Wanita Memancarkan Keindahan di Tengah Musim Gugur Keluarga Khotbah Minggu 17 Juli 2022

Minggu Biasa | Pekan Wanita
Stola Hijau

Bacaan 1: Kejadian 18 : 1 – 10a
Bacaan 2:
Kolose 1 : 15 – 29
Bacaan 3:
Lukas 10 : 38 – 42

Tema Liturgis: Keluarga yang Ikut Serta dalam Karya Allah
Tema Khotbah:
Wanita Memancarkan Keindahan di Tengah Musim Gugur Keluarga

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Kejadian 18 : 1 – 10a
Abraham percaya akan janji Allah bahwa dia akan dianugerahi banyak keturunan melalui Sara, isterinya (Kej. 15:4-5). Namun janji itu tidak kunjung terpenuhi. Dalam perikop ini, Tuhan sendiri berkenan datang dan bertamu ke kemah Abraham untuk membawa kabar sukacita bahwa isterinya tahun depan akan melahirkan anak laki-laki. Hal yang menarik adalah Abraham tidak menyadari bahwa salah satu dari tamunya adalah Tuhan sendiri. Dengan antusias dia menyambut para tamunya yang membutuhkan pertolongan dan menyajikan hidangan berlimpah kepada mereka. Pelayanan yang murah hati ini berbuah dengan berita sukacita bagi keluarga Abraham.

Abraham mengistimewakan tamunya. Peristiwa ini berlangsung di kemah Abraham dekat pohon tarbantin bukanlah jenis pohon tertentu, melainkan pohon besar yang tumbuh di daerah kering, yang kerap dianggap sebagai pohon suci. Mamre berada dekat Hebron. Di sini Abraham telah mendirikan mezbah bagi Tuhan. Di Hebron pula kelak Daud memerintah selama 7 tahun 6 bulan sebelum memerintah atas seluruh Israel (2 Sam. 2:11).

Waktu itu siang hari, suasana panas terik sehingga Abraham duduk beristirahat di kemahnya. Mereka yang dalam perjalanan pun akan berteduh pada rerantingan pohon. Maka demi melihat ketiga orang di depan kemahnya, Abraham pun berlari menyongsong mereka. Dengan hormat ia menyapa mereka “tuanku” (Ay. 3) dan menyebut diri “hambamu” (Ay. 5). Dia sujud sampai ke tanah sebagai ungkapan hormat menerima tamu agung. Namun, dia sama sekali tidak mengenal mereka, apalagi untuk menyadari bahwa salah satunya adalah Tuhan.

Kepada ketiga orang itu, dia menawarkan bantuan, bagi mereka akan diambilkan air untuk membasuh kaki dari debu, dipersilahkan duduk istirahat di bawah pohon dan menikmati roti agar kembali segar untuk melanjutkan perjalanan. Di antara bangsa pengembara merupakan suatu kehormatan besar bila bisa menerima tamu dan menjamu orang asing di kemahnya. Ketiganya pun menerima tawaran Abraham. Antusiasme Abraham dalam menjamu tamu tampak dari 3 kali kata “segera”, digunakan pada kalimat: “ia segera ke kemah” (Ay. 6), “meminta isterinya segera membuatkan roti” (Ay. 6) dan “bagaimana bujangnya segera mengolah anak lembu empuk yang telah dipilihnya” (Ay. 7). Hidangan harus segera disiapkan. Para tamu tidak boleh terlalu lama menunggu.

Kemurahan hati Abraham tampak dari jamuan mewah yang disiapkan. Roti bundar pipih berdiameter 45an cm dari bahan tiga sukat (3×12 liter) tepung terbaik. Suatu jumlah yang banyak untuk tiga orang tamu. Demikian pula dipilihkan daging anak lembu yang empuk. Lalu Abraham sendiri bertindak sebagai pelayan meja. Sebagai sajian pembuka, dihidangkan dadih dan susu. Dadih adalah air susu sapi/ kambing yang telah dikentalkan, yang diperoleh bila susu ditumbuk dalam kulit kambing dengan sisa dadih yang lama (Amsal 30:33). Para pengembara biasanya tidak minum anggur tetapi minum air maka bila kepada mereka dihidangkan susu cair (dari lembu, unta, kambing) berarti bagi mereka diadakan pesta. Baru kemudian disajikan hidangan pokok. Sedang mereka makan, Abraham berdiri dekat mereka dan siap melayani. Bagian berikutnya menunjukkan siapa sebenarnya tamu Abraham. Sebab ketiganya mengenal nama isteri Abraham (Ay. 9). Salah satunya mengatakan bahwa tahun depan Sara akan mempunyai anak laki-laki (Ay. 10a). Tamu ini mengenal kerinduan keluarga ini dan bagaimana mereka menantikan janji Tuhan.

Kolose 1 : 15 – 29
Pada saat Rasul Paulus menulis surat ini, ia belum pernah bertemu dengan orang percaya yang ada di Kolose (Kol. 2:1). Banyak orang yang percaya bahwa Epafras bertobat melalui pelayanan Rasul Paulus ketika rasul itu menghabiskan waktu selama tiga tahun pelayanan di Efesus. Frigia termasuk daerah Asia Romawi (daerah yang dikuasai Roma) dan Paulus pernah berada di Frigia (Kis. 16:6) tetapi bukan di Kolose. Kita tahu dari surat ini bahwa suatu ajaran sesat, yang dalam wujudnya berkembang pesat menjadi Gnostisisme, sudah mulai mengancam jemaat di Kolose. Para penganut aliran Gnostik ini membanggakan diri mereka berdasarkan “pengetahuan” mereka (bahasa Yunani, gnosis). Mereka menyatakan bahwa mereka memiliki informasi yang lebih hebat dari informasi rasul-rasul dan berusaha menciptakan kesan bahwa seseorang tidak bisa benar-benar bahagia kecuali ia telah masuk ke dalam rahasia-rahasia terdalam dari ajaran mereka.

Surat kepada jemaat di Kolose merupakan surat yang menjelaskan kebenaran Injil ketika diperhadapkan dengan filsafat-filsafat yang mempengaruhi jemaat Kolose. Bertentangan dengan pandangan filsafat yang berkembang di Kolose (yang menyebabkan sinkretisme), Paulus memperlihatkan bahwa Yesus adalah Tuan (dalam bahasa Yunani kurios) semesta alam dan juga kurios gereja. Penulis menampilkan Kristus sebagai figur yang memainkan peranan sentral. Menurut penulis surat Kolose, orang tidak perlu takut terhadap kuasa-kuasa kosmis sebab seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Kristus. Penulis menampilkan suatu pengakuan bahwa Kristus adalah gambar Allah yang tidak kelihatan. Kata “gambar” (eikon) menyatakan hubungan Kristus dengan Allah. Di dalam Dialah, telah diciptakan segala sesuatu termasuk semua kuasa di sorga dan di bumi, yang kelihatan maupun tidak kelihatan. Segala sesuatu ada di dalam Dia, melalui Dia dan untuk Dia, Ia telah menopang semua itu (Ay. 17). Pada ayat 23 Paulus berharap agar jemaat Kolose tetap berpegang teguh kepada Kristus. Jangan mudah goyah mendengarkan ajaran dari guru-guru palsu. Masa depan ciptaan akan hadir karena dipengaruhi oleh keutamaan Kristus. Kritus menjadi pusat dan berada di pusat segala ciptaan.

Lukas 10 : 38 – 42
Banyak penafsir yang menafsirkan teks ini dengan berbagai sudut pandang. Tetapi kebanyakan penafsir melihat teks ini berbicara mengenai mendengar Yesus dan bagaimana suatu tindakan sebaiknya dilakukan di saat yang tepat. Di dalam narasi tersebut, tidak secara eksplisit dituliskan apa yang menjadi sebab Yesus melihat bahwa tindakan Maria adalah satu hal yang diperlukan. Marta adalah kakak dari Maria yang mengurapi Tuhan Yesus (Mat. 26:6). Dalam narasi ini, Marta dengan sopan ditegur oleh Yesus, karena tidak sabar melihat adiknya yang lebih suka mendengar perkataan Yesus dari pada membantunya dan karena perhatiannya yang berlebihan terhadap segi praktis dari penyediaan makanan (Ay. 40). Marta dalam narasi ini juga meminta Yesus untuk menegur Maria yang tidak mau membantunya menjamu tamu yaitu Yesus. Namun ternyata tindakannya inilah yang tidak terlalu disenangi oleh Yesus pada saat itu.

Maria adalah adik Marta. Di dalam Yohanes 11:2 dituliskan bahwa ia pernah mengurapi Yesus dengan minyak mur dan menyeka kaki Yesus dengan rambutnya. Di dalam Alkitab juga secara implisit Maria lebih banyak diceritakan berkomunikasi dengan Yesus bila dibandingkan dengan Marta. Di dalam narasi ini, tindakan Maria adalah tindakan yang dipuji oleh Yesus. Ketika menerima Yesus di rumahnya. Dikatakan bahwa apa yang dilakukan Maria adalah satu hal yang sebenarnya diperlukan pada saat itu, yaitu duduk tenang mendengarkan Yesus.

Yesus Kristus di dalam narasi ini bersama dengan murid-murid-Nya sedang dalam perjalanan menuju Yerusalem dan sejenak berhenti di sebuah kampung (Ay. 38). Ia datang ke rumah Marta dan Maria. Di dalam rumah tersebut Yesus menyampaikan perkataan-Nya. Tidak tertulis secara eksplisit apa yang Yesus katakan, namun dapat diperkirakan bahwa apa yang saat itu sedang Ia sampaikan adalah sesuatu yang penting. Sehingga ketika sedang berkata-kata, Yesus menegur Marta yang sedang sibuk menjamu-Nya dan tidak mendengarkan-Nya. Sebaliknya Dia memberi penilaian yang baik terhadap Maria karena Maria duduk dengan tenang untuk mendengar perkataan-perkataan-Nya (Ay. 41-42).

Benang Merah Tiga Bacaan
Menjamu tamu dengan sebaik-baiknya pada banyak budaya adalah penting. Mengingat melayani tamu merupakan bentuk dari pada sikap sopan santun dan ramah tamah dari tuan rumah. Menganggap di luar dirinya ada yang harus lebih diutamakan. Mengutamakan Kristus di atas segalanya adalah sikap yang penting untuk dimiliki oleh para perempuan. Perempuan memiliki peran besar terhadap sebuah keutuhan dan keharmonisan sebuah keluarga. Itulah kunci bagi perempuan untuk bisa memancarkan keindahan di tengah musim gugur keluarga.

 

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silahkan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)

Pendahuluan
Tuhan mengijinkan kita untuk menghadapi pandemi Covid-19. Penyebaran virus ini sangat cepat sebelum dunia siap menghadapinya. Mutasi-mutasinya membuat manusia seperti tidak berdaya. Untuk mengatasinya diadakan vaksinasi untuk memperkuat imunitas tubuh kita. Obat penangkalnya belum ada. Pandemi ini tidak membedakan bangsa, ras, usia, kaya atau miskin, ataupun agama, bahkan cukup banyak para pemimpin agama yang meninggal dunia. Keluarga-keluarga dibuat porak poranda. Banyak yang meninggal dunia tanpa kata-kata perpisahan, tidak bisa memandang wajah korban setelah meninggal dan tidak bisa mengantar sampai di tempat pemakaman. Ada rasa kehilangan yang luar biasa. Orang-orang terkasih direnggut begitu saja dari tengah-tengah kita dan kita tidak siap menerimanya. Selain kehilangan orang-orang terkasih, banyak juga bisnis yang hancur, membuat keluarga kuatir dan bingung akan masa depannya. Begitu juga pendidikan anak-anak sangat terganggu. Anak didik harus belajar melalui internet. Dan tidak jarang yang mengalami kendala bersekolah online. Pandemi ini menimbulkan masalah kesehatan dan masalah ekonomi serta masalah yang lainnya. Jika demikian yang dialami oleh keluarga-keluarga, bagaimana mungkin keluarga dapat ikut serta dalam karya Tuhan?

Menurut Dr. Andar Ismail dalam buku “Selamat Ribut Rukun”, hidup manusia dapat diibaratkan seperti empat musim. Masa kecil ibarat musim semi, masa muda ibarat musim panas, masa dewasa musim gugur, dan masa tua musim dingin. Jika pembagiannya demikian maka untuk wanita setengah baya usia 50 tahun adalah ibarat musim gugur. Apa ciri-ciri musim gugur? Musim gugur bisa menimbulkan dua kemungkinan. Dalam satu sisi, pada musim gugur bisa terjadi banyak cuaca buruk dengan angin kencang. Suhu udara bisa mendadak dingin sekali. Matahari semakin lambat terbit dan semakin cepat terbenam. Daun-daun mulai berguguran. Namun di sisi yang lain, musim gugur pun bisa memberi cuaca yang mantap tenang. Suhunya enak hangat. Daun-daun menjadi luar biasa indahnya, yang semula hijau berganti warna. Ada yang berubah menjadi merah muda, ada yang menjadi merah jambu, ada pula yang menjadi merah darah. Di samping itu ada yang menjadi kuning keemasan, ada yang menjadi jingga, dan ada yang menjadi coklat. Semuanya memancarkan warna yang cerah. Bukan main indahnya. Banyak orang Jepang, Eropa, dan Amerika berpendapat bahwa musim yang paling indah adalah musim gugur.

Seperti musim gugur, wanita setengah baya pun menghadapi peralihan. Pada usia ini seolah-olah merasa kehilangan beberapa hakekat kewanitaannya. Ia merasa kehilangan anak. Sekarang anak-anak sudah mulai berdikari dan mempunyai jalannya sendiri. Ia tidak berfungsi sebagai ibu seperti dulu. Ia merasa kehilangan keibuannya, bahkan ia merasa kehilangan kecantikannya. Di tengah peralihan ini, wanita setengah baya menghadapi dua kemungkinan seperti musim gugur. Dalam satu sisi mungkin ada banyak kecemasan. Mencemaskan anak-anaknya, mencemaskan dirinya sendiri, mencemaskan suaminya, takut suaminya berpaling darinya, sehingga menjadi dingin dan memperhatikan dirinya sendiri. Sebaliknya, di sisi yang lain, wanita setengah baya dapat menjadi hangat dalam hubungannya dengan orang lain. Ia tahu bahwa sekarang ia mempunyai lebih banyak waktu, sebab anak-anak sudah mandiri. Lalu ia menggunakan waktunya untuk menjadi berkat bagi orang lain. Ia memberi waktunya kepada gereja, panti asuhan, panti jompo, yayasan sekolah, masuk dalam kepanitiaan ini dan itu. Keaktifan sosialnya menyebabkan ia merasa bahwa hidup ini indah. Dan orang yang merasakan bahwa hidup ini indah akan memancarkan raut muka yang indah pula.

Isi
Maria dan Marta adalah dua bersaudara yang memiliki ketertarikan yang berbeda. Maria memilih untuk duduk diam mendengarkan perkataan Tuhan Yesus. Sedangkan Marta memilih sibuk mempersiapkan makan dan minum untuk Tuhan Yesus beserta murid-murid-Nya. Marta tampil sebagai tuan rumah yang baik untuk menyambut tamu. Apalagi hubungan keluarga antara Maria, Marta dan Tuhan Yesus diketahui sudah begitu dekat. Maka adalah tindakan baik yang diambil oleh Marta untuk melayani Tuhan Yesus dan murid-murid-Nya. Kisah Maria dan Marta adalah kisah klasik mengenai hubungan dengan Tuhan Yesus. Ada beberapa hal yang selalu menjadi kesan ketika mendengar kisah ini. Maria yang benar dan Marta yang salah. Namun bukan itu yang ingin ditekankan di sini, tetapi yang ditekankan adalah gambaran dari jenis-jenis hubungan yang terjalin antara kita dengan Allah. Ayat 38 menceritakan bahwa Marta menerima Tuhan Yesus di rumahnya dan ayat 39 menerangkan bahwa Maria duduk di dekat kaki Tuhan Yesus dan terus mendengarkan perkataan-Nya.

Menarik untuk kita perhatikan bersama, Maria duduk di dekat kaki Tuhan Yesus. Mengapa tidak duduk sejajar atau setara dengan Tuhan Yesus? Hal ini menunjukkan hubungan yang lebih tinggi dan hubungan yang lebih rendah. Banyak di antara kita ketika mendengarkan firman Tuhan tidak mengambil sikap “duduk”. Merasa sudah tahu, tidak perlu tahu atau lebih tahu. Dalam Matius 13:11-14, Tuhan Yesus berkata banyak orang mendengar tetapi tidak mengerti rahasia Kerajaan Sorga. Firman yang kita lewatkan hari ini bisa jadi sebenarnya mengungkapkan rahasia yang kita butuhkan.

Dalam ayat 40 karakter Marta kembali muncul. Apa yang dilakukannya? Sibuk sekali melayani tetapi dengan mata bukan tertuju kepada Yesus namun kepada orang lain dan kepada dirinya sendiri. Ini akan menjadi masalah. Ketika kesibukan pelayanan kita bukan tertuju kepada Yesus, maka pada suatu titik akan menjadikan kita, burn-out (kelelahan dan frustasi) dan blame-out (menyalahkan dan iri kepada orang lain). Seperti Marta kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara. Seandainya Marta tidak mengeluh kepada Tuhan dan menyalahkan Maria, maka peran yang dipilihnya adalah juga peran yang istimewa. Seperti yang dilakukan Abraham ketika menjamu ketiga tamu di kemahnya. Tanpa ada kepentingan dibalik ketulusan dan keramah- tamahannya menjadikan Abraham dengan suka cita melakukan penyambutan yang luar biasa kepada para tamunya. Sungguh baik untuk memberikan segalanya demi memberi penghormatan. Abraham dan Sara mempersiapkan penyambutan yang istimewa terhadap tamu yang dilihatnya sebagai orang yang baik dan terhormat. Sara sama sekali tidak protes terhadap ajakan dan sikap suaminya.

Mengutamakan Kristus sebagai Tuhan di dalam kehidupan kita, seperti yang disebut dalam bacaan yang kedua adalah sesuatu yang penting untuk diperhatikan oleh keluarga dalam rangka ikut serta dalam karya Tuhan. Karena itu akan menentukan bagaimana kiprah keluarga di tengah dunia. Bagaimana keluarga dapat bertahan di tengah musim gugur. Sekalipun dalam musim gugur, keluarga tetap melakukan tugas dan panggilan-Nya dengan penuh setia dan ketaatan kepada Allah. Keluarga tetap menjadi berkat bagi keluarganya sendiri dan orang-orang yang berada di sekitarnya. Keluarga dengan penuh menganggap bahwa keutamaan berada pada Kristus. Pusat kehidupan ini hanyalah Kristus. Sama sekali tiada tandingannya di dunia ini. Tidak ada alasan bagi keluarga untuk menduakan Tuhan.

Penutup
Mari sebagai seorang perempuan kita menjadi pelita di tengah gulita demi mewujudkan keluarga yang ikut serta dalam karya Tuhan. Dalam berbagai situasi, tetap menjalankan tugasnya sebagai agen pendidik, pengasuh sampai kawan bagi anak-anak, sekaligus penjaga ketahanan pangan keluarga di tengah pandemi Covid-19. Karena itu, penting bagi para perempuan untuk terus melekat kepada Tuhan, seperti Maria yang memilih untuk duduk di dekat kaki Tuhan Yesus dan terus mendengarkan perkataan-Nya. Agar saat merawat keluarga yang tersalurkan adalah energi yang positif. Sekalipun keluarga sedang dihantam badai yang dasyat, keluarga harus tetap mengingat akan fungsi keluarga sebagai sentral kekuatan inti kehidupan, dimana perempuan memiliki peran besar di dalamnya.

Perempuan tidak hanya bisa menjadi berkat bagi keluarganya sendiri, namun juga menjadi berkat bagi orang-orang di sekitarnya. Perempuan bisa menjadi pembawa berkat bagi perempuan lain dalam gereja dan masyarakat. Mari seperti Marta yang sibuk melakukan pelayanan namun juga memperbaiki kesalahan Marta, untuk tidak mengeluh dan menyalahkan orang lain ataupun iri hati kepada orang lain. Dengan terus melekatkan diri kepada Tuhan, maka menjadikan para perempuan mendasarkan segala hal yang dilakukannya hanya berfokus kepada Kristus. Bukan kepada orang lain ataupun dirinya sendiri. Selamat menjadi perempuan-perempuan yang tangguh dalam segala perkara kehidupan. Kita tangguh karena kita lekat dengan Tuhan Sang Empunya Kehidupan. Perempuan yang tangguh akan andil besar di tengah keluarganya, menjadikan keluarganya tetap memancarkan keindahan di tengah musim gugur. Kiranya Tuhan Yesus memberkati para perempuan untuk selalu memancarkan keindahan. Roh Kudus akan menolong dan memampukannya. Amin. [Life].

 

Pujian: KJ. 318 : 1, 2 Berbahagia Tiap Rumah Tangga


Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)

Pambuka
Gusti Allah ngersakaken kita sami ngadepi mangsa pagebluk Covid-19. Nyebaripun virus punika cepet sanget, sakderengipun jagad punika cecawis kadospundi anggenipun ngatasi. Maneka warni varian ingkang kalairaken, kados-kados manungsa boten nggadahi daya kangge ngatasi virus punika. Pemerintah ngupadi ngatasi lumantar program vaksinasi supados imun kita sedaya kiyat. Dereng wonten jampinipun kangge ngobati nalika manungsa kenging virus punika. Virus punika saged mbebayani sedaya tiyang. Boten nggatosaken punapa bangsanipun, sukunipun, umuripun, sugih punapa mlarat, punapa malih agaminipun, malah kepara kathah tokoh agami ingkang sami seda awit kenging virus punika. Kathah brayat ingkang kagoncang. Kathah anggota brayat ingkang pejah tanpa ukara pepisahan, boten saged nguntabaken layon sedherekipun lan boten saged ndherekaken dhateng pesarean. Wonten kaprihatosan ingkang sanget nyedihaken. Boten wonten wekdal kangge nyawisaken prastawa pepisahan kaliyan sedherek ingkang dipun tresnani. Lan kathah tiyang ingkang boten saged nampi kasunyatan punika. Boten namung kecalan anggota brayat ingkang dipun tresnani, kathah ingkang usahanipun bangkrut, sedaya kalawau murugaken brayat kuatos lan boten mangertos malih kados pundi masa depanipun. Makaten ugi sekolahipun para bocah boten saged lancar. Bocah sekolah lumantar jaringan utawi kawastanan online. Kathah ingkang ngalami pambengan lan sekolahipun boten saged lancar. Pagebluk punika murugaken kathah prekawis, sae kesehatan, ekonomi lan prekawis sanesipun. Bilih kados makaten kawontenan ingkang dipun alami dening brayat baka brayat, kados pundi brayat saged ndherek ing pakaryanipun Gusti?

Miturut Dr. Andar Ismail ing salebeting buku “Selamat Ribut Rukun”, gesangipun manungsa punika kaibarataken kadosdene sekawan musim. Nalika taksih alit kaibarataken musim semi. Nalika dados nem-neman kaibarataken musim panas. Manungsa dewasa kaibarataken musim gugur lan yuswa sepuh kaibarataken musim dingin. Bilih kados makaten gambaranipun, pramila tiyang estri yuswa 50 tahun kaibarataken musim gugur. Punapa ciri-cirinipun musim gugur? Musim gugur saged nuwuhaken kalih prekawis. Satunggal sisih, ing musim gugur saged kadadosan mangsa ingkang awon awit wontenipun angin ingkang ageng sanget. Kawontenan saged asrep sanget. Srengenge saged telat anggenipun sumunar ugi saged enggal ical sinaripun. Godhong-godhong sami rontog. Ananging ing sisih sanesipun, saged ugi wontenipun mangsa ingkang sekeca, dhateng badanipun manungsa sekeca. Boten ngraosaken benter, inggih boten ngraosaken asrep, dados pas sekaca sanget hawanipun. Godhong godhongan ngetingalaken warni-warni ingkang endah sanget. Ingkang swaunipun ijem ewah dados warni sanesipun ingkang langkung endah. Wonten ingkang dados abangipun radi enem, abangipun kados jambu, abangipun kados getih. Wonten malih ingkang dados kuning emas, jingga lan coklat. Sedaya kalawau ngetingalaken warni-warni ingkang cerah. Endah sanget warni warnipun. Tiyang Jepang, Eropa, lan Amerika mastani bilih mangsa ingkang paling endah inggih punika musim gugur.

Kadosdene musim gugur, tiyang estri dewasa ugi ngadepi mangsa peralihan. Ing yuswa punika kados-kados tiyang estri kecalan hakekatipun dados tiyang estri. Kados-kados kecalan anak, awit anakipun sampun sami kromo, sampun menthas piyambak-piyambak lan repot kaliyan karir lan brayatipun. Piyambakipun boten malih nglampahi tugasipun ibu kadosdene rumiyin. Mbok menawi ugi rumaos sampun boten ayu malih, sampun milai keriput ing pasuryanipun. Ing satengahing mangsa peralihan punika, tiyang estri ingkang sampun dewasa ngalami kalih kemungkinan kados dene musim gugur kalawau. Kemungkinan kaping sapisan, ibu kalawau nguwatosaken kathah prekawis. Nguwatosaken anak-anakipun, dirinipun piyambak, semahipun, aja-aja kepincut tiyang estri sanesipun. Punika sedaya ndadosaken tiyang estri kalawau egois lan namung nggatosaken dirinipun piyambak. Ananging ugi saged kosokwangsulipun, ing sisih sanesipun, tiyang estri kalawau saged dados tiyang ingkang sansaya sae, sansaya wicaksana, sansaya raket kaliyan tiyang sanes, sesambetanipun sansaya sae kaliyan tiyang sanes. Rumaos sansaya kathah wekdalipun kangge nggatosaken ngasanes awit swaunipun repot ngrimati anak-anakipun. Samangke anakipun sampun sami menthas sedaya. Lajeng wekdal ingkang kathah kalawau kaginakaken kangge talanging berkah tumraping sesami. Kathah wekdal kangge leladi ing greja, panti asuhan, panti jompo, yayasan sekolah, ndherek organisasi-organisasi sosial lan peladosan dhateng masyarakat. Anggenipun leladi lan dados talanging berkah sansaya ndadosaken gesangipun endah. Tiyang ingkang ngraosaken bilih gesangipun endah lan migunani tumrap ngasanes punika dampakipun dhateng pasuryanipun inggih ngremenaken.

Isi
Maryam lan Marta punika sadherek kandung. Ananging sikapipun anggenipun nampi Gusti Yesus boten sami. Maryam langkung remen lenggah nyelak ing sukunipun Gusti Yesus lan tansah mirengaken pangandikanipun Gusti Yesus. Dene Marta ribet sanget anggenipun leladi, nyawisaken sedaya samukawis kangge mbage rawuhipun Gusti Yesus. Punapa malih sesambetan Gusti Yesus kaliyan Maryam Marta punika saged kawastanan celak sanget. Pramila limrah saestu ingkang dipun tindhakaken dening Marta. Tumindhak ingkang prayogi sanget. Carios punika negesaken ing bab sesambetan kaliyan Gusti Yesus. Ingkang asring tiyang ngartosaken, sikapipun Maryam leres lajeng Marta lepat. Sanes prekawis punika ingkang kategesaken lumantar waosan punika. Ingkang wigatos inggih punika wontenipun gegambaran sesambetan kaliyan Gusti Yesus. Ayat 38 nyariosaken bilih Marta purun nampi rawuhipun Gusti Yesus kanthi bingah lan ayat 39 nerangaken bilih Maryam remen lenggah nyelak ing sukunipun Gusti Yesus lan tansah mirengaken pangandikanipun Gusti Yesus.

Wigatos kita raosaken sesarengan ing bab Maryam lenggah celak sukunipun Gusti Yesus. Kok boten lenggah jejer kemawon? Punika nedahaken dhateng kita wontenipun sesambetan sinten ingkang langkung inggil lan sinten ingkang langkung andhap. Kathah ing antawis kita, nalika mirengaken sabda pangandikanipun Gusti, sampun rumaos sumerap, boten kepingin mangertos lan rumaos sampun ngertos sedaya ing bab pangandikanipun Gusti. Ing Injil Matius 13:11-14, Gusti Yesus ngandika bilih kita kaparingan kamurahan dipun parengaken nyumurupi wadi-wadinipun Kratoning Allah. Pramila sampun ngantos kita nglirwakaken satunggal kemawon pawartos ing bab sabdanipun Gusti, awit saged sedaya kalawau kaagem lantaran dening Gusti nedahaken dhateng kita ingkang sejatosipun wadinipun Kratoning Allah. Awit boten sedaya tiyang kaparingan kamirahan punika.

Ing ayat 40 karakter Marta ketawis malih. Punapa ingkang dipun tindhakaken dening Marta? Repot sanget anggenipun leladi. Miturut Gusti Yesus, Marta punika sampun nyumelangaken lan nggrantesaken kathah prekawis. Anggenipun leladi boten fokus kagem Gusti Yesus. Ananging fokus dhateng sadherekipun lan ugi kangge dirinipun piyambak. Punika ingkang dados prekawis utawi masalah. Bilih kita boten fokus dhumateng Gusti Allah mesthi kita badhe ngraosaken ingkang kawastanan burn-out (sayah lajeng frustasi) lan blame-out (nglepataken lan drengki dhateng ngasanes). Kados Marta sampun nyumelangaken lan nggrantesaken kathah prekawis. Bilih Marta boten makaten lan boten nglepataken Maryam, tumindhak ingkang dipun lampahi dening Marta punika tumindhak ingkang sae lan prayogi sanget.

Kados dene rama Abraham anggenipun mbage tamunipun ing kemahipun. Tanpa wontenipun kepentingan ing salebetipun mbage tamunipun, malah ingkang kadadosan rama Abraham mbage tamu kanthi legawa lan tulusing manah. Rama Abraham kanthi kebak sukabingah nyawisaken sedaya uba rampen ingkang dipun betahaken dening para tamunipun. Prayogi sanget maringi sesegah ingkang ngremenaken para tamunipun minangka wujuding pangurmatan kagem para tamunipun. Rama Abraham lan Ibu Sara sesarengan nyawisaken sesegahan ingkang saestu ngremanaken para tamunipun. Sedaya katindhakaken kanthi legawa lan tulusing manah. Nganggep bilih tamunipun punika priyantun ingkang sae lan kinurmatan. Ibu Sara boten nggresula lan protes dhateng rama Abraham, kenging punapa kok ngantos istimewa sanget anggenipun nampi lan mbage para tamunipun.

Gusti Yesus punika ingkang utami lan pinunjul ing gesang kita, kados ingkang kasebataken ing waosan kita kaping kalih. Pangaken bilih Gusti Yesus punika ingkang utami lan pinunjul wigatos saged bilih saged kawujudaken ing gesang bebrayatan, kita lampahi ing satengahing brayat kita piyambak-piyambak. Matemah brayat baka brayat saged ngestokaken minangka brayat ingkang ndherek ing pakaryanipun Gusti. Sedaya kalawau saged dados pitedah kados pundi kriprahipun brayat ing jagad punika. Kadospundi brayat saged tegen lan tatag ngadepi mangsa utawi musim gugur. Sanadyan saweg nemahi musim gugur, brayat tetep kedhah nglampahi tugas lan tanggel jawabipun kanthi setya tuhu lan manut dhumateng Gusti Allah. Brayat kedah tetap saged dados talanging berkah kangge sesami. Brayat kedah saestu ngakeni lan nindhakaken bilih ingkang utami lan pinunjul ing gesang punika boten wonten kajawi ing Gusti kita Yesus Kristus. Brayat kedhah fokus namung dhumateng Gusti. Boten wonten sanesipun ingkang saged mberkahi lan maringi kawilujengan dhateng brayatipun. Saestu Gusti Yesus punika boten wonten tandinganipun ing jagad punika.

Panutup
Sumangga minangka tiyang estri, kita dados damar ing satengahing jagad ingkang peteng punika, ing satengahing jagad ingkang kathah prekawis punika, ing sathengahing brayat ingkang saweg nemahi musim gugur, matemah kita saged ngestokaken bilih brayat kita sumadya ndherek ing pakaryanipun Gusti. Dikadospundi kawontenaning gesang kita, tiyang estri katimbalan dados agen panggulawentah, ngrimati, lan dados sekabatipun anak-anak kita, ugi kedah saged njagi keseimbangan antawisipun kabetahan lan pepinginan, njagi ketahanan pangan ing satengahing pagebluk Covid-19 punika. Pramila punika, wigatos sanget kangge tiyang estri nglampahi gesang ingkang celak lan rumaket kaliyan Gusti Yesus. Kados dene Maryam ingkang remen lenggah nyelak sukunipin Gusti Yesus lan tansah mirengaken punapa ingkang dados pangandikanipun Gusti. Supados anggenipun leladi ing satengahing brayat saged nularaken semangat lan kakiyatan ingkang sae lan prayogi. Sanadyan saweg nandhang prahara, brayat kedah tansah enget punapa ingkang dados timbalanipun. Brayat punika minangka kakiyataning gesangipun greja lan negari. Lan tiyang estri dados perangan ingkang wigatos ing salebeting gesang bebrayatan, inggih minangka dados damar lan talanging berkah.

Tiyang estri mesthinipun boten namung migunani kangge brayatipun piyambak ananging ugi saged dados talanging berkah kangge sesami. Tiyang estri saged dados talanging berkah kangge sedherekipun, grejanipun lan negarinipun. Kados dene Marta ingkang repot sanget anggenipun leladi. Ananging kita ugi sinau saking kakiranganipun Marta inggih punika kirang fokus dhumateng Gusti, malah kepara nggresula lan nglepataken tiyang sanes. Kanthi tulusing manah leladi kagem kaluhuran asmanipun Gusti lan tansah nyelak dhumateng Gusti awit lumantar punika sedaya badhe ndadosaken tiyang estri anggenipun nindhakaken sedaya samukawis namung fokus dhumateng Gusti Allah. Boten fokus kaliyan dirinipun piyambak lan prekawis jagad punika.

Sumangga dados tiyang estri ingkang boten gampil semplah, dados priyantun ingkang tatag lan tanggon ngadepi sedaya samukawis ing jagad punika. Sae ingkang mbingahaken makaten ugi ingkang mrihatosaken. Kita saged tatag tanggon bilih gesang kita celak rumaket dhumateng Gusti Allah ingkang murbeng jagad punika. Bilih para tiyang estri tatag tanggon, brayatipun mesthi badhe tatag tanggon ugi. Nyunaraken kaendahan sanadyan ing mangsa ingkang mrihatosaken utawi musim gugur. Mugi Gusti Yesus tansah ngayomi lan mberkahi para tiyang estri ingkang sumadya nyelakaken lan ngraketaken gesangipun dhumateng Gusti Allah. Boten namung ngakeni bilih Gusti Allah punika pinunjul ananging ugi wujudaken lumantar gesangipun ingkang sae, gesangipun ingkang ngrimati brayat kanthi temen-temen, gesangipun ingkang dados talanging berkah kangge sesaminipun. Roh Suci mitulungi lan nenuntun dhateng para tiyang estri. Amin. [Life].

 

Pamuji: KJ. 320 : 1, 2 Kang Nuntun Laku Utama

 

Bagikan Entri Ini: