Minggu Biasa | Pekan Pemuda
Stola Hijau
Bacaan 1: Imamat 19 : 1 – 2, 15 – 18
Mazmur: Mazmur 1
Bacaan 2: 1 Tesalonika 2 : 1 – 8
Bacaan 3: Matius 22 : 34 – 46
Tema Liturgis: Sepi ing Pamrih, Rame ing Gawe!
Tema Khotbah: Sepi ing Pamrih, Rame ing Gawe!
Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
Imamat 19 : 1 – 2, 15 – 18
Kitab Imamat adalah kitab ketiga dalam Taurat yang berisi peraturan tentang ibadah, kekudusan, dan kehidupan umat Israel di hadapan Allah. Kitab ini ditulis dalam konteks bangsa Israel yang baru keluar dari Mesir dan sedang berkemah di sekitar Gunung Sinai. Setelah Kemah Suci didirikan (Keluaran 40), Kitab Imamat menjawab pertanyaan mendasar: bagaimana umat berdosa dapat hidup dekat dengan Allah yang kudus. Allah menyatakan hukum-hukum ini melalui Musa sebagai bentuk pembentukan identitas umat perjanjian. Israel dipanggil menjadi bangsa yang berbeda dari bangsa-bangsa lain, terutama dalam hal penyembahan, moralitas, dan relasi sosial. Oleh karena itu, Imamat bukan sekadar kitab ritual, tetapi panduan hidup menyeluruh bagi komunitas Israel. Tema utama Kitab Imamat adalah kekudusan Allah. Kekudusan bukan hanya soal ritual ibadah, tetapi mencakup seluruh aspek kehidupan: ibadah, makanan, tubuh, relasi seksual, keadilan sosial, dan kepedulian terhadap sesama. Prinsip dasarnya dinyatakan dalam Imamat 19:2: “Kuduslah kamu, sebab Aku, TUHAN Allahmu, kudus.”
Imamat 19 merupakan inti dari peraturan tentang kekudusan dalam kitab ini, seperti apa yang telah tertulis pada ayat 2. Pasal ini menunjukkan bahwa kekudusan bukan hanya urusan altar dan imam, tetapi harus diwujudkan dalam kehidupan sosial, etika, dan relasi antar manusia. Dalam rangka mewujudkan kekudusan dalam kehidupan sehari-hari maka diaturlah dalam ayat 15-18. Ayat-ayat ini dengan jelas mengatur bagaimana manusia menjalani kehidupan sehari-harinya dalam kaitan relasi dengan sesama umat manusia. Ayat-ayat ini yang kemudian juga dikutip dan disempurnakan kembali oleh Tuhan Yesus yang kemudian kita kenal dengan hukum kasih dalam Injil Matius. Maka semakin jelas bahwa dalam kitab Imamat ini tidak hanya mengatur relasi yang kudus antara manusia dengan Allah namun juga relasi manusia dengan sesamanya yang juga harus berjalan sesuai dengan kehendak Allah.
1 Tesalonika 2 : 1 – 8
Surat 1 Tesalonika merupakan salah satu surat tertua Rasul Paulus, ditulis sekitar tahun 50–51 M dari kota Korintus. Surat ini ditujukan kepada jemaat di Tesalonika, sebuah kota pelabuhan penting dan ibu kota provinsi Makedonia. Jemaat ini terbentuk melalui pelayanan Paulus, Silas, dan Timotius (Kisah Para Rasul 17:1–9), namun mereka harus meninggalkan kota tersebut lebih awal karena penolakan dan penganiayaan. Akibatnya, jemaat Tesalonika masih sangat muda dalam iman ketika Paulus berpisah dari mereka. Kondisi jemaat Tesalonika berada di tengah tekanan berat. Mereka hidup dalam lingkungan yang dipenuhi penyembahan berhala, kultus kaisar, dan standar moral yang bertentangan dengan iman Kristen. Selain itu, mereka juga menghadapi penganiayaan dari masyarakat sekitar karena kesetiaan mereka kepada Kristus. Paulus menulis surat ini setelah menerima laporan dari Timotius bahwa jemaat tersebut tetap teguh dalam iman dan kasih, namun masih memiliki beberapa kebingungan teologis dan etis.
Secara khusus dalam 1 Tesalonika 2:1–8, Paulus menegaskan bahwa pelayanannya di Tesalonika bukanlah sia-sia, meskipun dilakukan di tengah penderitaan dan penganiayaan. Ia memberitakan Injil dengan keberanian yang berasal dari Allah, bukan dengan motivasi yang menyesatkan, mencari pujian manusia, atau keuntungan pribadi. Paulus menolak penggunaan sanjungan dan kuasa untuk kepentingan diri sendiri, melainkan ia melayani dengan kelembutan dan kasih, seperti seorang ibu yang merawat anaknya. Pelayanan sejati, menurut Paulus, bukan hanya menyampaikan Injil, tetapi juga memberikan diri sepenuhnya demi pertumbuhan iman jemaat.
Matius 22 : 34 – 46
Injil Matius ditulis untuk menegaskan bahwa Yesus adalah Mesias yang dijanjikan dalam Perjanjian Lama dan penggenapan nubuat-nubuat Allah kepada Israel. Injil ini banyak mengutip kitab-kitab nabi untuk menunjukkan kesinambungan antara karya Yesus dan sejarah keselamatan umat Allah, sekaligus menampilkan Yesus sebagai Guru yang berotoritas, Raja, dan Anak Daud. Penekanannya kuat pada Kerajaan Surga, kehidupan murid yang benar di hadapan Allah, serta ketaatan yang lahir dari hati, bukan sekadar ketaatan lahiriah. Dengan susunan yang teratur dan pengajaran yang sistematis, Injil Matius mengarahkan pembacanya (khususnya komunitas Kristen-Yahudi) untuk memahami bahwa mengikuti Yesus berarti hidup dalam kebenaran, kasih, dan kesetiaan kepada kehendak Allah.
Sedangkan dalam Matius 22:34–46 menegaskan inti iman dan identitas Mesias melalui dua dialog penting. Pertama, Yesus merangkum seluruh hukum Taurat dalam dua perintah utama, yaitu mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi serta mengasihi sesama seperti diri sendiri, yang menunjukkan bahwa ketaatan sejati berakar pada relasi kasih, bukan sekadar aturan legalistik. Kedua, dengan mengutip Mazmur 110:1, Yesus menantang pemahaman orang Farisi tentang Mesias yang hanya dipandang sebagai keturunan Daud, dan menyatakan bahwa Mesias memiliki otoritas ilahi. Dengan demikian, perikop ini menegaskan bahwa Yesus adalah Mesias sejati yang menggenapi hukum melalui kasih dan menyatakan diri-Nya sebagai Tuhan.
Benang Merah Tiga Bacaan
Ketiga bacaan ini menitikberatkan hal yang hampir sama, yaitu terkait dengan kehidupan keseharian manusia yang harus sesuai dengan kehendak Allah. Kesesuaian dengan kehendak Allah inilah yang diartikan sebagai kekudusan dalam kitab Imamat. Hal ini juga yang ditekankan dalam bacaan ketiga yang kemudian kita kenal dengan hukum kasih. Hukum kasih yang menekankan keselarasan antara kasih kepada Allah dan sesama. Dalam mewujudkan ini maka penting untuk memperhatikan nasihat Paulus untuk jemaat Tesalonika, yaitu bukan mementingkan diri sendiri tetapi mewartakan Injil dengan membawa kedamaian bagi orang lain.
Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)
Pendahuluan
Kata “sekuler” menjadi kata yang seolah menjadi negatif jika dikaitkan dengan agama. “Sekuler” dianggap bertentangan bahkan dapat melemahkan ajaran agama. Oleh karena itu, saat ini berkembang paham yang dianggap berbahaya bagi umat beragama, yaitu sekularisme. Kata “sekuler” memang selalu dikaitkan dengan kebendaan dan keduniawian, namun apakah benar bahwa hal-hal yang bersifat duniawi selalu bertolak belakang dengan agama atau yang bersifat rohani? Padahal yang “rohani” dan yang “duniawi” atau “sekuler” sebenarnya selalu beriringan dalam kehidupan manusia dan tidak dapat dipisahkan. Bahkan dua hal ini dapat saling memengaruhi satu dengan yang lain. Contohnya, ketika makan kita berdoa terlebih dahulu untuk mengucap syukur kepada Allah, atau sebaliknya ketika lapar mungkin saja konsentrasi kita dalam berdoa atau beribadah bisa terganggu. Maka sebenarnya tidak dapat dikatakan bahwa yang “sekuler” itu pasti negatif atau bertentangan dengan agama begitu pun sebaliknya. Hal yang penting adalah kedua hal ini, yaitu yang “rohani” dan “sekuler” dapat saling memberikan pengaruh atau dampak yang positif.
Isi
Perkara “rohani” dan “jasmani” atau “sekuler” ternyata juga sudah menjadi pembahasan sejak masa Perjanjian Lama. Dalam kitab Imamat 19:1-2, 15-18 dijelaskan terkait dua hal yang sangat berkaitan, yaitu kekudusan dan perilaku hidup sehari-hari. Kekudusan yang selama ini identik dengan relasi antara manusia dengan Allah kemudian juga dikaitkan dengan sikap hidup keseharian manusia. Kekudusan harus terwujud melalui sikap dan perilaku manusia. Dengan ini Kitab Imamat mengatur bagaimana manusia harus bersikap dalam kehidupannya. Sikap dan perilaku manusia terhadap sesama juga menentukan relasinya dengan Allah. Relasi yang baik dengan sesama manusia menjadi cerminan ketaatan dan kekudusan dalam relasi manusia dengan Allah.
Matius 22:34-40 sepertinya mengutip Imamat 19 khususnya ayat 15 – 18, yang kemudian kita kenal menjadi hukum kasih. Yesus menyempurnakan apa yang sudah tertulis dalam Imamat 19. Hukum kasih yang diajarkan oleh Yesus mencakup 2 hal, yaitu kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama. Yesus memang sangat memperhatikan situasi sosial masyarakat yang membutuhkan tuntunan dan teladan untuk membangun kehidupan yang baik. Kepedulian inilah yang kemudian membuat Yesus menyandingkan kasih kepada Allah dengan kasih kepada sesama. Kelemahan manusia saat itu bahkan mungkin hingga saat ini adalah: manusia begitu memikirkan relasinya dengan Allah tetapi kadang lupa untuk membangun relasi yang baik dengan sesamanya. Hal inilah yang nampak dari cara hidup orang Farisi, khususnya yang tertulis dalam Matius 22:41-46 dimana mereka meragukan tentang Yesus sebagai Mesias. Orang Farisi ini gambaran manusia yang menganggap dirinya memiliki hubungan yang baik dengan Tuhan tetapi tidak memiliki kepedulian kepada sesamanya yang menderita.
Kesenjangan antara relasi dengan Tuhan dan relasi dengan sesama menjadi dasar dari munculnya ajaran baik dalam kitab Imamat maupun hukum kasih yang disampaikan Yesus dalam Injil Matius. Dalam usaha menyelaraskan dua hal paling fundamental dalam kehidupan manusia ini memang tidak mudah. Yesus pun mengalami banyak pertentangan dalam upaya menyelaraskannya. Namun karena dasar keinginan untuk memperbaiki kehidupan manusia, maka baik penulis kitab Imamat maupun Yesus tetap berusaha menyelaraskan antara relasi manusia dengan Tuhan dan relasi manusia dengan sesama. Paulus dalam suratnya yang pertama untuk jemaat Tesalonika mencoba menguatkan umat percaya saat itu yang sedang mengalami kebingungan teologis. Khususnya dalam 1 Tesalonika 2:1-8, Paulus menegaskan bahwa pelayanannya di Tesalonika bukanlah sia-sia, meskipun dilakukan di tengah penderitaan dan penganiayaan. Ia menjelaskan bahwa pelayanannya bukan untuk mendapatkan pujian atau keuntungan pribadi namun sepenuhnya demi pertumbuhan iman jemaat. Pertumbuhan iman jemaat menjadi fokus dalam pelayanan Paulus, khususnya di Tesalonika. Hal ini juga menunjukkan kedewasaan iman Paulus, dimana ia menghayati relasinya yang baik dengan Allah melalui pekabaran Injil yang ia lakukan demi kepentingan pertumbuhan iman jemaat.
Penutup
Ketiga bacaan kita saat ini telah menjelaskan kepada kita bagaimana hubungan yang baik dengan Allah akan membawa kebaikan juga bagi sesama. Kebaikan bagi sesama bukan berarti membawa keuntungan bagi kita pribadi karena tujuan utama berbuat baik bukan demi keuntungan pribadi kita tetapi wujud nyata kedekatan dan relasi baik antara kita dengan Allah. Maka tema khotbah saat ini, “Sepi ing Pamrih, Rame ing Gawe!” menjadi penting untuk direnungkan. Dalam pekan pemuda saat ini, tema ini menjadi penting karena dapat mengajak para pemuda/i untuk terus berbuat baik bukan demi keuntungan pribadi tetapi wujud nyata dari kedewasaan iman mereka. Yang “rohani” dan yang “sekuler” atau “duniawi” tidak lagi dua hal yang terpisah melainkan menjadi satu kesatuan yang utuh sebagai wujud kedewasaan iman yang membawa kebaikan bagi orang banyak. Amin. [KCT].
Pujian: KJ. 425 Berkumandang Suara dari Seberang
Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)
Pambuka
Tembung “sekuler” asring dipun mangertosi kanthi teges ingkang negatif nalika dipun pasangaken kaliyan agami. Tembung punika asring dipun anggep mboten laras kaliyan ajaran utawi nilai-nilai agama lan iman kapitadosan. Saking pamanggih punika, lajeng ngrembaka satunggaling paham ingkang dipun anggep mbebayani tumrap tiyang pitados, inggih punika sekularisme. Sejatosipun, tembung “sekuler” punika asring dipun gathukaken kaliyan prekawis kadonyan. Nanging mekaten punika mboten ateges bilih sadaya prakawis ingkang sipatipun kadonyan mesthi tansah nyulayani iman kapitadosan utawi gesang karohanen. Ing kasunyatanipun, bab karohanen lan bab kadonyan punika kalih dimensi ingkang lumampah sesarengan wonten ing gesanging manungsa lan mboten saged dipun pisahaken. Kalih dimensi punika saged saling mempengaruhi setunggal kaliyan sanesipun. Contonipun, bab kadonyan kados ta dhahar asring dipun wiwiti mawi ndedonga minangka wujud panuwun saha saos sokur dhumateng Gusti Allah. Kosokwangsulipun, bab kajasmanen ingkang sipatipun kadonyan, kados ta raos luwe, saged ganggu konsentrasi tiyang nalika ndedonga utawi nindakaken pangabekti. Mila saking punika, mboten trep manawi prekawis ingkang sipatipun sekuler tansah dipun wawas kanthi makna negatif utawi dipun anggep mboten selaras kaliyan agama. Ingkang langkung wigati, inggih punika kados pundi gesang kerohanen lan gesang kadonyan punika saged dipun atur kanthi becik supados saged paring pengaruh ingkang positif tumrap gesanging manungsa.
Isi
Prekawis babagan gesang “rohani” lan “jasmani” utawi ingkang asring dipun sebat sekuler punika saestu mboten namung dados pawiyatan ing jaman sapunika kemawon, nanging sampun dados penggalihipun tiyang wiwit jaman Prajanjian Lami. Wonten ing Kitab Kaimaman 19:1–2, 15–18, kita pinaringan piwulang bab kalih prekawis ingkang raket sanget gandhengipun, inggih punika bab kasucen lan tindak-tanduk ing gesang padintenan. Kasucen ingkang saderengipun asring dipun mangertosi namung minangka sesambetan antawisipun manungsa kaliyan Gusti Allah, ing Kitab Kaimaman punika dipun wedharaken kanthi langkung jembar, bilih kasucen punika ugi kedah katitik lan katindakaken lumantar sikep gesang saben dinten. Kasucen mboten namung kawujud wonten ing pangabekti kemawon, nanging kedah kaserat lan kasumurupan wonten ing solah bawa, tumindak, saha sikep gesang manungsa ing padintenan. Mila saking punika, Kitab Kaimaman punika maringi pranatan lan pitedah kados pundi manungsa kedah gesang, tumindak, lan sesrawungan kaliyan sesaminipun.
Mateus 22:34-40 kadosipun ngutip saking Kaimaman 19, mliginipun ayat 15 – 18, ingkang salajengipun kasebut minangka angger-angger katresnan (Hukum Kasih). Gusti Yesus nyampurnakaken punapa ingkang sampun kaserat wonten ing Kaimaman 19. Gusti Yesus mbagi angger-anggering katresnan punika dados kalih perangan, inggih punika tresna dhumateng Gusti Allah lan tresna dhateng sesami. Gusti Yesus saestu preduli tumrap kahanan sosial masyarakat ingkang perlu tuntunan saha tuladha kangge mbangun gesang ingkang sae. Raos peduli punika ingkang lajeng ndadosaken Gusti Yesus nyandingaken tresna dhumateng Gusti Allah kaliyan tresna dhateng sesami. Kakiranganipun manungsa ing jaman Alkitab, malah saged dumugi ngantos sapunika, inggih punika nalika manungsa ngupayakaken hubungan ingkang sae kaliyan Gusti Allah nanging kadhangkala kesupen mbangun hubungan ingkang sae kaliyan sesaminipun. Prekawis punika katingal saking cara gesangipun tiyang Farisi, mliginipun ingkang kaserat wonten ing Mateus 22:41-46, nalika tiyang Farisi mboten yakin bilih Gusti Yesus punika Sang Masih. Tiyang Farisi punika dados gambaran manungsa ingkang ngrumaosi kagungan hubungan ingkang sae kaliyan Gusti Allah, nanging mboten kagungan rasa peduli dhateng sesami ingkang nandhang sangsara.
Bab hubungan kaliyan Gusti Allah lan hubungan kaliyan sesami dados dhasar piwucal becik wonten ing Kaimaman saha angger-angger katresnan ingkang dipun dhawuhaken dening Gusti Yesus wonten ing Injil Mateus. Ing usaha nyelarasaken kalih bab ingkang paling dhasar wonten ing gesang manungsa punika, saestu mboten gampil. Gusti Yesus piyambak dipun tentang nalika nyelarasaken kalih prekawis punika. Kanthi tujuan nata gesanging manungsa, juru tulis Kaimaman saha Gusti Yesus sami ngupadi nyelarasaken hubungan manungsa kaliyan Gusti Allah lan hubungan manungsa kaliyan sesami. Paulus wonten ing layangipun ingkang kapisan dhateng pasamuan Tesalonika ngiyataken para umat pitados ing wekdal punika, ingkang saweg ngalami kebingungan teologis. Mliginipun wonten ing 1 Tesalonika 2:1-8, piyambakipun negesaken bilih peladosanipun wonten ing Tesalonika mboten muspra, sanadyan kalampahan wonten ing tengahing kasangsaran saha panganiaya. Paulus negesaken bilih peladosanipun punika mboten kangge pikantuk pangalembana utawi kauntungan pribadi, nanging sadaya namung kagem nuwuhaken iman pasamuwan. Tuwuhing iman pasamuwan dados fokus wonten ing peladosanipun Paulus, mliginipun wonten ing Tesalonika. Prekawis punika ugi nedhahaken kadewasan imanipun Paulus, ing pundi piyambakipun ngraosaken relasi ingkang sae kaliyan Gusti Allah lumantar pangandharan Injil ingkang dipun tindakaken kagem nuwuhaken imanipun pasamuwan.
Panutup
Tigang waosan kita ing wekdal punika sampun maringi katerangan dhateng kita kados pundi hubungan ingkang sae kaliyan Gusti Allah saged ndadosaken kawontenan ingkang becik tumrap sesami. Kawontenan becik tumrap sesami punika mboten ateges ndadosaken kauntungan kangge kita pribadi, awit tujuan utami tumindak becik punika sanes kangge ngupadi kauntungan pribadi, nanging minangka wujud nyata saking karaketanipun saha hubungan ingkang sae antawisipun manungsa kaliyan Gusti Allah. Mila tema khotbah kita ing wekdal punika, “Sepi ing Pamrih, Rame ing Gawe!”, dados wigati sanget. Wonten ing pekan pemuda sapunika, tema punika dados wigati awit saged ngajak para pemuda saha pemudi tansah tumindak becik, mboten karana pamrih pribadi, nanging minangka wujud nyata saking kadewasan imanipun. Prekawis ingkang sipatipun “rohani” lan ingkang sipatipun “sekuler” utawi “kadonyan” mboten malih dados kalih bab ingkang kapisah, nanging dados satunggaling kesatuan ingkang utuh minangka wujud kadewasan iman ingkang ndadosaken kawontenan becik tumrap tiyang kathah. Amin. [KCT].
Pamuji: KPJ. 441 Kita Sami Tinimbalan