Membangun yang Tidak Lenyap dalam Sekejab Khotbah Minggu 31 Juli 2022

Minggu Biasa | Penutupan Bulan Keluarga
Stola Hijau

Bacaan 1: Pengkhotbah 1 : 2, 12 – 14; 2 : 18 – 23
Bacaan 2:
Kolose 3 : 1 – 11
Bacaan 3: Lukas 12 : 13 – 21

Tema Liturgis: Keluarga yang Ikut Serta dalam Karya Allah
Tema Khotbah: Membangun yang Tidak Lenyap dalam Sekejab

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Pengkhotbah 1 : 2, 12 – 14 ; 2 : 18 – 23
Tema tentang kesia-siaan mewarnai tulisan Pengkhotbah, bahkan sejak permulaan kitabnya. Ia menampilkan dirinya sebagai seorang dengan pendidikan dan relasi yang baik di berbagai bidang. Segala sesuatu ia amati, periksa dan selidiki (1:13) dengan mengandalkan hikmat. Pengakuannya sebagai raja Israel membuat pengetahuannya terhadap segala yang terjadi dalam kehidupan ini cukup luas. Bagaimanapun kerasnya perjuangan hidup itu dilakukan melalui pekerjaan dan segala tindakan, kesia-siaan itu tetap akan dijumpai pada akhirnya. Jika semua akan sia-sia, apa artinya jerih payah yang dilakukan manusia? Melalui pertanyaan semacam itu, Pengkhotbah serasa ingin mengajak setiap orang untuk selalu merefleksikan segala tindakannya dan tidak membuatnya berlalu begitu saja.

Pengkhotbah nampaknya juga seorang pekerja keras, betapapun ada keraguan apakah hasil pekerjaannya itu akan jatuh pada generasi sesudahnya dengan sikap yang baik atau tidak. Di titik itu, Pengkhotbah mengajak setiap orang yang berjerih lelah untuk menikmati dan bersenang-senang atasnya. Hal itulah yang diungkapkan sampai akhir perikop. Manusia yang memandang segalanya sia-sia diajak untuk bersyukur atas apa yang masih bisa dijalani. Kerja keras tanpa dibarengi dengan kesadaran bahwa segala yang baik datang dari tangan Allah, itulah yang sungguh sia-sia.

Kolose 3 : 1 – 11
Pada bagian ini Rasul Paulus meyakinkan jemaat Kolose bahwa status mereka sebagai pribadi yang sudah dibangkitkan Allah bersama dengan Kristus, pada dasarnya menjadikan mereka sebagai ciptaan baru. Kehidupan lama yang pernuh dosa telah mati dalam peristiwa baptisan. Apa yang harus dilakukan dengan status sebagai ciptaan baru? Nasihat untuk mencari perkara yang di atas adalah nasihat untuk sungguh-sungguh hidup di dalam Tuhan Yesus. Itulah hidup baru yang menampakkan perubahan hidup yang nyata. Tidak ada lagi gaya hidup lama yang tertinggal, seperti percabulan, kenajisan, hawa nafsu dan keserakahan. Paulus menyamakan itu seperti halnya menyembah berhala, hidup yang jauh di luar Tuhan dan justru mendatangkan murka-Nya.

Hidup sebagai ciptaan baru adalah hidup yang terarah dan berfokus pada Kristus. Setiap orang hendaknya senantiasa bersedia untuk dibaharui terus menerus sehingga segala yang dipikir dan lakukan adalah upaya untuk memenuhi gambar Allah. Segala hal duniawi yang hanya menuruti kepuasan diri (Ay. 8-9) harus ditinggalkan, karena ciptaan baru dalam Kristus harus ditunjukkan melalui kesediaannya untuk melibatkan kehadiran Kristus di dalam segala yang dilakukannya.

Lukas 12 : 13 – 21
Bacaan kita mengisahkan seorang yang menginterupsi Yesus saat sedang mengajar tentang hal-hal penting dalam hidup dengan permintaan untuk menyelesaikan masalah pembagian warisan. Sebagaimana para rabi diminta untuk menengahi masalah keluarga, permintaan kepada Yesus itu menyiratkan tindakan yang sebenarnya menjadi teguran Yesus terhadap sikap kikir yang dimiliki orang Farisi (11:39-42). Anggapan yang sedemikian penting terhadap harta akan mendorong seseorang menjadi tamak karena merasa bahwa harta adalah segalanya.

Yesus menjadikan kesempatan itu untuk menceritakan perumpamaan mengenai jerat kekayaan. Yesus mengajarkan hidup itu jauh lebih berarti daripada segala harta. Manusia tidak bisa menggantungkan hidupnya pada harta, melainkan hanya kepada Allah. Orang yang menggantungkan hidupnya pada harta adalah orang bodoh, karena di tengah segala kekayaan itu, ia justru kehilangan kepekaan pada sesuatu yang penting.

Orang dengan banyak harta mengira bahwa ia bisa mengendalikan hidupnya, menimbun begitu banyak sampai tidak cukup ruang untuk menyimpannya. Tindakan itu justru menampakkan betapa miskinnya ia di hadapan Allah. Tidak ada ruang dalam hati dan pikirannya untuk berbagi kepada orang lain atas banyaknya harta yang ia punyai.

Pesan penting yang digemakan pada bagian ini adalah orang harus kaya di hadapan Allah, kekayaan di dunia itu belum cukup. Caranya adalah dengan tidak menganggap bahwa harta adalah segalanya, melainkan Allah adalah segalanya. Orang diajak untuk beralih dari mengejar berkat menjadi berfokus pada sumber berkat itu sendiri. Mengandalkan sumber berkat itu jauh lebih berarti dari segala harta. Harta bisa lenyap dalam sekejab, namun sikap hidup yang berpaut pada Allah akan abadi. Seandainya apa yang dimiliki hilang dalam sekejab, ia akan mampu berjuang karena memiliki harta yang tak akan lenyap.

Benang Merah Tiga Bacaan:
Segala sesuatu dalam hidup bisa berakhir dalam kesia-siaan. Harta dan kekayaan yang dikejar begitu rupa dapat lenyap dalam sekejab. Oleh karena itu, setiap orang seharusnya tidak menggantung hidup padanya, namun memikirkan perkara yang lebih besar. Mengandalkan hidup dan berpaut pada Allah Sang Sumber Berkat akan memampukan setiap orang untuk memperbarui hidupnya.

 

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silahkan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing).

Pendahuluan
Dalam hidup ini semua orang bercita-cita bisa bekerja dan mendapatkan pekerjaan yang baik. Menurut saudara-saudara, mengapa dan untuk apa orang itu bekerja? Mari sejenak mengingat pekerjaan yang kita jalani. (warga jemaat dapat diberi waktu sejenak untuk berpikir, kemudian berbagi/ bercerita dengan orang di sebelahnya.)

Banyak orang merasa bahwa alasan orang bekerja itu adalah uang. Karena orang tidak makan batu, tapi nasi dengan lauk tahu. Namun demikian, beberapa pekerja saat ini mengakui bahwa bekerja itu memang tidak lagi sekedar membuat asap dapur tetap mengepul. Ada alasan lain ketika orang bekerja, seperti: mencari pengalaman baru, mengembangkan talenta, mendapat kesempatan untuk bertumbuh dan berdampak bagi orang lain, menjalin relasi dengan banyak orang, ingin mencapai tujuan hidup dan merasakan kebahagiaan, mencari pengakuan, karir dan gengsi, atau menganggap bahwa bekerja itu panggilan, bekerja itu ibadah. Mungkin masih ada alasan dan tujuan lain di luar yang saya sebutkan tadi, sebagaimana yang tadi saudara ungkapkan.

Isi
Setiap orang bisa memiliki bermacam-macam alasan dan tujuan masing-masing tentang apa yang dikerjakannya, namun sebagai orang percaya, kita perlu memikirkan alasan yang lebih besar dan dalam. Bukan sesuatu yang sementara, apalagi yang akan hilang dalam sekejab. Jika itu yang terjadi, maka segala perjuangan dan kerja keras akan menjadi sia-sia belaka. Hal yang demikian ini perlu dihadapi dengan sikap bijak, yang menurut Pengkhotbah nampak dalam kerja keras yang dibarengi dengan kesadaran bahwa segala yang baik datang dari tangan Allah. Tanpa sikap itu, semuanya sungguh sia-sia. Dalam bahasa Paulus, ini adalah panggilan untuk hidup sebagai ciptaan baru, yang terarah dan berfokus hanya pada Kristus. Hal demikian seharusnya nampak dalam kesediaan umat untuk memikirkan dan melakukan segala sesuatu demi memenuhi gambar Allah dalam dirinya.

 Segala hal duniawi yang hanya menuruti kepuasan diri (Ay. 8-9) harus ditinggalkan, karena ciptaan baru dalam Kristus harus nampak melalui kesediaannya untuk melibatkan kehadiran Kristus di dalam segala yang dilakukannya. Oleh karena itu, semua yang dipikir dan dilakukan termasuk dalam pekerjaan dan aktivitas harian bukan hanya urusan horisontal, antara kita dan sesama, namun menjadi urusan vertikal juga. Urusan dengan Tuhan berarti urusan melampaui yang sementara dan sekejab saja. Di titik ini, seseorang seharusnya tidak melakukan segala rencana berdasarkan apa yang cocok dan menyenangkan saja. Segala yang kelihatan dan nampak memberikan kebahagiaan harus dipertimbangkan dalam terang Tuhan. Apakah hal itu baik, penting, benar, dan berharga untuk kehidupan yang harus memenuhi gambar Tuhan.

Kisah seorang yang datang menginterupsi Yesus demi dibantu agar masalahnya selesai adalah hal biasa pada waktu itu, sebagaimana para rabi biasanya diminta untuk menengahi masalah keluarga. Kejadian itu lantas menjadi pintu masuk bagi Yesus untuk mengkritisi sikap banyak orang, termasuk orang Farisi (11:39-42) yang memandang harta menjadi sesuatu yang begitu penting, bahkan berpotensi mendorong seseorang menjadi tamak karena merasa bahwa harta adalah segalanya. Memang, sebagian orang merasa bahagia ketika memiliki harta yang melimpah, namun kebahagiaan tidak bergantung padanya. Padahal Keluarga yang damai dalam tuntunan kasih Tuhan adalah harta yang berharga dan dapat menjadi sumber kebahagiaan.

 Melalui perumpamaan mengenai jerat kekayaan, Yesus mengajarkan bahwa hidup itu jauh lebih berarti daripada segala harta. Manusia tidak bisa menggantungkan hidupnya pada harta, melainkan hanya kepada Allah. Orang yang menggantungkan hidupnya pada harta adalah orang bodoh karena di tengah segala kekayaan itu, ia justru kehilangan kepekaan pada sesuatu yang penting dalam hidup. Orang dengan banyak harta mengira bahwa ia bisa mengendalikan hidupnya, menimbun begitu banyak sampai tidak cukup ruang untuk menyimpannya. Tindakan itu justru menampakkan betapa miskinnya ia di hadapan Allah. Tidak ada ruang dalam hati dan pikirannya untuk berbagi kepada orang lain atas banyaknya harta yang ia punyai.

Apa itu berarti orang Kristen tidak boleh bekerja keras dan menjadi kaya? Pesan hari ini bukan larangan untuk itu. Pesan penting yang digemakan adalah setiap orang harus kaya di hadapan Allah, karena kekayaan di dunia itu tidak cukup, hanya sementara dan dapat hilang dalam sekejab. Sikap bijak yang harus dibangun adalah tidak menganggap harta adalah segalanya, melainkan Allah adalah segalanya. Orang diajak untuk beralih dari mengejar berkat menjadi berfokus pada sumber berkat itu sendiri. Mengandalkan sumber berkat itu jauh lebih berarti dari segala harta. Harta bisa lenyap dalam sekejab, namun sikap hidup yang berpaut pada Allah akan abadi. Seandainya apa yang dimiliki hilang dalam sekejab, ia akan mampu berjuang karena memiliki harta yang tak akan lenyap.

Penutup
Tidak ada yang abadi di dunia termasuk harta dan usia. Supaya apa yang sementara ini tidak sia-sia, kita dipanggil untuk bijak menata dan mengelolanya. Keluarga adalah tempat pertama dan utama bagi setiap pribadi bertumbuh mengandalkan Tuhan dalam setiap rencana, usaha, dan kerja. Orang-orang dewasa perlu menjadi teladan menghindarkan sikap tamak – mengejar kekayaan sebanyak-banyaknya – dengan memperbanyak sikap yang kaya di hadapan Tuhan – mengejar kebaikan sebanyak-banyaknya dengan berapapun kekayaan yang dipunyainya. Keluarga yang bahagia adalah mereka yang tidak hanya bersyukur atas harta yang dimiliki, namun terlebih atas kebaikan, kedamaian, kerukunan yang mereka bangun bersama. Keluarga yang kaya adalah mereka yang menyadari bahwa apa yang mereka miliki bersumber dari Tuhan, Sang Pemilik Berkat. Sehingga ketika mereka mengarahkan hidup pada-Nya, berkat itu akan diberikan. Ketika berkat diterima, akan dikembangkan, dikelola dan ditatalayani dengan mengandalkan Tuhan untuk segala yang baik dan menjadi saluran berkat.

Dalam titik tertentu, apa yang dimiliki keluarga itu mungkin akan hilang dan lenyap, namun keluarga yang berpaut pada Tuhan tidak merasa benar-benar kehilangan dan tidak memiliki apa-apa, karena yang ia cari selama ini bukan berkatnya, namun sumber berkat yang akan membuatnya tidak kekurangan. Bukankah semangat demikian ini yang membuat orang tetap hidup? Badai apapun yang menyerang keluarga akan dihadapi dengan mengandalkan Tuhan, tetap melangkah di jalan Tuhan, selalu merasa cukup dan tidak kekurangan. Sikap yang demikian tentu tidak tumbuh dalam sekejab, namun perlu dibangun terus menerus sejak dalam keluarga. Amin. [KRW].

 

Pujian: KJ. 407 : 1, 2 Tuhan, Kau Gembala Kami


Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)

Pambuka
Ing gesang punika, kathah tiyang nggadahi pangangen-angen saged makarya lan nggayuh pedamelan ingkang sae. Miturut para sedherek, kenging punapa lan kangge punapa tiyang punika nyambut damel? Mangga, ngengeti pedamelan ingkang kita ayahi. (Warga pasamuwan kaparingan wekdal kangge nggalih, lajeng andum cariyos kaliyan sedherek ing celakipun).

Kathah tiyang rumaos bilih alasan tiyang nyambut damel punika arta, karana tiyang boten dhahar sela nanging sega. Senaosa mekaten, saperangan tiyang ngakeni bilih nyambut damel punika boten namung kangge ndadosaken pawonipun tetep kemebul dening kelug. Wonten alasan sanes kenging punapa lan kangge punapa tiyang nyambut damel, kados ta : pados pengalaman enggal; ngrembakaning talenta lan kabisan; saged nuwuhaken diri lan migunani tumrap sesami; mbangun sesambetan kaliyan tiyang kathah; ngraosaken kabingahan; nggayuh pangaken saking tiyang sanes, karir lan gengsi; utawi nganggep bilih nyambut damel punika timbalan, minangka ibadah. Mbok menawi ugi taksih wonten alasan sanes ingkang dereng kasebat ananging sampun panjenengan aturaken.

Isi
Saben tiyang saged nggadhahi maneka warni alasan lan tujuan gegayutan kaliyan punapa ingkang dipun lampahi. Ananging, minangka tiyang pitados, kita perlu nggalih bab ingkang langkung lebet. Sanes bab ingkang saged muspra lan gampil ical, supados sedaya tumindak ingkang kalampahan kanthi sengkut, boten badhe nglaha. Kahanan punika kedah kaadhepi kanthi wasis, ingkang miturut Kohelet katingal saking pedamelan kesaenan ingkang linambaran kesadaran bilih sedaya pakaryan sae punika mijil saking astanipun Gusti Allah. Tanpa pemanggih punika, sedaya saestu nglaha lan muspra. Wonten ing pemanggihipun Rasul Paulus, punika minangka timbalan kangge tiyang pitados supados gesang minangka titahan enggal, ingkang ngener tumuju ing Sang Kristus. Tiyang pitados kedah ngetingalaken diri ingkang sumadya menggalih lan nindakaken sedaya ingkang nyunaraken pasuryanipun Allah.

Bab kadonyan ingkang namung nuruti nepsu lan kesenengan diri (Ay. 8-9) kedah dipun bucal. Titahan enggal ing Sang Kristus kedah mawujud lumantar kesaguhanipun nindakaken samubarang kanthi nyumanggaaken Gusti Yesus makarya lan terlibat. Pramila, sedaya ingkang karancang lan katindakaken ing pedamelan saben dinten sejatosipun boten namung urusan horisontal, kita lan sesami, ananging ugi dados urusan vertikal. Prekawis ingkang gegayutan kaliyan Gusti ateges prekawis ingkang gegayutan kaliyan kelanggengan, boten namun sekdhap lan samangke. Ing titik punika, sejatosipun tiyang boten namung tumindak adhedhasar punapa ingkang cocok lan mbingahaken kemawon. Sedaya ingkang ketingal, kedah dipun penggalih wonten ing pepadhangipun Gusti. Punapa bab punika sae, wigati, lan prayogi kangge gesang ingkang nyunaraken citranipun Gusti.

Carios bab tiyang ingkang sowan nginterupsi Gusti Yesus supados ngrampungaken masalah warisan punika bab ingkang limrah. Para rabi asring kasuwun nengahi masalah brayat. Prastawa punika dados margi kagem Gusti Yesus ngengetaken kathah tiyang, kalebet tiyang Farisi (11:39-42) ingkang mastani bilih bandha punika bab ingkang saestu wigati, saged dhawah ing watak karem bandha, rumaos bilih bandha punika ngungkuli samukawis. Pancen, saperangan tiyang rumaos bingah nalika bandhanipun kathah, nanging kabingahan boten gumantung ing ngriku. Brayat ingkang tentrem lan tresna asih wonten panuntuning Gusti punika bandha ingkang aji lan saged dados sumber kabingahan.

Lumantar pasemon bab jireting bandha, Gusti Yesus paring piwulang bilih gesang punika langkung aji tinimbang bandha ingkang asipat materi. Tiyang pitados boten pareng nyendhenaken gesangipun dhumateng bandha, nanging namung dhumateng Gusti Allah. Tiyang ingkang masrahaken gesangipun dhumateng bandha kasebut tiyang bodho, karana piyambakipun namung saged ngudi kasugihan nanging kecalan kepekaan dhumateng bab ingkang adi wonten ing gesang. Kasugihan boten badhe saged murugaken gesang tentrem, punapa malih menawi nimbun kathah ngantos boten wonten panggenan kangge nyimpen barang. Tumindak ingkang kados mekaten punika nedahaken bilih gesangipun mlarat ing ngarsanipun Gusti. Kados-kados boten wonten panggenan ing manah lan penggalihipun kangge andum berkah ingkang dipun gadhahi dhumateng tiyang sanes.

Punapa punika ateges tiyang Kristen boten pareng sengkut makarya lan dados sugih? Pangandika dinten punika boten nyariosaken bab mekaten. Pangatag ingkang wigati inggih punika saben tiyang ugi kedah sugih ing ngarsanipun Gusti, karana kasugihan lan badha ing donya boten cekap, punika namung sekedhap lan saged ical. Kita kaatag mbangun sikap ingkang wasis, ingkang boten nganggep bilih bandha punika samudayanipun, nanging Gusti Allah. Kita kaatag boten namung ngudi berkah nanging dhumateng sumbering berkah. Punika ingkang langkung adi, lan boten saged ical. Bandha saged ical, nanging gesang raket ing Gusti badhe ndadosaken gesang punika lestantun. Senaosa punapa ingkang dipun gadhahi ical, tiyang boten badhe nglokro, nanging badhe ngadhepi kanthi tatag.

Panutup
Boten wonten ingkang lestantun ing donya, kalebet bandha lan yuswa. Supados pakaryan ingkang kaudi boten nglaha, kita tinimbalan mranata kanthi wasis. Brayat punika panggenan utama kangge kita nuwuhaken iman ingkang nyumanggakaken Gusti mranata saben rancangan, pendamelan, lan usaha. Tiyang sepuh kedah dados tuladha bab nebihi watak karem bandha – nguber bandha kathah – lan nuwuhaken sikap ingkang sugih ing ngarsanipun Gusti Allah. Brayat ingkang bingah inggih punika brayat ingkang tansah saos sokur sepintena ingkang dipun gadhahi. Boten namung materi, nanging ugi bab kesaenan, katentreman, lan karukunan ingkang kaudi sesarengan. Brayat ingkang sugih punika mastani menawi sedaya ingkang dipun gadhahi punika mijil saking Gusti, sumbering berkah. Pramila, nalika gesang raket kaliyan sumbering berkah, berkah badhe kaparingaken.

Menawi punapa ingkang dipun gadhahi ical, brayat ingkang sumendhe ing Gusti boten badhe rumaos saestu kecalan lan boten gadhah punapa-punapa. Sumbering berkah ingkang badhe nyekapi sedaya kabetahan lan boten badhe kekirangan. Kadosa pundi awrating gesang, badhe kaadhepi kanthi pasrah ing Gusti lan lumampah ing marginipun. Watak ingkang kados mekaten punika, boten ujug-ujug, nanging kedah kabangun wiwit saking brayat ing satengahing gesang bebrayan. Amin. [KRW].

 

Pamuji: KPJ. 416 Saprakara Kang Pantes

 

Bagikan Entri Ini: