Kembali kepada Allah, Kembali Bersaudara Khotbah Minggu 18 Oktober 2026

5 October 2026

Minggu Biasa | Penutupan Bulan Ekumene
Stola Hijau

Bacaan 1: Yesaya 45 : 1 – 7
Mazmur: Mazmur 96 : 1 – 9
Bacaan 2: 1 Tesalonika 1 : 1 – 10
Bacaan 3: Matius 22 : 15 – 22

Tema Liturgis: Merawat Persaudaraan Sejati
Tema Khotbah: Kembali kepada Allah, Kembali Bersaudara

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Yesaya 45 : 1 – 7
Perikop ini lahir di konteks pembuangan Babel (abad ke-6 SM). Yehuda berada dalam krisis identitas: tanah hilang, Bait Allah hancur, raja tidak ada. Di tengah situasi itu, muncul kekuatan baru: Koresh (Cyrus) dari Persia yang menaklukkan Babel tahun 539 SM. Yang mengejutkan nabi menyebut nama Koresh secara eksplisit dan menyebutnya sebagai alat pilihan TUHAN bahkan dengan istilah yang sangat teologis: “orang yang Kuurapi” (Ibr. māšîaḥ — mesias). Ini revolusioner, karena Koresh bukan orang Israel, Koresh tidak mengenal YHWH, namun ia dipakai untuk menggenapi rencana keselamatan Allah untuk membebaskan Israel dari Babel dan pulang kembali ke Yerusalem. Yesaya ingin menegaskan kepada umat yang putus asa: sejarah dunia tidak berjalan di tangan kekaisaran, tetapi di tangan TUHAN.

Istilah mesias biasanya untuk raja Israel (Daud, keturunannya). Di sini dipakai untuk raja kafir. Hal ini bisa bermakna bahwa Allah tidak terikat pada batas agama, etnis, atau sistem religius. Allah bebas memakai siapa saja untuk rencana-Nya, Koresh tidak mengenal TUHAN, tetapi TUHAN mengenal dan memanggil Koresh. “Aku memanggil engkau dengan namamu… sekalipun engkau tidak mengenal Aku.” (Ay. 4). Ini menyingkap satu teologi penting bahwa pengenalan Allah oleh manusia tidak menjadi syarat bagi Allah untuk bekerja melalui manusia.

Bahasa militer di ayat 1–2 (“menaklukkan bangsa-bangsa”, “meluruskan jalan”, “mematahkan pintu tembaga”) menunjukkan bahwa penaklukan Persia atas Babel dipandang bukan sekadar peristiwa geopolitik, tetapi tindakan ilahi. Yesaya memaksa umat melihat sejarah secara teologis bahwa apa yang tampak sebagai strategi militer, sesungguhnya adalah pelaksanaan kehendak Allah. Sedangkan frasa diulang dua kali: “Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain; kecuali Aku tidak ada Allah.” Ini adalah salah satu pernyataan monoteisme paling tegas dalam PL. Di Babel, umat Israel hidup di tengah politeisme. Yesaya menegaskan bahwa bukan Marduk yang mengatur sejarah, bukan dewa-dewa Babel, tetapi hanya YHWH. Tujuan tindakan Koresh bukan hanya membebaskan Israel, tetapi: “supaya orang tahu dari terbitnya matahari sampai terbenamnya…” (Ay. 6). Artinya pembebasan Israel adalah kesaksian global tentang siapa Allah yang sejati.

Pada ayat 7: “yang menjadikan terang dan menciptakan gelap, yang menjadikan nasib mujur dan menciptakan malapetaka (Ibr. ra‘)”. Kata ‘ra‘ tidak selalu berarti moral evil, tetapi: bencana, malapetaka, penderitaan, hukuman. Yesaya ingin menolak dualisme bahwa bukan ada Allah terang vs kuasa gelap, bukan ada Allah baik vs kuasa jahat. Semua berada di bawah kedaulatan Allah. Ini bukan berarti Allah jahat, tetapi tidak ada satu pun realitas di luar kendali-Nya, bahkan penderitaan sejarah. Bagi umat di pembuangan, ini penghiburan besar bahwa penderitaan mereka bukan bukti Allah kalah, tetapi bagian dari rencana Allah.

 1 Tesalonika 1 : 1 – 10
Tesalonika adalah kota pelabuhan penting di Makedonia, berada di jalur Via Egnatia, pusat perdagangan dan mobilitas ide. Kota ini kosmopolitan, plural secara agama (kultus kekaisaran, dewa-dewi Yunani, sinkretisme), dan kuat secara ekonomi. Jemaat ini lahir dari pelayanan Paulus yang sangat singkat (Kisah PR. 17:1–9). Karena penganiayaan dari orang-orang Yahudi dan tekanan sosial, Paulus harus segera pergi. Artinya bahwa jemaat ini masih sangat muda dalam usia iman. Mereka belum mendapat pengajaran doktrinal yang panjang. Namun justru di tengah tekanan, iman mereka bertumbuh luar biasa. Ini yang membuat Paulus menulis surat ini, bukan untuk menegur, tetapi untuk meneguhkan dan memuji.

Paulus tidak berkata “jemaat di Tesalonika” saja, tetapi “jemaat… di dalam Allah Bapa dan Tuhan Yesus Kristus”. Ini menunjukkan identitas mereka bukan geografis, tetapi teologis. Di kota yang penuh kultus kekaisaran, identitas orang Tesalonika biasanya ditentukan oleh Kota, Kekaisaran, dan Dewa pelindung. Tetapi Paulus menegaskan bahwa identitas utama mereka adalah relasional dengan Allah dan Kristus. Ini fondasi: iman Kristen dimulai dari siapa kita di dalam Allah, bukan di dalam dunia. Di ayat 4-5, Paulus mengatakan “kami tahu… bahwa kamu dipilih Allah.” Bagaimana Paulus tahu? “Injil yang kami beritakan… bukan dengan kata-kata saja, tetapi dengan kuasa.” Injil bukan retorika, tetapi peristiwa kuasa Roh Kudus yang menghasilkan perubahan hidup. Di kota yang penuh filsafat dan retorika Yunani, Paulus menegaskan bahwa Injil tidak menang karena argumentasi, tetapi karena transformasi.

Mereka meneladani Paulus, meneladani Tuhan Yesus, lalu menjadi teladan bagi banyak orang. Ini pola pemuridan yang sangat penting: Injil → Teladan → Peniruan → Keteladanan baru. Dan ini terjadi: “dalam penindasan yang berat dengan sukacita oleh Roh Kudus.” Artinya, sukacita mereka tidak tergantung pada keadaan, tetapi berasal dari Roh. Di ayat 8, kata Yunani yang dipakai untuk menggambarkan iman mereka berarti bergema seperti suara yang memantul. Iman mereka tidak diam. Tanpa media, tanpa strategi misi, tanpa struktur organisasi kesaksian mereka tersebar. Kesaksian paling kuat bukan program, tetapi hidup yang berubah.

Di ayat 9, ada definisi pertobatan yang sangat jelas: “berbalik dari berhala-berhala untuk melayani Allah yang hidup dan benar.” Pertobatan bukan sekadar percaya Yesus, tetapi meninggalkan berhala, mengganti pusat hidup, dan mengganti tuan yang dilayani. Di Tesalonika, berhala bukan hanya patung, tetapi sistem hidup, ekonomi, dan budaya. Mereka hidup berbeda, yaitu hidup dengan orientasi: “menantikan Anak-Nya dari sorga”. Ini bukan sikap pasif, tetapi pengharapan aktif yang membentuk cara hidup. Pengharapan akan kedatangan Kristus membuat mereka tahan menderita, tidak kembali ke berhala, dan hidup berbeda dari dunia

1 Tesalonika 1:1–10 adalah potret jemaat muda yang secara doktrin belum matang, tetapi secara kehidupan sangat matang. Karena yang paling utama bukan banyaknya pengajaran, tetapi kuasa Injil yang sungguh mengubah hidup. Paulus berkata secara implisit: “Inilah bukti bahwa Injil sungguh bekerja.”

Matius 22 : 15 – 22
Perikop ini berada di bagian minggu terakhir pelayanan Yesus di Yerusalem (Mat. 21–23), setelah Yesus masuk Yerusalem sebagai Mesias (21:1–11), menyucikan Bait Allah (21:12–17), mengajar dengan otoritas yang membuat pemimpin agama tersinggung (21:23 dst), dan menyampaikan perumpamaan-perumpamaan yang secara langsung mengkritik elite religius (21:28–22:14). Artinya, ketegangan sudah sangat tinggi. Para pemimpin agama tidak lagi sekadar tidak setuju, mereka sedang mencari cara menjebak Yesus secara politis dan teologis. Ayat 15 langsung menyatakan motif mereka: “orang Farisi pergi dan berunding bagaimana mereka dapat menjerat Yesus dengan suatu pertanyaan.” Kata Yunani yang dipakai untuk menjerat (παγιδεύσωσιν – pagideusōsin) yang berarti memasang perangkap seperti memburu hewan. Ini bukan dialog teologis. Ini operasi penjebakan.

Di ayat 16, orang Farisi berkoalisi: “Mereka menyuruh murid-murid mereka bersama-sama orang-orang Herodian.” Ini sangat penting. Orang Farisi anti-Roma, golongan nasionalis religius dan mengharapkan pembebasan Israel. Sedangkan orang Herodian, golongan pendukung dinasti Herodes (klien Roma), dan mendukung status quo politik. Mereka adalah musuh ideologis. Tetapi di sini mereka bersatu. Mengapa? Karena Yesus adalah ancaman yang lebih besar daripada perbedaan mereka. Ini menunjukkan bahwa keberadaan Yesus mengganggu baik tatanan religius maupun tatanan politik.

Ungkapan yang mereka lontarkan, “Guru, kami tahu Engkau adalah seorang yang benar…” Ini ironi yang tajam. Semua yang mereka ucapkan benar secara teologis, tetapi motivasinya busuk. Matius ingin pembaca melihat kontras antara kebenaran pengakuan mereka dan kepalsuan hati mereka. Dilanjutkan, “Bolehkah membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?” Ini bukan soal ekonomi. Ini soal loyalitas. Pajak yang dimaksud adalah poll tax (κῆνσος – kensos), pajak kepala yang harus dibayar setiap orang Yahudi kepada Roma. Pajak ini sangat dibenci karena menjadi simbol penjajahan dan  dibayar dengan koin bergambar Kaisar. Di koin itu tertulis: “Tiberius Caesar, putra dewa Augustus, Imam Besar.” Bagi orang Yahudi, koin ini hampir bersifat berhala. Jika Yesus menjawab, “Ya, bayar pajak”, maka Ia dianggap pro-Roma, dan akan kehilangan dukungan rakyat. Jika Ia menjawab “Tidak, jangan bayar”, maka Ia bisa dituduh makar kepada Roma. Ini jebakan sempurna. Tidak ada jawaban aman.

Yesus mengetahui “kejahatan hati mereka”. Ia tidak langsung menjawab, tetapi berkata, “Tunjukkanlah kepada-Ku mata uang untuk pajak itu.” Siapa yang punya koin itu? Mereka. Artinya: orang yang mempersoalkan kemurnian religius justru membawa simbol berhala di kantongnya. Yesus mempermalukan mereka tanpa berkata apa-apa. Selanjutnya, kata gambar di ayat 20 adalah Yunani: εἰκών – eikōn. Kata yang sama dipakai dalam Kejadian 1:27 (LXX): manusia diciptakan menurut gambar (eikōn) Allah. Ini kunci teologis perikop ini. “Berikanlah kepada Kaisar apa yang menjadi hak Kaisar, dan kepada Allah apa yang menjadi hak Allah.” Kata “berikanlah” (ἀπόδοτε – apodote) berarti: kembalikan, bayarkan kembali kepada pemiliknya. Logika Yesus: Koin ini bergambar Kaisar, maka itu milik Kaisar. Manusia bergambar Allah, maka ia milik Allah. Yesus tidak hanya sedang berbicara tentang pajak. Ia sedang berbicara juga tentang identitas dan kepemilikan hidup. Ini bukan ajaran pemisahan gereja dan negara yang sering kali disalahpahami sebagai dasar sekularisme. Bukan itu maksudnya. Yesus tidak membagi wilayah menjadi wilayah Kaisar dan wilayah Allah. Sebaliknya, Yesus menunjukkan bahwa Kaisar hanya punya koin. Allah punya hidup manusia. Kaisar punya klaim kecil. Allah punya klaim total.

Jika koin harus kembali ke Kaisar karena gambarnya, maka manusia harus kembali ke Allah karena gambarnya. Ini adalah panggilan pertobatan yang sangat halus namun radikal. Reaksi mereka (Ay. 22) “Mereka heran lalu pergi meninggalkan Dia.” Mereka kalah total dan tidak bisa menuduh Yesus, tidak bisa mendiskreditkan Yesus di depan rakyat. Yesus bukan keluar dari jebakan. Yesus membongkar jebakan itu dan menjerat mereka dengan kebenaran.

Benang Merah Tiga Bacaan
Ketiga bacaan ini bersama-sama menegaskan bahwa Allah bukan hanya Tuhan dalam ruang ibadah, melainkan Penguasa penuh atas sejarah, identitas umat, dan kepemilikan hidup manusia. Dalam Yesaya 45, Allah memakai Koresh—raja kafir—untuk menunjukkan bahwa jalannya sejarah dunia ada di tangan-Nya. Dalam 1 Tesalonika 1, jemaat muda hidup berbeda karena identitas mereka bukan ditentukan oleh kota, sistem, atau tekanan sosial, tetapi karena mereka “di dalam Allah”. Dan dalam Matius 22, Yesus menyingkapkan jika koin bergambar Kaisar harus kembali kepada Kaisar, maka manusia yang bergambar Allah harus kembali sepenuhnya kepada Allah—sehingga benang merahnya jelas: Allah berdaulat atas perjalanan zaman, menentukan siapa kita, dan berhak atas seluruh hidup kita.

 

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)

Pendahuluan
Hari ini bersama kita masih dalam suasana bulan Ekumene. Bulan Ekumene selalu berbicara tentang persaudaraan. Tetapi firman hari ini membawa kita lebih dalam: persaudaraan sejati tidak dimulai dari kesepakatan antar gereja, melainkan dari kesadaran bersama bahwa kita semua milik Allah. Sering kali kita berpikir bahwa yang memecah persaudaraan adalah perbedaan tradisi, tata ibadah, doktrin, atau sejarah denominasi. Tetapi tiga bacaan hari ini menunjukkan sesuatu yang lebih mendasar: persaudaraan rusak ketika manusia lupa siapa yang memegang sejarah, lupa akan identitasnya, dan lupa kepada siapa hidup ini seharusnya dikembalikan.

Isi
Israel di pembuangan merasa hidup mereka ditentukan oleh Babel dan Persia. Mereka merasa nasib mereka ada di tangan kekaisaran. Tetapi Tuhan berkata: Koresh itu alat-Ku. Ini penting. Ketika umat merasa sejarah dikuasai kuasa dunia, mereka mudah putus asa, takut, curiga, dan akhirnya saling menyalahkan. Tetapi ketika umat sadar bahwa Tuhan memegang sejarah, hati menjadi tenang. Dan orang yang hatinya tenang tidak mudah memusuhi saudaranya. Persaudaraan sulit dirawat kalau kita merasa hidup kita dikendalikan situasi, politik, ekonomi, atau ketidakpastian zaman. Kita menjadi defensif, eksklusif, dan saling curiga. Tetapi Yesaya berkata: Sejarah bukan di tangan kekuasaan. Sejarah di tangan Tuhan. Kalau Tuhan memegang sejarah, kita tidak perlu memegang saudara kita dengan kecurigaan.

Paulus tidak menyapa Jemaat Tesalonika dengan sebutan, “jemaat di Tesalonika,” tetapi “jemaat di dalam Allah Bapa dan Tuhan Yesus Kristus.” Di kota yang identitasnya ditentukan oleh kekaisaran, ekonomi, dan budaya, jemaat ini memiliki identitas yang berbeda. Mereka tahu siapa mereka. Dan karena mereka tahu siapa mereka, mereka bisa hidup berbeda: meninggalkan berhala, hidup dalam sukacita, menjadi teladan. Perpecahan sering kali terjadi bukan karena perbedaan, tetapi karena kita salah menaruh identitas. Kita lebih merasa sebagai bagian dari kelompok, aliran, tradisi, atau organisasi, daripada sebagai umat yang “di dalam Allah.” Ketika identitas utama kita adalah Allah, maka kita lebih mudah melihat orang lain sebagai saudara, bukan sebagai pesaing atau ancaman. Persaudaraan sejati lahir dari identitas yang sama di dalam Allah.

Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus berkata, “Berikan kepada Kaisar apa yang menjadi milik Kaisar, dan kepada Allah apa yang menjadi milik Allah.” Koin bergambar Kaisar kembali kepada Kaisar. Manusia bergambar Allah kembali kepada Allah. Yesus sedang berbicara tentang kepemilikan hidup. Persaudaraan rusak ketika manusia merasa hidupnya miliknya sendiri, ketika ego, kepentingan, gengsi, dan kuasa menjadi pusat. Tetapi ketika manusia sadar: saya ini milik Allah, maka cara kita memandang sesama berubah. Kita tidak lagi melihat orang lain sebagai lawan, tetapi sebagai sesama milik Allah. Kalau saya milik Allah, dan saudara saya juga milik Allah, maka kami adalah saudara bukan karena pilihan, tetapi karena kepemilikan yang sama.

Dari tiga bacaan ini, kita belajar bahwa persaudaraan sejati hanya mungkin dirawat jika kita percaya Tuhan memegang sejarah, maka kita tidak hidup dalam ketakutan. Kita sadar identitas kita di dalam Allah, maka kita tidak hidup dalam sekat. Kita mengembalikan hidup kepada Allah, maka kita tidak hidup dalam ego. Ekumene bukan pertama-tama program kerja sama gereja. Ekumene adalah kesadaran rohani: kita semua kembali kepada Allah yang sama. Karena ketika kita kembali kepada Allah, kita otomatis kembali menjadi saudara.

Penutup
Peringatan bulan Ekumene berakhir hari ini. Tetapi panggilan untuk merawat persaudaraan tidak pernah berakhir. Selama kita masih hidup seolah sejarah di tangan dunia, identitas di tangan kelompok, dan hidup di tangan diri sendiri, maka persaudaraan kita akan rapuh. Tetapi ketika kita kembali kepada Allah yang memegang sejarah, menentukan identitas, dan memiliki hidup kita, maka persaudaraan tidak perlu dipaksakan. Ia akan tumbuh dengan sendirinya. Karena orang-orang yang sama-sama kembali kepada Allah, pasti menemukan satu sama lain sebagai saudara. Selamat merawat persaudaraan bersama. Tuhan memberkati. Amin. [dvd]

 

Pujian: KJ. 249  Serikat Persaudaraan

 

Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)

Pambuka
Dinten punika kita taksih wonten ing swasana wulan Ekumene. Wulan Ekumene tansah ngandharaken bab paseduluran. Pangandika dinten punika nuntun kita langkung lebet: paseduluran sejati punika mboten kawiwitan saking kesepakatan antawisipun pasamuwan, nanging saking kasadaran sesarengan bilih kita sadaya punika kagunganipun Gusti Allah. Asring kita ngraosaken bilih ingkang mecah paseduluran punika prabedan tradisi, tata pangabekti, doktrin, utawi sejarah denominasi. Nanging tigang waosan dinten punika nedahaken satunggaling prekawis ingkang langkung dhasar: paseduluran dados risak nalika manungsa kesupen sinten ingkang nyepeng sejarah, kesupen jatinipun, lan kesupen dhateng sinten gesang punika kedah dipun wangsulaken.

Isi
Israel ing tanah pambuangan ngraosaken bilih gesangipun dipun tetepaken dening Babel lan Persia. Piyambakipun ngraosaken nasibipun wonten ing astanipun kakaisaran. Nanging Gusti ngandika: “Koresh iku piranti-Ku.” Punika wigatos sanget. Nalika umat ngraosaken bilih sejarah dipun kuwaosi dening kakiyatan donya, umat dados gampil semplah pangajeng-ajeng, ajrih, curiga, lan pungkasanipun sami nyalahaken. Nanging nalika umat sadar bilih Gusti ingkang nyepeng sejarah, manah dados tentrem. Lan tiyang ingkang manahipun tentrem mboten gampil mengsahi sedherekipun. Paseduluran awrat dipun rawat menawi kita ngraosaken gesang kita dipun kendhaleni kahanan, politik, ekonomi, utawi kahanan jaman ingkang mboten mesthi. Kita dados defensif, eksklusif, lan sami curiga. Nanging Yesaya ngendika: “Sejarah mboten wonten ing astanipun kakuwasan. Sejarah wonten ing astanipun Gusti. Menawi Gusti nyepeng sajarah, kita mboten prelu nyepeng sedherek kita kanthi rasa curiga.”

Paulus mboten namung nyapa pasamuwan Tesalonika mawi sebutan, “pasamuwan ing Tesalonika,” nanging “pasamuwan ing salebeting Allah Rama lan Gusti Yesus Kristus.” Ing kitha ingkang jatinipun dipun tamtokaken dening kakaisaran, ekonomi, lan budaya, pasamuwan punika nggadhah jati dhiri ingkang benten. Piyambakipun mangertos sinten piyambakipun. Amargi mangertos sinten piyambakipun, pasamuwan Tesalonika saged gesang kanthi cara inkang benten: nilar brahala, gesang ing kabingahan, lan dados tuladha. Pasulayan asring kadadosan mboten awit prabedan, nanging amargi kita klentu anggenipun netepaken jati dhiri. Kita langkung ngraos dados perangan saking golongan, aliran, tradisi, utawi organisasi, tinimbang dados umat “ing salebeting Allah.” Nalika jati dhiri utama kita punika Gusti Allah, kita langkung gampil ningali liyan dados sedherek, mboten dados saingan utawi ancaman. Paseduluran sejati medal saking jati dhiri ingkang sami ing salebeting GustiAllah.

Ing waosan Injil dinten punika, Gusti Yesus ngandika: “Wangsulna dhateng Kaisar punapa ingkang kagunganipun Kaisar, lan dhateng Allah punapa ingkang kagunganipun Allah.” Arta koin ingkang gadhah gambar Kaisar wangsul dhateng Kaisar. Manungsa ingkang kagungan gambar Allah wangsul dhateng Gusti Allah. Gusti Yesus ngandharaken bab kagunganing gesang. Paseduluran dados risak nalika manungsa ngraosaken gesangipun kagunganipun piyambak. Nalika ego, kapentingan, gengsi, lan kakuwasan dados pusat. Nanging nalika manungsa sadar: kula punika kagunganipun Allah, mila cara kita ningali sesami kita badhe owah. Kita mboten malih ningali tiyang sanes dados mengsah, nanging dados sesami kagunganipun Allah. Menawi kula kagunganipun Allah, lan sedherek kula ugi kagunganipun Allah, mila kita punika sedherek, mboten awit pilihan, nanging awit kagungan Allah ingkang sami.

Saking tigang waosan punika, kita sinau bilih paseduluran sejati namung saged dipun rawat menawi kita pitados bilih Gusti nyepeng sejarah, mila kita mboten gesang kanthi ajrih. Kita sadar jati dhiri kita ing salebeting Gusti Allah, mila kita mboten gesang ing sekat-sekat. Kita wangsulaken gesang dhumateng Gusti Allah, mila kita mboten gesang ing ego kita. Ekumene punika  mboten namung prekawis program kerjasama pasamuwan. Ekumene punika kasadaran rohani menawi kita sadaya wangsul dhumateng Gusti Allah ingkang sami. Awit nalika kita wangsul dhumateng Gusti Allah, kita wangsul dados sedherek.

Panutup
Pengetan wulan Ekumene rampung dinten punika. Nanging timbalan kangge ngreksa paseduluran mboten nate rampung. Salami kita taksih gesang kados-kados sejarah wonten ing astanipun donya, jati dhiri wonten ing astanipun golongan, lan gesang wonten ing astanipun piyambak, paseduluran badhe rapuh. Nanging nalika kita wangsul dhumateng Gusti Allah ingkang nyepeng sejarah, netepaken jati dhiri, lan kagungan gesang kita, paseduluran mboten prelu dipun peksa. Paseduluran badhe tuwuh kanthi piyambakipun. Awit tiyang-tiyang ingkang sami-sami wangsul dhumateng Gusti Allah, badhe manggih satunggal lan satunggalipun dados sedherek. Sugeng ngreksa paseduluran bebarengan. Gusti mberkahi kita. Amin. [dvd]

 

Pamuji: KPJ. 372  Aku Sasedulur

Renungan Harian

Renungan Harian Anak