Khotbah Minggu 25 Juni 2017

Penutupan Bulan Kesaksian – Pelayanan & Pekan Anak
STOLA  PUTIH

 

Bacaan 1         : Yeremia 20:7-13
Bacaan 2         : Roma 6:1-11
Bacaan 3         : Matius 10:24-39

Tema Liturgis  : “Menjadi Anak yang Pemberani”

 

Keterangan Bacaan

Yeremia 20:7-13

Yeremia menyadari bahwa panggilan Tuhan atas dirinya tidak bisa ditolak. Ia telah berusaha menolak panggilan Tuhan, tetapi Tuhan selalu mendatanginya dan akhirnya ia tidak kuasa menolak panggilan Tuhan (ayat7-10). Tuhan punya rencana yang hendak disampaikan kepada umatNya melalui dirinya. Tetapi ia juga menyadari bahwa menjadi utusanNya tidak mudah, sebab bangsa Israel adalah bangsa yang bebal. Hukuman yang diberikan Tuhan dengan menyerahkan mereka kepada bangsa lain, tidak membuat bangsa Israel bertobat. Berulang-ulang bangsa Israel tidak setia kepada Tuhan, tetapi berulang-ulang Tuhan membebaskan mereka dari cengkeraman bangsa lain ketika bangsa Israel memohon pengampunan.

Kedegilan bangsa Israel untuk menaati  firman Tuhan, sering membuat Yeremia putus asa. Keputus-asaan itu terjadi karena tugasnya yang berat membimbing bangsa yang bebal itu kembali kepada Tuhan. Bahkan orang-orang terdekatnyapun seringkali tidak memberi dukungan (ayat 10).

Yang membuat Yeremia selalu bangkit dari keputus-asaannya adalah ia menyadari bahwa Tuhan selalui menyertainya dalam keadaan apapun juga (ayat 11). Tuhan akan menopangnya ketika ia mulai putus asa karena bangsa yang bebal itu tidak mau kembali kepada Tuhan.

 

Roma 6:1-11

Tidak dapat dipungkiri bahwa manusia telah berdosa. Dosa telah menguasai hidup manusia sehingga manusia tidak bisa keluar dari jeratnya. Tetapi dengan kematianNya, Yesus mengurai jerat dosa yang mengikat manusia dan dengan kebangkitanNya, Yesus memindahkan manusia dari lingkaran dosa menuju hidup bersama Allah (ayat 8). Dengan demikian, pengorbanan Yesus telah memindahkan manusia dari gelap menuju terang. Dengan pengorbananNya,  Yesus telah memutus rantai dosa. Dengan pengorbananNya, manusia tidak lagi menjadi hamba dosa.

Dengan pengampuan dari Allah, manusia tidak lagi dibayang-bayangi kuasa maut. Rasa takut manusia akan jerat maut telah digantikan sebuah optimisme hidup bersama dengan Allah. Itu berarti bahwa manusia diberi peluang untuk hidup bersama dengan Allah. Oleh sebab itu,  manusia harus berjuang dengan keras agar kesempatan hidup  dengan Allah jangan sampai terlepas. Ini sebuah hadiah yang luar biasa bagi manusia, sebab Allah yang Mahakudus mengijinkan diriNya didekati oleh manusia yang penuh dengan dosa.

 

Matius 10:24-39

Bacaan ini merupakan rangkaian wejangan Yesus kepada para muridNya yang akan diutus menyampaikan kabar kepada semua orang bahwa Kerajaan Sorga sudah dekat (ayat 7). Agar para murid mengetahui medan pelayanan mereka, Yesus menunjukkan situasi dan kondisi “ladang” pelayanan mereka. Yesus mengandaikan “ladang” pelayanan mereka seperti “domba ke tengah-tengah serigala”. Maksudnya Yesus mengutus mereka ke tempat yang penuh dengan ancaman, yaitu ancaman yang dapat membunuh tubuh (ayat 28).

Yesus sudah memberi kuasa kepada para murid untuk mengusir roh-roh  jahat dan untuk melenyapkan segala penyakit dan segala kelemahan (ayat 1). Maka tidak ada lagi alasan bagi para murid untuk takut. Tuhan pasti memelihara mereka seperti Tuhan memelihara burung pipit. Pemeliharaan Tuhan pasti karena manusia lebih berharga dari burung pipit (ayat 31).

 

BENANG MERAH TIGA BACAAN

Seperti Yeremia, semua para pengikut Kristus dipanggil untuk menjadi alatNya menyatakan bahwa Kerajaan Sorga sudah dekat. Sebagai alatNya, para pengikutNya tidak boleh merasa takut sebab Ia akan menyertai umatNya seperti Ia menyertai Yeremia.

RANCANGAN KHOTBAH: Bahasa Indonesia

 Pendahuluan

Bruce Wayne adalah tokoh utama dalam film Batman. Sebelum ia menjadi seorang tokoh pembela kebenaran dengan memakai topeng untuk menyelamatkan kota Gotham yang dikuasai oleh penjahat dan koruptor, ia harus berjuang melawan rasa takutnya. Ada dua hal ketakutan yang menghantui dirinya. Pertama, ia takut pada kelelawar. Ketika ia masih kecil, ia pernah jatuh di sebuah sumur kosong yang ditinggali oleh beribu-ribu kelelawar dan kelelawar itu mengerubutinya. Di tengah rasa takutnya, datanglah sang ayah yang menolong dia. Tetapi pengalaman itu membawa trauma yang dalam baginya.

Kedua, tidak beberapa lama dari kejadian di atas ia harus kehilangan orang tuanya di depan matanya karena dibunuh oleh perampok. Ia menyalahkan dirinya karena mengajak keluar dari gedung pertunjukan opera gara-gara selama melihat pertunjukan tiba-tiba ia teringat kumpulan kelelawar yang mengerubutinya sehingga membuat dadanya sesak dan ia ingin keluar dari gedung pertunjukan. Ia menyalahkan diri sendiri seandainya tidak mengajak keluar orang tuanya, tentu mereka tidak mati. Bertahun-tahun ia hidup dengan rasa takutnya itu dan ia tidak tahu bagaimana mengatasi rasa takutnya sampai ia berjumpa dengan seseorang yang mampu menuntunnya menghadapi rasa takutnya dan menunjukkan cara mengatasi rasa takutnya. Dengan sekuat tenaga, akhirnya ia mampu berdamai dengan rasa takutnya dan ia dapat mengatasi rasa takutnya. Setelah ia mampu mengatasi rasa takutnya, maka tampillah ia sebagai orang yang berani membela orang yang lemah dengan berpakaian Batman, seperti binatang yang ditakutinya. Sungguh hebat kuasa ‘takut’ jika menghinggapi seseorang, sebab talenta yang dimiliki orang tersebut akan terkubur dalam-dalam dan ia tidak bisa menjadi orang yang berguna bagi sekelilingnya.

Rasa takut yang dirasakan oleh Bruce Wayne karena pengalaman jatuh ke sumur kosong dan rasa bersalah karena merasa menjadi penyebab kematian orang tua sehingga dia melarikan diri dari tanggungjawab menjalankan perusahaan yang ditinggalkan oleh orang tuanya, juga menghinggapi manusia modern. Manusia masa kini hidup dalam ketakutan. Ketakutan manusia itu adalah takut “tidak mendapat bagian” karena dunia hidup dalam persaingan yang sangat ketat. Siapa menang, dialah yang akan menguasai dunia. Sebaliknya, siapa yang kalah maka dia akan disingkirkan oleh dunia. Persaingan ini membuat orang menghalalkan segala cara agar dapat diterima oleh dunia. Orang sudah tidak peduli lagi siapa kawan, siapa lawan. Pokoknya siapa yang menguntungkan dirinya, dialah kawan dan siapa yang merugikan dirinya, dialah lawan. Persaingan ini terjadi di mana-mana tempat. Di sekolah, di tempat kerja, bahkan di gerejapun persaingan tumbuh subur. Hubungan antar sesama tidak lagi dilandasi cinta kasih, tetapi dilandasi oleh untung rugi.

 

Isi

Ya, manusia modern kalah bersaing. Ya, kalah bersaing, para orang tua pada masa kini. Berbeda dengan Bruce Wayne, rasa takut orang tua pada masa kini adalah ketika ia mendidik anak-anak mereka. Ketakutan para orang tua ini didorong oleh perkembangan dunia yang sangat cepat yang ditandai dengan perkembangan informasi yang semakin cepat dan canggih. Perkembangan dunia yang sangat cepat ini melahirkan persaingan yang sangat ketat. Siapa yang dapat memenangkan persaingan, maka ia akan diterima oleh dunia. Sebaliknya, siapa yang kalah bersaing, maka dia harus siap-siap disingkirkan atau dikucilkan dari dunia. Persaingan yang sangat ketat ini membuat orang menghalalkan segala cara agar dapat diterima oleh dunia.

Aroma persaingan yang memenuhi seantero jagad berdampak pada cara orang tua mendidik anak-anak mereka. Tanpa mereka sadari, para orang tua mendoktrin anak-anak mereka untuk memenangkan persaingan dengan mendorong anak-anak mereka harus berprestasi secara akademis. Mereka beranggapan bahwa prestasi akan menjadi jaminan bagi anak-anak mereka untuk memenangkan dunia yang dipenuhi aroma persaingan. Untuk itu, orang tua akan melakukan apa saja demi posisi puncak tersebut, seperti mencarikan tempat pendidikan yang terbaik,  tempat kursus terbaik untuk pelajaran tambahan. Banyak anak-anak masa kini yang tidak punya cukup waktu untuk beristihat dan memanfaatkan waktu luang, bergaul dengan anak yang sebaya, bermain, berekreasi sesuai dengan minat, bakat, dan tingkat kecerdasannya demi pengembangan diri karena terlalu disibukkan untuk mencapai posisi teratas. Padahal prestasi akademis bukanlah jaminan bagi anak akan sukses di masa depan. Tetapi orang tua tidak mau tahu. Anak-anak sejak dini dipaksa harus mampu bersaing dengan orang lain dalam segala hal.

Persaingan yang ketat membuat orang tua terlalu menekankan pada pendidikan intelektual, sehingga lalai pada pendidikan perkembangan mental dan spiritual. Karena itu, anak-anak sekarang menjadi anak-anak yang pandai secara intelektual/ akademis, tetapi gagap untuk mengucapkan terima kasih, miskin menghargai pendapat orang lain, buta terhadap penderitaan orang lain dan enggan  menolong sesama yang membutuhkan. Dan lebih parah lagi, anak-anak sekarang tumbuh menjadi anak yang tidak berani mengambil keputusan bagi dirinya sendiri. Hal ini disebabkan karena anak menjadi bergantung pada orang tuanya karena orang tua terlalu ikut campur dalam menentukan langkah hidup mereka. Anak menjadi tidak siap menjalani hidupnya karena tidak punya daya juang menghadapi berbagai macam tantangan dan rintangan. Inilah dampak yang paling terlihat dari perkembangan dunia yang makin cepat melahirkan persaingan yang ketat, “siapa yang kuat, dialah yang menang”.

Menyikapi anak-anak pada masa kini yang tidak mempunyai keberanian untuk menentukan sikap bagi hidup mereka menjadi PR bersama, yaitu orang tua dan gereja. Memang betul bahwa anak adalah tanggung jawab orang tua, tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa anak juga menjadi bagian dari gereja, maka gereja harus terlibat dalam menyiapkan anak-anak agar mempunyai keberanian dalam bertindak. Mengapa Gereja harus terlibat dalam menyiapkan anak-anak agar mempunyai keberanian dalam bertindak? Sebab anak adalah generasi penerus Gereja. Di tangan anak-anaklah masa depan gereja. Jika Gereja tidak mau tahu terhadap pertumbuhan anak-anak, maka jangan harap gereja mempunyai generasi yang siap menerima tongkat estafet untuk menjadi alat Tuhan dalam mengemban tugas memberitakan kabar baik kepada semua orang di masa datang.

Banyak contoh tentang sikap gereja yang tidak berpihak pada anak-anak. Misalnya, sedikitnya dana untuk kegiatan anak-anak, tidak adanya ruang khusus untuk ibadah Anak dan Remaja, tidak ada pendampingan pastoral untuk anak-anak yang berduka dan bermasalah, kurangnya melibatkan anak-anak dalam kegiatan gerejawi karena anak-anak dianggap sumber keributan, dan ketidak-pedulian Gereja terhadap makin merosotnya jumlah kehadiran anak dalam segala kegiatan anak di gereja.

Dalam bacaan kita saat ini, kita melihat bahwa Tuhan menginginkan utusanNya (Yeremia dan kedua belas murid Yesus) memiliki sikap berani, sebab dunia yang mereka hadapi adalah dunia yang sangat “kejam”. Yeremia menggambarkan “kejam”nya dunia dengan “kegentaran datang dari segala penjuru!…Semua orang sahabat karibku mengintai apakah aku tersandung jatuh…” (Yeremia 20:10). Sedangkan Yesus menggambarkan  “kejam”nya dunia dengan “Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala” (Matius 10:16). Mengapa Tuhan menginginkan para utusanNya memiliki sikap berani? Jawabannya jelas: karena Tuhan mengasihi umatNya. Tuhan pasti akan melakukan apapun demi menyelamatkan manusia yang berdosa. Dan itu dibuktikanNya dengan mengutus AnakNya yang tunggal datang ke dunia. Yesus, yang adalah Allah sendiri, rela menderita, disalibkan dan mati demi menebus dosa manusia. Oleh sebab itu, Allah tidak akan membiarkan Yeremia putus asa. Jika Yeremia putus asa maka bangsa Israel tidak akan menyadari kesalahannya yang mulai berbalik dari Tuhan. Bangsa Israel akan terbawa arus dosa, jika dibiarkan akan menuju kepada kebinasaan. Demikian juga Tuhan tidak akan membiarkan para murid Yesus putus asa. Jika para murid parah arang, maka rahmat Allah melalui penebusan dosa Yesus di kayu salib akan menjadi sia-sia.

 

Penutup

Perlu kita sadari bersama bahwa anak-anak juga mendapat mandat dari Allah untuk memberitakan kabar baik kepada semua orang. Oleh sebab itu, menjadi tugas orang tua dan gereja untuk menyiapkan dan membekali mereka menjadi alat Tuhan. Apalagi dunia penuh dengan persaingan yang ketat, siapa yang kuat, dialah yang berkuasa. Oleh sebab itu, anak-anak perlu dilatih memiliki mental yang kuat dan tangguh sehingga tidak mudah putus asa.

Adapun cara yang bisa dilakukan oleh orang tua adalah:

  • menuntun anak-anak mereka agar berani mengambil keputusan bagi hidupnya, seperti anak diberi kebebasan memilih sekolah yang sesuai dengan minatnya,
  • melatih anak berani mengutarakan pendapat kepada orang tua,
  • memberikan waktu yang cukup kepada anak untuk bersosialisasi dengan teman-temannya,
  • mendorong anak-anak untuk aktif di kegiatan sosial seperti Pramuka,
  • membentuk kelompok-kelompok peduli sampah, peduli kenakalan remaja, ikut PMR dan terlibat di organisasi sekolah seperti OSIS.

Ada banyak hal yang bisa dilakukan oleh Gereja untuk anak-anak, di antaranya adalah:

  • memberi kesempatan kepada anak-anak untuk terlibat dalam Ibadah baik Ibadah di KRW, Wilayah maupun Ibadah Dewasa,
  • mengadakan pelatihan agar berani tampil di depan umum,
  • memberikan wadah untuk anak-anak bisa mengekspresikan diri melalui bidang olahraga, teater, bermain musik, bernyanyi, menari dan ketrampilan lainnya,
  • membentuk kelompok-kelompok kecil anak peduli anak yang tujuannya memotivasi anak-anak agar rajin beribadah dan melakukan kegiatan bersama di luar kegiatan gereja.
  • mengadakan pembinaan secara rutin dan berkesinambungan tentang bagaimana menjadi orang tua. Pesertanya bisa para calon orang tua, calon manten dan keluarga-keluarga muda. Hal ini sangat penting karena memang tidak ada sekolah khusus bagaimana menjadi orang tua. Tujuan dari pembinaan ini adalah mengajak para calon orang tua, calon manten dan keluarga-keluarga muda untuk melihat dan menghadapi dengan bijak dalam mendidik anak-anak di jaman yang penuh dengan persaingan yang ketat ini. Jika orang tua punya bekal bagaimana mendidik anak pada jaman yang penuh persaingan ini maka diharapkan akan tumbuh anak-anak yang mempunyai keberanian dan daya juang dalam menghadapi hidup dengan bijak dan takut akan Tuhan.

Dan akhirnya kemuliaan bagi Allah akan berkumandang seantero jagad. Amin. [Selvi]

 

Nyanyian: KJ 431

 —

RANCANGAN KHOTBAH: Basa Jawi

Pambuka

Bruce Wayne (kawaos: brus wein) bintangipun film Batman. Saderengipun dados bintang film ingkang mbela kayekten mawi topeng kangge nylametaken kitha Gotham ingkang dipun reh dening penjahat lan koruptor, piyambakipun kedah berjuang nglawan raos ajrihipun piyambak. Wonten kalih raos ajrih ingkang dipun alami. Sepisan, piyambakipun ajrih dhateng kalong. Nalika taksih alit, piyambakipun nate kecemplung sumur asat ingkang kebak kalong, lan kalong-kalong menika ngrubung piyambakipun. Lajeng bapakipun dugi mitulungi piyambakipun. Nanging lelampahan menika ndamel piyambakipun ngalami trauma.

Kalih, boten dangu saking lelampahan menika Bruce Wayne kecalan tiyang sepuhipun ingkang tiwas dipun rampok. Piyambakipun nyalahaken dhiri pribadinipun piyambak tumrap bilai menika. Jalaran, nalika ningali pagelaran opera piyambakipun rumaos kewedèn amargi kengetan dhateng maewu-ewu kalong ingkang ngrubung piyambakipun. Karana rumaos sesak ing raos, lajeng ngajak tiyang sepuhipun medal saking gedhung pagelaran. Sareng medal, tiyang sepuhipun tiwas dipun rampok begal. Mataun-taun Bruce Wayne kabidhung ing raos ajrih. Nanging wusana piyambakipun pinanggih kaliyan tiyang ingkang saged mitulungi piyambakipun uwal saking raos ajrih menika. Sareng sampun saged ngatasi raos ajrihipun, piyambakipun saged dados tiyang ingkang mbela tiyang sekeng srana nyandhang ageman Batman, kados kewan ingkang dipun ajrihi. Mekaten kekiyataning raos ajrih ndamel tiyang boten saged tumindak menapa-menapa.

Raos ajrih menika ndamel Bruce Wayne mlajeng saking tanggel jawab nglampahaken perusahaan warisaning tiyang sepuhipun. Manungsa jaman modern ugi ngalami raos ajrih kados mekaten. Raos ajrihipun nggih menika ajrih boten keduman, karana donya menika gesang ing persaingan ingkang sengit. Sinten ingkang menang, menika ingkang ngereh donya. Swalikipun, sinten ingkang kawon badhe kasingkiraken dening donya. Persaingan menika ndamel tiyang menghalalkan segala cara supados saged dipun tampi dening donya. Tiyang sampun boten perduli malih “sapa kanca sapa mungsuh”. Pokokipun, sinten ingkang nguntungaken dhirinipun, menika kanca lan sinten ingkang mitunani (merugikan), menika mungsuh. Persaiangan menika dumados ing sadhengah papan, ing sekolahan, ing papan nyambut damel, malah ing greja ugi tuwuh. Sesambetan ing antawisipun sesami boten kadhasaran katresnan, nanging kadhasaran untung rugi.

 

Isi

Manungsa modern kawon bersaing, ugi para tiyang sepuh. Benten kaliyan Bruce Wayne, raos ajrihipun tiyang sepuh nggih menika anggenipun nggulawenthah anak-anak. Raos ajrihipun tiyang sepuh menika kasurung dening owah-owahaning jagad ingkang rikat sanget dening kemajenganing informasi (wewartosan). Awit saking menika jagad kebak persaingan. Sinten ingkang mimpang salebeting persaingan menika, piyambakipun katampi dening donya. Dene ingkang kawon bersaing, piyambakipun kedah cecawis kasingkiraken saking donya. Persaingan ingkang ageng sanget menika njalari tiyang menghalalkan segala cara supados saged katampi dening donya.

Gandaning persaingan ingkang ngebaki jagad menika ngrasuk ing caranipun tiyang sepuh anggenipun nggulawenthah anak-anak. Tanpa dipun sadhari, tiyang sepuh nuntut anak-anak kedah menang saking persaingan srana nggadhahi prestasi akademis (biji) ing sekolahipun. Ingkang menika, tiyang sepuh nindakaken menapa kemawon kangge posisi (papan) inggil menika, kados madosaken papan pasinaon ing sae piyambak, kursus-kursus ingkang awis kangge pelajaran tambahan. Temahanipun, kathah anak-anak ingkang boten nggadhahi wegdal cekap kangge ngaso lan ngginakaken waktu longgar kangge srawung kaliyan tanggi tepalih, kangge dolanan, kagem rekreasi ingkang cundhuk kaliyan bakat lan karemanipun, karana sibuk sanget nggayuh posisi  inggil piyambak. Kamangka, prestasi akademis menika boten saged dados pepesthen bilih anak badhe sukses ing tembe. Nanging tiyang sepuh boten maelu. Wiwit alit, anak-anak dipun peksa bersaing kaliyan tiyang sanes ing sadhengah prekawis.

Persaingan ageng menika njalari tiyang sepuh namung nengenaken pendidikan intelektual, sami kesupen dhateng pendidikan  kangge tuwuhing watak (mental) lan karohanenipun. Pramila, anak-anak pinter ing pasinaonipun, nanging randhat ing pamatur nuwun, boten ngajeni pemanggihipun tiyang sanes, boten perduli dhateng kasangsaraning tiyang sanes lan boten nggadhahi krenteg mitulungi tiyang sanes ingkang mbetahaken. Anak-anak boten wantun mutusi piyambak menggah menapa ingkang kedah katindakaken. Karana, anak gumantung sanget dhateng tiyang sepuhipun, amargi tiyang sepuhipun tansah ndhikte lampahing gesangipun. Anak boten siaga nglampahi gesangipun karana boten nggadhahi daya juang ngadhepi sedaya pakewet lan reribet. Lah menika temahanipun owah-owahaning jagad ingkang nglairaken persaingan ageng, “sapa kuwat, iku kang bakal menang”.

Menapa ingkang kedah kita tindakaken kangge anak-anak ingkang boten nggadhahi kekendelan namtokaken sikapipun piyambak menika dados PR kita sesarengan, nggih menika para tiyang sepuh lan greja. Pancen yektos bilih anak menika dados tanggel jawabipun tiyang sepuh, nanging cetha bilih anak-anak menika dados gegelitaning greja. Pramila greja kedah ndherek nyawisaken anak-anak supados nggadhahi kekendelan tumindak utami. Karana, anak-anak menika dados generasi penerus greja. Anak-anak ingkang badhe mikul sesanggening greja ing tembe. Menawi greja kirang perduli dhateng tuwuhipun anak-anak, ampun ngajeng-ajeng nggadhahi generasi ingkang cumadhang nampi jejibahan minangka pirantinipun Gusti mawartosaken kabar kabingahan dhateng sedaya tiyang ing tembe.

Kathah conto bab anggenipun greja kirang perduli dhateng anak-anak. Upaminipun, sekedhikipun anggaran dana kangge kegiatan anak-anak, boten wontenipun ruangan mligi kangge Ibadah Anak lan Remaja, boten wontenipun pendampingan pastoral kangge anak-anak ingkang ngalami dhukita lan masalah, anak-anak boten pareng ndherek cawe-cawe (terlibat) ing kegiatan greja karana kaanggep dados sumbering karepotan, lan kirangipun greja perduli dhateng saya mrosotipun cacahing anak-anak ingkang ndherek kegiatan ing greja.

Ing waosan kita dinten menika kita sami nyumerepi bilih Gusti ngersakaken utusanipun (Nabi Yeremia lan para sekabatipun Gusti Yesus) sami nggadhahi kekendelan, awit sedaya sami ngadhepi jagad ingkang “kejem” menika. Nabi Yeremia nggambaraken “kejeming” donya kados “Wong kuwi kandha yèn ing saenggon-enggon bakal ana pagiris! Beciké kita laporaké waé marang para penggedhé! Kanca-kanca kawula piyambak sami ngajeng-ajeng supados kawula manggih bebaya. Bisa uga wong kuwi kena dibujuk, banjur kita cekel, lan kita wales.” (Yeremia. 20: 10). Dene Gusti Yesus nggambaraken “kejeming” donya srana dhawuh: “Padha gatèkna: Kowé padha Dakutus kaya wedhus ana ing antarané asu ajag.” (Matius 10: 16). Kenging menapa Gusti ngersakaken utusanipun nggadhahi watak kendel? Karana Gusti nresnani umatipun. Gusti mesthi nindakaken menapa kemawon kangge milujengaken manungsa dosa. Menika dipun buktekaken dening Gusti Allah srana ngutus Putranipun ontang-anting rawuh ing jagad. Gusti Yesus lila ngalami sangsara sinalib namung kagem nebus dosaning manungsa. Ingkang menika Allah boten badhe negakaken Yeremia mupus lan semplah. Menawi Yeremia mupus, bangsa Israel boten badhe ngrumaosi kalepatanipun anggenipun nilar Gusti. Bangsa Israel badhe keli ing ombaking dosa, yen dipun kendelaken badhe tumuju dhateng karisakan (kebinasaan). Mekaten ugi Gusti Yesus boten badhe negakaken para muridipun ngalami semplah. Menawi para rasul sami semplah, sih rahmatipun Allah lumantar panebusing dosa dening Gusti Yesus badhe muspra.

 

Panutup

Kita prelu enget bilih anak-anak ugi nampi ayahan saking Gusti supados mawartosaken kabar kabingahan dhateng sedaya tiyang. Ingkang menika, tiyang sepuh lan greja nggadhahi jejibahan nyawisaken lan maringi sangu dhateng anak-anak netepi timbalanipun menika. Menapa malih menawi ngengeti bilih donya menika kebak persaingan, “sapa kuwat iku bakal ngereh”. Anak-anak prelu dipun gladhi nggadhahi mental ingkang kiyat lan tanggon, temah boten gampil semplah.

Wondene ingkang saged dipun tindakaken dening tiyang sepuh:

  • nuntun anak-anak supados wantun mutusi katetepaning gesangipun piyambak, upaminipun anak dipun paringi kebebasan milih sekolah ingkang cocok kaliyan minat utawi pekaremanipun,
  • nggladhi anak-anak wantun ngaturaken pemanggihipun dhateng tiyang sepuh,
  • maringi wegdal cekap dhateng anak-anak kangge srawung kaliyan rencang-rencang lan tanggi tepalihipun,
  • ngatag anak-anak sregep ing kegiatan sosial kados Pramuka,
  • ndamel kelompok-kelompok peduli sampah, peduli kenakalan remaja, ndherek PMR lan organisasi sekolah kados OSIS.

Wonten kathah prekawis ingkang saged dipun tindakaken dening greja kangge anak-anak, ing antawisipun:

  • maringi wewengan dhateng anak-anak supados terlibat ing pangibadah Patuwen/ Brayat/ Kelompok lan ugi pangibadah Warga Diwasa,
  • ngawontenaken pelatihan supados wantun tampil di depan umum,
  • paring wahana kangge nglairaken bakatipun anak-anak ing babagan olah raga, drama, musik, nyanyi, nari, lsp,
  • ngawontenaken kelompok-kelompok alit Anak Peduli Anak ingkang tujuanipun ngatag anak-anak sanesipun supados sregep mangibadah lan nindakaken kegiatan-kegiatan greja sanesipun,
  • ngawontenaken pembinaan ingkang ajeg bab kados pundi dados tiyang sepuh. Ingkang dipun aturi: para calon tiyang sepuh, calon manten, lan keluarga-keluarga anem. Bab menika wigatos sanget, karana boten wonten sekolahan mirunggan kados pundi dados tiyang sepuh. Tujuaning pembinaan menika supados para calon tiyang sepuh lan keluarga anem saged mangertos kados pundi nggulawenthah anak-anak ing jaman modern ingkang kebak persaingan Pangajeng-ajengipun, kanthi mekaten anak-anak saged tuwuh nggadhahi kekendelan lan jiwa juang nglampahi pigesangan kanthi wicaksana lan ajrih-asih dhumateng Gusti. Amin. [terj. st]

Pamuji: KPK 192: 1,2,3.

 

Bagikan Entri Ini: