Khotbah Minggu 18 Juni 2017

Bulan Keluarga
Stola Putih

 

Bacaan 1         : Keluaran 19: 1-8
Bacaan 2         : Roma 5: 1-8
Bacaan 3         : Matius 10: 5-15

Tema Liturgis  : Hidup berkeluarga yang menyatakan karya Allah
Tema Kotbah  : Keluarga yang menyatakan karya Allah di tengah masyarakat

 

Keterangan Bacaan

Keluaran 19: 1-8

Pada bulan ketiga setelah orang Israel keluar dari Tanah Mesir, mereka sampai di Gunung Sinai. Musa naik ke atas gunung itu dan Tuhan Allah menampakkan diri kepada Musa. Musa mendapat Firman Tuhan yang mengajak melihat perjalanan masa lalu yang selalu didukung dan dilindungi oleh Tuhan. Dari sana diajak untuk melihat ke masa depan. Jikalau mereka mendengarkan dan melakukan firmanNya mereka akan menjadi harta kesayangan Tuhan Allah: menjadi Kerajaan imam dan bangsa yang kudus, artinya kerajaan para pelayan Tuhan dan bangsa yang disendirikan dari bangsa-bangsa di dunia karena tugas itu. Firman itu disampaikan Musa kepada tua-tua Israel dan mereka menyanggupinya. Oleh karena itu di Sinai inilah Israel menyadari jati dirinya sebagai umat Allah.

 

Roma 5: 1-8

Paulus menjelaskan kepada orang-orang Kristen di Roma bahwa hasil pembenaran Kristus adalah hidup dalam damai sejahtera dengan Allah. Karena itu kita bermegah dalam pengharapan dan akan menerima kemuliaan Allah. Bahkan kita juga akan bermegah dalam kesengsaraan. Karena kesengsaraan akan membawa kepada ketekunan, ketekunan akan membawa kepada tahan uji, tahan uji akan membawa kepada pengharapan dan pengharapan tidak akan mengecewakan. Karena kasih Allah telah dicurahkan ke dalam hati kita oleh Roh Kudus.

 

Matius 10:5-15

Tuhan Yesus mengutus ke 12 muridNya. Ia berpesan: jangan menyimpang ke kiri atau ke kanan, pergi ke domba-domba Israel yang hilang, memberitakan bahwa Kerajaan Sorga telah dekat, menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati, mentahirkan orang kusta, mengusir setan. Jangan membawa emas, bekal, baju 2 helai, kasut dan tongkat, pokoknya hanya tergantung pada Tuhan saja. Tinggallah pada orang yang layak dan setiap masuk rumah orang berilah salam. Jikialau mereka layak menerimanya, salammu itu akan turun keatasnya. Tetapi jikalau mereka tidak menerimamu dan perkataanmu, tinggalkanlah rumah atau kota itu dan kebaskanlah debu di kakimu.

 

BENANG MERAH TIGA BACAAN

Keluarga adalah dasar dan akar dari persekutuan umat Tuhan, harta kesayangan Tuhan, persekutuan para pelayan dan komunitas yang disendirikan oleh Tuhan untuk menikmati damai sejahtera Tuhan dan diutus memberitakan Kerajaan Sorga ke tengah masyarakat.

 

RANCANGAN KOTBAH: Bahasa Indonesia

Pendahuluan

“Selamat Berbahagia mengarungi samodra hidup!” “Selamat menempuh biduk hidup baru!” Demikianlah pada umumnya yang diucapkan orang pada setiap perayaan perkawinan. Orang menggambarkan bahwa perkawinan dan keluarga seperti biduk yang mengarungi samodra dan mencari kebahagiaan untuk dirinya sendiri. Padahal keluarga tidak dapat dipisahkan dengan masyarakat dan jemaat. Bahkan keluarga adalah akar dari jemaat dan masyarakat yang akan menentukan sehat dan rapuhnya jemaat dan masyarakat. Oleh karena itu, adanya keluarga Kristen tidak hanya untuk mencari kebahagiaannya sendiri, melainkan juga kebahagian bersama Jemaat dan masyarakatnya.

 

Isi

Setelah 3 bulan keluar dari Tanah Mesir, bangsa Israel sampai di kaki Gunung Sinai. Musa naik ke gunung itu dan Tuhan menunjukkan karya Tuhan dalam perjalanan yang telah dilalui, dan mengajak memandang ke masa depan. FirmanNya: “Jikalau Musa dan Israel sungguh-sungguh mendengarkan Firman Tuhan dan berpegang pada perjanjianNya, maka Israel akan menjadi harta kesayangan Allah, Kerajaan Imam dan bangsa yang kudus.”  Firman itu disampaikan oleh Musa kepada tua-tua Israel, dan mereka menyanggupinya.

Di Sinailah bangsa Israel menyadari dirinya sebagai umat perjanjian dan bangsa pilihan Allah. Alangkah luar biasanya, bahwa di tengah kekayaan Allah, umat Israel menjadi harta kesayangan Allah, bangsa yang dikuduskan Allah, artinya disendirikan dari bangsa-bangsa lain, persekutuan para pelayan yang hidupnya untuk melayani Allah dan saling melayani antara satu dengan yang lain serta untuk melakukan kehendak Allah di tengah dunia. Tetapi sungguh salah bila semua ini dipahami sebagai keistimewaan (priveledge), kehebatan diri untuk disombongkan. Sebab kekhususan sebagai umat kesayangan Allah tersebut sehubungan dengan tugas mereka. Mereka menjadi persekutuan pelayan, pertama untuk melayani Tuhan, kedua untuk saling melayani, dan ketiga untuk melakukan pelayanan di tengah masyarakat.

Saat ini kita berkumpul di rumah ibadah ini baik secara pribadi maupun keluarga demi keluarga. Marilah kita lihat masa lalu perjalanan kita masing-masing. Betapa hebatnya karya Allah yang telah dilakukan untuk keselamatan kita dan kita diajak memandang ke depan. Dalam Roma 5:1-8 kita telah dibenarkan oleh Yesus Kristus, sehingga kita telah didamaikan dengan Allah. Di dalam iman kepada Tuhan Yesus akan kasih karunia Allah itu pula kita diajak melihat ke depan untuk bermegah dalam pengharapan menerima kemuliaan Allah.

Menurut nasehat Paulus, malahan kita tidak hanya bermegah dalam sukiacita dan kemuliaan saja, melainkan juga bermegah dalam kesengsaraan. Bagaimana mungkin? Ya, kita tahu bahwa dalam pembenaran Kristus itu kesengsaraan menimbulkan ketekunan, ketekunan menimbulkan tahan uji, dan tahan uji menimbulkan pengharapan di dalam kasih karunia Allah dan pengharapan itu tidak akan mengecewakan. Sebab ketika kita masih berdosa dan menjadi seteru Allah, kasih setia Allah telah ditunjukkan begitu hebatnya melalui Yesus Kristus, apalagi sekarang setelah kita di dalam Tuhan Yesus Kristus sendiri.

 

-Menjadi Keluarga yang Missioner-

Tetapi salah jikalau kita memahami bahwa sebagai keluarga kesayangan Allah dan persekutuan para pelayan itu merupakan keistimewaan keistimewaan untuk menyombongkan diri. Karena persekutuan para raja dan para pelayan ini sebenarnya merupakan persekutuan orang-orang yang mengemban tugas pelayanan kepada Tuhan, antar sesama pelayan dan di tengah masyarakat (1 Ptr 2:9).

Keluarga ternyata bukanlah sebuah biduk yang berlayar sendiri meninggalkan pantai dan menantang badai di samodra, melainkan sebuah biduk di antara sekian juta biduk lain yang naik turun dilanda prahara, terombang-ambing dihempas gelombang dan muncul tenggelam dihantam badai. Sebagian tersesat, sebagian tenggelam, sebagian hilang. Mereka bertanya, mereka berseru, mereka menjerit melolong-lolong minta tolong. Mereka ingin berhubungan dengan kita dan menantikan respon kita.

Dalam Matius 10:5-15 Tuhan Yesus berpesan kepada kedua belas muridNya dalam hal ini juga keluarga-keluarga yang telah dibenarkan Allah agar tetap teguh, tidak menyimpang ke kiri atau ke kanan, tetap setia kepada Tuhan serta hanya bergantung kepadaNya saja, bukan kepada harta, manusia, jabatan atau kekuasaan. Memberitakan bahwa Kerajaan Sorga, artinya pemerintahan Allah yang penuh kebenaran, keadilan, kasih  dan rahmat sudah dekat. Sebagai tanda KerajaanNya itu maka para murid dan keluarga- keluarga yang telah dibenarkan dan dikuduskan itu hendaknya mewujudkan ciri-ciri Kerajaan, yaitu kebenaran, keadilan, kasih dan damai sejahtera, menyembuhkan  yang sakit, membangkitkan yang mati, mentahirkan yang najis dan mengusir setan atau kuasa kegelapan, membagi damai sejahtera Tuhan bagi yang sedia menerimanya.

 

Penutup

Keluarga adalah Gereja terkecil. Jikalau Gereja adalah umat kesayangan Allah, persekutuan orang-orang percaya yang telah dikuduskan dan para pelayan untuk saling melayani antara satu dengan lainnya serta saksi damai sejahtera Kristus di tengah dunia, maka keluarga kita juga demikian adanya. Karena itu sungguh berbahagialah bagi setiap keluarga Kristen yang mewujudkan persekutuan untuk saling melayani dan membagi penyembuhan, pentahiran, pembaharuan dan damai sejahtera Kristus. Tidak hanya eksklusif untuk diri sendiri, bahkan juga untuk lingkungannya. Amiin. [BRU]

 

Nyanyian: KJ 447: 1,2,3.

RANCANGAN KOTBAH: Basa Jawi

Pambuka

Limrahipun ing salebeting pahargyan neningkahan, dhumateng temanten sekaliyan para rawuh sami ngucapaken: “Sugeng lumebet ing baitaning gesang enggal”, utawi “Sugeng nglampahi samodra ing baitaning bebrayatan”. Ing ngriki bebrayatan kagambaraken minangka baita ingkang nempah samodraning gesang piyambakan ngupadi karaharjaning piyambak.

Bab punika boten pas, awit brayat punika oyoting pasamuwan miwah bebrayan agung (masyarakat), ingkang boten saged kapisahaken miwah namtokaken sanget sehat tuwin sakitipun pasamuwan lan bebrayan. Mila bebrayatan boten kadosdene baita ingkang lelayaran piyambakan ing tengahing samodra, ananging sesarengan kaliyan kathah sanget baita-baita sanesipun. Wontenipun brayat Kristen boten namung ngupadi karaharjanipun piyambak, ananging ugi karaharjan sesarengan kaliyan pasamuwan tuwin bebrayan.

 

Isi

-Patunggilanipun para pelados lan umat ingkang suci-

Sasampunipun 3 wulan medal saking Tanah Mesir kapimpin dening Nabi Musa Israel dumugi ing Redi Sinai. Nabi Musa katimbalan minggah ing puncaking redi lan nampi pangandikanipun Gusti Allah: “Sira ndhawuhana turune Yakub…: Sira wus padha ndeleng samubarang kang Suntandukake marang wong Mesir lan anggoningSun nggendhong sira ana ing swiwining manuk Garudha…, kang iku saiki manawa sira padha ngestokake dhawuhingSun klayan temen-temen lan sira padha netepi prasetyaningSun, mesthi sira padha dadi kekasihingSun, pinilih saka ing antaraning sakabehe bangsa, awit salumahing bumi iku kagunganingSun. Sira menthi padha dadi Krajan Kaimaman lan bangsa kang suci.”

Inggih wonten ing Sinai Israel nyadhari jati dhirinipun minangka bangsa pilihanipun Allah, umat kekasihipun Allah, karajan kaimaman utawi patunggilanipun para pelados. Ananging saestu lepat, menawi sadaya punika dipun pahami minangka hak istimewanipun Israel, saengga lajeng kumalungkung  kangge  nyombongaken dhiri dhateng bangsa-bangsa sanes. Keistimewaan minangka umat kekasihipun Gusti lan patunggilanipun para imam utawi para pelados boten sanes inggih karana timbalanipun Israel minangka pelados. Kapisan lelados dhumateng Gusti Allah. Kaping kalih gesang lados-linadosan ing antawisipun tiyang-tiyang Israel. Kaping tiga, minangka umat peladosipun Gusti ing tengahing para bangsa. Sadaya punika menawi Israel tetep setya tuhu ngestokaken dhawuhipun Gusti.

Ing wekdal punika ing pangabekti punika kita kados dene wonten puncaking redi ingkang kaajak ningali margi lan lampah kita ingkang sampun kita pengkeraken, lajeng kaajak ningali margi ing ngajeng ingkang badhe kita ambah. Margi ingkang taksih nyimpen wewadi ingkang boten kita mangertosi. Ing seratipun Rum 5:1-8, kita kaengetaken bilih karana pakaryanipun Gusti Yesus, kita sampun kaleresaken lan karukunaken kaliyan Yehuwah Allah lan angsal margi ingkang anjog ing sih rahmat amargi pitados. Karana pitados ing Sih rahmating Gusti Yesus punika ugi kita kaajak sami ningali dinten ngajeng, kita memuji ing pangajeng-ajeng dhumateng kamulyaning Allah ingkang badhe kita tampi. Malahan kita ugi saged memuji sanajan wonten ing kasangsaran. Awit ing sih rahmatipun Gusti, sangsara punika ndadosaken mantep, lan mantep punika ndadosaken tanggon, tuwin tanggon punika nukulaken pangajeng-ajeng, lan pangajeng-ajeng punika tamtu boten badhe ngapirani. Awit rikala kita taksih apes, kebak dosa kemawon Gusti Yesus sampun nglampahi seda kangge kita para duraka, punapa malih sasampunipun kita sapunika dados kagunganipun ingkang dipun tresnani.

 

-Brayat ingkang Missioner-

Ananging saestu lepat menawi kita nggadhahi pamanggih bilih minangka brayating Allah, umat kekasihipun Allah, patunggilanipun para pelados punika minangka status istimewa ingkang lajeng ndadosaken kita kumalungkung nyombongaken dhiri dhateng tiyang sanes, umat sanes. Awit keistimewaan punika saestunipun keistimewaan karana timbalanipun Gusti. Timbalanipun Gusti kangge tetep setya tuhu ngestokaken dhawuhipun Gusti. Timbalanipun Gusti supados gesang minangka patunggilanipun pelados. Sepisan lelados dhumateng Gusti Allah. Kaping kalih gesang lados-linadosan. Kaping tiga, gesang mbabaraken peladosan ing tengahing masyarakat kangge karaharjaning masyarakat (1 Ptr 2:9).

Pranyata brayat punika sanes baita ingkang lelayaran piyambak ing tengahing samodra, ananging minangka satunggaling baita ing tengahing mayuta-yuta baita ingkang sami-sami katempah prahara, kaombang-ambingaken ombak, klelep lan mencungul sami sambat ngaruara, njerit karana kesrakat, sakit, katindhes, kaperes, kabelenggu tanpa pangajeng-ajeng. Baita-baitaning brayat sanes punika sami kepengin sesambetan kaliyan kita lan ngantos-antos sikap lan kawigatosan kita.

Mila ing Mateus 10: 5-15, Gusti Yesus pesen dhateng para muridipun, kalebet ugi kita brayat mbaka brayat kekasihipun Gusti, supados kita boten nyimpang ngiwa utawi nengen, namung gumantunga dhumateng Gusti piyambak, tetep teguh kanthi tujuan kita ing dinten ngajeng; ngundhangaken bilih kraton paprentahanipun Allah ingkang kebak kaleresan, kaadilan, sih katresnan miwah tentrem rahayu sampun celak. Minangka tandha kratoning Allah kita patunggilaning tiyang ingkang sampun kaleresaen lan kasucekaken katimbalan  mbabaraken panguwaosipun Sang Kristus: mangsulaken ingkang ketriwal, nyarasaen ingkang sakit nangekaken ingkang pejah, mbirat ingkang najis, nundhung panguwaosing dhemit/ pepeteng, ngalami punapa ingkang dipun alami sesami lan maujudaken salam tentrem rahayunipun Gusti tumrap ingkang sumadya nampi.

 

Penutup

Brayat punika pasamuwanipun Gusti ingkang paling alit. Mila saestu begja sanget brayat ingkang ngestokaken dhawuhipun Gusti miwah saged maujudaken patunggilanipun para pelados ingkang lelados konjuk kamulyaning Allah, lados-linadosan antawisipun satunggal lan satunggalipun miwah mbabaraken peladosan ing tengahing bebrayan . Amin. [BRU]

 

Pamuji: KPK 298: 1,2.

 

Bagikan Entri Ini: