Khotbah Minggu 23 April 2017

PERINGATAN HARI KARTINI/ PASKAH 2
STOLA  MERAH

 

Bacaan 1         : Kisah Para Rasul 2: 22-36
Bacaan 2         : 1 Petrus 1:3-9
Bacaan 3         : Yohanes 20:19-31

Tema Liturgis  : Perjumpaan dengan Kristus yang Mengubah Hidup
Tema Khotbah : Habis Gelap Terbitlah Terang!

 

Keterangan Bacaan

Kisah Para Rasul 2: 22-36

  1. Khotbah Petrus ini menandai awal gerakan para murid untuk bersaksi secara mandiri. Jika dulu mereka ke mana-mana selalu bersama Sang Guru, tiba saatnya kini mereka bersaksi sendiri. Ada saatnya ketika Tuhan melepaskan para muridnya untuk terjun ke dunia sendirian. Namun tidak benar-benar sendirian, karena kepada mereka telah dikaruniakan Roh Kudus untuk melengkapi.
  2. Dalam terang Roh Kudus itulah mereka bersaksi, bukan tentang dan untuk keuntungan diri mereka sendiri, tetapi semata-mata agar karya Kristus dikenal oleh dunia. Bahkan jika mereka harus menderita demi kesaksian itu, mereka tidak takut.
  3. Dalam perjuangan untuk iman, sukacita tidak datang begitu saja tanpa proses. Seorang Kristus harus mengalami kematian sebelum kemuliaanNya. Demikian juga dengan para pengikut Kristus. Namun, kebangkitan Kristus menjadi bukti bahwa apa yang mereka beritakan adalah kebenaran – bahkan menggenapi nubuat para nabi.

1 Petrus 1:3-9

  1. Kebangkitan Kristus adalah bukti bahwa Tuhan Yesus benar. Bahwa perkataanNya bukan omong kosong. Bahwa janji dan harapan yang diceritakanNya adalah nyata.
  2. Tantangan pada masa Petrus adalah kefanaan (1:7), yang dilambangkan oleh emas. Iman kepada Kristus (sekalipun kita belum pernah melihat Dia, namun kita menghasihiNya) lebih berharga daripada kefanaan.
  3. Tujuan iman semata-mata adalah keselamatan jiwa. Jika jiwa kita selamat, mengapa takut menggenggam iman dengan sungguh-sungguh? Kita dikuatkan untuk berani melakukan jalan iman itu walaupun kita harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan.
  4. Apakah orang Kristen yang beriman sungguh-sungguh akan diselamatkan jiwanya? Iya! Imanmu yang menyelamatkanmu.

Yohanes 20: 19-31

  1. Para Murid ketakutan kepada orang Yahudi. Pintu-pintu dikunci dari dalam. Dalam Injil Yohanes tidak diceritakan para murid yang berlari ke makam Yesus dan menemukan kubur itu kosong. Perkataan Maria Magdalena di perikop sebelumnya bahwa dia telah melihat Tuhan Yesus tidak cukup untuk membuat mereka benar-benar percaya dan berani.
  2. Yesus sendiri datang kepada mereka. Dan mereka menjadi yakin. Kecuali Tomas. Tomas sering dikambinghitamkan sebagai murid yang tidak percaya, namun sebenarnya apakah bedanya Tomas dengan para murid yang lain yang pada waktu itu mengunci rumahnya karena takut. Sebenarnya sama saja. Namun perjumpaan Tomas dengan Yesus akhirnya membuat Tomas kembali pada imanNya. Sehingga pesan penting dalam perikop itu adalah “Berbahagialah yang tidak melihat tetapi percaya.”
  3. Namun ada perintah lain yang agak sering terlupakan dalam bagian ini, perintah untuk mengampuni (20:21). Roh Kudus memberikan orang keberanian untuk bersaksi. Dan kesaksian pertama yang diperintahkan Yesus adalah pengampunan. Dalam konteks para murid jelas, para murid yang ketakutan pada orang Yahudi diajak untuk mengampuni apa yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi pada saat itu.

 

BENANG MERAH TIGA BACAAN

Kebangkitan Kristus memberikan keberanian untuk sungguh-sungguh beriman dan bersaksi bagi karya Kristus.

 

RANCANGAN KHOTBAH: Bahasa Indonesia

Pendahuluan

Dalam buku yang diterbitkan dari surat-surat Kartini, “Habis Gelap Terbitlah Terang” beberapa kali Kartini menyebutkan Nama Mojowarno. Kartini memuji pekerjaan Zending di Mojowarno, khususnya pendidikan bidan di sana pada waktu itu (awal tahun 1900an). Dia merasa bahwa bisa pergi ke Mojowarno akan membawa kebaikan dan kedamaian bagi jiwanya (Surat kepada Ny. Abendanon, 31 Januari 1901). Dia melihat betapa senangnya seorang perempuan bisa bebas melakukan pekerjaan sosial bagi orang lain dan tidak terkurung oleh penjara jiwa dalam budaya masyarakat Jawa pada waktu itu. “Bukankah musuh dari luar yang melemahkan kami, kami tiadalah takut akan dia, melainkan musuh di dalam yang memakan jiwa, hati, otak kami! Tiada suatu apa jua pun yang dapat melipur hati kami, tiada seorang jua pun yang dapat menolong kami, lain daripada Tuhan dan kami sendiri!” (Surat kepada Nona Zeehandelaar, 11 Oktober 1902). Walaupun Mojowarno tidak pernah menjadi pilihan pertamanya, karena menjadi bidan memang bukan cita-citanya, namun itu lebih menentramkan daripada tidak melakukan apa pun dan hanya menuruti tradisi yang mengekang jiwa.

Namun bukan hanya itu, Kartini juga menuliskan kritiknya  pada pendidikan bidan di sana. Pendidikan bidan di Mojowarno juga bernuansa agamis, dia menduga secara politis ada tujuan untuk mengkristenkan orang. “Betapa pikiranmu tentang zending yang hendak berbuat baik kepada rakyat di Pulau Jawa, semata-mata oleh karena kemauan rasa kasih, jadi zending yang maksudnya bukan hendak mengajak orang memeluk agama Nasrani, dan yang menjauhkan semua agama daripada usahanya? Apakah salahnya jika usaha seperti di Mojowarno dilakukan di kota-kota lain juga, usaha yang sama sekali tiada berpanji-panji agama?” (Surat kepada Tuan E.C. Abendanon, 31 Januari 1903). Kartini sadar penuh bahwa hal baik, jika dilatarbelakangi oleh semangat politis akhirnya hanya akan menimbulkan perpecahan. Dalam era Kartini terjadi jarak antara orang Islam dan orang Kristen telukan pada waktu itu, bahkan mereka ‘terpaksa menjadi musuh’, demikian yang ditulisnya.

Tidak ada catatan sejarah bahwa Kartini memang akhirnya benar-benar pergi ke Mojowarno atau tidak. Ada yang mengatakan ya, ada yang mengatakan tidak. Namun bahwa pada masa itu, pelayanan zending telah mengubah wajah Jawa terutama melalui kesaksian dan pelayanan sosial yang benar-benar dirasakan. Walaupun, kritik Kartini tadi, jelas tidak bisa dianggap sepele.

 

Isi

Pada hari-hari ini, seluruh Indonesia sedang bergiat untuk mengadakan perayaan Hari Kartini. Beraneka macam caranya, ada yang dengan mengadakan kegiatan sosial, ada yang mengadakan penyuluhan, ada juga yang meneruskan tradisi lomba berbusana daerah –yang entah apa hubungannya dengan perjuangan Kartini pada waktu itu. Tapi baiklah, karena tidak semua negara punya hari khusus untuk menghargai perempuan seperti di Indonesia. Bahkan GKJW menjadikan Hari Kartini sebagai salah satu peringatan yang dirayakan di gereja.

Peringatan Hari Kartini ini mengingatkan pada sejarah gerakan perempuan GKJW (pada saat itu belum GKJW, namun cikal bakal GKJW). Pada masa-masa tahun 1900an awal, para perempuan mengadakan perjalanan dari rumah ke rumah untuk pelayanan kesehatan, dari sana lahir Rumah-rumah Sakit GKJW, seperti RS. Mardi Waluyo di Malang (berkat perjuangan Suster Helzebus dan 3 suster bumiputera), RS. Rekso Wanita Mojokerto (sekarang Reksa Waluya), dan pelayanan-pelayanan kesehatan lainnya. Bersama dengan para perempuan kristen lain di Jawa Tengah, mereka memiliki media massa bernama KWW Mawar. Bahkan jika melihat lebih ke belakang kita tentu mengingat bahwa penyebaran Kekristenan di Surabaya tidak mungkin bisa dilakukan oleh Johanes Emde, jika tidak dengan bantuan istrinya, Amarentia Manuel, dan anak perempuannya, Johanna Wilhelmina. Perjuangan para perempuan ini memang sempat mengalami gejolak pada tahun 1965, tetapi perlahan-lahan kembali bangkit. Hari ini Pendeta perempuan di GKJW semakin bertambah, bisa dilihat dalam beberapa tahun lagi jumlah Pendeta perempuan dengan laki-laki bisa seimbang atau malah bisa lebih banyak. Program-program bertemakan kesetaraan gender (baca: jender) terus tumbuh, hasilnya bervariasi di tiap jemaat.

Perjuangan para perempuan untuk ikut serta dalam mengabarkan Injil Kristus ini menunjukkan sebuah kenyataan bahwa karya Kristus tidak pernah terbatas hanya oleh dan untuk kelompok gender tertentu saja. Semuanya dihargai, semuanya diterima, semua ditumbuhkan, semua bisa ikut berkarya bagi Tuhan. Kuncinya adalah iman. Ketika seseorang sudah beriman dengan sungguh-sungguh, maka panggilannya jelas, yaitu menjadi saksi Kristus. Menjadi saksi Kristus dihayati oleh GKJW sebagai upaya menjadi rekan kerja Allah mewujudkan tanda-tanda hadirnya kerajaan Allah bagi dunia. Artinya membuat dunia ini dekat dengan gambaran Kerajaan Allah, yang adil, penuh kebebasan, penerimaan, persaudaraan, kesetiaan, damai sejahtera, tidak ada ratap tangis dan air mata.

Namun mengapa hari ini keberanian kita bersaksi seringkali dipenuhi keraguan? Dulu para perempuan bisa berkarya dengan begitu luar biasa sampai menasional, namun banyak persekutuan perempuan atau bahkan gereja secara umum hari ini hanya melihat kesaksian mereka ke dalam. Mengurus organisasi gereja, dana gereja, kebaktian-kebaktian, urusan-urusan internal lainnya, sehingga keterlibatan kita di masyarakat kurang dirasakan. Bisa jadi karena dua hal utama. Dua hal ini juga yangmenjadi kunci kesaksian kita.

Pertama, bersaksi tidak sama dengan meng-Kristen-kan orang. Label agama Kristen menjadi nomor sekian setelah menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah. Kita bersaksi bukan untuk menjadikan orang beragama Kristen, tapi untuk membuat mereka merasakan karya Kristus. Jika tidak, bisa sama seperti kritik Kartini, kebaikan kita sebenarnya hanyalah kebaikan politis, kebaikan yang berembel-embel. Kebaikan yang bersyarat. Jika semangat bersaksi kita ada dalam bayang-bayang meng-Kristen-kan, patutlah kita menjadi khawatir dan ragu-ragu. Namun jika semangat kita tulus untuk menyatakan hadirnya Kerajaan Allah, sebagai wujud dari iman kita, maka kita tidak perlu takut dan ragu-ragu. Jalan saja!

Bagaimana membedakan kesaksian untuk mengKristenkan orang dan kesaksian untuk karya Kristus, lihat dari buahnya. Buah yang baik lahir dari kesaksian yang  baik. Buah ini tidak datang begitu saja, tetapi kadang bersama dengan waktu, proses. Karena itulah mengapa dalam bacaan Injil kita, pengampunan adalah perintah pertama Tuhan Yesus setelah Roh Kudusnya diberikan. Dalam keberanian iman kita untuk bersaksi, ada pengampunan yang selalu ikut serta. Kita berbuat baik dan dicurigai, kita mengampuni. Kita menolong orang lain dan ditolak, kita mengampuni. Kita disalahpahami, kita mengampuni. Jika sudah demikian tidak ada lagi beban. Kita tidak mencari jumlah, tapi kita ‘menyelamatkan jiwa’.

Kedua, jangan-jangan iman kita tidak berbeda dengan para murid. Iman kita baru tumbuh ketika kita melihat. Hari ini semakin jarang kita menemukan orang yang berani mengatakan, “Saya Kristen saya pasti selamat!” “Kristen ini adalah jalan saya, urip mati ndherek Gusti Yesus, bagaimanapun penderitaannya!” Bisa jadi banyak orang takut menderita, apalagi menderita karena iman. Kenapa takut? Karena diam-diam kita belum benar-benar percaya bahwa jalan iman Kristen ini adalah jalan yang menyelamatkan. Jalan yang diatur dan disertai Tuhan. Kita memang senang dan bangga beragama Kristen, ber-Tuhan Yesus, tapi tidak sampai “Matia aku tetep setya!” (Sampai matipun aku tetap setia). Karena itu ketika kesulitan datang, kadang kita lalu memilih untuk melakukan pilihan lain yang bahkan tidak dikehendaki Tuhan. Kristen tapi takut miskin, Kristen tapi takut susah, Kristen tapi takut dinilai orang begini dan begitu. Kalau kita percaya Tuhan hadir dan menyertai, mengapa masih takut? Yesus yang mati saja dibangkitkan. Justru melalui penderitaan itulah iman kita dimurnikan.

 

Penutup

Hari ini kita merayakan perjuangan Kartini, namun kita juga merayakan perjuangan iman dalam Kristus. Semoga kita semakin diberikan keberanian oleh Tuhan untuk berpegang teguh menghidupi iman kita, mewujudkannya dalam kasih dan pengampunan, serta keberanian bersaksi bagi Kristus. Roh Kudus kiranya menyertai perjalanan iman kita. Karena bagi kita yang mau sungguh-sungguh dalam iman ini, penderitaan bahkan kematian bukan akhir, tetapi habis gelap terbitlah terang. Amin! [Gide]

 

Nyanyian: KJ 432, Mars Wanita GKJW

 —

RANCANGAN KHOTBAH: Basa Jawi

Pambuka

Wonten ing buku ingkang dipun terbitaken saking serat-seratipun Kartini, “Habis Gelap Terbitklah Terang”, Kartini nyebat-nyebat Mojowarno. Kartini muji pedamelanipun Zending ing Mojowarno, mliginipun bab pendhidhikan bidhan nalika semanten (wiwitanipun tahu 1900an). Piyambakipun rumaos menawi saged tindak dhateng Mojowarno punika badhe mbekta kabingahan lan tentreming manahipun (Serat dhumateng Ny. Abendanon, 31 Janurai 1901). Kartini ngrumaosaken duk bingahipun para piyantun putri ingkang saged merdika (bebas) nindakaken pekerjaan sosial kangge tiyang sanes lan boten binanda ing penjara jiwa ingkang kawangun dening adat Jawi nalika semanten. Kartini nyerat,“Bukankah musuh dari luar yang melemahkan kami, kami tiadalah takut akan dia, melainkan musuh di dalam yang memakan jiwa, hati, otak kami! Tiada suatu apa jua pun yang dapat melipur hati kami, tiada seorang jua pun yang dapat menolong kami, lain daripada Tuhan dan kami sendiri!” (serat dhateng Nona Zeehandelaar, 11 Oktober 1902). Sanadyan Mojowarno boten nate dados pilihan utami Kartini, awit bidhan sanes gegayuhanipun, nanging prekawis punika langkung maremaken katimbang boten nindakaken punapa-punapa lan namung nuruti dat ingkang mbanda jiwa.

Nanging boten punika kemawon, Kartini ugi nyerat kritik dhateng pendhidhikan bidhan ing Majawarno. Pendhidhikan bidhan ing ngiku bernuansa agami, dipun raosaken bilih sacara politis ngemu tujuan ndamel tiyang dados Kristen. “Betapa pikiranmu tentang zending yang hendak berbuat baik kepada rakyat di Pulau Jawa, semata-mata oleh karena kemauan rasa kasih, jadi zending yang maksudnya bukan hendak mengajak mengajak orang memeluk agama Nasrani, dan yang menjauhkan semua agama daripada usahanya? Apakah salahnya jika usaha seperti di Mojowarno dilakukan di kota-kota lain juga, usaha yang sama sekali tiada berpanji-panji agama?” (serat dhateng Tuan E.C. Abendanon, 31 Januari 1903). Kartini sadhar bilih prekawis ingkang sae, nanging dipun jalari dening semangat politis saged ndadosaken crah. Ing jamanipun Kartini, kados wonten wates antawisipun tiyang Islam kaliyan tiyang Kristen telukan nalika semanten. Malah tiyang-tiyang punika lajeng “terpaksa menjadi musuh”. Punika ingkang dipun serat.

Boten wonten cathetan sejarah punapa Ibu Kartini tamtu tindak Mojowarno utawi boten. Wonten ingkang ngedikan nate, wonten ingkang ngendikan boten. Nanging nalika semanten peladosanipun Zending utaminipun ing babagan kesaksian lan pelayanan sosial estu dipun raosaken. Sanadyan kritikipun Kartini kala wau pranyata boten saged dipun anggep sepele.

 

Isi

Dinten-dinten punika, sedaya rakyat Indonesia giyak-giyak mengeti pahargyan dinten Kartini. Mawarni-warni caranipun, wonten ingkang nggelar kegiatan sosial, wonten ingkang ngawontenaken penyuluhan, wonten ugi ingkang neruskan tradisi lomba pakaian dhaerah –ingkang kita boten mangertos punapa gandheng rentengipun kaliyan perjuangan Kartini kala semanten. Nanging sedaya sae, awit negari kita nggadhahi pahargyan kangge ngurmati para putri. Awit boten sedaya negari nggadhahi pengetan kados mekaten. Malah GKJW ndadosaken dinten Kartini dados salah satu pahargyan ing gereja.

Pahargyan Dinten Kartini punika ngengetaken kita dhateng sejarah para wanita GKJW (nalika semanten dereng GKJW, nanging cikal bakalipun GKJW). Wiwitan taun 1900an, para wanita ngawontenaken lelampahan dhateng griya-griya kangge paring pelayanan kesehatan. Saking ngriku madeg griya-griya sakit kados RS. Mardi Waluya (perjuangan suster Helzebus lan 3 suster bumiputera), RS Reksa Wanita Mojokerto (samangke Rekso Waluya), lan pelayanan kesehatan sanes. Sesarengan kaliyan para wanita saking Jawi Tengah, para wanita cikal bakal GKJW kagungan media massa KWW Mawar. Malah menawi kita mundur malih, pekabaran Injil ing Surabaya dening Johanes Emde, boten badhe saged ngambah masyarakat Jawi menawi boten wonten semahipun, Amarentia Manuel, lan putrinipun Johanna Wilhemina. Perjuangan para wanita punika pancen nate ngalami gejolak nalika taun 1965, nanging wekdal baka wekdal gumregah malih. Dinten punika cacahipun Pendhita wanita ing GKJW tan saya kathah. Sawatawis taun malih mbokmenawi saged imbang. Program-program bertema kesetaraan gender (kawaosa: jèndher) terus tuwuh, asilipun mawarni-warni ing pasamuwan.

Perjuanganipun para wanita ngabaraken Injiling Kristus punika nedahaken kasunyatan bilih pakaryanipun Gusti Allah boten winates dening lan kangge kelompok tartamtu kewamon. Sedaya dipun tampi, dipun ajeni, dipun tuwuhaken, sedaya saged ndherek makarya dados rencang damelipun Gusti. Kuncinipun ingkang sami: Iman. Nalika tiyang sampun nggadhahi iman ingkang estu, timbalanipun tiyang punika gamblang: dados seksinipun Sang Kristus. Dados seksinipun Sang Kristus ing GKJW dipun ayati mawi ngupadi dados rencang gawenipun Gusti Allah mujudaken pratandha rawuhipun Kratoning Allah kangge jagad. Tegesipun ndadosaken jagad Kratoning Allah ingkang adil, merdika, nampi sedaya tiyang, kebak ing paseduluran, kasetyan, tentrem rahayu, ngantos boten wonten malih luh ingkang netes.

Nanging dinten punika, kita asring mangu-mangu nindakaken paseksi kita. Rumiyin para wanita sigrak nyambut damel ngantos skala nasional. Nanging dinten punika kathah para wanita utawi greja umumipun namung nindakaken paseksi punika ing lebeting greja. Wiwit ngurus organisasi greja, dana greja, kebaktian-kebaktian, lsp. Matemah, paseksi kita dhateng masyarakat kadhang kirang saged dipun raosaken. Prekawis punika saged dipun jalari kaliyan kalih prekawis. Kalih prekawis punika ingkang sejatosipun kedah ugi kita raosaken ing paseksi kita.

Sepisan, dados seksinipun Sang Kristus benten kaliyan ngristenaken tiyang. Label agama dados prekawis nomor pinten sasampunipun dados rencangipun Gusti mujudaken pratandha Kratoning Allah. Kita dados seksinipun Gusti sanes supados tiyang sanes dados Kristen, nanging supados srana paseksi kita, tiyang saged ngraosaken pakaryanipun Sang Kristus. Menawi boten, kritikipun Ibu Kartini kala wau trep, kesaenan ingkang kita tindakaken nggadhahi embel-embel politis. Kasaenan ingkang nggadhahi pamrih lan syarat. Nalika paseksi kita wonten embel-embelipun punika, pantes menawi kita lajeng mangu-mangu. Nanging menawi sedaya kita tindakaken kanthi tulus namung supados pakaryanipun Gusti ingkang kebak katresnan dhateng sedaya tiyang saged dipun raosaken, boten prelu kuwatos lan mangu-mangu.

Kados pundi mbedakaken kekalihipun? Mangga dipun pirsani wohipun. Woh ingkang sae tuwuh saking paseksi ingkang sae. Nanging naminipun woh, boten tuwuh langsung ujug-ujug, mboten nggege mangsa, nanging mawi proses. Awit saking punika, ing waosan Injil kita kala wau, pangapunten punika prentahipun Gusti Yesus ingkang wiwitan sasampunipun Roh Suci kaparingaken. Paseksi ingkang leres mesthi ngemu pangapunten. Kita nindakaken sae dipun curigai, kita paring pangapunten. Kita nulung tiyang sanes lan dipun tampik, kita paring pangapunten. Dipun salahpahami, kita paring pangapunten. Menawi sampun mekaten paseksi mboten dados momotan, nanging estu-estu menawi ing basa ingkang aring kaginakaken punika “menyelamatkan jiwa”.

Kalih, mbokbilih iman kita boten benten kaliyan imanipun para murid. Iman punika nembe tuwuh sasampunipun wonten bukti ingkang saged kita tingali. Dinten punika tan saya awis kita nemahi tiyang ingkang wantun nyuraos, “Kula Kristen, kula mesthi selamet.” “Kristen iki dalanku, urip mati ndherek Gusti Yesus, angele kaya apa tak lakoni.” Saged kemawon kathah tiyang samangke ajrih kangelan awit imanipun. Kenging punapa kok ajrih? Awit sejatosipun menawi dipun galih temen-temen, kita dereng estu pitados menawi margi iman punika paring kaslametan. Bilih margi Kristen punika dipun restui lan dipun kanthi dening Gusti. Kita remen lan mongkog dados tiyang agami Kristen, gadhah Gusti Yesus, nanging dereng dumugi “masia aku tetep setya!” Awit saking punika, menawi gesang punika dados awrat, lajeng kita milih margi sanes. Kristen nanging ajrih kacingkrangan, Kristen nanging ajrih gesang susah, Kristen nanging ajrih kaanggep neka-neka. Menawi kita pitados Gusti sampun rawuh lan nganthi, kenging punapa taksih ajrih? Gusti Yesus ingkang seda sinalib kemawon kawungokaken. Malah mawi kasisahan punika iman kita dimurnikan.

 

Panutup

Dinten punika kita mengeti perjuanganipun Ibu Kartini, kita ugi mengeti perjuangan iman wonten ing Sang Kristus. Mugi-mugi kita saya kaparingan greget dening Gusti migesangaken iman kita, mujudaken ing katresnan lan pangapunten, lan wantun dados seksinipun Sang Kristus. Sang Roh Suci mugi nganthi lampah iman kita. Awit dhumateng sedaya ingkang mujudaken imanipun kanthi satuhu, kasisahan punika sanes pungkasanipun, nanging ‘habis gelap terbitlah terang!’ Amin. [Gide]

 

Pamuji: Mars Wanita GKJW

 

Bagikan Entri Ini: