Keluarga Hidup Indah dalam Membangun Relasi dengan Tuhan dan Sesama Khotbah Minggu 24 Juli 2022

Minggu Biasa | Bulan Keluarga
Stola Hijau

Bacaan 1: Kejadian 18 : 20 – 33
Bacaan 2:
Kolose 2 : 6 – 15
Bacaan 3:
Lukas 11 : 1 – 13

Tema Liturgis: Keluarga yang Ikut Serta dalam Karya Allah
Tema Khotbah: Keluarga Hidup Indah dalam Membangun Relasi dengan Tuhan dan Sesama

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Kejadian 18 : 20 – 33
Perikop ini berisi tentang dialog dalam syafaat Abraham yang menggambarkan kedekatan hubungannya dengan Allah. Narasi yang berisi doa Abraham ini terkait dengan keadaan Sodom dan Gomora. Sodom dan Gomora adalah dua kota utama di ujung selatan Laut Mati. Kota-kota itu terletak sekitar 18 mil dari rumah Abraham di Hebron. Abraham dapat melihat ujung selatan Laut Mati dari pinggiran kota Hebron. Ada apa dengan kedua tempat tersebut sehingga mendapat begitu banyak perhatian? Ay. 20 menjelaskan telah terjadi tindakan dosa yang sangat berat di dua kota tersebut. Pada awalnya Allah berinisiatif untuk melihat apa yang terjadi dengan kedua kota tersebut. Dan akhirnya Alkitab dengan jelas menunjukkan bahwa sebuah kunjungan ilahi akan membawa hukuman dan kehancuran yang mengerikan atas penduduk yang penuh dosa tersebut.

Di dalam doa syafaat yang hebat untuk beberapa orang benar di Sodom, Abraham menunjukkan unsur-unsur yang lebih luhur dalam wataknya, yakni kemurahan, kasih sayang, kepekaan, dan perhatiannya terhadap kebenaran di dalam Allah dan yang masih terdapat dalam hidup manusia. Bahkan Abraham berani melakukan “tawar-menawar” dengan Allah dengan adanya sejumlah orang benar di antara kejahatan di Sodom dan Gomora. Pengenalan Abraham akan Allah Sang sumber kemurahan dan belas kasih akan memberikan keadilan sepenuhnya saat berurusan dengan makhluk-makhluk ciptaan-Nya, sekalipun mereka itu jahat. Jumlah 50 orang, 45 orang, 40 orang, 30 orang, 20 orang hingga hanya 10 orang adalah gejala yang nampak bahwa memang kejahatan yang terjadi dilakukan oleh mayoritas penduduk Sodom dan Gomora. Dan Allah akan membiarkan Sodom, jika terdapat sepuluh orang benar di dalam kota itu. Namun ini berarti pula bahwa ketika jumlah itu tidak bisa dipenuhi, tidak ada lagi yang dapat mengalihkan malapetaka tersebut. Dan saat mengajukan permohonannya kepada Tuhan, Abraham dengan jelas menunjukkan kasih dan perhatian yang sungguh-sungguh. Dan dia mengalami persahabatan baru dengan Allah, waktu Allah bersedia berunding dengan dia dan menganugerahkan penyataan khusus kepadanya sebelum peristiwa kehancuran itu terjadi.

 Kolose 2 : 6 – 15
Kota Kolose memiliki budaya dan filosofi yang beragam. Oleh karena itu, penduduk Kolose menganut berbagai agama dan tradisi yang berkembang dari segala keyakinan di Kolose. Paulus menulis surat kepada jemaat Kolose untuk meneguhkan dan menguatkan mereka agar setia dengan iman yang telah mereka raih dan tidak terpengaruh oleh ajaran lain yang berkembang di Kolose. Paulus juga memuji jemaat Kolose atas hati mereka yang tak tergoyahkan, sehingga tidak meninggalkan iman yang benar. Surat Kolose menonjol sebagai surat yang menguraikan cara menjadi orang percaya yang dewasa. Selain menolak beberapa pola yang berbahaya, Paulus menjelaskan bahwa jika hendak menjadi dewasa dalam Kristus, perlu terus mendengar dan memahami berita mengenai diri dan karya Tuhan Yesus Kristus. Artinya membangun diri dengan berakar dan bertumbuh hanya kepada Dia.

Demikian pula Paulus menegaskan bahwa beriman kepada Kristus menjadi suatu realitas adanya kepenuhan hidup ke-Allahan (Ay. 9). Kepenuhan hidup di dalam Kristus merupakan suatu keadaan yang menunjukan hubungan Kristus dengan orang-orang percaya yang diawali oleh iman setiap orang percaya di dalam Kristus. Kepenuhan itu dapat terjadi jika orang percaya melakukan perintah yang disertai dengan ketaatan kepada Yesus sebagai kepala yang terbangun dengan relasi melalui hubungan antara Allah dan gereja (orang percaya).

Kristologi Paulus pada akhirnya dipertajam dengan istilah “sunat Kristus” sebagai simbol penanggalan manusia lama yang berdosa ke dalam kehidupan yang baru. Demikian pula beriman kepada Kristus berarti telah menguburkan segala dosa dengan segala pelanggarannya untuk hidup bersama dengan Kristus.

Lukas 11 : 1 – 13
Perikop bacaan Injil lukas ini diawali dengan aktivitas doa Yesus di sela-sela pelayanan-Nya bersama dengan para murid (Ay. 1). Tuhan membekali dan memberikan teladan konkret bahwa doa menduduki posisi yang sentral dalam kehidupan pribadi maupun komunitas. Secara tidak langsung Tuhan Yesus telah mengajarkan kepekaan olah spiritual yang tak boleh dilupakan di sela-sela aktivitas, sesibuk apapun. Atas hal itu seorang dari mereka meminta untuk diajari berdoa. Ini membuktikan bahwa hal-hal baru yang positif dapat menumbuhkan respon yang positif pula. Namun tentu hal ini tidak berarti selama ini komunitas para murid belum beraktivitas doa. Mereka pasti sudah biasa melakukannya. Menariknya adalah mereka meminta diajar berdoa seperti yang diajarkan Yohanes kepada murid-muridnya. Tanpa percakapan yang panjang Injil Lukas menuliskan bahwa Yesus mulai mengajarkan formulasi doa, isi doa, kata-kata doa, dan bukan “cara” berdoa.

Jika kita bandingkan formulasi doa dalam Injil lukas berbeda dengan Injil Matius. Mengapa demikian? Hal ini terjadi karena latar belakang penulisan dan konteks yang berbeda antara Matius dan Lukas. Dalam Matius Doa Bapa Kami ditempatkan dalam bagian Khotbah di Bukit dan dalam konteks Yesus mengajar murid-murid-Nya untuk tidak berdoa seperti orang Farisi. Kalau membaca dalam Matius, muncul kesan bahwa Yesus menginginkan doa tidak sebagai sesuatu yang dipamerkan atau ditonjolkan kepada orang-orang lain. Yesus malah menginginkan ketika murid-murid-Nya berdoa, mereka perlu mengambil waktu seorang diri untuk berdoa kepada Tuhan. Di sini terlihat adanya unsur untuk menjalin hubungan yang benar-benar intens dengan Tuhan dalam doa.

Sedangkan dalam Lukas, Doa Bapa Kami diletakkan dalam konteks Yesus mengajar murid-murid-Nya, berdoa karena mereka meminta Yesus untuk mengajarkan mereka berdoa, dimana permintaan ini berdasarkan pada kebiasaan-kebiasaan kelompok religius lain (komunitas Yohanes dan murid-muridnya). Dari sini muncul kesan bahwa murid-murid minta diajarkan doa karena mereka menginginkan doa yang khas seperti yang mereka lihat pada kelompok-kelompok religius lainnya. Tapi Yesus tentu tidak memaksudkan seperti itu ketika Dia mengajar Doa Bapa Kami kepada murid-murid-Nya.

Kalau membaca lebih lanjut ayat-ayat selanjutnya dalam perikop tersebut, justru ditemukan bahwa Yesus menekankan doa seperti seorang anak yang meminta sesuatu kepada bapanya (Luk. 11:9-13). Ikan dan telur adalah gambaran permintaan-permintaan yang baik, wajar, jujur, dan sesuai kebutuhan. Maka seorang bapa pasti akan memberikan yang baik dan bukan yang buruk. Menjadi penting sekali ditekankan oleh Yesus dalam doa yang meliputi tiga aspek yaitu meminta, mencari, dan mengetok. Dalam sikap kejujuran juga kesungguhan diri maka dalam ketiga aspek ini ada kepastian yang akan Allah nyatakan.

Benang Merah Tiga Bacaan
Membangun kedekatan hidup dengan Allah menjadi realitas bahwa manusia bergantung sepenuhnya kepada Allah. Baik sebagai pribadi maupun dalam komunitas. Dalam komunikasi yang intens inilah Allah dengan kasih-Nya bersedia hadir di setiap keintiman itu untuk memberikan dan menyatakan anugerah-Nya. Dia juga akan terus mengiringi orang percaya yang bersedia diajar dan tetap setia pada kehendak-Nya bahkan dengan memberikan penyataan-penyataan khusus-Nya.

 

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silahkan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing).

Pendahuluan
Setiap anggota keluarga mempunyai peran masing-masing dalam rumah. Kadang peran itu nampak begitu mudah, menyenangkan dan indah. Namun juga kadang dirasa rumit dan sulit. Apakah yang bapak/ ibu/ saudara bayangkan dalam keluarga saat terasa indah dan menyenangkan? Tentu saat kebersamaan bisa dijalin, kasih yang selalu diingat dan hangat, serta hal-hal baik dan benar lainnya yang masih mampu diciptakan. Tak selalu harus berdekatan secara fisik namun hati selalu dihangatkan dengan kedekatan batin. Seperti ungkapan jauh di mata dekat di hati. Dan sebaliknya, apakah yang bapak/ ibu/ saudara bayangkan peran dalam keluarga terasa rumit dan sulit. Ada beberapa sebab antara lain adalah saat situasi tertentu terjadi dan harus dihadapi. Misalnya saja saat anak-anak masih melakukan pembelajaran online/ daring. Orang tua jadi ikut “mumet” untuk mengajari mereka. Kadang orang tua menjadi kurang sabar dan kurang telaten, tidak seperti bapak dan ibu guru pada saat mengajar di sekolah. Demikian juga dalam hal mengajarkan nilai-nilai keteladanan, menumbuhkan semangat, dan spiritualitas dalam iman bersama, serta masalah-masalah lainnya yang jauh lebih sulit dan kompleks.

Isi
Dalam situasi apapun keluarga adalah pusat pembelajaran awal dan sekaligus sebagai tempat untuk menanamkan nilai-nilai keluhuran iman. Jika terjadi tindakan yang menyimpang dan pelanggaran yang mengarah kepada dosa, maka menjadi kewajiban anggota keluarga lainnya untuk mengingatkan. Demikian juga dalam komunitas orang percaya. Bagaimana orang percaya mampu menumbuhkah spiritualitasnya? Yaitu dengan cara membangun relasi dengan Allah dengan berdoa. Berdoa adalah upaya yang dapat mengingatkan diri dari tindakan dan perbuatan yang mendatangkan pelanggaran.

Tuhan Yesus juga mengajarkan doa kepada para murid-Nya setelah mereka berinisiatif untuk diajari berdoa. Inisiatif itu muncul setelah Tuhan sendiri memberi teladan kepada mereka dengan berdoa. Tentulah Tuhan menginginkan para murid memiliki ketangguhan spiritual seperti Dia. Begitu juga dengan orang percaya perlu membangun diri dalam olah spiritual yang demikian. Paling tidak ada tiga aspek yang ditekankan dalam isi doa yang diajarkan oleh Tuhan, yaitu pemuliaan, permohonan, dan harapan. Dan itu cukup untuk menandaskan aspek dasar dalam sebuah ungkapan doa.

 Sama halnya pada saat Abraham melihat kejahatan yang terjadi di kota Sodom dan Gomora. Ia tidak berdiam diri. Abraham tidak bisa membiarkan kejahatan itu terus merajalela. Tetapi juga tidak bisa membiarkan orang-orang benar terjebak dalam tindakan orang-orang fasik. Keterpanggilannya sebagai pribadi yang beriman ia nyatakan dalam doa kepada Allah atas orang-orang benar di kota Sodom dan Gomora tersebut. Terjadilah komunikasi dalam doa Abraham, bahkan “diskusi tawar menawar” tentang adanya orang benar di antara orang fasik. Abraham meminta kepada Allah yang ia kenal penuh dengan belas kasih untuk menunjukkan keadilan-Nya atas orang benar agar tidak turut dihukum. Sungguh nampak bahwa kepedulian Abraham atas orang lain begitu tinggi. Seperti seorang bapa/ ibu yang sangat memperhatikan keselamatan anak-anaknya. Dengan merendahkan diri di hadapan Allah dan terus-menerus meminta, maka Allah menyatakan kasih-Nya. Abraham menunjukkan kualitas imannya yang dewasa yang terus mempercayakan diri dalam bingkai tindakan Allah yang adil.

Demikian pula Paulus menggambarkan bahwa hidup beriman kepada Kristus menjadi suatu realitas adanya kepenuhan hidup ke-Allahan (Kol. 2:9). Kepenuhan hidup di dalam Kristus merupakan suatu keadaan yang menunjukkan hubungan Kristus dengan orang-orang percaya yang begitu erat. Dan setiap orang percaya perlu terus mendengar dan memahami berita mengenai diri dan karya Tuhan Yesus Kristus. Artinya membangun diri dengan berakar dan bertumbuh hanya ke arah Dia.

Dalam kedekatan relasi inilah sebenarnya Tuhan memberikan pengajaran kepada para murid dan orang percaya untuk mengungkapkan isi doanya seturut dengan tiga aspek dasar tadi (Pemuliaan, Permohonan dan Harapan) bahwa yang meminta maka akan diberikan, yang mencari akan mendapat, dan yang mengetok pintu akan dibukakan. Dan Tuhan tahu apa yang terbaik untuk anak-anak-Nya.

Penutup
Dalam rangka penghayatan bulan keluarga inilah, kita diingatkan untuk bertumbuh dalam semangat iman (spiritualitas) kepada Kristus. Sebagai pribadi yang terus memperlengkapi diri seturut dengan teladan pengajaran Kristus, seperti para murid. Pribadi yang mampu membangun relasi dengan Tuhan. Sebagai komunitas keluarga yang juga mampu mewujudkan relasi kasih antar anggota keluarga. Saling mendoakan dan mengingatkan pada saat mengalami masalah tertentu sehingga terasa hangat dan indah. Demikian pula menjadi suatu komunitas gereja yang terus saling melayani dan meneguhkan. Dan akhirnya orang percaya diharapkan mampu hadir berelasi baik dengan sesama. Sebab Allah hadir di setiap relasi yang kita ciptakan lebih-lebih dalam setiap relasi yang kita buat dalam doa, permohonan, dan harapan kepada-Nya. Amin. [ECWS].

 

Pujian: KJ. 447 : 1, 3 Dalam Rumah yang Gembira.

Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)

Pambuka
Saben anggota brayat punika nggadhahi peran piyambak-piyambak ing salebeting griya. Kadangkala peranipun ketingal kraos gampil, ngremenaken saha endah. Ananging kadangkala kraos ewet lan angel. Punapa ingkang bapak/ ibu/ sadherek angen-angen ing salebeting brayat saweg karaos endah lan ngremenaken? Tamtu wegdal sesambetan saged kawujudaken, katresnan ingkang tansah dipun engeti lan kraos ngremenaken, sarta prekawis-prekawis sanesipun ingkang ketingal sae lan leres ingkang taksih dipun udi. Mboten kedah celak secara raga/ fisik ning manah tansah kacelakaken klayan batos. Kados unen-unen “Jauh di mata dekat di hati”. Lan kosokwangsulipun, punapa ingkang bapak/ ibu/ sadherek angen-angen peran ing salebeting brayat kraos ewet lan angel? Wonten sawetawis sebab ing antawisipun nggih punika saweg suasana tertamtu lan kedah dipun adhepi. Upaminipun wegdal para anak taksih sinau secara online/ daring. Tiyang sepuh sami dherek “mumet” anggenipun nyinaoni. Kadangkala tiyang sepuh dados kirang sabar lan malah-malah kirang telatos, mboten kados bapa lan ibu guru ingkang memucal wonten ing sekolahan. Mekaten ugi ing babagan memucal bab katuladhan, nuwuhaken pangatag sarta spiritualitas ing salebeting iman sesarengan sarta prekawis-prekawis sanesipun ingkang langkung ewet lan maneka warni.

Isi
Ing kawontenan punapa kemawon brayat dados punjer wiwitaning pasinaon, makaten ugi dados papan nuwuhaken nilai-nilai kaluhuran iman. Menawi kelampahan tumindak nyimpang lan nerak tumuju ing dosa, pramila dados kuwajiban perangan brayat sanesipun ngengetaken. Makaten ugi ing patunggilan para pitados. Kados pundi para pitados saged nuwuhaken spiritualitasipun? Nggih punika kanthi cara mangun sesambetan kaliyan Gusti Allah sarana pandonga. Pandonga dados sarana ngengetaken dhiri saking tumindak ingkang nerak tatanan.

Gusti Yesus ugi memucal tumrap para sakabat saksampunipun para sakabat tuwuh inisiatif dipun wucal pandonga. Inisiatif punika tuwuh saksampunipun Gusti Yesus piyambak paring tuladha dhateng para sakabat klayan pandonga. Tamtunipun Gusti Yesus kepingin para sakabat tatag tanggon kados Panjeneganipun. Makaten ugi tumrap para pitados prelu mangun diri mujudaken olah spiritual kados mekaten ugi. Paling mboten, wonten tigang prekawis ingkang dipun tandhesaken ing salebeting pandonga ingkang dipun piwucalaken dening Gusti, inggih punika Kamulyan, Panyuwun, lan Pangajeng-ajeng. Lan punika cekap kagem atur sowan ing salebeting aspek dasar pandonga.

Ugi saweg Abraham ningali tumindak awon ingkang kelampahan ing kitha Sodom lan Gomora. Piyambakipun mboten mendel. Abraham mboten saged ngumbar tumindak awon punika sangsaya ngayawara. Nanging ugi mboten saged ngumbar para tiyang mursid kajiret ing salebeting tumindak tiyang-tiyang duraka. Tinimbalanipun minangka pribadi ingkang agung ing pangandel kaaturaken wonten ing salebeting pandonga dhumateng Gusti Allah tumrap tiyang-tiyang mursid ing kitha Sodom lan Gomora. Wusana kelampahan aturipun Abraham ing salebeting pandonga, malah-malah kados “diskusi tawar-menawar” tumrap wontenipun sawetawis tiyang mursid ing antawisipun tiyang duraka. Abraham nyenyuwun dhumateng Gusti Allah ingkang piyambakipun sampun wanuh bilih Gusti Allah kebak welas asih kersa maringaken kaadilanipun tumrap para tiyang mursid mboten sami kaukum. Saiba estu ketingal sikap peduli Abraham tumrap tiyang sanes estu ageng. Kadosdene bapa/ ibu ingkang estu sanget njagi kaslametan anak-anakipun. Kanthi andhap asor ing ngarsanipun Gusti Allah lan tansah nyeyuwun, satemah Gusti Allah maringi kamirahanipun. Abraham estu ngetingalaken bobot pangandelipun ingkang diwasa lan mitadosaken dhiri ing salebeting bingkai pakaryanipun Gusti Allah ingkang adil.

Makaten ugi rasul Paulus anggenipun nggambaraken bilih gesang pitados dhumateng Gusti Yesus dados realitas wontenipun kadunungan gesang Ke-Allahan (Kol. 2:9). Kadunungan gesang wonten ing Kristus dados suasana ingkang nedahi sesambetan antawisipun Kristus lan para pitados estu raket. Lan saben tiyang pitados prelu tansah mirengaken saha ngraosaken warta bab Pribadi lan pakaryanipun Gusti Yesus Kristus. Tegesipun kedah mangun dhiri sangsaya ngoyod lan tuwuh wonten ing Gusti.

Ing salebeting sesambetan ingkang raket punika sejatosipun Gusti Yesus maringi piwucal tumrap para sakabat ugi tumrap para pitados saperlu ngaturaken isi pandonganipun miturut tigang aspek dhasar kalawau (Kamulyan, Panyuwun, lan Pangajeng-ajeng) bilih ingkang nyenyuwun temah bakal kaparingan, ingkang ngupaya temah bakal kaparingan, lan ingkang thothok-thothok temah bakal kawenganan. Lan Gusti nguningani punapa ingkang andamel kasaenan tumrap para putranipun.

Panutup
Ing salebeting reraosan wulan brayat punika, kita sami kaengetaken supados tansah tuwuh ing pangatag iman (spiritualitas) dhateng Kristus. Minangka pribadi ingkang ngudi nyekapi dhiri cundhuk kaliyan tuladha piwucalipun Kristus kados para sakabat. Pribadi ingkang tansah mujudaken sesambetan kaliyan Gusti. Minangka komunitas brayat ingkang ugi saged mujudaken sesambetan katresnan ing antawisipun brayat. Donga-dinonga lan tansah enget ingengetaken ing salebeting panandhang ngantos karaos ngremenaken lan endah. Makaten ugi minangka komunitas pasamuwan/ greja ingkang tansah lelados lan neguhaken. Lan wusananipun para pitados kasuwun tansah tampil mujudaken sesambetan ingkang sae tumrap sesami. Awit Gusti Allah nunggil ing saben sesambetan ingkang kita wujudaken langkung-langkung ing salebeting sesambetan klayan pandonga, panyuwun, lan pengajeng-ajeng dhumateng Panjenenganipun. Amin. [ECWS].

 

Pujian: KPJ. 326 : 1 – 3 Punika Brayat Kula

 

Bagikan Entri Ini: