klayan tenaga kemawon utawi wekdal. Lajeng punapa wonten ingkang lepat ngenani beaya ingkang kita tepangi minangka: arta?

Isi
Arta utawi ing kitab Suci kasebut mamon punika asring dipun mangertosi negatif utawi awon. Gusti kapindho (the second god), kasebat mekaten krana sipatipun arta kados Gusti, inggih punika kuwaos lan wonten ing pundi-pundi. Mila piwucalipun Gusti Yesus ing waosan ketiga punika dados wigati. Nalika juru gedhong punika mangertos menawi sampun kadumuk ngawut-awut bandhanipun sang Bendara ingkang karigenaken piyambakipun, lan nampi bebendu dipun pocot dening bendaranipun, enggal-enggal juru gedhong punika ngawekani klayan akal ingkang lantip. (Luk. 16:1-2).

Piyambakipun lajeng damel panguwaosipun nggantos serat utang enggal kanthi diskon ageng tumrap para tiyang ingkang gadhah tanggelan dhateng sang Bendara. Punika estu ndadosaken bingahipun tiyang-tiyang punika lan ugi pengajeng-ajengipun juru gedhong supados wonten ingkang ngukup piyambakipun ing griyanipun ingkang sampun katulung, sawanci-wanci piyambakipun dipun pocot dening sang Bendara. Juru gedhong punika mangertosi kekiranganipun lan nyawisaken sedayanipun menawi mangke kapocot dening sang Bendara. Punika ingkang dipun caosi dening sang Bendara kanthi ngelem piyambakipun krana gadhah akal lantip nglangkungi ahli warising pepadhang. (Luk. 16:8).

Tamtunipun Gusti Yesus mboten paring piwucal kados pundi tumindak mboten jujur. Ingkang dados inti inggih punika saged ngawekani, prigel, lan saged ngginakaken arta utawi panguwaos temahan dados manfaat kangge tiyang sanes, ing wekdal ingkang sami ugi dados piguna kangge dhirinipun piyambak. Sacara kadonyan tetap sah kemawon maringi diskon utawi potongan tumrap tanggunganipun tiyang ingkang utang krana juru gedhong punika ingkang kuwaos ngrigenaken bandha donyanipun sang Bendara. Mila punika mboten wonten ingkang rugi, Bendara mboten rugi, ingkang utang ugi bingah, lan juru gedhong ugi nampi kabegjan lan mbok menawi ugi mboten siyos dipun pocot. Gusti Yesus mboten nglajengaken pasemon punika, krana tiyang Farisi lan ingkang karem duwit ingkang nampi piwucal punika estu mangertosi piwucal punika. Inggih punika mboten damel kasangsaran tiyang sanes lan mboten ngrugekaken sok sintena klayan panindes. Sang Juru Gedhong punika estu tumindak kanthi akal cukat lan canthas temah dados kabingahaning sedaya.

Irah-irahan ing Alkitab LAI wonten boso Jawi sampun leres, juru gedhong ingkang mboten temen. Nanging ing boso Indonesia kasebut: bendahara tidak jujur, punika beda klayan punapa ingkang dipun arah wonten ing pasemon punika. Juru gedhong punika kasil mbuktekaken bilih piyambakipun mboten kados ingkang kalapuraken lan angsal pangalem dening sang Bendara. Para tiyang Farisi lan tiyang ingkang karem arta rumaos kadumuk krana kasebut anaking jagad, inggih ingkang ngudi kadonyan senaosa ketingal saleh ing ngajengipun pasamuan. Sagedipun inggih namung ngencepi dhateng Gusti Yesus kangge nutup raos salah krana tiyang punika ngupados arta kanthi cara ingkang mboten leres lan pener manut ing tataning jagad ugi Torat. (Luk. 16:14-16)

Gesang tulus lan jujur taksih merlokaken kalantipan kangge ngadhepi gesang ing donya punika. Asring kita minangka kagunganipun Gusti sampun jujur nanging mboten lantip temahan ngalami pakewet, dipun apusi lan sanes-sanesipun. Tetepa enget bilih nresnani Gusti pancen kanthi gumolonging nyawa lan ati, nanging ugi kanthi gumolonging budi, utawi akal sehat. Punika dereng cekap, taksih setunggal malih kados dene tuladhanipun Gusti Yesus: rila ing paweweh. Lan ingkang pungkasan punika mboten gampil dipun lampahi. Ingkang celak kemawon prekawis arta, punapa ingkang dipun damel juru gedhong lantip punika saged ngginakaken srana kadonyan ingkang dipun gadhahi kangge kabingahanipun sesami ingkang estu merlokaken. Angsal diskon utang punika estu ageng sanget, kados dene kita angsal diskon menawi tumbas barang utawi malah kendaraan. Kabisan damel sedaya sumber daya ingkang paling penting lan efektif punika: arta. Piyambakipun mboten dipun kuwasani arta, nanging saged ngginakaken arta kanthi sae. Kita asring mireng bilih menawa dhateng mall utawi restoran, arta 50 ewu repis punika sanget sekedhik, nanging menawi dhateng greja makjegagik 50 ewu punika dados ageng sanget. Lan kita saged ngleresaken dhiri bilih pisungsung mboten kedah arta. Kangge prekawis prasaja kemawon kita sampun suwala, kados pundi kita pinicaya kagem ingkang kalangkung ageng? Mugi–mugi panduga punika lepat, krana selaminipun pandhemi kita sakmangke langkung nyelak malih dhateng katresnanipun Gusti wonten ing gesanging iman kita. Nalika kita ngaturi pisungsung dhateng Gusti, estonipun kita rumaos ayem, punapa malih sedaya punika saking asiling panyambut damel estu lan kanthi jujur. Mboten perlu ngrantos gadhah arta kathah, mangga kita aturaken sepinten kemawon cundhuk klayan kemampuan. Nanging mboten usah suwala utawi malah pamit kanthi alasan warni-warni.

Estu punika mboten nyogok Gusti supados kita diparingi berkah, kita punika sampun binerkahan, temahan sedaya ingkang kita aturaken punika mligi saos sokur dhateng Panjenenganipun. Sumangga kita damel punapa kemawon ingkang katitipaken Gusti dhateng kita lantaran arta, bandha kadonyan punapa kemawon. Awit kita punika inggih sang juru gedhong ingkang pinasthi dening Gusti, ndadosaken manfaat lan piguna murih kabingahanipun sesami, uger kita ugi tetepa lantip, lan tulus nalika nelakaken kaleresan ing margining Gusti.

Panutup
Gesang punika wewengan ingkang estu adi, sumangga kita nyerat pratandha gesang punika klayan katresnan ingkang langgeng. Kita sedaya dipun paringi wewengan ingkang sami, krana kita sedaya kagunganipun Gusti. Saos sokur dene kita punika dipun agem Gusti minangka tiyang ingkang binerkahan, lan ing wekdal ingkang sami kita ugi dados berkah wonten ing jagad punika. Tetepa gesang ing kasetyan lan tulus sarta lantip ngginakaken sedaya ingkang wonten ing jagad punika kangge sangu ingkang endah pinanggih Gusti ing kabingahan langgeng. Amin. [LUV].

 

Pamuji: KPJ. 127 : 1, 3 Nggen Kawula Makarya

Renungan Harian

Renungan Harian Anak