Minggu Biasa / Minggu V Setelah Epifani
Stola Hijau
Bacaan 1 : Yeremia 17 : 5 -10.
Mazmur : Mazmur 1 : 1 – 6.
Bacaan 2 : I Korintus 15 : 12 – 20
Bacaan 3 : Lukas 6 : 17 – 26.
Tema Liturgis : “Melakukan Kehendak Allah Sambil Meyakini Kasih PemeliharaanNya”.
Tema Khotbah : “Mengandalkan Kuasa Tuhan Yang Memberi Kesembuhan”
KETERANGAN BACAAN
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah).
Yeremia 17 : 5 – 10
Ayat 5-6, nabi Yeremia mengingatkan Israel tentang celakanya, bahkan terkutuklah orang yang mengandalkan manusia. Orang terkutuk bisa dikatakan sebagai orang yang sudah “terbuang” dari hadapan Allah. Mengandalkan manusia bisa berarti mengandalkan diri sendiri ataupun orang lain. Semua itu tidak ada artinya dan tidak bisa menyelamatkan (tidak mengalami keadaan baik – ayat 6).
Sebaliknya, orang yang mengandalkan Tuhan dikatakan sebagai orang yang diberkati (ayat 7). Berkat Tuhan itu bukan saja berupa kebaikan yang bisa dinikmati sendiri, tetapi juga bisa dinikmati orang lain (tidak mengalami panas terik atau penderitaan, daunnya tetap hijau yang siap memberikan perlindungan dan manfaat, tidak berhenti menghasilkan buah yang berarti menjadi berkat bagi orang lain juga).
Di ayat 9-10, nabi Yeremia menyatakan bahwa kehidupan seseorang itu akan mengandalkan manusia atau mengandalkan Tuhan ternyata tergantung dari hatinya. Hati manusia memegang peranan penting dalam memutuskan sesuatu termasuk akan mengandalkan manusia atau mengandalkan Tuhan. Hati tidak bisa berbohong. Meskipun sering kali tersembunyi bagi sesama manusia, tetapi di hadapan Tuhan hati manusia tidaklah bisa disembunyikan. Hal yang paling tersembunyi sekalipun, Tuhan mengetahuinya. Termasuk motifasi dan alasan seseorang melakukan sesuatu. Keberdosaan manusia sering kali dimulai dari hatinya. Apapun itu, itulah yang akan membawa pada “pengadilan” Tuhan.
I Korintus 15 : 12 – 20
Ayat 12 ingin menjelaskan tentang kebangkitan tubuh. Hal ini dikarenakan banyak orang-orang Yunani pada saat itu yang tidak percaya adanya kebangkitan tubuh sebagai mana yang diajarkan oleh Paulus. Sebagaimana paham filsafat yang berkembang saat itu, mereka hanya mengakui adanya kebangkitan jiwa/roh. Pemahaman seperti itu menjadikan orang-orang kristen Yunani mengalami kesulitan untuk memahami ajaran tentang kebangkitan tubuh yang dialami oleh Tuhan Yesus. Bahkan di ayat 20 Paulus menyatakan bahwa kebangkitan Kristus itu menjadi yang sulung. Artinya, semua orang percaya kepada Kristus juga akan mengalami hal yang sama.
Ajaran tentang kebangkitan Kristus ini menjadi pusat pemberitaan iman kristen. Jika kita meyakini tentang kebangkitan Kristus dari kematian, itu artinya kitapun meyakini akan keilahianNya. Kristus memang mati dan bangkit dari kematian. KebangkitanNya dari kematian ini bukti kemenanganNya dari maut / kuasa dosa. Dan Kristus juga memberi kemenangan pada semua orang percaya dan juga akan membangkitkan mereka semua dari kematian. Tanpa kebangkitan Kristus dari kematian, manusia tidak mungkin menerima pengampuanan dosa dan artinya juga tidak bisa menerima hidup kekal.
Lukas 6 : 17 – 26
Kemanapun Tuhan Yesus pergi, tampaknya tidak pernah lepas dari kerumunan orang-orang sakit dan lain-lain yang membutuhkan pertolonganNya. Ada orang-orang sakit yang memiliki keyakinan bahwa hanya dengan menjamah Dia, maka mereka akan menerima kuasa dariNya yang memberi kesembuhan (ayat 19). Hal ini menunjukkan kepercayaan atau keyakinan yang luar biasa dari orang banyak itu tentang kuasa Tuhan Yesus. Dan ayat 19 juga menjelaskan bahwa semua orang yang membutuhkan kesembuhan itu memang semua mengalami kesembuhan. Tidak ada yang ditolak. Bukan saja penyakit secara jasmani, tetapi juga ada orang-orang yang kerasukan roh-roh jahat (ayat 18). Kuasa Yesus yang menyembuhkan ternyata tidak pandang bulu. Siapapun mereka dan sakit apapun mereka. Tuhan Yesus tahu bahwa mereka membutuhkan pertolongan. Dan keyakinan yang luar biasa terhadap kuasa Yesus, sungguh sangat menolong mereka hingga tetap berusaha untuk menjamah Dia atau merasakan kuasaNya yang memberi kesembuhan.
Ayat 20 – 23 adalah ucapan bahagia yang paralel dengan khotbah Tuhan Yesus di bukit sebagai mana ditulis dalam Matius 5 : 1 -12. Memang tidak persis sama, tetapi intinya sangat mirip. Bahkan dalam Lukas 6 : 24 – 26 ditambahkan pengajaran tentang hal-hal yang “berlawanan” dengan ucapan bahagia. Artinya, ketika seseorang tidak melakukan seperti dalam ucapan bahagia itu, maka dia harus siap mendapat celaka atau disebut sebagai orang celaka / tidak bahagia. Sedangkan orang yang melakukan sebagaimana dalam ucapan bahagia itu menjadi orang yang diberkati.
Kenyataan yang diajarkan Tuhan Yesus sebagai orang yang berbahagia itu (miskin, lapar, menangis, dibenci, dikucilkan, ditolak) secara duniawi justru orang-orang yang menderita. Bagaimana mungkin mereka akan berbahagia ? Tetapi di akhir masing-masing kalimat yang berkonotasi membawa penderitaan itu selalu diakhiri dengan kenyataan yang membahagiakan. Artinya, situasi yang menurut dunia pada umumnya itu merupakan situasi yang penuh penderitaan, orang masih bisa tetap berharap menemukan situasi yang sebaliknya. Hal ini menjadikan kehidupan manusia yang selalu ada dalam pengharapan dan menilai sebuah situasi itu tidak cukup hanya berdasarkan penilaian duniawi saja. Demikian juga situasi yang berlawanan dengan itu di ayat 24 – 26. Apa yang dilukiskan tampaknya situasi membahagiakan secara duniawi, justru bisa membawa manusia dalam celaka, karena sudah terlanjur merasa “nyaman”.
Benang Merah Tiga Bacaan
Meyakini kasih dan pemeliharaan Tuhan antara lain diwujudkan dalam hidup yang mengandalkan Tuhan,walaupun apa yang dihadapi seringkali tidak sesuai dengan yang dipahami orang-orang pada umumnya. Hidup yang mengandalkan Tuhan dan dalam berkat Tuhan itulah yang menjadikan manusia menikmati kebahagiaan.
RANCANGAN KHOTBAH : Bahasa Indonesia.
(Ini hanya sebuah rancangan, silakan dikembangkan sesuai konteks Jemaat)
SEMUA DISEMBUHKAN.
(Nats : Lukas 6 : 19)
Pendahuluan.
Istilah sembuh konotasinya selalu berhubungan dengan sakit. Berbagai macam penyakit memang bisa menyerang manusia. Penyakit menyerang manusia secara fisik, secara mental (seperti orang kerasukan setan dalam bacaan 3), maupun secara rohani (seperti orang yang menolak ajaran tentang kebangkitan di bacaan 2). Apapun jenis penyakitnya, baik itu yang menyerang fisik, mental maupun rohaninya, pada umumnya semua orang berharap untuk sembuh. Berbagai upaya rela mereka lakukan demi mendapatkan kesembuhan. Mereka sangat berharap pada pihak yang dianggap bisa diandalkan untuk menyembuhkannya.
Pada intinya, semua orang mengharapkan kesembuhan dari sakitnya.
Isi
Penyembuhan yang diberikan oleh Tuhan Yesus kepada manusia adalah penyembuhan yang menyeluruh. Dalam Lukas 6 : 17 – 19 dinyatakan, kemanapun Tuhan Yesus pergi, selalu dikerumuni orang-orang sakit yang mengharapkan kesembuhan. Mereka yang datang itu bukan saja yang sakit secara fisik, tetapi juga secara mental karena kerasukan roh-roh jahat (ayat 18). Mereka yang datang ini ternyata bukan saja berharap mendapat kesembuhan, tetapi juga untuk mendengarkan pengajarannya. Pengajaran yang Tuhan Yesus berikan ternyata tidak dilepaskan dari karyaNya untuk menyembuhkan orang sakit. Pemberitaan dan pengajaran Tuhan Yesus juga disertai tindakan nyata menyembuhkan orang sakit. Berbagai penyakit Ia sembuhkan.
Menarik untuk kita simak di ayat 19 bahwa semua orang yang berharap mendapatkan kesembuhan itu juga berusaha menjamah Dia. Pengharapan untuk bisa menjamah Tuhan Yesus itu tidaklah terlepas dari keyakinan mereka pada kuasa Tuhan Yesus. Mereka sangat yakin bahwa hanya dengan menjamah Dia, maka kuasaNya akan menyembuhkan mereka. Dengan kata lain, mereka sangat mengandalkan kuasa Tuhan Yesus yang mereka yakini pasti bisa menyembuhkan mereka dari berbagai macam penyakit. Mengandalkan Tuhan Yesus berarti juga meyakini kuasanya yang bisa menyembuhkan semua orang, apapun penyakitnya. Dengan hanya menjamah Dia, berinteraksi secara langsung dengan Dia, mereka yakin bahwa Tuhan Yesus tahu tentang segala penyakit mereka dan memberi kesembuhan pada mereka. Tuhan Yesus tidaklah terpisahkan dari kuasaNya yang membebaskan dari berbagai penyakit.
Mengandalkan kuasa Tuhan Yesus yang memberi kesembuhan menjadikan orang banyak itu terus berharap hanya kepada Dia supaya mengalami kebahagiaan (sembuh). Kebahagiaan yang Tuhan Yesus ajarkan memang berbeda dari yang biasa dipahami oleh orang-orang di dunia ini. Apakah orang yang tidak bahagia itu termasuk orang “sakit” yang membutuhkan kesembuhan dari Tuhan Yesus ? Dalam pengajaran Tuhan Yesus, yang dikategorikan orang bahagia itu yang seperti apa ?
Lukas 6 : 20 – 23 menyatakan bahwa menurut Tuhan Yesus, orang yang berbahagia itu adalah orang yang miskin, yang lapar, yang menangis, yang dibenci, yang dikucilkan, yang dicela. Orang-orang dalam situasi seperti ini dalam ukuran duniawi adalah orang-orang yang tidak mungkin bahagia. Karena hidup mereka serba dalam keterbatasan, atau sebagaimana kondisi orang sakit. Tetapi Tuhan Yesus mengatakan yang sebaliknya. Orang-orang yang dalam pandangan dunia itu menderita dan sakit, justru mereka inilah yang memiliki pengharapan untuk menerima penyembuhan dari Tuhan. Itulah sebabnya mereka harus tetap berpengharapan bahwa Tuhan akan mengubah keadaan mereka menjadikan situasi yang sebaliknya.Orang yang tidak sakit secara fisik belum tentu menjadi orang yang bahagia. Jika mereka tetap berpengharapan seperti itu, artinya mereka termasuk orang-orang yang mengandalkan Tuhan. Dan dalam bacaan 1 disebutkan bahwa orang-orang yang mengandalkan Tuhan itulah orang yang berbahagia dan akan menemui keselamatan dalam hidupnya.
Dalam pengajaranNya, Tuhan Yesus bukan hanya menunjukkan orang-orang yang berbahagia itu yang seperti apa, tetapi sekaligus memberikan bukti bahwa orang yang dianggaptidak bahagia karena sakit itu juga disembuhkanNya. Mereka yang tidak bahagia itu mau datang kepada Tuhan Yesus, berelasi secara langsung dengan Dia (menjamah), yakin akan kuasaNya yang menyembuhkan, pastilah mereka disembuhkan. Tuhan Yesus tidak saja menyembuhkan penyakit fisik / jasmani saja, tetapi juga penyakit mental dan rohani yang berupa ketidak-bahagiaan. Yang jelas, mereka juga berusaha mendapatkan kesembuhan itu, tidak pasif.
Orang-orang yang telah menerima kesembuhan dari Tuhan Yesus jelaslah sangat bahagia. Tetapi mereka harus tetap menjaga dirinya supaya tidak jatuh pada kehidupan sebagaimana yang dikatakan sebagai orang-orang yang celaka di ayat 24 – 26. Yaitu orang-orang kaya, kenyang, tertawa, suka dipuji. Mereka dikategorikan menjadi orang-orang celaka karena dari situasi yang mereka alami itu menjadikan mereka tidak lagi mengandalkan Tuhan sebagai Sang Penyembuh. Mereka merasa terhibur oleh kekayaannya, karena apa yang membuat mereka kenyang, karena apa yang menjadikan mereka tertawa dan juga dipuji. Pada akhirnya semua itu menjadi bagian penting dalam hidupnya. Ini sangat berbeda dengan situasi orang-orang yang berusaha menjamah Tuhan Yesus supaya mendapat kesembuhan. Menjamah, berelasi dengan Tuhan Yesus menjadi bagian yang amat penting dalam hidupnya, karena mereka yakin pada kuasa Yesus yang menyembuhkan mereka. Dan jelas, keyakinan dan pengharapan mereka itu tidak sia-sia, karena ternyata Tuhan Yesus menyembuhkan mereka semua (ayat 19).Usaha mereka untuk menjadi sembuh itu tidaklah sia-sia.
Berusaha untuk menjamah Tuhan Yesus ini merupakan salah satu wujud peran aktif dari orang-orang yang sakit itu. Selain keyakinan pada kuasa Tuhan Yesus, mereka juga berusaha melakukan sesuatu sebagai bukti nyata atas keyakinan mereka itu. Mereka tidak diam saja. Mereka berusaha untuk menjamah, ada upaya yang dilakukan. Mereka tidak pasif saja, tetapi aktif melakukan sesuatu berdasarkan keyakinan pada kuasa Tuhan Yesus. Dan Tuhan Yesus tahu dan menghargainya. Sebagai buktinya yaitu Tuhan Yesus menyembuhkan mereka semua (ayat19).
Penutup.
Orang yang tidak bahagiapun Tuhan Yesus sembuhkan, asalkan mereka mau berusaha “menjamah” Dia atau berusaha berelasi secara langsung dengan Dia dan menaruh seluruh pengharapan dan keyakinanNya hanya kepada Dia. Yang sering menjadi persoalan adalah jika orang yang bersangkutan tidak merasa sedang mengalami sakit rohani dan membutuhkan penyembuhan hanya oleh Tuhan Yesus. Karena tidak merasa sakit rohani, ya akhirnya juga tidakberusaha untuk menemui dan berelasi secara langsung dengan Tuhan Yesus. Akibatnya, kehidupan mereka sudah terkategorikan kehidupan orang-orang celaka.
Bacaan hari ini mengingatkan kita semua bahwa di saat kita merasa sakit, apapun penyakit itu, datanglah kepada Tuhan Yesus untuk minta kesembuhan. Gantungkanlah segala pengharapan untuk sembuh hanya kepada Dia. Berusahalah untuk “menjamah” Dia (berelasi langsung), pasti Dia memberikan kesembuhan. Sebab hanya Dia yang tahu penyakit apa yang sedang kita derita: penyakit fisik, mental atau penyakit rohani. Hanya kuasaNya yang sanggup menyembuhkan segala penyakit itu, dan Dia pasti menyembuhkannya. Yakin pada kuasa Tuhan bukan berarti pasif, tetapi harus aktif berusaha mewujudkan apa yang diyakini itu. Berbagai upaya, termasuk pengobatan secara medis juga bisa Tuhan pakai untuk mewujudkan kuasa penyembuhan dariNya. Berusaha terus untuk sembuh, karena kita meletakkan usaha itu di bawah keyakinan pada kuasa Tuhan Yesus yang mampu menyembuhkan segala penyakit melalui sarana yang Tuhan ijinkan. Amin. (YM).
Nyanyian : Kidung Jemaat 26 : 3, 4.
RANCANGAN KHOTBAH : Basa Jawi.
SEDAYA KASARASAKEN.
(Jejer : Lukas 6 :19)
Pambuka.
Tembung“waras” tamtu wonten sesambetanipun kaliyan penyakit. Werni-werni penyakit pancen saged dipun alami dening manungsa. Penyakit ingkang dipun alami manungsa saged awujud penyakit fisik, secara mental (kados dene tiyang kerasukan setan ing waosan 3), mekaten ugi secara rohani (kados tiyang ingkang nampik piwucal ing bab patangen kados dene waosan 2). Punapa kemawon penyakitipun, sae ingkang sesambetn kaliyan fisik, mental mekaten ugi karohanenipun, adatipun sedaya tiyang ngajeng-ajeng saged saras. Punapa kemawon katindakaken supados saged saras. Tiyang-tiyang punika saestu ngandelaken ingkang kapitados saged paring kasarasan. Wosipun, sedaya tiyang ngajeng-ajeng kesarasan saking penyakitipun.
Isi.
Kesarasan ingkang kaparingaken dening Gusti Yesus dhumateng manungsa punika kesarasan ingkang sawetah. Ing Lukas 6 : 17 – 19 kapratelakaken, ing pundi kemawon Gusti Yesus tindak, tansah dipun rubung dening tiyang-tiyang sakit ingkang ngajeng-ajeng kesarasan. Tiyang-tiyang ingkang sami dhateng punika boten namung sakit secara fisik, ananging ugi secara mental awit saking kerasukan setan (ayat 18). Tiyang-tiyang ingkang dhateng punika nyatanipun boten namung ngajeng-ajeng kasarasan, ananging ugi kangge mirengaken piwucalipun Gusti. Piwucal ingkang kaparingaken dening Gusti boten uwal saking pakaryanipun kangge nyarasaken para tiyang sakit. Pawartos lan piwucalipun Gusti Yesus ugi katindakaken kanthi nyarasaken tiyang sakit. Mawerni-werni penyakit kasarasaken.
Saestu elok kangge kita sinau, ing ayat 19 kaserat bilih sedaya tiyang ingkang ngajeng-ajeng kesarasan punika ugi mbudi daya ndemek Gusti Yesus. Pangajeng-ajeng kangge saged ndemek Gusti Yesus punika boten uwal saking kapitadosanipun dhumateng panguwaosipun Gusti Yesus. Para tiyang punika saestu pitados bilih namung kanthi ndemek kemawon, panguwaosipun Gusti tamtu saged nyarasaken. Kanthi tembung sanes, tiyang-tiyang punika saestu ngandelaken panguwaosipun Gusti Yesus ingkang kapitados tamtu saged nyarasaken saking samudaya penyakit. Kanthi namung ndemek Panjenenganipun, sesambetan langsung kaliyan Panjenenganipun, tiyang-tiyang punika pitados bilih Gusti Yesus pirsa ing bab sedaya penyakitipun lan paring kesarasan. Gusti Yesus boten saged kauwalaken saking panguwaosipun ingkang paring pangluwaran saking sedaya penyakit.
Ngandelaken panguwaosipun Gusti Yesus ingkang paring kesarasan ndadosaken tiyang kathah punika inggih namung ngandelaken Panjenenganipun supados ngalami karahayon (saras). Karahayon ingkang kawucalaken dening Gusti Yesus pancen benten saking punapa ingkang dipunmangertosi dening para tiyang ing ndonya punika. Punapa tiyang ingkang boten ngalami karahayon punika kalebet para tiyang “sakit” ingkang mbetahaken kesarasan saking Gusti Yesus ? Ing salebeting piwucalipun Gusti Yesus, ingkang kalebet tiyang rahayu punika ingkang kados pundi ?
Lukas 6 : 20 – 23 mratelakaken bilih miturut Gusti Yesus, tiyang ingkang rahayu punika tiyang ingkang mlarat, keluwen, nangis, ingkang dipun sengiti, dipun singkang lan dipun anggep awon. Tiyang-tiyang punika miturut ukuran ndonya kalebet tiyang-tiyang ingkang tamtu boten rahayu. Awit gesangipun sarwi winates, utawi kados dene kawontenanipun tiyang ingkang sakit. Ananging Gusti Yesus ngandika kosok wangsulipun. Tiyang-tiyang ingkang ing paningalipun ndonya punika ing salebeting panandhang lan sakit, punika malah para tiyang ingkang gadhah pangajeng-ajeng bilih Gusti badhe ngewahi kawontenanipun dan ndadosaken kawontenanipun dados kosok wangsulipun. Tiyang ingkang boten sakit secara fisik dereng tamtu dados tiyang ingkang rahayu. Menawi tiyang-tiyang punika tansah gadhah pangajeng-ajeng ingkang kados mekaten, tegesipun kalebet tiyang ingkang ngandelaken Gusti. Lan ing waosan 1 kaserat bilih tiyang-tiyang ingkang ngandelaken Gusti punika kalebet tiyang ingkang rahayu dan badhe nampeni kawilujengan ing gesangipun.
Ing piwucalipun, Gusti Yesus boten namung nedahaken kados pundi para tiyang ingkang rahayu punika, ananging ugi paring bukti bilih tiyang ingkang dipun wastani boten rahayu awit saking sakit punika ugi kasarasaken. Para tiyang ingkang boten rahayu punika purun marek dhateng Gusti Yesus, sesambetan langsung kaliyan Panjenenganipun (ndemek), pitados ing panguwaosipun Gusti ingkang saged paring kasarasan.Gusti Yesus tamtu badhe paring kasarasan. Gusti Yesus boten namung nyarasaken penyakit fisik / jasmani kemawon, ananging ugi penyakit mental lan rohani ingkang awujud gesang boten rahayu. Ingkang cetha, tiyang-tiyang punika ugi mbudi daya supados saged nampeni kasarasan, boten namung pasif.
Tiyang-tiyang ingkang sampun nampeni kasarasan saking Gusti Yesus tamtu bingah sanget lan rumaos rahayu. Ananging ugi kedah tansah njagi supados boten dhawah ing pigesangan ingkang kados kadhawuhaken kados dene gesangipun tiyang ingkang bilai ing ayat 24 – 26. Inggih punika para tiyang sugih, wareg, gumuyu, remen kaalembana. Tiyang-tiyang punika kalebet dados para tiyang ingkang bilai awit saking kawontenan ingkang dipun alami punika ndadosaken para tiyang punika mboten ngandelaken Gusti selaku Juru Wilujeng ingkang paring kasarasan. Tiyang-tiyang punika rumaos kalipur awit saking kasugihanipun, awit saking punapa kemawon ingkang ndadosaken wareg, awit saking punapa ingkang ndadosaken gumuyu lan kaalembana. Ing wusananipun, sedaya kalawau dados prekawis ingkang wigati ing gesangipun. Punika saestu benten kaliyan kawontenanipun para tiyang ingkang mbudi daya ndemek Gusti supados nampi kesarasan. Ndemek, wonten sesambetan langsung kaliyan GustiYesus ingkang paring kesarasan. Lan cetha, kapitadosan lan pangajeng-ajengipun para tiyang punika boten badhe nglaha, awit nyatanipun Gusti Yesus pancen inggih nyarasaken sedayanipun (ayat 19). Pambudi-dayanipun tiyang kathah punika nyatanipun pancen boten nglaha.
Mbudi daya kangge ndemek Gusti Yesus punika dados salah satunggaling wujud “peran aktif” ingkang katindakaken dening para tiyang sakit punika. Kejawi wontenipun kapitadosan ing bab panguwaosipun Gusti Yesus, tiyang-tiyang sakit punika ugi mbudi daya nindakaken prekawis ingkang dados bukti nyata tumrap kapitadosanipun punika. Tiyang-tiyang punika boten namung mendel kemawon (pasif), nanging aktif tumindak adhedhasar kapitadosanipun dhumateng panguwaosipun Gusti Yesus. Lan Gusti Yesus pirsa lan karenan. Buktinipun, Gusti Yesus nyarasaken sedaya tiyang punika (ayat 19).
Panutup.
Tiyang-tiyang ingkang boten rahayu, kasarasaken dening Gusti Yesus, manawi para tiyang punika purun mbudi daya “ndemek” Panjenenganipun utawi mbudi daya sesambetan langsung kaliyan Panjenenganipun lan gadhah pangajeng-ajeng lan kapitadosan inggih namung dhateng Panjenengaipun. Ingkang asring dados prekawis punika menawi wonten tiyang ingkang boten rumaos nandhang sakit rohani lan mbetahaken kasarasan saking Gusti Yesus. Awit boten rumaos nandhang sakit rohani, wusananipun ugi boten mbudi daya supados saged pepanggihan langsung kaliyan Gusti Yesus. Wusananipun, gesangipun sampun kalebet ing pigesanganipun para tiyang ingkang bilai.
Waosan dinten punika ngengetaken kita sedaya bilih nalika kita nandhang sakit, punapa kemawon penyakitipun, swawi sami sowan dhateng Gusti Yesus kangge nyuwun kasarasan. Mugi sami ngandelaken pangajeng-ajeng ing bab kesarasan inggih namung dhumateng Panjenenganipun. Mugi sami mbudi daya kangge “ndemek” Panjenenganipun (sesambetan langsung), tamtu Gusti paring kesarasan. Estunipun inggih namung Gusti piyambak ingkang pirsa ing bab sakit-penyakit kita : penyakit fisik / jasmani, mental utawi penyakit rohani. Inggih namung panguwaosipun Gusti ingkang saged paring kasarasan tumrap sedaya penyakit punika, lan Panjenengane tamtu paring kasarasan. Saestu pitados ing bab panguwaosipun Gusti boten ateges pasif, ananging kedah tansah aktif mbudi daya punapa ingkang kapitados punika. Sedaya pambudi daya, kalebet pengobatan secara medis ugi saged kaagem dening Gusti kangge mujudaken panguwaosipun paring kasarasan. Tansah mbudi daya supados saged saras, pambudi-daya punika alembaran kapitadosan ing panguwaosipun Gusti Yesus ingkang paring kesarasan sedaya sesakit lumantar sarana ingkang karenan ing Gusti. Amin. (YM)
Pamuji : Kidung Pasamuwan Jawi 106 : 1, 2, 3.