Mewartakan Shalom Dengan Rendah Hati Khotbah Minggu 25 Maret 2018

Minggu Palmarum
Stola Merah

Bacaan 1: Yesaya 50:4-9
Bacaan 2: Filipi 2 :5-11
Bacaan 3: Markus 11:1-11

Tema Liturgis: Mengosongkan Diri dalam Ketaatan Kepada Kehendak Tuhan
Tema Khotbah: Mewartakan shalom dengan rendah hati

 

KETERANGAN BACAAN
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Yesaya 50:4-9
Pada teks ini mempresentasikan ketaatan hamba Tuhan, ketaatannya terbentuk karena TUHAN memberikan lidah seorang murid, (atay 4,5).  ketaatannya tercermin pada sikap yang tidak memberontak, bahkan menerima pukulanpun (penganiayaan) tidak dihiraukannya. Yang menjadikannya taat dan setia, karena hamba itu menyakini bahwa Tuhan  yang memberikan pertolongan, karena itulah  hamba itu meneguhkan hatinya, dan siap beperkara dengan siapapun. (ayat 7-9))

Filipi 2:5-11

Jemaat di Filipi adalah jemaat pertama yang didirikan Paulus di Eropa. Filipi terletak di Makedonia,

Ajaran yang disampaikan rasul Paulus kepada jemaat Filipi bertujuan supaya orang Kristen mengerti pentingnya pemeliharaan terhadap persekutuan dan kesatuan dengan Kristus sebagai Tuhan dan Raja, Paulus menitikberatkan bagaimana Yesus meninggalkan kemuliaan yang tiada taranya di sorga dan mengambil kedudukan yang hina sebagai hamba, serta taat sampai mati untuk kepentingan orang lain (ayat Fili 2:5-8). Kerendahan hati dan pikiran Kristus harus terdapat dalam para pengikut-Nya, yang terpanggil untuk hidup berkorban dan tanpa mementingkan diri, mempedulikan orang lain dan berbuat baik kepada mereka.Untuk menunjang permintaannya agar orang tidak mementingkan diri sendiri dan hidup dengan kerelaan untuk berkorban, ia mengutip sebuah kidung gereja mula-mula yang dengan jitu melukiskan tindakan merendahkan diri Kristus ketika Ia berinkarnasi dan mati.

Markus 11:1-11

Yesus masuk ke Yerusalem

Letak Betfage agaknya sulit ditentukan, tetapi tampaknya menunjuk ke sebuah tempat di bagian lereng di sebelah timur. Karena perjalanan ke Yerusalem makan waktu lebih daripada perjalanan satu hari Sabat, maka diperkirakan bahwa Kristus berada di Betania sepanjang hari Sabtu dan bahwa peristiwa “masuk Yerusalem dengan dielu-elukan” terjadi pada hari Minggu.

Sebelum masuk Yerusalem Yesus memerintahkan murid-murid-Nya untuk kekampung-kampung mencari keledai yang tertambat di suatu tempat, yang pada akhirnya murid-murid itu menemukannya, dan anehnhnya, ketika keledai itu dimintanya yang punya dengan relahati memberikannya, karena diperlukan oleh Yesus. Ada dugaan yang mempunyai keledai itu mengenal Yesus, demikian juga jengan Yesus, sehingga yang mempunyai keledaiu itu merelakannya, lepas dari tu semua keledai itu akhirnya menjadi tunggangan Yesus, yang ketika memasuki Yerusalem, disambut dengan meriah. Orang banyak mengikutinya, dan merekapun terus berseru Hosana.  Istilah ini merupakan peralihan dari ungkapan Ibrani yang berarti Berilah kiranya keselamatan, yang diambil dari Mazmur 118:25. Ungkapan ini telah menjadi ucapan syukur dan seruan kemenangan maupun seruan meminta tolong. Diberkatilah Dia yang datang … merupakan kutipan yang persis dari Mazmur 118:26.Keledai tunggangan adalah binatang yang “penurut/taat pada tuannya. Jika Yesus menunggang keledai, ini sebagai simbul/cermin ketaatan-Nya, pada Bapa.

BENANG MERAH TIGA BACAAN

Ketaatan dan kerendah-hatian adalah sikap yang menantang komitmen kehidupan orang beriman, dan spirit ketaatan dan kerendah-hatian tersebut terus digelorakan oleh nabi Yesaya, Rasul Paulus, dan Yesus Kristus telah memberikan teladan bagi kita.

 

RANCANGAN KHOTBAH: Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan; bisa dikembangkan sesuai konteks jemaat)

Pendahuluan

Hidup dalam ketaatan dan patuh akan kehendak Tuhan bukanlah hal yang mudah, sering kali hidup dalam ketaatan menjadi bahan pergunjingan  orang-orang di sekitar kita sehingga hidup menjadi tidak nyaman. Ketaatan pada Tuhan akan tetap menjadi pergumulan orang-orang beriman, memang ketaatan merupakan sikap hidup yang mempercayakan diri secara total kepada Tuhan, sehingga memerlukan keteguhan hati untuk hidup dalam ketaatan, kalau tidak akan goyah ditelan jaman.

Isi

Secara umum manusia mengharapkan hidup enak, tanpa menyadari bahwa untuk hidup enak harus dicapai dengan kerja keras, keuletan, tahan uji dan lain sebagainya, tanpa mengalami itu semua mustahil untuk dapat meraih kesenangan. Ada pepatah mengatakan “berakit-rakit dahulu, berenang-renang kemudian” bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Kalau hal ini yang kita alami kita mungkin akan mengatakan wajar orang itu sukses, karena mereka kerja keras dan ulet, sekarang menuai hasilnya. Pada jaman ini orang cenderung mau serba enak tetapi banyak yang ditempuh dengan jalan pintas, dan berusaha menghindari cara-cara yang ekstra perjuangan, dan orang percaya perlu berjuang walau kadang mengalami penderitaan.

Yesaya dalam tanggung jawabnya sebagai hamba Tuhan telah berjuang dengan ketaatannya yang sungguh-sungguh, sampai rela menyerahkan punggungnya kepada orang-orang yang memukulnya, rela mengalami penderitaan, kepahitan hidup karena kesetiaanya kepada Tuhan, dan yang membuat ia bertahan dan teguh pendiriannya adalah keteguhan dan keyakinannya bahwa Tuhan tidak tinggal diam dalam penderitaan, Ia berkenan menolong.

Kesetiaan Tuhan Yesus dibuktikan dengan kesediaan dirinya sampai mati di kayu salib, yang dihayati oleh rasul Paulus sebagai tindakan yang perlu diteladani oleh para pengikutnya, dengan mewujudkan kesetiaannya untuk menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat dalam Dia, serta supaya kehidupan jemaat tidak terlepas relasinya dengan Yesus yang telah merendahkan diri, meninggalkan kemuliaan-Nya, menjadi manusia papa.

Cermin ketaatan dan kerendah hatian Tuhan Yesus, dilakukan ketika Ia memasuki kota Yerusalem dengan menunggang keledai, binatang yang setia. tulus, dan rendah hati.  Ia sebagai raja tidak menunggang kereta kencana, dengan kuda-kuda yang gagah yang siap menghantar pada medan laga untuk berperang, itu semua tidak Ia lakukan karena Ia membawa pesan perdamaian, bukan permusuhan.

Penutup

Bagaimana dengan kita sebagai gereja Tuhan? Bukankah gereja gkjw sebagai Gereja Tuhan dipanggil untuk mewartakan syaloom! Tentu saja gereja, kita-kita ini wajib untuk hidup dalam ketaatan, dan kerendahan hati agar shaloom Tuhan Yesus menjadi nyata. Tuhan memberkati.

Nyanyian:  KJ: 426:1,2 ;KPJ. 196:1-2

 

RANCANGAN KHOTBAH: Basa Jawi

Pembuka

Setya lan tuhu dhumateng kersanipun Gusti, perkawis ingkang mboten gampil kita lampahi, asring kasetyan kita dhumateng Gusti dados bahan rerasanan piyantun ing sakiwa tengen kita, mila gesang kita asring mboten nyaman. Kasetyan kita dhateng Gusti Yesus tetep dados sesanggening gesang (pergumulan) pasamuwan (tiyang pitados dhateng Gusti), pancen kasetyan menika wujudipun sikap gesang ingkang mitadosaken gesang kanthi gumolonging manah dhumateng Gusti, mila mbetahaken kasantosaning, lan kesanggeman ingkang saestu kangge gesang kanthi setya tuhu, menawi mboten kiyat saged kauntal dening wolak-walik ing jaman.

Isi

Umumipun tiyang menika nggadhahi pangajeng-ajeng gesangipun sarwi sekeco, mboten nyadhari bilih, kangge mujudaken gesang ingkang sarwa sekeco menika kedah dipun gajuh kanthi makarya ingkang tumemen (kerja keras), ulet, tahaan uji, lan sanesipun, tanpa sadayanipun wau mokal saged nggayuh gesang ingkang sarwa sekeco. Wonten paribasan:” “berakit-rakit kehulu, berenang-renang kemudian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian.“ Tegesipun menawi kepinggin nggayuh cita-cita, kedah dipun lampahi kanthi sumedya sangsara rumiyin. Menawi bab-bab menika dipun ugemi lan dipun lampahi, kita saged atur pangandika “ pancen wajar wong kae berhasil, krana wonge prigel, taberi lan ulet, yo pantes saiki nampa pituwase.

Ing jaman samangke, pikajengananipun sarwa kepingin mulya, gesang kanthi kepenak, nanging kathah ingkang dipun lampahi kanthi “jalan pintas”, lan menawi wonten cara ingkang radi angel, lan mbetahaken perjuangan, ngupaya dipun hindari. Nanging tiyang pitados kedah anggadhahi daya juang sanadyan kadhang-kadhang radi rekaos lan ngalami kasangsaran.

Nabi Yesaya ing salebeting tanggel jawab ipun minangka abdinipun Gusti berjuang kanthi setya tuhu, ngantos lila masrahaken gegeripun dipun gebugi tiyang, lila ngalami kasangsaran, lan pait-getiripun gesang krana kasetyanipun dhumateng Gusti, lan ingkang ndadosaken Yesaya tahan, lan kiyat nggih menika tekad lan keyakinanipun bilih Gusti Allah mboten mendel, pirsa kasangsaran ingkang dipun alami Yesaya, lan salajengipun maringi pitulungan (Yesaya 50:6-7).

Kasetyanipun Gusti Yesus, dhateng Ramani-Pun, kabuktekaken kanthi kesanggeman ipun, ngantos seda sinalib, bab menika dipun raos-raosaken  dening rasul Paulus minangka patuladhan ingkang perlu dipun tuladhani dening para pandherekipun, kanthi mujudaken kasetyanipun kanthi anggadhahi pangangen-angen lan pangrasa wonten ing Sang Kristus, supados gesangipun pasamuwan, sesambetanipun mboten uwal sesambetanipun kalian Gusti Yesus ingkang sampun ngasoraken sarira, nilar kamulyan-niPun, dados manungsa papa. (Filipi 2:5-8).

Patuladhan kasetyan lan andhap asoripun Gusti Yesus, ugi dipun tedahaken nalika lumebet dhateng kitha Yerusalem, kanthi nitih kuldhi, kewan ingkang setya, tulus lan anhap asor. Panjenengan iPun minangka Ratu ning Gesang mboten nitih kreta kencana, kanthi kapal ingkang gagah prakasa lan siap dhateng palagan perang, sedaya menika mboten dipun tindakaken, karana Gusti Yesus ngasta pawartos bedamen, sanes memengsahan

Penutup

Kados pundi kita, minangka pasamuwanipun Gusti? Gereja GKJW minangka pasamuwanipun Gusti dipun timbali supados martosaken syaloom! Tamtunipun pasamuwan, nggih kita-kita warganipun pasamuwan wajib gesang kanthi setya tuhu, lan andhap asor supados syaloom saking Gusti Yesus saged nyata. Gusti mberkahi.

Pamuji: KPJ: 196 1-3)


Gambar: By Giotto di Bondone, Public Domain, https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=2941674

 

Bagikan Entri Ini: